[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 10)

ENDING SCENE

Author :

Angeline

Main Cast :

Park Chanyeol x Wendy Son

Additional Cast :

Kim Saejong| Do Kyungsoo| (OC) Yoon Rae Na| Yook Sungjae a.k.a Park Sungjae|Amber Liu| Etc~

Rating : PG-17 |Length : Series Fic

Genre : Romance|AU|Angst|Sad|Adult|Married life

Disclaimer :

Ff ini murni karya tulis author. Jika ada kesamaan dalam cerita, tokoh atau apa pun, Itu semua bukan unsur plagiat melainkan ketidaksengajaan. Don’t copas without permission. Thankyou

Summary :

Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu bukan hanya untukmu? Melainkan kau harus rela membaginya dengan seorang gadis lumpuh?. Dan peranmu yang tadinya sebagai korban harus terganti menjadi peran penjahat yang seakan-akan telah merebut kebahagiaan seseorang.

-Chapter 10-

Gadis itu nampak gelisah menunggu seseorang, sedari tadi ia berjalan bak sebuah setrika karena lamanya ia menunggu. Ini sudah sehari sejak Sungjae meninggalkannya dan pria itu belum kembali ke Jeju untuk menjemputnya, seperti apa yang pria itu katakana sebelum pergi. Tentu Saejong khawatir dan sedikit kesal karena Sungjae tidak memberi kabar apa pun padanya, bahkan Sungjae tidak mengangkat telfon dan membalas sms darinya. Apa pria itu hanya memainkan Saejong saat ini?

Klik

Suara pintu hotel terbuka membuat Saejong langsung mengedarkan pandangannya menuju sumber suara. Kini Saejong nampaknya bisa bernafas lega saat mendapati prianya sudah berada di depannya saat ini, dengan wajah tak bersalah. Ayolah, Saejong sedang merajuk pada pria itu, apakah Sungjae tidak bisa peka terhadap apa yang Saejong rasakan? Menunggu kabar dari pria itu membuat Saejong kesal setengah mati.

“Aku menelfonmu!” Saejong langsung bersuara saat pria itu hendak mendekat kepadanya, namun Sungjae hanya mengangguk sambil menghela nafasnya pelan. Apa hanya itu reaksi yang bisa ia tunjukkan?

“Aku mengirimmu pesan!” Seru Saejong lagi saat Sungjae kembali melangkah untuk mendekati Saejong, dan sekali lagi, respon Sungjae tetap sama, yaitu mengangguk sambil mendesah pelan.

“Apa hanya itu yang bisa kau lakukan? Mengangguk dan menghela nafas? Aku kesal–“

“Bunga–” Sungjae tersenyum setelah berhasil berdiri di depan Saejong, sambil memberi buket bunga yang ia pegang di belakang tubuhnya, “Cokelat–“ Sungjae kembali tersenyum saat baru saja memberikan sekotak cokelat berbentuk hati yang ia juga sembunyikan di belakang tubuhnya, menggunakan tangan yang lain, “Dan–“

“Dan?” Saejong menaikkan alisnya  penasaran dengan apa yang hendak Sungjae berikan untuknya.

Sungjae tersenyum kemudian menarik tengkuk gadis itu mendekat padanya, dan tidak menunggu lama lagi tautan bibir keduanya menyatu sempurna, Sungjae pun tidak hanya menempelkan bibirnya, namun dengan gerakan lembut Sungjae mulai melumat bibir manis Saejong. Sebuah ciuman singkat namun sangat dalam, membuat jantung Saejong berdebar hebat.

“Sebuah ciuman.” Jawab Sungjae dengan lembut saat melepaskan tautan bibirnya. Sontak hal itu mampu membuat Saejong merona bukan main. Ayolah, siapa gadis yang tidak merona atau terharu dengan sikap pria seperti ini? Tentu saja Saejong benar-benar bahagia bukan main.

“Ini bukan hari valentine, mengapa kau melakukan ini semua?”

“Karena aku mencintaimu.”

Demi apa pun juga, jangan bangunkan Saejong jika dia sedang bermimpi di siang hari, Sungjae mengatakan perasaannya padanya, dan itu membuat Saejong seperti terbang ke angkasa menembus awan-awan. Benar-benar bahagia bukan main saat mendengar kalimat sederhana namun memiliki arti yang begitu dalam, dari bibir pria itu. Bahkan Sungjae terdengar tulus saat mengatakannya, benarkah yang Sungjae ucapkan barusan?

“Bagaimana dengan gadisku? Apa kau masih mencintai pria brengsek di depanmu ini?” Tanya Sungjae dan Saejong menggigit bibir bawahnya, seakan ia ragu mengatakan jika ia masih sangat-sangat mencintai Sungjae. Tidak ada yang berubah dengan perasaannya selama beberapa bulan mereka berpisah.

“Aku akan sangat senang mendengar jawaban ‘ia’ saat ini.” Sungjae menyilangkan tangannya di dada sambil menunggu jawaban Saejong.

