[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 6)

After The Wedding (Chapter 6)

Author : WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. Oh Jae Ra. Sean Jung. Park Chanyeol. Kim Jong In. Jung Soo Jung. Wu Yifan.

Genre: Hurt. Marriage Life. Romance. Life Family.

Summary: “Mom mu adalah sosok pengalah dengan hati yang kuat. Aku hanya berpesan padamu, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan Mom mu sendirian. Dia hanya memilikimu. Percayalah padaku.” –Jong In

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

https://whiteblove.wordpress.com/

Seharian ini Sehun sama sekali tidak dapat fokus bekerja karna pikirannya terus tertuju pada Jae Ra yang sudah hampir satu minggu ini terlihat murung. Terlebih lagi pikirannya semakin menjadi saat Jae Ra menolak ajakan Hye Ra untuk makan malam, gadis itu beralasan bahwa dia sedang ingin beristirahat dan bisa membuat makanan sendiri jika ia terbangun ditengah malam karna kelaparan.

Sehun lagi-lagi masuk kedalam kamar Jae Ra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tidak seperti biasanya yang duduk disamping tempat tidur, kini Jae Ra tengan membaringkan tubuhnya dengan berselimut tebal.

Sehun menghembuskan nafasnya kasar saat menyadari lagi-lagi Jae Ra sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, karna kini matanya terlihat tengah tertuju pada satu arah yang bukan merupakan topik utama pikirannya.

“Jae Ra?” ucap Sehun yang lagi-lagi membuyarkan lamunan Jae Ra.

Gadis ini memposisikan wajahnya untuk menghadap sang ayah yang kini tengah duduk disampingnya.

Sehun hanya menatap kearah Jae Ra seraya mengelus rambut hitam putri kecilnya yang kini telah menjadi seorang gadis cantik.

“Kenapa?” tanya Jae Ra yang memperhatikan sang ayah karna sedari tadi pria ini terus terdiam menatapnya.

“Harusnya Appa yang bertanya, kau kenapa?”

Jae Ra kini terdiam, ia merendahkan pandangannya untuk tak menatap mata sang Ayah yang kali ini terlihat mengkhawatirkannya.

Sehun juga terdiam untuk beberapa detik. Kemudian pria ini memposisikan tubuhnya untuk berbaring disamping Jae Ra, berusaha menatap mata putrinya lebih dalam.

“Kali ini Appa menuntutmu untuk bercerita.” ucap Sehun yang tak mengalihkan pandangannya kearah lain demi terus berusaha membaca apa yang ada didalam kepala Jae Ra.

Jae Ra terdiam, ia menatap kembali kearah Sehun.

“Appa tak suka melihat anak gadis Appa terus murung karna sesuatu. Ayo! Ceritakan apa yang ada didalam kepalamu!” ucap Sehun yang terasa sedikit serius dengan tatapannya.

Jae Ra terus memperhatikan wajah Sehun yang kali ini tepat berada dihadapannya.

“Aku akan cerita pada Appa tapi tidak sekarang.” ucap Jae Ra berusaha meyakinkan sang Ayah.

Sehun terdiam. Lagi-lagi ia gagal memaksa anak gadis nya ini bercerita.

“Jae Ra!” ucap Sehun yang kali ini menjadikan tangan kanannya sebagai sanggahan kepalanya, ia ingin sedikit lebih dekat dengan Jae Ra.

“Kau memikirkan Jae Mi Omma dan Sean?” tanya Sehun berusaha memperlihatkan senyum tipisnya.

Kini Jae Ra yang berhasil dibuat semakin terdiam atas pertanyaan sang ayah yang benar-benar menjurus pada topik utama pikirannya.

“Appa juga merinduka Jae Mi Omma, terlebih lagi Sean. Appa sudah 15 tahun ini tak bertemu dengan mereka.” ucap Sehun seraya menyingkirkan beberapa helai anak rambut dari wajah Jae Ra.

Jae Ra masih terdiam, kini ia tak tau hal apa yang harus menjadi bahan pikiran didalam kepalanya.

“Appa!” ucap Jae Ra dengan suara lemahnya.

“Aku juga ingin bertemu dengan mereka.” lanjut Jae Ra.

Sehun terdiam. Ada sesuatu yang berhasil membuat dadanya terasa sesak saat indra dengarnya menangkap suara Jae Ra yang seperti tengah menahan tangis.

“Selama ini..-“ Sehun menggantungkan ucapannya, ia tengah berusaha mengingatkan dirinya bahwa ia tak boleh menceritakan tentang pengorbanannya demi untuk menemukan Jae Mi dan Sean yang terus menghindar darinya.

Sehun menghembuskan nafasnya sejenak, meskipun beberapa detik kemudian ia merasa oksigen disekitarnya menolak untuk ia hirup.

“Kau akan bertemu dengan mereka secepatnya, Honey!” ucap Sehun yang langsung mencium kening Jae Ra.

