[EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 6)

H A V O C

| Cast : All member EXO, Kang Hye-na OC, Kim Hyun-ji OC, Cho Jae-kyung OC, Han Ji-hee OC, Park Rae-sun OC, Kwon Min-ah OC|

|Genre : Romance, Fantasy, Sci-fi, School life|

| Leght : Chapter |

| Rating : PG 15+ |

|Discalimer : All cast in this FF belong to GOD and their parent. All plot in this story belong to me and ONLY me. My Wattpad Account @96dreamgirl. Sorry for alot of cursing word in this story!|

EXO’s Fanfiction by Hecate Helena

Hecate Helena©2017. All right Reserved.

Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Do not copy and Plagiarize my work!

— HAVOC—

Previous Chapter : Prolog | Chapt 1 | Chapt 2 | Chapt 3 |Chapt 4

Chapter 5 |

Chapter 6

“Kekuatan dalam diri seorang Mutans itu sama  halnya seperti iblis yang berusaha memakan tuannya,” – Do Kyung Soo

H Y E N A

Aku lagi-lagi mengerang frustasi. Untuk yang ke… 10 kali? 15 kali? Aku tidak tahu untuk yang keberapa kali aku mengerang. Karena sejak setengah jam yang lalu, aku menyerah untuk menghitungnya lagi.

Aku mengalihkan pandanganku dari kertas dan buku tebal di meja, melirik ke arah D.O. Pemuda itu masih asyik dengan bukunya. Duduk tegak dengan menyilangkan salah satu kakinya di kaki yang lain. Kaca mata berbingkai merahnya berkilat di bawah lampu ruangan. Wajah tampannya membentuk raut serius yang well—bisa dibilang memesona.

Okeh, biar aku jelaskan kenapa aku bisa berakhir di ruangan ini bersama D.O. Setelah berhasil melarikan diri dari ruangan Jong-in—dengan sedikit susah payah yang berarti. Aku kembali mencari ruangan detensi. Dan takdir yang baik membawaku kepada D.O. Aku pikir dia akan menyelamatkanku dari hukuman. Tapi siapa sangka dia malah membawaku ke ruang detensi dengan alasan kepatuhan aturan atau semacamnya. Ough! Ini menyebalkan!

“Selesaikan Essaymu,” perintah D.O, tanpa mengalihkan pandangan dari buku tebal di tangannya.

Aku menghela nafasku kesal.

Oppa, kau tidak kasihan padaku? Kau tidak lihat mataku hampir copot seperti ini?” eluhku padanya.

D.O menaikan wajahnya –menatapku,“Berhenti mengeluh dan selesaikan,” ulangnya.

“Tanganku pegal, kalau tanganku cedera memangnya kau mau bertanggung jawab?” ujarku masih mengeluh.

D.O menaikan alisnya, “Tanganmu tidak akan cedera hanya karena menulis Essay. Cepat selesaikan,” ucap D.O lagi. Sama sekali tidak terusik dengan eluhanku.

“Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang aku tulis. Perang ini perang itu. Avox, para pemburu. Semuanya membuat kepalaku hampir pecah,“ ucapku, berusaha mencari-cari alasan, “Kau kan mentorku harusnya kau saja yang jelaskan,”

D.O hanya menaikan bahunya tidak peduli. Membuatku mendengus kesal.

Benar. D.O adalah mentorku. Setidaknya untuk beberapa hari belakangan ini. Dia menjelaskan semua yang ingin aku tahu tentang Mutans dan Avox, termasuk para pemburu. Aku tidak tahu kenapa dia begitu pintar, padahal aku tidak pernah melihatnya masuk kelas. Asumsiku adalah dia memang sudah terlahir dengan otak seperti itu. Yah, jujur saja ini tidak adil. D.O itu sosok yang sempurna. Tampan, pintar, baik hati, ramah. Hidupnya pasti selalu bahagia. Dia ju—

“Berhentilah mengagumiku,” ucap D.O tiba-tiba, memotong lamunanku. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum.