“Aku juga.” Saejong menundukkan kepalanya malu dengan jawabannya sendiri. Dan benar-benar membuat Sungjae gemas sekali pada gadis itu.

“Kau percaya padaku?” Tanya Sungjae lagi, dan Saejong hanya mengangguk kecil memberi responnya, “Bagus, karena aku ingin menceritakan sebuah drama kepadamu, di mana aku berperan sebagai seorang penjahat dalam drama itu.” Tutur Sungjae tersenyum kemudian berjalan dan duduk di ranjang kamar hotel itu.

PUK PUK

Sungjae menepuk tempat di sebelahnya, untuk memberi kode pada Saejong agar duduk di sampingnya, dan tidak menunggu lama, Saejong langsung duduk di sebelah pria itu untuk mendengarkan drama yang Sungjae bicarakan tadi, dan apa kata Sungjae tadi? Peran penjahat? Sebenarnya apa yang ingin Sungjae sampaikan pada Saejong? Gadis itu tidak mengerti.

Amber melirik seorang pria yang tengah sibuk membersihkan meja cafenya sehabis melayani pelanggan. Amber tersenyum pahit menatap sang sahabatnya dari kejauhan dari dalam mobil, hatinya menjerit sakit menatap Kyungsoo yang kini sangat kecewa padanya. Ya, itu sudah pasti Kyungsoo akan sangat kecewa padamu, apa yang kau lakukan sangat keterlaluan Amber, kau tidak sadar itu?

“Apa mungkin, kita bisa kembali bersama Kyungsoo-ah? Aku merindukanmu.” Kata Amber sambil mengusap air matanya yang menetes dari sudut matanya.

Demi Tuhan, hatinya benar-benar sakit menghadapi masalah yang setiap detiknya akan semakin sulit untuk di selesaikan. Sebuah drama yang Amber harapkan berakhir tanpa siapa pun tersakiti, namun nyatanya semua orang yang ia sayangi terluka akibat kesalahannya.

Menyesal?

Sedari dulu Amber selalu menyesal melakukan hal ini di belakang Kyungsoo dan Wendy, membantu Sungjae mendapatkan Wendy dengan cara yang benar-benar salah. Demi apa pun juga, apa Amber masih pantas di sebut sahabat untuk kedua sahabatnya itu? Sepertinya tidak.

“Aku akan menyelesaikan drama ini dengan baik Kyungsoo-ah, dan aku jamin jika tidak ada lagi orang yang akan tersakit setelah ini. Kau harus percaya padaku Kyungie, aku akan memperbaiki semua. Bisakah kau memberikanku kesempatan? Aku menyayangimu.” Amber semakin terisak dalam tangisannya.

Di waktu yang sama, pria yang memakai celemek berwarna cokelat itu nampak tersenyum pada beberapa pelanggan yang mengangkat tangan mereka untuk memesan sesuatu. Kyungsoo, pria yang sering memakai kaca mata tebal itu nampak sibuk dengan kegiatannya di café miliknya. Bahkan raut wajahnya tampak ceria, dan tidak menunjukkan sebuah kekecewaan untuk seseorang.

“Hah.” Desahnya pelan setelah melayani pelanggan terakhir, dan sehabis membersihkan meja. Kyungsoo duduk dan meneguk segelas air es, namun Kyungsoo berhenti meneguk air minum itu sambil menatap dengan lekat gelas berisi air dingin tersebut.

Lantas, sebuah senyuman menyungging di indahnya.

“Apa kau masih membutuhkan sesuatu yang segar Wendy? Jika ia, kau tahu harus datang pada siapa, karena hanya aku yang memiliki berbagai minuman segar untukmu.” Kyungsoo tertawa kecil dan kembali meneguk air minum itu sedikit.

“Dan apa kau merasa menyesal sekarang Amber? Demi Tuhan, aku sangat ingin marah padamu, namun aku terlalu menyangimu hingga membuat kemarahanku tidak berlaku padamu! Aku kesal dan kecewa, namun aku tetap tidak bisa marah padamu. Aku tidak bisa membencimu meski aku sangat menginginkannya, apa ini yang namanya seorang sahabat?” Kyungsoo tersenyum masam dan meneguk air itu lagi, “Aku menyayangimu Amber, aku mengenalmu melebihi Wendy atau pun Sungjae mengenalmu. Aku mohon, perbaiki semua kesalahan yang kau buat dan kembali menjadi sahabatku, aku benar-benar merindukanmu.” Lirih Kyungsoo dengan setetes air mata yang mengalir dari sudut matanya, tanpa ada niatan dari Kyungsoo untuk menghapusnya.

Pria Do itu hanya terlalu sedih dengan keadaannya dan kedua sahabatnya saat ini. Ia menginginkan persahabatan mereka kembali seperti dulu, bisakah permintaan Kyungsoo yang begitu sederhana itu terkabul?

