[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 10)

LET ME IN 10: BEST (BAD) GIFT

Title | Let Me In  [Sequel Hold Me Tight]

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

Yoon So hee  x Baek Eun Ha

Irene Bae  x   Park Ae Ri

Song Yun Hyeong  x  Yun Hyeong

Kim Jong In  x   Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun  x   Dahyun

Wang Jackson  x  Jackson

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life  x Revenge

Disclaimer | Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Poster | RahayK Poster

Summary  this  Chapter |

“Biayanya sudah aku lunasi dengan tunjangan kesehatan dari perusahaan. Tak bisakah kau menanyakan kabarku?” –eunha

“Kehadiranmu sepertinya hadiah yang pasti Dahyun akan suka, dibanding semua barang-barang mahal itu.” –jackson

Lelaki itupun tahu,siapa yang harus ia temui dan kemana ia harus menghabiskan waktu panjangnya untuk menunggu hari esok tiba

Previous Chapter| First Encounter > Before time tell you to stop > Interview > Stranger(us) > Past pt.1 > Past pt.2 >Her Beloved > Fools love > For Life > All thing is back > Best (bad)gift[now]

-=10=-

     Langkahnya tergesa-gesa menyusuri lorong Rumah Sakit yang sama sekali tak pernah ia datangi dalam kurun waktu 5 tahun. Namun, mendengar seorang wanita dengan umurnya yang separuh darinya itu menangis begitu sendu membuat pertahanan seorang Eunha runtuh. Rasanya dunia begitu tak adil meruntuhkan pertahanan gadis itu setelah semua yang wanita itu lakukan padanya. Ya, membuangnya, lalu tak membiarkan dirinya merasakan kasih sayang seorang ibu, yang membuat Eunha membuat sebuah tanya hingga detik ini ‘Apa wanita itu layak ia panggil ibu?’ langkahnya memelan begitu melihat serombongan dokter dan perawatnya membawa peralatan medis dan masuk kedalam ruang rawat yang ingin Eunha masuki.

  Semakin Eunha mendekat menuju ruangan yang ia tuju kakinya seakan terpatri pada porselen mengilat Rumah Sakit yang mengeluarkan wewangian khas Rumah Sakit. Telinganya seakan memeka begitu ia berdiri di ambang pintu, yang membuat netranya cukup jelas melihat keadaan dalam ruangan yang benar-benar darurat, dan hanya terdengar wanita itu menangis histeris melihat sebuah jasad yang tak pernah membuka matanya dan hanya alat denyut jantung yang menjadi bukti bahwa jasad itu masih bernyawa.

Likuid gadis itu mengalir, tak sampai hati Eunha memaki jasad yang membuat hidupnya terbuang seperti ini. Bibirnya begitu gemetar untuk memanggil salah seorang itu agar menyadari kehadirannya. Ya. Kehadirannya. “Eomma..” lirihnya hampir tak bersuara. Gadis itu hanya meremas bajunya, dan wanita itu menoleh kearahnya tanpa ekspresi.

:::LET ME IN:::

Beberapa jam sebelumnya..

 Jackson menunggu harap-harap cemas di depan lorong ruangan dosen pembimbing Dahyun, ini sudah ke sembilan kalinya ia mendatangi ruangan ini dan sekali gagal wisuda, ketika Jackson semestinya sudah mendapatkan gelar lebih dulu, namun ia memilih menundanya dan menunggu gadis itu berhasil melakukan sidang, dan entah kali berapa gadis itu berhasil meruntuhkan penantiannya untuk wisuda bersama.Gadis satu ini masih sibuk untuk mengulang skripsinya. Tak lama, Dahyun keluar dengan air muka yang lagi-lagi sama seperti sebelum-sebelumnya, lesu dan sedih dan Jackson paham betul apa artinya, Jackson pun menghampiri gadis itu dan memeluk Dahyun ia menepuk punggung gadis itu pelan “Tidak apa. Aku akan tetap menunggumu, untuk wisuda.” Dahyun tak menjawab dan melepaskan peluk Jackson “Wang..aku akan sidang bulan depan.” ujar Dahyun, membuat Jackson mengangguk lalu membelalakkan matanya didetik berikutnya. “Mwo?!Sungguh?!” seru lelaki itu kegirangan, Dahyun menyengir lalu mengangguk. Jackson pun memeluk Dahyun sekali lagi dan mencubit pipinya. “Syukurlah. Untung aku tak keburu tua untuk menunggumu wisuda bersamaku.” ledek Jackson membuat Dahyun mendelikkan matanya sambil bersedekap. “Kau bilang apa?-kau mau ulang lagi supaya aku dengar?” tanya Dahyun, sementara Jackson hanya menggeleng “Tidak ada. Ayo, kita pulang.” dan segera merangkul gadis itu dan mereka pun berjalan menuju parkiran.

