EXCEPTION – 4th — IRISH’s Tale

EXCEPTION

|   starring by EXO`s Chanyeol; Sehun; Baekhyun with OC`s Sarang   |

supported by Hello Venus & Lovelyz Members  |

|  AU x Fantasy x Melodrama x Romance  |  Chapterred  |  PG-17  |

—  exception:time passes—love changes

[ 2nd Story of Evening Sky © 2016 ]

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

dedicated for un-real-like fantasy

Previous Story: PrologueChapter 1 — Chapter 2 — Chapter 3

♫ ♪ ♫ ♪

In Sarang’s Eyes…

“Dulu aku manusia…” Baekhyun memulai, ia memandang langit malam—sedang mengenang, kurasa.

“Aku hidup ratusan tahun sebelum kau lahir Sarang, aku lahir sebagai seorang manusia, dan aku lahir di saat vampire mulai menyerang manusia…” ia memandangku, seolah menunggu reaksi dariku yang sudah jelas akan aku tunjukkan.

“Kau sudah berusia ratusan tahun?” ucapku tak percaya.

Baekhyun tersenyum dan mengangguk.

“Dan dulu, aku juga sepertimu, aku bimbang pada ‘siapa yang harus kupihak’ dalam perang ini. Karena dulu, manusia dengan mudah bisa membunuh vampire, di zaman itu, vampire bisa musnah hanya dengan cahaya matahari.” kata Baekhyun.

“Apa bedanya dengan sekarang?” tanyaku.

“Jika sekarang, cahaya matahari hanya menyakiti kulit kami, tidak membuat kami musnah.”

“Dan… Akhirnya… Kau memilih untuk jadi seorang vampire?” tanyaku.

“Tidak juga, hidupku dipertaruhkan saat itu. Aku memihak bangsaku, tapi saat aku sekarat, mereka… mereka tidak menolongku. Bahkan, mereka memang sengaja mengorbankanku pada para vampire itu.

“Aku ingat, seorang vampire menyerangku yang sudah sekarat, rasanya sangat menyakitkan, dan tidak hanya tubuhku yang merasakan sakit itu, tapi perasaanku juga. Aku ingat bagaimana bangsaku hanya melihatku dari tempat perlindungan mereka, membiarkan tubuhku dicabik-cabik oleh vampire.”

“Sekejam itukah mereka?” ucapku tak percaya.

Baekhyun mengangguk.

“Rasanya saat itu, aku pasti mati… hanya itu yang ada di pikiranku, tapi rupanya hidup memberiku takdir lain. Walaupun sudah tercabik-cabik seperti itu, aku masih bertahan hidup. Dan saat itu, aku sadar bahwa aku punya kekuatan.” penuturan Baekhyun membuatku menatapnya penasaran.

“Apa itu?”

“Aku bisa mengendalikan para vampire. Saat itu aku berteriak ‘hentikan!’ dan mereka patuh padaku. Dan saat itu aku ingat, luka-luka di tubuhku sembuh dengan sendirinya. Kurasa sejak itu aku jadi vampire.” kata Baekhyun.

“Lalu… bagaimana dengan bangsamu itu?” tanyaku.

“Ah, mereka? Saat itu, aku bisa mengendalikan vampire yang menyerangku, menurutmu, dengan belasan vampire dan aku sebagai pengendalinya, apa yang aku lakukan?” ia memandangku.

“Kau… membunuh bangsamu?” tanyaku sedikit ragu.

Baekhyun tertawa cukup keras padahal aku tidak menganggap ceritanya sebagai sebuah lelucon.

“Tidak Sarang. Karena aku tahu, cepat atau lambat mereka pasti akan mati. Semua manusia pasti akan mati bukan? Itulah mengapa, kutinggalkan mereka di sana.” kata Baekhyun sambil tersenyum.

Aku tahu Baekhyun seorang yang baik. Setelah bangsanya menyiksanya seperti itu… ia tidak marah pada mereka.

“Kau baik… Sangat baik.” kataku.

“Kau juga, Sarang. Kau berkorban banyak demi bangsaku, kau juga berkorban demi bangsamu, dan bangsa peralihan.” kata Baekhyun, membuatku kembali teringat tempat tinggal sementaraku.

“Ah. Aku harus kembali sekarang, mereka pasti mencariku. Kau ingat bangsa peralihan yang berusaha melukaimu tempo hari, bukan? Dia punya emosi yang tidak bisa dibendung.” ucapku, mengingatkan Baekhyun pada sosok Sehun.

Baekhyun tersenyum dan mengangguk.

“Aku ingat, tentu saja. Ayo, aku akan mengantarmu kembali ke sana.” ucap Baekhyun sambil berdiri, ia gerakkan sedikit punggungnya, membuat sepasang sayap yang tadi—dan juga sekarang—membuatku terpana, muncul.

