GAME OVER – Lv. 14 [Perfect Match] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11 — Level 12Level 13 — [PLAYING] Level 14

Following your breath in the darkness
I’m running
Don’t you know my heart yet?

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 14 — Perfect Match

In Jiho’s Eyes…

“Kebohongan apa lagi yang harus kudengar?”

Bukan salah Baekhyun karena dia seringkali berpikir bahwa aku tengah dijebak atau diserang oleh player lain. Bagaimana pun di mata Baekhyun aku terlibat dalam masalah ini karena aku memilih untuk berada di pihaknya sehingga dia merasa bahwa dia bertanggung jawab terhadapku.

Tapi tidak juga jadi salahku ketika aku tidak ingin Baekhyun tahu semua yang aku lakukan di dalam kehidupanku. Bila di mata Baekhyun aku ini terlibat masalah karenanya, mengapa aku justru beranggapan bahwa Baekhyun menganggapku sebagai seorang player lemah yang tidak bisa melindungi diri sendiri?

“Apa aku kelihatannya sedang diserang oleh mereka, Baekhyun?” tanyaku akhirnya, mengingat bahwa dia meretas akunku—yang artinya dia bisa dengan mudah tahu apa yang terjadi padaku saat aku tengah online—aku terlempar pada fakta bahwa Baekhyun seharusnya bisa menganalisis apa yang terjadi padaku tanpa harus menunggu aku menjelaskan.

“Apa aku sekarang terlihat sedang berbohong? Bukannya kau bisa tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi? Kau juga bisa tahu kalau percakapanku dengan mereka bukanlah tentang battle, atau permusuhan bukan?” sambungku, ingin menyadarkan Baekhyun bahwa emosi yang sekarang dipamerkannya tidaklah tepat waktu.

“Kau tidak online melalui survival tube milikmu, bagaimana aku bisa tahu semua itu?” pertanyaan Baekhyun membuatku tersadar bahwa dia pasti tahu kalau aku tidak ada di tempat tinggalku.

Apa dia bisa dengan mudahnya tahu kalau aku tidak menggunakan survival tube-ku juga?

“Lagipula, aku bukannya lemah, Baekhyun. Aku hanya tidak punya level sebaik dirimu. Bukan berarti aku akan tidak berdaya di hadapan musuh.” lagi-lagi aku buka suara.

Aku pasti terlihat seolah sedang berusaha menyudutkan Baekhyun, tapi tidak, aku tidak bermaksud begitu. Baekhyun adalah seorang jenius, aku jelas tahu itu. Dan seharusnya Baekhyun juga tidak melakukan hal-hal konyol seperti ini.

Terlebih, Taeil sedang menunggu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan setidaknya sebelum jam menunjukkan angka delapan.

“Aku menunggumu, Jiho.” ucap Baekhyun akhirnya.

“Aku tahu, dan aku juga tahu benar kalau aku harus menemuimu, Baekhyun. Tapi ini bahkan belum jam delapan, dan aku berencana menyelesaikan urusanku dengan mereka sebelum jam delapan. Kau tahu aku tidak ingkar janji.” aku kemudian melunak, menyadari bahwa yang membuat Baekhyun menunjukkan emosi seperti ini sekarang adalah karena dia berpikir bahwa aku mungkin lupa pada janji yang telah kubuat dengannya, dan kemudian mengabaikannya.

Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu saat aku bahkan sama sekali tidak bisa mengabaikannya?

“Dua menit lagi jam delapan.” ucap Baekhyun kujawab dengan anggukan pelan.

“Aku tahu,  jadi biarkan aku menyelesaikan urusanku sebentar dengannya di sana, aku akan menemuimu setelah itu. Aku sudah mengecek map yang kau berikan padaku, dan aku tidak akan lupa tempatnya.”

Baekhyun menjawab dengan sebuah gelengan. “Kau tidak akan bisa menyelesaikan battle dengannya dalam waktu dua menit. Dia punya DPS yang cukup tinggi. Lupakan saja kalau begitu, kau tidak harus menemuiku.”

Tanpa sadar aku ingin tergelak. Ucapan Baekhyun sekarang terdengar seolah dia adalah anak berusia tujuh tahun yang merajuk karena tidak dibelikan apa yang dia inginkan. Bagaimana mungkin dia pikir aku akan mengabaikannya?

“Tunggu di sini sebentar, oke?” aku kemudian berkata, tanpa menunggu jawaban Baekhyun aku melangkah—tidak, aku melesat, dalam game—ke arah Taeil yang sedari tadi menunggu.

Hey, Taeil. Kupikir aku tak bisa melanjutkan battle denganmu.” kataku.

Taeil mengangguk paham. “Sekarang aku mengerti kenapa kau terus berkata bahwa kau harus online jam delapan. Tidak masalah buatku, karena melihat battle-mu dengan anak-anak yang lain sudah cukup jadi bukti yang jelas.

“Oh ya, survival tube ini masih dalam masa trial jadi mungkin akan ada masalah jika kau masuk dalam survival mode lebih dari dua jam. Kembalilah sebelum dua jam itu, karena aku tidak bisa memastikan resiko apa yang akan terjadi jika kau memaksakan diri.”

Aku mengangguk pada Taeil. Bisa kupahami mengapa survival tube modifikasi miliknya pastilah punya kinerja yang terbatas, bagaimana pun aku bisa mengakses survival tube ini dengan lebih mudah. Beberapa equipment juga bekerja dengan lebih baik melalui survival tube ini.

“Aku mengerti, sampaikan salamku pada yang lainnya. Aku tidak akan lama.” ucapku sambil kemudian melambai pada Taeil dan melangkah meninggalkannya, niatanku untuk menghampiri—ah, sungguh. Ada apa dengan Baekhyun hari ini?

Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja?

