[EXOFFI FREELANCE] HURT

HURT

HURT  |

| Do Kyungsoo, Kim Ang Gun, Kim Jongin, Jung Soojung |

| Romance x Hurt |

| PG-17 | Oneshot |

2017 – Storyline by JUJU’s/Kireina T.

|Theme song : Hurt_by EXO|

Keserakahan yang membuatku tak dapat memiliki keduanya.

Di saat aku mempertahankan orang yang selama ini kuanggap penting, orang itu malah pergi dan meninggalkanku.

Di saat aku menyadari kebodohanku dan memilih untuk bersama yang lainnya, aku sadar bahwa hati orang itu tak lagi untukku.

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

In Ang Gun’s Eyes . . .

Aku, Kim Ang Gun. Berjalan dengan gontai melewati tumpukan salju yang kian lama, kian menumpuk di kepalaku. Tak ku rasakan lagi dinginnya angin dan rendahnya suhu di sekitarku. Mata dan hatiku sudah cukup dingin, untuk melampaui suhu yang ada di sekitarku. Senyum miris tersungging di bibirku.

“Karena aku menyakiti orang lain, maka aku pantas untuk menerima karmaku,” gumamku.

Bayang-bayang kejadian sembilan bulan yang lalu, terus berputar di benakku bagaikan kaset rusak.

×◦◦×

Flashback . . .

“Jongin, maaf . Aku tak bisa menerimamu,” ujar Soojung.

Hatiku teriris-iris, saat tahu Jongin menyatakan cinta pada Soojung yang merupakan sahabatku. Apa dia tidak tahu bahwa aku menyukainya? Apa dia sengaja mempermainkanku? Tapi kenapa? Kenapa pada Soojung? Kenapa tidak padaku, Jongin?

Dengan marah kubuka pintu tempatku bersembunyi dan aku pun melayangkan sebuah tamparan pada Soojung.

“Kau! Sudah merayu Jongin! Sudah berhasil membuatnya jatuh cinta! Tapi sekarang, kau meninggalkan dan menolak cintanya! Kau pikir, kau siapa?”

Jongin dan Soojung kaget melihatku datang dan melabrak masuk.

“Ang Gun? Kau mendengarnya?”

Soojung bertanya dengan wajah cemas, aku tersenyum licik ke arahnya.

“Kenapa? Kau takut, aku mengetahui akal busukmu?” ujarku meremehkan.

Tubuh Soojung bergetar hebat, lemah dan selalu sok tertutup. Sifatmu yang seperti itu selalu membuatku, muak!

“Ang Gun! Diam!” bentak Jongin padaku.

Kenapa Jongin? Kenapa kau membela wanita lemah itu. Dia sudah menolakmu! Sadari itu!

“Jongin? Seharusnya, kau marah padanya. Bukan aku! Aku sekarang membantumu untuk menghukum wanita pengkhianat ini! Dia sudah berusaha merebutmu dariku,”

Jongin menatapku dengan ekspresi yang sulit kugambarkan. Apa dia senang? Syukurlah!

‘PLAKKKKKK!!!’

Sebuah tamparan keras, mendarat di pipi mulusku. Aku menegakkan kepala dan mendapati siapa yang menamparku.

“Kyungsoo? Apa-apaan ini! Kenapa kau menamparku?” bentakku marah.

Kyungsoo menatapku marah.

“Buka matamu, Ang Gun! Kau pikir, karena siapa? Soojung menolak Jongin! Ini semua karenamu! Sudahlah! Menyerahlah!” ujar Kyungsoo.

Aku balik memukul Kyungsoo.

“Apa hakmu? Kau pikir, siapa dirimu! Kau tak berhak untuk memarahiku! Dan apa kau bilang? Soojung menolak Jongin, karena aku? Kau ini mimpi ya?” teriakku di depan wajah Kyungsoo.

“Jangan egois, Ang Gun. Aku tahu, kau tak mencintai Jongin. Kau hanya terobsesi dengannya! Sudah, lupakan dia!” bujuk Kyungsoo.

“Aku tak harus mengikuti kata-katamu!” ujarku membantah Kyungsoo.

