[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married (Chapter 10A-END: Version I)

When I Must be Married (Chapter 10A-END: Version I)

By El Byun

Chaptered

Romance, comedy, Married Life, Adult, Angst

Rating    (PG-17)

Main Cast:

Baekhyun EXO | Song Hyohwa (OC)

Adittional Cast:

Taeyeon (SNSD)

You will find them by yourself

Summary:

“Nasib kehidupan pernikahan kami selalu ditentukan oleh orang lain. Tapi perasaan yang kami miliki tidak bisa ditentukan oleh orang lain.”

Disclaimer:

FF ini asli dari jerih payah pikiran author. Jika ada kesamaan cerita, alur dan tokoh itu hanya kebetulan. Tidak ada niat untuk meniru atau menjiplak karya orang lain. Sebaliknya, don’t be plagiarsm please! Be a good readers! Lanjutan fanfic ini belum pernah dipost di manapun.

Lets read!!

TRUTH’

Author’s side

Seorang dokter tengah berjalan terburu-buru dengan meninggalkan jubah kedokterannya. Pria berperawakan Siwon itu bergegas pergi ke rumah sakit tempat Song Hyohwa mantan istri Baekhyun di rawat setelah mendengar pasiennya telah melahirkan. Rambut hitam jambul khasnya yang disisir ke belakang menambah kesan menawan padanya. Beberapa perawat yang ia lintasi tidak sedikit yang menggumamkan betapa tampannya dokter ini. Ia membawa sejumlah dokumen penting yang menjadi pekerjaannya beberapa bulan yang lalu.

Tok.. tok.. tok..

“Oh, dokter Choi! Silahkan masuk!” walau tanpa pengenal siapa saja tahu siapa dokter kandungan yang terkenal ini.

“Ada masalah apa? Tumben sekali kau berkunjung ke tempat kerjaku?” siapa sangka seorang dokter terkenal yang selalu padat tugas itu menyempatkan diri mengunjungi dokter lain di rumah sakit yang berbeda. Dokter Choi, tanpa basa-basi ia menyodorkan dokumen yang ia bawa ke atas meja. Dokter yang menangani pasiennya kini tengah mengintip lembaran-lembaran itu.

“Aku dengar pasienku melahirkan di sini.” Sambil membuka dokumen, dokter Choi menjelaskan tujuan kedatangannya.

“Nyonya Song?” dokter itu menggumamkan nama yang tidak asing lagi. Keningnya sedikit berkerut membaca beberapa tulisan hasil pemeriksaan kandungan terakhir pasien yang pernah di periksa dokter Choi rekannya itu.

“ASD?” Sang dokter bermarga ‘Kim’ itu mencoba mengeja untuk memastikan bahwa pemeriksaannya benar.

“Itu hanya dugaan sementara. Karena masih di rahim, seberapa besarnya aku tidak bisa mengidentifikasinya lebih lanjut. Lagi pula janinnya kembar.” Dokter Choi menjelaskannya dengan sungguh-sungguh. Ia hanya tidak ingin jadi pihak yang disalahkan.

“Memang hasil lab-nya belum keluar. Melihat kondisi bayinya waktu itu memang terlihat susah bernafas dan detak jantungnya lemah.” Setelah mengatakan itu ia berdiri dan mencari sebuah map di beberapa tumpukan di lemari belakang kursi duduknya. Setelah mendapatkan dokumen yang didapatnya ia memberikannya pada dokter Choi langsung.

“Apa kau juga tahu pasienmu depresi?” nadanya seakan menyalahkan. Ia berpikir dokter Choi melewatkan beberapa hal penting yang dialami ibu hamil. Dokter Kim yang ditemuinya ini memang lebih muda darinya, namun karena mereka sudah akrab pembicaraan informal menjadi bahasa yang biasa. Bahkan saat mereka sedang berselisih paham.

“Hey dengar, mereka itu benar-benar pasangan yang masih muda dan……. konyol!” mata dokter Kim sedikit memicing heran mendengar penjelasannya. Tidak semua dokter mengetahui berita dunia hiburan. Mereka sibuk bekerja dan memikirkan pasien. Terkecuali dokter Choi yang notabene adalah anggota dari Hyohwa fansclub. (*Chapter 3)

“Apa maksudmu?” mendengarnya dokter Choi mendesah, sepertinya ia baru sadar dokter yang satu ini benar-benar tidak tahu gosip. Ia menarik kursinya mendekati meja. Tangannya bersedekap untuk memulai pidatonya.