“Dia pasti kesal, aku logout sekarang Jiho. Khawatir kalau aku terlalu lama online dia bisa tiba-tiba muncul dan menyerangku. Invisible Black itu seorang penyerang dalam diam yang tidak bisa diduga kedatangannya, kau tahu?” kudengar Taeil bicara dalam message.

Aku hanya melambaikan tangan saja sebagai jawaban. Kubawa langkahku untuk kemudian menginjak maps dan memilih lokasi yang jadi tempatku bertemu dengan Baekhyun. Masih ada satu menit sebelum—

“Wah…”

—apa benar-benar ada lokasi seindah ini dalam WorldWare? Lokasi yang kupijak di maps membawaku ke tengah-tengah sebuah hamparan kosong dengan batu-batu besar yang berjajar membentuk benteng di sekelilingnya.

Di salah satu sudut, terdapat air terjun yang mengalir dan menciptakan percikan cantik di bawah cahaya matahari. Di dekat sudut tersebut ada sebuah rumah yang terbuat dari kayu, tampak begitu cantik dengan bunga berwarna biru dan merah yang menghiasi.

“Ini tempat tinggalku.” kudengar sebuah suara menyapa begitu aku terlarut dalam keindahan yang tempat ini suguhkan.

“Mereka yang masuk dalam invisible mode akan punya satu maps berisikan tempat seperti ini. Aku tidak punya Town, dan tidak ada tempat yang bisa kutuju sebagai peristirahatan. Kau juga tidak punya tempat semacam itu sekarang, Jiho. Jadi gunakanlah tempat ini sebagai tempat beristirahat.”

Aku berbalik, mendapati Baekhyun berdiri tak jauh di belakangku dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Mengamati ekspresinya sekarang, dia jelas tahu kalau aku tadi meninggalkannya untuk bicara pada Taeil dan pada akhirnya memilih Baekhyun.

Bagaimana tidak, ekspresinya sekarang terlihat begitu tenang. Seolah beberapa sekon lalu kami tidak sedang berdebat.

“Kau pasti tahu aku akan memilihmu dibandingkan battle dengan Darkpollo tadi, bukan?” aku kemudian berkata. Hal yang membuat Baekhyun menyunggingkan sebuah senyum kecil di wajahnya.

Ah, dia begitu jarang tersenyum seperti ini. Senyum di wajah Baekhyun seringkali berarti bahwa dia akan memenangkan sebuah battle, atau hendak menyerang seseorang. Tidak, dia tak pernah senyum seperti ini karena dia selalu memamerkan senyum sarkatis.

“Memangnya ada yang bisa kau jadikan nomor satu di sini selain aku?” ia balik bertanya, lihat bagaimana percaya dirinya dia sekarang?

“Coba saja percaya dirimu ini lebih besar daripada emosimu itu. Ah, aku sudah di sini omong-omong, ada apa dengan jam delapan?” tanyaku akhirnya.

Baekhyun terdiam sejenak, sebelum dia kemudian merentangkan kedua tangannya, membuatku menatap dengan alis bertaut.

“Mengapa kau berpose seperti itu?” tanyaku.

“Diam dan tunggulah. Kau pasti tidak ingat hari ini after effect-ku akan hilang karena aku sudah berhasil mendapatkan seratus level, bukan?”

Oh, benar. Baekhyun pasti sudah berhasil mengambil beberapa level dari Womanizer. Apa aku yang tidak begitu memperhatikannya? Tapi sejak kemarin rasanya kabut hitam di sekitar Baekhyun tidak begitu terlihat kentara.

“Baiklah, sudah jam delapan lebih tiga puluh detik dan after effect itu masih ada.” ucapku membuat Baekhyun menghentikan pose anehnya—sejak tadi dia bertahan dengan merentangkan tangan, dan pemandangan itu terlihat menggelikan di mataku.

“Aku tahu. Biasanya WorldWare tak pernah terlambat mengembalikan keadaanku. Atau aku yang tidak pernah memperhatikan waktu, ya? Yang jelas setelah lewat jam delapan malam jika aku login ke survival mode, keadaanku sudah kembali seperti sediakala.” tuturnya kemudian.

Aku baru saja hendak membuka mulut untuk menyahuti Baekhyun saat kemudian kulihat kabut hitam di sekitar tubuhnya membesar.

“Baekhyun, ada apa dengan—” ucapaku terhenti saat Baekhyun tenggelam di balik kabut hitam itu, selama beberapa detik kabut hitam itu berputar dan menenggelamkan Baekhyun, sampai kemudian kulihat Baekhyun kembali muncul dan—sial! Kenapa dia harus terlihat begitu sempurna saat muncul dari balik kabut hitam itu?

“Aku kembali, Jiho.” Baekhyun berucap sambil mengurai surainya dengan jemari. Tindakannya kembali membuat jantungku melompat, meski aku tahu dia tidak bermaksud apa-apa, tapi mengapa jantung ini bereaksi begitu berlebihan?

“Hmm, selamat datang kembali, Baekhyun.” kataku membuat Baekhyun menatapku dengan sepasang manik gelap miliknya yang selama seminggu ini tidak kutemui.

Sebuah senyum dia sunggingkan, sementara dia sekarang memeriksa satu persatu equipment yang terpasang di robe gelap yang ia kenakan. Apa yang sudah terjadi padanya selama seminggu ini sampai-sampai aku tak sadar kalau dia terlihat begitu memesona dalam balutan robe yang dia kenakan sebelum terkena after effect itu?

Ah, benar. After effect yang menyerangnya memang membuat equipment yang tampak dalam visualisasi Baekhyun terlihat kusam dan mengerikan. Tapi sekarang saat semua equipment itu terlihat begitu sempurna dan menantang, mengapa aku bereaksi seperti ini?

Kenapa jantungku terus berdegup tidak karuan?

“Baekhyun, kupikir ada yang salah denganku.” ucapanku akhirnya membuat Baekhyun mengalihkan pandangan dari equipmentnya, dia kemudian melangkah ke arahku, mencekal bahu kiriku sementara pandangannya menyelidik.

