[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 11)

ENDING SCENE

Author :

Angeline

Main Cast :

Park Chanyeol x Wendy Son

Additional Cast :

Kim Saejong| Do Kyungsoo| (OC) Yoon Rae Na| Yook Sungjae a.k.a Park Sungjae|Amber Liu| Etc~

Rating : PG-17 |Length : Series Fic

Genre : Romance|AU|Angst|Sad|Adult|Married life

Disclaimer :

Ff ini murni karya tulis author. Jika ada kesamaan dalam cerita, tokoh atau apa pun, Itu semua bukan unsur plagiat melainkan ketidaksengajaan. Don’t copas without permission. Thankyou

Summary :

Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu bukan hanya untukmu? Melainkan kau harus rela membaginya dengan seorang gadis lumpuh? Dan peranmu yang tadinya sebagai korban harus terganti menjadi peran penjahat yang seakan-akan telah merebut kebahagiaan seseorang.

-Chapter 11-

Wendy menatap Kyungsoo yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lantas gadis Son itu hanya memotong kecil puding yang Kyungsoo berikan untuk menemani gadis itu, namun lihat? Ini sudah piring ke dua yang Wendy habiskan, dan nyatanya itu masih kurang untuk gadis Son itu. Wendy juga ragu untuk meminta lagi pada Kyungsoo, meski Wendy tahu Kyungsoo tidak akan menolak permintaannya, hanya saja Wendy malu.

Gadis itu pun beralih untuk memainkan ponselnya saja, menunggu kabar entah dari siapa. Ah, ada yang aneh saat ini. Sungjae tidak memberi kabar apa pun, apa mungkin ia sangat sibuk? Ya, Wendy tahu pekerjaan pria itu sangat banyak, tapi biasanya Sungjae akan menyempatkan menelfon Wendy hanya untuk menanyakan kabar gadis itu hari ini. Tapi dari kemarin, Wendy belum mendapat satu pun panggilan darinya.

“Kau melamun?” suara Kyungsoo menganggetkan Wendy dari lamunannya, sontak gadis itu menggeleng sambil menaruh ponselnya di atas meja.

Kyungsoo menatap piring puding yang ia kasih untuk Wendy kini sudah habis tanpa sisa, dan pria itu langsung duduk di depan Wendy dengan menopang dagunya, “Kau masih mau?” tanya Kyungsoo dan Wendy menggigit bibir bawahnya, menahan dirinya yang sebenarnya sangat ingin memakan puding cokelat buatan Kyungsoo itu.

“Tid –ak.” Wendy menggeleng imut sambil tersenyum kaku, namun Kyungsoo malah mencibir elakan Wendy dan segera berdiri.

“Hye jin-ah, tolong ambil 2 piring puding lagi.” seru Kyungsoo pada salah seorang pegawainya yang di panggil Hye jin itu. Wendy melebarkan matanya sambil menatap Kyungsoo yang benar-benar tahu apa yang Wendy inginkan.

“Sudah berapa lama kita bersahabat? Kau masih sungkan hanya karena sepiring puding? Ayolah Wendy, kau bisa puas makan puding di cafeku.” Kyungsoo terkekeh sambil mengusap surai Wendy dengan sayang, kemudian mengambil posisi untuk duduk di samping Wendy.

“Bolehkah aku memegangnya?” ucap Kyungsoo menatap Wendy, terlihat memohon untuk memegang perut Wendy yang masih rata itu jika dibilang, hanya saja gadis itu sedikit bertambah chubby sekarang. Tidak menunggu lama Wendy segera mengangguk mantap memperbolehkan Kyungsoo mengelus perutnya, dan dengan sebuah senyuman tangan Kyungsoo merangkak mengelus perut Wendy, bahkan pria itu tertawa kecil melihat apa yang sedang ia lakukan.

“Carilah pacar!” Wendy tiba-tiba bersuara, namun Kyungsoo malah enggan mendengar ucapan gadis itu mengenai pacar, yang dalam artian seorang ‘gadis’. Oh, jangan ingatkan Kyungsoo tentang sudah berapa lama ia single.

“Kau mulai lagi.” Kyungsoo menggeleng pelan sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.

“Berapa lama lagi kau mau menyendiri? Kau tidak lihat? Beberapa pegawaimu ada yang menyukaimu.” ucap Wendy berbisik pada Kyungsoo. Pria itu hanya menatap beberapa pegawai perempuannya, yang memang terbilang lumayan untuk di kencani, mengingat Kyungsoo sangat selektif dalam memilih pegawainya. Terutama penampilan mereka harus menarik.

“Tidak.” geleng Kyungsoo lemah dengan helaian nafasnya.

“Ah, bagaimana dengan gadis dengan dress biru itu, kau lihat? Yang di meja ujung sana. Aku lihat dia memperhatikanmu dari tadi, mungkin dia ingin berkenalan denganmu Kyungie.” kata Wendy semangat pada Kyungsoo, namun pria itu tetap menolak. Dan Wendy akhirnya pasrah, dan malas untuk menjodohkan Kyungsoo dengan gadis yang ia anjurkan.

Lantas gadis Son itu menyandarkan kepalanya pada bahu Kyungsoo dan mulai memejamkan matanya untuk beberapa saat, ia ingin tidur namun rasanya tidak bisa tidur, ia lelah namun tidak ingin istirahat.

“Kyungie, apa menurutmu aku bisa bahagia?” tanya Wendy dan Kyungsoo nampak berpikir sejenak memikirkan jawaban apa yang tepat untuk dia berikan pada Wendy.

“Memangnya kau tidak bahagia sekarang?” tanya Kyungsoo membuat Wendy menggeleng, “Apa aku terlihat bahagia di matamu?”