“Apa kau tidak tahu mereka itu pasangan yang bercerai?” sedikit lirih, tapi untuk apa? Mereka hanya berdua di ruangan itu.

“Aku tahu, mereka sudah menceritakannya padaku!” ‘Shit, untuk apa aku bicara jika dia sudah tahu?’ gerutu dokter Choi dalam hati.

“Tapi sebenarnya aku bingung. Kenapa mereka bercerai jika masih saling mencintai?” dan akhirnya mereka sependapat.

“Karena itu aku bilang mereka pasangan yang konyol!” Ia menjelaskan bagaimana kronologi pada awal hingga akhir pemeriksaan beberapa minggu yang lalu yang berakhir dengan pertengkaran konyol tentang berat badan ibu hamil. Karena kejadian itulah pasangan bercerai itu melewatkan informasi penting yang seharusnya mereka dengar waktu itu. (*Chapter 7)

Entah siapapun orang awam di luar sana pasti setuju dengan pembicaraan dua dokter ini. Berbagai gosip beredar di luar sana. Pro dan kontra sudah tidak dapat dielakkan lagi. Tak sedikit orang-orang berpendapat jika kisah asmara baekhyun hanya settingan belaka untuk mendompleng popularitas EXO. SM bahkan tak tinggal diam, dalam kurun waktu kurang dari 12 jam artikel diturunkan untuk menolak semua tuduhan netter.

‘Bercerai namun saling mencintai?’

Itulah quotes yang paling tepat untuk pasangan baek-hyo saat ini. Mereka terpisah karena sebuah perjanjian, bukan karena tidak saling mencintai lagi. kesalahan itulah yang membuat nasib pernikahan mereka berakhir pada sebuah perceraian. Sebenarnya mereka tidak menginginkan itu. Namun sayang, waktu memang tidak pernah bisa diputar balik. Mereka harus menjalani kehidupan tanpa status yang jelas. Ditambah lagi kehamilan di luar hubungan mereka. Hamil, memang begitu membahagiakan ketika seorang pasangan tengah menjalani hidup berumah tangga. Namun, hamil bagi pasangan baek-hyo ini adalah suatu anugerah yang tidak pada waktu dan tempatnya. Di sinilah pikiran mereka terkoyak. Mereka berpikir keras bagaimana mereka akan melangkahkan kaki ke depan tanpa hambatan. Namun, jalan yang mereka ambil begitu berat. Banyak pengorbanan yang mereka lakukan. Terkoyak secara batin itu pasti. Mereka butuh bantuan orang lain yang bisa mengeluarkan mereka dari masalah. Namun orang itu tidak pernah mereka temui dan akhirnya Tuhan sendiri yang harus turun tangan. Tidak ada yang tahu, kapan dan di mana tangan Tuhan ada serta bagaimana Tuhan menolong mereka.