“Terima kasih, Baekhyun.” kataku sebelum aku biarkan Baekhyun mengangkat tubhku ke dalam gendongannya.

“Kau tahu kau tidak perlu berterima kasih hanya karena hal kecil seperti ini, Sarang.” Baekhyun berkata sebelum dia kembali membawaku terbang, untuk ke sekian kalinya membiarkanku terpana pada keindahan yang malam hari suguhkan pada ingatanku.

Meski dinginnya angin malam terasa menusuk permukaan kulitku, belum lagi rasa dingin lain yang diciptakan oleh Baekhyun saat kulit kami bersentuhan, aku bisa mengabaikannya.

Rasa dingin semacam ini tidak akan membunuhku, jika dibandingkan dengan keindahan yang sekarang bisa aku nikmati.

Beberapa menit Baekhyun membawaku terbang, tanpa kami bisa menemukan bahan pembicaraan apapun, aku rasa Baekhyun memang sengaja membiarkanku larut dalam pemandangan indah yang ingin terus kupandangi.

“Kita sampai, Sarang.” aku tersadar saat kudengar Baekhyun akhirnya bicara.

Ia kemudian dengan hati-hati membawaku turun ke tanah, menurunkanku di dekat pintu masuk yang jadi satu-satunya jalan bagiku maupun Baekhyun untuk bisa bertemu secara rahasia.

“Sekali lagi terima kasih, Baekhyun.” ucapku saat sudah berdiri tepat di hadapan pintu masuk kecil itu.

“Ya, sama-sama. Sampai bertemu lagi, Sarang.” ucap Baekhyun sebelum dia melesat pergi dalam hitungan detik.

Aku yakin aku bahkan belum sempat berkedip saat kudapati Baekhyun sudah menghilang begitu saja. Mengabaikan bagaimana cepatnya Baekhyun menghilang, aku akhirnya menyusup masuk ke dalam pintu kecilku dengan hati-hati.

Melihat bagaimana keadaan orang-orang di atas saat aku sampai, aku pikir tidak ada seorang pun yang menyadari absennya aku. Keadaan di sini terlalu sepi, agak aneh juga menyadarinya. Tapi mungkin saja semua orang sudah terlelap, bukan?

Aku baru saja hendak menaiki tangga menuju lantai atas tempat kamarku berada saat aku teringat pada tugas yang harusnya aku selesaikan sebelum bisa mengistirahatkan tubuhku malam ini.

Aku harus mencuri darah untuk Kei dan yang lainnya. Akhirnya, kuurungkan niatku untuk kembali ke kamar, kubawa tungkaiku untuk berbelok menuju gudang. Tapi aku terkesiap saat mendapati Sehun ada di sana bersama.

“Sarang, kau belum tidur?” tanya Sehun begitu dia melihatku.

Untung saja aku tidak menunjukkan reaksi berlebihan saat melihatnya barusan, mungkin saja Sehun akan mencurigaiku. Aku akhirnya melangkah kaku menghampiri Sehun, dia tampak kelewat sibuk malam ini.

“Hmm, aku tadinya sedang tertidur sampai kemudian tiba-tiba terbangun. Apa semua orang sudah terlelap? Biasanya di ruang pertemuan masih ada beberapa orang, tapi aku tidak melihat siapapun.” ucapku.

“Iya, mereka semua tertidur, kelelahan kurasa. Sore tadi kami melakukan banyak pemindahan.” Sehun menjelaskan.

“Pemindahan? Memangnya kita akan pindah ke mana? Dan oh, apa yang membuatmu begitu sibuk?” tanyaku, melongokkan kepala ke kiri dan kanan untuk berusaha menangkap kegiatan yang sedang Sehun kerjakan bersama beberapa orang lain yang tidak begitu kukenal.

“Menghitung jumlah pasokan darah kita.” jawab Sehun membuatku terkesiap.

“Menghitungnya? Untuk apa? Apa seseorang sudah mencuri darah-darah di sini?” tanyaku, sedikit menuduh diriku sendiri sebenarnya, tapi bukankah bersikap pura-pura tidak tahu seperti sekarang akan lebih membuatku terlihat tidak bersalah?

Sebagai jawabannya, Sehun justru tertawa pelan. “Tidak, tentu saja tidak ada yang mencuri apapun di sini. Memangnya untuk apa susah-susah mencuri kalau darah bisa kami ambil dengan mudah di gudang?” tanyanya mengingatkanku pada kepercayaan yang sudah mereka peluk erat, lalu bagaimana denganku?

“Lalu… untuk apa?” tanyaku lebih hati-hati.

Sehun justru menatapku tidak mengerti.

“Apa kau tidak dengar pembicaraan di aula tadi?” tanyanya menaruh curiga.

