[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married (Chapter 10B-END: Version I)

When I Must be Married (Chapter 10B-END: Version I)

By El Byun

Chaptered

Romance, comedy, Married Life, Adult

Rating    (PG-17)

Main Cast:

Baekhyun EXO | Song Hyohwa (OC)

Adittional Cast:

EXO’s member and etc

Summary:

“Nasib kehidupan pernikahan kami selalu ditentukan oleh orang lain. Tapi perasaan yang kami miliki tidak bisa ditentukan oleh orang lain.”

Disclaimer:

FF ini asli dari jerih payah pikiran author. Jika ada kesamaan cerita, alur dan tokoh itu hanya kebetulan. Tidak ada niat untuk meniru atau menjiplak karya orang lain. Sebaliknya, don’t be plagiarsm please! Be a good readers! Lanjutan fanfic ini belum pernah dipost di manapun.

Lets read!!

‘CHAPTER END’

“Oppa!”

“Ne?”

PLAK..!!!

Seketika telapak tangan kanan Hyohwa menghantam dengan kerasnya pada pipi kiri Baekhyun yang tengah berada di depannya. Pernyataan Baekhyun tentang pertunangannya yang dibatalkan begitu terlambat ia ketahui. Malu dan kesal, itu yang dirasakan Hyohwa saat ini. Kenapa? Karena Baekhyun sudah berhasil mengerjai Hyohwa hingga mengatakan hal-hal bodoh seperti wanita murahan pada umumnya. Mengingat Hyohwa pernah mengatakan ‘ingin menjadi yang kedua’ saja rasa kesalnya sampai diubun-ubun.

Hey, bukankah tadi mereka masih berciuman mesra?

Mungkin Hyohwa terlalu terlarut dalam suasana romantis yang ditimbulkan oleh Baekhyun dengan menyatakan ‘aku mencintaimu’ di depan wajahnya.

Tapi bukankah Hyohwa sebelumnya menangis karena kehilangan salah satu bayinya?

Dan ia tidaklah terlalu bodoh mengabaikan hal itu. Baekhyun pikir dengan mengerjainya tadi membuat Hyohwa melupakan kesedihannya.

Siapa bilang?

Hanya saja Hyohwa harus menahan perasaannya dan mengumpulkan energi untuk menghajar pria menyebalkan ini. Dia pikir bisa menjadi seorang aktor utama dengan akting pas-pasan seperti itu?

Bahkan setelah itu Baekhyun menceritakan alasannya bertunangan dengan Taeyeon karena permintaan appanya yang ingin segera mendapatkan cucu. Ironis. Kenapa Baekhyun tidak jujur saja Hyohwa sedang mengandung anaknya waktu itu? Dan dengan begitu Baekhyun tidak perlu melakukan hal bodoh lainnya dengan berpura-pura menyetujui permintaan ayahnya. Hyohwa lebih merasa konyol menerima mentah-mentah ide tinggal bersama yang Baekhyun agung-agungkan waktu itu. Hingga akhirnya membuat mereka menjadi pasangan yang tidak jelas.

Nasib Baekhyun sebentar lagi akan kandas di tangan Hyohwa kali ini. Entah dari mana ia mendapatkan kekuatan, Hyohwa berhasil untuk memukul Baekhyun dengan bantal yang menjadi sandarannya saat itu juga. Baekhyun tidak bisa menghindar karena sebelah tangan Hyohwa tengah memegangi lengannya erat.

Ingat abs papan makan yang menghalangi mereka?

Sekarang lupakan itu dan anggaplah papan itu sudah tidak ada karena Baekhyun yang menyingkirkannya. Dan hilangnya penghalang diantara mereka membuat Hyohwa dengan leluasa

memukul… BUG “Ugh..!”

menampar… PLAK “Auwh..!”

menjewer telinganya… “Arghh..!”

dan mencubit “AAA…aaa!”

…bagian tubuh mana saja yang ia dapat.

(Jangan coba-coba lakukan ini di rumah tanpa didampingi orang yang ahli) #haha

“Ya, keumanhaera!! JEBAALL..” Baekhyun berteriak geram sambil menahan sakitnya.

“Wae? Wae? Wae? Dasar namja banci! (BUG) Kau tidak pernah memikirkan perasaanku. (BUG) Beraninya kau bohong padaku padahal aku sudah sepenuhnya jujur padamu. Aish!!! (BUG.. BUG..)” tak henti-hentinya Hyohwa menjambak sambil memukulinya dengan bantal.

“Ya.. keumanhae. Sakit! Hei.. Hyo Mianhae, jebal!!” Baekhyun merengek. Bagaimana tidak, ia tengah dipukuli layaknya samsak tinju. Untung obat anastesinya masih bekerja, jika tidak Hyohwa akan merasa kesakitan saat ini. Tenaganya serasa orang waras.

“Bwo!!! Gampang sekali kau mengucapkan maaf setelah semua yang kau lakukan? Rasakan!!” terakhir aku mencubit lengannya keras sekali.

“Huh.. leganya!!”

“Akkhh… Aww..” teriaknya sambil mengusap lengannya panik.

“Aish, kau tega sekali membuat artis papan atas cedera. Kau sosok istri dan ibu yang kejam Hyo!” bukannya merajuk, Baekyun justru mengumpati perlakuan Hyohwa padanya.

“Ibu?” Hyohwa hampir lupa kalau statusnya sekarang adalah seorang ibu. Ia terdiam sejenak berpikir.

“Oppa. Omong-omong, bayiku sekarang ada di mana?” Hyohwa celingukan seperti orang linglung.

“Ya, apa kau ini amnesia? Kau tidak dengar perkataan dokter tadi. Dia di bangsal bayi, sedang dalam penanganan khusus di ruang NICU. Kau tahu, beratnya hampir saja kurang dari 2 kg. Kau…. %$#@!@$”

Sementara Baekhyun mengoceh, Hyohwa menyibak selimut untuk pergi mencarinya. Begitu ia akan turun, tubuhnya ditahan. Siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun.

“Andwae!”

“Bwo? Aku ibunya, aku harus menemui bayiku! Kenapa kau harus menahanku, eoh?” Hyohwa selalu mengomel. Tapi bukan itu maksud Baekhyun.

“Aniyo, tunggu di sini. Akan kuambilkan kursi roda. Kata dokter otot kakimu masih kaku dan akan sulit berjalan untuk beberapa waktu.” Tiba-tiba Hyohwa tertegun. Pria ini bahkan masih memperdulikan hal kecil setelah Hyohwa menghajarnya penuh emosi tadi. Dan wanita itu merasakan ada sedikit penyesalan dalam hatinya.

Baekhyun mendekatkan kursi roda di dekat ranjang dan kemudian dengan perlahan menggendong Hyohwa untuk duduk di sana. Ia merangkul leher Baekhyun untuk berpegangan. Wajah mereka berdekatan. Bahkan nafas Baekhyun yang tertahan dapat dilihat urat lehernya yang menegang. Hyohwa merasa canggung dengan perhatian Baekhyun saat ini.

“Gomawo!” ucapnya lirih. Hyohwa merasa Baekhyun tengah tersenyum saat ini. Begitu kursi rodanya akan didorong tiba-tiba Hyohwa memekik.