Kini mereka tidak harus bersembunyi lagi, semua orang tahu apa yang mereka alami. Tuhan sudah membukakan jalan, namun sebagai gantinya mereka harus memberikan salah satu malaikat kecilnya sebagai syarat. Syarat untuk bisa melanjutkan kehidupan.

~~~

Setelah mendapat dokumen pemeriksaan dari dokter Choi dan menggabungkan hasil lab. Akhirnya dokter Kim spesialis organ dalam dan bedah itu membeberkan kondisi pasiennya. Ditemani beberapa orang perawat, ia pergi menuju ruang rawat pasiennya Song Hyohwa.

“Nuguss..” sang dokter mendapati Baekhyun tengah menemani pasiennya seperti biasanya.

“Oh dokter.” Baekhyun berdiri dan mempersilahkannya masuk.

“Ne,  Jeoseonghamniida. Kami kemari ingin melaporkan hasil lab dari bayi Anda yang telah meninggal. Kami menemukan hasil bahwa…” kata-katanya terputus. Mata sang dokter teralihkan pada sosok hyohwa yang tengah berbaring di ranjang.

“Oh, Nyonya Song telah sadar.”

Dokter yang melihat beberapa pergerakan yang dilakukan oleh pasiennya langsung mendekat. Ia yakin pasiennya telah cukup untuk berisitirahat hari ini. Hyohwa tengah menggeliat menyadarkan diri namun matanya sungguh sulit untuk dibuka. Dokter langsung memeriksa denyut nadinya, suhu tubuh dengan telapak tangannya, dan menyorotkan senter kecil pada matanya.

“Hyo, kau sadar??” Hyohwa mengenali suara baekhyun yang memekik kegirangan. Ia telah mendapatkan wanitanya kembali. Wanita itu membuka matanya. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah warna putih dari langit-langit kamarnya. Lalu ia menoleh mendapati seseorang berwajah asing mengenakan jas berwarna putih khas seorang dokter dan beberapa orang wanita yang dianggapnya sebagai perawat.

“Apa Anda merasa pusing?” Tanya dokter yang sedang memeriksa nadinya.

“Sedikit.” Jawab Hyo lirih. Sepertinya ia masih lemah.

“Itu karena Anda sudah tiga hari tidak sadarkan diri. Tidak apa-apa. Ini hanya reaksi biasa. Nanti akan hilang dengan sendirinya.” Jelas sang dokter sambil mencatat. Lalu ia kembali memulai pada pembicaraan diawal.

“Saya akan melaporkan hasilnya. Lebih baik jika Ny Song juga tahu. Hasilnya mengatakan bahwa bayi Anda mengalami gejala ASD atau atrial septal defect. ASD ini adalah kebocoran pada sekat serambi jantung. Kelainan ini sudah sejak masa janin awal akibat tidak terjadi penyatuan sekat antara kedua serambi jantung, akhirnya menimbulkan lubang. Sebelumnya ia mengandalkan nafas ibunya untuk bertahan hidup. Ketika ia di luar kandungan, ia tidak bisa bernafas dengan baik. Syukurlah, bayi Anda yang lain tidak mengalami hal itu.” Hasil selesai dibacakan dan hyohwa mulai merasa bingung. Ia baru sadar kenapa ia bisa berada di rumah sakit. Bahkan baekhyun juga ada di sini mendampinginya.

“Bwo?? Aku sudah melahirkan? Apa maksud dokter berkata seperti itu?” Hyo mengajukan pertanyaan seputar kebingungannya.

“Geurae. Anda melahirkan di usia kandungan 32 minggu. Bayi kembar Anda yang selamat hanya satu. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya.”

~~~

Hyo’s side

Kepalaku sedikit pusing setelah bangun. Tempat ini sepertinya rumah sakit. Oh, tentu saja. Terakhir kali aku terjatuh di depan toko. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Mwo, kenapa ada Baekhyun oppa juga? Aku merasa sedikit aneh dengan tubuhku.

“Apa Anda merasa pusing?” Tanya seseorang yang berjas putih di depanku, ia sedang memeriksa nadiku.

“Sedikit” jawabku dengan susah payah. Entah saat ini aku masih belum bisa berpikir jernih.

“Itu karena Anda sudah tiga hari tidak sadarkan diri. Tidak apa-apa. Ini hanya reaksi biasa. Nanti akan hilang dengan sendirinya.” Jelasnya. Tentu saja. Aku merasakan tubuhku seperti lama sekali tak digerakkan. Aku baru bangun dan sepertinya aku telah melewatkan waktu yang panjang dalam hidupku.

“……” apa yang sebenarnya ia jelaskan. Yang ku mengerti ia hanya menjelasakan sesuatu tentang bayiku. Apa aku sudah melahirkan? Bagaimana mungkin?

“Bwo?? Aku sudah melahirkan? Apa maksud dokter berkata seperti itu?” tanyaku memperjelas penjelasannya.

“Geurae. Anda melahirkan di usia kandungan 32 minggu.”

Deg..

APA???

Aku gelagapan dan meraba perutku sendiri. Aku tidak mungkin sudah melahirkan bukan? Dan dokter itu memang benar. Tidak ada lagi perutku yang besar. Pantas saja aku merasa aneh.

“Bayi kembar Anda yang selamat hanya satu. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya.”

Sesange!!!

Aku tidak percaya. Aku hanya memiliki satu dari bayi kembarku?