“Sudah, hentikan!”

Soojung berteriak, aku dan Kyungsoo terdiam.

“Aku memang pengkhianat! Salahku, yang jatuh cinta pada Jongin! Salahku, membuat dia menyukaiku! Salahku, merahasiakan ini darimu dan yang lainnya!” sambungnya lagi.

“Bagus, kalau kau sadar!” gumamku mengejek.

“Aku akan pergi! Aku tak akan mengganggumu lagi! Semoga bahagia dengan Jongin!” ujar Soojung dan berlari pergi.

“Pengecut! Begitu saja, sudah menangis! Tapi baguslah. Akhirnya, dia sadar kalau dia sudah tidak dibutuhkan lagi!” kataku.

“Seharusnya, kau yang pergi. Bukan dia! Dan asal kau tahu! Aku tidak pernah menyukaimu! Sadari itu, KIM ANG GUN!” bentak Jongin.

Lalu, ia pergi meninggalkanku dan Kyungsoo.

“Kenapa dia mengejar pengkhianat itu! Aku di sini, Jongin! Aku yang selalu bersamamu!” ujarku.

Tak berapa lama, air mataku menetes.

“Sudahlah, masih banyak lelaki lain!”

Kyungsoo berusaha menghiburku. Kau pikir, aku tak tahu kau menyukaiku Do Kyungsoo! Jangan harap, aku akan berbalik menyukaimu!

Kuhempaskan tangannya yang berusaha menghapus air mataku, kutatap dia dengan penuh kemarahan.

“Kau pikir, aku tak tahu akal picikmu! Kau sengaja membantu wanita itu, agar kau punya kesempatan untuk mendekatiku kan? Tapi, jangan harap! Karena yang kubutuhkan hanya Jongin! Hanya Jongin!” ujarku dan kemudian berlari menyusul Jongin.

×◦◦×

In Author’s Eyes . . .

Kyungsoo yang ditinggal dalam ruangan sendirian hanya bisa tersenyum miris.

“Ternyata, tak ada satupun ruang kosong di hatimu! Salahkah aku, untuk berharap?” gumam Kyungsoo getir.

“Jujur, aku sudah hampir menyerah Ang Gun!” ujarnya lagi.

Dan dia pun pergi meninggalkan ruangan itu.

×◦◦×

In Ang Gun’s Eyes . . .

Aku menghentikan lariku.

Di depan mataku, Jongin dan Soojung berciuman. Ini tak bisa dipercaya.

“Apa dia begitu berharganya, Jongin?” ucapku getir.

Aku berbalik dan berlari menjauh pulang ke rumahku. Apapun yang kupertahankan dan kuperjuangkan kini hilang, kenapa Tuhan benar-benar tak adil!

×◦◦×

Aku terus menangis sepanjang malam. Pagi ini, saat terbangun dapat kurasakan mataku membengkak. Kenapa semuanya jadi begini? Aku sekarang membutuhkan teman untuk bicara.

‘Selvy!’ batinku.

Segera saja kuambil smartphone dan menelponnya, terdengar nada sambung dari seberang sana. Tak lama, suara serak terdengar di telingaku.

“Apa kau bangun dari tidur? Kau sibuk hari ini? Aku butuh teman bicara,”

Tak terdengar jawaban apapun dari seberang sana. Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang melanda. Kemudian, aku mendengar suara helaan nafas.

“Sejujurnya, saat ini keadaanku juga sedang tidak baik. Apa kau ingin membicarakan Jongin, lagi? Semua orang juga tahu, Kim Ang Gun. Kau hanya terobsesi padanya, bisakah kau berhenti?”

Bodoh, seharusnya aku menelpon orang lain saja. Ini sama sekali tidak membuatku lebih baik, perasaanku malah bertambah buruk. Kenapa semua orang menjadi sok tahu? Ini perasaanku, tidak ada orang yang lebih tahu daripada diriku sendiri.

“SELVY JUNG! Apa kau mencoba membela sepupumu? Aku benar-benar salah menghubungi orang. Sudah pasti, Jung Soojung sepupumu tercinta merengek padamu.”

