Friendzone : When The Love Blossom [Keping 3 : High School Reunion] – HyeKim

Friendzone-WTLB-Cover

Friendzone : When the Love Blossom

KEPING 3 : High School Reunion┘

Starring By

Lu Han & OC`s Kim Hyerim

Story with Romance, Comedy, Friendship, Fluff rated by T type in Chapter

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

`Luhan dan Hyerim sudah bersahabat selama 17 tahun. Keduanya berjanji tidak akan saling menikahi, juga kalau satu dari keduanya menikah, salah satunya akan menyanyi dipernikahan tersebut. Tapi memangnya persahabatan antara lelaki dan perempuan akan bertahan lama? Terlebih Hyerim baru saja diselingkuhi. Sedang Luhan, suka berperan menjadi pelindung Hyerim dan selalu meminta pendapat Si Gadis untuk masalah perempuan`

Disclaimer : Beberapa adegan di fiksi ini terinspirasi dari drama Korea Fight For My Way dan tweet @plotideas. Namun isi cerita serta konflik yang ada sungguh berbeda. Semua yang tercantum dari cerita ini sungguh tidak nyata. Tidak ada niatan untuk menjelek-jelekan satu organisasi/perorangan. Semua cast milik orang tua, agensi, dan Tuhan YMA—terkecuali untuk OC. Penyebarluasan, duplikasi isi cerita tanpa sepengetahuan/izin penulis, juga menghina/menjelek-jelekan isi cerita merupakan tindakan yang sangat dilarang.


When the love blossom in our friendship


Previous Story : Keping 0 — Introduction Keping 1 — The Cheating BoyfriendKeping 2 — After Broke Up

© 2017 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

KLIK UNTUK LANGSUNG MEMBACA CHAPTER 4

“Hei, Luhan, bisa cepat sedikit enggak sih?” pekikan nyaring Hyerim mengudara sambil melekatkan tatapan pada punggung Luhan yang berdiri di depannya, dengan tampang kesal.

Kedua anak berumur sebelas tahun ini sedang melewati persawahan dan berpijak di jalan kecil di antara dua sawah. Luhan yang ada di depan nampak gemetaran, takut jatuh ke sawah yang ada di kanan serta kirinya apalagi jalannya kecil begini.

Sambil merentangkan tangan menjaga keseimbangan, Luhan merespon Hyerim, “Enggak bisa, Hyer. Nanti jatuh, baju taekwondoku bisa kotor,”

Hyerim mendengarnya sudah kelewat geregetan dan menggeratkan giginya kesal. Kemudian Luhan mulai berjalan perlahan dengan mempertahankan rentangan tangannya, namun tiba-tiba cowok satu itu berhenti mendadak. Oleh sebab itu juga, Hyerim tersentak dan nyaris jatuh karena aksi Luhan yang main berhenti membuatnya mengrem langkah kaki.

Ya!” akhirnya Hyerim berteriak jengkel, “Kau ini lama sekali, sih! Aku, ‘kan mau main ke rumah Sun Ee!” pekik Hyerim dan tanpa pikir panjang langsung mendorong Luhan kuat-kuat.

Dorongan Hyerim lantas menyebabkan tubuh Luhan terhuyung. Tatkala tubuhnya hilang keseimbangan, Luhan membuka mulut lebar dengan mata membelalak. Ekuilibriumnya hilang total yang kemudian mengiring tubuh Luhan jatuh ke sawah.

“Huaaa!” tangis anak laki-laki satu itu pecah juga saat dia jatuh ke sawah dengan posisi duduk. Baju taekwondonya yang berwarna putih jadi berubah coklat.

“Hei jangan menangis,” itu suara Hyerim yang mentitahkan Luhan untuk berhenti nangis. Tapi yang ada, anak cowok satu itu makin menangis, histeris malah.

Melihat banyak orang jadi mendekati tempat mereka sebab oleh tangisan Luhan yang heboh. Hyerim pun jadi mengorbankan diri masuk ke sawah serta mendekati Luhan. Cowok satu itu masih menangis sambil mengosok-gosok matanya, Hyerim menatapnya ogah-ogahan dulu sebelum akhirnya berjongkok dan memeluk Luhan.

Luhan awalnya enggak sadar, dia baru sadar saat Hyerim menepuk-nepuk punggungnya. “Sudah, sudah, jangan menangis. Malu-maluin tahu laki-laki menangis.”

Kayak dikasih mantra, sekejap saja Luhan berhenti menangis dengan mata sembab. Nyatanya pelukan Hyerim magis sekali untuk Luhan yang sedang menangis.

║█║♫║█║ — Friendzone : When The Love Blossom ║█║ ║█║

Pagi sudah datang. Sinar mentari sudah ada di permukaan. Cuaca hari ini lumayan cerah, kata peramal cuaca juga begitu. Kim Hyerim baru bangun dari alam mimpinya, kepalanya terasa pusing sekali sebab minum soju semalaman. Dengan muka bantal, Hyerim berjalan ke dapur masih dengan rambut acak-acakan.

“Hyerim-ah,”

Hampir saja ya, Hyerim jatuh mengenaskan karena tersentak kaget akan sapaan gadis yang menyapa liang dengarnya. Lekas Hyerim membuka mata lebar-lebar dan langsung disapa dengan sosok Oh Sun Ee—sohib setianya, yang lagi mengulum senyum dari balik counter dapurnya. Si Gadis Oh pun melambai singkat.

Eoh, Sun Ee-ya,” sapa Hyerim ala kadarnya kemudian menguap lebar. Mulailah Hyerim menuju dapur, tempat Sun Eee sekarang dan duduk di meja counter. “Tumben ke mari. Ada apa?” tanya Hyerim saat menuang air mineral ke gelas yang ia ambil, lantas meminumnya.