Aku melamunkan sesuatu tentang bahagianya aku dengan dua bayi di kedua tanganku. Dan sekarang hanya tersisa seorang. Kenapa? Wae? Tak kusadari air mataku mengalir begitu saja. Dadaku mulai sesak. Dokter masih memeriksa keadaanku. Bahkan perawat yang berada disampingnya sedang menyuntikkan sesuatu di selang infusku.

Tanganku masih meraba perutku dan berharap aku bisa merasakan bayi-bayiku bergerak di sana. Otot pipiku mulai turun, mataku berkaca-kaca seakan air deras akan mengucur dari sana. Oh Tuhan, kenapa kau jadikanku seperti ini? Kenapa?

“Chakhaman! Bisakah aku menemui bayiku?” aku menggelayuti lengan dokter yang akan pergi setelah memeriksaku. Aku memandangnya dengan wajah sendu.

“Tentu, namun bayi Anda masih dirawat di NICU. Kami tidak bisa membawanya kemari.” Aku menggeleng. Bukan itu maksudku.

“Aku ingin melihat bayiku yang kau bilang sudah meninggal. Aku ingin melihatnya, jebal! Hiks..” aku memohon. Aku mengguncangkan lengan dokter itu keras dan aku tidak akan melepaskan lengannya sebelum aku mendapatkan jawaban. Aku bahkan menangis di depannya dan di depan perawatnya. Kenapa sulit sekali mereka menjawab pertanyaanku?

“Jebal dokter!! Aku mohon!…” ia bahkan tidak melihatku. Wajahnya menatap langit-langit ruangan ini. Mungkinkah aku sudah terlambat untuk menemui bayiku sendiri? Atau jangan-jangan aku sedang mendapatkan karma, hingga Tuhan sendiri tidak mengijinkanku memiliki kedua buah hatiku. Tidakkah Tuhan jahat?

“Hyo! Andwaenikka..” tiba-tiba baekhyun oppa datang melepaskan kaitan tanganku pada lengan dokter itu. Ia menggeleng-geleng tanpa berkata apapun. Apa mereka bersekongkol? Apa mulut mereka bisu?

Dokter bisu itu, entah kenapa dia malah pergi dari ruangan ini tanpa menjawab apapun pertanyaanku? Aku meronta. Ingin rasanya bangkit dari ranjang memuakkan ini. Namun baekhyun oppa malah mencengkeram kedua pundakku agar aku tidak bisa bergerak.

“Lepaskan aku oppa! Aku ingin pergi menemui bayiku!!” ia masih bersikukuh manahanku. Bahkan perawat yang datang bersama dokter itu belum pergi dan ikut memegangiku. Apa mereka tidak tahu aku sedang tersiksa sekarang ini?

“Auhh… argh..!!!” sesuatu di bawah perutku terasa sakit. Bahkan nyerinya bukan main. Mataku terpejam dan mulai berhenti untuk meronta. Tubuhku menegang, kali saja jika bergerak lagi akan bertambah sakit.

“Nyonya jangan bergerak terlalu banyak. Jahitan Anda belum cukup kering. Saya akan kembali untuk mengambil anastesi.” Perawat itu akhirnya pergi dari pandanganku. Baekhyun oppa menatapku dengan khawatir. Selalu dan selalu saja pria ini jika berada di dekatku selalu membuatku menderita. Ia memandangku iba, seolah semua ini bukan berakar dari perbuatannya. Ingat Byun Baekhyun, kau sudah menyakitiku berkali-kali. Kau tidak ingat, hah???

Author’s side

Hiks.. Hiks…

“Uljima!”

Hyohwa masih menangis tersedu-sedu bahkan setelah suster menyuntikkan anastesi pada bekas jahitannya. Baekhyun masih di sana. Ia terus membujuk hyohwa agar berhenti menangis. Pria ini tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi seorang ibu yang kehilangan anaknya. Yang ia tahu, marah dan berteriak akan membuat wanita ini semakin membencinya. Baekhyun sadar, perbuatannya tempo hari membuat jiwanya hancur. Dan sekarang mungkin keping-kepingan yang sudah hancur itu seakan diinjak-injak dengan berita kematian bayinya.