“Apa maksudmu? Apakah terjadi sesuatu? Soojung tak menghubungiku,”

Aku terdiam sesaat. Apa Soojung tak mengatakan yang sudah terjadi kemarin pada Selvy? Yah, setidaknya Soojung bukanlah orang yang suka mengadu.

“Aku tidak tahu, apa yang terjadi denganmu dan Soojung. Tapi, kau harus berhenti terobsesi pada Jongin. Masih banyak pria lain yang menyukaimu, Kyungsoo! Kyungsoo menyukaimu, kau tah—

Tunggu! Aku salah, itu tidak ada gunanya lagi. Kyungsoo sudah kembali pada Sojin,”

“Apa maksudmu?”

Ini bagaikan sambaran petir untukku. Tidak mungkin, aku tidak bisa mempercayai ini.

“Kau tahu bahwa klub kami mengadakan pelatihan, bukan?”

Aku hanya menggumam sebagai jawaban atas pertanyaan Selvy. Ya, aku tahu Kyungsoo mengatakan bahwa klub paduan suaranya mengadakan kamp pelatihan.

“Kyungsoo mengatakan padaku bahwa dia tidak akan datang. Tetapi, saat acara barbeque semalam. Tiba-tiba saja, dia muncul bersama Sojin. Kau tahu, apa artinya kan? Yah, meskipun terlihat jelas wajah Kyungsoo yang menunjukkan bahwa dia tidak baik-baik saja.”

“Aku tutup dulu telponya,”

Tanpa menunggu jawaban dari Selvy, kuputuskan sambungan telpon.

Segera saja aku bangkit dari tidurku, mengambil jaket dan berlari menuju mobilku. Aku butuh penjelasan! Aku tahu dan aku yakin pasti Kyungsoo menyukaiku. Tapi, kenapa? Kenapa dia malah kembali pada Sojin? Dengan resah kupacu mobilku ke kamp pelatihan.

“Kyungsoo! Kita perlu bicara!” panggilku padanya, saat aku telah tiba di kamp pelatihan dan berhasil menemuinya.

“Untuk apa? aku sedang banyak urusan, sekarang!” ujarnya mengelak.

Dengan geram aku langsung menghujaninya dengan sejuta pertanyaan.

“Kenapa kau kembali pada Sojin? Bukannya kau menyukaiku!” kataku tanpa basa-basi.

Dia terdiam sesaat, kemudian dengan ragu dia pun menjawab.

“Orang yang tahu dirinya akan gagal, pasti akan langsung menyerah…” gumamnya pelan.

Namun,  masih dapat aku dengar.

“Pecundang!” ejekku. Dia menggeram.

“Apa? kau mau menghinaku murahan? Aku memang tidak menyukai Sojin! Tapi berpacaran dengan orang yang tidak kita cintai, lebih baik daripada menunggu tanpa kepastian!” ujarnya lagi.

Aku terdiam, tak bisa mengatakan apapun.

“Kau pun menyadari itu. Makanya kau ada disini kan, Ang Gun? Kau pikir karena tak bisa mendapatkan Jongin, kau bisa beralih padaku? Kau pikir aku barang!” teriaknya.

Tidak…

Bukan itu yang mau kukatakan.

“Dan asal kau tahu, aku belum pernah sekalipun mengatakan bahwa aku menyukaimu!” ujar Kyungsoo.

Lalu, ia pun pergi. Aku tersentak kaget, Apa benar kali ini pun hanya dugaanku saja? Lagi?

Tubuhku gemetar dan dengan mengumpulkan sisa tenaga serta harga diriku, aku pun berkata dengan lantang.

“Aku pun tak perlu kau sukai!” ujarku dan pergi meninggalkannya.

Aku berlari dan mengambil mobilku, kupacu mobilku dengan cepat. Hatiku hancur dan tubuhku sudah lelah. Pada awalnya, aku memang berniat menjadikan Kyungsoo sebagai pelampiasanku. Tapi, saat mendengar ia kembali pada Sojin.

Aku sadar, satu hal . . .