Klik

Chanyeol membuka pintu apartementnya setelah ia memarkirkan mobilnya. Untung saja ia bisa membujuk Wendy untuk pergi bekerja, demi apa pun juga, gadis itu sangat manja saat ini. Kehamilan membuat kepribadiannya berubah dan tidak seperti dulu lagi. Untung saja Wendy kembali tidur dan membuat Chanyeol bisa pergi pergi dari sana.

DEG

Langkah Chanyeol seketika terhenti saat mendapati sebuah pemandangan asing di depannya. Ya, di ruang tamu apartement Chanyeol terdapat Rae na yang sedang mengobrol bersama kedua orang tuanya. Tunggu dulu, sejak kapan orang tua Rae na berada di Seoul, dan tanpa menghubungi terlebih dulu?

“Oh Yeol-ah, kau sudah pulang?” Suara lembut Rae na membuat Chanyeol sedikit enggan mendengarnya. Seperti kepura-puraan yang Rae na tunjukan. Chanyeol hanya mengangguk sambil membungkukkan badannya pada mertuanya itu.

“Kapan abeonim sampai? Mengapa tidak memberitahu? Aku bisa menjemput kalian di stasiun.” Kata Chanyeol setelah memposisikan duduknya di samping Rae na.

“Tidak apa-apa, kami tahu kau pasti sangat sibuk bekerja. Buktinya pagi-pagi sekali kau sudah pergi bekerja kan?” Chanyeol menatap Rae na sebentar dan tersenyum paksa pada ibu mertuanya itu. Bekerja? Bahkan Chanyeol tidak pulang semalam, apa mungkin Rae na memberi alasan seperti itu?

Ne.” Chanyeol hanya mengangguk seadanya mengiyakan ucapan ny. Yoon itu.

“Jadi kapan kalian memberikan kami seorang cucu? Ayolah, ini sudah hampir 4 bulan sejak pernikahan kalian.” Ucap tn. Yoon sambil tersenyum pada Chanyeol dan Rae na, dan hanya mampu membuat pasangan suami istri itu saling bertatap lama dengan wajah dingin nan datar.

Inilah yang Chanyeol tidak suka jika orang tua Rae na mengunjungi mereka, tentu mereka akan menanyakan seorang anak. Oh, Chanyeol sampai kapan pun tidak akan memiliki anak dari gadis bernama Rae na itu, tidak akan.

“Kami akan berusaha lebih lagi abeonim.” Kata Chanyeo berbohong hanya untuk memberikan sedikit rasa senang di hati orang tua Rae na, meski sebenarnya hal itu tidak akan pernah terjadi.

Sedang Rae na hanya meremas ujung roknya dengan menahan rasa sakit di hatinya. Benarkah ucapan Chanyeol? Mereka akan berusaha? Tentu saja tidak! Itu hanya kebohongan belaka yang Chanyeol katakana untuk menutupi hidup rumah tangga mereka yang sudah kacau balau sejak pertama kali.

“Baiklah, kami menunggu kabar baik itu. Kalian tahu kan, jika kami akan semakin tua.” Tn. Yoon tertawa dan hanya di balas sebuah senyum tipis dari kedua orang itu.

“Menginaplah di sini.” Kata Rae na tiba-tiba membuat Chanyeol menoleh sekilas pada istrinya itu. Menginap? Apa lagi ini? Jika orang tua Rae na menginap di apartement mereka, tentu saja Chanyeol akan sulit menemui Wendy, apa gadis ini sengaja mengatakan hal itu? Oh, bukan maksud Chanyeol kurang ajar pada ayah dan ibu mertuanya. Hanya saja ia memiliki seseorang yang harus ia jaga saat ini, bagaimana ia ingin menjaga Wendy jika orang tua Rae na berada di apartementnya?

Sialan.

“Apa tidak merepotkan jika kami menginap?”

“Tentu saja tidak eomma, benarkan Chanyeol?” Rae na mengangkat alisnya sambil tersenyum penuh arti pada Chanyeol, dan pria itu hanya menatap kesal istrinya itu.

Ne eommeonim, gwechanhayo.” Kata Chanyeol mengangguk pasrah akhirnya.

“Tapi aku minta maaf, karena aku harus kembali ke studio siang ini. Tidak apa-apa jika aku tinggal?” Tanya Chanyeol

“Ya, tidak masalah.”

Chanyeol tersenyum singkat dan langsung beranjak menuju kamar setelah menundukkan badannya pada mereka, Rae na yang menatap curiga pada Chanyeol langsung ikut berdiri, “Aku ingin menemui Chanyeol sebentar.” Kata Rae na tersenyum pada kedua orang tuanya, dan hanya di balas sebuah anggukkan dari mereka.

BLAM

Rae na menutup pintu itu sedikit kasar dan menatap Chanyeol sang suami yang sedang mengganti bajunya dengan kemeja bewarna hitam. Rae na menyilangkan tangannya di dada dengan tatapan tajamnya untuk Chanyeol.