Kini otak Sehun tengah berusaha berpikir, cara seperti apa lagi yang harus ia lakukan agar ia dapat bertemu dengan Jae Mi dan Sean.

Bukan, jika memang Jae Mi tak mau bertemu dengannya, ia harus mencari cara agar Jae Mi mau bertemu dengan Jae Ra, meskipun Sehun sadar bahwa ia pun juga sangat merindukan Jae Mi dan sangat ingin bertemu dengan wanita keduannya itu.

Pagi ini Sehun dan Jae Ra sama-sama terdiam saat mereka masih berada didalam mobil menuju sekolah. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Sehun masih memikirkan tentang pemuda yang kemarin sore ia lihat disebuah kafe. Sementara Jae Ra, entahlah.. kini kepalanya terasa kosong setelah beberapa hari lalu pikirannya penuh dengan ‘Sean’.

Sehun langsung menghentikan mobilnya saat kini mereka telah berada tepat didepan sekolah Jae Ra.

“Jae Ra?!” ucap Sehun menahan putrinya untuk tak segera keluar dari dalam mobil.

“Ya?” tanya Jae Ra mengarahkan pandangannya pada sang ayah.

“Siang ini Appa akan pergi ke Jepang. Mungkin sekitar 3 hari Appa disana. Jika ada apa-apa tolong beritahu Appa, okay?” ucap Sehun.

Jae Ra mengangguk seraya memperlihatkan senyum tipisnya pada Sehun tanda setuju atas ucapan sang ayah.

Jae Ra langsung mencium pipi Sehun setelah ia sadar bahwa beberapa hari ini ia telah meninggalkan kebiasaanya terhadap sang ayah.

“Sampai bertemu lagi, Appa!” ucap Jae Ra tersenyum dan langsung pergi keluar dari dalam mobil.

Sama seperti kemarin, Jae Ra lagi-lagi menurunkan pandangannya saat kakinya ia langkahkan diarea koridor menuju kelasnya. Tak lama dari kejauhan netra Jae Ra dapat melihat sosok yang selama beberapa hari ini menjadi bahan pikirannya. Sean. Pemuda itu tengah berjalan kearahnya bersama tiga temannya.

“Hai, Jae.. Ra?” Sean melemparkan sapaanya untuk Jae Ra saat mereka saling berpas-pasan. Namun nyatanya respon yang Sean terima dari Jae Ra sedikit dingin. Gadis itu malah menunduk seraya terus berjalan. Seolah tak menghiraukan keberadaanya.

Dia kenapa?, tanya Sean dalam hati.

Detikan jarum jam yang menempel tepat di dinding berwarna putih ini terus terdengar oleh kedua figur yanng masih asik dengan pikiran mereka masing-masing meskipun hidangan lezat tersaji tepat diatas meja makan. Malam ini hanya ada Hye Ra dan Jae Ra diruang makan karna tadi siang Sehun telah berangkat menuju Jepang untuk menghadiri beberapa rapat penting disana.

Hye Ra sedikit menaikan pandangannya untuk melirik kearah Jae Ra yang malam ini terlihat terus terdiam. “Jae Ra? Kau baik-baik saja?” tanya Hye Ra saat menyadari Jae Ra yang sedari terus terdiam memainkan sendok dan mangkuk dihadapannya.

“Nee.. Omma.” ucap Jae Ra sedikit mengarahkan pandangannya pada sang Ibu.

Disadari oleh Jae Ra atau tidak, dua detil lalu Hye Ra terdengar menghembuskan nafasnya kasar saat mendengar Jawaban yang keluar dari mulut gadis ini yang tak sesuai dengan apa yang Hye Ra harapkan. “Kau terlihat murung sekali. Apa ada masalah?” tanya Hye Ra mencoba untuk terus menuntut Jae Ra agar mau bercerita padanya.

“Tidakk..” ucap Jae Ra yang kini menundukan kepalanya setelah menjawab pertanyaan wanita yang masih setia mengarahkan pandangan pada mata hitam miliknya.

Hye Ra merasa ingin menyerah untuk terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Jae Ra meskipun rasa penasarannya lebih besar. Wanita mature ini memperlihatkan senyum tipisnya pada Jae Ra meskipun indra gadis itu tak memandangnya.

“Appa mu bilang kau sudah tau tentang Jae Mi Omma dan Sean?” tanya Hye Ra seraya memperlihatkan senyuman lembutnya. Jae Ra mengangkat kepalanya. Pandangan gadis ini ia kunci pada mata Hye Ra.

“Omma berharap kau bisa bertemu dengan mereka secepatnya.” ucap Hye Ra seraya membelai kepala Jae Ra dengan lembut.

Mata Jae Ra dan Hye Ra saling berpandangan satu sama lain seolah mereka sama-sama tertarik dengan topik obrolan yang akan segera mereka ciptakan sendiri. “Omma!” ucap Jae Ra menatap lekat mata Hye Ra.

