[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 4)

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^

CHAPTER 4

 

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

“Memangnya kau tau apa?” Suho membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral kemudian meneguknya. Xiumin masih setia mengikutinya namun kali ini ia duduk di dekat pentry menopangkan sebelah tangannya dan menatap adiknya masih dengan senyuman.

“Mendekati Chanyeol, pura-pura tertinggal olehku, dompetmu ku ambil, bermain game hingga batrai habis, mengabari semua orang rumah jangan mengangkat telpon darimu. Terakhir yang terpenting. Pulang bersama Chorong, picik sekali Myeonnie” Xiumin memberi hipotensa.

Uhuk

Suho tersedak air mineralnya, bukannya membantu Xiumin hanya tersenyum bangga.

“Gotcha, berarti itu benar” teriak Xiumin.

“Kenapa hyung bisa tahu?” Suho berhasil bicara setelah selamat dari acara tersedaknya.

“Kau kan adikku, setidaknya jalan pikiranmu mudah tertebak olehku. Satu lagi, mata-mataku banyak loh” Xiumin mengedipkan matanya dan beranjak ke lantai dua.

Suho hanya menggerutu. “Ah, Myeon, ayah dan ibu tidak pulang lagi hari ini” ujar Xiumin dari arah atas.

Suho hanya menghela nafas. “Selalu saja”.

Memang benar apa yang dikataka kakaknya. Ia tadi siang bertemu dengan Chanyeol. Berbicara sebentar. Ia kira Chanyeol anak yang susah diajak bekerja sama nyatanya tidak. Walu sifat overprotectifnya sangat besar, namun pada akhirnya ia jatuh juga ke tangan Suho. Dengan embel-embel 1 action figure One peace limeted edision incarannya.

kakak dan adik sama saja, sama-sama menyusahkan.

***

“Aku pulang” Chorong mengganti sepatunya dengan sandal rumah, ia berjalan menuju kamarnya.

“Kau sudah pulang? Mau makan? Biar ibu hangatkan” tawar nyonya Park.

“Tidak bu, aku ingin beristirahat. Ngomong-ngomong kenapa ibu sudah pulang?” Tanya Chorong.

“Kau menyuruhku tidak pulang” ujar nyonya Park. “Bukan begitu, Chanyeol bilang restoran sedang ramai. Jadi dia tidak bisa menjemputku”.

“Restoran sudah tutup semenjak sore hari. Lagi pula Chanyeol tidak kesana. Ia bermain game dengan temannya” jelas sang ibu.

“Apa?!! Lalu dimana dia sekarang?” tanyanya dengan emosi.

“Didalam kamarmu” tunjuk sang ibu pada salah satu pintu kamar.

“Apa yang dia lakukan di dalam kamarku?” Chorong mengerenyit. Nyonya Park membuat gestur ‘aku tak tau’.

Chorong segera menghampiri kamarnya.

Brak

Ia membukanya dengan brutal.

“Astaga” Chanyeol terperanjat.

“PARK CHORONG, JANGAN MERUSAK LAGI PINTU KAMARMU!!!” teriak sang ibu.

“Kau berbohong padaku? Dan apa yang kau lakukan di dalam kamarku?!” Chorong menatapnya tajam.

“Kau mengagetkanku, bagaimana kencanmu dengan Suho Sunbae?” Chanyeol mengalihkan pembicaraan, ia tersenyum tanpa tau apa akibat dari perbuatannya.

“Kencan? Apa maksudmu? Jangan bilang kalian merencanakan ini semua” Chanyeol tersenyum. “Demi action figure incaranku” jawabnya.

“Apa?!” Yak kemari kau telinga lebar!” Chorong melipat tangan seragamnya. Chanyeol sudah dengan ancang-ancangnya untuk kabur.

“YA!”

“Ibu tolong aku!!!!” teriak Chanyeol dengan suara bassnya.

***

Sepotong roti masih tersampir di mulutnya, rambut basah yang tak tersisir. Dengan keadaan seperti itu Chorong berlari menuju halte. Sampai halte ia melirik jam tangannya. 10 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Sialnya jika kali ini ia terlambat lagi maka guru Choi akan menghukumnya habis-habisan.

Tanpa memperdulikan tatapan semua orang padanya ia mencari keberadaan bis. Sayangnya ketika sampai di halte ia sudah tertinggal.

Dengan susah payah ia menelan rotinya. “Tunggu, tunggu aku!” teriaknya. Untungnya sang sopir mendengarnya. Chorong segera masuk kedalam bus. Membungkuk terima kasih. Semua orang yang melihat penampilannya tertawa. Ia hanya bisa menunduk hingga bangku belakang dan duduk disana.