“Apa kau harus bekerja saat orang tuaku mengunjungi kita?” Tanya Rae na dengan nada jengkel.

Chanyeol menoleh menatap Rae na dan membuang nafasnya sebentar.

“Tidak.” Kata Chanyeol singkat dan menaruh kameranya di dalam tas.

“Park Chanyeol!” Seru Rae na sedikit tegas, namun Chanyeol sekaan tidak peduli dengan gadis itu.

“Aku mohon.” Kini suara gadis itu bergetar, dan ia mulai menangis dengan sedihnya. Chanyeol menghentikan kegiatannya dan menatap Rae na sebentar.

“Bukankah aku sudah bilang? Menikah denganku tidak akan membuatmu bahagia, namun kau memaksanya. Harusnya kau tahu alasan mengapa aku berada di sisimu selama 4 tahun. Bukankah itu isi perjanjian kita? Aku menjagamu hingga kau bisa kembali berjalan?” Chanyeol tertawa masam sambil mendekat pada Rae na.

“Apa mungkin kita harus mengakhiri semua ini? Sampai kapan kau ingin aku untuk menjagamu?” Suara berat Chanyeol seakan menyakitkan hati Rae na.

Chanyeol kemudian berjalan melewati gadis itu dan segera melangkah keluar dari kamar tanpa ingin berkata apa-apa lagi pada gadis itu.

Gadis tomboy itu meneguk cepat minuman berjenis coffe di depannya itu sambil menikmatinya terkadang. Amber, gadis itu sedang berada di sebuah café seorang diri sambil menunggu Kyungsoo yang katanya akan datang 10 menit lagi, namun nayatanya hampir 25 menit pria bertubuh pendek itu belum sampai juga di café ini.

Dan jujur, itu membuat Amber sedikit kesal karena pria itu selalu terlambat jika mereka sedang janjian seperti ini. Ayolah, sampai kapan kebiasaan buruk pria itu berubah? Tidak pernah on time dan selalu terlambat.

“Hah, dasar!” Ucap Amber mendesah sambil melihat minumannya yang hampir habis.

Amber yang hendak memesan minuman lagi, seketika terdiam sesaat ketika melihat seseorang yang tidak asing di pemandangannya. Ya, ia mengenal sosok gadis yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Tidak salah lagi, gadis itu adalah Rae na. Namun siapa gadis yang sedang bersama dengannya itu? Mengapa terlihat tidak asing juga di pemandangan Amber?

Amber berpikir sejenak untuk mengingat siapa gadis yang sedang duduk berbincang dengan Rae na itu.

DEG

Amber membulatkan matanya dan kembali duduk di sofanya semula, ia memegang dadanya yang terasa berdebar-debar mengingat sosok gadis di depan Rae na itu.

“Bukankah dia, dokter yang memberikan hasil tes DNA Rae na waktu itu? Sedang apa mereka berdua? Tidak, apa yang sedang mereka bicarakan? Mengapa perasaanku tidak enak seperti ini?”

Amber segera mencari ide agar mendengar percakapan lebih lanjut kedua gadis itu, entah mengapa ia sedikit curiga dengan keduanya. Apa mungkin mereka membicarakan hasil tes DNA Rae na waktu itu? Dan bagaimana cara Amber untuk duduk di dekat mereka? Tentu saja Rae na akan menyadari Amber di sana.

“Ayo berpikir Amber!”

Amber segera tersenyum, dan mulai mengangkat tangannya pada salah satu pelayan. Tidak menunggu lama, pelayan itu menghampiri Amber dengan tersenyum ramah.

“Bisakah kau membantuku?” Tanya Amber tersenyum, dan pelayan pria itu mengangguk pada Amber.

“Jadi apa yang mereka bicarakan?” Desak Amber pada pelayan laki-laki itu, setelah ia berhasil menyuruh pelayan tersebut untuk menguping pembicaraan Rae na dan dokter itu secara diam-diam.

“Aku tidak begitu yakin dengan yang ku dengar, namun aku mendengar tentang hasil tes DNA. Kemudian gadis dengan kemeja pink itu –Rae na– mengucapkan ‘terimakasih sudah membantuku’. Hanya itu yang bisa ku dengar, maaf.”

“Apa kau yakin mendengar hal itu?” Amber seakan belum percaya dengan tuturan pelayan itu barusan.

“Aku yakin.”

Seketika Amber lemas mendengarnya, bukankah itu berarti Rae na sudah melakukan rekayasa pada hasil tes DNA itu? Ya, gadis itu pasti melakukan sesuatu pada hasil tes itu. Demi Tuhan, apa gadis bernama Rae na itu sudah gila melakukan hal ini, hanya untuk mendapatkan Chanyeol? Apa ia tidak punya harga diri? Atau mungkin dia sudah tidak memiliki pikiran hingga mampu melakukan hal ini? Tapi ada yang lebih penting dari memikirkan perbuatan Rae na.

“Jadi anak siapa yang dia kandung?”