“Ya?”

Jae Ra sedikit menjeda rasa penasarannya untuk terus menatap mata Hye Ra karna ia tak mau menyelipkan duri tajam atas pertannyaanya yang akan ia lontarkan. Lantas gadis berusia lima belas tahun ini memperlihatkan senyum manisnya untuk beberapa detik dihadapan sang Ibu –tiri yang sudah ia sadari.

“Bagaimana wajah Jae Mi Omma?”

Hye Ra terdiam membalas tatapan Jae Ra yang mengarah padanya. Senyum terasa ingin muncul dipermukaan bibirnya, namun tertahan demi air mata yang ia harap tak jatuh meluncur dikedua pipinya.

Setelah menjeda waktu beberapa detik, kini Hye Ra terlihat kuat memperlihatkan senyum tulusnya dihadapan sang putri. “Berhadapanlah dengan cermin, Jae Ra. Kau akan melihat seperti apa seorang Jae Mi Omma mu. Dia sangat cantik dan juga memiliki hati yang kuat.” ucap Hye Ra yang kini berusaha menahan air matanya untuk tak jatuh dihadapan Jae Ra. Karna sungguh, wajah Jae Ra benar-benar mirip dengan paras Jae Mi saat mereka pertama kali bertemu. Hal itu berhasil membuat Hye Ra semakin jauh merindukan Jae Mi dan berharap gadis yang mungkin kini telah beranjak menjadi wanita kuat itu segera bertemu dengannya.

Jae Ra terdiam saat ia mendengarkan jawaban yang terlontar dari mulut Hye Ra. “Kenapa Omma Jae Mi pergi meninggalkan kita?” tanya Jae Ra dengan wajah sendunya.

Hye Ra terdiam. Kini wanita itu benar-benar terpaksa menunjukan senyuman kuatnya dihadapan Jae Ra.

Jae Ra kembali pada kebiasaannya belakangan ini. Duduk disamping tempat tidurnya dan memikirkan tentang dua figur yang belakangan ini memenuhi isi kepalanya. Ia kembali merenung setelah tadi Hye Ra menceritakan banyak hal tentang masa lalu sang ayah yang menyangkut Ibu kandungnya, Jae Mi.

Sejenak ia bangkit dari duduknya. Kini ia berdiri dihadapan cermin full body yang merefleksikan dirinya. Ia tengah mencoba menebak seperti apa sosok Ibu kandung yang belum pernah ia temui itu.

Wajahnya sendiri berhasil membuat Jae Ra teringat akan sosok wanita yang ia yakini sebagai Ibu Sean. Wanita yang minggu lalu ia lihat ditaman kota dan juga digerbang sekolahnya.

“Sehun. Kapan kau pulang?” suara Hye Ra kini terdengar begitu lemah saat sambungan telponnya baru saja terjawab oleh Sehun yang jauh diseberang sana.

“Aku baru berangkat kemarin siang sayang, kau sudah bertanya kapan aku pulang? Kau merindukanku?”

“Yaa..” jawab Hye Ra dengan suara paraunya.

“Ada apa? Semuanya baik-baik saja bukan?”

Hye Ra menghembuskan nafasnya kasar saat ia tengah berusaha membuat dirinya tak menangis, “Ku harap.”ucapnya yang langsung menutup sambungan telpon dengan Sehun.

Wanita itu kini duduk terdiam. Tak berapa lama airmatanya mulai terjatuh saat kepala Hye Ra dipenuhi kembali dengan berbagai ekspektasi yang menurutnya sangat mengerikan.

Bagaimana jika saat nanti Jae Mi kembali, Jae Ra malah melupakanku?

Bagaimana jika sikap Sehun berubah saat Jae Mi kembali padanya?

Bagaimana jika mereka pergi meninggalkanku saat Jae Mi pulang?

Bagaimana jika..-

Hye Ra menghentikan pikirannya sesaat. Ia langsung menghapus air matanya dengan begitu kasar. Ia sadar betul bahwa posisi Jae Mi sebagai Ibu kandung Jae Ra sangat penting bagi gadis itu, namun Hye Ra benar-benar ketakutan akan hal apapun yang menyakut Jae Mi berhasil membuat hidupnya berubah, karna dulu, Sehun pernah menunjukan perubahan dirinya sejak kehadiran Jae Mi.

Hye Ra memang sudah mempersiapkan dirinya untuk beberapa kemungkinan jika Jae Mi kembali bertemu dengan Sehun dan bahkan Jae Ra. Namun ia juga tidak dapan membohongi dirinya sendiri bahwa sebenarnya ia takut jika kehidupannya kembali dirampas oleh Jae Mi meski tanpa disengaja oleh wanita berusia 33 itu.

Sikap Jae Ra hari ini berhasil mebuat teman-teman kebingungan, karna gadis ini biasanya sangat periang diantara mereka, malah terlihat murung dan menutup diri untuk bercerita pada teman-temannya.

