[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür (Chapter 10)

die geheime tur- cover

Tittle : Die geheime Tür

Author : devrizt

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Campus Life, Friendship, Night life

Rating : PG-17

Cast :  Jonathan Virgio S (OSH) (main cast)

Additional Cast

  • Guntur Putra Mandala (KAI)
  • Keynal Mahesa (PCY)
  • Antares Praditya (BBH)
  • Alandio Fazzikri Mulhaq (DO)

Akan ada pemeran wanita pastinya yang nantinya akan muncul seiring berjalannya cerita~

 

Summary : Aku tidak pernah memikirkan jika aku mulai membuka pintu itu akan ada ledakan dahsyat yang terjadi di kehidupan ku.

Disclaimer : Cerita ini merupakan murni hasil pemikiran dari author mulai dari yang bener sampai yang agak rusak sedikit(?) tapi masih batas wajar, jika ada kesamaan tokoh atapun latar, itu semua terjadi atas ketidak sengajaan.

Warning : author hanya manusia biasa yang kadang salah so, im so sorry if theres (many) typos.

See more chapter or story at https://www.wattpad.com/user/devrizt

A/N   :  Untuk yang punya wp dan berminat melihat lihat silahkan check watpadnya ya hehe thankyou soo much ~~

 

 

 

 

 

 

 

Sepuluh – A Sweet Little Family

Sebuah dosa besar memang berbohong. Semua agama juga mengatakan berbohong itu sebuah dosa. Tapi sepertinya ini tidak terhitung. Nathan berbohong kalau hari ini dia ada asistensi. Semua asistensi sudah dia lakukan di minggu lalu, minggu ini adalah minggu tenangnya. Dan minggu depan adalah minggu terakhir sebelum keberangkatannya.

Kenapa Nathan harus berbohong? Entah. Jaga image mungkin. Hal seperti itu adalah hal yang paling mungkin untuk Nathan. Nathan terlihat dewasa, tapi terkadang dia terlalu bodoh untuk menjadi dewasa kalau urusan dengan image dan gengsinya yang besar itu.

Nathan biasanya tidak terlalu perduli dengan fashion tapi hari ini, bisa dibilang dia sangat stylish dengan gaya casualnya. Biasanya dia ke kampus hanya dengan pasangan kaus oblong polos dan celana jeans dan sepatu converse yang diinjak, hari ini dia memakai kaus hitam, celana jeans dan dipadukan dengan bomber jacket. Sepatunya juga tidak diinjak. Sama saja sepertinya hanya lebih rapi.

Nathan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang tadi pagi buta meneleponnya itu hanya karena panik.

“Dimana?”

“Baru masuk kantek. Lo dimana? Gue kesana aja.”

“Tunggu di halte fakultas, gue keluar parkiran.”

Sebenarnya Nathan baru masuk kampus. Dia sengaja mengambil jalan yang berputar. Membuat kebohongannya sempurna sudah.

Nathan sampai di depan halte jurusan dan Kirana pun masuk ke dalam mobilnya. Percayakah kalian pada kebetulan? Nathan dan Kirana menggunakan setelan yang hampir mirip. Untungnya warna sepatu mereka berbeda.

“Udah lama di kampus? Sori ya lama.” Nathan mengambil jaket yang tadinya di jok sebelahnya untuk dipindahkan ke jok belakang.

“Nggak kok, gue tadi abis datang ke acara jurusan.”

Nathan melihat ke arah Kirana sambil mengemudikan mobilnya. “Tumben lo pake gelang jurusan.”

Kirana melihat tangannya sebentar, “Biasa gelang jurusan, bantuin adek kelas danusan. Lo mau beli? Hahaha.”

“Kalo jualnya civil engineer gue mau beli sini tapi rainbow color.”

“Hah, itu mah lo pesan aja sendiri, atau boleh sini gue buatin pake kertas mau?” jawab Kirana sebal.

“Waelah gitu aja marah sih lo. Hahaha.” Nathan menggerakkan tangan kirinya menjepit kedua pipi Kirana. Sepersekian detik kemudian Nathan mengembalikan tangannya kikuk menyadarinya.

“Sori-sori Ran, gue biasa ngusilin Hanna jadi gitu. Sori-sori.”

“Hih, nyebelin lo.” Kirana memukul lengan Nathan dengan brosur yang tergeletak di dashboard mobil dan mereka tertawa.