Sun Ee terlihat selesai pada kegiatannya di dapur dan mendekati Hyerim dengan sup iga bakar—yang langsung disambut Hyerim dengan mata berbinar-binar antusias. Langsung Sun Ee membanting bokong ke kursi di sebelah Hyerim setelah sebelumnya menaruh sup iga bakar di atas counter.

“Bosan saja. Karena kerjaan Sehun, aku dan dia punya rumah di Seoul meski kecil. Jadi tak bisa menyewa di sini lagi seperti dulu. Aku rindu tinggal dekat denganmu, Hyer,” jelas Sun Ee sembari menopang dagu di atas meja dengan bibir mengerucut.

Sedang, Hyerim malah asyik menyantap supnya. Dengan mulut penuh, dirinya baru menjawab. “Aku juga merindukanmu yang suka tiba-tiba masuk rumahku. Tapi bersyukur saja lah Sehun punya kerjaan sebagai seketaris manajer yang lumayan,”

Sun Ee menganggukan kepala setuju meski barusan curhat karena harus pindah setelah kakaknya punya kerjaan yang memidai. Well, tadinya Sun Ee berserta Sehun juga tinggal di daerah rumah sewa ini. Sun Ee berkerja sebagai pegawai di sebuah pasaraya. Sementara Sehun menjadi pegawai magang di sebuah perusahaan marketing. Setelah bergelut lama, akhirnya Sehun dapat juga posisi enak menjadi seketaris manajer.

“Oh ya, ngomong-ngomong,” kembali Sun Ee berkata tatkala ingat sesuatu. “Akan ada reuni SMA besok. Mau datang tidak?” ujar Sun Ee dengan tatapan dalam pada samping muka Hyerim yang pipinya mengembung sebab kunyahan makanan dalam mulutnya banyak.

Mendengar informasi adanya reuni, kepala Hyerim berbelok menatap Sun Ee dan menelan makanannya dahulu. “Ada reuni SMA?” ulang Hyerim mengonfirmasi sebab tak tahu informasi itu sebelumnya. Detik berikut, Sun Ee mengangguk dan Hyerim kembali berkata. “Mungkin aku ikut. Kau sendiri mau ikut atau tidak?”

Napas Sun Ee terhela. Dia pun menopang dagu kanan dengan kepalan tangan kanannya di atas meja counter. Sedang Hyerim sibuk lagi dengan makanannya. Oh Sun Ee menggerakan bola matanya menerawang.

“Entahlah. Sepertinya tidak. Pasti ada Si Jalang Soojung. Dulu dia merebut Myungsoo dariku!” seketika saja, Si Oh satu ini menggebu-gebu dengan bibir mencebik. Mengingat kekesalan masa lampaunya. Walau sudah berlalu, lukanya masih juga ada.

Mendengarnya, Hyerim mengangguk-angguk paham plus maklum. For your information, Soojung itu nama gadis yang dulu menggoda Myungsoo—pacar Sun Ee semasa SMA, lalu membuat hubungan Sun Ee dan Myungsoo kandas. Intinya, meski sudah move on, Sun Ee masih menyimpan kesal.

Hyerim meletakan sendok ke atas meja karena sarapannya sudah beres dan menoleh lagi ke arah Sun Ee. “Baiklah. Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri.”

Walau Hyerim berkata cuek dengan wajah yang gak peduli. Sun Ee mengulas senyum bersalah karena tak bisa menemani. Tetapi dirinya jadi mengingat sesuatu. “Eh, kau bisa mengajak Luhan. Tak usah pergi sendiri.” kata Sun Ee dengan senyum lebar.

Pergi dengan Luhan? Alis Hyerim hanya berjungkit menanggapinya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Saat sedang diungkit Sun Ee dan Hyerim, di hari Rabu begini, Luhan memiliki jadwal sebagai pelatih taekwondo. Dirinya mengiring beberapa anak muridnya. Ketika para muridnya memasang kuda-kuda, melatih pukulan dan tendangan, Luhan hanya mengitari mereka sambil membenarkan cara memukul dan tendangan yang salah.

‘Drtt’

Dalam mode getar, ponselnya bergetar di balik saku celana kain warna putihnya. Luhan berhenti melangkah dan merongoh saku. Matanya disapa nama kontak Hyerim. Spontan saja lah alisnya berjungkit sebelum mengangkatnya.

“Heh, kau sudah dengar ada reuni SMA besok?”

Tanpa hallo-hallo, basa-basi, Hyerim langsung aja to the point.

Luhan melebarkan mata. Jujur saja baru tahu informasi itu dari Hyerim sekarang. “Reuni?” beo Luhan agak tinggi sembari mengerjap-ngerjapkan mata. “Besok ada reuni SMA?”

Di sebrang panggilan, Si Gadis Kim mengangguk meski Luhan tak bisa melihat. “Iya. Dan kau datang bersamaku, ya!” Hyerim tersenyum lebar penuh harapan, menanti jawaban Luhan yang lagi-lagi menaikan satu alis.

“Kau punya rencana?” curiga Luhan.

Di sana, Hyerim memasang tampang datar. “Tidak. Intinya datang bersama, oke? Sun Ee tak mau datang. Pokoknya datang bersama!” ngotot Hyerim, langsung pula sambungan terputus.

Si Pria Lu pun menatap ponselnya tak habis pikir, lantas menggeleng-geleng. “Dasar nenek lampir. Bertindak semaunya. Memang siapa di—“

‘—Duk!’

Ayat kata Luhan kepaksa harus terhenti tatkala tanpa disengaja, satu anak muridnya memelesetkan tendangan yang mengenai perut kiri Luhan. Langsung saja ponsel Luhan berbantingan dengan lantai ruang latihan, pemuda satu ini membuka mulut kaget dengan refleks memegangi perutnya.