Langit mulai memperlihatkan warna jingganya saat Jae Ra tengah duduk disebuah kursi halaman sekolah, ia tengah menunggu paman Kim menjemputnya untuk pulang kerumah.

Sebenarnya sedari tadi gadis ini tengah mengarahkan pandangannya pada seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya yang mungkin juga tengah menunggu jemputan. Sean, pemuda yang belakangan ini sangat ia hindari. Entahlah, Jae Ra juga bingung kenapa ia selalu menghindar dari Sean.

Tak lama sebuah mobil berhenti tepat dihadapan Sean, memperlihatkan seorang pria keluar dari dalam mobil, membukakan pintu untuk mempersilahkan Sean masuk kedalam. Jae Ra bisa menebak bahwa pria tersebut adalah pengawal pribadi Sean.

Lagi pula siapa yang bersekolah ditempat ini tanpa mempunyai seorang pengawal pribadi, sebab Jae Ra pun juga punya, dan ia tengah menunggunya untuk menjemput gadis itu pulang.

Sehun bergegas melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen untuk mencari keberadaan Hye Ra yang tadi pagi berhasil membuatnya khawatir karna wanita itu menjawab panggilan Sehun dengan suaranya yang parau dan menutup telpon dengan tiba-tiba.

Rasanya Sehun ingin segera pulang saat Hye Ra tak kunjung menjawab panggilannya. Namun sebuah rapat penting memaksanya mengurungkan niat pria ini, setidaknya kabar dari paman Kim yang memberitahukannya bahwa Hye Ra tengah baik-baik saja sudah terasa membuat dirinya sedikit lega.

Kini Sehun melangkahkan kakinya menuju kamar karna keberadaan Hye Ra belum juga terlihat oleh nertanya. Tepat, wanita pertamanya itu tengah berdiri kebingungan melihat Sehun yang tiba-tiba ada dihadapannya.

Sehun langsung berjalan menghampirinya dan segera memeluk wanitanya itu.

“Hye Ra! Kau baik-baik saja, sayang?” tanya Sehun melepaskan pelukannya untuk beralih menatap mata Hye Ra.

Wanita ini tak menjawab, ia malah asik menatap mata Sehun yang ia rindukan.

Kali ini Sehun dapat melihat jelas mata Hye Ra yang begitu sembab. Bahkan tanpa perlu menebak, ia sudah tau bahwa Hye Ra menangis semalaman.

“Sehun.” ucap Hye Ra yang langsung kembali memeluk tubuh Sehun.

Sehun hanya terdiam, karna dirasa kini Hye Ra tengah berusaha menahan tangis didalam dekapannya. Setelah sikap Jae Ra yang berhasil membuatnya kebingungan untuk beberapa hari belakangan ini, Sehun harus kembali menambah kebingungannya saat sikap Hye Ra yang menurutnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

“Ku rasa Jae Ra merindukan Jae Mi.” Sehun mematung saat mendengar pernyataan Hye Ra disertai dengan suara paraunya tertangkap oleh indra pendengaran pria ini.

Kini Hye Ra terpaksa melepaskan pelukannya untuk beralih menatap mata coklat milik Sehun. Terlihat Sehun yang tengah berusaha menatapnya.

“Tolong pertemukan mereka secepatnya.” pinta Hye Ra dalam tatapannya.

Sehun lagi-lagi hanya terdiam, ternyata wanita pertamanya ini juga merasakan apa yang Sehun rasakan.

Ada jeda yang diciptakan oleh kedua figur yang masih saling menatap satu sama lain ini. Sehun sedikit merendahkan pandangannya saat dirasa kini ada sesuatu  yang semakin terasa sakit dalam dadanya. Matanya mulai memerah karna air matanya sendiri ia larang untuk muncul dipermukaan.

“Hye Ra?!” suara Sehun berhasil membuat mata Hye Ra membulat sempurna karna wanita ini dapat menebak bahwa prianya tengah berusaha menahan tangis. Rasanya Hye Ra ingin sekali mengumpat, meruntuki dirinya sendiri dengan berbagai kata kasar karna telah lancang meminta Sehun memenuhi keinginanya yang terasa sulit untuk pria itu penuhi.

“Sehun!” Hye Ra langsung menyentuh kedua pipi Sehun yang terasa sedikit panas. Kini netranya dapat melihat bahwa mata Sehun begitu berkaca-kaca.

“Sebenarnya aku tengah berusaha mencari Jae Mi kembali.” Ucap Sehun berusaha memperlihatkan senyumnya dihadapan Hye Ra yang begitu khawatir terhadapnya.

“Tolong bersabar, aku juga tengah terus berusaha. Aku hanya memintamu untuk terus menemani Jae Ra.. aku mohon, Hye Ra!” Sehun memperlihatkan senyumnya dibarengi oleh setetes air mata yang berhasil jatuh kepipi kananya.