Menangis adalah luapan dari emosi. Bahkan ahli psikolog mengatakan, dengan menangis akan membuat seseorang menjadi lebih tenang. Jadi baekhyun memutuskan untuk membiarkannya menangis sampai akhirnya hyohwa sendiri yang menghentikan tangisannya.

Hening…

Hanya suara uap yang keluar dari penghangat ruangan mereka yang terdengar. Entah sudah berapa lama hyohwa membisu dan mengabaikan kehadiran baekhyun yang duduk di kursi samping ranjangnya. Mungkin satu jam, atau satu setengah jam. Bahkan wajahnya tak sudi menoleh ke arah baekhyun. Sebenarnya wanita ini ingin sekali untuk memeluknya saat ia dirundung kesedihan tadi. Namun, potongan memori tentang pertunangan baekhyun dengan mantan kekasihnya membuatnya enggan untuk melakukan itu. Lalu dengan sekuat hati ia merubah perasaannya menjadi benci. Ia merasa risih dengan kehadirannya namun juga tidak ingin baekhyun pergi dari ruangan ini.

Tok.. Tok.. Tok…

“Permisi!”

Di tengah dinginnya hubungan mereka, tiba-tiba seseorang datang yang ternyata adalah seorang pengantar makanan untuk pasien di rumah sakit ini. Baekhyun dengan cekatan mengambil nampan itu dengan hati-hati. Sebenarnya hyohwa malas sekali untuk makan. Namun sesuatu yang mungkin semua fans baekhyun tahu, membuat hyohwa harus menelan kebenciannya kembali. Baekhyun dengan murahnya memberikan senyuman manis pada perempuan pengantar makanan yang ternyata masih muda namun diperkirakan umurnya jauh lebih tua dari hyohwa. Tua dalam artian dewasa. Heol, pria mana yang tidak tertarik pada wanita dewasa termasuk seorang byun baekhyun. ‘Shit’ ia harus mengumpat karena melupakan keacuhannya tadi padanya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita itu tengah mengobrolkan sesuatu yang hyohwa tidak perduli topik pembahasannya. Yang ia permasalahkan hanyalah, kenapa wanita itu lama sekali memegang tangan baekhyun yang masih mengangkat nampan itu. Seakan ingin berkata, “syuh.. syuh.. cepat pergi dan lanjutkan pekerjaanmu!

Baekhyun berbalik setelah perempuan itu keluar dari ruangan mereka. Hyohwa mulai was-was. Ia merasa canggung setelah bergelut dengan pikirannya sendiri tadi. Baekhyun menarik abs papan makan untuk meletakkan nampannya. Ia menekan tombol otomatis untuk menaikkan ranjang hyohwa agar wanitanya dapat duduk sambil bersandar dengan nyaman.

Sial, aroma kaldu dari sup ayam gingseng di depannya membuat hyohwa merasa lapar. Padahal tadi ia berniat untuk mogok makan. Hyohwa tidak bergerak sedikitpun. Hanya melihat dan menahan nafsunya, itu saja.

“Makanlah!”

Hyohwa melirik sedikit baekhyun yang duduk tenang di kursi menungguinya makan. Tangan hyohwa sedikit bergerak memegang sendok itu, namun ia meletakkannya kembali. Ia seperti melihat wajah Taeyeon di dalam mangkuk supnya. Ia masih bertanya-tanya, kenapa pria ini masih di sini dan menemaninya? Bukankah ia sudah bertunangan? Bagaimana kalau tunangannya cemburu lalu berniat melenyapkan hyohwa dan anaknya dari dunia ini?

Pikiran-pikiran jelek itu terus menghantuinya. Tapi disisi lain ia juga menginginkan baekhyun menjadi miliknya. Ia sudah berkorban banyak hal untuk bertahan dengannya. Apa semudah itu hubungan mereka berakhir? Apa karena mereka tidak memiliki ikatan?

“Aku akan pergi jika kau tidak nafsu makan hanya karena aku didekatmu!”

Tiba-tiba kepala hyohwa menoleh ke arah baekhyun. Melihatnya dengan tatapan cemas. Baekhyun sudah terlalu sabar untuk menunggu respon dari hyohwa. Namun, sabar ada batasnya. Ia tahu betul hyohwa kesal dengannya. Tapi apakah ia juga tidak bisa melihat pengorbanannya. Oh ya ampun! Baekhyun lupa untuk menceritakannya. Hyohwa baru saja sadar dan dia tidak tahu menahu tentang pertunangannya yang telah dibatalkan. Kau bodoh baekhyun!