“Chakamman! Kau lupa dengan maskernya? Seseorang pasti…”

“Tidak usah. Semua yang ada di rumah sakit ini sudah tahu. Bahkan seluruh Korea tahu.” Sahut Baekhyun santai.

Sekali lagi Baekhyun membuatnya terkejut. Gila, Hyohwa bisa terkena serangan jantung jika seperti ini terus.

“Ya, kenapa kau tidak cerita?”

“Aku barusan cerita padamu.” Sahut Baekhyun dengan mudah. Hyohwa mengendus jengah. ‘Menyebalkan!’ umpatnya dalam hati.

“Geurae. Ayo jalan!” titah Hyohwa dan mereka langsung pergi.

Lorong rumah sakit yang mereka lewati begitu ramai hingga Hyohwa harus menunduk dan menahan rasa malu dengan menghindari bertatap muka dengan orang-orang yang melihat mereka. Mereka seperti model yang sedang berjalan di jalur catwalk saja.

Tak sedikit yang mencerca. Mungkin ini karena pengaruh gosip negatif yang cukup banyak. Seolah mereka adalah penjahat. Cercaan seperti

‘hubungan gelap’

‘pasangan tidak tahu malu’

atau

‘si tukang selingkuh dan si tukang PHO’ bagi yang mendukung Taeyeon.

Semua itu sudah mereka anggap angin lalu. Biarkan mereka mengoceh. Ini hidup mereka, tidak ada urusannya dengan orang lain.

“Jjogiyo!” seorang nenek-nenek tengah mencegat mereka yang tengah asik melewati lorong itu. Nenek itu juga seorang pasien, bahkan mungkin pria muda di sampingnya itu seperti cucunya.

Tiba-tiba Baekhyun berhenti dan sedikit memundurkan kursi rodanya yang melaju 3 langkah di depan nenek itu. Hyohwa tampak bingung karena yang mendengar panggilan itu hanya Baekhyun.

“Ada apa halmeonni?” Baekhyun tersenyum ramah. Hyohwa melihat nenek itu iba. Tubuhnya terasa ikut rapuh karena nenek jompo itu bahkan masih kuat berjalan walaupun dengan selang infus.

“Kau yang di TV itu kan?” Nenek itu memeriksa. Ternyata penglihatannya masih awas hanya dengan melihat Baekhyun sekilas.

“Geurae halmeoni, nan Baekhyunnie. Oh perkenalkan, ini ibu dari anakku” Baekhyun berbisik saat mengenalkan Hyohwa. Wanita itu tampak malu dan ragu-ragu untuk membalas dan akhirnya tersenyum sambil sedikit menundukkan kepalanya hormat.

“Annyeong hasimika halmeoni!” sapa Hyohwa hangat.

“Aigoo.. Dia tampak manis dan sopan. Kalian berdua terlihat seperti pasangan yang serasi.” Nenek itu mengacungkan jempolnya kagum.

“Gomapta halmeoni!” Baekhyun mulai ber-aegyeo. Tampaknya ia tak perduli orang-orang memandanginya intens.

“Aku rasa bayi kalian pasti sangat lucu…”

“Cepatlah, dokter tidak mengijinkan nenek berdiri terlalu lama!” cucunya tiba-tiba mengomel dalam lirih. Bahkan Baekhyun dan Hyohwa mendengarnya. Mereka merasa tidak enak terus meladeni nenek itu.

“Itu pasti halmeonni. Bangabseumnida, kami pergi dulu ya!” Baekhyun

~~~

“Cha, kita sudah sampai.” Roda Hyohwa berhenti. Awalnya ia sedikit bingung para perawat di sini terasa akrab sekali dengan Baekhyun hingga memperbolehkannya ikut masuk. Hyohwa mengira selama ia tak sadarkan diri mungkin saja Baekhyun-lah yang menjaganya.

“Hai jagoan, ucapkan salam pada eomma-mu!” panggil Baekhyun pada sebuah kotak kaca di depan mereka.

Jagoan…

Prediksi orang tua memang sungguh tepat. Bahkan sebelum mereka memulai, kata jagoan itu sudah dikoar-koarkan oleh ayahnya.

Melihat bayinya begitu tenang tidur di dalam sana membuat Hyohwa merasa terharu. Ia masih belum percaya bahwa manusia kecil itu adalah bagian dari tubuhnya.

Inikah rasanya menjadi ibu?

Tiba-tiba matanya mulai berair dan refleks meraba kaca bening itu seakan ingin memeluknya.

Hanya seorang..

Seorang..

Ia bahkan tidak bisa menyebutnya kembar lagi.

Bibirnya mulai bergetar menahan gejolak dari dalam dadanya. Tiba-tiba tubuhnya menegang saat Baekhyun mencengkeram kedua pundaknya mantab seolah menguatkannya.

Hyo kau harus kuat..

Hyohwa melihat tangan-tangan mungil itu bergerak di tengah tidurnya. Mungkin ia menyadari kehadiran mereka di dekatnya.

Tak lama Hyohwa terlihat menyunggingkan senyuman. Ia baru sadar bayinya telah memiliki rambut tipis-tipis di kepalanya. Baekhyun menungging mencari obyek yang diperhatikan wanitanya.

“Lihatlah, rambutnya berdiri tidak seperti rambutmu oppa!” Hyo tertawa cekikikan. Suasana hatinya sedang baik sekarang.

“Ya, dia itu penggemar musik metal. Yeaaahh..!!” Baekhyun berteriak kencang dalam lirih sambil membuat metal sign di jari tangannya.

Hyohwa memandang Baekhyun rendah dengan malas.

“Itu sama sekali tidak lucu. Hentikan!” Hyohwa menampar jari tangan Baekhyun agar berhenti.

Baekhyun memang orang yang humoris. Karena saking lucunya, candaannya bahkan bisa menyakitkan hati. Itulah sisi menyebalkan Baekhyun. Walau menyebalkan, Hyohwa tetap menyukainya bukan?

Menyukai sejak ia menjadi seorang fans dulu. Semenjak mengenal EXO dan dirinya, hidupnya terasa berwarna. Jangan ceritakan masa lalu tentang pernikahan tiba-tibanya saat ia ulang tahun. Karena itu masa ketika hidupnya menjadi konyol. Bagaimana seorang orang tua dengan gampangnya menyerahkan anak gadisnya pada seorang artis yang ia puja?

Menyembuhkan kesakitan?

Itu alasan yang terlalu berlebihan.

Ingin memiliki cucu?

Jawaban itu cukup membantu, mungkin..

Tapi karena ambisi itulah hidup mereka berubah

Ke arah mana?

Baik atau buruk?

Cukup!

Biarkan anak-anak manusia ini menentukan nasib mereka sendiri.

Ini bukan kisah tentang perjodohan di bawah pemerintahan yang absolut.

Sekarang waktunya mereka membuat skenario kehidupan mereka sendiri.

~~~

Baekhyun berdeham saat keheningan melanda mereka. Ia menggaruk kepalanya sendiri gugup. Beberapa menit yang lalu memang dia sempat memikirkan sesuatu.

