[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 11)

Title | Let Me In  [Sequel Hold Me Tight]

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

                        Yoon So hee  x Baek Eun Ha

                         Irene Bae  x   Park Ae Ri

                       Song Yun Hyeong  x  Yun Hyeong

                       Kim Jong In  x   Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun  x   Dahyun

                               Wang Jackson  x  Jackson

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life  x Revenge

Disclaimer |

| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Poster | RahayK Poster

Summary  this  Chapter | “Eo! Ahjussi, kau bahkan masih ingat dengan minuman favoriteku. Aku boleh meminumnya ‘kan?”

Previous Chapter| First Encounter > Before time tell you to stop > Interview > Stranger(us) > Past pt.1 > Past pt.2 >Her Beloved > Fools love > For Life > All thing is back> Best (bad)gift >> Because Of Cola [now]

**

  Gadis itu tiba-tiba saja hilang tenaga begitu ia melangkah keluar dari pelataran bangunan Rumah Sakit.

Kakinya melangkah dengan gontai menuju sebuah bangku yang terletak di taman dekat dari pintu keluar Rumah Sakit.

  Sesak itu mendera didadanya.Tangispun menemaninya sejenak. Meski, setelah berusaha melupakan semuanya gadis itu tetap merasakan sakit yang sama. Sakit yang selalu ia sembunyikan selama hidupnya setelah menginjak umur 13 tahun.

Setelah merasa lebih baik, gadis itu segera beranjak bangun dan melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang bisa ia habiskan untuk merenung dan melupakan semuanya, apalagi tentang Ibunya dan Eunki.

   Sesaat putus asa menemaninya seiring langkahnya yang terus-menerus memelan dan semakin terseok, kepalanya yang tertunduk sejak tadi mulai ia angkat kembali namun, begitu terkejutnya melihat dua objek yang sedang asik berbincang bahkan ia dapat mendengar bahwa keduanya sedang menyebutkan namanya, seperti dirinya buronan yang sedang dicari polisi.

    Namun, melihat kehadiran salah satunya seolah membuat hatinya yang sedang diterpa nestapa segera memulih hanya karena orang itu kini berdiri dihadapannya.

“Ahjussi!Wonwoo-ah! Apa yang kalian lakukan disini?”

     Gadis itu segera mengukir sebuah senyuman ceria begitu ia mulai menyapa keduanya. Keduanya menoleh secara bersamaan, dengan tatapan berbeda namun intinya mereka terkejut. Rasanya seperti tertangkap basah ketika Ibu-ibu tentangganya sedang bergosip dan yang digosipkan malah muncul tiba-tiba.

“Aku baru akan mengajak Hyung-nim untuk makan malam di Resto dekat sini.”ungkap Wonwoo seadanya.

Sementara Baekhyun sibuk mencari-cari alasan yang agaknya baik dan tidak membuat gadis itu ‘besar rasa’. Namun, tiba-tiba saja saraf otaknya seperti terputus dan akal-akal bulusnya hilang begitu saja.

“Tidak perlu. Kau pulang saja, sunbae!” elak Eunha yang menginterupsi Wonwoo untuk segera pergi, namun lelaki itu tidak peka.

“Kenapa?”

Respon Wonwoo yang mengecewakan membuat Eunha memutar matanya malas dan menyenggol siku Wonwoo keras.

“Karena Ahjussi disini untuk bertemu denganku, bukan kau.”terang Eunha yang memberi tatapan pada Wonwoo ‘lebih-baik-kau-segera-pergi-dari-sini’. Sementara Baekhyun hanya mengusap wajahnya tak kuasa pada dirinya sendiri. Menemui gadis yang satu ini memang bukan pilihan yang tepat, atau memang jangan menemui gadis macam Eunha secara gamblang atau ia makin ‘menjadi’ seperti sekarang. Lelaki itupun baru sadar dan menyengir lalu dirinya pamit dengan segera.

“Sepertinya, ada banyak hal yang ingin kalian bicarakan. Makan bersamanya, lain kali saja, Hyung-nim kalau begitu.”

Tanpa menunggu jawaban Baekhyun lagi, Wonwoo pergi dari sana. Eunha hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Eoh, sampai nanti!”

**

     Eunha menatap Baekhyun penuh makna, seakan Baekhyun adalah tokoh idola dimana Eunha adalah fans ‘fanatik’nya.

Kaca mata hitam Baekhyun yang tergantung disaku leher kemejanya disahut oleh Eunha dan dipakai oleh gadis itu. Ia tersenyum jenaka pada Baekhyun yang menatapnya dengan enggan, bahkan berkali-kali Baekhyun menghela nafas panjang, mencoba bersabar pada gadis satu ini.

“Karena tujuan Ahjussi adalah bertemu denganku, ayo kita habiskan hari ini bersama.”