“Ada apa? Apa survival tube-mu tidak bekerja dengan baik?” tanyanya kujawab dengan gelengan cepat.

“Entahlah. Apa survival tube ini memang tidak cocok buatku? Sejak tadi aku pikir jantungku berdetak terlalu cepat dalam scanning survival tube ini.” aku berkata.

Baekhyun terdiam sejenak.

“Aku tidak bisa meretas survival tube ini karena dia bukan survival tube resmi yang terdaftar dalam WorldWare dan tidak juga punya barcode. Ada di mana kau sekarang? Kalau kau jauh dari tempat tinggalmu, lebih baik kau logout saja dan—”

“—Tidak. Aku tidak mau logout. Aku sudah menunggu seharian untuk bertemu denganmu. Lalu kau memintaku untuk logout? Mana mungkin aku mau menurutinya.” aku berucap memotong perkataan Baekhyun.

Hey, aku bahkan belum selesai bicara. Aku katakan kalau kau seharusnya logout dan mencari survival tube lain yang resmi. Memangnya apa yang sedang kau rencanakan dengan sekumpulan berandal itu sampai-sampai kau mau menggunakan survival tube tidak resmi?” Baekhyun sekarang kedengarannya mengomel.

Dia pasti bukan tipe orang yang suka jika perkataannya dipotong secara sebelah pihak. Ah, tindakannya sekarang mengingatkanku pada saat-saat dimana kami berdebat dan bertengkar.

“Aku baik-baik saja, kurasa.” kalau kupikir-pikir lagi, bukannya survival tube ini yang membuat kinerja jantungku jadi tidak normal, tapi Baekhyun.

Kapan terakhir kali aku menyadari kalau Baekhyun divisualisasikan secara sempurna oleh permainan ini? White Tiger yang disebut-sebut sebagai player tertampan dalam server saja tidak pernah terlihat begitu sempurna dalam pandanganku.

Tapi mengapa Baekhyun justru terlihat sempurna dalam tiap detil yang kulihat?

“Tadi kau bilang kalau survival tube ini tidak cocok untukmuS. Sekarang kau bilang kau baik-baik saja. Apa yang salah denganmu, Jiho?”

Tidak ada yang salah denganku, kau yang salah, Baekhyun, kau yang salah.

“Lupakan saja, aku hanya belum terbiasa dengan survival tube ini.” aku berkilah. Mana mungkin aku katakan pada Baekhyun tentang tiap detil dalam visualisasinya yang membuatku terpesona?

Dia mungkin mengira aku tidak ada bedanya dengan SelynMa yang berusaha mendekatinya hanya karena dia tampan dan dia ada di invisible mode. Tapi memangnya Baekhyun akan berpikir seperti itu tentangku?

Benar, Baekhyun pasti pernah berspekulasi tentangku, bukan?

“Baekhyun,”

“Hm?”

“Apa kau pernah berpikir kalau aku mendekatimu hanya karena kau punya visualisasi yang tampan dan kau ada di rank tinggi juga ada dalam invisible mode?” tanyaku membuat Baekhyun menatapku dengan sudut bibir terangkat.

“Bahkan tanpa aku berpikir begitu, bukankah jawabannya sudah jelas?”

“Apa?” aku menatap tidak mengerti.

“Memangnya seperti apa visualisasiku terlihat?” ia balik bertanya.

“Apa maksudmu?” aku makin tidak mengerti karena ucapannya.

Baekhyun menghela nafas panjang sebelum dia buka suara. “Hal pertama yang membuat seorang player jadi ‘menarik’ dalam permainan ini adalah rank-nya. Hal kedua adalah visualisasinya. Lalu saat player tersebut punya hal-hal keren seperti misalnya masuk dalam invisible mode, bukannya dia jadi tiga kali lipat menariknya?”

Baiklah, Baekhyun memang tidak terdengar seperti seorang yang terjebak dalam waham ‘aku’ dimana dia dipenuhi rasa percaya diri dan narsisme tentang dirinya sendiri. Tapi perkataannya entah mengapa terdengar begitu benar dan masuk akal meski tiap katanya seolah terlalu penuh percaya diri.

“Benar juga, tapi menurutmu aku juga begitu?” tanyaku dijawab Baekhyun dengan anggukan yakin.

“Kau sendiri pernah mengatakannya. Apa kau lupa? Lagipula, kau tidak bisa berbohong dengan berkata kalau kau tertarik padaku karena kau sudah mengenalku. Sudah jelas kau juga pasti tertarik padaku karena tiga hal itu, bukan?”

Lagi-lagi dia terdengar terlalu percaya diri, tapi perkataannya benar adanya.

“Memang iya, tapi belakangan karena sudah mengenalmu aku jadi tidak begitu memperhatikan tiga hal yang kau sebutkan itu.” kataku akhirnya.

“Aku tahu, karena aturan kehidupan dalam game dan aturan kehidupan nyata itu sebenarnya tidak jauh berbeda. Di kehidupan nyata juga seseorang yang menarik secara visual dan finansial pasti akan lebih mudah menarik perhatian, bukan?”

“Apa kau juga seperti itu di kehidupan nyata?” tanyaku, menyadari bahwa Baekhyun di kehidupan nyata pastilah terlihat lebih ‘menarik’ secara visual dibandingkan dalam gambar hologram seperti sekarang.

Dan juga, kalau dia benar-benar seorang jenius komputer seperti yang aku tahu sekarang, dia pastilah seseorang yang berasal dari keluarga berada, yang membuatnya ‘menarik’ dalam hal lain juga.

“Mengapa kita jadi membicarakan hal ini?” Baekhyun berkata, caranya bicara sekarang sudah membuatku tahu kalau dia tidak merasa nyaman karena pertanyaan yang kuutarakan. Meski aku ingin tahu mengapa Baekhyun merasa tidak nyaman karena pertanyaan tentang kehidupannya, tapi aku tahu memaksanya untuk menjawab bukanlah hal yang seharusnya aku lakukan.