“Aku tahu, tapi aku tidak tahu apa hubungannya dengan yang kau lakukan sekarang.” ucapku, berpura-pura saja aku sudah mendengar apa yang mereka bicarakan dan tidak memberikan reaksi ‘berlari’ seperti yang sebenarnya aku lakukan.

“Ah, begitu… Biar kujelaskan, saat kita jadi bangsa peralihan untuk pertama kali, kita akan membutuhkan darah, Sarang.” aku menyernyit saat membayangkan mereka akan mengadakan pesta dimana darah akan menjadi hidangan utama ketika esok mereka berubah menjadi peralihan.

Tapi tunggu dulu, jika Sehun sudah menghitung pasokan darah yang ada dengan sangat teliti seperti ini, bagaimana aku bisa mendapatkan darah untuk Kei dan yang lainnya?

“Totalnya ada 98 boks, masing-masing boks berisi 20 kantong darah.” kudengar sebuah teriakan dari dalam gudang, melaporkan pada Sehun, pasti. Karena setelah mendengar teriakan itu Sehun segera menulis di atas kertas tebal yang ada di tangannya.

“Bagus, kunci gudang ini dan pastikan selama beberapa hari ke depan kalian mencatat siapa saja yang meminta pasokan darahnya, mengerti? Jangan beri tawanan kita darah apapun selama beberapa hari ini, biarkan saja mereka menderita dalam kehausan, karena hasrat mereka akan berguna untuk kita saat hari itu tiba.” Sehun memerintah, dia kemudian memindahkan kertas yang ada di tangannya ke atas meja yang ada di depan gudang.

Tidakkah Sehun tahu kalau aku sekarang membeku di tempat karena mendengar apa yang dia katakan? Bagaimana bisa aku berdiri tenang sementara nasib Kei dan yang lainnya sekarang sudah begitu jelas dalam pandanganku?

Mereka akan disiksa dengan tidak diberi darah, dan saat hari itu datang, mereka akan menyerang manusia dengan membabi-buta sebelum akhirnya Sehun dan entah siapa lagi, akan menyerang mereka dan membunuhnya.

Bagaimana aku bisa membayangkan Kei mati?

“Mereka akan selesaikan sisanya di sini. Apa kau sudah makan malam, Sarang? Ah, mungkin sudah terlalu larut untuk menawarkan makan malam untukmu. Tapi bagianku sudah selesai di sini, jadi aku bisa meluangkan waktu untukmu sebelum aku beristirahat.” Sehun berkelakar.

Dia bisa saja dengan santai bicara seperti itu karena nyawa vampire yang menjadi tawanannya tidaklah berarti bagi Sehun sendiri. Tapi bagaimana denganku? Aku tidak akan bisa makan jika harus  membayangkan—

“Sarang, apa yang kau lamunkan?” tanya Sehun menyadarkanku.

“Ah, tidak. Aku hanya memikirkan beberapa hal kecil saja.” kilahku.

“Beberapa hal kecil?” ulang Sehun, menatapku dengan alis terangkat.

“Ya, ini dan itu. Kau tahu maksudku, kan?” aku segera memutar otak, aku tahu Sehun tidak akan menerima penjelasan menggantung seperti ini, dia menginginkan sesuatu yang terperinci. “Ada banyak persediaan makanan manusia di gudang kita, kalau semua orang menjadi bangsa peralihan, apa yang akan terjadi pada makanan-makanan itu?” sambungku kemudian.

Sehun, tersenyum kecil sebelum akhirnya dia berkata.

“Aneh, Sarang.”

“Apa yang aneh?” tanyaku tidak mengerti.

“Ini pertama kalinya aku mendengar kau menyebut kata ‘kita’ bagi kami semua di sini. Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau menerima fakta tentang kami para bangsa peralihan sebagai bagian dari bangsamu.” alih-alih menerima penjelasanku, Sehun justru mempertanyakan hal lainnya.

Ugh, mengapa pula dia merasa penasaran tentang alasanku menggunakan kata ‘kita’ di sini?

“Apa… aku tidak seharusnya berkata begitu? Kalau begitu maaf, aku tidak bermaksud mengatakannya kalau tahu kau akan menganggapnya aneh.” aku lekas meminta maaf, meskipun sebenarnya ucapan maaf yang kuutarakan adalah sebuah kebohongan.

Untuk apa aku repot-repot meminta maaf atas hal yang tidak jadi salahku? Aku hanya harus berpura-pura menjadi seorang ‘innocent’ dalam pandangan Sehun supaya dia tidak menaruh curiga padaku.

“Tidak, sungguh, tidak masalah, Sarang. Itu artinya kau memang benar-benar sudah menerima kami. Aku justru senang mendengarnya.” Sehun berucap, dia kemudian dengan tanpa seizinku bergerak melingkarkan lengannya di bahuku, hal yang membuatku berjengit terkejut tapi tidak juga memberikan perlawanan berarti.