Baekhyun hanya memandang Eunha yang segera masuk kedalam mobilnya dan duduk di passenger-seat samping kemudi tanpa si pemilik mobil memintanya. Bahkan, pemilik mobilnya saja belum masuk.

Setidaknya, Baekhyun punya satu permintaan untuk hari ini.

Ia tidak akan mati jenuh dan kesepian memunggu hari esok datang. Menghabiskan waktu dengan seorang gadis ‘ajaib’ seperti Eunha tidak akan membuat hatinya terluka. Bahkan, bisa jadi itu adalah terapi terbaiknya untuk hatinya sekarang.

Dan, entah mengapa hanya itu yang Baekhyun dapat simpulkan sekarang.

::: LET ME IN :::

     Baekhyun memarkirkan mobilnya disebuah spot strategis di tepi sungai Han dan menikmati senja pertama kalinya bersama orang asing.

     Walau hanya orang asing, memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap hidup mereka masing-masing.

      Eunha menoleh ke passenger -seat dibelakang, kebetulan sekali ada sebotol cola yang masih tersegel. “Eo! Ahjussi, kau bahkan masih ingat dengan minuman favoriteku. Aku boleh meminumnya ‘kan?” tanya Eunha sementara tangannya meraih cola itu.

“J-ja-‘

Pyar!

Minuman berkabonasi itu muncrat dan mengenai seluruh wajah Eunha hingga kerambutnya yang tergerai. Melihat itu, Baekhyun hanya tertawa tak tertahan bahkan ia tak sempat untuk memperingati gadis itu sebelumnya.

Baekhyun segera mengambil alih cola itu dari tangan Eunha dan menaruhnya di spot untuk menaruh botol minuman.

“Maaf tidak sempat mengingatkanmu soal colanya. Mungkin diperjalanan terguncang dan aku melupakan itu..”

Eunha merasa malu dengan keadaannya yang sudah tak jelas lagi. Baekhyun segera mengambil handuk di jok belakang dan membantu mengeringkan wajah dan rambut Eunha yang basah akibat cipratan soda cola tadi.

     Gadis itu terdiam dan hanya memandang Baekhyun yang berhadapan dengannya, ia melihat setiap inchi raut wajah pria itu dengan seksama, sementara Baekhyun masih tertawa dan ada sebuah kerut halus yang terlihat di sekitar mata dan dibagian kantung matanya.

Begitu Eunha mendekat, Baekhyun segera menaruh handuk itu diwajah Eunha dan bersuara untuk memecah suasana yang terlalu membuatnya merasa canggung sekaligus ia nikmati walau hanya sesaat.

“Keringkan sendiri dengan tanganmu. Aku harus menyetir lagi.”

Eunha tak berbicara apapun lagi dan hanya menjawab dengan sepatah kata.

“Nde..”

Untuk pertama kalinya, Eunha dipermalukan oleh sebotol minuman berkarbonasi, dan itu membuat nyalinya sementara ciut.

Dan, selama 33 tahun dalam hidupnya untuk kali kedua Baekhyun merasa salah tingkah karena seorang gadis.

:::LET ME IN:::

  Aeri menuangkan sisa-sisa wine yang sudah ia konsumsi sejak beberapa jam lalu. Dirinya tenggelam dalam kesedihan dan rasa bersalah yang terus menghantuinya semenjak ia tak lagi berpijak di Apartement miliknya bersama sang mantan suami, Baekhyun.

Dan tanpa di duga dia berikan hadiah oleh Tuhan sebuah pertemuan dengan mantan ibu mertuanya membuat Aeri kini semakin hilang arah, bukan tanpa alasan juga ia begitu namun cercaan sang ibu mertua yang memang pantas menghujatnya membuat Aeri sadar, bahwa meminta maaf tak akan merubah keadaan dan membuat orang yang sudah terluka karenanya menjadi lebih baik. Tidak akan ada yang berubah hanya karena ia melontarkan sebuah kata “Maaf” dari bibirnya sendiri.

Air mata wanita itu mengalir lagi dalam diam,menemani sepinya yang tak pernah berujung hanya karena ia sedang sendirian, sekalipun ia punya Yunheo di hidupnya, itu tak akan cukup untuk menggantikan kepergian Baekhyun yang ia sia-siakan di masa lalu hanya demi harta dan tahta.

“Berhentilah sekarang, nyonya. Anda hanya akan melukai diri anda sendiri.” sang sekretaris mengingatkan dan menjauhkan botol wine dan gelas yang ada di tangan Aeri.

“Ini bukan apa-apa, Yerin -ah..aku hanya merasa mengapa ketika Ibunya yang mengatakannya dengan sederhana dan tak kasar itu membuatku pilu yang amat sangat dari pada aku mendengarnya dari mulut Baekhyun walau aku tau pasti ia akan berkata kasar padaku, aku rasa akan lebih baik. Aku merasa terluka.. dengan kata-kata sederhana nyonya Miyeon..”