Ss… aem, maaf, enggak sengaja!” ujar anak yang tak sengaja menendang Luhan dengan wajah panik. Sementara anak-anak lain yang spontan memberhentikan gerakan, hanya membuka mulut cengo.

Diikuti wajah meringis dengan tubuh agak membungkuk, seraya memegangi daerah yang ditendang, Luhan menatap anak laki-laki muridnya yang terlihat tak enak. “Ah, tak apa, tak apa. Guru baik-baik saja. Lanjutkan berlatihnya, ya.” kata Luhan dengan menyungging senyum dibuat-buat.

Sesuai kata Sang Guru, anak-anak mulai melatih kuda-kuda dengan pukulan juga tendangannya. Dimasa itu lah, Luhan menggeret langkah agak terseok-seok dengan wajah menahan sakit. Walau guru, dia juga punya rasa sakit. Apalagi murid laki-laki yang menendangnya itu adalah salah satu asetnya bila ada pertandingan. Wajar tendangan bahkan pukulannya majur. Sial sekali ya, Luhan?

“Sialan kau Kim Hyerim. Saat aku mengutukmu, bahkan dengan tidak ada dirimu di dekatku, aku harus kesakitan begini. Akhh, ya Tuhan.” umpat Luhan lalu meringis dengan mata terpejam berusaha meminalisir rasa sakit.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Akhirnya, waktu mengajarnya pun beres. Sekarang, Luhan sudah berpakaian casual dan mengayunkan tungkai keluar tempat kerjanya. Dirinya menghirup udara masuk ke paru-paru kemudian menghembuskannya. Luka tendangan yang ditorehkan muridnya hanya menyisakan biru-biru sedikit, dan untung sudah tak sakit lagi. Kalau masih, Luhan ingin sekali mengutuk Kim Hyerim—meski cewek satu itu tak terlibat, namun karena mengumpatinya, Luhan jadi kena tendang.

Saat lagi menikmati pendestrian, netra Luhan tak sengaja menatap satu objek yang membuatnya refleks menghentikan langkah. Objek yang merengut atensinya itu ialah sebuah tas selempang warna putih yang megantung di sebuah gantungan yang ada di toko pinggiran jalan. Otak Luhan lantas terbang pada memori tas Hyerim yang rusak kemarin. Dirinya terlihat berpikir sejenak dengan pandang melayang ke arah lain, kemudian kembali memandang tas selempang yang tergantung di toko lurus-lurus.

“Tuan, ini uang kembaliannya.” ujar Si Penjual dengan menyodorkan beberapa lembar won. Luhan segera menerimanya dengan sebuah tentengan plastik.

Finalnya juga, Luhan membeli tas itu. Dia melangkah keluar toko dengan melihati tas yang berada di dalam plastik. Setelah beres mengamati tas, ia pun bergumul lagi di pendestrian kemudian mengangguk-angguk setelah membuang napas.

“Ya, pasti Hyerim suka.” Luhan memantapkan pikirannya yang dari tadi semeraut tentang apakah Hyerim akan suka atau tidak.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Esok malam pun disambut. Reuni SMA pun akan terlaksana. Maka Kim Hyerim sudah mematut diri sedemikian rupanya. Baju terusan berwarna putih di atas lutut dengan luaran panjang berwarna biru ia kenakan disertai rambut terurai dengan anting sederhana berbentuk hati. Si Gadis tengah memoleskan lipstick merah jambu kebanggaannya, kemudian mengecap-ngecap bibir dan tersenyum miring merasa puas. Lekas, Hyerim berdiri dan mengambil tas gendongnya yang sudah dijahit. Dirinya menghela napas dulu dengan miris melihat tasnya tapi akhirnya menyampirkannya di bahu.

Hyerim sudah berada di luar rumahnya, dirinya membalik badan untuk menutup pintu. Ditiming itulah, Luhan yang berada di rumah depannya, keluar dan memanggilnya. “Kim Hyerim,” menyebabkan Hyerim membalik menatapnya.

Kehadiran Luhan membuat Hyerim agak terkejut, apalagi pria satu ini meniliknya lekat—lebih tepatnya tas miliknya. “Ada apa?” Hyerim mencetus tanya dengan wajah galak, merasa Luhan enggak beres meniliknya dalam.

Bukan menjawab, Luhan malah decak-decak dengan gelengan kepala. “Ckckckck, tasmu itu harus dibuang,” komentar Luhan dengan wajah sarkas. Hyerim pun melirik tasnya dan kembali menatap Luhan ganas. “Buang tasmu,” perintah Luhan.

Hyerim memasang wajah memberengut, “Tidak ma—“

Belum sempat selesai juga membantah, dengan acara pemaksaan, Luhan merebut tas Hyerim menyebabkan mata Hyerim melebar. Tak sampai situ, Luhan membuka resleting tas Hyerim dan membalikan tasnya sembari menggoyang-goyangkannya. Lukisan wajah Hyerim melongo dengan mata lebar dan mulut terbuka saat barang-barang yang ada di tasnya otomatis keluar dan berbantingan dengan aspal tangga yang dipajakinya.

Mulut Hyerim masih terbuka lebar dengan mata membelalak, kemudian menatap Luhan yang tampak santai. Air wajah Hyerim langsung berubah geram dengan mata menyipit. “APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Hyerim.

Setelahnya, Si Gadis berjongkok dan memunguti barang-barangnya. Hyerim menatapi ponselnya dan memeriksanya, untung kacanya tak pecah. Lalu mengecek dompetnya, untung tak ada kartu atau uang atau apapun yang terlempar keluar dari sana. Di lain sisi, Luhan menggaruk tengkuk dengan wajah risih kemudian dengan ragu menyodorkan plastik putih yang sedari tadi dia sembunyikan di balik kemejanya.

