[EXOFFI FREELANCE] Java In Love (Chapter 2)

Tittle : Java in Love

Author : devrizt

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, travelling.

Rating : PG-15

Cast :      Kang seulgi as Abella Javanka

Xiumin as Keyan Alendra Javin

Chanyeol as Arbinta Galih Bagaskara

Sehun as Daviandra Bandriya

 Kai as Fabian Raditya

Summary : Aku pergi untuk mencari sesuatu yang baru, sebuah tempat yang baru dan juga suasana yang berbeda. Dan aku menemukan mereka. Tapi, aku tidak seserakah itu, lalu siapa yang harus aku pilih?

Disclaimer : Cerita murni hasil pemikiran disaat malam hari tanpa kerjaan ☺

Warning : author hanya manusia biasa yang kadang salah so, im so sorry if theres (many) typos.

    See more chapter or story at https://www.wattpad.com/user/devrizt

A/N   :  Untuk yang punya wp dan berminat melihat lihat silahkan check watpadnya ya hehe thankyou soo much ~~

2 – Twenty Two Years Old Baby

-ABEL-

    Gue tiba-tiba terbangun dari mimpi yang paling absurd yang pernah gue alami seumur hidup gue. Aneh. Super duper aneh. Bukan apa-apa, disana ada Binta. Iya dia Arbinta yang kemarin baru gue kenal dan jaketnya sekarang ada di pelukan gue.

    Demi apapun, gue nggak bermaksud dramatis kaya film-film klise yang gue tonton waktu SMP. Gue nggak sengaja tertidur dengan keadaan yang hampir sama dengan terkahir gue ketemu dengan Binta. Kecuali jaketnya sih, gue udah ganti jaket dia dan jaket gue udah di Ibu laundry di bawah. Gue nggak mau menceritakan mimpi gue. Terlalu memalukan untuk di umbar.

    Hari ini gue mau berkelana, mencoba hari demi hari gue di Bandung untuk seminggu ini. Singkat memang waktunya. Gue harus menggunakan waktu gue dengan baik.

    Gue segera mandi dan berpakaian sekenanya. Casual  tapi rapih, ya bisa untuk ootd lah ya. Setelah segalanya selesai gue turun kebawah menitipkan jaket Binta untuk di Laundry. Gue nggak terlalu berharap bertemu sama Binta, jadi gue memilih untuk meninggalkan jaket Binta di Laundry.

oOo

    Tujuan pertama gue hari ini adalah jalan Asia-Afrika. Nggak tau sih gue mau apa tapi gue akan mulai dari pusat kota dulu. Sebelum gue beranjak kesana, gue memilih mampir ke rumah makan dipinggir jalan yang terdekat. Gue cuma bermodalkan ojek dan angkutan umum, jadi gue nggak mungkin aneh-aneh.

    Sebenarnya ini bukan pagi lagi. Ini jam 9.Tidak terlalu pagi, tapi cukup siang untuk menemukan tukang makanan pagi hari.  Tapi masih beruntung ada tukang bubur ayam yang mangkal dipojokan gang dekat jalan Asia Afrika.

    Boleh nggak sih gue bilang ini kebetulan? Lo bisa tebak apa yang gue bilang kebetulan. Gue. Ketemu. Binta. Iya Binta, cowo setinggi pintu rumah gue itu lagi lari pagi. Dia lewat diseberang dan gue sangsi kalau dia melihat gue, kecuali dia seperti fangirl kpop yang punya kelebihan khusus serupa dengan mata elang. Sori aja nih para fangirl gue nggak menyindir kok, gue hanya heran sama kehebatan mata kalian.

    Gue berpikir sebentar apa perlu gue panggil atau nggak tapi bubur Bandung yang disajikan di depan gue ternyata lebih menarik dari keseksian seorang Binta yang berkeringat. Oh god, tolong jangan men judge gue. Gue cewe, dan gue nggak munafik. Binta super ganteng dan seksi dengan kaus ketekan dan celana pendeknya itu, ditambah lagi rambut hitam legamnya yang basah di sekitar pelipisnya menambah efek yang berlebih lagi.

Gue sering dengar cewe ngomong ini. “Cowo abis olahraga dan keringatan apalagi rambutnya basah itu seksi.” Dan gue nggak membantah itu. Gue setuju kok. Gue juga berpendapat sama soal itu. Cowo berkeringat, cowo pakai kaus hitam polos, cowo yang menampilkan jidat super bangsatnya mereka, itu ganteng. Kecuali kalau Kiwil yang kaya gitu. I’ll definitely say NO. Tapi jangan salah Kiwil punya istri banyak.