“Kau mau jawaban jujur?” Wendy mengangguk meresponi pertanyaan Kyungsoo, “Kau terlihat menderita  Wen.” kata Kyungsoo membuat Wendy tersenyum dan segera menatap Kyungsoo dengan sorot mata yang menyakitkan.

“Kau benar. Bukankah Tuhan sangat tidak adi?” Wendy tersenyum pahit sambil mengusap sudut matanya yang mulai basah karena air matanya.

“Wendy–“

“Kalian berdua di sini?” suara seseoang mengejutkan Wendy dan Kyungsoo, hingga akhirnya kedua orang itu menatap sumber suara yang baru saja mengalihkan fokus mereka.

“Saejong?” Wendy menatap lekat gadis yang tidak ia temui beberapa waktu ini. Ah, lebih tepatnya Saejong yang menghindari Wendy mungkin.

“Kebetulan sekali.” ucap Saejong tersenyum lalu bergabung bersama Wendy dan Kyungsoo. Tentu Wendy dan Kyungsoo seperti curiga dengan sifat Saejong saat ini, bukankah harusnya Saejong salah tingkah di depan Wendy? Atau mungkin berusaha menghindar dari gadis Son itu, namun kali ini tidak. Saejong sangat tenang saat ini.

“Ada apa Saejong?” Kyungsoo bersuara sambil menatap Saejong dengan serius.

“Awalnya aku hanya ingin menemuimu Kyungsoo, namun karena Wendy di sini sekalian saja aku bertemu denganmu. Ah, sudah lama kita tidak berkumpul kan? Aku merindukanmu Wen. Bagaimana keadaanmu? Sehat? Kau terlihat chubby.” Saejong tersenyum manis, sedang Wendy hanya mengangguk bingung dengan pertanyaan-pertanyaan Saejong yang terlihat mereka dalam hubungan yang baik.

“Bisakah langsung saja? Kau membuatku penasaran.” jawab Kyungsoo penasaran dengan ucapan Saejong yang terdengar berbasa basi rasanya.

“Aku hanya menyampaikan pesan dari seseorang.” kata Saejong menghela nafasnya, “Kalian harus datang ke rumah tn. Park malam ini.” kata Saejong, dan Wendy juga Kyungsoo langsung saling menatap bingung ‘ada apa memangnya, mereka harus ke sana?’

“Apa ada acara penting di rumah abeonim?” Wendy menatap Saejong dengan tatapan bertanya.

“Ini lebih dari penting. Ini menyangkut kebahagiaanmu Wen.” Saejong tersenyum.

Klik

Gadis yang memiliki surai cokelat bergelombang itu membuka pintu apartementnya dengan beberapa barang belanjaan yang berada di tangan kirinya. Yoon Rae na, pasalnya gadis itu baru saja pulang dari supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan yang sudah habis.

Rae na memasuki apartementnya dan langsung terkejut melihat ibunya yang sedang mencuci piring di dapur, sontak Rae menaruh barang belanjaannya dan segera menghampiri ibunya itu.

“Biar aku saja eomma.” kata Rae na menghentikan ibunya, dan sontak ny. Yoon itu tersenyum sambil mengusap surai putrinya itu dengan sayang.

Eomma tidak menyangka jika kau sudah menikah sekarang.” Ny. Yoon tersenyum manis sambil duduk dan memasukkan beberapa sayuran yang Rae na beli ke dalam kulkas.

Rae na tersenyum masam mendengar ucapan ibunya itu, pasalnya sang ibu tidak tahu nasib apa yang Rae na alami sekarang karena menikah dengan pria pujaannya itu.

“Tapi–“ ucap ny. Yoon terpotong setelah memasukkan daging ayam ke dalam kulkas, ny. Yoon berdiri tegak menatap punggung putrinya yang masih asik mencuci piring. Mendengar ucapan ibunya yang terpotong, Rae na langsung memutar badannya menatap ibunya itu dengan wajah bertanya, “Tapi?” Rae na mengerutkan keningnya menatap wajah ibunya itu.

“Kenapa kau terlihat tidak bahagia?”

Tes

Air mata Rae na terjatuh tanpa ijin dari pemiliknya. Gadis itu memalingkan tubuhnya karena tidak ingin menatap ibunya saat ini, namun sang ibu bisa melihat anaknya yang saat ini sedang menangis dengan sedihnya, isakannya pun terdengar menyakitkan di pendengaran ibunya itu.

“Sayang, ada apa denganmu?” tanya ny. Yoon mengelus punggung Rae na dengan lembut, namun gadis itu menggeleng pelan masih sambil menangis dengan hebat. Mengapa ibunya sangat tahu apa yang terjadi dengannya? Kenapa seorang ibu harus memiliki ikatan sekuat ini pada putrinya? Membuat Rae na tidak bisa menyembunyikan betapa hancurnya kehidupannya saat ini.

Eomma…” lirih Rae na memegangi dadanya yang terasa sesak bukan main, ny. Yoon langsung mendekap putrinya itu sambil menenangkan putrinya, seperti ingin tahu apa permasalahan Rae na selama ini? Karena sang ibu akan sangat siap untuk mendengarkan setiap keluhan dari putrinya.

“Aku –aku memang tidak bahagia, tidak! Bahkan aku tidak tahu apa itu kebahagiaan.” ucapan Rae na terdengar menyakitkan di telingany. Yoon, ada apa dengan putrinya? Mengapa ia sampai menangis sesedih ini? Apa terjadi sesuatu di dalam pernikahannya dengan Chanyeol? Ya, itulah jawabannya.