“Ini,” Luhan bervokal ragu-ragu, merengut fokus Hyerim menatapnya dan langsung mendapati Luhan menyodorkan plastik dengan menunjuknya menggunakan ujung dagunya. Hyerim menatapnya bingung. “Buatmu. Dipakai, oke?” ucap Luhan sangsi.

Seketika, mata Hyerim berbinar dan gadis Kim ini mengiring tubuh berdiri dengan wajah terkejut. “U—un—tukku?” yakin Hyerim sebab merasa tak percaya. Luhan membelikan sesuatu untuk perempuan? Wow! Tujuh keajaiban dunia sedang terjadi.

Luhan mengangguk-angguk menyebabkan Hyerim memasang muka kaget sekaligus senang dengan mata mutlak melebar. Kemudian, Luhan langsung menyambar barang-barang yang ada di tangan Hyerim—barang-barang yang ia keluarkan dari tas cacat Hyerim yang omong-omong tadi sudah ia amankan ke tempat sampah di depan rumahnya. Barang-barang Hyerim itu, Luhan masukan ke tas selempang yang ada di dalam plastiknya.

Pemuda marga Lu ini melengkungkan kurva. Dikeluarkanlah tas selempang yang kemarin ia beli dan mengulurkannya ke Hyerim. “Tas ini nyaman. Gayamu sekali, ‘kan? Kau juga bisa memukuli bajingan-bajingan gila seperti Kim Jisoo dengan tas ini.”

Dengan keantusiasan yang kelihatan jelas sekali, Hyerim menerima tas tersebut dan langsung menyampirkannya di bahu kirinya. Si Perempuan mulai menilik-nilik tas tersebut dengan senyum lebar.

“Ahhh, aku suka sekali,” gumam Hyerim masih dengan menilik-nilik tasnya dengan senyum lebar. Mendengarnya, Luhan jadi tersenyum lebar juga.

Hyerim menatapnya masih dengan keantusiasan. “Oppa, gomawo, saranghae,” mulai ya, mulai, Hyerim berkata sok aegyo dengan wajah diimut-imutkan dan badan bergoyang-goyang.

Senyum lebar Luhan luntur tergantikan wajah jengkelnya. “Ya! Jangan sok imut kau!”

Tetapi Hyerim malah mempoutkan bibirnya sembari memainkan helai rambutnya. Tak tahan, Luhan menarik helai rambut yang dimainkan Hyerim.

“Akhh! Sialan! Sakit bodoh!” pekik Hyerim dengan kepala agak tertarik ke Luhan dengan posisi agak miring.

Tanpa dosa, Luhan menarik tangannya dari surai Hyerim lalu menuruni tangga gang rumah mereka dengan buru-buru. Hyerim masih memasang wajah meringis dan membereskan rambutnya, dia pun menatap punggung Luhan geram. Ingin balas dendam, gadis marga Kim ini langsung menggas langkah dan sudah berada di belakang Luhan. Tak mau buang-buang kesempatan, Hyerim langsung melayangkan tendangan ke bokong Luhan. Si Pria darah China tersebut langsung melikukan badan dan merintih.

“Akhh! Ya! Kim Hyerim!” seru Luhan dengan wajah kesakitan tatkala Hyerim main berlari dan sudah berada beberapa jengkal agak jauh dari tempatnya.

Luhan yang memberhentikan langkah gara-gara tendangan Hyerim, mulai melajukan derap langkahnya lagi. “Hei, katanya ingin berangkat bareng!” seru Luhan dengan memegangi bokongnya yang masih terasa perih menyebabkan jalannya agar terseok sekarang.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Setelah bergumul di dalam bus yang lumayan sesak. Hyerim berserta Luhan pun sampai ke daerah Namdaemun, tepat di sebuah hotel. Dengan tangan melingkar di lengan Luhan, Hyerim menata langkah dengan Si Pria.

“Wah, hotel ini disewa angkatan kita?” kilat kagum dari mata juga tertuah dari mulutnya, terdengar dari mulut Hyerim. Wajahnya juga melongo.

Luhan melirik Hyerim yang ada di sebelahnya, lalu beralih lagi ke hotel yang berdiri kokoh di depannya.

“Yap. Hotel ini punya Choi Minho, mantan pacarmu yang anak chaebol itu.” respon Luhan agaknya sarkas sih, enggak lupa juga dengan lirikan agak tajamnya.

Hyerim sok tak terganggu dengan meneguk ludah dan memasang tampang santai. “Ohhh… punya Minho? Eheheh.” dia terkekeh kaku segala diakhir kata.

Dalam hati, Hyerim merutuk kenapa tak menggorek info dulu di mana reuni dilaksanakan. Dikiranya Hotel Afrena yang ada di Namdaemun ini bukan milik mantan pacarnya. Sepertinya hukum alam itu berlaku. Bila bertemu mantan pasti biasanya sok gak kenal. Itu juga yang terjadi pada Hyerim. Apalagi dirinya putus dengan Minho karena—ah sudahlah, Hyerim tak mau ingat lagi.

Hyerim masih berlakon sok tenang dan tak peduli, sementara Luhan mengamati dari samping. Lalu gadis Kim ini meliriknya, “Kenapa masih di sini? Ayo masuk!” ajaknya yang langsung menarik Luhan masuk dengan megandengnya.

Akhirnya pun, keduanya masuk juga ke ballroom Hotel Afrena. Masih pula Hyerim melingkarkan tangan di lengan Luhan. Beberapa kuruman orang yang diyakini alumni SMA Yeonsu angkatan mereka, tampak memadati ballroom. Hingga satu dari kuruman perempuan yang sedang ngobrol, menyadari kehadiran Hyerim serta Luhan.