Baekhyun beranjak dari duduknya. Langkahnya sebentar lagi akan memutar jika saja hyohwa tidak mengatakan sesuatu yang sebenarnya ia sudah hafal.

“A.. aku tidak ingin sendirian.”

Lirih, namun keheningan justru membuatnya terdengar jelas. Baekhyun menatap hyohwa penuh dengan keseriusan walaupun hyohwa tidak membalas tatapannya. Apa dia tidak salah dengar? Hyohwa akhirnya memberikan respon. Ini sudah jelas sebuah kode. Ia tidak ingin baekhyun pergi dari kehidupannya. Ia membutuhkan baekhyun, sekarang, nanti, esok dan selamanya.

Hiks..

Tidak.. ini situasi yang tidak baik. Baekhyun mendengar lirih suara sesenggukkan itu. Hyohwa menundukkan kepalanya menatap mangkuk-mangkuk makanannya iba. Baekhyun mendekat dan duduk di pinggir ranjang hyohwa dan menatapnya. Hanya abs papan makan yang menghalangi mereka. Baekhyun menunggunya. Sebenarnya ia ingin sekali memelukknya. Tapi sepertinya hyohwa ingin mengatakan sesuatu.

“Tolong jangan tinggalkan aku lagi. hiks..” hyohwa diam sesaat.

“Demi anak kita baekhyun. Aku tidak perduli jika kau menjadikanku yang kedua. Aku mohon!”

Kata-kata itu seakan menusuk hati baekhyun. Ia salah tidak menceritakan yang sebenarnya padanya. Dan lihat, betapa terlihat murahan wanitanya kini memintanya untuk dijadikan yang kedua dalam hidupnya.

Bulir-bulir air mata itu mengucur dengan derasnya setelah memohon pada baekhyun. ‘aku tidak ingin menjadikanmu yang kedua, hyo!’ teriak baekhyun dalam hatinya.

Baekhyun mengangkat sebelah tangannya perlahan. Membelai rambut hyohwa yang hampir kusut karena ulahnya. Hyohwa memang sudah tidak menangis namun masih terdengar sesenggukkan.

“Uljima!”

Suara baekhyun terdengar berat. Mereka sudah melangkah sejauh ini dan baekhyun tidak ingin kehilangannya.

Hyohwa mengusap kasar air mata yang hampir jatuh di dagunya. Ia masih tidak berani menatap baekhyun.

“Hyo!” suara merdu yang akrab di telinga hyohwa itu membuatnya tenang. Baekhyun tersenyum canggung lalu mengangkat wajah wanitanya perlahan. Dengan jari-jari lentiknya ia menyeka air mata yang terlanjur turun mengenai pipi chubby yang biasa baekhyun elu-elukan karena gemas. Wanita itu akhirnya menatap baekhyun walaupun tidak fokus pada matanya.

“Mianhae..” tiba-tiba hyohwa tercekat dan tangan baekhyun sudah tidak menyentuh wajahnya lagi.

“tapi aku tidak bisa…” bahkan hyohwa harus terlihat tegar walaupun kenyataannya pahit.

“Aku hanya ingin kau jadi yang pertama, karena pertunanganku sudah dibatalkan.”

Dan akhirnya hyohwa dapat dengan mudah menatap keseriusan di mata baekhyun. Apa dia harus berteriak kegirangan sekarang?

Tidak,

Hyohwa masih terpana dengan kata-kata baekhyun barusan. Ini kesempatanmu hyo, dapatkan dia!!

Masih dalam keadaan diam. Baekhyun terkekeh kecil melihat ekspresi tidak percaya hyohwa. ‘Oh, jangan salahkan aku jika setelah ini kau tidak ingin melepaskanku?’ begitu kata-kata licik itu dilontarkan dalam hatinya, baekhyun perlahan menelusurkan sebelah tangannya mengambil tengkuk hyohwa. Ia memiringkan kepalanya dan menarik hyohwa mendekat. Baekhyun menarik nafas singkat sebelum bibir itu menempel penuh di bibir wanitanya. Melumatnya perlahan walaupun tidak ada gerakan balasan untuknya.