Entah gue yang terlalu kelaparan atau memang bubur Bandung yang gue makan itu terlalu enak sampai gue nggak sadar ada orang yang memperhatikan gue sangat intens sejak bubur di mangkuk gue tersisa setengah lagi.

Jujur, gue benci senyum dia mulai hari ini. Kalau harus tiap hari gue meet up dan dia tersenyum layaknya a boy who insanely in love with his girl, gue bisa-bisa naksir sama dia. Tapi gue bukan cewe gampangan, jadi sori aja nih.

“Lo laper ya, Bel. Sampe lo nggak nyadar gue dari tadi duduk di depan lo?”  Binta berbicara pas banget gue menutup sendok dan garpu gue. Gue nggak menjawab, gue cuma tertawa sekadarnya. Pesanan Binta akhirnya datang juga diantar oleh abang bubur yang sama,

“Makan bwang.” Binta mengucapkan ala meme yanglek yang sedang viral itu. Gue tertawa. Kali ini tertawa sungguhan karena dia memperagakan juga didepan gue.

    Satu yang gue tangkap dari sifat dia setelah dua hari ini gue ketemu. Dia humoris. Cowo humoris itu punya poin plus. Tapi gue nggak suka sama dia. Mau gimanapun dia stranger, nggak tau kalau udah kenal banget jadinya gimana. Itu urusan nanti.

    Dia melihat ke arah gue sesekali, sambil melahap sendok demi sendok bubur ayam bandung itu,

“Lo—“ dia berhenti berbicara dan kembali mengunyah.

“Kelarin dulu makan baru ngomong, jangan setengah-setengah.”

“Hehehe.” Dia tertawa dan segera menyelesaikan kunyahannya. “Lo hari ini mau jalan-jalan kemana?”

“Alun-alun, makanya gue cari makan disini.” Gue meneguk teh tawar yang gue pesan.

“Ho gituu” Binta mengangguk paham. “Siangnya mau kemana? Sore?” Binta melanjutkan pertanyaan lain.

“Belum ada rencana sih, ke Braga mungkin. Atau TSM. Yang jelas dalam kota ajalah gue kan angkoters.” Gue mengedikkan bahu.

Binta mengangguk lagi, “Hmm. Gini aja. Gue jadi tour guide lo selama di Bandung, gue ajak keliling, tapi naik motor? Ada mobil sih, tapi Bandung macet jadi enakan pakai motor. Oke nggak nih? Nggak bakal gue apa-apain kok tenang aja”

“Gue sih terima kasih banget sama tawaran lo nih Bin. Tapi lo nggak apa-apa? I mean like, hari-hari lo bakalan sama gue melulu gitu selama gue di Bandung, lo yakin?”

“Kalo gue nawarin berarti gue nggak apa-apa Abel. Jadi deal nih?” suaranya lembut. Dilembutin sebenarnya.

Gue diam sebentar ragu-ragu, “Kalo cewe lo marah gimana?” gue menunduk malu menyesal ngomong itu ke Binta.

Binta terdiam, menoleh ke arah gue menatap lurus dan menahan tawa. “Hahaha.” Tawanya pecah, nggak terlalu kencang, tapi malu kalau diliat orang.

“Cewe? Asumsi dari mana gue punya cewe, Abel? Binta masih tertawa.

Asli gue malu. Ya gue takut aja gitu kan, kalau dia punya cewe terus gue harus berantem dulu sebelum gue berkelana lagi, terus gue bersinetron ria. Mending gue hilang di Bandung dari pada harus kaya gitu. Jangan deng nanti abang gue nyariin.

“Ya gue kira gitu. Dari pada gue tanya lo udah punya pacar apa belum, kan kesannya nggak enak.” Gue memainkan rambut gue, iya gue malu. Gue salting syit.

“Hahh.” Binta mengambil napas karena lelah tertawa. Gue nggak ngerti kenapa dia sampai segitunya. Apa jangan-jangan dia gay. “Gue nggak punya cewe. Apalagi cowo. Jangan lo kira gue homo.” Binta memicingkan matanya ke gue. Okey, gue salah dia normal. “So, deal?” Binta menanyakan ke gue.

Gue sok berpikir,padahal tanpa mikir gue akan bilang mau. Ya jangan terlalu gampang gitu lah, lo perlu jaga imej. “Hmm, oke, deal” gue tersenyum dan bersalaman dengan Binta di saksikan mamang tukang bubur dan beberapa pelanggan disana.

oOo

    Oke, sejauh ini gue ngerasa biasa aja dekat Binta, sampai saat tadi gue di tukang bubur pun rasanya masih sama. Tapi, sekarang beda. Kalau bisa gue jelaskan, rasanya awkward. Sekarang jam setengah sepuluh, gue jalan berdua sama Binta. Mungkin orang yang melihat akan mikir kalau gue dan Binta pasangan aneh.