**

“Aku ingin ke suatu tempat, Wang..” ujar Dahyun seraya memasang seat-beltnya sementara Jackson mulai menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya menuju keluar dari pelataran parkiran kampus. “Kemana?” tanya Jackson sesekali melirik Dahyun “Restoran.Kau tau yang aku maksud.” Dahyun memainkan ponselnya. Ia pun tetap menuruti Dahyun meski ia tahu ini adalah dua hari setelah perayaan Chuseok.

Mereka tiba di seberang restoran yang dimaksud. “Sudah kubilang Bibi Miyeon pasti menutup restorannya setiap seminggu setelah Chuseok..” Jackson mengetuk roda kemudinya seakan seperti mendengarkan musik. “Jadi, kita hanya pulang?” tanya Dahyun, karena ia tak memikirkan destinasi lain saat ini rasanya ia terlalu senang hingga ia lupa tempat-tempat menyenangkan yang lain. Jackson pun tersenyum dan memutarbalik arah mobilnya untuk segera menuju rumah mereka. “Pulang adalah ide yang tepat. Kau bisa istirahat setelah ini. Sebagai gantinya -bagaimana dengan sebuah hadiah?”

Dahyun yang tadinya sudah merengut, menjadi mengerlingkan matanya mendengar kata ‘hadiah’

“Hadiah?” Dahyun merajuk. “Untuk wisudamu.” jawab Jackson mengklarifikasi maksudnya. Artinya, hadiah itu akan Jackson berikan nanti setelah gadis itu wisuda, dan bukan sekarang.

“Ya! Tak usah pamrih begitu kalau untuk wisuda. Hal seperti itu memang wajib ada dalam kamus Kim Dahyun.” ujar Dahyun membuat Jackson memutar matanya lalu melanjutkan mengemudinya. “Aku mau..-‘ Omongan Dahyun segera disela Jackson setelah lelaki itu tak sengaja melirik deretan bangku di teras minimarket yang memang tersedia untuk pengunjung dan ada seseorang yang duduk sendiri disana.

“Aku sudah memikirkannya dengan matang, tentang hadiahmu.” ujar Jackson mengalihkan pandangnya pada Dahyun yang sedang asik melihat kearah lain. Sementara, gadis itu segera menoleh mendengar nada bicara Jackson seakan menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa dan tentu saja mahal harganya untuk dirinya. “Dari yang kutebak -jangan bilang kau membelikan tiket ke New Zealeand atau Amerika untuk bertemu Baekhyun?atau berlian yang aku lihat di mall tempo hari?” terka gadis itu dengan antusias, Jackson hanya memutar stirnya untuk belok menuju jalan rumah mereka. Dan, tak sampai 10 menit lelaki itu menepikan mobilnya dan tangannya menarik rem tangan dan mobil berhenti. “Aku harus menabung 20 tahun untuk berlian itu.Ayo, turun.Kita sudah sampai.”ajak Jackson yang turun lebih dulu, sementara Dahyun kembali menghela nafas lesu dan ikut turun dari mobil, mengekori Jackson untuk naik tangga menuju rumah mereka yang memang letaknya di atas.

“Wang -jadi apa hadiahmu?”tanya Dahyun masih penasaran begitu mereka tiba di depan pintu rumah mereka.

“Yang jelas, lebih mahal dari harga tiket pesawat dan lebih berharga dari berlian yang kau ingin.” jelas Jackson lalu berjalan meninggalkan gadis itu menuju tangga. “Kau mau kemana lagi?” teriak Dahyun. “Minimarket di persimpangan jalan tadi. Kau mau kubelikan sesuatu?” tawar Jackson. “Kenapa tadi tidak sekalian?kita hanya melewatinya tadi..” ujar Dahyun sempat bingung. “Aku baru ingat, stok kulkas habis. Masuklah, aku segera kembali.” pinta lelaki itu dan segera pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

**

  Jackson segera menyebrang jalan begitu seseorang yang sempat membuatnya merasa teralih masuk kembali ke dalam mini market.