Baekhyun merendahkan tubuhnya dan merangkul pundak Hyohwa erat. “Hyo, kau sudah bekerja bagus. Gomawo!”

Hyohwa menoleh, memandang Baekhyun heran. Baekhyun bersimpuh di depan kursi rodanya lalu meremas kedua tangan wanitanya erat.

“Mianhae..” suara berat Baekhyun menyadarkannya. Hyohwa menatap kedua manik matanya yang menyiratkan keputusasaan.

“Sebenarnya aku ingin mengakhiri semua ini…” entah kenapa Hyohwa merasakan sakit di dadanya. Apa Baekhyun membuat skenario lagi untuk mengerjainya?

Baekhyun menundukkan kepalanya lemah membuat Hyohwa heran. Detik berikutnya ia mendongakkan wajahnya lalu..

“Ayo kita menikah! Lagi…” ia mengatakannya dengan lugas.

“Ne?” sahut Hyohwa. Ia ingin meyakinkan bahwa prianya sedang tidak mengerjainya lagi.

“Geurae. Ayo kita menikah, untuk mengakhiri semua kebohongan ini.” Kali ini nadanya terkesan memaksa.

“Shireo!” jawabnya cekatan. Sungguh jawabannya terdengar ringan diucapkan. ‘apa wanita ini tidak berpikir?’ heran Baekhyun dalam batinnya. Sebenarnya Hyohwa masih sedikit kesal, tapi mungkin mengerjainya balik akan membuatnya jera.

“WAE?” Teriaknya. Baekhyun tentu saja tidak terima. Ia susah payah menyiapkan kalimat itu dan akhirnya mendapat penolakan yang bahkan tanpa dipertimbangkan. Sebrengsek itukah Baekhyun?

“Sttt.. don’t bark! Og” Hyohwa mengacungkan jari dibibirnya. Hampir saja ia akan membangunkan aegy mereka yang sedang tidur pulas.

“Mwo? Apa maksudmu BARK? Aku bukanlah sejenis anjing Hyo.” Teriak Baekhyun lirih. Hyohwa memutar bola matanya jengah.

“Ya, kita selesaikan di luar ne? Eoh, ani. Di ruang perawatanku saja.”

<Ruang perawatan>

Hyo’s side

Ya, daebak. Tega sekali dia membiarkanku mengayuh kursi rodaku sendirian setelah tadi ia bersemangat melamarku. Aku jadi ragu, apa dia benar-benar mencintaiku? Aish..

“Ok, kita bicara sekarang!” ajaknya saat kami baru sampai dan menutup pintu. Apa dia tidak lihat aku kelelahan?

“Chakkam. Biarkan aku istirahat dulu. Eoh?” sahutku terengah-engah.

-sesaat kemudian-

“Ne, aku ingin bertanya padamu. Apa kau…..   benar-benar mencintaiku?” tanyaku sedikit ragu. Mungkin saja Baekhyun oppa akan tersinggung. Pernyataannya ‘aku mencintaimu’ beberapa jam yang lalu seharusnya membuatku yakin. Tapi setelah ia mengungkapkan semua kebohongannya, aku semakin yah bagaimana ya? Baekhyun oppa itu sungguh tidak pernah serius dan mungkin rasa kepercayaanku sudah berkurang sekarang.

“Mencintaimu? Setelah apa yang kau lakukan barusan padaku?” jawabnya nyolot. Dan dia selalu membuatku kesal.

“Kau lebih tega dari padaku. Aigoo!” aku mengumpat untuk membela diriku.

“M…Mwo? Ya, pikirkan saja. Selama ini kau hidup dalam persembunyianku. Beginikah caramu membalas budi?” ckckck.. bicaranya sekarang lebih hebat dari dugaanku. Inikah kedok sebenarnya Byun Baekhyun?

Penjilat!

“Neo..” bibirku agak bergetar. perlukah aku menolaknya lagi? Sejenak aku berpikir. Siapa ayah dari anakku? Akankah ia mau mengakuinya setelah ini jika aku menolaknya? Andwae, aku harus fokus.

Author’s side

“Ya.. neo, tidakkah kau berpikir aku tidak bisa bebas sepertimu? Aku selalu bersembunyi di rumah tak pernah keluar, membawa bayiku kesana-kemari. Dan kau enak di luar bersama teman-teman dan keluargamu, bahkan kau sempat bertunangan. Aigoo, beruntungnya laki-laki.” Hyo terus mengocehi pria yang ada di depannya. Ia tidak sadar bahwa pria di depannya itu hanya diam dan memperhatikannya. Tak ada sepatah katapun yang terucap sejak ia menyadari sesuatu sedang terjadi pada wanitanya.

“Ya, wae kau menatapku seperti itu? Byuntae neo?” tuduh Hyo. Ia merasa terintimidasi dengan tatapan itu. Padahal…

“Apa kau tak merasa aneh? Aku bahkan tidak menyentuhmu, kenapa dadamu basah begitu?” ungkap Baekhyun tertegun sambil menunjuk obyek yang ia bicarakan dengan matanya.

Sekejap Hyo melihat dadanya sendiri dan kemudian menutupinya dengan kedua tangannya.

“YA!! Kau memang Byuntae Byun Baekhyun!” ucap Hyo nyengir kesal.

“Aniya, ini kenyataan yang kulihat. Aneh, cairan orgasme tidak keluar lewat ITU.” Ungkap Baekhyun dengan masih menunjuk kali ini dengan jari telunjuknya.

Mereka terus memperdebatkan ITU, sementara seseorang tengah masuk ke ruangan mereka. Perawat itu merasa aneh dengan situasi tegang dalam ruangan itu.

“Eo, Jeosseonghamnida. Saya akan mengecek tekanan darah Ny Song.” Jelasnya sambil memegangi tensimeter di tangannya.

Untung saja ada perawat yang datang. Hyohwa mencolek lengan perawat itu yang sedang berjongkok memeriksa lengannya.

“Jjogiyo Suster, bisakah aku bertanya?” seketika perawat itu menoleh. Keningnya mengernyit saat menemui pasiennya sedang sibuk menutupi kedua buah dadanya. Ia tersenyum, dan hyohwa semakin keheranan.

“Anda sudah mengeluarkan ASI pertama Anda. Wah, kondisi tubuh Anda sangat baik.” Sang suster langsung mengetahui apa yang ingin ditanyakan. Sedangkan Hyo dan Baekhyun hanya bisa diam dan mencoba mencerna maksud dari kata-katanya.

“ASI??” Serentak baekhyo meyakinkan kembali.

“Benar. Kebetulan sekali saya mengecek tekanan darah Anda untuk memastikan apakah produksi ASI Anda stabil pasca operasi. Ternyata keluar lebih cepat dari dugaan kami. Saat Anda tersadar tadi saya yang telah menyuntikkan hormon atas rekomendasi dokter Kim.” Ungkap Suster menjelaskan.

Setelah selesai mengecek tekanan darah, Hyo kembali menanyakan rasa penasaran yang berputar-putar di kepalanya.

“Suster. Apakah aku akan me.. susu. Maksudku menyusui bayiku?” tanyanya sambil memperagakan bagaimana orang menyusui. Baekhyun yang melihatnya hanya mengernyitkan dahi.