    Ada dua kemungkinan alasan mereka melihat gue dan Binta kaya gitu. Pertama, lo tau kan Binta tadi habis lari? Gue berpakaian casual dan dia dengan sport wearnya, mungkin mereka pikir itu aneh. Dan kemungkinan ke dua, mereka gagal fokus ke Binta. Gue sudah bilang kan dia cowo banget tadi pagi? Gue nggak perlu kasih foto kan ya?

    Sepanjang jalan Asia Afrika gue melihat kiri dan kanan, begitu ramai. Bahkan semakin siang semakin ramai,beruntung hari ini panasnya nggak terlalu terik, jadi perlu khawatir berakhir jadi zebra nantinya . Binta melihat gue lalu tertawa kecil, dan gue menoleh ke arahnya heran.

“Lo kenapa ketawa?”

“Lo kaya keponakan gue. Umurnya 5 tahun, waktu gue ajak keliling dia persis kaya lo.”

“Binta! Doraemon!” gue mengabaikan Binta yang lagi bercerita dan langsung berlari ke arah Doraemon yang sedang melambaikan tangan dan dikerubuti anak-anak kecil. Binta berjalan santai menyusul gue di belakang gue meneriakkan nama gue,

“Abel!” gue berhenti hanya dengan satu panggilan.

“Kok berhenti? Nggak jadi kesitu?”

“Malu. Banyak anak kecil.”

“Udah kesana aja, mana hp lo? Gue fotoin sini.” Gue kasih hp gue dan dia mendorong gue pelan membuat gue lebih dekat dengan Doraemon itu. Gue nggak punya pilihan lain dan akhirnya gue bergaya dan Binta tertawa melihat gue yang berpose disebelah Doraemon.

oOo

    Gue berjalan lagi mengarah ke Alun-alun. Alun-alun itu nggak jauh, malahan dekat banget. Banyak orang yang berfoto-foto di dekat ornament bola dunia dan dibawahnya ada nama-nama Negara, yang ada di tengah pertigaan jalan utama itu, sayangnya banyak yang hilang tulisannya karena banyak orang yang salah kaprah akhirnya jadi merusak. Padahal waktu gue lihat di internet masih bagus apalagi kalau malam.

    Binta masih sama gue, dia di sebelah gue. Waktu dia bilang dia mau jadi tour guide gue, dia serius dan benar-benar mulai saat gue keluar dari tukang bubur. Sebenarnya dibandingkan dengan tour guide dia lebih cocok disebut teman jalan.

    Dia nggak melakukan apapun seperti tugas tour guide pada umumnya. Dia cuma menemani gue di sebelah gue dan kadang menawarkan untuk memfoto gue. Atau dia lebih bisa dibilang jadi body guard? Dengan badan dia yang setinggi jerapah itu dia kayaknya bisa. Bahkan abang gue aja kalah gede. Ah gue jadi rindu abang gue, tumben dia belum nelepon gue.

    Di Alun-alun gue bersantai-santai tanpa sepatu. Alun-alun itu beralaskan rumput sintetis berwarna hijau. Sekilas halaman masjid Agung Bandung itu seperti hamparan rumput yang hijau dan dikeliling taman bunga di sekitarnya. Ada banyak anak-anak yang bermain, keluarga yang berwisata, beberapa orang pacaran dan yang paling penting adalah ada abang-abang penjual makanan.

    Gue dan Binta duduk di tengah hamparan rumput sintetis hijau untuk beristirahat, sejak jalan tadi gue lupa kalau hp gue belum dikembalikan Binta setelah berfoto dengan Doraemon tadi. Gue memang tidak mem-password hp  gue, dan sekarang dia sedang membuka hp gue dan melihat foto tadi.

“Bagus nggak?” gue sedikit melongok ke arah Binta yang sedang melihat-lihat fotonya.

Binta menganggukkan kepalanya sambil menggeser foto demi foto, “Bagus kok.” Binta berhenti, “Awannya. Hahaha”

“Nggak lucu Bin.” Gue menanggapi datar dia masih tertawa. Dasar caplang receh. Kalau dia teman dekat gue, gue akan bilang kaya gitu didepan mukanya.

“Lucu kok.” Gue masih diam. “Serius ini lucu, lo nya lucu disini, kaya keponakan gue dibilang kan.” dia menunjukkan foto itu.

“Bocah dong gue.” Gue menggembungkan pipi gue.  Gue baru mau meletakkan hp gue, tiba-tiba ada telepon masuk dan lo bisa tebak lah ya dari siapa. Abang alay gue, gue segera mengangkatnya.