“Karena aku pikir kau menyamakanku dengan SelynMa.” ucapku membuat Baekhyun tergelak.

“Astaga, Jiho. Mengapa kau berpikir begitu? Kau jelas tidak sama dengannya.” ucap Baekhyun, tentu saja aku tahu aku tidak sama dengan SelynMa. Aku hanya ingin tahu bagaimana pemikiran Baekhyun tentangku.

Menyerah, aku akhirnya hanya mengangkat bahu acuh, tidak lagi tertarik untuk melanjutkan pembicaraan tentang SelynMa juga tentang bagaimana aku memandang Baekhyun sekarang. Tampaknya Baekhyun sendiri juga tidak merasa nyaman dengan pembicaraan semacam ini.

“Apa kau sudah tahu tentang monthly quest kali ini?” tanyaku akhirnya.

“Wah, kau akhirnya perhatian juga pada server utama.” Baekhyun tersenyum kecil, tampaknya dia ingat tentang kebodohanku—bukan kebodohan juga, sebenarnya, karena pada akhirnya hal itu membawaku pada perkenalan dengan Baekhyun—dulu yang tidak pernah memperhatikan pengumuman di server utama sehingga tidak tahu kalau Baekhyun membuat tantangan pada tiap Town yang dianggapnya bermasalah.

“Aku tidak mau ketinggalan hal-hal ‘besar’ untuk kedua kalinya.” aku berkata.

Baekhyun hanya menjawab dengan anggukan kecil beberapa kali sebelum akhirnya Baekhyun kembali buka suara. “Aku sudah tahu, ada pair quest yang hadiahnya cukup besar. Kupikir WorldWare rutin mengadakan pair quest begini setiap empat bulan.” gumamnya, tidak tampak tertarik pada quest tersebut karena ya, dia sudah melalui puluhan pair quest seperti ini.

“Kau tidak pernah tertarik pada hadiahnya? Kudengar dari player lain kalau hadiah dari pair quest selalu lebih besar jika dibandingkan dengan hadiah dari quest lainnya.” ucapku, teringat pada hadiah yang dulu pernah Ashley dan Taehyung dapatkan—dulu, mereka pernah menjadi pair selama satu bulan hanya karena hadiah yang sama-sama mereka inginkan.

“Tidak tertarik sama sekali. Lagipula kudengar quest kali ini lebih banyak menghadiahkan equipment yang hanya bisa digunakan selama dua player itu tetap menjadi pair. Kalau mereka divorce, semuanya berakhir.”

“Ah…” benar bukan? Aku yakin benar Baekhyun bukanlah seorang player yang teriming-iming oleh hal semacam itu.

“Benar juga… Oh, kau tidak bertanya tentangku tentang battle yang tadi kulakukan?” tanyaku kemudian, tidak lagi menemukan konversasi menarik yang bisa kubicarakan dengan Baekhyun tentang monthly quest.

“Mereka berasal dari beberapa Town berbeda dan tidak juga punya riwayat permainan yang bagus. Meski begitu, permainan mereka cukup baik, aku akui.” Baekhyun menuturkan, sudah bisa kupastikan dia sudah menonton keseluruhan battleku dengan Taeil dan kawan-kawannya tadi.

“Ashley mengajakku keluar hari ini, dan aku bertemu dengan mereka. Kau tahu, Ashley katakan kalau aku sudah terlalu lama menghabiskan waktu dengan game dan terlalu lama mengurung diri dari kehidupan sosial yang sebenarnya di luar sana jadi dia pikir dia harus membantuku keluar dari zona nyamanku itu.” aku berkata.

Baekhyun mendengarkan dengan anggukan pelan, tampaknya dia sudah tidak dalam fase mengomentari atau berprasangka buruk terhadap apa yang aku lakukan dengan Taeil dan kawan-kawannya tadi.

“Kita bicara di sana,” Baekhyun berucap, ia bimbing langkahku mengikutinya sementara dia sendiri melangkah menuju rumah kecil yang terletak di seberang sana.

“Aku sebenarnya tidak pernah merasa kehidupanku bermasalah, sampai akhirnya Ashley membuatku sadar kalau aku sudah hidup bergantung padanya, dan Taehyung juga. Ashley pikir, aku setidaknya harus bisa bertahan hidup di kenyataan juga, tidak hanya dalam game.

“Jadi dia mengenalkanku pada Taeil—Darkpollo itu—dan beberapa temannya, mereka rupanya mau bersaing dengan beberapa tim lain di perusahaan game yang mengembangkan WorldWare. Menurut Taeil, karena aku punya skill bermain yang baik, aku akan bisa mendemokan game modifikasi mereka dengan baik.

“Dan menurutku ide Ashley kali ini tidak buruk—tidak, dia sebenarnya tidak pernah memberiku masukan yang buruk, karena Ashley itu baik. Dan tadi, mereka mencoba untuk melawanku dalam battle, menguji bagaimana caraku bermain, mungkin.”

Kami sampai di rumah persinggahan kecil itu, Baekhyun sendiri sejak tadi menjadi pendengar yang baik, tidak menyelat satu pun penjelasanku. Hal yang kemudian membuatku sadar bahwa aku telah menjelaskan tiap rinci yang seharusnya tidak diketahui Baekhyun secara keseluruhan.

Aih, mengapa pula mulut ini tidak bisa berhenti berceloteh?

“Baiklah, jadi kau mau bergabung dengan tim pengembang percobaan itu karena kau pikir bergabung dengan mereka akan berguna untukmu dan kehidupanmu?” tanyanya sambil duduk di anak tangga teratas yang ada di depan persinggahannya.

“Ya, kupikir begitu. Lagipula, usiaku sudah tidak muda lagi untuk terus bermain game. Ah, akhir-akhir ini bahkan persendianku seringkali terasa ngilu jika aku terlalu lama bermain game dengan menggunakan keyboard.”