Aku memutar bola mataku dengan malas, “Aku lupa kalau kau bisa membaca pikiranku,” komentarku, mengerucutkan bibirku dengan kesal.

D.O melipat bukunya dan meletakannya di atas meja, kemudian menoleh ke arahku.

“Kau ini benar-benar menakjubkan.” komentarnya, menatapku dengan raut kagum yang terasa dibuat-buat.

Aku menatapnya bingung, “Apa?” tanyaku.

“Baru beberapa hari kau di sini dan kau sudah berakhir di ruang detensi. Memangnya apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak melakukan apa-apa. Kesalahanku hanya karena aku berbalas pesan dengan si rambut merah muda itu!” dengusku kesal.

D.O mengerutkan keningnya, “Baek-hyun? Apa yang dia lakukan memangnya?”

“Oh, tidak ada! Dia hanya melempar kertas yang berisi umpatan yang aku tulis untuknya ke kepala guru Song. Seakan itu adalah ide terbaik yang pernah terpikirkan oleh otak bodohnya itu. Lalu dengan santainya dia memasang headset dan melimpahkan semua kesalahan padaku. Sungguh teman yang sangat baik hati, bukan? Oh! aku sangat senang,” Jelasku, memastikan nada sarkatis terbaik yang bisa aku tambahkan di setiap ucapanku.

D.O terkekeh mendengar komentarku, “Kau terlihat sangat siap untuk membunuhnya.”

“Wow! Tepat sekali! Dan kalau kau memang baik hati, kau akan membantuku untuk merencanakan pembunuhan termanis untuk si bodoh itu. Tapi tidak! Kau malah membuatku menulis rentetan sejarah yang membuatku kram otak. Terimakasih!” ejekku, melipat kedua tanganku di depan dada dengan keras kepala.

D.O lagi-lagi terkekeh, “Komentarmu selalu membuatku kagum.” Ucapnya. Seakan dia benar-benar terkesan dengan ejekanku.

“Apakah itu akan membuatku terbebas dari hukuman?” tanyaku, setengah berharap.

“Biarku pikirkan—“ D.O melipat tangannya, memasang wajah pura-pura seriusnya. Lalu dia menatapku lagi, “—sepertinya tidak.” Lanjutnya kemudian.

Aku mengerang mendengar jawabannya, D.O ternyata hanya menggodaku.

“Oh ayolah! Aku benar-benar tidak bisa menulis lagi. Aku bisa merasakan lenganku yang sedikit demi sedikit terlepas dari sambungannya,” rengekku, memasang wajah memelas terbaikku.

Such a drama queen!” D.O berucap. Aku hanya mengerucutkan bibirku dengan kesal.

“Baiklah, kau tidak perlu menulis lagi,” putusnya.

“Benarkah? Oh kau benar-benar baik hati.” Ucapku antusias, menarik tangan D.O dan menggoyangkannya pelan.

“Tapi kau harus melanjutkan kelas mentormu denganku.” Potongnya.

Aku menghela nafasku dengan lemah, tiba-tiba merasa tidak bersemangat.

“Baiklah.” Ucapku dengan malas. Menambahkan nada kecewa yang kentara dalam perkataanku.

“Hei, kau harusnya senang. Kenapa ekspresimu seperti baru saja dijatuhi hukuman mati?”

“Karena rasanya memang seperti itu.” Jawabku sekenanya.

“Lihat sisi baiknya. Kau bisa menanyakan apa saja yang ingin kau tahu padaku.” Ujar D.O, membuatku setuju dengan ucapannya.

Aku mengerutkan kening, berusaha memikirkan hal-hal yang selama ini mengganjal dipikiranku. Terlalu banyak yang tidak aku mengerti di sekolah ini, jadi aku harus menanyakan beberapa hal dengan hati-hati.

“Apakah Mutans bisa mati?” tanyaku, memulai pembicaraan.

D.O terdiam sejenak, namun beberapa saat kemudian dia  mengangguk.