“Cerita pada eomma Rae na, apa yang terjadi padamu.” Ny. Yoon mengusap surai putrinya dengan sayang, untuk memberi ketenangan pada gadis yang masih menangis dengan hebat itu.

“Aku takut– aku takut eomma akan benci memiliki seorang anak sepertiku.” lirih Rae na menggeleng dalam dekapa ibunya itu.

“Katakan Rae na, eomma tidak mungkin membenci putri eomma sendiri. Katakana pa yang terjadi padamu sayang, jangan takut.”

“Aku–“

“Bagus, tahan expresimu seperti itu!” suara teriakan khas seorang Chanyeol membuat beberapa staff berdecak kagum, selalu sama saat pria itu sedang bekerja. Profesional dan tidak pernah mengecewakan.

Chanyeol menyeka keringatnya yang menetes di pelipis pria itu, pasalnya mereka sedang menjalankan pemotretan out door, dan kota Seoul terasa begitu panas saat ini. Beberapa model yang menjalankan pekerjaanya nampak mengeluh juga karena panas, dan menuntut untuk istirahata sejenak.

Hyung, kau mau minum apa?” tanya Woozi yang berlari kecil menghampiri Chanyeol yang tengah duduk di sebuah kursi dekat van mereka.

“Apa saja.” tutur Chanyeol cepat sambil menghela nafasnya.

“Baiklah, ada lagi? Mungkin kau mau pesan cinta dari ‘istrimu’?” Woozi menyunggingkan senyuman, dan Chanyeol segera menatap pria bertubuh pendek itu dengan kekehan kecil, “Jika ada, aku akan memesannya. Ah, kau membuatku merindukannya Woozi!! Sial.” Kekeh Chanyeol kemudian merogoh ponsel di saku celananya, untuk menelfon wanita yang menjadi pujaan hatinya itu. Meski mereka sudah bertemu di studio Chanyeol, entah mengapa Chanyeol masih merindukannya. Apalagi Wendy sekarang bertambah cerewet saja. Bayangkan, setelah Wendy pergi dari studio Chanyeol, gadis itu langsung mengirimkan pesan untuk Chanyeol dengan menuliskan.

“Yeolie, jangan sampai kau menatap para model itu! Pokoknya kau harus tutup mata saat memotret mereka, kalau tidak aku akan marah!”

Bukankah gadisnya sangat manis dan lucu? Oh, membayangkan wajah cemburunya saja membuat hati Chanyeol terasa berdebar-debar, seperti orang yang baru merasakan jatuh cinta. Namun itulah Wendy untuk Chanyeol, pesona gadis itu mampu membuat Chanyeol jatuh cinta padanya terus menerus.

Ring.

Chanyeol yang sedang melamunkan wanitanya itu terkejut saat sebuah panggilan masuk melalui ponselnya. Sontak saja Chanyeol langsung menatap siapa penelfon itu. Alis Chanyeol sedikit terangkat melihat si penelfon itu, Amber? Dia menelfon Chanyeol? Tumben sekali rasanya melihat gadis tomboy itu menelfon Chanyeol.

Dengan gerakan cepat, Chanyeol menekan tombol di layar ponselnya dan menaruh ponsel itu di telinganya.

“Yeobeoseyo?”

“Yeol-ah, kita harus bertemu malam ini, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, dan ini sangat penting!”

“Sepenting itu?”

“Mm.”

“Baiklah, di mana?”

“Di rumah orang tuamu.”

“Apa?! Kenapa di sana? Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?”

“Ini menyangkut, 4 tahun lalu, kau harus datang!”

“Tapi Amber – yeobeoseyo? Yak! Aish sial!”

Chanyeol mengusap wajahnya kasar, seperti kesal mendengar ucapan Amber yang menggantung rasanya. Sungguh tidak memuaskan seorang Chanyeol dengan ucapan menggantung seperti tadi, membuat pria itu merasa sangat penasaran dengan apa yang ingin Amber bicarakan. Ah, 4 tahun lalu? Ada apa dengan 4 tahun lalu?

“Ada apa sebenarnya?” Chanyeol mengucap pelan dengan tatapan seriusnya.

“A –apa eomma tidak salah dengar?” ny. Yoon termangu dengan pikiran kosong yang entah melayang ke mana mendengar cerita putrinya yang mampu membuat tubuhnya menegang sempurna.

“YOON RAE NA!” bentak ny. Yoon sambil mengusap air matanya yang menetes dikala hatinya terasa dicabik-cabik, sangat sakit bahkan terlalu sakit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Bagaimana mungkin, putri yang menjadi kebanggaannya itu melakukan hal keji yang sangat mengerikan seperti itu? Tidak, bahkan ny. Yoon tidak pernah berpikir anak gadisnya memiliki rahasia sebesar itu, sebuah rahasia yang sangat mengerikan untuk diketahui.

Ny. Yoon menangis sambil tertunduk lesu, sedang Rae na masih berada di tempatnya dengan kegiatan awalnya, menangis dengan hebat. Seperti menyesali semua perbuatannya yang ia lakukan selama 4 tahun ini, karena memang seperti kata Chanyeol ‘dia tidak akan bahagia menikah dengan pria itu’.

Eomma…”

“Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?” tanya ny. Yoon menatap kecewa pada anaknya itu, bahkan keduanya masih menangis.

“Bagaimana jika ayahmu tahu? Ya Tuhan, jadi kau bohong mengenai cuti magangmu di rumah sakit? Kau tega membohongi orang tuamu sendiri?! Astaga! Rae na-ah.” ucap ny. Yoon tidak habis pikir dengan anaknya itu. Kini wanita tua itu nampak terduduk di lantai sambil menangis memukul sofa, benar-benar tidak menyangka putrinya seperti ini.