Bisa kudengar bagaimana Baekhyun sekarang menahan tawa. Dia bahkan membuang muka ke arah lain untuk menutupi sudut bibirnya yang mengembang membentuk senyum geli.

“Kenapa? Kau sepertinya menahan dirimu untuk tidak tertawa.” kataku membuat tawa Baekhyun meledak. Sungguh, dia benar-benar tertawa seolah apa yang kukatakan adalah kalimat yang kutujukan agar dia tertawa.

“Astaga, aku sungguh tidak percaya kau bisa bicara seolah kau adalah seorang nenek-nenek yang seluruh tubuhnya sudah menua.” Baekhyun berucap di sela tawanya.

“Memang begitu, aku baca di internet kalau ngilu yang kurasakan di buku-buku jari tanganku itu salah satu tanda peradangan sendi. Meskipun aku tidak tahu apa maksudnya itu, tapi di sana dikatakan kalau hal itu bisa terjadi karena faktor usia.” ucapku kembali membuat tawa Baekhyun pecah.

Apa sebenarnya yang benar-benar dianggapnya lucu?

“Berhentilah tertawa, Baekhyun. Kau belum merasakan berusia dua puluh sembilan tahun makanya kau bisa tertawa begitu.” ucapku.

“Setidaknya saat aku ada di usiamu aku tidak akan punya keluhan yang sama. Seperti ucapanmu tadi, kau terlalu lama mengurung diri dalam aktifitas monoton dan kurang memperhatikan kesehatanmu. Jadi jangan salahkan tubuhmu kalau dia mengeluh sakit.” ucap Baekhyun menyadarkanku akan satu hal, Baekhyun pasti bukan seorang sepertiku di kehidupan nyata.

“Lagipula, mengapa kau masih hidup seperti player kuno?” Baekhyun rupanya juga memikirkan hal yang sama denganku.

Sudah pasti, Baekhyun bukanlah player game yang mengurung diri dari kehidupan sosial. Ah, mengapa pula aku dulu memilih untuk menjalani kehidupan yang dijalani player game zaman dulu? Yah, memang dulu kebanyakan player game online akan jadi seorang antisosial yang mengurung diri di kamar seharian hanya untuk bermain game.

Tapi masa-masa itu sudah lama berlalu. Sekarang, kupikir aku bisa menduga kalau semua orang yang kutemui di luar sana mungkin adalah player game yang bisa menjalani kehidupan mereka dengan baik.

Sudah belasan tahun berlalu sejak kejadian mengerikan itu terjadi dan mengubahku jadi seperti ini. Tapi aku masih juga terkurung dalam ketakutan.

“Aku punya trauma, Baekhyun.” ucapku.

“Trauma? Trauma apa?” tanya Baekhyun membuatku terdiam sejenak.

Tidak ada yang pernah tahu tentang kehidupanku, hanya Ashley dan Taehyung yang tahu karena keduanya telah menghabiskan selama lebih dari enam tahun denganku. Keduanya, telah menyelamatkanku. Tidak, khususnya Taehyung, Taehyung lah yang sudah menyelamatkanku kala itu.

Dan sekarang, apa aku siap untuk menceritakan kehidupan kelam itu pada Baekhyun?

“Kedua orang tuaku dibunuh… di rumah. Saat itu usiaku baru tujuh belas tahun. Aku ingat, ibu dan ayah baru saja menghadiahiku perangkat komputer dari hasil kerja keras mereka, dan malamnya aku terbangun karena suara tembakan.

“Dari celah pintu, aku lihat bagaimana ibu dan ayah dipukuli sebelum akhirnya keduanya dibunuh. Karena aku menangis saat itu, mereka melihatku dan kemudian memaksaku untuk ikut dengan mereka. Kurasa aku sempat tak sadarkan diri beberapa hari, karena saat aku terbangun aku sudah terkurung dalam ruangan sempit berpenerangan minim dengan dua orang berpakaian militer yang berdiri di pintu.

“Saat itu, aku pikir aku akan menghadapi kematian. Tapi ternyata tidak, ternyata kematian itu justru jadi harapan yang konyol. Mereka justru memberiku seperangkat komputer, memaksaku untuk memecahkan coding-coding yang tidak kumengerti tapi aku ketahui jadi bagian dari pekerjaan ayah dan ibu.

“Aku justru menaruh ketertarikan pada game, dan memilih untuk menghabiskan waktuku untuk mengakses beberapa game online meskipun aku tahu mereka sudah tahu apa yang kulakukan di dalam ruangan sempitku. Jadi keesokan harinya, mereka akan memblokir situs game yang kumainkan. Walau akhirnya aku temukan situs lain lagi.

“Apa kau tahu bagaimana tersiksanya aku karena dikurung di tempat itu selama beberapa tahun? Aku sudah terbiasa hidup dalam kungkungan, jadi saat tiba-tiba saja tempat itu berubah kacau dan memberiku kesempatan untuk berlari, aku justru ketakutan.”

Aku terhenti sejenak, memberi Baekhyun kesempatan untuk mendengarkan ceritaku dulu sebelum aku kemudian melanjutkan.

“Tapi aku tahu aku tak bisa berdiam, jadi aku memilih untuk pergi. Dan aku tahu, aku bukan satu-satunya orang yang terkurung di sana. Aku berlari di lorong panjang tanpa akhir, aku terus berlari mengikuti nalar sampai kutemukan pintu keluar.

“Keramaian di luar sana justru lebih membuatku takut, Baekhyun. Cara orang-orang menatapku, cara mereka menghindariku yang saat itu tertatih kesakitan, semuanya begitu mengerikan.

“Aku kemudian roboh karena rasa sakit luar biasa yang kupikir akan membunuhku. Di sanalah aku bertemu dengan Taehyung. Saat itu Taehyung rupanya tengah membolos sekolah saat dia menemukanku sekarat, dan dia menolongku.