“Tentu saja. Meskipun kita makhluk abadi, tapi inti kehidupan kita sebelumnya adalah manusia. Hanya saja, sebab kematian Mutans berbeda dengan manusia. Mutans hanya bisa mati dengan memenggal kepalanya.” Jelas D.O.

Setelahnya, aku melihat D.O mengubah ekpresinya. Raut kesedihan yang tergambar di wajahnya seolah-olah mengatakan bahwa dia tahu bagaimana rasa kematian itu sendiri. Aku tidak tahu kenapa, mungkin saja dia pernah melihat hal buruk itu atau bahkan hampir mengalaminya sendiri? Yah apapun itu, aku tidak berniat menanyakannya.

Menghiraukan reaksi D.O, aku melanjutkan pertanyaanku.

“Baiklah, pertanyaan selanjutnya. Apakah semua murid di sekolah ini semuanya berpacaran?” tanyaku, membuat D.O kembali menoleh padaku dengan tatapan bingung.

“Kenapa kau menanyakan itu?”

“Karena aku ingin tahu,” Jawabku. “ Aku merasa aneh. Di hari pertamaku masuk sekolah, aku merasa seolah-olah aku masuk ke pesta prom. Kau tahu? Semua murid berjalan berpasangan dan bergandengan tangan. Apakah itu hal yang wajar di sini?” aku melanjutkan.

D.O masih menatapku bingung, aku tahu mungkin dia berpikir aku aneh karena menanyakan hal itu. Tapi itu memang pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. D.O tidak langsung menjawanya, keningnya berkerut dalam. Namun beberapa saat kemudian dia menjentikan jarinya.

“Ah! Aku tahu maksud pertayaanmu!” seru D.O, kemudian dia terkekeh. “Kau selalu membuatku terkesan dengan hal-hal yang ada di otakmu.” Ucapnya.

Aku memutar bola mataku dengan malas, “Jawab saja pertanyaanku.”

D.O menghela nafasnya, bersiap untuk menjawab. “Mutans adalah makhluk yang sangat berbahaya. Kita tercipta dengan kekuatan yang sangat besar. Dan kekuatan itu yang membuat kita sangat mematikan—“ D.O memulai, aku melipat tanganku berusaha mendengarkan penjelasan darinya, “—Penting bagi Mutans untuk mengendalikan kekuatannya. Karena kalau tidak, kita yang akan termakan oleh kekuatan kita sendiri. Untuk itu, kita butuh penyegel kekuatan. Dan penyegel kekuatan itu harus lawan jenis.”

Aku mengerutkan kening bingung, “Lawan jenis? Maksudmu pria wanita, ataupun sebaliknya?”

“Benar. Pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi. Gen mereka diciptakan berbeda untuk melengkapi kekurangan yang lain. Seperti halnya manusia, Mutans juga mengambil prinsip itu,”

“Jadi maksudmu, kekuatan seorang Mutans pria hanya bisa disegel oleh Mutans wanita?” aku bertanya lagi, D.O hanya mengangguk membenarkan.

“Lalu bagaimana proses penyegelan kekuatannya?”

“Mereka harus bertarung. Dengan sangat serius.” Jawab D.O. Jawabannya membuatku bergidik hanya karena membayangkannya. Itu mengerikan!

“Apakah semua proses penyegelan selalu berhasil?” tanyaku kemudian.

D.O menggeleng, “Hanya ada dua kemungkinan dari pertarungan itu. Kau memiliki penyegel untuk kekuatanmu atau kau mati.”

“Waw! Sangat ironis. Mutans ternyata bukan makhluk yang keren,” Komentarku, bergidik ngeri. Melontarkan lelucon garing ternyata tidak membantu.

“Kau pikir menjadi Mutans itu menyenangkan? Aku ingin mengatakan iya, tapi kenyataannya tidak—“ D.O menghela nafasnya dengan berat, “—Pertarungan antara hidup dan mati adalah keseharian seorang Mutans. Mereka harus bertarung melawan kekuatannya sendiri. Dan setiap itu terjadi, itu akan sangat menyakitkan. Oleh karena itu, memiliki seorang penyegel kekuatan adalah anugrah bagi setiap Mutans.”