Setelah sekian banyak kejadian aneh yang mereka temui, akhirnya mereka berada di titik yang pantas disebut sebagai teman mungkin, mereka sudah tidak di hadapkan pada situasi yang membuat mereka berdua harus saling membenci seperti saat pertama bertemu karena ketidak sukaan mereka satu sama lain.

Sedinginnya es, akan cair pada akhirnya jika bertemu dengan suhu yang hangat. Siapa yang membawa kehangatan itu? Dan siapakah es nya? Biarkan waktu yang membukanya. Sang waktu pun turut membantu dalam pencairan itu bukan?

oOo

Sesampainya mereka di toko buku itu, Nathan bertemu dengan bapak pemilik dan menceritakan kekhawatiran Kirana. Bapak pemilik pun mengerti dan menunjukkan tempat dimana kertas-kertas yang hilang itu di arsipkan. Buku yang Kirana pinjam adalah salah satu buku yang sulit di cari sekarang ini, dan bapak pemilik juga tidak meminjamkan ke sembarang orang.

Beliau juga mengatakan kenapa tidak mengembalikan kertas itu ke dalam bukunya karna di khawatrikan malah akan hilang sekalian dan jika di lem membuat rusak lipatan buku itu akhirnya malah akan lepas semua.

Nathan dan Kirana saat ini berada di tempat waktu itu. Bersama teh beraroma vanilla dan donat dari restoran di bawah. Dibawah lampu yang sama dan dengan buku yang sama. Kirana masih membaca buku itu sedangkan Nathan hanya menikmati malam.

Nathan memperhatikan Kirana. “Lo mau ngabisin buku itu disini? Bisa nggak balik dong gue.”

“Ya sana kalau lo mau balik. Gue bisa sendiri kok.” Kirana cemberut sedikit walaupun tertutup buku, tapi masih bisa terlihat sedikit.

“Lo bisa juga ya kaya anak kecil gitu. Hahaha.” Nathan tertawa geli melihat respon Kirana.

“Lagian gue udah mau selesai. Ternyata gue sanggup ngehabisin sehari.”

“Iya,iya bawel. Gue turun dulu ya, mau bayar.” Nathan beranjak dari kursinya setelah menerima anggukan dari Kirana.

oOo

Antrean di bawah rupanya cukup memakan waktu lama sampai Kirana sanggup menyelesaikan bukunya sampai halaman terakhir. Di luar mulai terdengar suara gemuruh dan hujan pun mulai turun. Hujan terus turun dan semakin deras. Nathan kembali ke ruangan atas melihat punggung Kirana yang sedang menatap ke arah balkon yang perlahan dibasahi oleh air hujan.

Nathan menghampiri perlahan sambil melepas bomber jacket miliknya, dan meletakkan di atas kepala Kirana sampai Kirana tidak bisa melihat apapun.

“Apaan sih anjir.” Kirana kebingungan mencari arah karena tertutup jaket Nathan.

“Pake jaket gue buat nutupin kepala lo, gue mau ambil mobil, lo tunggu di ujung gang lewat pintu samping ya.” Tidak menunggu jawaban, Nathan langsung meninggalkan Kirana menuju pintu.

“Oh iya, lo turunnya nanti aja kalau gue telfon baru turun.” Nathan keluar ruangan dan segera mengambil mobilnya.

oOo

Hujan itu sebenarnya menguntungkan. Terkadang hujan membuat jalanan sepi, karena banyak pengendara motor yang lebih memilih menepi dibandingkan menerobos. Mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai rumah Kirana. Nathan menepikan mobilnya di depan pagar Kirana.

“Gue gimana keluarnya. Deras gini.” Kirana bergumam sendiri.

“Lompat sana lewat belakang. Hahaha.” Nathan mendengar dan menjawab.

“Tersenyum pun gue sulit, Nat. Nggak lucu lo.”

“Bentar.” Nathan keluar dari mobil dan berlari menerobos hujan, membuka bagasi belakangnya dan membuka sebuah payung biru dongker yang berukuran cukup besar. Nathan berjalan menuju pintu Kirana dan membukanya.

Please take my hand, my princess.” Nathan tertawa.