“Benar. Setelah ini saya akan mengantar Anda untuk menyusui bayi Anda. ASI lebih cepat untuk menambah berat badan bayi. Sehingga ia lebih cepat keluar dari ruang NICU.” Jawab suster dengan detail.

Perasaan Hyo menjadi tidak tenang semenjak ia menemukan fakta bahwa ia telah mengeluarkan ASI dan harus menyusui. Ada rasa takut dan penasaran yang menghantuinya.

“Suster, bolehkah aku ikut?” Baru saja perawat itu akan mendorong kursi roda Hyohwa, Baekhyun mencoba untuk menawarkan diri. Ia juga penasaran apa yang akan dilakukan Hyo. Apakah dia bisa?

Menyusui?

“Tidak bisa tuan. Anda bukan suaminya.” Jawab suster datar lalu bersiap mendorong lagi. Hyohwa terkekeh melihat ke arah Baekhyun kemudian meledek dengan menjulurkan lidahnya.

Baekhyun yang mendengarnya langsung berkacak pinggang tidak percaya. Ia sadar bahwa statusnya membuatnya berada di posisi sulit saat ini.

~~~

Baekhyun’s side

“Ya. Benar-benar suster ini? Bagaimana aku tidak bisa ikut kesana? Memangnya siapa yang membuat Hyo bisa memiliki aegy? Naega… Appa..! Aish!” Gerutuku tak berkesudahan. Aku menjambak rambutku kesal.

“Wae? Kenapa aku peduli setelah Hyo menolak lamaranku? Apa karena dia bukan anak kandungku? Itu milik Myungsoo? Ha?” tuduhku menebak. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Perasaanku mengatakan Hyo benar tidak serius dengan penolakkannya. Tapi kenapa dia menolakku? Wae?

DDRRTT… tiba-tiba ponselku berdering.

<Eomma>

“Yeobseo eomma?” sahutku.

“Ya, anak nakal! Kenapa kau tak pernah menghubungi eomma?”Omelnya keras, seketika aku menjauhkan ponselku dari telinga.

“Mianhae..” jawabku pelan setelah aku mendekatkannya lagi ditelingaku.

“Otte? Bagaimana keadaan Hyo dan cucu eomma?”

“Hmm.. Gwaenchana. Mereka baik-baik saja.” Aku tersenyum kecil.

“Taengida.. Eomma ingin sekali mengunjungi rumah sakit.” nadanya terdengar putus asa.

“Aku masih ragu.” Aku menghela nafas.

“Wae? Eomma juga ingin melihat mereka.” Wanita nomor satu yang kusayang ini merengek. Aku diam sejenak. Aku ingin mengatakannya tapi sedikit ragu.

“Eomma!” panggilku setelah memantapkan hati.

“Wae?”

“Apa yang harus aku lakukan pada wanita yang menolak menikah denganku?” akhirnya aku mengungkapkannya. Setidaknya eomma bisa membantu. Aku harap.

“Mwo? A.. apa kau sudah melamarnya?” ia terdengar kegirangan sekarang.

“Nde, tapi dia menolakku. Aku tidak tahu sekarang harus berbuat apa dengannya. Aku sudah katakan yang sejujurnya, tapi itu jawabannya.” Aku mengendus kecewa.

“Kau pasti tidak romantis. Ini pertama kalinya kau melamar, geurae?” eomma ini tahu saja, ceh.. pikirku.

“Geurae, tapi..” kalimatku menggantung.

“Romantislah.. ulangi melamarnya, yakinkan dia bahwa hidupnya tergantung padamu. Eomma yakin, Hyo pasti menerimamu.”

“Akan ku coba. Gomawo eomma!”

“Hwaitting!!!” eomma menyemangatiku.

Sekarang aku bisa bernapas lega. Selanjutnya kupikirkan hal romantis apa yang aku gunakan untuk melamarnya lagi.

~~~

Author’s side

Hyo mencari sosok Baekhyun di ruangannya setelah ia selesai menyusui bayinya. Tidak ada. Ia berpikir, kenapa tadi ia kasar sekali dengan prianya?

“Apa aku harus mengatakan bahwa yang tadi aku hanya bercanda?” gerutunya.

Mata Hyo mulai berkaca-kaca. Seperti ada penyesalan di dalam dirinya. Ia takut kehilangan sosok Baekhyun di sisinya lagi.

Ia melihat ponselnya di ranjang. Heran. Seingatnya ia menjatuhkan ponselnya di depan toko itu. LED notifnya menyala. Ia meraihnya dan melihat dua pesan masuk dari kontak yang sama.

Mr. B

Jika kau sudah kembali. Keluarlah, temui aku di taman rumah sakit. Itu jika kau mau. Tenanglah, aku akan menunggumu. (14.31 kst)

Mr. B

Kau sudah kembali? (15.23 kst)

Hyohwa menyeringai geli setelah membaca pesan tersebut. Itu berarti Baekhyun sudah menunggunya hampir satu jam. Ia melihat jam di ponselnya yang  bertuliskan angka 15.25, berarti pesan itu masih baru. Hyo langsung bergegas pergi sesuai dengan perintah yang ada di pesannya. Takutnya Baekhyun pergi karena terlalu menunggu lama.

@Taman

Hyo celingukkan mencari Oppa-nya. Ia berpikir mungkin terlalu lama ia menunggu jadi ia pergi. Hyohwa merasakan dingin di seluruh kulitnya. Ia lupa ini adalah musim dingin dan ia tidak mengenakan mantel atau pakaian hangat. Tubuhnya hanya berbalut piyama rumah sakit. Ia mengusap kedua lengannya untuk menghangatkan tubuh.

Walaupun hari ini tidak turun salju nampak bekas keputihan di daun-daun dan dahan pohon di taman itu. Ia juga heran kenapa taman rumah sakit begitu sepi saat dia sampai. Kemudian Hyohwa memutuskan untuk kembali mengayuh kursi rodanya ke dalam karena kedatangannya sungguh sia-sia. Mungkin Baekhyun telah mempermainkannya lagi.

“Khajima!” seseorang berteriak sesaat Hyo akan beranjak.

Sekejap Hyo menoleh ke sumber suara.

“Oppa? Apa yang kau…” Hyo merasa gagu dengan apa yang dilihat di depannya.

Baekhyun datang membawa sebuah balon merah dan setangkai mawar merah di kedua tangannya. Ia berjalan tepat ke arahnya. Jantungnya berdegub, ia merasa gelisah dengan keadaan ini.

“Kau kekanakkan sekali. Balon??” ungkap Hyo meremehkan, ia merasa bahwa sikap yang ditunjukkan Baekhyun terlalu kekanak-kanakkan. Setelah sampai di depan wanitanya Baekhyun menanggapi.

“Wae? Ije, aku ingin kau benar-benar menjawabku.” Wajah Baekhyun terlihat serius.

“Mwo?” Hyo masih bingung.

“Neo! Jika kau mengijinkan aku menjadi appa sah anak kita, kau harus memecahkan balon ini dengan duri mawar. Jika tidak kau harus menerbangkan balon ini sebagai tanda bahwa hubungan kita benar-benar sudah hilang.”