“Ayo, kalau sudah terlalu larut bagimu untuk makan malam, kuantar saja kau kembali ke kamar. Kantung mata yang sekarang kau pamerkan sungguh tidak jadi pemandangan yang indah.” ucap Sehun sembari membimbing langkahku kembali ke kamar.

Kantung mata? Bagaimana bisa dia membicarakan hal itu saat aku bahkan tidak bisa memikirkan hal lain yang ada hubungannya dengan kehidupanku?

“Apa yang akna kau lakukan setelah ini?” tanyaku pada Sehun. Jika saja dia mungkin akan melakukan hal lain yang ada hubungannya dengan rencana mereka, aku mungkin bisa melibatkan diri daripada mengurung diri di kamar tanpa bisa tidur.

Aku toh tak akan bisa tidur nyenyak malam ini, untuk apa memaksakan diri tidur?

“Tidak ada, semua tugasku sudah selesai malam ini, Sarang.” jawab Sehun.

“Ah, baiklah kalau begitu.” kataku.

Perjalanan menuju lantai atas kemudian jadi perjalanan paling membuatku merasa enggan, karena setelah Sehun mengantarku sampai ke depan kamar dan mengucapkan selamat tidur juga selamat bermimpi indah, aku justru masuk ke kamar dengan membayangkan puluhan mimpi buruk.

Aku menghempaskan tubuh di kasur, menatap langit-langit kamar yang sudah mengelupas karena lembap yang seringkali mendominasi gedung ini sementara ruang-ruangnya tak pernah benar-benar dirawat, sementara pikiranku melayang pada Kei dan yang lainnya yang terkurung di bawah tanah, dengan keadaan yang jauh lebih mengerikan daripada aku sekarang.

Aku ingin menangis, tapi aku tahu menangis tidak akan membantu, dan tidak akan mengubah apapun. Lagipula, mengapa aku harus menangis saat perang saja belum terjadi?

Tidak, Sarang. Kau tidak boleh menangis sekarang. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membuang air mata dan terjebak dalam dilema. Sekarang aku harus bergerak, memikirkan cara untuk menolong mereka yang terkurung di bawah sana.

Karena aku tidak mungkin mengharapkan diriku tiba-tiba saja menghilang saat perang itu terjadi… maka aku setidaknya harus membantu sebisaku. Bangsaku… sebentar lagi tak akan jadi makhluk yang bisa kusebut sebagai bangsaku lagi.

Dan aku benar-benar harus memilih, siapa yang akan kupihak?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Mereka benar-benar membuktikan ucapan mereka.

Empat hari lagi, aku sudah menghitung mundur hari yang berlalu selagi aku belum bisa menemukan jalan apapun sebagai cara untuk membantu Kei dan yang lainnya. Aku juga belum menemui mereka, sebab aku begitu ketakutan.

Aku takut aku akan mengecewakan mereka karena aku nyatanya tidak berhasil melakukan apapun untuk membantu. Dan aku terlalu malu untuk muncul di hadapan mereka karena hal itu.

Tidak, Sarang. Bersembunyi seperti sekarang adalah kelakuan dari seorang pengecut yang tidak seharusnya aku lakukan. Sejak kapan aku jadi selemah ini? Saat di Gedung Penyembuhan aku tidak pernah mengurung diri di tengah keputus asaan.

Aku akhirnya menatap kosong ke arah jendela kamar, teriknya matahari tampak begitu menantang di luar sana, dan aku yakin aku sudah melewatkan begitu banyak hal penting di luar kamar.

Apa Baekhyun ada di luar? Mendadak aku ingin menemuinya. Dia satu-satunya yang bisa kutemui dalam keadaanku sekarang. Mengingat aku tidak punya satupun teman bercerita, Baekhyun agaknya jadi satu-satunya harapanku untuk jadi teman bicara.

Segera, aku meraba kantong kecil celanaku, tersenyum saat kudapati kunci kecil yang kucuri dari Sehun masih ada di sana. Dengan cepat aku keluar dari dalam kamar dan menyelinap secara diam-diam ke bawah tanah.

Aku tahu, Kei dan yang lainnya pasti menyadari kedatanganku, karena aku melewati penjara tempat mereka terkunci. Suara Sehun terdengar dari lantai atas, dan saat aku masuk ke dalam penjara, kulihat cambuk yang biasa Sehun gunakan masih terayun-ayun pelan.

Itu artinya dia baru saja meninggalkan tempat ini.

Aku cukup terkesiap saat mendengar suara desisan cukup keras dari penjara di dekatku.

“Sarang? Kaukah itu? Maaf, aku pikir kau salah satu dari mereka.” kudengar Jongdae berkata.

“T-Tidak apa-apa, maaf, aku tidak bisa menemui kalian selama beberapa hari ini.” aku berucap, biasanya aku akan memilih untuk masuk ke dalam jeruji yang ditempati Kei, dan membiarkan diriku mengutarakan semua yang aku rasakan kepadanya.