“Maafkan aku eomma.”

“Aku benar-benar tidak menyangka kau seperti ini. Bagaimana mungkin kau membohongi semua orang? Soal kakimu yang lumpuh–“

“Saat aku menikah, sejujurnya aku sudah bisa sedikit berjalan, namun tidak boleh terlalu lama. Karena otot kakiku belum terlalu kuat.” jelas Rae na sambil menangis.

Rae na berlutut di depan ibunya, sambil meremas tangan ibunya dengan perasaan hancur melihat ibunya menangis seperti ini karena dirinya. Sungguh memiluhkan hati Rae na yang sudah hancur tanpa sisa. Ia tidak suka melihat ibunya menangis, namun ialah penyebab kekacauan ini semua.

“Jangan membuat eomma malu lagi dengan menyembunyikan semua ini.”

“Maksud eomma?”

“Kau harus mengatakan yang sejujurnya pada semua orang, meski resiko itu sangat berat untuk kau tanggung. Tapi demi Tuhan, eomma lebih bahagia memiliki putri yang jujur dari pada putri yang menyimpan banyak kebohongan.” kata Ny.Yoon dengan lemas, terasa tak mampu berdiri atau sekedar kembali duduk di atas sofa yang empuk.

“Tapi eomma–“

“Kau harus bertanggung jawab Rae na, apa pun nanti resikonya, setidaknya kau sudah jujur dan tidak menyimpan beban yang berat. Apa kau sanggup memikulnya seorang diri selama 4 tahun?” Rae na menggeleng sambil menangis.

“Sebab itu, eomma mohon padamu untuk jujur pada mereka. Jika nanti Chanyeol memilih berpisah denganmu, kau harus menerimanya, karena itu adalah resiko yang harus kau tanggung. Dan eomma ingin kau kembali melanjutkan kuliahmu yang tertunda. Kembalilah menjadi putri eomma yang baik sayang.” Ny. Yoon memberikan sebuah ciuman manis pada kening putrinya, disertai tangisan yang memecah dari bibir keduanya, hingga akhirnya Rae na memeluk ibunya untuk sekedar mencari ketenangan, karena saat ini ia begitu takut mengakhiri segalanya.

Chanyeol memarkirkan mobilnya di depan rumah ayahnya yang entah sudah berapa lama tidak ia kunjungi, mungkinkah ia yang terlalu sibuk saat ini? Entahlah. Dengan langkah mantap, Chanyeol melangkah memasuki rumah besar itu dengan tas kamera berukuran sedang di gendongannya.

Tidak menunggu lama, seorang pelayan membukakan Chanyeol pintu itu, dan pria tersebut langsung masuk tanpa ingin menyapa pelayan yang sudah berumur itu. Matanya memandang sekeliling rumah itu, dan terlihat sepi, kenapa Amber tidak ada? Bukankah ia meminta bertemu di sini? Chanyeol terus melangkah hingga saat sampai di ruang tengah.

DEG

Chanyeol mematung menatap gadisnya Wendy berada di sana, disertai Amber, Kyungsoo, Saejong dan Sungjae? Tunggu dulu, ada apa dengan situasi ini? Apa mungkin mereka sudah tahu tentang hubungan Chanyeol dan Wendy selama ini? Dan apakah mereka sudah tahu tentang kehamilan Wendy? Oh, mengapa rasanya Chanyeol begitu gugup sekarang?

Dengan perlahan Chanyeol mengambil posisi di samping Sungjae, meski sebenarnya ia ingin sekali duduk di samping Wendy dan mencium gadis itu, akibat kerinduannya seharian ini. Begitu juga dengan Wendy yang ingin memeluk Chanyeol sekarang, rasanya ia benar-benar merindukan sosok prianya di sampingnya dan memeluk mesra tubuhnya. Namun disaat seperti ini, benar-benar tidak mungkin kan?

“Baik, semua sudah berkumpul. Jadi apa yang ingin kau bicarakan Sungjae?”

Chanyeol menatap adiknya itu dengan wajah bertanya, jadi dia yang mengumpulkan semua orang di sini? Memangnya apa yang ingin pria itu bicarakan di saat seperti ini? Dan juga, kenapa harus malam ini, terlihat mencurigakan dan entahlah, Chanyeol tidak tahu tentang hal yang Sungjae ingin sampaikan.

“Ini menyangkut 4 tahun lalu.” ucap Sungjae menunduk dengan meremas kuat celan kain khas pakaian pekerja kantoran. Ia benar-benar dibendung rasa gugup luar biasa, juga takut yang hebat saat ini. Demi Tuhan, ini tidak segampang yang dipikirkan, ini benar-benar sulit, bahkan hanya untuk mengucapkan sepenggal kalimat pendek pada mereka.

Sungjae mengangkat wajahnya dan menatap Amber yang mengangguk, dan menenangkan Sungjae bahwa mereka menaggung semua ini bersama-sama, ah jangan lupakan senyuman gadisnya Saejong untuk menyemangtinya saat ini. Semua akan baik-baik saja kan?

Appa, aku ingin mengakui sesuatu.” Tuan dan nyonya Park nampak serius menatap wajah putra bungsu mereka. Sebenarnya apa yang ingin Sungjae katakan? Benar-benar membuat mereka penasaran.

“Aku akan menceritakan semuanya, dan aku mohon – tunggu sampai aku selesai berbicara.” kata Sungjae menatap Chanyeol dengan raut wajah memohon, seolah memberi isyarat pada kakaknya itu agar mendengar secara detail hal yang ingin ia sampaikan saat ini. Karena Sungjae cukup tahu, bahwa kakaknya akan dengan mudah terpancing emosi jika mendengar hal ini.