Hye Ra langsung menghapus air mata Sehun dan segera memeluk prianya yang kini tengah lemah karna dituntut oleh keadaan yang benar-benar menghimpit dirinya.

Kepulan asap tipis yang berasal dari secangkir teh hijau dihadapan Hye Ra berhasil membuat wanita ini terdiam. Ternyata ia tengah asik kembali dengan pikirannya yang belum juga selesai.

“Kau tengah menunggu teh nya dingin?” tanya seorang wanita yang sedari tadi duduk disamping kanan Hye Ra.

Pertanyaan yang sahabatnya ini lontarkan berhasil membuat Hye Ra terhenti dari lamunanya. Hye Ra kembali tersadar bahwa ia tengah berada dirumah Soo Jung yang sore ini terasa begitu tentram.

Hye Ra mengarahkan pandangannya pada Soo Jung dan berinisiatif memperlihatkan senyum pada wanita yang umurnya hanya berda dua bulan saja dengannya.

“Kenapa? Kya! Kau tak tidur dengan baik tadi malam? Lihatlah, kantung matamu begitu hitam!” keluh Soo Jung yang sebenarnya tengah memancing Hye Ra untuk segera bercerita padanya tentang masalah yang sepertinya tengah menimpanya.

“Aku merindukan Jae Mi!” terang Hye Ra. Soo Jung langsung menghembuskan nafasnya kasar saat mendengar nama sepupunya terucap oleh mulut Hye Ra. Memang, wanita ini masih sensitif mengenai Jae Mi. Penilainannya tentang Jae Mi semakin bertamah buruk saat lima belas tahun lalu sepupunya itu melarikan diri keluar negri dengan membawa bayi laki-lakinya. Soo Jung berpikir bahwa Jae Mi benar-benar bodoh karna telah membuat keadaan menjadi semakin rumit.

Hye Ra mengarahkan pandangannya penuh pada Soo Jung yang kini tengah meminum seteguk teh hijau dari cangkir yang ia topang oleh tangan kananya.

“Kau tau dimana keberadaanya?” tanya Hye Ra yang mencoba untuk pura-pura tidak peka atas rasa benci Soo Jung terhadap Jae Mi.

Soo Jung sedikit membalas pandangan Hye Ra terhadap dirinya saat ia telah menyimpan kembali cangkir teh yang tadi ada ditangannya ia taruh keatas meja. “Aku tak tau dia ada dimana, tanyakan padanya!” jawab Soo Jung dibarengi dengan penglihatannya yang ia lemparkan kearah Jong In yang baru saja masuk kedalam area ruang tamu rumah mewah ini.

Jong In langsung menghentikan langkahnya saat melihat keberadaan Hye Ra tertangkap oleh netranya. Pria ini sedikit membungkuk kaku, ia ingin sedikit terlihat sopan meskipun sebenarnya ia sedikit malas untuk menyapa wanita matur itu.

“Jong In.” Ucap Hye Ra. Jong In hanya menanggapinya dengan senyum tipis yang ia perlihatkan untuk Hye Ra.

Jong In berniat kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan utama rumah ini, namun lagi-lagi harus tertahan saat Hye Ra menyampaikan maksud yang tertuju padanya. “Maukah kau memberitahukanku dimana keberadaan Jae Mi?” ucap Hye Ra.

Jong In kini mengarahkan pandangannya kemabli pada Hye Ra. “Kenapa?” tanyanya.

Hye Ra memautkan jari-jarinya karna gugup. Suami sahabatnya ini memang sensitif terhadap Jae Mi, karna selama ini yang hanya melindungi Jae Mi adalah Jong In. “Jae Ra sangat ingin bertemu dengan mereka.” terang Hye Ra.

Jong In terkekeh mendenger peryataan Hye Ra. “Noona, dunia ini begitu sempit, kau hanya perlu teliti, Jae Mi dan Sean tengah berada di Seoul.” Ucap Jong In yang langsung bergegas pergi meinggalkan kembali Hye Ra dengan Soo Jung dalam ruangan ini.

“Dia telah memberimu petunjuk. Carilah secepat mungkin, karna wanita bodoh itu seperti belut!” ucap Soo Jung tanpa mengarahkan pandangannya pada Hye Ra.

Sore ini Jae Mi dan asistennya tengah berada disebuah gedung baru milik sebuah perusahaan yang berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan keluarganya.

Jae Mi dapat mengenali beberapa orang yang wajahnya tak asing bagi wanita ini. Bagaimana tidak, hampir semua orang yang berada diruangan ini adalah para ‘pesuruh’ dari berbagai perusahaan besar di Korea.

Jae Mi menghembuskan nafanya kesal menyadari begitu banyaknya orang yang berlalu-lalang dihadapannya karna rapat utama akan segera dimulai.

Wanita ini menghamburkan pandangannya kesegala arah, berharap menemukan seorang wakil dari perusahaan lain yang dapat ia dekati untuk membuka koneksi kerja sama dengan perusahaannya.