“AKU PADA JONGIN HANYA OBSESI! DAN YANG SESUNGGUHNYA AKU SUKAI ADALAH KYUNGSOO!”

Bodoh…

Itulah aku, penyesalan dan rasa sakitlah yang ada dalam benakku sekarang. Karna menyakiti, akupun disakiti. Ya, semunya salahku.

×◦◦×

End flashback . . .

Sekarang, di sinilah aku. Di bawah tumpukan salju, aku berjalan ke taman tempat bertemunya aku dan Kyungsoo. Aku duduk di bangku dan mengingat saat-saat aku bersama Kyungsoo dan Jongin.

Seharusnya aku sadar, jika saat bersama Kyungsoo aku lebih bahagia. Aku tak perlu menderita, tak perlu kehilangan sahabat. Dan tak perlu menghabiskan semua waktuku hanya untuk mengejar hal yang tak pasti.

“Maafkan aku, Kyungsoo.” ucapku getir.

Air mataku kembali jatuh. Bodoh, untuk apa menangis. Inikan salahku sendiri.

“Kumaafkan . . .” ujar seseorang.

Suara ini . . .

Suara yang amat kukenal. Aku menoleh ke arahnya.

Mata itu, suara itu, senyum itu….

“Kau, kenapa ada disini?” ujarku bergetar.

Dia tersenyum hangat, senyum yang lama tidak kulihat.

“Karena aku mencarimu,” ujarnya.

Dia menghela nafas dan berjalan mendekatiku.

“Kenapa kau menangis? Kau tampak jelek, jika mengeluarkan air mata. Seperti, bukan kau saja.”

Dia duduk di sampingku, aku memalingkan wajah. Hatiku terasa hangat. Namun, entah mengapa ada rasa nyeri yang muncul di dalam hatiku.

“Untuk apa kau mencariku? Mau menghinaku?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum getir.

“Kau sama sekali tak berubah, tetap angkuh dan sok kuat. Kalau sudah ketahuan menangis, ya menangislah. Kalau kau berdiam diri dan bertindak sendiri, aku yang kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa untukmu. Aku ingin berguna untukmu,” ujarnya lagi.

Aku menoleh padanya. Apa maksudnya dia berkata seperti itu padaku? Apa dia sedang mempermainkanku lagi? Apa maunya? Jangan menghinaku.

Aku berdiri dari bangku.

“Mau pergi kemana?” tanyanya padaku.

Aku tak berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya.

“Tunggu!” panggilnya.

Aku menghentikan langkahku dan menoleh padanya.

“Jangan permainkan aku. Aku tahu, kau masih bersama dengan Sojin! Jad—

Jangan membiarkanku untuk berharap lebih padamu,”

Aku pun kembali melangkah. Aku memang ingin bertemu dengannya. Tapi, jika dia muncul secara tiba-tiba seperti sekarang. Entah mengapa, aku merasa aku belum siap.

‘Ya, ini belum saatnya’ batinku.

Aku memejamkan mataku. Bodoh, jangan menangis.

Derap langkah terdengar jelas di keheningan malam. Aku tahu, dia sedang mengejarku.

“Aku masih belum selesai bicara padamu,”

Kilat hangat dalam matanya masih bisa kurasakan dengan jelas. Kenapa aku baru menyadari? Betapa pentingnya, orang yang ada di depanku sekarang.

“Kau mau bicara apa? katakan saja,”

Percuma, jika aku terus mengelak. Kyungsoo memejamkan matanya. Saat dia kembali membuka matanya. Aku sadar, ada keseriusan di dalam kilau cahaya matanya.

“Aku sudah putus dengan Sojin,”

Aku menatap tak percaya padanya.

“Lalu?” tanyaku.

Kyungsoo menghela nafas.

“Aku sadar, aku tak bisa bahagia bersamanya. Aku tak bisa mencintainya. Jadi, hmm… karena itu…”

Aku semakin tak mengerti, apa yang mau dia katakan?

“Jadi, apa hubungannya denganku?” tanyaku.

Dia memegang kedua lenganku, memandangku dengan lekat.