Yerin memandang Aeri dengan tatapan miris, bahkan orang yang dipikirnya punya kebahagiaan sekalipun mempunyai luka yang dibuatnya sendiri. “Maaf, aku mungkin lancang untuk mengatakan ini padamu nyonya, mungkin saja anda masih mencintai anak beliau sehingga begitu menyakitkan untuk anda.”

“Tidak, Yerin-ssi hanya saja rasanya lebih menyakitkan daripada Baekhyun yang mengatakannya.”sanggah Aeri lalu meletakkan kepalanya di meja bar.

Yunhyeong datang begitu Yerin menghubunginya.Aeri sudah tak sadarkan diri akibat mabuk berat. “Apa yang terjadi padanya, Yerin-ssi?”tanya Yunhyeong seraya menggendong Aeri dipunggungnya. Yerin bingung mencari alasan yang tepat. Dan ia hanya menjawab tidak tahu, namun Yunhyeong tak bertanya lagi dan segera membawa istrinya itu pulang ke rumah.

“Mungkin kata-kata Jieun Noona menekannya.” pikir Yunhyeong berargumentasi sendiri, mengapa Aeri bisa demikian semabuk itu.

:::LET ME IN:::

     Baekhyun masuk ke sebuah toko dengan ragu setelah berdebat dengan Eunha bahwa keduanya memiliki pendapat yang berbeda karena baju Eunha yang basah.

     Pertama, Eunha merasa bahwa ia harus ikut masuk ke toko bersama Baekhyun karena disini Eunha yang butuh pakaian ganti.

     Sedangkan yang kedua, Baekhyun merasa bahwa Eunha tak perlu turun dari mobilnya karena mencari ukuran baju Eunha tidak sulit, iya tidak sesulit bagaimana ia harus menangani tingkah laku gadis itu ketika ia di dalam toko nanti. Akhirnya, setelah mengatakan bahwa Baekhyun menyetujui persyaratannya, Eunha pun menuruti perkataan Baekhyun.

“Aku akan tetap disini, jika Ahjussi ingin menghabiskan sisa hari ini denganku, kita makan malam, berbelanja aksesori dan sebagainya. Call?” tawar Eunha menawari kesepakatan yang terdengar bukan solusi win-win sama sekali untuk Baekhyun, malahan seperti terdengar Eunha sedang memanfaatkan situasi dan peluang.

“Baiklah.” Baekhyun turun dari mobilnya. Sementara Eunha menang dalam perundingan kali ini.

**

     Baekhyun seakan hilang akal sekarang.Begitu kakinya terlanjur masuk ke dalam toko pakaian khusus wanita.  Mengapa tadi, ia tak mengusulkan agar gadis itu saja yang masuk kedalam toko dan membeli pakaiannya sendiri dan Baekhyun yang menunggu di mobil.

Lamunannya membuyar ketika seorang karyawan toko menghampirinya, dan seperti biasa merekomendasikan baju-baju yang harganya terlalu fantastis hanya untuk dikenakan seorang gadis tengik penggila cola macam Eunha.

Tapi, ia juga terlalu bingung dengan berbagai macam dan jenis pakaian padahal menurutnya semua sama saja.

“Berikan saja kaos dan celana untuk wanita usia sekitar 23 tahun..”

“Apa perlu di masukkan kedalam kotak?”

“Tidak perlu, seseorang akan segera memakainya.”

“Ye..algeseubnida..”

Baekhyun segera mengambil kantong yang berisi dari meja kasir dan segera keluar dari sana. Ia membuka pintu passenger dimana Eunha berada, dan menyuruh gadis itu untuk segera berganti pakaian di dalam mobil.

“Cepat ganti pakaianmu. Aku akan menunggu di luar.”

“Di sini?”

Baekhyun mengangguk membenarkan. Sementara Eunha tetap bersikeras tak mau ganti baju di dalam mobilnya. Lelaki itu kemudian menarik tirai jendela mobilnya yang tersingkap.

“Ganti bajumu, sebelum aku berubah pikiran dan mengembalikan baju itu ke toko.”

“Baiklah! Baik! Aku tau.Jangan mengintip!”

     Eunha akhirnya mengganti bajunya didalam mobil. Sementara Baekhyun benar-benar berdiri di luar mobil seraya memainkan ponselnya. Ia membuka inbox surel yang masuk. Diantara banyak pesan yang masuk hanya ada satu yang selalu ia abaikan, ia tak pernah baca dan hanya meletakkan pesan itu di kotak ‘spam’. Ia bahkan sama sekali tak mau tahu apa isi pesan itu yang dikirimkan oleh orang yang sama selama lima tahun belakangan, tepatnya setelah perceraiannya dengan Aeri diputuskan dan wanita itu pergi dari kehidupannya.