“Basi lo Nat.” Kirana terkikik dan keluar dari mobil Nathan. Nathan merangkul sedikit punggungnya mendekat agar tidak ada air yang jatuh ke tubuh Kirana.

Kirana sampai di depan pagarnya dan seorang wanita kira-kira berumur mendekati 45 membukakan pagarnya dan tersenyum.

“Bunda, masuk bun. Diluar basah.” Ucap Kirana setelah dia memasuki bagian terasnya.

Nathan hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Ibu Kirana.

“Masuk dulu Nak, hujannya deras.” Ajak bunda.

“Nggak usah tante, saya nganterin aja kok.” Nathan menolak dengan halus.

“Masuk aja Nak, bajumu basah, nanti masuk angin. Ayo masuk.” Bunda menarik tangan Nathan dan tersenyum dengan tulus. Nathan tidak bisa menolak dan akhirnya menuruti kata Bunda.

Rumah Kirana memang tidak sebesar rumah Nathan. Begitu masuk kerumahnya, terdapat banyak figura foto-foto keluarga Kirana di meja sebagai hiasan ruang tamu.

“Duduk dulu,Nak. Bunda buatkan teh dulu ya.” Bunda menyuruh Nathan duduk dan langsung kembali ke dapur.

“Makasih banyak tante, nggak usah repot-repot.” Nathan duduk dan melihat-lihat sekitar. Tanpa disadari dia tersenyum saat melihat figura yang didalamnya terdapat dua anak kecil. Yang laki-laki seperti umur sekitar tujuh tahun dan yang perempuan mungkin balita.

“Lo belajar service cewe kaya tadi dari mana? Udah mahir banget kayaknya.” Kirana datang tersenyum meledek sambil menyerahkan handuk untuk mengeringkan rambut Nathan yang basah.

“Biasa fan service. Fans gue banyak, Ran.” Nathan menerima handuknya dan mulai mengusap rambutnya.

“Siapa sih? Hanna? Hahaha.” Kirana tertawa.

“Itu sih iya. Lo juga kan?”. Nathan menggoda.

“Kalau di dunia ini nggak ada laki-laki lagi.  I’ll say yes.”

So, I must be the only one you have at that time.” Nathan menatap Kirana serius.

“Gombal lo. Basi. Hahaha.” Kirana merebut handuk Nathan dan menutup mata Nathan seperti penculik yang siap menyekap orang.

“Gila, gue bisa mati kalo lama-lama sama lo.” Mereka berdua tertawa dan sibuk bercanda, sampai Bunda memanggil Kirana dan Nathan untuk makan malam.

Malam itu, Nathan, Kirana, dan Bunda makan malam bersama di rumah Kirana. Bunda bercerita banyak hal pada Nathan. Seperti pada umumnya para ibu yang akan membeberkan seluruh rahasia anaknya pada temannya, hal itu dilakukan bunda didepan Nathan.

Nathan mengetahui banyak hal malam itu. Tentang Kirana yang tidak suka menangis saat mendengar petir saat masih kecil, tentang Kirana yang pernah bersembunyi didalam lemari hingga tertidur karena takut dibawa ke dokter gigi, tentang Kirana yang dulu sulit mengeja namanya menjadi Kiana, tentang makanan kesukaan Kirana sampai yang tidak disukainya, sampai fakta tentang Kirana yang alergi terhadap seafood.

Nathan hanya bisa tertawa melihat reaksi Kirana yang sibuk membantahnya dan sang Bunda yang sangat semangat menceritakan tentang putri satu-satunya itu.

“Tan, Kirana pernah punya pacar nggak?” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari Nathan membuat Kirana membelalakkan matanya kaget dan menoleh secepat kilat ke Nathan.

“Hahaha, boro-boro Nak, Dia aja galak banget sama laki-laki. Tante kira kamu pacarnya.” Bunda tertawa ringan.

“Bukan tante, Nathan teman kampus aja kok. Pantesan Tante, Nathan dulu berantem mulu sama Kirana. Galak banget dia.” Nathan tertawa.

“Nathan apaan sih.” Kirana memukul lengan Nathan dengan lap piring yang tergeletak.

“Tuh kan, tante lihat.”  Nathan mengadu dan Bunda hanya tertawa.

“ Udah-udah ah Kirana. Kasian nanti gantengnya ilang loh.”

“Hih biarin Bun, biar nggak kegantengan.” Kirana beranjak dan mulai merapikan meja makan.