“Mess itu milik perusahaannya, dan selama beberapa tahun ini aku juga hidup dengan menggantungkan kehidupanku pada Taehyung. Aku tidak menyelesaikan sekolahku, dan tidak juga merasa kehidupan sosial di luar sana menerimaku. Kurasa hal itu yang membuatku hidup dengan tenang saat menyendiri.”

Baekhyun terdiam mendengar penuturanku.

“Jadi, kau melihat kedua orang tuamu dibunuh, dan kau diculik juga dipaksa untuk melakukan hal yang tidak mampu kau lakukan. Kemudian saat kau terbebas tanpa alasan yang kau tahu, kau bertemu dengan Taehyung?”

“Hmm, aku mungkin dikurung di tempat itu selama dua atau tiga tahun, tapi rasanya seolah seumur hidup sudah kuhabiskan di tempat mengerikan itu.” ucapku.

“Dimana tempat itu? Tempat mengerikan yang kau ceritakan?” tanya Baekhyun.

“Aku tidak tahu pasti, karena aku tidak pernah mendengar berita tentang tempat itu sampai sekarang. Tapi Taehyung sepertinya tahu, aku hanya terlalu takut menanyakannya pada Taehyung. Dia pernah mengatakan padaku kalau di tempat itu ada beberapa orang hacker yang terbunuh karena tugas militer.

“Taehyung katakan kalau aku diculik karena orang-orang di sana berpikir aku adalah seorang hacker juga. Dan menurut Taehyung, aku juga hampir terbunuh karena mereka. Dia diberitahu oleh dokter pribadinya—dokter yang menyelamatkanku—kalau ada semacam chip di bagian belakang otakku yang saat itu berpotensi membunuh.”

Lagi-lagi Baekhyun terdiam saat mendengar penuturanku. Apa sekarang dia berpikir kalau aku adalah seorang pembual karena ceritaku yang begitu terdengar tidak masuk akal?

“Mengapa menatapku seperti itu?” tanyaku pada Baekhyun.

“Tidak, aku hanya penasaran tentang kedua orang tuamu. Dari penjelasanmu sepertinya mereka bekerja untuk negara, dalam hal cyber.” ucap Baekhyun.

“Memang benar. Ayahku adalah seorang detektif dalam divisi cyber crime dan ibu adalah seorang programmer. Kalau tidak salah, dulu ibu tengah mengembangkan system yang dia tujukan untuk membantu ayah dalam pekerjaannya.

“Kurasa, sesuatu yang ada hubungannya dengan cyberviral dan hacking. Dulu, hacker memang sempat membuat negara ini kacau karena ulah mereka, dan ibu sudah melakukan beberapa percobaan tentang antidote pada cyberviral yang menurut ibu bisa dimanipulasi untuk digunakan menjebak cyberviral juga penciptanya.”

Baekhyun mengangguk-angguk mendengar penjelasanku.

“Ah, begitu rupanya. Pantas saja kau begitu mengurung diri seperti playerplayer game online dahulu. Trauma itu pasti masih menghantuimu sampai sekarang.” ucap Baekhyun, tidak bisa kudengar dengan jelas empati yang dia berikan sekarang padaku.

Tapi setidaknya dari ucapannya aku bisa tahu kalau dia berusaha menaruh rasa kasihan padaku.

“Jangan khawatir, aku bukan seorang yang terjebak dalam masa lalu. Aku hanya merasa ragu-ragu untuk memulai kehidupanku, itu saja. Oh, aku diingatkan oleh Taeil untuk tidak online dalam survival mode lebih dari dua jam, omong-omong.” aku kemudian tersadar pada waktu yang telah kuhabiskan saat bersama dengan Baekhyun.

Mengapa waktu yang kuhabiskan untuk berdebat dengannya bisa berlalu lebih lambat dibandingkan waktu-waktu damai seperti ini?

“Hmm, lebih baik kalau kau segera logout. Kupikir mereka juga ingin bicara banyak denganmu. Tidak sopan kalau aku terus memaksamu untuk ada di sini.” tanpa sadar aku merasa geli karena mendengar ucapan Baekhyun sekarang.

Tadinya dia terdengar seperti seseorang yang ingin menyudutkanku dan memaksaku online, sekarang dia bicara seolah mengusirku secara halus.

“Baiklah, aku juga harus segera menemui Taehyung saat pulang nanti, jadi mungkin aku akan online sedikit terlambat.” ucapku.

“Mengapa kau mau menemuinya?” tanya Baekhyun kemudian.

“Ah, aku akan meminta Taehyung menjadi pairku.”

“Apa?” nada bicara Baekhyun terdengar meninggi.

“Mengapa? Ashley sudah punya Taeil sebagai pairnya untuk quest kali ini. Dan aku menginginkan red robe yang jadi tawaran hadiahnya jadi aku akan mengajak Taehyung untuk jadi pairku, sehingga kami bisa memenangkan quest bulan ini.”

“Bagaimana bisa kau bicara seperti itu saat aku ada di sini?” pertanyaan Baekhyun sekarang membuatku tidak mengerti.

“Kenapa? Taehyung bukan player yang lemah.” ucapku.

“Maksudku, bagaimana kau bisa berniat untuk menjadi pair player lain padahal ada aku di sini? Memangnya aku tidak cukup kuat untuk jadi pairmu?”

Sontak jantungku melompat karena ucapan Baekhyun.

“M-Maksudmu?” tanyaku ragu, kupikir Baekhyun sedang tidak sehat, bagaimana bisa dia tiba-tiba saja bersikap begini padahal beberapa hari lalu dia katakan dia tidak pantas untuk jadi pairku dan membuatku mengira kalau akulah yang tidak cukup pantas untuk jadi pairnya?