      Eunha selesai mengganti pakaiannya. Ia mengulas senyum sendiri seraya menatap punggung Baekhyun yang membelakanginya. “Cih!kau tak berubah Ahjussi.” gumamnya sendiri.

Ia kemudian menurunkan jendela mobil. “Oyy! Ahjussi!aku sudah selesai.”

     Baekhyun tak berucap apapun dan segera kembali masuk ke dalam mobil. Ia sempat melirik Eunha sejenak, sebelum akhirnya ia kembali menyalakan mesin mobil dan mengemudi lagi, mengunjungi  tempat lain sebagai destinasi selanjutnya.

“Ahjussi? kenapa kau memberikan celana juga? Hanya kaosku yang basah disini..”

Baekhyun menginjak pedal rem begitu tiba dipersimpangan jalan.

“Karena seorang gadis tidak pantas mengenakan rok sependek yang kau pakai, saat bersama pria.Dengan begitu, pria tidak akan menganggumu.”terang Baekhyun sambil mengetuk roda kemudinya, ia tak punya alasan lain jika Eunha yang bertanya.

“Sebesar itu ya rasa sayangmu padaku, Ahjussi?”goda Eunha menyentuh-nyentuh lengan Baekhyun.

Traffic-light kembali berwarna hijau, Baekhyun kembali menarik rem tangan dan menginjak pedal gas.

“Itu karena aku muak denganmu.”ketus Baekhyun yang membuat Eunha semakin tertawa saja mendengar jawaban Baekhyun yang seperti memaknai arti lain menurut gadis itu.

“Muak?Itu artinya kau menyanyangiku, Ahjussi..”

Baekhyun cuman mendecak saja dan kembali menyetir, ia tak bersuara lagi setelah Eunha berargumen dengan pedenya. Meski, dalam hati Baekhyun merasa senang.Kadang,kehadiran Eunha cukup menghiburnya.

:::Let Me In:::

     Kediaman keluarga Song seakan selalu berperang dingin setiap saat bahkan detik ketika Yun Hyeong tidak ada di rumah. Seperti saat ini tentu saja, makan malam tanpa Yunhyeong membuat keluarga besar Song hanya saling berdiaman. Alasannya sudah ada jauh sebelum pernikahan Yunhyeong, adik Jieun terlaksana.

Kehadiran Ae Ri dalam silsilah keluarga Song membuat Jieun muak setengah mati namun kehadiran Yunheo tak dapat membuatnya juga membenci keturunan dari adiknya itu. Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring, atau gelas yang berbenturan dengan air yang tertuang dari ceret. Hingga akhirnya sebuah suara memecah keheningan antar tiga orang dewasa itu.

“Ibu, aku sudah selesai makan.”ujar Yunheo, Aeri segera merapihkan celemek yang Yunheo kenakan dan sebentar mengalihkan perhatiannya pada putera semata-wayangnya itu. “Benarkah?kalau begitu setelah ini kau bisa kembali ke kamar, bereskan buku untuk sekolah besok dan pergi tidur. Call?”ujar Aeri seraya mencubit pelan hidung puteranya itu yang segera dibalas dengan hal yang sama oleh Yunheo sambil tertawa. “Call, eomma.”

Aeri sadar betul bahwa ada dua orang yang sedang menonton mereka dengan tatapan yang berbeda. Ada yang iri dan seorang lainnya hanya memandang mereka dengan cara normal. Aeri melirik sebentar kedua orang itu yang adalah iparnya, lalu sambil menurunkan Yunheo dari kursi ia berkata “Sebelum kembali ke kamar, ayo pamit dulu dengan Jieun Imo dan Myungsoo-samcheon.”pinta Aeri seraya mengulas senyum palsu.

“Aku kembali ke kamar dulu, Jieun-Imo, Myungsoo-samcheon. Selamat malam.”ujar Yunheo lalu membungkukkan badannya.

Jieun segera mengulas senyum lalu menyudahi makan malamnya. “Geurae Yunheo-a, hati-hati melangkah saat naik tangga.”ujar Jieun sambil melambaikan tangannya. Ia memang benar sayang pada Yunheo namun ia amat membenci ibunya, Aeri.

“Geurae, selamat malam Yunheo.”tambah Myungsoo dengan cengiran membuat Yunheo ikut melambaikan tangannya dan segera naik ke lantai atas menuju kamarnya.

Suasana canggung nan dingin kembali menyelimuti ruang makan keluarga Song saat ini. Jieun menaruh sendok makannya dan menuang wine lalu segera meminumnya. “Saham Song Corp. terus menurun sejak kau yang memimpin, Ae ri-ssi.”

“Memang benar, tapi kami sudah menemukan seorang untuk diajak kerjasama.”