   Dari sisi lain, Jackson melihat orang itu ke deretan lemari minuman dingin dan memandang beberapa cola dan tiba-tiba orang yang dari tadi ia amati tersenyum kecil sambil memandangi cola-cola yang membisu ditempatnya. Jackson mulai berpikir apa orang itu sudah tidak waras setelah tinggal di luar negeri selama 5 tahun? sibuk dengan argumennya, orang yang ia amati sudah tidak ada di dalam fokusnya dan beralih pada kasir, sementara orang itu ada disana.

     Setelah yakin, Jackson mendekat dan merebut botol cola setelah si pemilik ingin mengambilnya juga.

“Oraemanida, Byun Baekhyun!” sapa Jackson.

**

    Pipi wanita itu mengering, menyisakan bekas membengkak,yang sudah muncul keriput halus diarea wajahnya. Ia pun duduk di samping seorang gadis muda yang adalah putrinya. Netra gadis itu melemah, seakan putus asa menghampirinya ketika wanita itu tadi sempat berpandangan dengannya sesaat, ya. Hanya sesaat.

    “Apa yang terjadi? -setelah 5 tahun dirimu baru saja melakukan sebuah panggilan yang sepertinya mendesak- padahal keadaan tak sekacau itu..” ujar Eunha dingin.

“Tugasmu hanya membayar biaya Rumah Sakit untuk Eunki, jangan berharap lebih padaku.” katanya dengan nada lebih dingin. Ia masih memandang ruang rawat putranya.

Eunha menghela nafas pelan dan begitu berat, ia sudah mencoba untuk mengerti wanita dari Ibu adiknya ini, namun rasanya itu tak berguna sama sekali. Bahkan, Eunha merasa beliau hanya menganggap dirinya mesin uang dan robot yang hanya bisa mendengar perintah tanpa bisa membangkang.

“Biayanya sudah aku lunasi dengan tunjangan kesehatan dari perusahaan. Tak bisakah kau menanyakan kabarku?” kalimat tanya dengan suara parau yang memohon putus asa begitu saja lolos dari bibir Eunha yang bergetar ketika bicara.

“Aku butuh uang dimuka untuk membayar biaya operasi Eunki.” tekan Ibu Eunki menatap Eunha penuh amarah. Seakan apa yang terjadi pada Eunki adalah sepenuhnya salah Eunha. Padahal Eunha ingat bahwa hari itu ia hanyalah seorang gadis  13 tahun yang mencoba untuk melakukan hal yang terbaik untuk keluarganya.

“Eomma!” teriak Eunha.

Sang Ibu hanya bersedakap lalu berkata “Aku butuh uang itu sekarang!Aku hanya butuh jawaban kau membawanya atau tidak?!” serunya dengan nada tinggi.

Eunha bangkit dari duduknya. “Untuk apa mengoperasi seorang yang tidak pernah membuka matanya dan kolaps sewaktu-waktu?huh?” katanya dengan tangan yang menggeram, menahan marah.

Plak!

Wanita itu menampar pipi Eunha keras, Sang ibu murka

“Jaga kata-katamu, Eunha!”

Eunha hanya tersenyum sakartis lalu memegang pipinya, ia memandang ibunya penuh kemarahan.

“Itu sebabnya, aku tak pernah punya alasan yang baik untuk menemuimu apalagi Eunki.” ujarnya dengan nada lirih dan segera melangkah pergi dari sana.

**

     “Jadi, sejak kapan kau ada di Korea?” tanya Jackson sembari menaruh barang belanjaannya. “Sekitar 3 minggu?atau lebih..” terka Baekhyun lalu memakan chips yang Jackson beli.

“Oh ya, Dahyun dan aku akan wisuda bulan depan. Aku berencana memberikan hadiah untuknya pada saat wisuda nanti.” ujar Jackson dengan antusias.

Baekhyun hanya cuek namun tetap menanggapi. Ia rindu saat-saat seperti ini, dimana ia bisa jadi dirinya yang dulu.

“Belikan saja dia sepasang high-heels atau gaun. Gadis itu suka.”

Jackson menggeleng lalu menjawab. “Aku punya ide yang lebih baik, Hyung..”

Baekhyun mengangkat alisnya sebelah dan menyedot minumannya.

“Benarkah?apa?”

Jackson menatap Baekhyun penuh arti. “Kehadiranmu sepertinya hadiah yang pasti Dahyun akan suka, dibanding semua barang-barang mahal itu.” jelasnya tertawa senang.

“Aku?” tanya Baekhyun menunjuk dirinya sendiri, dan Jackson mengangguk membenarkan.

“Ya,kau Hyung. Bantulah aku kali ini..” rajuk Jackson agar menyetujui kesepakatannya kali ini.