“Apakah setiap pasangan penyegel harus memiliki hubungan. Maksudku hubungan yang melibatkan perasaan atau semacamnya?”

“Tergantung kesepakatan keduanya. Tapi kebanyakan dari mereka memutuskan untuk menjalin hubungan bahkan sampai menikah. Ada juga yang tidak, tapi itu sangat jarang. Sederhananya, menemukan penyegel kekuatanmu sama halnya seperti kau menemukan pasangan jiwamu.”

Aku mengangguk mengerti. Semua penjelasan D.O sedikit banyak membuatku memahami pemadangan aneh di hari pertamaku masuk sekolah. Ternyata semua itu cukup masuk akal.

“Lalu apa yang terjadi kalau kita belum menemukan penyegel kekuatan kita?”

“Kau akan menderita. Dan setiap hari penderitaanmu akan semakin berat. Karena kekuatan pada diri Mutans sama seperti seorang  iblis yang selalu ingin memakan tuannnya.”

Aku terkesiap, entah kenapa pikiranku melayang pada Jong-in. Pada kondisinya yang sangat buruk. Pada ruangan yang ditempatinya, dan juga pada rantai yang terpasang di kedua tangannya. Apa Jong-in sedang menderita karena kekuatanya? Apakah kekuatan Jong-in berusaha memakannya? Tidak! Tidak! Itu sangat buruk!

“Tapi itu aturan lama—“ D.O kembali berucap, membuatku menoleh padanya lagi. “—Beberapa tahun belakangan ini, Suho hyong memanfaatkan teknologi untuk menciptakan sebuah pil yang bisa menekan kekuatan seorang Mutans. Efeknya memang tidak terlalu lama, hanya bertahan beberapa bulan saja. Tapi itu cukup membantu para Mutans sebelum mereka menemukan penyegel kekuatannya atau sebelum mereka mati.” D.O mengakhiri kalimatnya dengan lirih. Seolah enggan mengatakan kalimat terakhirnya.

Aku merasakan jantungku berdebar dengan kencang. Rasa takut tiba-tiba menyelimutiku. Apakah Jong-in juga akan mati? Apakah penderitaannya akan berakhir dengan kematian? Tidak! Itu mengerikan! Bahkan hanya dengan memikirkannya seperti ini membuatku….takut. Aku takut? Oh ya ampun! Aku tidak tahu kenapa ancaman kematian Jong-in memberikan efek seperti ini padaku. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?

“Kang Hye Na!” panggil D.O, membuatku terlonjak kaget.

“Huh?”

“Kau kenapa? Pikiranmu seperti tidak berada di tempatnya?” tanya D.O.

“Oh! Tidak apa-apa.” jawabku, tersenyum kikuk. Masih berusaha menyingkirkan adegan mengerikan yang mulai bermunculan di otakku.

D.O masih menatapku, aku tahu dia pasti sedang berusaha untuk membaca pikiranku. Aku hampir yakin dia akan menanyakannya. Tapi dia hanya mengedikan bahunya.

“Baiklah, sepertinya sesi mentoring hari ini sudah cukup.” Katanya. Dia melepaskan kacamatanya, lalu bangkit berdiri. Sekilas melirik ke arah jam tangannya, kemudian menoleh lagi padaku.

“Kau sebaiknya kembali. Sebentar lagi kelas akan selesai.”

Aku menghembuskan nafasku dengan kasar, “Yah, kau benar.” jawabku setuju.

“Kau takut?” tanya D.O tiba-tiba, hal itu membuatku menoleh lagi padanya.

“Apa?”

D.O tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya tersenyum penuh arti. Seakan tahu apa yang sedang berkecamuk di benakku saat ini. Oh tidak! Tentu saja dia tahu. Dia’kan memang bisa membaca pikiran.