“Gue tinggal bentar ya.” Binta berkata dengan gerakan mulut dan gue mengangguk mengeri.

oOo

-BINTA-

    Gue berjalan menjauh dari tempat Abel dan gue duduk tadi. Ini sudah cukup siang, gue aja lapar, masa dia nggak? Gue berjalan ke arah mamang ketan bakar di pinggir masjid agung,

Mang, hiji sabaraha?”

Sarebu dek, hayang sabaraha?”

“Opat wae, mang. Sama akua dua.

Gue memperhatikan Abel dari jauh yang sedang tertawa dan kadang cemberut. Gue nggak tau siapa yang nelepon mungkin pacarnya.

    Ekspresinya lucu, yang gue bilang dia mirip keponakan gue itu benar. Dia benar-benar punya ekspresi yang kaya anak kecil. Tapi dia cukup dewasa kadang. Dan gue benar-benar salut dia mandiri, atau nekat. Gue baru tau ada cewe seperti dia di dunia ini.

    Mamang ketan bakar memberikan plastik berisi ketannya , gue membayar dan langsung kembali ketempat Abel duduk. Kelihatannya Abel sudah selesai, dan sekarang dia duduk disitu sendirian celingukan kaya anak hilang. Gue tersenyum ringan melihat dia dari kejauhan dan segera berlari kecil mendekati Abel.

“Nih.” Gue memberikan palstik berisi ketan bumbu dan akua ke Abel, “Buat ngemil kenyang. Lo ngemil ini dijamin kenyang.” Abel keliatan bingung sambil menerima. Emang disana nggak ada ketan bakar? Gue serius nanya ini. Gue kaya ngasih racun kesannya kalau dia ngeliatnya kaya gitu.

“Ini apa? Makasih btw.” Tuh kan benar dugaan gue, dia tetap menerima tapi.

“Ketan bakar bumbu, atasnya kaya serundeng kelapa asin gitu. Cobain aja. Mau cilok juga?” gue menyakan lagi. Gue harusnya di nobatkan sebagai duta pariwisata Bandung. Orang-orang ke Bandung pasti pulang bawa Amanda atau Kartikasari. Gue disini dengan bangga menyarankan beli cilok, cimol, tahu balut, dan makanan pasar lainnya, cimol bandung terutama sih. Gue suka beli kalau mau ke Saraga.

“Nggak usah makasih,ini aja udah.” Dia mulai melahap ketan bumbu itu.

“Enak?” gue bertanya, dia Cuma meanggukkan kepalanya, dan gue tersenyum. Gue kadang mikir, baru-baru ini sebenarnya. Kenapa gue bisa berakhir sama dia. Dulu gue pernah diminta kaya gini, tapi gue lagi skripsi jadi ya gue memilik skripsi gue jelas. Dan pas gue ketemu dia kemarin di depan café, dan ketemu lagi di tukang bubur gue milih untuk menemani dia. Keputusan gue udah benar-benar matang. Tap kalau ditanya alasannya. Gue akan berdalih untuk menghindari kegabutan gue selama gue belum kerja.

“Bin, selfie dong berdua.” Abel mengelap sisi-sisi bibirnya yang berbumbu dan membenarkan rambutnya dan bersiap berfoto. Gue bingung dan kaget. Buat apa? Mungkin wajah bingung gue terbaca sama Abel. “Buat abang gue, dia kepo sama  lo tadi gue ceritain di telepon.” Oh jadi yang menelepon abangnya. Gue sedikit tenang mendengar itu, dan gue pun berfoto sama Abel.

“Oh iya nanti malam mau makan malam dimana? Gue tau tempat di Braga sih, café gitu. Tapi gua ganti baju dulu.”

“Hmm, boleh. Gue ngikut lo aja ya tour guide.” Dia tersenyum seperti anak kecil. “Eh Bin, itu apa?” dia menunjuk ke arah bis tumpuk yang sedang berhenti gue menoleh ke arah Abel menunjuk.

“Bandros!” Gue berseru semangat. “Yuk!.” Gue menarik tangan Abel dan berlari ke arah sana. Abel kaget dan segera bangkit dari duduknya dan lari bersama gue. Gue menggandeng tangannya. For your information.  Gue mengejar sambil menggenggam tangannya dan duduk bersebelahan di dalam Bis.

oOo

#TBC#

A/N

Jadi mulai dari chapter ini karna ada dua orang, gue akan buat dari dua sisi. Sisi abel dan sisi Binta. Karna dari satu pandangan aja nggak cukup bro, jadi harus menyeluruh yegatu.

Feedback gue terima apapun bentuknya and seeya on next chap.

Annyeong yeorobunn!!

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Java In Love (Chapter 2)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s