“Tidak. Aku sarankan agar kau turun jabatan saja jika kau tidak sanggup, Aeri-ssi.”

“Aku tidak mengerti, mengapa Tuhan membiarkan wanita tak tahu diri seperti dirimu masuk kedalam kehidupan kami. Aeri-ssi.”

“Nde?”

“Sudahlah, Jieun. Ini hidup mereka.”

“Asal kau tau, kau memang punya Yunheo tapi jangan harap kau kini dapat diterima dalam keluarga Song. Aku tidak akan pernah menerimamu sebagai adik iparku sampai kapanpun.Mengerti?!”

“Ibayeo, Jieun-ssi. Kata-katamu tak akan berpengaruh apapun pada kehidupanku. Karena kau pun tau seberapa besar Yunhyeong mencintaiku.”

“Mwo?!Seperti dugaanku kau itu lebih rendah dari sampah.”seru Jieun murka, wanita itu sudah lepas kendali jika saja sang suami tak menahannya dan mencoba menenangkan istrinya itu. Matanya masih melotot menatap Aeri tak henti, sementara yang ditatap juga memberi tatapan menantang menunjukkan bahwa ia sama sekali tak takut apa-apa. Myungsoo segera merangkul dan membawa sang istri untuk segera meninggalkan ruang makan keluarga Song, sementara Aeri masih berdiri tak bergeming disana dengan sorot mata yang terus mengikuti langkah Jieun hingga wanita itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang adalah kamar mereka (Jieun dan Myungsoo). Namun, sepeninggal Jieun dan Myungsoo kekuatan Aeri seakan lebur tiba-tiba, kakinya hampir tak kuat menahan bobot tubuhnya kalau saja tangannya tak segera meraih kayu dari kursi yang ada di ruang makan. Ia menarik nafasnya berat, berbicara dengan Jieun bahkan bertengkar dengan kaka iparnya itu seperti menghabiskan begitu banyak energi. Jika kalian bertanya mengapa, itu karena -Aeri -lebih -suka-menahan -sesuatu -yang -tidak ia -suka -daripada -meluapkan -kekesalan -yang ia -rasa.

:::LET ME IN:::

Baekhyun mengetuk pintu cukup keras, ya –karena dia mengetuknya dengan kakinya –kalian boleh menganggapnya tidak sopan,tapi itulah satu-satunya cara karena kedua tangannya menopang Eunha dipunggungnya. Bukan tanpa alasan, namun gadis itu sudah mabuk berat akibat ajakannya sendiri untuk minum soju dengan Baekhyun. Tepat setelah ia menendang pintu sebanyak tiga kali, pintu terbuka dari dalam, seorang wanita melotot hebat melihat keberadaan Baekhyun dan orang yang dikenalnya sudah tak sadarkan diri dibalik punggung lelaki itu. Baru saja wanita itu mau bersuara, Baekhyun sudah menyela cepat.  “Bisa kau buka dulu pintunya? Kau pasti tahu gadis ini sangat berat –jadi-biarkan aku masuk.”

“B-baiklah.” Dengan gelagapan dan kemungkinan besar salah tingkah akhirnya wanita itu membuka lebar pintunya dan mempersilahkan tamu tak terduganya itu masuk. “Oh ya, kamarnya –‘ lagi, belum selesai berucap dengan cepat Baekhyun membuka salah satu pintu kamar dan membuatnya terdiam sejenak begitu matanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar –bisa dibilang apa yang masuk ke matanya adalah sangat membuatnya sakit mata –bahkan lebih buruk dari mess yang ia tempati ketika berkerja dengan Yonghwa –ukurannya lebih rapih. Baekhyun tak berkata apapun dan menempatkan Eunha di atas kasurnya dengan hati-hati, setelahnya melepas sepatu gadis itu dan menyelimutinya. Ia menoleh begitu sepasang mata melihatnya dengan senyum yang tertahan, ya- wanita yang membukakan pintu tadi. “Maaf kamarnya –agak berantakan –atau lebih tepatnya memang berantakan, karena Eunha suka melupakan letak barangnya jika kamarnya rapih.”terangnya dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal –jika benar, orang ini yang membuat Eunha bersemangat untuk jadi reporter, sepertinya, keliru –karena lelaki yang kini berdiri di hadapannya seperti patung dengan roh –ekspresi wajahnya terlalu dingin.  “Apa kau bisa membelikan sup pereda mabuk –uangnya –‘

“Nanti aku beli dengan uangku saja –sepertinya sejak kau masuk tadi kau belum memperkenalkan dirimu, Tuan. Aku Jisoo.”

Baekhyun menundukkan kepala singkat lalu mengulurkan tangan menyambut jabat tangan Jisoo. “Maaf aku lupa –Byun Baekhyun –imnida.”