“Awas saja kau Park Chanyeol” gumamnya.

Chorong terlambat bangun, entah kenapa jam dikamarnya bermasalah. Ada yang merubah waktunya. Ia bisa terbangun setelah sang ibu tercinta menyiramnya dengan sangat berprikemanusian menggunakan seember air dingin. Disisi lain ia sangat berterima kasih, karena dengan begitu ia tidak menyianyiakan waktu untuk mandi. Setelah berpikir siapa dalang dibalik semua ini maka pelaku utama yang ada dipikirannya adalah sang adik tiangnya yang kemarin berada di dalam kamarnya.

Disisi lain Chanyeol sedang tertawa puas dikelasnya. Membayangkan keadaan sang kakak sedang menggerutu dan menyumpah serapahi dirinya.

“Park Chanyeol, kau tidak gila kan?” tanya Jongdae teman sebangkunya.

***

lain Chorong lain pula Suho. Ia terbangun 15 menit sebelum gerbang ditutup. Ada note disamping meja belajarnya.

‘Jangan salahkan aku jika kau terlambat, membangunkanmu lebih susah dibanding membangunkan Byul. Tertanda kakakmu yang tampan :p ‘

“Sial” umpatnya. Ia segera menuju kamar mandi.

5 menit kemudian ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tanpa pikir panjang ia segera meraih kunci motor dan ranselnya.

Sialnya di tengah jalan ada rajia kendaraan bermotor. Lebih parahnya dompet dan surat-surat untuk motornya tertinggal. Alhasil motornya disita dan ia berlari menuju sekolah. Poor Suho yang kaya raya.

***

“Tunggu tunggu jangan kunci gerbangnya!!!” teriak Chorong dari kejauhan.

“Maaf nona, tapi kau sudah telat 10 menit” ujar sang penjaga.

“Ayolah pak, ku mohon. Pelajaran pertamaku guru Choi” rengeknya.

“Maafkan aku, peraturan tetaplah peraturan” ujar sang penjaga tegas.

“Aish”

“Haha kau telat ya, kasihan sekali” ejek seseorang dari arah belakangnya. Ia berbalik dan menemukan Suho yang terengah dengan seragam sedikit basah oleh keringat.

“Kau sendiri juga telat bodoh!” umpat Chorong ketika Suho sudah berada di sampingnya.

“Ck, tak masalah untukku, lihat ini” ujarnya bangga dengan berjalan menuju penjaga.

“Buka gerbangnya” titah Suho pada sang penjaga.

“Ah, tuan. Maaf gerbang sudah tertutup. Anda harus menunggu guru penyidak datang agar bisa masuk” jawab sang penjaga.

“Apa? Kau tak tau siapa aku?!” Suho menunjuk dirinya.

“Maaf tuan, tapi peraturan tetaplah peraturan” ujarnya.

“Sial” umpat Suho.

“Hahaha” Chorong tertawa puas. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Suho.

“Lihat ini” Chorong memperagakan gaya Suho tadi. “Kau tak berpengaruh tuan. Terima saja haha ” ejek Chorong.

Suho merutuki ayahnya yang memperketat peraturan untuknya. Mungkin ayahnya sudah geram akan tingkahnya.

“Tunggu, bukankah itu temanmu” Chorong menunjuk seseorang. Suho segera berbalik.

“Pst psttt Yixing” panggilnya.

“Sepertinya aku mendengar sesuatu” gumam Yixing yang saat itu membawa buku.

“Pst. Yixing, Zhang Yixing” kali ini Suho memanggil lebih keras.

Yixing berbalik “Ah, hallo Myeon. Aku duluan ya” ujarnya dan berlalu pergi.

Suho dan Chorong dibuat melongo.

“Apa benar dia temanmu?” tanya Chorong.

“Terkadang pada saat tertentu aku tidak ingin mengakuinya” ujarnya geram dengan memijat pelipisnya.

“Tak ada pilihan lain, kau ingin masuk kan? Ikut dengaku!” ajak Chorong. Suho tanpa berpikir panjang mengikutinya.

***

“Apa kau gila?!” bentak Suho.

“Diamlah, aku masih waras. Jika kau tidak mau ya sudah” Chorong segera memanjat dinding pagar belakang. Untunglah celana olahraga yang selalu dipakainya bisa memudahkannya dalam melakukan hal seperti ini.

Buk

Chorong mendarat dengan sempurna. Ia menepuk kedua tangannya yang kotor.