Hyo membisu sejenak. Sebenarnya pembicaraan ini sudah terlalu basi untuk dibahas lagi.

“Atas dasar apa kau ingin menjadi appa anakku?” Tanya Hyo memastikan keseriusan Baekhyun.

“Mwo? Apa dia bukan anakku? Kau meragukanku menjadi appanya? Itu milik Myungsoo atau mantan-mantanmu yang lain?” lagi-lagi baekhyun menyalak. Ia terlalu sibuk dengan kecurigaannya yang ia pikirkan. Hyohwa menggelengkan kepala, ia tidak percaya Baekhyun akan melakukannya lagi.

“YA!!! Apa kau gila? Apa aku terlihat seperti wanita murahan? Aish..” Hyohwa merasa Baekhyun kali ini benar-benar keterlaluan. Ia menanyakan keseriusannya baik-baik tapi ternyata ia dituduh hal yang tidak-tidak. Karena kesal Hyo membalikkan kursi rodanya membelakangi Baekhyun dan mulai mengayuh rodanya untuk pergi.

Tiba-tiba Baekhyun menarik kembali kursi roda Hyo dan melepaskan balon dan bunga mawar yang ada di tangannya. Wajah Baekhyun menunduk ke arah Hyo dan membekapnya dalam sebuah ciuman kasar yang menuntut. Tentu saja hal ini membuat Hyohwa tercengang. Air mata membasahi pipinya, ia kesal dengan sikap Baekhyun dan ia kesal Baekhyun terus mempermainkannya. Hyohwa memukul-mukul dada Baekhyun dan meronta.

“Nappeun-nom!” umpat Hyohwa di sela ciumannya. Kemudian Baekhyun menuntunnya berpagutan lagi sambil memegangi pergelangan tangan wanitanya yang bergerak liar memukulnya. Ini bukan adegan pelecehan seksual, tapi inilah yang Baekhyun sebut pengakuan. Dari dulu memang ia tidak pernah bisa membuat kata-kata manis untuk wanitanya. Bertingkah menyebalkan dan sering kali menyakitkan. Bertingkah konyol seolah-olah tidak memahami perasaannya.

Balon yang sudah dilepaskan Baekhyun tadi terbang mengenai sebuah ranting pohon, dan balon itu pecah seketika. Terdengar sayup-sayup ocehan penghuni  rumah sakit yang memandang adegan panas itu dari balik dinding kaca yang menyekat antara rumah sakit dengan taman. Cahaya blitz sesekali mengarah kepada mereka dan umpatan-umpatan keirian menggaung dari beberapa wanita di kerumunan itu. Pengunjung bahkan perawat yang sedang lewat berhenti untuk menyaksikannya.

Dokter Kim yang kebetulan lewat pun sejenak untuk berhenti. Ia mengendus jengah dengan kelakuan pasangan itu. Persepsinya tentang hubungan konyol keduanya yang ia bicarakan dengan dokter Choi tempo hari terbukti hari ini. Bahkan dengan frontalnya mempertontonkan adegan ciuman di depan umum. Ia sudah menganggap anak muda dunia ini sudah gila.

Kembali lagi pada Baekhyun, ia akhirnya melepaskan pagutan penuh nafsunya. Ia menangkup wajah Hyohwa dengan kedua tangannya. Hyohwa menangis sesenggukkan, ia seperti korban pemerkosaan sekarang. Prianya mengusap air mata wanitanya cemas. Ia akui memang tuduhannya tadi terlalu berlebihan. Baekhyun mulai menangis di depan wanitanya.

Menyesal..

Kenapa menyesal selalu berada di garis akhir?

“Maafkan aku hyo! Maaf aku telah kasar padamu. Hiks..”

Mereka berdua masih menangis sesenggukkan. Tak jarang Baekhyun mengusap kepala dan pipi wanitanya yang masih berlinang air mata yang bahkan ia menghiraukan air matanya sendiri.

“Aku takut kita tidak bisa bersama lagi. Bahkan saat aku tahu kau terjatuh, aku bersikeras menemanimu operasi, aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin kau pergi Hyo. Kau sudah.. hiks.. kau sudah mengambil seluruh hatiku.. jiwaku. Aku juga telah menyerahkan diriku untukmu. Dan ketika aku meninggalkanmu… aku menyesal. Setiap hari aku frustasi memikirkanmu dan keadaan bayi kita. Aku tahu Tuhan telah menghukumku. Dia mengambil bayiku, bayi kita karena kesalahanku.”

Baekhyun menundukkan kepalanya di pangkuan Hyohwa dan menangis mengerang di sana. Dan akhirnya Hyohwa mendengar pengakuan Baekhyun yang sebenarnya. Ia tidak mendengar kekonyolan di setiap kata-katanya.

“Oppa!” panggilan Hyohwa terdengar lembut. Ia telah mendengar semuanya. Hyohwa menangkat kepala Baekhyun untuk saling berhadapan. Mengusap air mata prianya seperti ia mengusap air matanya.

“Oppa, tatap mataku. Hmm… Seorang pria seharusnya tidak menangis.” Hyohwa masih mengusap bulir-bulir yang menumpuk di pelupuk mata Baekhyun.

“Aku minta maaf…” sekali lagi Baekhyun memohon. Wanitanya tersenyum. Ia menangkup wajah Baekhyun dan mengusap-usap pipinya lembut.

“Geurae, aku memaafkanmu oppa.” Kata-katanya begitu lembut terdengar hingga Baekhyun harus tersenyum lega.

“Gomawo”

Mereka saling berpandangan sejenak. Mencoba mencari memori yang sempat terhenti akibat insiden beberapa menit yang lalu. Kemudian Hyohwa teringat sesuatu dan mulai berpikir. Mereka tidak mungkin berada dalam kondisi seperti ini terus-menerus. Ia harus selesaikan apa yang telah dimulai Baekhyun.

“Omo, bukankah tadi kau sedang melamarku oppa?” Hyohwa berpura-pura kaget dan lupa. Ia memegang kedua pipinya dengan wajah yang terkejut.

“Maaf, aku tidak membelikan cincin untukmu.” Nadanya terdengar kecewa.

Hyowa celingukkan dan menoleh ke belakang melihat sesuatu yang ditinggalkan Baekhyun tadi.

“Sepertinya bunga mawar itu baik-baik saja.”

Cekatan. Mungkin Baekhyun terlalu bersemangat atau terlalu bahagia. Ia langsung beranjak pergi sambil mengucek matanya yang basah dan berlari mengambil bunganya yang ia jatuhkan tak jauh dari sana. Mengambilnya dengan lembut dan berjalan perlahan kembali ke depan pangkuan wanitanya. Ia duduk berjengkeng sambil menyodorkan bunga mawar yang mungkin tidak 100% utuh karena beberapa mahkotanya hilang saat terjatuh.

“Song Hyohwa-ssi, maukah kau menikah denganku?”

Walaupun wajah dan rambutnya sedikit berantakan. Hyohwa tetap memandangnya sebagai pria tertampan dan termanis saat ini. Ia membekap mulutnya sendiri seperti yang dilakukan kebanyakan wanita ketika ia sedang menonton adegan melamar di drama favoritnya.