Sialan.

Amber mengacak frustasi rambutnya.

“Kau kenapa?” Tanya seseorang mengejutkannya seketika.

“Kyungsoo? K-kau sudah datang rupanya.” Amber tersenyum canggung menatap Kyungsoo, dan pria itu mencium sesuatu yang aneh dari gelagat Amber saat ini.

“Kau aneh, ada apa?” Kyungsoo sudah merebahkan bokongnya di sofa depan Amber.

“Tidak apa-apa, aku hanya bosan menunggumu.”

“Ckck, menunggu sebentar saja tidak bisa. Kau tahu sendiri aku harus belajar untuk di ijinkan keluar oleh eomma!”

“Ya, eommamu benar-benar menyebalkan.”

“Kau tidak memesankan minum untukku? Aish, dasar gadis pelit!” Umpat Kyungsoo dengan tatapan tajamnya pada Amber, dan sekali lagi Amber hanya tertawa canggung di depan sahabatnya itu. Sedang pikirannya saat ini, mengambang di tengah berbagai keraguan di hatinya. Apa yang harus dia lakukan dengan rahasia besar ini? Apa mungkin ia beritahu Kyungsoo? Tapi mengapa ia tidak yakin juga dengan hal itu?

Ataukah, Sungjae?

“Kau yakin dengan hal ini?” Tanya Sungjae melebarkan matanya pada Amber, dan gadis tomboy itu hanya mengangguk dengan ragu.

“Astaga, aku tidak tahu jika gadis itu sangat licik seperti ini.” Ucap Sungjae menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan apa yang Amber baru saja ceritakan.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Amber gelisah, namun Sungjae hanya diam. Ya, pria itu juga bingung dengan hal ini, banyak perasaan yang tercampur menjadi satu di hatinya saat ini. Bahkan kepalanya banyak memirkirkan hal-hal aneh yang membuat Sungjae ingin meledak rasanya.

Tapi bukankah akan bagus jika ia merahasiakkannya dari semua orang? Karena dengan begitu ia bisa mencapai sesuatu yang sangat ingin ia dapatkan sejak dulu.

Tapi ini adalah hal yang salah, kau pun tahu semua hal yang di dasari oleh ketidakjujuran akan membuahkan sesuatu yang buruk juga Sungjae, pikirkanlah hal ini baik-baik. Dan lagi, jika kau melakukan hal ini kau akan mengkhianati hyungmu sendiri, kau mau melakukan semua ini?

Tapi bukankah memerankan sesuatu yang jahat adalah sebuah tantangan yang luar biasa?

“Apa ada lagi yang tahu hal ini selain kita?”

“Tidak ada, aku hanya memberitahumu.”

“Kita akan merahasiakannya untuk saat ini.”

“Tunggu, kenapa? Kau tidak berniat memberitahu yang lain tentang ini?”

“Karena–“ Sungjae memotong kalimatnya sambil menatap mata Amber dengan lekat, kemudian Sungjae menunjukkan senyumannya membuat Amber bingung dengan pria itu, “Karena aku ingin mendapatkan sesuatu yang sangat aku inginkan dari dulu.”

“Oh, kau bercanda! Kau kira Chanyeol akan melepaskannya begitu saja? Demi Tuhan Sungjae, jangan berpikir ini hal yang mudah kau lakukan. Aku tidak ingin bertanggung jawab jika hal ini semakin sulit dan nantinya akan menyusahkanmu!”

“Aku sadar itu, dan aku hanya ingin kau merhasiakannya dari siapa pun, karena aku yang akan memainkan peran ini. Kau bisa kan Amber, tolong aku sekali ini saja. Aku benar-benar membutuhkanmu Amber.”

Saejong menutup mulutnya setelah mendengar semua cerita Sungjae yang terasa menusuk hatinya. Ia tidak menyangka pria itu akan menjadi pria yang memiliki sifat seperti itu, sejak kapan Sungjae yang selalu bersikap manis dan baik pada setiap orang berlaku seperti seorang penjahat seperti itu? Mengapa harus Sungjae, rasanya Saejong tidak mau mempercayai semua ini.

“Maafkan aku Saejong-ah.”

“Kau sadar sudah melakukan apa? Ya Tuhan Park Sungjae!” Geram Saejong mengusap wajahnya seperti hilang akal.

“Aku tahu, sebab itu maafkan aku Saejong. Aku membutuhkanmu untuk memperbaiki semuanya, aku membutuhkanmu untuk menyemangatiku, karena aku yakin semua orang akan membenciku setelah ini. Dan jika kau juga membenciku, aku tidak tahu lagi apa aku bisa menjalani hidupku jika semua orang yang aku sayangi membenciku.” Ucap Sungjae menundukkan kepalanya, disertai sebulir air mata yang jatuh dari mata pria itu.