Mereka mengangguk mantap, dan mulai mendengarkan Sungjae dengan seksama. Bahkan Wendy yang sedang duduk di samping Kyungsoo nampak penasaran dengan suaminya itu.

“Selama 4 tahun ini, aku sudah membohongi kalian semua, aku menyimpan sebuah rahasia yang harusnya sudah aku sampaikan pada kalian sejak dulu. Bahkan jika aku melakukannya, hidupku dan hidup kalian akan baik-baik saja,” Sungjae menghela nafasnya sambil mengangkat wajahnya, “4 tahun lalu, aku menyembunyikan fakta jika anak yang dikandung Rae na sebenarnya bukan anak Chanyeol hyung.”

“APA?!” Pekik mereka semua terkejut dengan ucapan Sungjae yang terasa menusuk jantung siapa saja yang baru mengetahui hal itu, terutama Chanyeol yang merasa kakinya lemas dan pikirannya kosong entah ke mana.

“Aku meminta Amber untuk merahasiakan hal ini dari kalian, karena keegoisanku untuk memiliki Wendy.”

“Tunggu, jika bukan anak Chanyeol? Lantas, anak siapa yang Rae na kandung?” nyonya Park bersuara seraya menatap putranya Sungjae dengan lekat.

“Aku tidak tahu, yang jelas Amber mendengar ucapan Rae na bersama dokter yang memberikan hasil tes DNA itu di café. Nyatanya, mereka memang merekayasa hasil tes itu.” ujar Sungjae dengan suara beratnya.

“Dasar Brengsek!”

BUGH

Chanyeol langsung memukul Sungjae tanpa aba-aba membuat mereka terkejut dengan kelakuan anak pertama tuan Park itu, sontak saja tuan Park langsung berdiri dan menahan Chanyeol untuk kembali melayangkan pukulan pada Sungjae. Adik bungsu Chanyeol itu kembali berdiri tegak dan duduk di sofa setelah jatuh ke lantai akibat pukulan dari Chanyeol, sedikit melihat pada Wendy sang istri yang menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang Sungjae ucapkan.

“Nyatanya seperti itu, aku diam-diam membantu Rae na menyembunyikan hal ini dari kalian. Karena aku sangat mencintai Wendy, maafkan aku hyung. Aku tahu aku salah, dan aku menyesal.”

“Sialan! Kau kira kata maafmu itu berlaku saat ini?! Kau sudah menghancurkan kehidupanku dan Wendy keparat!” Chanyeol masih tersulut emosi, bahkan jika tuan Park tidak menahannya, ia bisa memberikan sebuah bogem mentahnya lagi untuk Sungjae

“PARK SUNGJAE!” teriak tuan Park menggema di ruangan itu, “KAU SADAR JIKA AKU SANGAT MALU MEMPUNYAI ANAK SEPERTIMU?!” suara tuan Park benar-benar terdengar marah dan kecewa pada Sungjae saat ini.

Bugh

Beberapa pasang mata nampak terkejut saat Sungjae mulai berlutut di depan mereka semua, bahkan tangannya terkepal karena ia sejujurnya ingin menangis saat ini. Wendy yang menatap itu hanya menangis sejadi-jadinya, ia tidak menyangka jika Sungjae bisa melakukan hal itu padanya, tidak! Tapi pada semua orang.

“Maafkan aku appa, eomma, hyung dan Wendy. Maafkan aku sudah menyakiti kalian selama ini, maafkan aku karena menutupi hal ini dari kalian, jika ada kata yang lebih dari kata maaf, aku akan mengucapkannya saat ini juga.”

Tuan Park berdiri dan membuka ikat pinggangnya, ny. Son yang mengetahui hal apa yang akan dilakukan suaminya itu langsung berdiri di depan Sungjae dengan berlutut, memohon untuk tidak memukul putranya seakan mereka adalah seorang yang hina di mata suaminya itu.

“Aku mohon jangan menyakiti anakku.” kata ny. Yoon berlutut di depan suaminya degan menangis memeluk Sungjae.

Chanyeol juga tidak tega jika melihat adiknya itu harus berakhir dipukuli dengan ikat pinggang seperti dirinya dulu, ia sayang pada Sungjae dan masih menganggap pria itu adiknya yang ia sayangi, dan Chanyeol tidak akan tega melihat Sungjae harus dicambuk oleh ayahnya sendiri.

“Minggir He ra!” teriak tuan Park, “Biar aku memberi pelajaran padanya!” bentak tuan Park pada istrinya itu, namun ny. Park menggeleng cepat sambil terus memohon untuk Sungjae kali ini saja.

Eomma, tidak apa-apa.” lirih Sungjae tersenyum pada ibunya dengan menyakitkan, membuat ny. Park semakin menangis melihat putranya itu.

Samchon, aku mohon jangan melukai Sungjae.” Saejong ikut memohon pada tuan Son, namun tuan Park nampak tidak ingin mendengarkan siapa pun saat ini.

”Jangan! Jangan melukai Sungjae abeonim.” kini Wendy bersuara sambil berdiri menahan tangan mertuanya dengan lembut, gadis itu masih menangis meskipun ia sedang memohon saat ini.

“Jangan menyakitinya, aku mohon jangan.” kata Wendy menatap Sungjae yang ikut menatapnya dengan tatapan bertanya, bukankah harusnya Wendy senang melihatnya dipukuli? Bukankah harusnya ia tidak peduli dan benci pada Sungjae? Tapi mengapa? Mengapa Wendy harus peduli dengannya lagi, pada lelaki yang harusnya ia benci setengah mati.