Tapi tidak hari ini, aku bahkan tidak sanggup memandang wajah mereka.

“Apa kalian baik-baik saja?” tanyaku kemudian.

“Ya, saat ini kami masih baik-baik saja. Tapi, jangan masuk ke dalam tempatku, Sarang. Aku mungkin bisa membahayakanmu saat ini.” vokal Kei terdengar. Dia pasti sedang dalam keadaan terburuknya, bukan?

“Aku minta maaf, sungguh. Mereka menjaga ketat pasokan darah yang mereka miliki. Dan aku, aku… belum bisa menemukan cara untuk mencurinya dari mereka.” aku kemudian berkata.

“Kami sudah tahu itu, Sarang. Si tukang penyiksa tadi datang untuk memberitahu kami.” Xiumin yang menjawabku.

Aku terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bahwa diriku tidak berguna.

“Jangan berpikir begitu Sarang,” dari cahaya remang yang sekarang ada, aku bisa lihat bagaimana muramnya raut wajah Kei saat dia berkata begitu padaku.

“Aku akan berusaha mendapatkan darah untuk kalian.” aku berkata, tidak lagi aku sanggup berhadapan dengan mereka dalam keadaan seperti ini.

Aku akhirnya berlari meninggalkan penjara itu, bagaimana bisa aku terus bicara dengan mereka dan menghabiskan tenaga yang mereka miliki sementara aku tidak bisa membantu apapun?

Aku kan—tunggu dulu. Baekhyun. Baekhyun seorang vampire. Dia pasti bisa membantuku. Dan kuharap ia bisa membantu. Segera, aku membawa langkahku berlari ke lantai atas, masuk ke dalam kamar untuk mencari kardus berisi wadah-wadah bekas darah yang sudah kusimpan selama beberapa hari ini.

Beruntung, wadah-wadah itu masih kusimpan rapi sehingga sekarang bisa kugunakan jika saja Baekhyun memang benar-benar bisa membantuku.

Saat aku keluar dari kamar dan melongokkan kepala ke lantai bawah, bisa kulihat Sehun bersama dengan tiga orang bangsa peralihan lain sedang bersiap-siap, mereka agaknya mempersiapkan diri untuk pergi keluar.

Dengan cepat aku berlari lagi ke bawah tanah, melewati penjara tempat Kei dan yang lainnya terkurung sebelum aku akhirnya sampai di depan pintu rahasia itu. Segera, aku membuka kunci pintu tersebut, dan berdiri tegap di tanah hutan yang masih tampak sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya di hari yang terang.

Sempat aku terkesiap saat mendengar suara desisan cukup keras di dekatku, hal yang kemudian membuatku segera meraih pegangan pintu, berharap aku akan punya cukup waktu untuk—

“Sarang, kaukah itu?”

—Baekhyun?

“Baekhyun?” aku berucap, mencari keberadaan Baekhyun di sekelilingku.

“Mencariku?” aku terkesiap melihat Baekhyun muncul dari balik sebuah pohon besar. Bagaimana bisa dia ada di sana? Apa Baekhyun memang ada di sini sepanjang waktu?

“Mengapa kau ada di sini?” tanyaku pada Baekhyun.

Ia tersenyum tipis.

“Mengapa? Bukannya kau memang mencariku?” tanya Baekhyun membuatku segera berlari menghampirinya.

“Benar, aku memang mencarimu.” ucapku kemudian.

Lagi-lagi Baekhyun tersenyum, dia kemudian memperhatikan kardus berisi wadah darah yang kubawa.

“Mau meminta bantuan apa kali ini?” tanyanya.

“Ah, itu. Bangsamu, tidak, maksudku bangsaku. Mereka—ah, sebentar, biarkan aku menyusun kalimat-kalimat yang ingin aku ucapkan dulu.” aku meletakkan kardus di tanganku ke tanah, sementara aku sendiri mengatur nafas, memikirkan dengan hati-hati tentang apa yang ingin aku katakan pada Baekhyun.

“Pelan-pelan saja, Sarang. Aku bisa menunggu.” ucap Baekhyun.

“Jadi, bangsa peralihan di dalam gedung ini sudah menawan beberapa orang vampire di penjara bawah tanah yang letaknya di dekat pintu itu. Tapi, ada sesuatu di penjara itu yang membuat vampire di sana tidak bisa menghancurkannya.

“Kau tahu, setiap hari di dalam sana bagai siksaan bagiku karena semua vampire yang ada di penjara itu secara bergiliran selalu disiksa oleh bangsa peralihan yang kau temui tempo hari di sini, namanya adalah Sehun.

“Tapi bukan siksaan itu masalahnya, bukan Sehun juga. Baiklah, Sehun memang masalah juga. Tapi bukan itu yang sebenarnya jadi masalah yang aku bicarakan. Mereka… bangsa peralihan dan bangsaku yang tersisa, mereka merencanakan hal yang mengerikan.