Namun kini Jae Mi dibuat terdiam saat seorang pria yang tak jauh dari posisinya berdiri tengah fokus mengobrol dengan pria tua yang tak ia kenali. Sehun. Lagi-lagi ia bertemu dengan pria itu.

Dengan cepat Jae Mi langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan ini sebelum tertakap basah oleh netra sang pria.

“Boleh kita keluar sebentar?” ucap Jae Mi pada asistennya. Wanita berkacamata tersebut hanya mengangguk meskipun ia tak menangkap alasan kenapa atasannya ini ingin pergi keluar meskipun acara rapat umum akan segera dimulai beberapa menit lagi.

Namun saat Jae Mi akan melangkahkan kakinya, seorang pria berhasil menahan tangannya untuk tak segera pergi.

“Nona?” ucapnya yang langsung melepaskan genggamannya dari tangan Jae Mi, karna baru sadar bahwa perlakuannya sama sekali tak sopan.

Jae Mi membalikan kembali tubuhnya memandang siapa yang berhasil menahannya.

“Ahh, maafkan aku!” ucap pria ini merasa bersalah.

Kini Jae Mi baru sadar bahwa pria yang menahannya ini adalah Tuan Park, ayah dari anak kecil bernama Yun Bi yang beberapa minggu kebingungan mencari keberadaan pria ini.

“Oh, Kau!” ucap Jae Mi yang berusaha tetap terlihat ramah dibalik rasa tegangnya karna Sehun masih terus berada tak jauh dari dirinya.

Sejenak Jae Mi memposisikan dirinya untuk membelakangi arah Sehun, setidaknya pria itu bisa menyangkal bahwa ia adalah orang lain.

“Kau disini juga?” tanya Tuan Park.

“Ahh, Iyaa.. kau?” ucap Jae Mi dengan sedikit gugup karna hanya menyadar bahwa kini ia sedikit butuh tau tentang siapa nama pria bermarga Park ini.

“Aku Park Chanyeol.” ucap pria yang baru saja berusaha memperkenalkan dirinya serayan mengulurkan tangan kanannya kehadapan Jae Mi.

“Aku Jung Jae Mi.”ucap Jae Mi seraya membuka tangannya untuk besalaman sejenak dengan pria yang kini tak terlalu asing baginya ini.

Pria ini tersenyum saat menyadari pautan tangannya dengan wanita dihadapannya ini terlepas. “Jung Jae Mi? Kau berasal dari Jung Company?” tanya Chanyeol berusaha membuat suasana terasa sedikit nyaman.

“Iya..” ucap Jae Mi seraya mengangguk.

“Kau adiknya Jae Han? Jung Jae Han?” ucap Chanyeol memastikan.

“Kau kenal kakakku?”

“Tentu, dia adik tingkat ku dulu di universitas.”

“Sungguh?” tanya Jae Mi yang berusaha terus menutupi rasa takutnya akan Sehun yang sepertinya masih berdiri tak jauh darinya.

Chanyeol tersenyum seraya menganggukan kepalanya pelan. “Senang kembali bertemu denganmu.” Ucapnya.

“Ya.. senang juga bisa kembali bertemu denganmu.. ku rasa ada sesuatu yang harus aku selesaikan, boleh aku permisi terlebih dahulu.” ucap Jae Mi beralasan untuk segera bisa pergi sebelum Sehun berhasil memergoki dirinya.

“Ahh, baiklah. Sampai berjumpa lagi.” ucap Chanyeol seraya menepikan dirinya untuk mempersilahkan Jae Mi yang akan segera melangkah pergi.

“Terimakasih.” ucap Jae Mi sedikit menunduk dan berlalu pergi setelah melemparkan senyum untuk pria bermarga Park tersebut.

Ternyata keberadaan Jae Mi berhasil disadari oleh Sehun karna meskipun telah lima belas tahun mereka tak bertemu, Sehun masih hafal dengan lekuk tubuh wanita keduanya itu.

Sehun menyadari saat pandangannya teralih pada sosok pria yang menjadi lawan bicara wanita yang tengah membelakanginya tersebut, Park Chanyeol. Sejenak Sehun ingin bersikap acuh terhadap pria yang pernah menjadi bagian masalalunya dulu, namun nyatanya lawan bicara Chanyeol benar-benar menyita perhatiannya.

Ia segera berjalan menghampiri punggung wanita yang ia yakini Jae Mi, namun ternyata sang wanita telah lebih dulu melangkahkan kakinya.

“Jae Mi!” panggil Sehun seraya berusaha menyusul langkah sang wanita.

Jae Mi masih belum bisa menenangkan dirinya saat beberapa menit lalu ia hampir ‘tertangkap’ oleh Sehun. Namun nyata wanita itu masih lihai untuk menghindar dari sang pria.