Perempuan yang menyadari pasang sahabat itu datang, memasang wajah kaget dan menunjuk keduanya. “Hyerim-ah!” kemudian berpaling pada Luhan, “Eoh, Luhan juga di sini!”

Lekas Hyerim melihatkan senyum lebar menyambut sapaan Taeyeon—teman sekelasnya dulu. Beberapa anak yang ngobrol dengan Taeyeon barusan, beralih menatap Hyerim juga Luhan—yang omong-omong Luhan sekedar senyum tipis saja. Di situ ada pula Seohyun yang hanya melipat tangan acuh tak acuh. Enggak perlu flashback segala, ‘kan apa yang terjadi antara Seohyun, Hyerim, berserta Luhan pas SMA dulu?

“Wah, kalian datang bersama. Sudah kencan, nih?” Park Chorong lah yang bertanya dengan alis terangkat satu dan tampang menggoda, dia juga melirik-lirik sekilas lingkaran tangan Hyerim di lengan Luhan.

Keduanya tersentak sebab tanya yang dikatakan Chorong, Hyerim dan Luhan saling tatap dari ujung mata kemudian keduanya menghempaskan kasar gandengan yang terkait dari tadi.

Dengan menatap arah lain, Hyerim jawab pertanyaan sekaligus godaan Chorong, “Enggak kok. Ish, seperti yang kalian tahu. Kita ini, ‘kan sahabat.” tangan Hyerim melambai-lambai ke arah Chorong sambil menatapnya dengan senyum yang anehnya serasa dipaksa-paksakan, jadi terkesan curiga.

Ditengah itu, sosok Oh Sehun berserta kawannya muncul dan lantas mengenali figur Luhan yang lagi memunggunginya sekon ini.

“Oh, Luhan!” panggil Sehun membuat Luhan menoleh ke belakang, tempatnya berada. Nampak Sehun melambai dengan senyum khasnya.

Luhan sudah berbalik badan dan balas menyapa. “Oh, Sehun.” kemudian pemuda satu ini mendekati Sehun berserta kawanannya, melupakan Hyerim segera.

Yang ditinggalkan yakni Hyerim, hanya meliriknya sekilas kemudian menyibukan diri dengan ngobrol-ngobrol bersama Taeyeon dan yang lainnya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Reuni SMA sudah masuk kepertengahan. Terselip rasa sesal dalam diri Hyerim untuk tidak mengikuti Sun Ee yang gak mengikuti reuni. Bosan, sungguh bosan. Apalagi Luhan malah asyik bercengkrama sama Sehun dan kawan lelaki lainnya. Hyerim malah mesti terjebak dengan Taeyeon dan klonannya, duduk melingkar dan membicarakan karir—lebih tepatnya mereka pamer sih, mentang-mentang—ehm—lebih sukses dan mapan daripada Hyerim.

“Eh, Hyerim-ah,” ditengah obrolan, Yoon Bomi memanggil nama Hyerim dan menatapnya. “Kau sudah punya pacar belum?” nampak yang lain ikut-ikutan menatap Hyerim penasaran, dan yang ditatap tampak tersenyum seadanya dengan bola mata gerak-gerak.

“Hmm, ada sih,”

Mau tak mau, Hyerim jadi ingat perihal dirinya diselingkuhi tetapi kala ini berakting biasa saja dengan senyum tipis menatap yang lain.

“Tapi kita sudah putus,” lanjut Hyerim cuek dengan bahu agak terangkat tak acuh.

Teman-temannya menatapnya antusias, “Kenapa putus?” todong Kim Yura sembari condong ke arah Hyerim.

Hyerim menatap Yura dan hendak menjawab, tetapi tahu-tahu Seohyun menyela, “Jangan bilang kau dicampakan,”

Si Seo satu ini mengulas senyum mengejek membuat Hyerim ingin menamparnya. Walau terkaannya benar sih tapi, ‘kan mana mungkin Hyerim bilang begitu. Selaan Seohyun menyebabkan yang lainnya melirik Kim Hyerim penasaran dengan sirat minta konfrimasi benar atau tidak. Sebisa mungkin, Hyerim menyungging senyum.

“Ah, bukan begitu,” ucap gadis bermarga Kim ini dengan wajah seakan bergurau dan agak menoleh ke kiri, tangannya melambai.

“Aku hanya lelah menanggapi bocah masih kuliah. Kurang serius.” sambung Hyerim sembari mengangguk-angguk dan menyelipkan helai rambut di belakang telinga kanannya.

Taeyeon, Yura, Bomi, Chorong—kecuali Seohyun yang cuman memandang datar, menganggukan kepala dengan mulut o.

“Jadi kau mencampakannya?” kembali, Yura menodong.

Setelah susah payah tidak menelan ludah, Hyerim memiringkan kepala. “Ya, begitulah,” dia pun angguk-angguk padahal dalam hati mengumpat; “Kau lah yang dicampakan, Kim Hyerim.”

“Jangan-jangan karena pelindungmu itu, ya?” kayaknya terselipi sindiran ucapan Chorong yang menautkan tangan di atas meja, matanya turut melirik-lirik Luhan yang sedang ngobrol dengan Chanyeol—kawannya semasa SMA.

Awalnya Hyerim tidak paham, tetapi sebab Chorong melirik Luhan dari ujung manik, dia pun paham. “Pelindung?” beo Hyerim dengan wajah kurang suka. “Maksudmu a—”

“—Tak usah sok polos kau, Kim! Ingat tidak saat kau putus dengan Minho?” penggal Seohyun dengan wajah sinisnya.

Tentu Hyerim ingat penyebab dirinya putus dengan Minho. Tapi, dara ini enggak suka bila Luhan terlibat-libat. Meski well, memang Luhan tertarik-tarik juga perihal putusnya dengan pacarnya saat SMA. Dalam hati, Hyerim bersyukur Minho tak didapati retinanya walaupun hotel ini milik keluarganya nan kaya raya.