“Tapi- rahasiakan keberadaanku sampai hari itu tiba, oke?” ujar Baekhyun menyepakati penawarannya dengan Jackson, ia kemudian beranjak dari tempat duduknya, meraih kantong belanjaan yang ia bawa dari dalam. “Baiklah. Aku harus pergi sekarang, jika tidak Dahyun akan curiga padaku.”

Baekhyun tersenyum senang lalu mengangguk sambil berkata. “Sepertinya berbelanja tidak menghabiskan waktu sampai 3 jam, ya ‘kan?” sindir Baekhyun yang membuat Jackson ikut menyengir. “Kau benar, Hyung. Aku pergi dulu, kalau begitu. Sampai jumpa di hari H nanti.” pamit Jackson.

Baekhyun mengangguk dan melambaikan tangan pada Jackson yang sudah menyeberang jalan.

“Baiklah, sampai jumpa nanti. Hati-hati.” ujarnya, kemudian hanya hening kembali yang Baekhyun rasa setelah Jackson menghilang dari pandangan.

  Ponselnya kembali bergetar dan kembali ia matikan layarnya setelah membaca pesan dari Jaebum tentang alamat rumah atapnya dan juga setelah ia menyelesaikan melakukan panggilan dengan jasa pengangkut barang.

    Kini, netranya kembali kepada botol cola yang tersisa satu botol dengan segel yang masih rapat. Lelaki itupun tahu, siapa yang harus ia temui dan kemana ia harus menghabiskan waktu panjangnya untuk menunggu hari esok tiba. Dan seketika, sebuah senyum merekah di bibir lelaki itu begitu ia ingat saat hari pertama ia di tiba di Korea yang dapat menemani perjalanannya dengan hati yang hampa.

“Kosongkan jadwalku untuk 3 hari ini.”

“Baiklah.”

Baekhyun berjalan duluan dan meninggalkan Jaebum dengan barang-barang miliknya dibelakang.

dan tiba-tiba saja

Bruk!

Baekhyun side’s

    Sebuah tubuh lain yang ukurannya lebih kecil dariku menabrakku dan membuat kami sama-sama terjatuh. Netraku bertemu lagi untuk pertama kalinya dengan gadis berambut pucat ini setelah 4 atau 5 tahun lamanya berlalu.

     Rambut gadis itu tampak sedikit acak-acakan karena pengikatnya yang sudah kendur. Kemeja putihnya tertutup oleh rambut yang berjatuhan dan tag nama yang berkalung di lehernya, terdapat nama, jabatan dan perusahaan tempatnya bernaung sebagai editor pada sebuah perusahaan percetakan terbesar di Korea Selatan.

    Anehnya, begitu ia mengangkat kepalanya mataku justru sibuk melihat hal lain dan tanganku segera merapihkan barangku.

     “Presdir, kau tak apa!?”

Aku pun segera bangkit dan memakai topiku, lalu pergi dari sana. Setidaknya, aku tau akan satu hal, ia benar-benar hidup menjadi manusia setelah perpisahan kami di musim dingin hari itu.

Baekhyun side’s end.

     Baekhyun menepikan mobilnya, begitu ia tiba di sisi jalan, sementara netranya asik mengamati gedung besar bertuliskan ‘D Magazine’ terpampang di sudut atas gedung pencakar langit itu.

Jalanan tampak ramai karena ini adalah waktu prime-time untuk orang-orang mengakhiri kegiatan mereka di luar. Lelaki itu pun hanya turun dari mobilnya dan menunggu orang yang ia ingin lihat dari luar mobil.

::: Let Me In :::

     Won Woo melihat sekeliling ruangan divisi editor entertain, namun hanya ada Yuri disana.

“Yuri Sunbae?- kau melihat Eunha?”tanya Won woo yang melongok dan mengedarkan pandanganya ke sekitar ruangan dan meja kerja Eunha yang letaknya bersebelahan dengan Yuri.

“Dia tidak masuk hari ini. Ada urusan keluarga katanya. Ada apa?”

Yuri masih sibuk mengecek artikel-artikel di internet. Won woo hanya tersenyum kecil

“Tidak ada. Lanjutkan kerjamu kembali, sunbae.”

Tak perlu menunggu jawaban dari Yuri, lelaki tinggi itu segera pergi dari ruang kerja divisi entertain.

**

     Won woo mengerutkan keningnya begitu ia menyebrang jalan dan melihat seorang lelaki berdiri didepan mobil. Itu adalah lelaki yang ia temui beberapa minggu lalu.

Ia pun segera menyapanya begitu ia tiba di seberang jalan dimana lelaki itu berada.