“Tentu, ada hubungannya denganmu. Karena pada orang inilah, seluruh sumber kebahagiaanku berasal.” ujarnya seraya memelukku.

Aku merasa hangat. Namun, keraguan masih sedikit terbesit dalam diriku.

“Tapi, kenapa kau kembali pada Sojin? Kau tahu, saat itu aku sangat membutuhkanmu!” ujarku.

Kyungsoo semakin erat memelukku, dan mencium puncak kepalaku.

“Karena . . . jika aku berada di sampingmu saat itu. Aku merasa, hanya menjadi pelampiasan untukmu. Dan aku tak mau itu terjadi, aku hanya ingin kau bersamaku karena kau menginginkanku. Aku tak mau menjadi mainanmu,”

Pria egois ini, ternyata selalu memikirkan perasaanku. Padahal, aku hanya bisa menyakitinya. Padahal, aku sempat memanfaatkannya. Tapi, dia selalu dengan tangan terbuka memaafkan dan memelukku dengan erat. Dia selalu mengerti aku, kenapa aku baru sadar sekarang?

“Maafkan aku,” ujarku dengan tulus.

Ragu-ragu aku pun membalas pelukannya.

“Jauh sebelum kau meminta, aku telah memaafkanmu.” ujarnya sambil membelai rambutku.

Aku tersenyum dan menangis karena bahagia.

“Sudahlah,” ujar Kyungsoo mencoba menenangkanku.

“Jangan tinggalkan aku lagi, ” ucapku disela tangis.

Dia melepas pelukanku dan dengan senyum jahil berkata padaku.

“Sedang mencoba melamarku?”

Aku merasa jengkel, lalu kuhapus air mataku.

“Sudah susah payah tercipta suasana haru biru, kau malah merusaknya! Kau ini, sungguh tidak peka!” ujarku seraya memukulnya.

Dia menangkap tanganku dan dengan cepat mengecup bibirku.

“Akhirnya, kembali lagi seperti biasanya.” ujarnya tersenyum.

“Aku mencintaimu, Kim Ang Gun.”

“Aku juga, mencintaimu.” Kataku.

Dan sebuah kecupan manis di berikannya padaku.

Aku merasa senang dan bahagia sekarang, rasa sakit hati yang beberapa bulan ini kualami lenyap sudah. Walau aku belum meminta maaf dan berbaikan dengan Soojung. Aku rasa, kami akan menjadi teman baik lagi. Karena apa? Karena ada orang ini, Do Kyungsoo yang selalu siap memberikan kekuatan dan keberanian melalui genggaman tangannya. Sekarang, aku tak takut lagi melangkah ke depan karena ada Kyungsoo yang akan selalu di sampingku. Orang yang selalu siap melangkah bersamaku, bersamanya aku akan lebih bahagia. Ya, setidaknya itu yang bisa aku percaya sekarang.

FIN

Author’s Note :

Ini hasil remake dari FF yang pernah di publish di page lain dengan judul dan cast yang berbeda, di sini y. Entah kenapa, mendadak pingin buat yang versi Cimol, ganteng, lucu, nan imut#digamparKyungsoo. Ini udah lama banget dibuat, 6 tahun yang lalu. Ketika penulisan ane masih kacau balau, dan EXO masih belum debut. Rencananya mau buat oneshot series, tema-nya hurt gitu. Dan ini adalah ff pembukanya, tapi gak janji y. Ya, maklumlah ane single dari lahir sampai sekarang. Jodoh masih belum datang, biar sama-an ane buat aje member EXO bertepuk sebelah tangan#PLAKKsadarlah. Ini kenapa jadi curhat -_- Terima Kasih sudah membaca, baca juga ff ane lainnya POV: cast|1 dan ficlet 1| 2

Jika kalian menikmati ffnya, jangan lupa tinggalkan jejak ^^

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] HURT

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] CARNIVAL | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] SHADOW (Prologue) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Last Goodbye | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] HURT — EXO FanFiction Indonesia – 10u10u

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] HURT — EXO FanFiction Indonesia – Beauty world

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s