Kini Jae Mi tengah berada didalam mobil, berusaha pergi sejauh mungkin dan berharap bahwa Sehun tak berhasil mengikutinya.

Namun lagi-lagi ada hal yang membuat hati Jae Mi tak tenang.

Saat Jae Mi tengah menunggu pergantian lampu merah ke hijau disebuah persimpangan jalan, sebuah mobil berhenti tepat disamping mobil yang tengah ia tumpangi.

Terlihat ada seorang gadis tengah duduk terdiam dibalik jendela kaca mobil dikursi penumpang yang sejajar dengan mobilnya.

Jae Mi masih ingat bahwa dia adalah gadis yang beberapa minggu lalu menatapnya digerbang sekolah Sean. Jantung Jae Mi kini berdetak tak beraturan. Tanpa disadari wanita ini menurunkan kaca mobilnya untuk memperjelas wajah gadis yang tengah ia perhatikan.

Tak disangka, beberapa detik kemudian, gadis yang menjadi pusat perhatian Jae Mi mengarahkan pandangannya pada Jae Mi. Ternyata ia juga berinisiatif menurunkan jendela kaca mobilnya.

Keduanya sama-sama terdiam, saling menatap satu sama lain. Jae Mi dapat merasa seolah dirinya tengah berkaca pada seseorang yang umurnya lebih muda darinya, karna wajah sang gadis sangatlah mirip dengannya.

Jae Mi tengah memikirkan tentang paras seorang gadis yang tadi sore berpapasan dengannya dijalan saat ia tengah berusaha kabur dari Sehun yang mungkin berusaha mengejar laju mobil yang ia tumpangi.

“..Wajahnya sangat mirip dengan Mom” ucap Jae Mi memandang putra satu-satunya yang tengah duduk tepat dihadapannya dengan segelas Ice Coffe yang tersaji diatas meja.

“Siapa?” tanya Sean yang kini mengarahkan pandangannya pada sang ibu setelah beberapa detik lalu matanya begitu asik menilik keadaan kafe yang  terlihat sedikit ramai oleh pengunjung disaat malam seperti ini.

“Mom tak tau, sudah dua kali Mom melihat gadis itu, dia satu sekolah denganmu, mungkin kau mengenalnya.” Terang Jae Mi yang  kini memperlihatkan wajah seriusnya memandang Sean berharap anak laki-lakinya ini mau memberi sedikit penerangan pada otaknya yang begitu kebingungan.

Sean menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Pemuda ini mencoba memperhatikan wajah wanita yang telah lima belas tahun ini menemaninya hidup. “Eumm, tunggu! Wajah Mom memang pasaran!!” ucap Sean yang setelahnya menyilangkan kedua tangan didepan dadanya serta menyenderkan punggungnya pada kursi yang tengah ia duduki.

“Kya!!” Jae Mi ingin sekali memukul kepala Sean, namun nyatanya anak laki-lakinya ini telah mengambil ancang-ancang untuk menghindar dari pukulan tangannya.

“Apa? Aku hanya berusaha jujur, bahkan teman sebelah kelasku wajahnya ada yang mirip dengan wajah Mom!!” Sean tak mau salah dalam berasumsi tentang paras sang Ibu yang menurutnya sedikit pasaran saat wajah Jae Ra melintas dikepalanya.

“Jangan mengada-ngada.” Ucap Jae Mi sedikit tersulut emosi oleh ucapan Sean.

“Aku tak mengada-ngada, wajah Jae Ra sangat mirip dengan wajah Mom.”

Jae Mi dibuat terdiam saat Sean berhasil menyebutkan nama seseorang yang berhasil membuatnya memutar otaknya sendiri. “Jae Ra?” tanya Jae Mi memastikan.

Sean hanya menganggukan kepalanya untuk membalas pertanyaan sang Ibu karna mulutnya tengah asik menikmati Ice Coffe yang tak lagi sedingin tadi.

‘Jae .. namaku, Hye Ra.. Ra!! Ah ada apa denganku, apa Jae Ra.. ahh!!.’, Jae Mi langsung menggelengkan kepalanya saat sebuat pemikiran gila mulai muncul dikepalanya.

Sejenak Jae Mi sedikit memandang wajah Sean yang begitu mirip dengan Sehun. Jika wajah putra satu-satunya begitu mirip dengan sang ayah kandung, lantas, maka tak menutup kemungkinan bahwa wajah putrinya yang sampai sekarang tak ia ketahui namanya itu benar-benar mirip dengan wajah Jae Mi.

Cup!!

Lamunan Jae Mi langsung terpecah saat seseorang berhasil mencium pipi kananya. Mata Jae Mi membulat sempurna saat ia menyadari bahwa bukanlah Sean yang mencium pipinya, karna pemuda itu masih duduk dihadapannya. Namun kini Sean memperlihatkan wajah tak sukanya terhadap seseorang yang berada dekat dengan sang Ibu.