“Chorong-a” panggil seseorang. Ia mendongak dan mendapati Suho yang sedang berpegangan pada dinding atas pagar. “Bagaimana caranya turun?” tanya Suho

“Kau hanya perlu melompat” jawab Chorong.

“Apa?! Kau gila. Ini tinggi sekali” ujar Suho.

“Pelankan Suaramu! Tinggi apanya. Aku saja bisa, kenapa kau yang lelaki tidak. Jangan bilang kau takut” Chorong tersenyum meremehkan.

“Tidak” ujar Suho cepat.

“Kalau begitu turunlah”

Glek

suho menutup matanya dan melompat.

‘Kenapa tidak sakit’ pikirnya.

“Sampai kapan kau akan begini? Menyingkirlah!” Suho membuka kedua kelopak matanya.

Deg

Dihadapannya saat ini atau tepat dibawahnya saat ini Chorong sedang menatapnya tajam.

“Ya! Menyingkirlah!” Chorong mendorong-dorong tubuh Suho. Tapi tak ada pergerakan sedikit pun. Suho masih betah pada posisinya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suho memalingkan wajahnya pada asal penanya.

‘Ah Chorong, tunggu! Chorong. Bukankah diaberada di . . ‘ Suho kembali melihat kebawahanya. ‘Sejak kapan Chorong memiliki jakun?’ ia mengerenyitkan dahi, kemudian melihat wajah seseorang itu lebih jelas.

“YIXING!!” teriaknya dan beranjak berdiri.

“Ah, hallo Myeon” sapanya kemudian ikut berdiri dan membersihkan seragamnya.

“kau, kenpa bisa?, kau? Chorong. Tadi” Suho berujar tidak jelas. Chorong dan Lay mengerenyit ‘Apa Suho mulai gila’ pikir mereka.

“Kau ini kenapa sih? Bicara yang jelas!” bentak Chorong saking geramnya dengan kelakuan Suho.

Suho menghela nafas sesaat agar lebih tenang “Kenapa bisa Yixing berada pada posisi tadi. Bukannya tadi hanya ada kau!” Suho menunjuk nunjuk Chorong.

“Dia datang ketika melihat kau akan terjatuh dan menolongmu” Chorong menjelaskan kejadain tadi.

“Tapi tadi kau yang, ah lupakan” putus Suho. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak ditanah lalu berlalu pergi.

‘khayalan bodoh’ umpatnya.

Chorong mengejarnya “Hey, kau pasti berkhayal yang tidak-tidak ya” goda Chorong dengan menunjukan seringai dan sipitan matanya pada punggung Suho.

“Aku tidak berpikir yang aneh-aneh! Hanya kau yang ah lupakan!” Suho kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Jika kau melihat lebih jelas telinganya sedikit memerah.

“Apa? Hey apa yang kau khayalkan tentangku? Yak! KIM JOON MYEON!” Chorong berusaha menyamai langkahnya dengan Suho.

Lay di belakang mereka masih terdiam bingung. Ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan berpikir “Apa salah Iching?” ia bermaksud membantu Suho dan Chorong setelah ingat jika Suho tadi membuntuhkan bantuannya untuk masuk gerbang. Salahkan sikap pelupa, polos dan sedikit pikunnya. Ia benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan tadi. Ia melihat mereka dan menyapanya tapi setelah sampai dikelas ia baru paham kenapa Suho memanggilnya. Tapi ketika meliahat Suho marah-marah setelah ia membantunya agar tak jatuh ke tanah Suho malah marah-marah. Apa salahnya pada Suho? Itu yang ia pikirkan sekarang. Terlalu lama berpikir membuatnya tertinggal dari kedua couple yang sedang bertengkar semakin menjauh.

“Yak! Tunggu aku!” teriaknya setelah sadar dari lamunan.

To be continue . .

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 4)

  1. Mendekati Chanyeol, pura-pura tertinggal olehku, dompetmu ku ambil, bermain game hingga batrai habis, mengabari semua orang rumah jangan mengangkat telpon darimu. Astaga liciknya.
    Patut d.contoh πŸ˜…πŸ˜†.
    Icing dirimu bikin greget

  2. Hahhahahahahahhahahahahha,sakit perut gegara mereka bertiga…
    Astaga myun,ente aneh banget.
    Thanks kak,ke p’a’an sih ichin gak di hilangin,sumpah gak naha ketawa…
    Lanjut kak,,
    Dan ada beberapa kalimat yang suwer bikin aku ketawa abis…
    Lanjut dan plis cepat upload ya kak ya….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s