“Aku seorang yang menduduki rank tertinggi, aku juga bukannya tidak punya jutaan pouch seperti player yang dikatakan kaya raya seperti player lainnya. Mengapa harus Taehyung? Mengapa kau tidak memintaku saja untuk jadi pairmu?” pertanyaan Baekhyun sekarang mencecarku.

Ucapannya membuatku merasa seolah aku adalah wanita tidak tahu diri yang memilih kebahagiaan bersama pria lain yang kutemui di kencan buta padahal di hadapanku ada pria yang sama kayanya dengan pria yang kupilih.

“Kenapa… kau mengatakannya seolah aku melakukan kesalahan?” tanyaku hati-hati.

“Itulah mengapa aku selalu berpikir kau tidak memahami apapun, Jiho. Kau tidak pernah paham apapun yang aku katakan padamu. Aku bahkan dari awal sudah mengatakan padamu tentang ketertarikanku padamu.

“Kau dan aku bisa jadi perfect match yang mematikan dalam quest bulanan ini, tapi kau malah memilih Taehyung? Wah, konyol sekali penolakan yang aku dapatkan.” ucapan Baekhyun lagi-lagi menyudutkanku.

“Konyol? Kenapa kau mengatakan itu? Aku bukannya tidak tahu, tapi aku berusaha untuk tidak percaya diri, Baekhyun. Menurutmu mengapa aku mengikuti tiap langkah dan hembusan nafasmu yang kau lalui dalam kegelapan dan kemisteriusan itu?

“Aku satu-satunya yang terus berlari mengejarmu. Aku selalu jadi satu-satunya yang mencari-cari keberadaanmu. Apa kau masih tidak mengerti perasaanku? Kau pikir untuk apa aku terus mengikutimu? Hanya karena tiga alasan yang kita bicarakan tadi? Tidak, Baekhyun.

“Aku berusaha memberitahumu tentang bagaimana inginnya aku mengikuti quest bulanan ini, tapi kau tadi dengan cueknya mengatakan kalau kau sama sekali tidak tertarik. Apa kau lupa? Sekarang, kenapa pilihanku pada Taehyung justru jadi kesalahanku?”

Baekhyun terdiam, agaknya dia tertohok karena perkataanku memang benar adanya. Memang, Baekhyun pernah mengatakan kalau dia tertarik padaku. Tapi sampai detik ini aku tak tahu apa maksud ketertarikan yang dibicarakannya.

Dan bukannya aku tidak tertarik pada Baekhyun. Aku pernah membicarakan soal bagaimana sempurnanya Baekhyun untuk jadi seorang pair. Tapi aku tidak juga menganggap diriku cukup pantas untuk bersanding dengan seorang player nomor satu sepertinya.

“Benar, kesalahanku karena tidak paham tentang ketertarikanmu pada quest bulan ini. Maaf, Jiho.” Baekhyun akhirnya bicara.

Beruntung dia bukannya seorang dengan emosi membabi buta yang tidak bisa dicegah. Tidak sepertiku yang butuh waktu berjam-jam untuk menyadari apa yang sudah aku lakukan, Baekhyun rupanya berpikir lebih cepat.

“Aku juga minta maaf, karena sudah mengatakan padamu soal keinginanku menjadikan Taehyung sebagai pair di quest ini.” kataku, lagi-lagi aku merasa seolah aku adalah seorang wanita yang ketahuan berbuat salah.

“Jadi, apa kau sekarang tertarik pada quest ini?” tanyaku.

“Ya, setidaknya karenamu aku jadi tertarik.” sahut Baekhyun membuatku tanpa sadar mengulum senyum. Apa itu artinya dia… ah, membayangkan diriku bersanding sebagai pair Baekhyun mengapa membuat jantungku kembali berdegup tidak karuan?

Apa ini perasaan yang Ashley rasakan pada Taeil? Apa ini… yang orang-orang katakan sebagai istilah cinta virtual? Tidak, mana mungkin. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada Baekhyun, bukan?

“Lalu, Baekhyun, apa kau mau menjadi—”

“—Tidak, maaf memotong ucapanmu. Tapi jangan katakan itu, Jiho.” Baekhyun berkata, lagi-lagi dia membingungkanku.

Tadi aku sudah cukup yakin berpikir bahwa dia tidak mau Taehyung menjadi pairku. Lantas sekarang ada apa dengan ucapannya? Dia mengatakannya seolah dia enggan menjadi—

“Seorang pria lah yang seharusnya mengatakan hal itu.”

—tidak, dia bukannya enggan. Dia masih menggunakan cara kuno dimana seorang pria lah yang sepantasnya mengutarakan ketertarikan atau keinginan untuk hidup bersama wanita yang diinginkannya.

Oh, Tuhan. Bagaimana sebenarnya Baekhyun dibesarkan? Sejak awal aku mengenalnya aku tak pernah melihat Baekhyun melanggar tata norma kesopanan yang ada. Apa dia memang punya karakter seperti ini?

“Jiho.”

“Ya?” aku menatap Baekhyun saat ia kembali buka suara. Lagi-lagi senyum tanpa sadar muncul di wajahku saat kulihat sebuah Wild Rose sudah terselip di antara dua jemari Baekhyun di tangan kanannya.

“Aku tidak yakin bagaimana memulainya, kita bahkan tidak berada di tengah-tengah suasana romantis seperti yang mungkin kau bayangkan dan kau inginkan untuk jadi momentum yang bagus untuk memulainya.

“Tapi, kau tahu aku, dan baik aku maupun kau, kita sama-sama menaruh ketertarikan satu sama lain jadi… maukah kau menjadi pairku?” Baekhyun berucap.

“Tentu saja.” aku menjawab dengan mantap.

“Tidak, maksudku. Aku menginginkanmu, Jiho. Bukan hanya karena quest bulanan ini—ya, memang keberanianku ini muncul karena niatanmu menjadikan Taehyung sebagai pair—tapi kali ini aku bukannya memberikan Wild Rose-ku untuk menjadi pairmu selama satu bulan ini melainkan selamanya.