“Tapi ini bukan karena Luhan kok,” vokal Hyerim dan mengulas senyum risih yang mana malahan membuat yang lainnya menatap curiga.

“Hyerim-ah,” Kim Taeyeon memanggil serta bersipandang dengan Hyerim lekat-lekat. “Kami itu tahu sekali hubunganmu dan Luhan. Dia itu seperti bodyguardmu, kadang membuat risih tahu.” kata Taeyeon seraya menoleh ke Luhan dengan wajah tak suka.

Mimik Hyerim memberengut dan sama-sama tak suka mendengarnya. “Kenapa menyebut Luhan bodyguardku segala, sih? Aku dan dia hanya—”

Klimaks tuturan Hyerim belum sampai sebab seketika, Taeyeon melebarkan netra yang tertancap ke arah belakang Hyerim turut jua tangannya melambai dengan senyuman.

Ya! Minho-ya! Akhirnya kau datang juga.” semua atensi langsung beralih ke Minho yang sedang berjalan ke arah meja bundar keenamnya.

Benar saja, terlihat Choi Minho dengan setelan suit dan tuxedo hitam-putihnya berjalan dengan tangan tersakukan dalam celana kain. Ketampanannya jadi poin plus, ditambahi lagi dirinya pemilik Hotel Afrena—hotel tempat reuni sekarang. Banyak pasang mata perempuan menatapnya berbinar. Tapi hanya satu yang bernama Kim Hyerim, yang malahan menunduk dan menutupi samping muka dengan tangan disertai helaian rambutnya yang turut berjuntai menutupi wajahnya. Diam-diam, Hyerim mengumpat dengan mulut gerak-gerak.

“Hallo, teman-teman,” bariton Minho masih dikenali Hyerim yang makin menunduk sebab suara Minho terdengar persis di belakangnya. Sialan sekali.

Saat Minho mengedar pandang, tak sengaja fokusnya terjatuh pada Hyerim yang ada di depannya, keningnya berkerut dulu tetapi dirinya hafal betul punggung siapa itu. Seketika, senyum miring Minho mengembang seraya dirinya melangkah mendekat ke arah Hyerim.

“Wah, sepertinya aku mengenali seseorang,” kata Minho dengan anggukan pelan. Ludah Hyerim spontan masuk kekerongkongan. Tahu-tahu, Minho menyentuh bahu Hyerim, membuat gadis Kim itu tersentak. Minho pun menatapnya masih dengan senyum miring. “Wah, Kim Hyerim. Lama tak bertemu ya mantan.”

Tubuh Hyerim sudah menegak, wajahnya kaku sekali. Ludahnya saja susah diteguk. Perlahan, Hyerim melirik Minho dan tersenyum tipis bin risih. “Ah, Minho. Lama tak berjumpa, ya. Eheheh.” kekeh Hyerim kaku.

Minho menatap Hyerim penuh arti dengan senyum misteriusnya. Diperilakukan begini, Hyerim merasa ingin bunuh diri aja sekalian. Keduanya sudah jadi pusat perhatian tentunya.

“Ya, lama tak berjumpa mantan yang mencampakanku,” ujar Minho enteng dan memberi tepukan beberapa kali di bahu Hyerim yang sejak tadi dia sentuh.

Ballroom langsung heboh, banyak yang berbisik-bisik. Sungguh, Hyerim ingin mencabik-cabik muka sok polos Minho sekarang. Dan tanpa sengaja, Hyerim mendengar bisikan, “Iya, Kim Hyerim itu tidak tahu malu. Dulu dia sudah ketahuan selingkuh malah menyangkal.”

Rahang Hyerim mengeras, giginya menggertak, pun kepalan tangan tercipta. Selingkuh? Siapa selingkuh? Hyerim selama ini selalu diselingkuhi! Bukannya menyelingkuhi! Tak kuat, Hyerim berdiri dan mengebrak meja. Semua orang tersentak dan menatap gadis tersebut was-was. Perempuan marga Kim tersebut menatap Minho tajam dan menyentak tangan pria Choi yang berada di bahunya dengan kasar.

Ya!” tangan Hyerim berkacak pinggang dengan dagu terangkat, tak lupa sorot mata tajamnya. “Aku? Selingkuh? Kapan? Kau yang selingkuh dengan jalang bernama Minri itu! Kau kira aku tidak tahu hah?!”

Bibir Hyerim bergetar, emosinya sudah dipuncak. Padahal ini masa lalu, tetapi… “Kau pasti sangat menyukaiku sampai masih mengangkat-angkat putusnya kita berdua.” kali ini, Hyerim berkata percaya diri dengan wajah angkuh dan anggukan pelan.

Minho membuang muka dan mendecih dengan tangan terlipat di depan dada. Dia pun menatap Hyerim tak kalah angkuh juga dagu terangkat tinggi-tinggi. “Aku? Menyukai gadis jalang sepertimu? Hei! Kim Hyerim, mengacalah. Kau dan pelindungmu itu membuat risih, tahu. Tidak akan ada yang ingin berkencan denganmu karena pelindung sok jagoanmu itu.”

Tawa renyah Hyerim meledak dengan wajah tak percayanya. “Sok jagoan lebih baik dibanding dengan brengsek sepertimu.”

Kaki Minho berderap membuang spasi dengannya dan Hyerim, yang menonton jadi ikut-ikutan tegang melihat pasang mantan pacar ini adu mulut. Minho sah di depan Hyerim, dia menatap lurus bin lekat mata mantan pacarnya ini, kemudian menyungging senyum remeh.

“Berani-beraninya kau mengataiku brengsek, jalang?” ketajaman tersuarkan dari tutur kata dan sorot maniknya. Kemudian…

‘Plak!’