Saejong segera mendekat pada Sungjae, dan memeluk pria itu dengan erat, dan segera Sungjae melingkarkan tangannya pada pinggang Saejong untuk memeluk gadis itu lebih erat. Terdengar suara helaian nafas dari gadisnya, dan Sungjae yakin Saejong masih kecewa pada Sungjae. Ya, Sungjae tahu hal itu.

“Aku akan berada di sisimu.” Kata Saejong kemudian menaupkan tangannya pada pipi Sungjae dan menatap pria itu sambil tersenyum. Sungjae tersenyum lega.

Chup

Saejong mencium bibir Sungjae dengan lembut membuat hati Sungjae menghangat menerima perlakukan manis itu.

“Jadi kapan kau menemui orang tuamu dan mengatakan hal ini semua?” Saejong mengusap rambut Sungjae dengan sayang.

“Secepatnya.”

“Baiklah, ayo kembali siang ini, kita selesaikan semua ini bersama-sama. Aku akan selalu mendukungmu.” Ucap Saejong tersenyum dan Sungjae ikut tersenyum pada gadis itu.

“Ah, dan satu lagi.”

“Apa itu?”

“Wendy hamil anak Chanyeol hyung.” Ucap Sungjae membuat Saejong melebarkan matanya mendengar paparan Sungjae.

“Jadi mereka–“ Sungjae hanya mengangguk seperti mengerti maksud ucapan Saejong.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Saejong menatap Sungjae dengan serius. Setidaknya Saejong tahu perasaan Sungjae, karena prianya ini pasti masih menyimpan rasa untuk Wendy meski sudah berkurang. Setidaknya rasa itu masih tersisa kan?

“Aku baik-baik saja, asal ada kau bersamaku.” Sungjae tersenyum dan Saejong membalas senyuman itu dengan tulus.

JEPRET

Suara kamera Chanyeol terdengar memenuhi ruangan studio itu, Chanyeol sedang menjalankan profesinya sebagai seorang photographer. Seorang model perempuan yang menggunakan pakaian olah raga yang cukup sexy, katakanlah tanktop hitam dan hot pants berwarna senda yang ketat sangat sukses memperlihatkan lekukan tubuh indahnya.

Namun bagi Chanyeol itu tidak mempengaruhinya. Tentu saja, itu karena Chanyeol sudah memiliki seseorang yang menurut Chanyeol tidak ada yang bisa menandingi seorang Wendy. Meskipun mereka adalah model, Wendynya lebih indah dari siapa pun di dunia ini untuknya.

Hyung!” Suara Woozi membuat Chanyeol menghentikan kegiatannya dan menatap asistennya itu sebentar.

“Ada apa?” Tanya Chanyeol sambil menatap beberapa hasil jepretan foto, hasil karyanya.

“Ada istrimu.” Bisik Woozi membuat Chanyeol mengerutkan keningnya dan menatap Woozi dengan tatapan bertanya. Istri? Ada apa Rae na menyusul ke studionya? Tidak biasanya gadis itu ingin repot-repot menuju studionya.

“Rae na ke sini?” Tanya Chanyeol dan Woozi menggeleng cepat.

“Lalu?”

Woozi memberi kode pada Chanyeol, bahwa ada seseorang di belakang sana yang sedari tadi menatap Chanyeol dengan wajah cemberutnya. Segera pria itu mengedarkan pandangannya ke belakang, dan pria itu langsung melebarkan matanya menemukan ‘istri’ yang dimaksud Woozi adalah Wendy. Ya, gadis itu berada di studionya sambil menatap sebal pada Chanyeol.

Tentu saja Chanyeol tahu mengapa gadis itu menatap Chanyeol seperti itu, apalagi jika bukan karena Chanyeol meninggalkannya saat tidur dan tanpa pamit. Segera Chanyeol menyunggingkan senyuman terbaiknya pada gadis itu, namun seperti hal itu tidak berlaku apa-apa untuk Wendy saat ini.

Wendy mendekat pada Chanyeol dengan wajah sebalnya, bahkan tangan gadis itu terkepal dengan erat seperti bersiap memberikan Chanyeol sebuah pukulan keras.

“Sayang, aku minta maaf. Sungguh.” Chanyeol mengecup singkat puncak kepala Wendy, namun Wendy tatap menunjukkan wajah kesalnya pada pria itu.

“Kau jahat! Kau meninggalkanku tanpa berpamitan! Aku mencarimu, bahkan aku menelfonmu, tapi kau tidak mengangkatnya! Kau benar-benar jahat!” Tegas Wendy memukul gemas lengan Chanyeol, dan segera Chanyeol menghentikan tangan gadis itu, dan mencium singkat punggung tangan Wendy.

“Aku tahu, tapi aku harus bekerja. Kau lihat? Jadi bisakah kau menungguku di ruanganku sampai aku selesai?” Wendy menggeleng menolak permintaan Chanyeol, malah tangan gadis itu langsung melingkar pada lengan kekar Chanyeol, dan wajahnya memohon untuk tetap bersama Chanyeol di sana.