“Apa yang kau lakukan disini, Hyung-nim?” sapa Wonwoo ramah. Namun, orang-orang yang berlalu lalang segera menjadikan Baekhyun pusat perhatian begitu Wonwoo menyapanya dengan panggilan ‘Hyung-nim’ yang identik dengan ‘gangster’ jika di Korea.

Baekhyun hanya tersenyum sungkan dan menyapa Wonwoo kembali.

“Apa sekarang sudah waktunya pulang kerja?”

Alih-alih ingin mengalihkan topik dari pertanyaan Wonwoo, Baekhyun malah diserang tiba-tiba oleh rekan dari Eunha itu.

“Oh, kau ingin bertemu Eunha ya?Soal Eunha -bagaimana kalau kita berbincang di resto dekat dari sini?” tawar Wonwoo lagi.

Baekhyun tak sempat menjawab karena seseorang yang menjadi perbincangan tiba-tiba saja ada disana.

Ahjussi! Wonwoo -ah, apa yang kalian lakukan disini?”

Kedua orang itupun sama-sama menoleh kearah sumber suara dengan dua jenis tatapan yang berbeda namun intinya sama, sama-sama kaget dengan kehadiran gadis itu yang tiba-tiba.

Bersambung..

a.n

tetap komen, komen dan komen

butuh inspirasi untuk menulis bagian berikutnya, komen kalian adalah motivasi dan inspirasi heheheh jadi, plis komen yaa, thanks!!

Everything has changed akan apdate minggu depan, thankyou

Keep health and joy your life!

Rhyk 4 agustus 2017

Iklan

20 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 10)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 15) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 14) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] – LET ME IN -13: MEET AND INVITATION | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In [Chapter 12] | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 11) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Yahhh ff nya yang ini kok agak lebih pendek ya dari biasanya atau ini cmn perasaaa aku aja ya? Mungkin karena aku suka bnget jadi gak sabar mau bacanyaaa .. semangat teruss yaa di tunggu cerita kisah menarikkk lanjutanyaaa

  7. yahh kenapa berhenti di situ aah padahal nungguin BaekEun momen.

    halo kk aku reader baru di ff ini dan gara” pengen baca ff ini aku ngikutin mulai dari hold me tight. dan sorry ya kk aku baru ngoment di chapter ini soalnya aku ngebut dan untuk memperirit paket aku bacanya sambil offline hehe dan ada saat” aku sedikit kesal karena di hold me tight itu ada yg di ps tp gk papa karena akupun bacanya karena untuk ff ini hehehe

    semangat kak nulis ceritanya dan banyakin dong momen baekeun nya fighthing!
    aku usahakan komen setiap ff ini dipost😊

  8. Oh ternyata ketemu Jackson wkwkwk kenapa pikiranku jauh sampe ke Chanyeol *efekkangen 😂 Baek perlahan-lahan move on. Kesel sama Ae Ra tapi gak sabar nunggu moment dia ketemu Baek. Semoga pas moment itu tiba Baek udah sepenuhnya move on 😂

    Ps: Baek, cepat buang cincin itu! 😒

  9. Ahjussi!!! Kenapa harus bersambung di stu sih?? Pdahal udah penasaran bgt ama baek-eunha momen…👫 gue selalu nunggu.in ff ini,dan sekali dua kali aku jadi siders(maafkandiriku ini Rha)pokonya Rhay yg semangat yah buat lanjutin ceritanya, semoga penyakit siders ku ini bisa ilang di telan bumi..
    Baek-eunha momentnya kapan Rha??udh gak sbr ni😂😘 semangat nulisnya👍👍

    • aku tau gmn rasanya jadi siders wkwkwk.. next chapter komen lagi yaa.
      soal moment mereka kayaknya semakin chapter keatas bakal banyak deh yaaa aku gak mau kasih bocoran wkwkwkwk. kira-kira mau brp chapter nih let me in dibuat? yah ditunggu aja deh okeoke

  10. Siapa yha gadis itu bikin penasaran aja???..
    Kasihan Eunha ditinggal ibunya.. Semangat kak buat ngetik chapter selanjutnya… Aku suka sekali sama Ff kak yg satu ini. Jadi jangan lama² yha next Ff ny hehehehehe

    • Eunha gak disayang sama ibunya karena ada satu kejadian yang ngebuat Eunha disalahkan. Bakal ada flashback entah nanti di chapter brp aku juga belom bs mastiin, jd wajib dan patut kamu tunggu yaa~
      Semoga chapter depan lebih seru, ok?
      And, thanks udh komen

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s