“Wendy–“

“Aku hamil – anak Chanyeol.” ucap Wendy menatap Chanyeol yang sedikit terkejut dengan ucapan wanitanya itu, kini tuan Park semakin melebarkan matanya bahkan sangat kaget mendengar ucapan gadis yang ia sayangi seperti anaknya itu.

“Apa-apaan lagi ini?! Ya Tuhan!” geram tn. Park sambil menatap Wendy dan Chanyeol secara bergantian, apa mungkin mereka berusaha membuat tuan Park terkena serangan jantung lalu meninggal?

“Kalian –astaga! PARK CHANYEOL!” geram ayah Chanyeol dan Sungjae itu, kini berbalik menatap putra sulungnya dengan tatapan tajam.

“MENGAPA AKU BISA MEMILIKI ANAK SEPERTI KALIAN!” teriak tn. Park membanting ikat pinggangnya ke lantai dengan keras, sambil menghela nafas kasar.

“Tidak, jangan salahkan Chanyeol, karena ini kesalahan kami berdua.” kata Wendy mencoba menjelaskan.

“Tapi Wendy, bagaimana jika ayahmu tahu apa yang sudah terjadi? Sayang–“

“Tidak apa-apa jika appa tahu.” Kata Wendy menatap mertuanya itu sambil memegang tangan tuan Park.

“Wen–“

“Tidak! Jangan mendekat!” Kata Wendy menolak saat Sungjae mencoba mendekatinya, terasa sakit yang luar biasa di hati Sungjae, gadis itu nyatanya kecewa padanya, tidak! Bahkan membencinya mungkin. Sungjae sadar dan ia siap dengan resiko itu, ia cukup sadar dengan posisinya saat ini, dan ia tahu Wendy tidak akan mudah memaafkan pria sepertinya.

“Aku minta maaf–“

“Aku tidak mau melihatmu!” Wendy berucap dingin tanpa memandang Sungjae, “Dan aku tidak mau melihatmu juga Amber!” lanjut Wendy tanpa menatap Amber yang masih diam di tempatnya, menahan sakit di hatinya mendengar ucapan Wendy yang menyakitkan rasanya, namun benar, karena Amber juga bertanggung jawab dengan semua ini.

“Wendy maafkan aku.” Kata Amber berusaha memohon sebuah kata maaf dari Wendy, namun seperti semua sia-sia karena gadis itu terasa begitu sakit dengan apa yang Amber dan Sungjae telah lakukan padanya. Memang benar-benar sakit, seperti sebuah anak panah yang menembus jantungmu. Bagaimana bisa kau mengkhianati sahabatmu seperti ini?

“Apa aku tidak berarti bagimu?” Amber menegang mendengar ucapan Wendy yang terasa menyayat hatinya. Tentu Wendy sangatlah berharga, Wendy adalah sahabat yang sangat Amber sayangi, mereka sudah bersahabat selama 7 tahun, apakah menurut Wendy, gadis Son tidak berharga untuk Amber? Demi Tuhan, Amber tidak pernah berpikir seperti itu.

“Wendy, maafkan aku, sungguh.”

“Kau menghancurkan kehidupanku! Kau sama jahatnya dengan Sungjae dan Rae na! Aku membencimu Amber! AKU MEMBENCIMU!” Teriak Wendy pada Amber dengan histeris. Sungguh membuat Amber terluka melihat Wendy memperlakukannya seperti ia memperlakukan Chanyeol 4 tahun lalu, seperti ini rasanya, dan sangat sakit.

“KALIAN JAHAT!” Wendy tidak kuasa menahan emosinya yang terasa tidak bisa lagi untuk di tutupi, ia benar-benar marah pada Sungjae dan Amber, bagaimana bisa mereka melakukan hal itu padanya? Apa mereka senang merusak kehidupannya seperti ini? Atau apa mereka senang melihat Wendy menderita selama 4 tahun?

Abeonim, aku ingin tidur di sini, aku tidak mau pulang ke apartement Sungjae.” seru Wendy memohon pada ayah mertuanya itu dan tuan Park mengangguk sambil mengusap surai Wendy, “Bersama Chanyeol.” Lanjut Wendy, dan wajah tuan Park nampak murung mendengar permintaan menantu  kesayangannya itu.

“Untuk itu, abeonim tidak bisa mengijinkannya sayang, karena Rae na mungkin sedang menunggu–”

“TIDAK! Jangan menyebut nama itu di depanku! Aku membencinya, aku –aku tidak mau Chanyeol bersamanya! Dia sudah merebut Chanyeolku, dia merebut segalanya dariku! AKU MEMBENCINYA” teriak Wendy histeris, kemudian memeluk Chanyeol dengan erat, berharap pria itu tidak pergi meninggalkannya, karena Wendy sangat shock saat ini, ia terlalu lemah untuk sendirian memikirkan semua yang baru saja terjadi, ia mau Chanyeol menemaninya.

Ya, Chanyeol hanya miliknya.

“Sayang tenanglah, aku tidak akan pergi, aku akan bersamamu.” Chanyeol mencium puncak kepala Wendy dengan sayang, gadis itu mengangguk kecil.

“Jangan pergi, hiks. Jangan tinggalkan aku lagi Yeolie, aku tidak mau.” Wendy menggeleng sambil menangis di dekapan prianya.

“Tidak sayang, sssh sudah jangan menangis. Aku tidak ingin melihat gadisku menangis.” Chanyeol mendekap tubuh itu semakin erat, seperti ia juga takut Wendy pergi.