“Mereka ingin semua manusia yang tersisa di sini berubah menjadi bangsa peralihan dan mereka akan menggunakan vampire tawanan itu sebagai vampire yang akan mengubah manusia menjadi bangsa peralihan.”

Aku terhenti sejenak, rasanya aku sudah bicara terlalu banyak, apa Baekhyun bisa memahami maksud dari ucapanku?

“Baiklah, lalu apa hubungannya rencana mereka dengan benda yang sekarang kau bawa?” tanya Baekhyun kemudian.

“Ah, itu… bagian dari rencana mereka. Di dalam sana mereka punya pasokan darah yang beberapa waktu lalu pernah kucuri untuk kuberikan pada vampire yang mereka tawan. Tapi karena adanya rencana ini, mereka sudah mempersiapkan darah-darah itu untuk digunakan oleh manusia yang akan berubah menjadi bangsa peralihan.

“Dan vampire yang ditawan itu tidak akan mendapat darah sedikit pun. Jadi… aku ingin meminta bantuanmu, untuk membantuku mencari darah agar mereka—”

“—Baiklah, cukup sarang. Aku sudah mengerti.” Baekhyun berkata.

“Kau sudah mengerti?” tanyaku memastikan.

“Sangat mengerti. Kau ingin aku membantumu mendapatkan darah untuk vampire yang ditawan?” tanyanya memastikan.

Aku mengangguk pelan sambil memandangnya. Baekhyun tampak berpikir sejenak, kemudian ia tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah, ini sangat mudah untukku. Jadi, apa kau akan menungguku di sini atau kau akan ikut berburu denganku?” tanya Baekhyun, suaranya berubah jadi lebih dalam dan ada aura mengerikan dalam suaranya.

Aku bahkan bisa melihat bagaimana sepasang taringnya bertambah panjang beberapa milimeter.

“Baekhyun, kau membuatku takut.” ucapku tanpa sadar beringsut menjauh dari Baekhyun. Sementara dia sendiri tergelak karena tindakanku.

“Aku hanya bercanda. Aku tidak akan membahayakanmu walaupun keadaanku seperti ini, Sarang. Jangan khawatir.” Baekhyun kemudian meraih kardus yang tadi kuletakkan di tanah.

“Aku hanya perlu memindahkan darah yang kudapatkan ke dalam wadah-wadah ini bukan?” tanya Baekhyun.

“Ya…” ucapku.

Baekhyun kemudian menatap ke arah hutan gelap yang menyambut di belakang kami.

“Kau mau menunggu atau—”

“—Aku akan ikut.” potongku membuat Baekhyun terkekeh pelan.

“Baiklah, kau sendiri yang memilih untuk ikut, Sarang.” ucap Baekhyun sambil kemudian membimbing langkahku.

“Terima kasih, Baekhyun.”

“Kau terus mengatakan hal itu, Sarang.” Baekhyun menyahuti ucapanku.

Meskipun ini siang hari, tapi Baekhyun tidak keberatan untuk membantuku. Dan aku sungguh berterima kasih karena bantuannya. Ia benar-benar vampire yang baik.

Tidak. Semua vampire baik padaku. Aku tidak pernah menemui vampire jahat selama ini.

Kami berjalan ke dalam hutan, yang semakin gelap. Membuat Baekhyun bisa bergerak dengan leluasa bahkan di siang hari. Karena sinar matahari tidak menembus dedaunan di sana.

“Tunggu di sini sebentar.” ucap Baekhyun.

“Kupikir kau benar-benar akan mengajakku berburu.” kataku membuat Baekhyun menatap dengan alis terangkat.

“Kau benar-benar ingin ikut? Aku tidak yakin kau akan mau bicara padaku setelah kau lihat bagaimana cara bangsa kami berburu.” ucapan Baekhyun lagi-lagi membuat bulu kudukku meremang.

Mengapa dia bisa membuatku merasa takut hanya dengan ucapannya saja?

“Aku bersungguh-sungguh kali ini, bukan bercanda. Kami akan terlihat mengerikan saat berburu, Sarang. Sebaiknya kau menungguku di sini saja.” Baekhyun menyarankan.

“Baiklah, aku akan menunggumu.” akhirnya aku memutuskan.

“Dan juga, jangan melihat ke belakang sana apapun yang terjadi. Yang kau lihat mungkin akan lebih mengerikan dari yang kau bayangkan.” Baekhyun berpesan sebelum dia melangkah ke bagian gelap hutan lainnya.

Aku bisa melihat beberapa ekor rusa besar ada di sana, dan aku cukup yakin Baekhyun berjalan. Dia memang berjalan, tapi tidak ada suara apapun yang dia ciptakan.

Apa ini memang kemampuan para vampire?