:::LET ME IN:::

“Aku suka dengan tempatnya –sampaikan pada Tuanmu. Apartemennya cukup untukku setelah penanda-tanganan kontrak aku harap bisa lebih dari ini.”ujar lelaki itu seraya bersandar pada sofa dan meluruskan kakinya pada meja yang ada dihadapannya. Seorang lain dengan outfit jas dan bawahan yang lengkap menaruh sebuah kotak berwarna cokelat, melihat itu lelaki yang sedang bersantai tadi hanya melirik dan sudah tahu apa isi dari kotak itu. “Anda akan dijemput oleh orang perusahaan besok jam 10 untuk ke Song Corp. pastikan anda mengenakan pakaian yang sudah disediakan, Kim Jong In –ssi.”

Lelaki itu hanya mengangguk mengerti seperti tak perduli dengan itu semua lalu dia berujar “Baiklah. Aku harap setelah kontrak berlaku –bukan aku yang dijadikan budak kalian namun sebaliknya. Karena, kalian yang mendatangiku lebih dulu benar begitu bukan, Sekretaris Park?”

Lelaki yang dipanggil sekretaris itu hanya mengangkat alisnya sebelah lalu dengan cepat ia mengangguk  “Ye? Ahh, ye..” Mendengar jawaban yang sangat tak diinginkannya lelaki itu segera berdiri dan segera meninggalkan seseorang yang dipinta dari Song Corp. “Kau boleh pergi, aku ingin istirahat.”

:::LET ME IN:::

Aeri membuka matanya dilangit gelap dimana waktu masih menunjukkan angka 02.36 dini hari pada layar ponselnya. Begitu ia menoleh, sang suami baru saja bersiap untuk tidur dan segera menyapanya dengan tanya penuh khawatir. “Aeri, apa kau mimpi buruk?”

Aeri hanya mengulas senyum sambil menggelengkan kepalanya, ia menyingkap rambut cokelatnya. “Tidak, aku kira kau tak pulang malam ini. Beritahu aku jika kau merasa berat dengan urusan Song Corp. Yunhyeong, aku istrimu –jadi jangan memaksakan dirimu untuk berkerja sendiri.”jelas Aeri lalu menyentuh hidung suaminya, membuat Yunhyeong mengelus kepala Aeri lembut dan membawanya dalam sebuah rangkulan dalam tidur. “Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Aeri. Tugasmu adalah mengurusku dan Yunheo –kau bisa mengamati Song Corp. dari rumah. Lagipula, besok aku akan menandatangani kontrak dengan seseorang yang bisa menyelematkan perusahaan farmasi Song Corp. Jadi –kau besok bisa hadir ke kantor dan bertemu dengan dia.”

Aeri menatap sang suami dengan mata berbinar, ia bahkan tak berhenti tersenyum. “Benarkah? Orang itu dapat menyelematkan kita ‘kan, Yunhyeong?”

Yunhyeong tersenyum lalu mengangguk, ia memeluk Aeri erat. “Ya Tuhan, syukurlah..lalu bagaimana dengan tuan Dellion Foster –apa kau sudah dapat jawaban surelnya?”

“Belum –soal tuan Foster sepertinya kita harus bersabar sedikit. Mari kita tunggu jawabannya sampai ulang tahun perusahaan bulan depan.” Aeri mengangguk dan kembali tidur, ia menarik selimutnya dan menyelimuti sang suami “Baiklah. Kau harus istirahat, Yunhyeong –ssi..”

Sebelum benar-benar terlelap lebih dulu Yunhyeong mengecup dahi Aeri “Selamat malam, Aeri..”

:::LET ME IN:::

Baekhyun terjaga walau matanya sudah meradang meminta untuk diistirahatkan. Banyak yang membayangi pikirannya setelah sebagian besar waktunya habis dan larut bersama Eunha. Ia memandang cincin yang melingkar dijari manis tangan kirinya sebentar, lalu ia teringat dengan apa yang mereka bicarakan di warung Soju beberapa jam yang lalu.

*

*

*

Beberapa jam sebelumnya..