Tuan park memijat keningnya, menandakan kepalanya penat menghadapi masalah anak-anaknya itu, yang nyatanya tidak pernah selesai setelah 4 tahun berlalu. Masalah it uterus berlanjut, bahkan semakin besar saja masalah itu.

“Baiklah, lebih baik kalian pulang, karena ini sudah malam. Kita lanjutkan lagi besok, karena aku benar-benar butuh istirahat. Bagaimana pun juga, kita harus membicarakan hal ini pada tuan Son, aku tidak ingin masalah seperti ini di tutupi lagi! Sudah cukup dengan drama yang kalian buat.”

Mereka menyetujui ucapan tuan Park dan akhirnya mereka semua pulang, menyisahkan Wendy yang masih memeluk Chanyeol, seperti gadis itu benar-benar lelah untuk berdiri sendiri tanpa seseorang yang menopangnya.

“Aku mengantuk Yeolie.” Kata Wendy pelan dengan matanya yang masih terpejam.

“Kau mau tidur sekarang?” Chanyeol berucap sambil mencium kening gadisnya dengan sayang, dan Wendy mengangguk lemah.

“Benar, lebih baik kalian istirhat sekarang. Wendy pasti sangat lelah.” Ucap nyonya Park sambil mengusap rambut Wendy dengan sayang.

Chanyeol segera menggendong tubuh Wendy untuk menuju ke kamarnya di lantai atas, Chanyeol tersenyum melihat gadis itu tertidur setelah marah-marah dalam gendongannya. Ah, bukankah gadisnya sangat cantik saat ini? Dan entah mengapa ada sebuah perasaan bahagia di hati Chanyeol yangs ulit diungkapkan dengan kata-kata, ia hanya senang setelah mendengar semua kejujuran dari Sungjae. Memang, Chanyeol marah dan kecewa, namun ia lega dengan semuanya, faktanya ia memang tidak pernah tidur dengan Rae na, ia juga tidak harus bertanggung jawab karena memang ia tidak bersalah.

Ya, semua ini hampir berakhir, dan sebentar lagi Wendy dan Chanyeol akan menemukan sebuah drama baru di mana mereka akan menceritakan kisah cinta yang manis di dalamnya, dan tanpa seseorang yang ingin berusaha merusaknya lagi, karena Chanyeol tidak akan membiarkan kehidupannya bersama Wendy hancur untuk kedua kalinya, cukup mereka menderita batin selama 4 tahun. Cobaan yang Tuhan berikan terasa memberi mereka pelajaran berharga. Ya, adegan ini akan berakhir dengan bahagia kan?

Chanyeol tersenyum dikala menatap gadis yang tengah memeluknya erat di dalam tidurnya, bahkan meski Wendy tidur gadis itu tetap memeluk Chanyeol dengan erat, seakan tidak rela jika Chanyeol akan pergi meski sebentar saja. Wendynya sangat takut itu terjadi, karena ia tidak mau kehilangan Chanyeol untuk kedua kalinya.

Tangan Chanyeol kembali menyentuh perut Wendy yang rata, lalu berakhir mengecup kening gadisnya sedikit lama, kemudian turun pada kelopak matanya, hidung, dan bibir Wendy yang selalu ia sukai dari dulu. Bahkan setiap inci dariwajah Wendy tidak luput dari Chanyeol. Pria itu terlalu mencintai Wendy katakanlah.

“Yeolie, jangan menggangguku.” Wendy membuka matanya dan mempoutkan bibirnya terlihat menggemaskan di mata Chanyeol.

“Bagaimana lagi? Wajahmu selalu menggodaku, apalagi jika kau sedang tidur seperti ini.” Kata Chanyeol tersenyum sambil mengusap pipi Wendy dengan sayang, “Baiklah, maafkan aku. Kau bisa kembali tidur sekarang.” Kata Chanyeol menaikkan selimut tebal itu sebatas dada Wendy.

“Aku sudah tidak mengantuk karenamu.” Wendy menegakkan tubuhnya dan menyadarkan punggung pada sandaran ranjang. Chanyeol mengikuti Wendy dan menyandarkan punggungnya pada ranjang. Mereka saling menatap, hingga Wendy mengecup bibir Chanyeol dengan lembut, Chanyeol yang sedikit terkejut tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan segera melumat lembut bibir Wendy seperti mereka tidak berciuaman dalam waktu yang lama.

Sama-sama memagut, bahkan seperti tidak ada hari esok untuk berciuman lagi. Chanyeol juga tidak membiarkan Wendy bernafas dengan baik, dan terus menekan tengkuk gadis itu agak bibir mereka terus bertautan.

Hingga saat mereka sudah menemukan titik lelah, Chanyeol melepaskan tautan bibir itu dan mengecup sekali lagi bibir Wendy yang memerah akibat ulahnya. Wendy menormalkan nafasnya yang terasa hampir habis saat berciuman dengan Chanyeol. Tapi ia tetap menikmati setiap sentuhan Chanyeol kan?

“Lagi Yeol.”

“Apa yang lagi?” Chanyeol membulatkan matanya.

Wendy duduk di pangkuan Chanyeol sambil memeluk erat leher pria itu.

“Buatkan aku pancake, seperti yang kau berikan padaku saat SMA dulu.” Wendy tersenyum senang membuat Chanyeol benar-benar gemas pada gadis itu. Demi apa pun juga, Chanyeol berpikir gadis itu mengajaknya kembali berciuman, ternyata ia meminta pancake?

“Ini sudah malam sayang, lebih baik kita tidur, lihat? Jam 12 malam.” Ucap Chanyeol sambil mencium kembali bibir Wendy dengan lumatan-lumatan kecil.

“Tidak, aku lapar sekarang. Buatkan ya?” desak Wendy menggesekkan hidungnya pada Chanyeol.