“Nathan taruh belakang ya Bun piringnya.” Nathan berdiri dan mengangkat piring kotor untuk meletakkan di dapur.

“Kirana, cuci piringnya! Nggak enak sama Nathan.” Bunda berteriak pada Kirana.

“Nggak apa-apa Tante.” Nathan membalas dari dapur.

oOo

Kirana yang disuruh bundanya mnecuci piring akhirnya menyucul Nathan yang sedang mencuci piring.

“Lo ngedeketin bunda ya?” Kirana berdiri di sebelahnya memicingkan matanya menatap Nathan curiga.

“Astaghfirullah Kiana nggak boleh berburuk sangka sama orang. Dosa nak.” Nathan menggelengkan kepalanya seperti ustadz yang sedang berceramah sambil mencuci piring.

Stop calling me Kiana please, Nathan.”

Nathan mengacuhkannya dan mengganti topik. “ Lo anak tunggal ya emang?”

“Gue punya kakak kok. Cowo. Udah nikah, makanya nggak disini, jadi cuma bertiga. Ayah hari ini lembur.” Kirana mengambil piring yang sudah di cuci meletakkan di rak membantu Nathan.

“Bunda lo lucu deh. Lucu aja.” Nathan tersenyum.

Kirana hanya menatap Nathan seperti sedang menerawang pikiran Nathan mencari tahu kemana arah percakapan mereka.

“Hahh.” Nathan menghembuskan napasnya. “I feel like going home just now.” Nathan bergumam.

Feel free to come here, Nat. We’ll welcoming you as warm as your own home.” Kirana memegang punggung Nathan seraya berbicara pelan.

“Bahkan rumah gue, nggak pernah sehangat ini seingat gue.” Nathan berbalik badan. “Thanks for tonight Ana, you shared one of your happiness I had before.”  Nathan tersenyum. Kirana hanya menatapnya, lalu segera memalingkan wajah karena suasanya menjadi awkward. Kirana mengambil setetes air dan mencipratkan ke wajah Nathan.

“Percikan dewi biar nggak songong.” Kirana tersenyum.

Nathan menoleh dan meraih wajah Kirana dan mencubit pelan. “Nyebelin lo ya, awas nggak dapet jodoh. Jangan jadiin gue cowo terakhir di dunia ini, nanti gue sama lo lagi.” Nathan berhenti dan tersenyum. “Gue pulang ya.”

Nathan beranjak dari dapur dan segera berpamitan pada Bunda, waktu sudah cukup malam, tidak sopan laki-laki bertamu sampai malam kan? apalagi kerumah perempuan. Bunda mengatakan pada Nathan untuk tidak segan kalau mau datang lagi, Nathan hanya tersenyum.

Hujan sudah berhenti sejak tadi, Kirana mengantar Nathan sampai depan pintu mobilnya seperti biasa.

“Kalau udah sampe bilang ya. Makasih ya, Take care,Nat.

I’ll call you when I’m out from my car.” Nathan tertawa ringan. Nathan masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya. Kirana menatapnya dari depan pagar dan segera masuk ke kamarnya. Dia mengingat sesuatu, sesampainya dia di dalam kamarnya. Dia keluarkan ponselnya dan membuka chat Line Nathan.

Kirana Cathaleeya : Nat, ingatkan gue untuk ngasih lo sesuatu pas di Malang nanti ya

Kirana Cathaleeya : Have a good night

Kirana Cathaleeya : See you next Saturday

Tiga puluh menit kemudian Nathan akhirnya membalas pesan Kirana.

Nathan Virgio : Gue baru turun mobil. Hahaha.

Nathan Virgio : Sekarang gue masuk rumah

Nathan Virgio : Oke. Good night and see you next Saturday.

oOo

#TBC#

A/N:

Kirana Nathan akhirnya dalam keadaan kondusif hehe. Bosen berantem mulu. Baru nanti kita akan bertemu sweetnya mereka ya u.u lupa mau ngasih tau. Apa udah ngasih tau ya? Visualisasi Kirana itu bae Irene. Ya tersereah kalian mau bayangin siapa tapi itu visualisasi aku hehe.

Feedback aku terima dalam bentuk apapun dan terima kasih sudah membaca u.u

See you on next chapter ^^

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür (Chapter 10)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s