Jalan-jalan besar tampak ramai dibeberapa titik pusat kota Seoul. Tak terkecuali pada persimpangan besar dimana  kedua insan itu sedang berada, -ups! Salah. –maksudnya adalah kedua –orang itu adalah Baekhyun dan ‘stalker’nya Baek Eunha. Eunha hari ini tak cukup gila untuk mengambil peran sebagai ‘kekasih’ Byun Baekhyun, setelah insiden ‘cola’ yang terjadi pada siang ini. Biasanya, Eunha cukup punya nyali untuk sekedar melingkarkan tangannya dilengan Baekhyun ataupun menggenggam jemari ahjussi –nya itu namun, untuk hari ini sepertinya sudah cukup –untuk dibuat malu atas tingkahnya sendiri. Jadilah, meski kini Eunha masih bersama Baekhyun, gadis rambut bergelombang kecoklatan satu ini hanya berjalan beriringan di samping kiri Byun Baekhyun. Baekhyun tak terlalu menaruh perhatian pada Eunha yang masih dalam mode ‘silent’ nya ketika matanya beralih pada gadis itu, ia menemukan sebuah kedai kecil yang terletak di pinggir jalan, pedagang itu menjajakan makanan ringan untuk sekali santap –misal saja kue ikan. Tangannya segera menyentuh bahu Eunha pelan,sementara mata dan kakinya masih tak terelakkan melihat dan melangkah menuju ke kedai kue ikan itu yang tampak lengang saja. “Ayo –makan kue ikan sepertinya enak.”seru Baekhyun tampak semangat. Eunha hampir saja kehilangan akal melihat ahjussi –nya itu terus berubah –ubah.

Sifat aslinya itu yang sekarang atau yang tadi sih? Tadi cuek –jutek sekarang bersemangat seperti anak kecil.pikir Eunha membathin dalam hati. Namun, ia tak berkata apapun dan hanya mengikuti Baekhyun yang menghampiri kedai kue ikan. Baekhyun segera melahap beberapa makan lain yang terjajar di keranjang sajian, sambil menahan panas ia masih mengunyah dan memberikan Eunha setusuk usus. “Woah~, enak sekali. Sudah lama aku tak memakannya.” Mendengar ocehan Baekhyun membuat Eunha hanya tersenyum kecil. “Ahjussi –kau mau minum dengan gadis kecil ini yang kebosanan malam ini?”tanya Eunha pada Baekhyun membuat lelaki itu menoleh pada gadis yang masih menatapnya dengan jenis tatapan yang –berharap. Cukup lama Baekhyun hanya memandangi Eunha sambil mencerna makanannya yang mulai ia telan dan masuk kedalam lambungnya. Hingga akhirnya sebuah jawaban keluar dari mulut lelaki dengan surai hitam yang menaungi matanya yang tegas.

“Baiklah. Untuk hari ini..”

*

*

*

Setelah usai makan kue ikan, kini mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan –jalan di tepian pusat kota dan terhenti di depan sebuah tenda warung soju yang letaknya tak jauh dari pelataran parkir mobil Baekhyun.

“Kajja, Ahjussi!”

Baekhyun sempat tertegun sejenak dan tak melanjutkan langkah kakinya lantaran ia ingat akan rendahnya toleransi alkohol dirinya yang tak sampai satu botol. Namun, demi menghormati Eunha dan lagipula –kesepakatannya dengan dirinya yang lain dan juga gadis itu untuk menghabiskan waktu seharian di luar membuatnya tak bisa mengingkari janji dan menolak ajakan gadis itu. Dan juga –warung soju lebih baik – daripada club, pub atau semacamnya.

“Ahjussi!Sedang apa kau diam di situ? Cepat kemari.” Mendengar Eunha mengoceh lagi, Baekhyun hanya membuang nafas dan segera masuk ke warung Soju itu.

1 jam..

2 jam…

Bahkan setelah dua jam berlalu, atau lebih tepatnya jam menunjukkan pukul 8 malam Baekhyun tak menyentuh alkohol setegukpun. Sementara Eunha? Sebagian dirinya sudah kabur melayang entah kemana, namun ia masih memicingkan matanya memandang Baekhyun sambil mengunyah cumi kering yang dipesannya. “Ahjussi, waeyeo? –kenapa kau tidak ikut minum juga?kau hanya meminum air putih sejak tadi.”

“Aku harus menyetir nanti –jika aku mabuk siapa yang menyetir?- dan juga berapa kadar toleransi alkoholmu?” Baekhyun menuangkan soju ke gelas Eunha yang sudah kosong. Ia melirik ketiga botol soju yang sudah kosong. “Itu hanya alasan klise ‘kan, Ahjussi? –aku bisa meminum soju sampai 4- 5 botol?mungkin? Zaman sekarang kalau kau mabuk –kau bisa memanggil supir pengganti –kenapa kau membuatnya seakan sulit, Ahjussi.”cibir Eunha sambil tertawa sakarstik.

“Aku bukan tipe orang yang tak bertanggungjawab setelah membuat seorang gadis mabuk hanya mengantarnya sampai masuk ke dalam taksi. Aku harus mengantarmu pulang setelah ini –karena aku orang yang seperti itu, Eunha. Dan juga, aku cukup terkejut dengan kadar toleransi alkoholmu, siapa yang mengajarimu?”