Tapi yang membuatku terkejut adalah dia tidak berkomentar apapun tentang apa yang ada di pikiranku. Tentang Jong-in, atau tentang kekhawatiranku padanya. Aku malah mendengar D.O terkekeh pelan, kemudian tangannya tergerak untuk mengacak rambutku.

“Baiklah, Kiddo. Aku harus pergi. Usahakan untuk tidak membuat masalah lain kali.” Katanya, memberi nasihat.

Aku mendengus dan menjauhkan tangannya dari rambutku.

“Berhenti memanggilku Kiddo. Aku bukan anak kecil!”

“Dibandingkan dengan umurku, umurmu jauh lebih muda. Sangat jauh.”

“Oh ya? Memangnya berapa umurmu? 1000 tahun? 2000 tahun?”

  1. O mengusap dagunya, tampak berpikir,“Hmm, mungkin lebih tua dari itu. Aku tidak ingat berapa umurku.” Jawabnya.

“Dasar kakek tua!” aku mencibir, membuat D.O sontak memelototiku.

“Hei, berkata begitu pada mentormu itu tidak sopan tahu!” D.O memberengut.

“Ya ya terserah saja. Sudahlah, lebih baik kau pergi saja dari sini. Kakek tua sepertimu pasti sangat gampang lelah, bukan?” ucapku, membuatnya mendengus kesal.

Namun tiba-tiba D.O menyeringai, “Baiklah, Kiddo. Kau juga harus pergi. Sudah waktunya minum susu hangat.” Katanya, membalas ejekanku. Kali ini aku yang mendengus kesal.

“Sampai jumpa lagi, Kiddo.” D.O kemudian mengacak rambutku lagi dan berbalik pergi.

Aku lagi-lagi mendengus dan merapihkan rambutku sekenanya. Memelototi punggung D.O yang melangkah menjauh. Namun, aku tiba-tiba teringat sesuatu yang penting. Sangat penting sampai-sampai aku berteriak memanggilnya lagi.

Oppa!”

D.O menoleh, lalu menaikan sebelah alisnya, “Ada apa lagi?” tanyanya.

Aku berjalan mendekatinya. Memasang senyuman penuh arti padanya.

“Bolehkah aku bertanya lagi?”

D.O mengangkat bahunya, “Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?”

Aku menyeringai, “Apa kelemahan Baek-hyun?”

“Hmm?”

-o0o-

AUTHOR POV

Seorang anak laki-laki berjalan gontai menyusuri lorong berdinding putih. Kepalanya tertunduk, tangannya ditangkupkan bersamaan. Kemudian dia meremasnya gelisah. Dia menghela nafasnya dengan lemah. Membuat suara bergema yang cukup kencang di lorong itu. Mengiringi suara berkelotak dari sepatu gadis berambut perak yang berjalan di belakangnya.

Anak laki-laki itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap kakak berambut perak yang tidak pernah dia sukai. Menurutnya kakak itu lebih mirip dengan robot ketimbang manusia. Mukanya tanpa ekspresi, bahkan senyumnya terasa bagai seringai penyihir yang mengerikan.

“Tidak bisakah aku tidak datang ke sana? Aku benci tempat itu!“ Tanyanya lirih. Untuk anak usia 6 tahun. Anak laki-laki itu cukup berani. Dia selalu bisa mengutarakan dengan tegas apa yang dia sukai dan tidak. Namun, orang tuanya tidak pernah membiarkannya. Mereka lebih suka membuat anak mereka ada di bawah kendali mereka.

Gadis berambut perak itu berlutut, mensejajarkan tingginya dengan anak laki-laki di depannya, “Dengar, sayang. Kau harus ke sana. Kalau tidak, kau akan dapat hukuman. Kau tidak mau ayah dan ibumu marah, bukan?” ucapnya meyakinkan.

Anak laki-laki itu menggeleng, “Aku tidak mau ibu dan ayah marah. Aku tidak mau ada di ruang hukuman itu. Di sana ada monster jahat. Aku membencinya!” Anak laki-laki itu bergidik. Kedua tangannya bergerak untuk memeluk tubuhnya sendiri.