“Tidur Wendy, lagi pula aku dengar dari Kyungsoo kau sudah menghabiskan 6 piring puding di cafenya. Nanti kau sakit perut jika banyak makan.” Chanyeol memberi kecupan-kecupan menggelitik di sekitar leher Wendy, membuat gadis itu menggeliat geli.

“Kau tidak mau?” Wendy menatap pria itu dengan tajam.

“Ah, aku selalu kalah melawan ibu hamil. Baiklah.” Chanyeol mengecup kening Wendy kemudian berdiri dari ranjangnya, dan Wendy mengekor di belakang pria itu dengan senyuman bahagia.

Wendy menatap bersemangat pancake yang Chanyeol buatkan untuknya, bahkan Wendy sangat senang karena Chanyeol menaruh banyak es krim di atas pancake itu seperti permintaannya.

Chanyeol pun menaruh piring pancake itu di atas meja, Wendy yang hendak duduk di kursi tiba-tiba terhenti karena pria itu menahan tangannya, dan menarik gadis itu ke dalam pangkuannya. Ya, posisi yang disukai oleh keduanya.

“Makan yang banyak hm?” Chanyeol tersenyum dan Wendy ikut tersenyum.

Ne, kamsahamnida.” Chanyeol gemas saat gadis itu menundukkan kepalanya pada Chanyeol setelah mengucapkan ucapan terimakasih itu dengan formal. ‘Ah, dia benar-benar lucu’

Wendy mulai melahap potongan demi potongan pancake lezat itu ke dalam mulutnya, dan Chanyeol hanya menopang dagunya sambil melihat kegiatan gadis itu yang tidak pernah membuatnya bosan sedikit pun.

“Apa enak?” tanya Chanyeol membersihkan sisa es krim di bibir Wendy, dan gadis itu hanya mengangguk mantap sambil terus mengunyah pancake itu.

“Kau tidak mau rasa?” tanya Wendy menatap Chanyeol, kemudian memotongkan pancake itu dan menyuapkan pada Chanyeol.

Drrt

Chanyeol merasa ponselnya bergetar, dan segera ia merogoh ponsel itu di saku celananya. Matanya sedikit jengah menatap pesan dari istrinya Rae na. Wendy yang menatap raut wajah Chanyeol langsung meraih ponsel pria itu dan membaca pesan dari Rae na.

“Kau di mana?”

BRAK

Chanyeol membulatkan matanya saat melihat ponselnya itu dibanting oleh Wendy, membuat layarnya pecah.

“Sayang, itu ponselku–“

Wendy tidak memperdulikan ucapan Chanyeol dan menyuapkan kembali pancake terakhir ke dalam mulutnya.

“Aku tidak suka!”

“Aku tahu, tapi tidak seharusnya kau membanting ponselku juga kan? Aku juga tidak berniat membalas pesannya. Astaga, mengapa kau sangat galak eoh?” Chanyeol mengecup bibir Wendy singkat, namun gadis itu malah mencubit pipi Chanyeol dengan keras, namun detik selanjutnya gadis itu malah menyandarkan kepalanya pada ceruk leher Chanyeol.

“Aku sangat membenci Rae na Yeolie, dia merebutmu dariku. Dia merebut kebahagiaanku, aku benar-benar membencinya.”

“Aku tahu sayang, maafkan aku juga.” Kata Chanyeol tersenyum.

“Kau akan menceraikannya?” Pertanyaan Wendy membuat Chanyeol tersenyum kecil kemudian mengusap perut Wendy dengan lembut.

“Tentu, itulah yang aku inginkan dari dulu. Menceraikannya dan menikah denganmu.” Wendy tersenyum mendengar ucapan Chanyeol.

“Aku mencintaimu sayang.” Bisik Wendy.

“Aku lebih mencintaimu sayang.” Ujar Chanyeol dengan lembut

-To be Continued-

Ada yang menantikan endingnya seperti apa? Hehe jangan khawatir karena aku sudah memikirkan ending yang sempurna, wkwkwk. Jadi dinantikan dengan sabar yah ff ini. Dan ya, ff ini juga di publish di akun wattpadku, @vangepark. Yang mau berkunjung, monggo yah XD, ya siapa tahu nyasar gituh, haha.

Okelah aku tidak mau lama-lama berkoar-koar di note ini, sampai jumpa pada Chapter berikutnya, yang mungkin tinggal 2 chapter lagi /amin/

Bye bye bebehku semuahh (kecup dulu)

21 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 11)”

  1. Ihhhh.. Jdi iri deh ma wenyeol.. Mesra2an mluk..

    Happy end kykny nih… Iy kn thor??? Harus happy end thor,, tau deh tn.son aj blom nongol dia kan yg paling kras kpla dan egois,, ups sorry ku khilaf, 😁😊

  2. Hallo. Aku gk bisa nyusun kata2 lg. Coz ini tnggorokkan sakit bgd. /apa hubngannya ?
    Aku nggu smpe ending deh pokoknya. Btw masih penasaran sm siapa yg hamilin rae na? Kyungsoo kah ato ad cast lain yg trsembunyi.

  3. Sumpah,gue terhura ama ceritanya.
    Adeuh,dramatus banget ya Allah.
    Nyelekit atuh.
    Aku aja udah kebayang endingnya kayak gimana,fighting aja ya kak ya buat endingnya.
    Next kak..
    Cepetan upload,gak maksa iniloh…

  4. Ohmaygad, akhirnya semuanya terungkap 😍eaak wendy chanyeol, mesra”an aja terus yah, ku mendukunh kalian 😂 lanju thor 💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s