Baekhyun menarik bibirnya tidak jauh dari tempatnya bersarang. Ia hanya butuh ruang untuk bernafas dan mengatakan sesuatu.

Bagaimana dengan keadaan hyohwa sekarang. Tuhan, haruskah ia memuji-Nya. Perasaannya sudah tidak bisa digambarkan lagi. kupu-kupu dalam perutnya tidak pernah berhenti untuk mengusiknya. Seakan ia telah jatuh cinta kepada baekhyun saat pertama kali.

“Aku mencintaimu, song hyohwa-ssi.”

Terdengar formal, namun cukup untuk membuat hyohwa berhenti menahan perasaannya. Hyohwa mulai memejamkan matanya, seolah hanya indera perasanya saja yang bekerja. Ia membalas ciuman baekhyun, bahkan saat baekhyun belum memulainya lagi. Dengan kedua tangannya ia menarik leher prianya mendekat untuk menepis semua jarak di antara mereka. Baekhyun tidak mungkin mengabaikan sentuhan ini. Mulut mereka sama-sama menganga ketika bersentuhan. Sungguh seperti ada chemistry diantara mereka. Gerakan mereka terlihat sama dan tanpa dipaksakan.

Dan sialnya baekhyun harus mengumpat tentang abs papan makan bodoh yang memisahkan tubuh mereka. Jika saja papan ini tidak ada, mungkin baekhyun akan menyerangnya lebih dalam pada wanitanya. (?)

.

.

.

.

.

“YA TUHAN!!” seseorang dari balik pintu terlihat sangat terkejut dengan apa yang ia lihat barusan. Ia berteriak lirih setelah melihat adegan mesum yang dilakukan sahabatnya dengan mantan suaminya sendiri, baekhyun.

Jinji bahkan mendengar bagaimana baekhyun menjelaskan tentang pembatalan pertunangannya. Dan ini berarti jinji sudah berada di sana cukup lama. Ia hampir saja menjatuhkan parcel buah yang ia bawa di tangannya jika saja ia tidak fokus. Ia menutup kembali perlahan pintu itu dengan wajah merah padam menahan perasaan malu bercampur kesal.

“Kenapa mereka selalu melakukan ITU di depanku??”  kesal, karena ia selalu mendapat posisi pihak ketiga yang seharusnya tidak berada pada adegan itu.

“Apa mereka tidak sadar ini di rumah sakit? Seseorang bisa saja melihatnya.” Jinji menepuk mulutnya sendiri karena orang lain yang dimaksudkan termasuk dirinya sendiri.

[TBC ?]

Author’s note:

Drama apa lagi ini? #diprotes readers (ingat rate pg-17, maaf jika ada kata-kata sedikit menjerumus)

Mian, tapi bukan ini inti endingnya. Ff ini diawali dengan comedy maka diakhiri dengan comedy juga. Biar ceritanya tidak patah terlalu kentara maka author membuat ini dan membaginya menjadi dua. Hehe..

“Kenapa title-nya ditulis Version I?” (ada yang nanya nggak nih?)

Jawabannya ada di Chapter 10B-END: Version I. Haha.. ^.^

Maaf ya membuat readers penasaran dan menunggu lama? #PD kali nih author el

Sampai ketemu di chapter selanjutnya! Like and Comment yah?.. Annyeong!!

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married (Chapter 10A-END: Version I)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (Verse) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Yawlahh, demi anaknya baekhyo maapkeun aing kak karena baru komen, because kuota yg menipis :”) aing kudu eotteokeh??

    Oh kenapa aku snyum2 melihag kemesraan mrk :v…
    Jinji, sabarlah yahh nak. Semua pasti ada waktunya /Plak/

    Semangat utk menunggu 10bnya..
    Huah udh mau tamat nih? :”) kok syedih

  3. yeayyy akhirnya up juga ff nya dan uda mau tamat juga. baper banget bacanya sedih banget pas adegan hyohwa harus merendahkan harga dirinya apalagi anak nya ada yg ninggal.

    semangat kak untuk nulis ceritanya. Dan ceritanya itu keren deh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s