KRAK!

Aku terkesiap saat kulihat bagaimana Baekhyun melesat dalam hitungan detik menyerang seekor rusa besar di sana. Begitu cepatnya gerakan yang Baekhyun lakukan sampai-sampai rusa lain di sana tidak—

KRAK! KRAK!

Suara bergemeretak patah mengerikan lainnya terdengar, dan dua ekor rusa yang tadi ada di sana juga tumbang. Dalam hitungan tidak sampai satu detik. Apa ini yang Baekhyun maksud sebagai keadaan yang mengerikan?

Aku menyernyit saat melihat darah mengalir keluar dari leher salah satu rusa itu, sementara samar-samar kulihat tubuh Baekhyun ada di atasnya.

“Sarang, sudah kukatakan jangan melihat.” kudengar suara Baekhyun, meski dia bicara dengan nada yang sangat berbeda dibandingkan Baekhyun biasanya, aku tahu itu suara Baekhyun.

“Maaf, aku tak sempat mengalihkan pandanganku.” aku berucap, lekas kualihkan pandangan dari pemandangan mengerikan yang beberapa sekon lalu kulihat secara nyata.

Beberapa menit aku menunggu, aku mendengar suara kesakitan rusa itu, dan aku bergidik ngeri setiap kali kudengar suara kemeretak patah. Di saat seperti ini vampire memang menakutkan. Rusa dengan tubuh begitu besar saja bisa dengan mudah mereka lumpuhkan, apalagi manusia?

Aku menunggu beberapa lama, sampai tiba-tiba Baekhyun muncul di depanku dengan membawa kardus yang sekarang sudah penuh berisi wadah dengan darah di dalamnya.

“Aku selesai.” ucap Baekhyun membuatku sontak berbalik dan melihat keadaan yang sudah Baekhyun tinggalkan.

“Oh, ayolah Sarang. Mengapa kau tidak mendengar apa yang aku katakan?” Baekhyun segera menutupi pandanganku dengan tubuhnya.

Meski dia melakukannya, tapi aku sudah terlanjur melihat keadaan yang Baekhyun tinggalkan. Tidak hanya ada tiga rusa di sana, tapi ada dua ekor lainnya. Kapan Baekhyun mendapatkan mereka?

“Aku tidak takut, sungguh.” ucapanku sekarang bahkan berhasil membuat Baekhyun tergelak.

“Tidak takut bagaimana? Suaramu saja sudah bergetar ketakutan.” Baekhyun berucap, hal yang membuatku kemudian memandangnya. Menyadari bahwa ada sisa darah yang masih bertengger di sudut bibir Baekhyun.

“Ah, Baekhyun sebentar.” aku berkata, dengan cepat aku menarik bahu Baekhyun agar tingginya bisa menyejajari tinggi badanku, sementara dia tidak berkata apa-apa dan mengikutiku begitu saja.

“Masih ada darah di sini.” ucapku saat aku mengusap sudut bibir Baekhyun dengan jemariku. Berbeda dengan reaksi santaiku, Baekhyun justru terlihat terkejut.

“Kau… tidak menganggapnya mengerikan?” tanya Baekhyun.

“Tidak, mengapa aku harus menganggapnya mengerikan? Yang melakukan hal seperti itu adalah kau, Baekhyun. Aku tentu tidak merasa takut.” ucapku membuat Baekhyun menyernyit.

“Kau benar-benar berpikir aku seorang vampire yang baik?” tanya Baekhyun.

Aku terdiam mendengar ucapan Baekhyun. Dalam jarak sedekat ini bisa jelas kulihat bagaimana raut wajah Baekhyun sekarang sungguh mempertanyakan tindakan tidak wajar yang aku lakukan.

Dia pasti merasa aneh karena ada manusia yang begitu memercayainya, apa begitu yang sekarang ada di dalam benak Baekhyun?

“Kau seorang yang baik, bagiku. Karena kau selalu memperlakukanku dengan baik. Aku tidak peduli bagaimana dan apa yang kau lakukan pada orang lain di luar sana, Baekhyun. Aku percaya pada apa yang kulihat dan kualami.” ucapanku akhirnya berhasil memunculkan sebuah senyum di wajah Baekhyun.

Aku kemudian mengalihkan tanganku dari bahu Baekhyun, memberinya ruang untuk kembali menegakkan tubuh sementara dia masih membawa kardus berisi darah itu di kedua lengannya.

“Aku tidak mengerti mengapa seseorang seperti itu yang harus menandaimu, Sarang.”

Aku terkesiap saat Baekhyun tiba-tiba saja bicara tentang ‘tanda’ yang selama ini tak pernah jadi bahan pembicaraan kami.

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

Baekhyun, menatapku dengan sebuah senyum yang tidak kumengerti.