“Aku tidak mau menunggu sendirian, aku ingin di sini bersamamu. Aku berjanji tidak akan menganggu.” Kata Wendy menyandarkan kepalanya pada lengan Chanyeol, dan Chanyeol hanya menghela nafasnya, hingga akhirnya mengiyakan lagi permintaan Wendynya itu.

Hyung, model barunya sudah datang. Kau mau menyeleksi mereka sekarang?” Tanya Woozi yang sudah menghampiri Chanyeol dan Wendy lagi. Chanyeol segera mengangguk dan menyuruh Woozi untuk membawa mereka masuk, agar Chanyeol bisa menyeleksi model-model tersebut.

“Apa mereka sexy?” Tanya Wendy yang masih melingkarkan tangannya pada lengan Chanyeol, dan pria itu hanya mengangguk pada Wendy.

“Apa lebih sexy dariku?” Chanyeol lagi-lagi mengangguk dan membuat Wendy melotot kesal pada pria itu.

“Yak–“

Chup

Chanyeol mengecup bibir Wendy dengan cepat.

“Berhentilah menanyakan pertanyaan tidak berguna seperti itu. Karena bagiku, kau melebihi model-model itu, mengerti sayang?” Tanya Chanyeol, dan Wendy langsung mempoutkan bibirnya sambil mengangguk paham.

“Gadis pintar.” Chanyeol terkekeh sambil mengelus rambut Wendy dengan sayang.

Wendy melebarkan matanya saat beberapa model memasuki studio itu, bagaimana bisa Wendy tidak berpikiran macam-macam, saat melihat beberapa model itu memakai pakaian yang sangat minim, bahkan belahan dada mereka terlihat. Paha mereka terekspos dengan bebas. Wendy benar-benar geram menatap model-model luar negeri itu. Namun Wendy semakin kesal, karena melihat wajah Chanyeol nampak biasa saja.

“Kenapa mereka sexy seperti itu? Apa tidak ada yang lain?”

“Tentu saja mereka sexy, mereka model untuk lingerie Wendy.” Chanyeol membuang nafasnya sambil menggeleng menatap gadisnya yang benar-benar manja, dan bahkan ia sangat cemburu dengan model-model ini. Bukankah dulu Wendy tidak pernah mempermasalahkan model-model yang bekerja dengan Chanyeol? Kehamilan membuat gadis ini berbeda drastis.

“Awas saja jika matamu menatap tubuh mereka!” Geram Wendy meremas lengan Chanyeol, membuat pria itu meringis dan menatap Wendy yang terlihat marah.

“Hah, kau membuatku ingin menidurimu saat ini juga.” Kata Chanyeol kemudian menarik tengkuk Wendy untuk mencium gadis itu, dan tidak hanya menempelkan saja. Namun Chanyeol mengajak Wendy untuk sedikit berciuman sedikit bergairah, membuat para staff di sana menatap iri seorang Wendy yang bisa mendapatkan Chanyeol yang terbilang tampan dan sempurna.

Chanyeol melepaskan tautan bibir itu dan mengecup hidung mungil Wendy.

“Bisakah aku bekerja sekarang? Dan kau bisa meminta apa pun pada Woozi jika kau membutuhkan sesuatu.” Chanyeol mengusap rambut Wendy, dan gadis itu mengangguk paham.

Chanyeol pun hendak melanjutkan pekerjaannya lagi, namun Wendy masih menahan lengan Chanyeol untuk bersamanya, dan itu membuat Chanyeol sedikit tidak tega melepaskan Wendy. Chanyeol tidak kesal dengan sifat manja Wendy yang benar-benar keterlaluan jika dibilang, bahkan Chanyeol juga berharap ia bisa menunda pekerjaannya ini dan memiliki waktu bersama Wendy. Namun Chanyeol harus professional dalam bekerja kan?

“Wendy ayolah, aku akan menyelesaikannya dengan cepat, aku berjan–“

Hyung, pemotretan untuk thema traveling dilaksanakan sore ini.” Seru Woozi, dan Chanyeol hanya membuang nafasnya karena ia yakin, Wendy akan semakin kesal sekarang.

Raut wajah gadis itu saja sudah menunjukkan sesuatu yang lain, seperti tidak suka dan kesal. Chanyeol lantas mengenggam tangan Wendy sambil mengusapnya.

“Aku–“

“Aku pulang saja. Kau sangat sibuk sepertinya.” Ucap Wendy melepaskan genggaman Chanyeol.

“Sayang, jangan marah seperti ini.” Ucap Chanyeol kembali meraih tangan Wendy.

“Jadi kapan kau selesai? Apa aku harus menunggumu sampai malam?” Wendy mempoutkan bibirnya membuat gadis itu terlihat seperti anak kecil.

“Wendy–“

“Tidak apa-apa, aku akan mengunjungi Kyungsoo saja.” Ucap Wendy tersenyum, namun Chanyeol seperti merasa jika gadisnya sangat kecewa pada Chanyeol sekarang.