“Ahh!” pekik semua orang dengan wajah melongo. Tamparan barusan berasal dari tangan Minho yang ringan ke pipi Hyerim hingga kepala gadis itu berbelok.

Pipinya serasa berdenyut makanya Hyerim memeganginya. Air mata seperti ingin merangsek keluar. Tapi dirinya menguatkan diri untuk menatap Minho kembali, yang tengah tersenyum puas dengan wajah mengejek.

“Woah. Apa sesakit itu, tukang selingkuh?” tanya Minho sembari sok prihatin menatap Hyerim dengan tangan berkacak pinggang.

Darahnya makin naik keubun-ubun. Tangan Hyerim mulai melayang tetapi dengan cekatan, Minho menahannya dan tersenyum mengejek. “Tangan kotormu tak pantas untuk menamparku,” lantas Minho menghempas tangan Hyerim dan mulai ringan tangan lagi ke arah pipi perempuan ini.

Hyerim memilih pasrah dengan mata terpejam. Tapi alih-alih suara tamparan keras, Hyerim malahan mendengar bariton Minho yang kesal, “Hei! Apa yang kau lakukan?”

Refleks Hyerim membuka mata dan langsung terkejut melihat tangan laki-laki sedang menahan tangan Minho yang hendak menamparnya. Ketika menoleh, Hyerim mendapati lelaki itu adalah….

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Luhan tadinya sedang asyik mengobrol dengan Sehun, Minseok, dan Chanyeol. Tapi sebuah keributan menariknya dari acara mengobrol dengan sohib-sohib lamanya. Mata Luhan membelalak melihat Hyerim bersama mantannya semasa SMA dulu, Minho.

“Luhan-ah,” Minseok memanggil dengan menyenggol Luhan, dirinya melirik Luhan sekilas dan menatap kembali pertunjukan Hyerim bersama Minho. Manik Luhan juga melekat kepada sepasang mantan itu. “Itu Hyerim dan Minho.”

“Berani-beraninya kau mengataiku brengsek, jalang?” ketajaman tersuarkan dari tutur kata dan sorot manik Minho. Kemudian, ‘Plak!’

Sontak mata Luhan melebar, amarah sudah menyelimutinya ditandai oleh tangannya yang terkepal seraya gigi yang menggertak. Hyerim tampak memegangi pipinya yang pastinya sakit. Dengan kemarahan yang mendominasi, Luhan mulai melangkah mendekati tempat insiden. Dan—

“Hei! Apa yang kau lakukan?”

—seseorang menahan lengan Minho yang hendak menampar Hyerim lagi. Otomatis Luhan menghentikan langkah dan mengerjapkan mata. Semua orang juga melebarkan mata kaget melihat sosok lelaki penengah diantara pertengaran dahsyat itu. Lelaki itu adalah…

“Haneur-ah, apa yang kau lakukan?” masih dengan wajah sebal dan tangan ditahan, Minho berkata begitu pada lelaki yang menahannya.

Di lain sisi, Hyerim menatap Haneul dan Minho bergantian dengan mata mengerjap-ngerjap berusaha mencerna. Lantas dia pun terpaku pada sosok Kang Haneul—penyelamatnya kala ini. Dan lelaki ini pun meliriknya dengan sebuah senyum manis yang membuat Hyerim jadi beku seketika. Tidak, tidak, jangan berdetak jantung bodoh. Rutuk Hyerim dalam hati ketika merasa dirinya hilang kendali.

Haneul menatap Minho lalu melepaskan tangan temannya itu perlahan. Minho sendiri menarik tangannya kasar. “Minho-ya, jangan kasar begini pada perempuan. Hotel ini milik keluargamu, perkerjamu banyak melihatmu di sini.” kata Haneul lembut dengan wajah tenang yang mana membuat Minho berdecih tak habis pikir.

Disituasi begitu, Chanyeol mendekati Luhan dan berbisik. “Luhan, itukan Kang Haneul. Sainganmu di tim sepak bola dan idolanya Hyerim.”

Tanpa Chanyeol bisik-bisik juga, Luhan sudah tahu lelaki itu. Kang Haneul, musuhnya dalam sepak bola. Intinya Luhan tak suka dengannya apalagi Hyerim begitu mengidolakan lelaki Kang itu. Bikin Luhan muak saja.

“Hei, aku tak peduli, Kang Haneul. Aku hanya ingin menghabisi jalang satu itu.” telunjuk Minho terarah pada Hyerim secara terang-terangan.

Dada Hyerim naik turun sebab napasnya tak menentu. Sedang di sisi Luhan, lelaki itu kembali didatangi marah. Tungkai Luhan mulai bergerak dengan wajah penuh amarahnya, tangannya sudah ancang-ancang meninju. Gas ayunan langkahnya meningkat.

Ya! Choi Minho!” seru Luhan tatkala sudah berada beberapa meter dari Minho yang lantas menatapnya.

Dan buah bunyi ‘duk’ menggema diiringi tubuh Minho yang jatuh karena tonjokan Luhan. Ballroom makin heboh saja, tak menyangka juga akan disajikan hal beginian saat reuni. Choi Minho memegangi pipi hasil tonjok Luhan sembari meringis. Sedang Luhan sudah kayak kesurupan dengan wajah merah padam dan dada naik turun oleh napas menderu tak karuan. Hyerim menatapi Luhan dengan menggigit bibir bawah. Bodoh sekali sih membuat keributan segala saat reuni. Hyerim jadi malu setengah mati. Tiga pria jadi berselisih tak jelas karenanya? Aduh, mau ditaruh mana mukanya nanti?

“Bagaimana? Sakit, bukan dipukul?” intonasi Luhan meninggi dengan wajah yang masih sama kesal. Hyerim pula masih menatapnya pucat.