Gadis berambut perak itu menyeringai, dia menepuk kedua bahu anak laki-laki itu lagi, “Nah kalau begitu kau harus ikut denganku. Kau mau’kan?”

Anak laki-laki itu mengangguk dengan ragu. Kemudian dia berbalik untuk melanjutkan langkahnya. Tepat di ujung lorong, dia kembali menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah rumah kaca yang sengaja dibuat untuknya. Tiba-tiba, dia mengerutkan kening. Menangkap sosok seorang gadis kecil yang sedang berdiri di dekat tanaman yang sangat dia sukai.

Anak laki-laki itu tanpa sadar melangkah mendekat. Tidak menghiraukan panggilan kakak berambut perak di belakangnya. Setelah sampai di samping gadis itu, anak laki-laki itu mulai berkata.

“Four Leaf Clover. Atau Daun semanggi empat. Kau suka?” tanyanya pada si gadis.

Gadis itu sedikit terlonjak kaget, kemudian dia menoleh ke arah anak laki-laki yang berdiri di sampingnya. Mengerutkan keningnya dengan lucu. Anak laki-laki itu tersenyum melihat ekspresi si gadis. Gadis kecil itu sangat menggemaskan, dengan mata coklat bulat dan pipinya yang chubby. Membuat anak laki-laki itu sangat ingin mencubitnya.

“Ini tanaman kesukaanku. Apa kau juga suka?” tanya anak laki-laki itu lagi. Si gadis kecil menoleh lagi ke arah tanaman di hadapan mereka, kemudian menggangguk.

“Kau tahu kenapa aku menyukai tanaman ini?” anak laki-laki kembali bertanya, si gadis kecil hanya menggeleng.

“Tanaman ini memiliki daun dengan 4 sisi. Dan setiap sisinya memiliki makna yang berbeda. Kepercayaan, harapan, cinta, dan keberuntungan. Tanaman ini sangat sulit untuk ditemui. Katanya kalau kita bisa menemukan tanaman ini, maka semua makna di daun itu akan menjadi kenyataan. Ini menakjubkan. Benar’kan?” jelas anak laki-laki, si gadis kecil hanya mengganguk.

“Aku meminta ayah dan ibuku untuk memberikan ini padaku. Mereka mengabulkannya, tapi tak ada satupun keajabaiban yang terjadi padaku,” raut muka si anak laki-laki berubah sendu.

Keadaan menjadi hening sejenak, namun si gadis kecil memutuskan untuk membuka mulutnya

“Memangnya bagian mana yang ingin kau pegang dari keempat makna itu?” tanya si gadis kecil itu ragu, membuat anak laki-laki menoleh ke arahnya.

“Tadinya, aku menginginkan semuanya. Aku ingin memegang semuanya. Tapi untuk saat ini aku hanya ingin satu.” Jawabnya.

“Apa?”

“Harapan. Karena itu satu-satunya hal yang bisa membuatku bertahan di sini.”

Si gadis tidak langsung merespon jawaban anak laki-laki, keningnya berkerut. Tampak larut dengan pikirannya. Namun tiba-tiba dia menoleh kembali kepada anak laki-laki. Menyunggingkan senyum termanis yang dia bisa.

“Tetaplah pegang harapanmu itu. Dan percayalah.” Ucap si gadis kecil, anak laki-laki itu tersenyum lebar lalu mengangguk. Merasa bahagia karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang peduli padanya.

Percakapan mereka terhenti ketika mendengar kelotak sepatu mendekat. Mereka berdua menoleh, mendapati kakak berambut perak yang berjalan ke arah mereka.

“Sudah saatnya. Ayah dan ibumu pasti tidak suka menunggu terlalu lama,” Ucap kakak berambut perak.

Anak laki-laki itu menghela nafas berat, kepalanya tertunduk dalam, “Baiklah.” Kata si anak laki-laki, kemudian berjalan mendekat ke arah kaka berambut perak.