“Aku minta maaf.” Ucap Chanyeol dan Wendy langsung menggeleng cepat, kemudian gadis itu mendekat pada Chanyeol sambil memeluk prianya dengan sayang.

“Maaf, karena aku begitu temperamen sekarang. Aku juga begitu manja padamu, bahkan sampai membebanimu seperti ini, maafkan aku yeolie.” Ucap Wendy menyesal, namun segera mendapat gelengan dari Chanyeol juga.

“Hei, apa kau kira aku merasa terbebani karenamu? Tentu tidak sayang, aku menerima semua sifatmu, bahkan aku sangat senang karena kau begitu manja sekarang, itu membuatku semakin mencintaimu.” Chanyeol tersenyum dan mencium kening Wendy sedikit lama, hingga akhirnya melepaskan ciuman itu.

Keduanya saling bertatap sambil tersenyum.

“Aku sangat mencintaimu Yeolie.” Wendy tertawa kecil sambil mengusap perutnya, dan Chanyeol ikut mengelus perut Wendy, “Anak appa, kau harus menjaga eommamu dengan baik hm? Dan jadilah anak yang baik agar tidak menyusahkan eommamu ini.” Chanyeol sedikit menunduk dan mencium perut Wendy, membuat gadis itu bahagia sekali rasanya.

“Aku juga sangat mencintaimu sayang.” Ujar Chanyeol mengusap pipi Wendy.

Sungjae beserta Amber dan Saejong nampak duduk dengan perasaan bimbang masing-masing. Seperti memikirkan sebuah solusi untuk masalah yang mereka hadapi. Tapi memang benar, mereka sedang memikirkan cara terbaik menyelesaikan sebuah drama yang mereka ciptakan itu.

“Jadi?” Tanya Sungjae menatap Amber.

“Kita harus menemui orang tuamu Sungjae, tidak ada pilihan lain. Lagi pula, hanya mereka yang tahu masalah ini.” Ucap Amber dan Saejong membenarkan ucapan gadis itu.

“Ya, aku rasa juga seperti itu.” Kata Saejong.

“Baiklah, kita akan bertemu dengan mereka malam ini. Bisa kau hubungi Chanyeol, Wendy dan Kyungsoo?” Tanya Sungjae pada Amber.

“Aku tidak yakin dengan Kyungsoo, ia masih mengabaikan pesanku.” Ucap Amber menunduk, dan Sungjae hanya mencoba memahami situasi Amber dan sahabatnya itu.

“Aku akan menghubungi Kyungsoo kalau begitu.” Kata Saejong membuat Sungjae dan Amber mengangguk setuju.

“Kau yakin ini akan berhasil?” Sungjae kembali bersuara menatap Amber dan gadis itu hanya bisa mengangguk mantap.

“Baiklah, kita menanggung ini bersama-sama Amber, jangan khawatir.”

“Aku akan bersamamu.” Ucap Saejong menggenggam tangan Sungjae dengan lembut, dan Sungjae tersenyum sambil mengangguk.

“Terimakasih Saejong-ah.”

-To Be Continued-

Cus, di komentarin epepnya :”) Sebenarnya aing bingung ini endingnya bakalan gimana xD, tapi ya ditunggu aja. Wkwk, dan jangan bosen ninggalin jejak kaki ea gaes, komentar kalian itu penting banget buat akuh /ALAY/

Komentar kalian itu membuat aku jadi semangat untuk menulis dan menyelesaikan cerita ini, hehe. Jadi jangan bosen yah untuk komentar, terserah deh komentarnya pendek apa panjang  xD

Baiklah sekian, saya angeline pamit undur diri /PLAK/

Bye bye bebebkuhh semua

Saranghae -,-

Iklan

25 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 10)

  1. Eaaak abis ke epep sati, gw kesini 😀 HAPPY ENDING YA THOR! gak maksa kok, cuman capslock-nya lgi jebol 😀 semoga wendy – chanyeon jadi keluarga yg SAMAWA 😀 eits belum kawin deng 😀 Lanjut terus thor!

  2. Ini gimana atuh,,,,
    Thanks,sungjae udah di kembalikan seperti semula,karna jujur,gimanapun muka2 kayak sungjae gak cocok dijadiin antagonis karna terlalu……….lah.
    Next udah mau ending ya kak…???
    See you

    • Hahahhaa, iya smaa2 yah /eh/ 😂
      Mukanya dia emg gak mndukung jdi antagonis, tapi yah gmna kalu aku terinspirasi pas nntn perannya dia di goblin yg jdi dewa gituh :”) mukanya kyak bangsat2 gmna gitu..😂…

      Udah deket ending nih…
      See you too😘
      Terimaksih

  3. suka bgt ini sama ffnya. ini yg plg dinanti bgt ffnya . list favorit bgt ni. ending nya jgn sad ya. pingn lihat chan sama wendy yg bahagia sama anaknya nanti. cptn update laginya, tiap hari cek ini ff udh update apa belum

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s