“Aku hanya akan satu kali memberikan Wild Rose milikku, dan aku ingin kau jadi satu-satunya player wanita yang pernah meneirma Wild Rose dariku. Karena aku juga tidak akan melepaskanmu, jadi kau mungkin akan jadi wanita dari seorang posesif sepertiku. Apa… kau bersedia? Menjadi pendamping hidupku, Song Jiho?”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Pertama ngetik level ini rasanya kudu mentok di halaman ke-lima. Terus semakin malem ngetiknya makin ngaco dan ngelantur, tetiba aja udah mumbul sampe dua puluh halaman. Terus di akhir mau ditambahin lagi tapi aku sadar diri… kalo level ini udah overload sampe lima ribu kata T.T

Aku udah bilang belum di level sebelumnya kalo level ini termasuk level panas? LOLOLOL. Ini padahal isinya cuma Baekhyun-Jiho doang tapi kenapa bisa bejibun gini kalimatnya T.T

Yah meskipun jawaban Jiho masih ada di level berikutnya tapi enggak apa sih di sini ada baaaaannnyyaaaakkkk cerita yang patut diingat dan dicurigai (apaan banget) karena nanti di akhir bakalan muncul sebagai flashback, cie Irish gabisa mupon cie.

Dan juga, ada yang keinget sama ‘sesuatu’ enggak pas baca level ini? Pasti ingetnya sama Kangmas Tae yang enggak muncul selama beberapa level ya :v

BTW, itu Cabe kayak orang ngajak anak orang kawin, kata-katanya gitu banget, dia belajar darimana padahal dia itu hobinya ngajakin battle mulu sama player lain. Gayanya aja di awal enggak demen sama quest begituan, pas tau Jiho mau sama Taehyung aja baru cemburu enggak jelas.

Eh, enggak cemburu juga sih. Itu bukan cemburu ya? /kemudian ditendang/ ya gitu ambigu sih. Antara dia sentimen sama Taehyung atau dia itu beneran niat sama Jiho. Semua kalimat Baekhyun itu ambigu, eksistensi dia bahkan ambigu.

Spoiler lagi ah :v kalo level depan akan terlahir pairing baru (bukan Baekhyun-Jiho loh ya, jangan suudzon) iyeah, diriku suka jodoh-jodohin anak orang di game ini, LOLOLOL. Btw egen, pakabar Taeil, dkk yang udah dianggurin seminggu…

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

18 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 14 [Perfect Match] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Lv. 15 [Dawn Attack] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Lalalaala… Maaf kak ane terlambat komennya.. 😩
    .
    .
    dididiid.. ceritanya nihh.. waktu ane baca nih ff ,, KK sepupu juga lagi dikamar aku,, lagi ganti baju gitu(perempuan loh ya) nah ane waktu baca ini senyum2 and ketawa ketiwi sendiri gitu.. eeehh dianya liatin nya aneh gto kak.. kaya khawatir aku nya jadi stress karena kemaren minta beli tiket mubank ini Jakarta Ampe nangis2 ga diturutin.. bwahahahaha.. liat ekspresinya itu loh bikin tambah ngakak.. gak tau dianya kalo aku begini karenamu kak Risa … Bwahahahaha 😄

    • Aku pernah bilang enggak kalo ff aku itu abnormal dan seringkali bikin efek abnormal juga XD kayaknya kamu sudah terinvasi sama salah satu efek abnormalnya XD wkwkwkwkw tapi thanks yaa… aku enggak sempet galau MuBank saking sibuknya sama imunisasi MR :”””

  3. Aaaaaa aku jga mau di lamar keg gtu,,, ya ampun cabe kmu makin bangsat aja,,posesif?? Gpp deh klau kmu posesif ama aku baek😘😘

  4. Ya LOOOOOOORRRDDD

    TERCYDUK HATI AKU DI MALAM MINGGU INI
    AW AW AW AKU JATUH CINTA SAMA BAEKYUN DI SINIII
    AKHIRNYA KELUAR JUGA WILD ROSE NYA
    ANAK PERAWAN AKHIRNYA DILAMAR!! (Semoga diterima, Amin)

    G sia sia nungguin update FF ini tiap minggu…
    Daebak thooorr.. Hwaiting!!!

  5. Finnaly update juga haha… Njirr si baekhyun bikin anak orang salah paham mulu.. Udah gitu gue ikutan senyum” sendiri gara” kalimatnya yang ambigu wkwk.. Ga sabar buat baca level selanjutnya. Btw aku ga ngerti sama yang cyber viral itu maksudnya apa hehe level ini agak sedikit membuat diriku berpikir lebih karna kata”nya tapi makin keren aja.. Cepet lanjut ka rish aku tunggu level selanjutnya semangat lanjut ^^

  6. ka irish….. ini squelnya Liv??? masaaa?
    berasa si jiho ini dulu dikurung satu tempat sama baekhyun sama sehun juga?
    si jiho ini kenal sama sehun juga kan di gameover? gimana bisa?????

    jadi makin penasaran sama cerita nya ini….
    tentang masa lalu mereka semua, sama kelanjutan masa depan jiho yang bilang ” Yes!” dilamar baekhyun 😀
    jadi pengen ngeskip minggu ini biar kak irish cepet update level selanjutnya wkwk

    kak irish semangat yah, aku tunggu level yang lebih hot dan pedes dari ini, // macam pesen level ayam geprek ajah wekeke….

    • IH KAMU SPOILER……… KAN AKU MAU BAHAS HUBUNGAN INI FF SAMA LIV NANTI AJA DI AKHIR, KENAPA DI SPOILER DI SINI XD XD XD WKWKWKWK dan yes, ingetan kamu luar byasah sekalii ! sini aku peluk XD

  7. jiho yang dilamar saya yang deg-degan
    aduh kak, diri ini jejeritan dengan kalimat terakhir itu.. aduuh baek jangan posesif amat yah…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s