Perlahan, namun anggukkan kecil Hyohwa sudah cukup untuk menjawab semua drama yang sengaja mereka buat sendiri.

Seketika Baekhyun bangkit dan memeluk Hyohwa erat. Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan riuh dan suitan dari sisi ruangan yang berbeda dengan mereka. Sedari tadi orang-orang tengah menyaksikan drama melamar idol favorit mereka. Mungkin sebentar lagi dunia maya akan penuh dengan berita mereka.

ROMANSA SANG IDOL’

~~~

<2 BULAN KEMUDIAN>

“Ahh.. aku kalah lagi.”

terdengar nada kecewa dari seorang istri seorang Idol yang tengah bermain ‘ASSASHIN COMBAT’ di ponselnya. Ia berbaring di ranjangnya santai dengan perut yang hampir bulat miliknya.

Ia menekan PLAY AGAIN dalam layar ponselnya dan seketika pintu kamarnya terbuka.

“Ya, Shimin-ah. Ponsel tidak baik untuk bayimu. Berikan pada eomma!”

Sang ibu mendekat dan merebut mainan anak bungsunya itu. Shimin meronta jengah dengan peraturan yang dibuat ibunya sendiri.

Tidak boleh ini..

Tidak boleh itu..

Harus ini..

Harus itu..

Ia capek dengan semua ini. Andai saja Sehun setiap hari menemaninya, pasti hari-harinya tidak membosankan seperti ini.

Shimin mempoutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangan di dadanya sebal. Lagi-lagi Ny Song harus ekstra sabar menghadapi putrinya yang satu ini. Ia duduk di pinggir ranjang dan memijat pelan kaki putrinya yang hampir sembuh setelah berbulan-bulan membengkak. Sejak saat itu Shimin semakin malas dan hanya tidur-tiduran diranjang sambil memainkan ponsel atau menonton TV.

“Shimin-ah, kau tahu unnie-mu akan menikah minggu depan.” Dan Shimin hanya mengangguk tanpa memandang ibunya.

“Eomma, merasa menjadi ibu yang gagal karena eomma memiliki dua putri yang bernasib buruk karena sebuah keegoisan.”

Mendengar itu, mata Shimin mulai berkaca-kaca.

“Eomma harap setelah ini, kedua putriku bernasib baik. Biarlah nasib buruk menimpa kami sebagai orang tua. Tapi tidak dengan kalian.”

Ny Song masih mengelus kaki putrinya lembut.

Hening…

Tiba-tiba Ny Song terpikirkan sesuatu. Ia melihat perut putrinya yang sedikit lonjong. Pikirannya mencoba menghitung sesuatu.

“Hey, kau ingat ini sudah minggu ke berapa?” Shimin memandang ibunya linglung.

“Apa?”

“Kandunganmu.”

“39.. aniyo! 40 atau mungkin 42.” Jawabnya polos.

“Lama sekali. Dan kenapa kau ini selalu lupa menghitungnya? Aish, jinja.” Ny Song mulai mengomelinya lagi.

“Aku lupa eomma! Mian..” jawab jinji nyolot.

“Apa perutmu tidak sakit? Selama ini ibu tidak pernah mendengar teriakkan kontraksimu.” Tanyanya menginterogasi.

“Ane..”

“Ah, eomma jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau melahirkan sekarang. Aku takut!!” kini Shimin yang mengomel. ‘Dasar anak ini’ umpat Ny Song dalam hati.

“Shh.. gara-gara berdebat dengan eomma, aku jadi ingin kencing.” Shimin mencengkeram lengan eommanya sebagai tumpuannya berdiri.

Saat Shimin mulai berjalan, tiba-tiba ia merasakan perih dan sakit seperti ditusuk sebuah jarum di pangkal selangkangannya.

“AAARGH.. EOMMA SAKIT!”

Ia berteriak kencang lalu Ny Song dengan cekatan memegangi tubuh Shimin yang hampir ambruk. Pelan-pelan Ny song menatih putrinya untuk kembali duduk di ranjang. Ny Song bertambah panik ketika mendapati sebuah cairan bening keluar dari selangkangan putrinya.

“Gwaenchana? Eoh, berbaringlah. YEOBO, SEPERTINYA SHIMIN AKAN MELAHIRKAN!!!”

Shimin makin meronta kesakitan.  Pikiran-pikiran buruk tentang melahirkan melayang di depan matanya seketika.

“Arghh.. Auh.. eomma, aku tidak mau melahirkan! Hiks..” Shimin menangis tertahan menahan kesakitannya. Eommanya melotot kesal ingin rasanya ia menjitak kepala putrinya ini.

“Ya, kau ini bodoh atau apa. Bayimu sudah diujung sana dan kau berkata tidak mau melahirkan? Kau ini ibu macam apa Shimin-ah. Aigoo, jinja!!”

“YEOBBOOO..” sekali lagi Ny Song berteriak.

BRAK!!

Tn Song juga tak kalah panik ia harus berlarian di usianya yang sudah tergolong tua.

“Geurae, mobilnya sedang disiapkan!! Bagaimana?”

“HUAAA… EOMMA, AKU INGIN SEHUN SEKARANG!!!” Shimin berteriak frustasi. Ia tidak tahu harus berpikir apa. Benar kata ibunya. Bayinya seakan ingin menyesak keluar. Kepalanya terasa pening dan sakitnya tidak kunjung reda malah semakin parah. Walaupun ayah ibunya di sana tapi itu sama sekali tidak membantu.

“Hhuuhh.. Haaahh.. Huuhh..” Ny Song memberi aba-aba. Persetan dengan aba-aba ibunya. Ia ingin berteriak sekarang.

“OH SEHUN!!!!”

~~~

Baekhyun dan Hyohwa akhirnya selesai mengadakan pemberkatan dan resepsi pernikahannya lagi.

Setting yang pas dengan suasana hijau nan rindang dengan mengusung tema Garden party, mereka mengadakan pesta dengan meriah. Di luar tampak wartawan sibuk mengekspos kebahagiaan mereka walaupun tidak diperkenankan masuk.

Dengan mengenakan gaun penganti berwarna putih menjulang ditambah menggendong seorang bayi tampan nan cantik mengenakan jas mungil namun tetap cute. Berjajar bersebelahan dengan pria yang ia cintai, mengenakan tuxedo berwarna putih yang selaras dengannya. Mereka tampak seperti keluarga bahagia nan harmonis.

PLAK..

Terlihat aksi High five dua orang pria yang sebut saja sahabat dekat sekaligus teman tidurnya. (?)

“Chukkae Baekhyun-ah, akhirnya kau kembali menikah.” Ungkap namja jangkung itu.

“Yah, chanyeol-ah kau harusnya juga menyusul.” Balas Baekhyun tersenyum sumringah.

“Wae, kenapa chanyeol harus menyusul? Masa depannya masih panjang. Ani, kau harus berkarir dulu jangan seperti dia.” Sahut Hyo tiba-tiba.

“Chagiya ada apa denganku? Apanya yang salah. Menikah itu baik!” Baekhyun membela diri.