“Aku tahu tentangmu, Sarang. Aku tahu bagaimana kau bisa ada di sini, apa yang membuatmu bisa ada di sini. Siapa vampire yang sudah menandaimu dan kemudian menghilangkan tanda itu.

“Aku bisa mengetahui semuanya. Bahkan… aku sebenarnya sudah berbohong padamu. Aku bukannya tak punya siapa-siapa di sini. Bukan juga aku sengaja menghabiskan bertahun-tahun di sini.

“Dia lah yang menugaskanku untuk mengawasimu di sini, Sarang.”

“D-Dia?” aku terbata, meski aku sudah bisa tahu siapa yang sedang Baekhyun bicarakan sekarang, tapi tak ayal bibirku mau tak mau bertanya juga.

“Ya, dia. Vampire bernama Park Chanyeol itu. Karena mengenalmu, aku sekarang bertanya-tanya, mengapa kau harus ditandai oleh seorang vampire sepertinya? Kau sungguh tidak beruntung…”

Aku? Tidak beruntung karena Chanyeol menandaiku? Apa yang sekarang Baekhyun sedang coba untuk jelaskan padaku?

Mengapa pula Baekhyun baru mengatakannya sekarang? Apa dia sedang memberikan pengakuan sebelum menghilang dalam waktu lama? Tapi… kalau Baekhyun memang benar, jadi selama ini pertemuanku dengan Baekhyun bukannya karena kami secara tidak sengaja bertemu dan menjalin pertemanan?

Tapi karena Chanyeol yang menugaskannya mengawasiku?

Mengapa aku justru merasa terluka karena hal itu?

“Jadi… selama ini hubungan kita hanya karena kau diperintah oleh Chanyeol, begitu maksudmu, Baekhyun?”

“Ya, maaf. Aku tidak seharusnya memberitahu, atau membohongimu. Tapi kau terlalu baik, sampai aku tidak tega untuk membiarkanmu terus tenggelam dalam ketidak tahuan. Maafkan aku. Sudah kukatakan aku bukan vampire yang baik.”

Aku seharusnya marah, karena selama ini Chanyeol tahu tentang keberadaanku dan bahkan meminta seseorang untuk mengawasiku tapi dia tidak juga muncul. Aku seharusnya sedikit merasa bahagia karena dia setidaknya masih peduli padaku.

Tapi mengapa… aku justru merasa begitu sakit?

Mengapa aku merasa puluhan kali lebih kecewa karena kepalsuan yang Baekhyun sudah pamerkan padaku saat ia bersikap baik?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Ini curcolannya semacam berlanjut dari curcolan fanfiksi sebelumnya, LOL. Tentang gado-gado buatan emak yang aku abaikan dengan begitu kejam demi titik darah penghabisan chapter empat Exception. Aw, aw. Sampe detik ini emak masih kesel gara-gara insiden gado-gado itu.

Di chapter ini mohon bersabar ya, aku lagi mau ngasih Sarang ujian gitu. Dia mau aku buat deket-deket sama Sehun sama Baekhyun dulu sebelum dengan kejamnya dua orang itu diabaikan sama Sarang kayak aku yang nyuekkin gado-gado buatan emak.

Semacam spoiler alert gitu, ya. Tapi enggak, aku belum mikirin dengan mateng si Sarang mau sama siapa di endingnya. Soalnya dibuat ending sama siapa aja ini cerita tetep aja bakal ada aura-aura gantung dirinya di ending. Jadi yah… selaw aja si Sarang, mau sama siapa aja bisa dia. Fleksibel.

Nah, Exception juga dua atau tiga chapter lagi khatam, jadi jangan bosen menunggu ya, tinggal dua atau tiga chapter lagi kok. Jadi aku udah enggak akan buat si Sarang kesiksa lagi. Kesiksa dikit-dikit mungkin, ya. Enggak banyak kok kesiksanya. Kesiksa nunggu chapter terakhir mungkin iya, LOL.

Oke, sekian dulu ocehanku di chapter empat ini, sampai ketemu di chapter lima yang bakal bikin Sarang baper. Salam kecup, Irish!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

23 tanggapan untuk “EXCEPTION – 4th — IRISH’s Tale”

  1. Mungkin kamu patah hati, rang. Kamu sudah terlanjur jatuh cinta(?)pada bacon

    Si bacon juga ah, ga bilang dari awal
    yoda kok gak muncul muncul sih mbak .-. Kangen sama cunyul

  2. akhirnyaa.. 🙂 Ya ampun kak thor, rasanya nunggu lanjutan ff ini tuh.. kayak ada manis”nya gmna gitu.. 😀
    pasti ditunggu lah kak kelanjutannya.. kira” sarang bakal sama siapa ya? 😀
    Fighting kak thor 🙂

  3. Kasihan sarang dibohogin sama baekhyun, padahal sarang sudah percaya banget sama baekhyun. Penasaran juga sarang nanti siapa pasangannya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s