Jae Mi mengarahkan pandangannya pada seseorang yang kini wajahnya masih berjarak hanya beberapa senti darinya.

“Kya!!” senyum Jae Mi langsung merekah saat menyadari siapa orang yang baru saja dengan lancang mencium pipi kananya.

“Hai Sweetheart!” Terlihat pria jangkung berkemeja putih ini tersenyum kearah Jae Mi seraya memberikan sebuket bunga mawar putih kesukaan wanita yang telah lama ia kagumi ini.

“Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Jae Mi seraya menatap pria yang kini tengah berusaha duduk diatas kursi kosong yang berada tepat disamping kananya.

“Kenapa memangnya?” Jae Mi tersenyum saat sang pria malah balik bertanya kepadanya. Ia sedikit lupa bahwa kota Seoul juga merupakan kampung halaman pria bermaga Wu ini.

Jae Mi sedikit mengalihkan pandangannya pada Sean yang tengah diam mamasang wajah datarnya saat pandangan pria disampingnya ini menatap kearah putranya tersebut. “Hai Goodboy!”.

Sean hanya terdiam memandang nanar wajah pria yang sudah lama ia benci, karna sudah hampir sepuluh tahun pria jangkung ini terus mengemis akan cinta ibu kandungnya.

Lagi-lagi Jae Mi tersenyum menyadari sikap Sean yang dingin jika berhadapan dengan pria disampingnya ini.

“Mau sampai kapan kalian seperti ini?” tanya Jae Mi yang menyindir kedua laki-laki yang saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.

“Marilah sedikit bersantai, kawan!” ucap pria bernama Yifan ini pada Sean.

Sean hanya tersenyum masam, setelahnya pemuda ini memutar bola matanya untuk mencari objek lain yang lebih menarik dari pada terus membalas tatapan pria disamping ibunya ini.

“Kapan kau datang?” tanya Jae Mi yang berusaha memulai perbincangan.

“Tadi sore.. aku benar-benar merindukanmu.”

Sean benar-benar ingin muntah mendengarkan setiap gombalan picisan yang keluar dari mulut pria yang kini terlihat asik mengobrol dengan sang Ibu yang sepertinya sedikit lupa bahwa anak laki-lakinya masih duduk terdiam dihadapannya seraya menahan kesal melihat kembali keakraban antara mereka berduan.

Beberapa menit lalu ponsel Jong In berdering, menandakan sebuah panggilan yang harus segera ia jawab. Ternyata Sean memintanya untuk bertemu disuatu tempat. Dan disinilah mereka. Melangkahkan kaki untuk sekedar melepas penat di area taman yang menghadap langsung kearah sungai Han.

“Kulihat kemarin kau bertemu dengan makhluk tiang listrik itu. Aishh.. muka mu begitu tak berbentuk!” Jong In mulai membuka mulutnya mencoba untuk menghilangkan hening antara dirinya dengan pemuda yang kini duduk disamping kananya ini.

Sean menghembuskan nafasnya kasar saat pria ini berhasil mengingatkannya tentang pertemuan ibunya dengan orang yang sang ia benci tersebut. “Aku benar-benar tak suka padanya.” Terang Sean.

Jong In tersenyum mendengarkan suara Sean yang tak seperti biasanya. “Sudah dari lama dia menyukai Ibumu.”.

“Aku tak peduli.” Sean langsung menjawab ucapan Jong  In dengan begitu cepat. Ia benar-benar menunjukan sikap ketidak sukaannya pada makhluk tiang listri itu.

Ada jeda yang tercipta antara mereka berdua saat satu sama lain mulai tak tertarik dengan obrolan topik yang menyangkut orang yang sama-sama mereka benci.

“Masih mengharapkan Ayahmu?” tanya Jong In saat wajah seorang pria yang mirip dengan wajah Sean berhasil  melintas dikepalanya.

“Hmm..”

“Apa paman tau seperti apa rupa Ayahku?” tanya Sean yang kini memandang kearah Jong In dari arah ekor matanya.

Jong In tersenyum. “Kulihat.. wajahmu hampir mirip dengannya.” Sean langsung mengarahkan pandannya penuh pada pria yang langkahnya saling beriringan dengannya ini.

“Apa paman tau kenapa Dad dan Mom berpisah?” tanya Sean yang semakin penasaran dengan topik pembicaraan mereka.

Jong In terdiam. Ia tak begitu yakin jika harus ia sendiri yang memberitahukan alasan berpisahnya Jae Mi dengan ayah kandung Sean.

“Apa aku haru bercerita?” tanya Jong In memastikan

Sean diam. Ia tak menjawab pertanyaan Jong In, pemuda ini bahkan mengalihkan pandangannya untuk tak menatap sang paman lagi.

“Mom mu adalah sosok pengalah dengan hati yang kuat. Aku hanya berpesan padamu, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan Mom mu sendirian. Dia hanya memilikimu. Percayalah padaku.”

-To Be Continue-

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 6)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s