Eunha tertawa menggeleng lalu menopang dagunya dengan tangan kanannya yang terkepal, menatap Baekhyun –mencermati bagaimana bayang rupa lelaki itu dimatanya ketika mabuk. Namun, hasilnya –tetap tampan dan sama saja. Kecuali –tatapannya yang santai kini jadi serius entah karena perbincangan mereka atau apa. Eunha belum cukup mabuk sehingga dapat menyadari perubahan itu.

“Aah, aku terharu dengan jawabanmu, ahjussi. Kau yang terbaik!” Eunha memberi jempolnya pada Baekhyun, namun lelaki itu hanya tersenyum miris atau lebih tersenyum sakit. “Aku tak layak kau sebut baik –aku tak baik sebagaimana yang kau pikir, Nona Baek.”

Eunha menghela nafasnya sambil menutup mata, seharusnya sejak tadi saja ia membicarakan pokok pembicaraan yang serius begini –jadi Eunha tak akan lupa. Karena keadaannya Eunha setengah sadar jadi –bisa saja dia lupa sudah bicara begini “Maka, hapuslah hal –hal yang membuatmu merasa menjadi bukan orang baik seperti yang aku pikir, Ahjussi.”timpal Eunha mengingatkan.

“Tak ada hal yang harus aku hapus. Jangan terlalu percaya dengan apa yang selalu terbias ke dalam matamu, Eunha.”jawab Baekhyun lalu memanggil Ahjumma pemilik warung untuk menyingkirkan botol soju yang sudah kosong. Mata Eunha beralih pada jemari tangan kiri Baekhyun dimana terselip cincin tipis berwarna perak. Tanpa bertanya pada sang pemilik –Eunha mengerti apa makna cincin itu untuk lelaki yang duduk dihadapannya kini. Itu adalah cincin pernikahannya Baekhyun dengan wanita itu –namanya ia memang tak tahu –tapi pasti itu sangat berarti untuk Baekhyun.

“Memang kau benar, ahjussi. Dan –ada hal yang harus kau hapus menurutku adalah perasaan itu. Entah untuk balas dendam atau kau masih memiliki perasaan yang tak dapat Ahjussi buang –itu menyiksa,baik kau ataupun orang lain –cepat atau lambat.”

Baekhyun terdiam sambil memutar gelas miliknya. “Tak ada hal seperti itu. Aku tak pernah ada niatan untuk balas dendam ataupun membencinya.”

Eunha menampar meja pelan, namun cukup membuat pelanggan lain melihat kearah mereka duduk. “Kau tak mampu membencinya –adalah benar. Mengapa? –karena kenangan itu masih ada, cinta itu masih kau simpan dengan baik –meski itu menyiksamu.”

Baekhyun tak menjawab. “Ahjumma, semuanya berapa?”

Lelaki itu memilih tak menghiraukan Eunha dan menyelesaikan pembayaran dengan Ahjumma dan ingin beranjak dari sana. “Berhenti mengatakan dan melakukan hal bodoh seperti menungguku.”imbuh Baekhyun lalu membantu Eunha untuk berdiri, namun gadis itu menepisnya dan mengatakan bahwa ia masih cukup sadar untuk berdiri dan berjalan menuju pelataran parkir. “Jangan memintaku seperti itu,Byun Baekhyun-ssi. Semakin kau memintaku untuk menyerah padamu,semakin keras keyakinanku bahwa aku bisa mengisi celah walau hanya sedikit dihatimu.”

Baekhyun melepas cincin itu dan menaruhnya ke tempat sampah. Ia menelpon Jaebum, setelah cukup lama terdengar nada sambung, Jaebum akhirnya menjawab “Yeoboseyo?”

“Balas surel dari Song Corp. setujui untuk kerja sama dengan mereka.Dan –katakan pada mereka aku akan menghadiri ulang tahun perusahaan mereka bulan depan.”

Bersambung..

Komen ya chingu, jangan lupaa ~ baca juga everything has changed

Aku pengen pos ff baru nih, tapi bingung mau buat main cast Kai dulu atau Chanyeol ya hehehe minta voting dong kalo bole~

Rhyk

12.8.2017

26 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 11)”

  1. Byun baekhyun harus move on dari aeri duh sebel banget deh liat dia itu ayo baekyun haru bangkit dan berjuang kan ada eunha yg selalu nyerocos dan ceria
    Semangat thour nulisnya
    Bikin ff chanyeol aja thour

  2. Wowww baekhyun mengambil keputusan yang sangat besarrrrr… ayo baek bangkit aku mendukung muuu!!!
    I will vote for chanyeol..
    Thanks ya ceritanya , semangat untuk tulis yang selanjutnyaa dan akan selalu ku tunggu cerita cerita lainnya…

  3. Heooll,, Aeri,baekhyun,jong in, dan yunhyeong bkal ketemu,,, gimna jdinya ya perusahaan song corp nanti😂

    Ye ye ye ye,,, baekhyun move on,, aeri good bye😀😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s