Namun tiba-tiba dia berbalik lagi ke arah si gadis kecil, “Siapa namamu?” tanyanya.

Gadis kecil tersenyum. Kemudian mulutnya bergerak mengucapkan beberapa kalimat. Namun anak laki-laki itu tidak bisa mendengarnya. Sekeras apapun dia berusaha, tapi dia tetap tidak bisa mendengarnya. Apa? Apa yang gadis itu katakan? Siapa namanya?

Kai terlonjak kaget dari tidurnya. Nafasnya tersenggal. Keringat dingin membasahi kening dan rambutnya. Dia mengusap-usap dadanya. Berusaha menetralkan nafasnya yang masih ngos-ngosan. Rantai yang mengikat pergelangan tangannya ikut bergerak. Membuatnya meringis sakit. Kemudian bibirnya bergerak. Mengucapkan kalimat yang tanpa sadar keluar dari mulutnya.

“Siapa gadis itu?” ucapnya lirih.

-TBC-

Huwaaa, lama gak update nih. Maaf ya, karena satu dan lain hal dua minggu aku gak update. Maaf juga di part ini belom bisa nampilin adegan hyena sama Kai huhu. Mohon bersabar untuk itu. Anyway, aku harap ada yang mau menyempatkan membaca cerita itu. Jangan lupa juga untuk komentar ya. Dan follow wattpad aku ya @96dreamgirl Sampai bertemu di part selanjutnya ^^

GLOSARIUM

Mutans : Makhluk abadi yang berasal dari manusia yang mengalami mutasi genetik akibat ledakan shapire stone seribu tahun yang lalu. Memiliki kekuatan supranatural, namun mereka memiliki masalah dalam mengendalikannya.

Avox : Avox adalah monster psikopat yang memburu Mutans untuk meningkatkan kekuatan dan memburu manusia untuk bertahan hidup. Hasil ekperimen yang gagal dari pembentukan Mutans baru.

Para Pemburu : Manusia yang memburu Avox dengan melumpuhkan mereka dengan cairan. Bermusuhan dengan Mutans karena dendam masa lalu.

 

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 6)

  1. Apa hyena nanti yang jadi pasangan kai yah ? Terus D.O juga gak ngomentarin apapun tentang apa yang dipikirkan hyena terhadap kai. Apa anak perempuan itu hyena yah ? Kak, jangan siksa kai terus dong dengan dirantai begitu kan kasihan, cepat-cepat buat momen antara hyena sama kai dong, kan udah lama momen mereka gak dimunculin.
    Gak apa-apa deh kalo agak lama update nya, asal jangan gantung aja nih cerita kan masih banyak misteri yang belum terungkap. Fighting terus nulisnya.

  2. Andweeeeee….. jangan tbc dulu plis kak😭😭😭 aku nangis nih *wink* /iyuh, menjyjykan/

    Anak perempuan yang dimimpinya bang kai itu hyena kan? Matjji? Kan? Kan?kan? *Pasang aegyo sok imut😚😊🔪

    Baru kali ini kak gue ngerasa kasian + prihatin liat kai,, yang biasanya di ff lain dia tuh ceria ceria bokep gitu😂🔪 disini dia kaya anak bocah yg diambil permen nya,, gatega akutuu /alay/😭😭ututu malika gue😚😚❤❤❤❤❤

    Mampus lu baek… besok besok tinggal nama wkwk*gampar sj saya😊😂🔪 *mit amit 😂😂

    Hyena yaampun…. bisa kan jadi anak gadis itu jangan jutek jutek,, kasian tuh uco cimol bantet gue lu jutekin, si uco juga rada ogeb sih ya… di sinisin malah tersanjung😢 Turut prihatin akutu liat kamu jadi ogeb gini beb😚 , apa mungkin ini gara gara kamu tak bisa melihat wajahku akibat hubungan ldr kita?? /dibakar/

    Yasyudah lah ya kak,, Maafkan diriku yg nyepam di sini😢😂😚 Fighting !!❤❤❤❤❤❤❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s