“Neo, ingatlah karirmu hampir terancam gara-gara seorang wanita. Ani, dua orang wanita kau permainkan.” Hyo mulai mencibir.

Pasangan lama ini baru saja memulai babak baru kehidupan mereka.

Pertama: ‘pertengkaran yang tidak berarti.’

“Aigoo, memalukan. Masih saja bertengkar seperti anak-anak. Tidak ingatkah mereka sudah memiliki bayi? ckck..” appa Baekhyun berdecak heran.

“Justru hal seperti itulah yang membuat mereka semakin dekat dan saling mengungkapkan rasa cinta mereka. Jangan pura-pura tidak mengenal kelakuan mereka.” Sahut Ny. Byun sembari menepuk pundak suaminya gemas.

Semua tampak bahagia di pesta meriah yang disajikan. Apalagi saat pesta itu sudah mulai berakhir. Berakhir, namun masih terlihat jelas tamu-tamu belum beranjak dari pestanya. Iringan musik klasik masih terdengar merdu di panggung mereka. Dan seperti biasa, Baek-Hyo mulai berulah lagi ketika para orang tua tengah lelah menyalami tamu-tamu mereka.

Anggap saja ini drama mereka yang kesekian kalinya.

“Ahhh, appa perutku tiba-tiba keram.”

Hyohwa meringis memegangi lengan Baekhyun berat. Tubuhnya terhuyung ke bawah seakan tidak kuat berdiri lagi. panik dengan kondisi sang pengantin wanita Ny Song beralih untuk merebut cucunya dari tangan putrinya.

“Hyo sini, biar Baekshin eomma gendong.”

“Sebaiknya aku mengantarnya ke klinik dekat sini.” Pinta Baekhyun yang membuat orang tua mereka setuju dan mengangguk saja tanpa respon lain. Wajah Baekhyun terlihat cemas. Mereka berjalan tertatih sambil merangkul lengan Hyohwa dipundaknya.

Sedikit menjauh dari sana, mereka menoleh dan saling berpandangan licik. Kemudian menyeringai bersamaan, karena drama mereka suguhkan sungguh berhasil. Tanpa menunggu lama lagi, Baek-Hyo mengambil langkah seribu sambil mengaitkan kedua tangan mereka menuju mobil pengantin.

“Aigoo, bagaimana mereka..” Tn Song mengumpat gagu melihat kelakuan anak dan menantunya yang begitu ahli menipu mereka.

“Ya, dasar anak nakal membiarkan orang tua mengasuh bayi sedangkan mereka mencari kesenangan sendiri.” Semua tampak diacuhkan oleh mereka. Semua menggeleng tidak percaya.

“Baekshin-ah, lihat kelakuan ayah ibumu. Kasihan sekali kau sementara harus bersama harabojhi dan halmeoni. Mungkin mereka ingin membuat adik untukmu.” Ucap Ny.song menirukan suara anak kecil.

Baekshin yang belum tahu apa-apa hanya tertidur dengan tenang di dada sang nenek. Mereka akhirnya kembali ke rumah. Sedangkan putra-putri mereka….

<kamar hotel>

Dengan langkah terburu, mereka masuk dan segera menutup pintu dengan rapat dan dikunci. Nafas mereka masih tersengal-sengal karena kelakuan mereka sendiri.

“aahh.. aahh.. oppa, aku sudah membayangkan ekspresi mereka waktu kita tinggalkan. Ahh.. ahh..” celetuk Hyo dengan nafas yang memburu.

“Heeh, geurae! Semoga Baekshin akan baik2 saja. Haha..” balas Baekhyun dengan kondisi yang sama.

Mereka saling memandang satu sama lain. Saling memberi kode lalu Baekhyun menunjukkan smirknya dan menarik tangan Hyo menuju ranjang mereka. Berdiri disamping ranjang mereka dengan mengaitkan jemari kedua tangan mereka erat. Dua buah cincin pernikahan telah disematkan di kedua jari manis mereka.

“Chagi..” panggil Baekhyun sambil mengayun-ayunkan tangannya manja. Entah kenapa ia rindu sekali menggoda wanitanya seperti ini.

“Hmm” sahutnya.

“Gomawo mianhae..” tiba-tiba gerakan mereka terhenti.

“Ne?” Hyohwa menilik wajah Baekhyun heran.

“Mian, karena aku sudah menyakiti hatimu. Gomawo. Kau sudah bersabar menghadapi kelakuanku yang menyebalkan.” Baekhyun menundukkan kepalanya. Akhirnya pria ini mengetahui seberapa menyebalkan dirinya.

“Oppa!.. “ panggil Hyohwa manja. Ia menakup wajah Baekhyun mengarahkannya pada kedua matanya.

“Ije, kau sudah bertanggung jawab dan semoga kelakuan burukmu itu bisa berubah.” Doa-doa itu selalu mengisi pikiran Hyohwa.

“oppa, jadilah nampyeon dan appa yang baik. Saranghae!” Hyo masih memegang pipi Baekhyun yang tengah merona karena pengakuan istrinya.

“Hyo..” sambil membelai rambut surai hitam kecoklatan miliknya.

“Kau terlihat cantik mengenakan gaun pengantin ini. Tapi..”

Hyohwa mengernyit.

“Akan lebih cantik jika kau tidak mengenakan apapun. Haha.. Aigoo jinja. Maaf aku mulai lagi.” tawa Baekhyun lepas. Ia menggaruk belakang kepalanya sendiri kikuk. Ia merasa malu dan salah tingkah sendiri karena menggunakan kata-kata frontal setelah mereka tengah akur.

Melihat lucunya tingkah suaminya, Hyohwa semakin gemas. Tiba-tiba ia menarik paksa kerah Baekhyun dan mencium bibir suaminya agresif. Sedikit terkejut memang, namun Baekhyun tidak terlalu lelet untuk membalas ciuman itu. Bahkan memegangi kepala Hyohwa paksa hingga istrinya ini harus berjinjit. Akhirnya dengan sekali tarikan mereka ambruk diranjang dan dunia menjadi milik mereka.

<morning>

Tubuh polos keduanya membawa sentuhan hangat yang membuat mereka malas untuk bangun dan membuka mata. Lantai kamar mereka bahkan seperti kapal pecah. Seakan angin puting beliung mampir ke kamar mereka. Memangnya gerakan apa saja yang mereka lakukan hingga sebuah vas bunga dan lampu tidur mereka pecah berserakan di lantai? Mungkin setelah ini mereka akan dituntut ganti rugi karena merusak properti hotel.

Ddrrtt..drrtt..drrtt…

Merasakan getaran itu Baekhyun hanya menggeliat sembari meregangkan tubuhnya yang pegal karena kegiatan semalam. Sedangkan Hyo malah memeluk Baekhyun dari depan membuat aksesnya bergerak semakin sempit. Mereka sebenarnya sudah sadar tapi terlalu malas untuk bangun. Namun getaran dari ponselnya terlalu mengusik Baekhyun untuk segera mengangkatnya.

<Eomma>

“Siapa?” Tanya Hyo menilik gerakan Baekhyun yang mengangkat ponsel, ia juga malas bergerak.

“Yeobseo, eomma.” sahut namja yang masih setengah bermimpi.

“Ya, pulanglah kalian berdua! Baekshin menangis terus semalaman.” Ujarnya cemas.

Mendengar kabar putranya, Baekhyun tiba-tiba terperanjat bangun dan duduk meninggalkan kenyamanan Hyohwa yang tengah menikmati tidurnya.

“Omo, jinja?”

Baekhyun terkejut hingga membelalakkan matanya yang sipit. Hyohwa menggeser posisi tidurnya memunggungi suaminya hingga tampaklah punggung polosnya.

“Palliwa..” titah sang eomma lalu menutup sambungan. Melempar ponselnya ke bantal dan tanpa permisi menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya.

“Hyo, ireona! Kita harus pulang sekarang. Cepat bangun dan mandi.” Perintah Baekhyun cepat. Hyo merasakan panik dan malu hingga menutup tubuhnya yang polos dengan bantalnya walaupun semalam mereka telah puas memandangi tubuh masing-masing.

Tak sabar ia menarik kaki istrinya hingga terbangun dan menyeretnya ke kamar mandi.

“Ya, oppa. Pelan-pelan sedikit!” umpat Hyohwa yang hampir terjungkal ke dalam bak mandi.

<Mobil>

“Oppa, apa kau tidak bisa pelan-pelan sedikit? Aku jadi mual..” umpat Hyo protes. Mereka pulang dan bahkan tanpa sarapan. Laju mobil yang Baekhyun kendarai seakan mengaduk-aduk perutnya.

“Ya, aku panik. Bagaimana keadaan anak kita setelah semalam dikabarkan menangis terus. Kau tidak cemas?”

“Ya, aku juga khawatir. Lebih khawatir jika kau mengemudi ugal-ugalan seperti ini. Woohoo..” Hyo memegang erat pegangan di atas daun pintu mobil mereka setelah Baekhyun banting setir untuk menghindari beberapa mobil di depannya.

<Sesampainya dirumah..>

“Eomma?” Hyo memekik setelah masuk ke dalam rumahnya. Ia menyapu isi rumah mencari sosok ibunya. Tiba-tiba ia mendengar rengekkan seorang bayi dari arah dapur dan Ny Byun berjalan mendekati mereka. Orang tua Baekhyun memang sengaja menginap di keluarga Song setelah acara pernikahan mereka.

“Omo, itu eomma dan appa-mu Baekshin-ah..” sambutnya dengan ramah.

“Baekshin-ah!” sambut Hyohwa merentangkan kedua tangannya dan langsung menggendongnya ketika Ny Byun sampai. Hyohwa menciumi bayinya cemas.

“Eomma, katanya Baekshin menangis semalam. Memangnya kenapa?” Baekhyun mulai mencari tahu.

“Oh itu, dia tidak mau minum susu formula. Tapi setelah lama dia menangis akhirnya dia mau meminumnya, mungkin karena kelaparan.” Ny Byun. Baekhyun tersipu malu mendengarnya.

“Maaf, eomma jadi repot karena kami.” Dia merasa bersalah karena memisahkan Hyo dari bayi kecilnya yang masih membutuhkan ASI ekslusif.

“Baekhyun-ah, eomma peringatkan untuk jangan lama-lama merebut makanan anakmu. Ck, egois sekali! Eomma pergi membantu ibu mertuamu dulu, adik iparmu hari ini kan pulang dari rumah sakit.” Ny Byun mengomel kesal. Lalu meninggalkan mereka bersama aegynya. Baekhyun mengangguk mengerti.

“Baekshin-ah kau merindukan eomma appamu, sayang?” ungkap Hyo kini menciumi pipi aegynya yang chubby dengan gemas.

Baekhyun yang juga merasakan rindu yang sama juga ikut mencubit pipinya. Namun tangan Hyohwa lebih dulu menangkis tangan berbahaya prianya. Menghiraukan Baekhyun dan kembali pada mainan barunya

“Omo, semalam rasanya tidak bertemu berhari-hari.” Umpat Hyo merengek. Jelas saja Baekhyun iri. Kini kehadirannya bagai sebuah bayangan. Kemudian terpikir untuk menggoda wanitanya lagi.

“Baekshin-ah, apa kau ingin seorang deongsaeng yeopo?” ungkap Baekhyun genit sambil mengecup pipi Hyo sekilas.

“YA!!” teriak Hyo sambil mencubit perut Baekhyun kesal karena malu. Detik berikutnya hanya suara umpatan manja dan tawa memenuhi ruang tengah mereka. Baekhyun, Hyohwa dan putra mereka.

Akhirnya keluarga kecil bahagia itu berkumpul kembali dalam keharmonisan. Mereka merasa seperti memiliki keluarga yang sempurna. Seorang suami sebagai Ayah, seorang istri sebagai ibu dan anak buah hasil cinta mereka yang sangat mereka rasakan perjuangannya. Memang dari awal seharusnya mereka menikah, benar bukan?

-When I Must Be Married (Final Marriage) END-

Author’s note:

Akhirnyaaa….

Fix, dengan chapter ini saya tidak punya hutang dengan fanfic WIMBM. Dan saya resmi berhenti memikirkan ‘ketika aku harus menikah’. Chapter ini asli author rombak total. Namun beberapa alur dan dialognya masih sama dengan yang asli.

Maaf jika part ini terkesan gaje, fill-nya kesana kemari kayak orang kesurupan. Dan Author mikirin fanfic ini udah dari 2014 dan sekarang mungkin udah 3 tahun lebih. Dan akhrinya bisa ke publish semua dengan waktu kurang dari 4 bulan. Leganya..!

Makasih untuk semua readers yang keliatan dan yang enggak. Hehe..

Author ucapkan banyak terima kasih untuk readers yang komen langsung baik di email maupun di page FB saya. Sedikit info, yang belum tahu saja. Author tampung semua komen kalian dimanapun. Karena author tahu readersnya nggak hanya dari sini. Diem-diem aku berkeliaran di page FB exoffindo dan membaca 1 atau 2 komentar kalian. Makasih udah komen ^_^

.

.

.

.

N/b: Version II itu NC. Kalau jadi yah. Hihihi.. Tergantung dari permintaan sih. Sebenarnya aku udah nulis cuma masih 30% kira-kira.

Kalau bener-bener dipost permintaan PW dilaman How to get pw exoffi atau untuk fast respon hubungi author. Cari sendiri yah kontak author el! Beberapa chapter lalu udah sering di share soalnya. Khusus untuk via LINE ditutup karena sering error dan udah diuninstall. Bye.. Bye.. Muach.. ;-*

Baca juga -> KOKOBOP  Cast + Introduction | Intro | Verse (sedang tayang)

Coming Soon -> Unforgettable Family

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married (Chapter 10B-END: Version I)”

  1. Uhhh maapkeun sekali lagi karena baru mmbacanya kakak…:”) real life pngen dikasarin masa /plak/

    Aku senang mrk bahagia bersama baekshin, ❤ keluarga yg harmonis duh 😊..

    Haply ending yg maniss 💖 selamattttt :*)

    Dtnggu karya2nya yg lain kk el

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s