“Jangan berani sentuh Hyerim dengan tangan kotormu!” dan Luhan pun berbalik haluan pada Hyerim serta menyambar tangannya, setelahnya menatap Haneul yang balik menatapnya santai. “Kau juga Kang Haneul! Jangan ikut campur masalah Hyerim. Kau tak berhak! Aku ini pelindung, bodyguard, atau apalah yang kalian sebutkan untukku. Jadi aku punya izin atas gadis ini!”

Bukan cuman hadirin yang melongo mendengar kata-kata Luhan, Hyerim sendiri aja menatap pria ini tak percaya. Apa katanya? Punya izin? Luhan benar-benar kesurupan. Belum sempat Hyerim menyemprot Si Pria marga Lu yang berotak tolol ini, Hyerim udah main ditarik Luhan untuk pergi. Mati-matian Hyerim menahan malu dengan menunduk dan pasrah ditarik Luhan sebelum nanti menyemprot pria tolol ini habis-habisan.

Pelindung katanya? Huh.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

“Bersulang!” pekik Park Chanyeol, Oh Sehun, serta Kim Minseok seraya mendentingkan gelas isi sojunya lalu meminumnya.

Sebenarnya sih, bukan cuman ketiganya yang sedang minum soju. Ada dua orang lagi yang namanya Kim Hyerim juga Luhan yang ikut meminum soju bersama. Tetapi keduanya malah membisu dengan pikiran enggak tahu ke mana. Padahal niat mereka semua menyendiri dari hiruk pikuk reuni adalah menenangkan diri—terkhusus untuk Hyerim dan Luhan, dari insiden beberapa waktu lalu. Tapi sepertinya insiden tadi lah yang membuat sepasang sahabat ini diam-diaman.

Tiba-tiba, Hyerim menyambar tasnya dan bangkit membuat semua orang menatapnya. “Aku pulang duluan. Rasanya aku sudah mengantuk.”

Semua pasang mata tak terkecuali Luhan, jadi menatap gadis bermarga Kim itu. Tapi hanya Luhan yang tak memandangnya heran.

“Kau mau pulang, Hyer?” tanya Chanyeol dan segera Hyerim mengangguk sekenanya dengan senyuman seadanya. “Tapi kau, ‘kan selalu nomor satu masalah minum.”

Minseok dan Sehun mengangguk mengiyakan. Tetapi Hyerim cuman tersenyum tipis. “Kanda. (aku pergi)” dia langsung pamit dan melangkah pergi.

Dimasa Chanyeol, Sehun, dan Minseok saling tatap. Luhan menghela napas melihat kepergian Hyerim, lalu dia pun menuang soju ke gelasnya dan meneguknya sampai habis. Setelahnya, ikut-ikutan lah Luhan berdiri.

Minseok yang hendak menuang soju, sampai menatapnya dengan kepala mendongak. “Mau ke mana, Lu?”

Disambar sweaternya lekas disampirkan di bahu, seakan copy-paste Hyerim, Luhan ikut-ikutan cuman tersenyum tipis.

“Aku juga pulang.”

Dan langsung lah Luhan mengayunkan kaki pergi membuat ketiga temannya menatap punggungnya bingung lalu geleng-geleng.

“Mereka kenapa, sih? Seperti orang berkencan saja.” gumam Minseok tak paham dan menatap Chanyeol serta Sehun gantian. Keduanya pun hanya mengangkat bahu tak tahu.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Pekarangan Hotel Afrena sudah dipijaki Hyerim sekarang. Dirinya melangkah lebar-lebar dengan wajah memberengut. Di belakangnya, dengan jarak yang tak jauh, Luhan juga melangkah dalam bisu. Tiba-tiba saja, Hyerim memberhentikan langkah dan membalik badan. Sontak Luhan berhenti kala saat ini sahabat marga Kimnya tengah menatapnya tajam sekaligus tak suka.

Keumanhae, (berhenti)” Hyerim meminta bukan mentitahkan, terlihat dari wajah yang memelas. Di depannya, Luhan memasang tampang tak paham.

Melihat tampang Luhan, kembali Hyerim memelas. “Kubilang berhenti. Berhenti mecampuri urusanku. Kau harus tahu batasan, Luhan.”

Topik yang Hyerim bawa sudah dipahami Si Lelaki China ini, dia pun membuang napas kasar dan mengembungkan pipi.

“Memangnya kenapa kalau aku ikut campur?” ucap Luhan dengan tangan disakukan di celana jins hitamnya.

Bibir Hyerim bergetar sekarang, matanya seakan ingin menangis. Intinya kelihatannya Hyerim menyedihkan. “Kau membuatku kelihatan menyedihkan. Kau membuatku terlihat benar-benar menyelingkuhi Minho dengan dekat-dekat denganmu. Jadi behentilah menjadi pelindungku.”

Si Marga Kim ini menetralkan diri untuk tak menangis dan kelihatan menyedihkan. Kan, tidak lucu sekali dirinya menangis di perjalanan pulang hanya karena ditampar mantan lalu dibela oleh lelaki yang disangka selingkuhan. Sementara Luhan hanya memasang tampang tanpa ekspresi. Hyerim membalik badan dan baru saja selangkah dengan Luhan yang ikut melangkah juga, Hyerim balik badan lagi dengan mata melotot.

“Dan jangan ikuti aku!” bentak Hyerim seraya membalik badannya kembali dengan langkah lebar-lebar.

Mata Luhan terpejam sebentar, berusaha meminalisir frustasinya. Dialihkan ke Hyerim, gadis itu masih melangkah lebar-lebar dengan wajah memberengut. Tanpa disadari, empat lelaki sedang menatapnya penuh minat kemudian saling lirik.

Lee Taemin, Kim Jonghyun, Kim Kibum, dan Lee Jinki. Empat komplotan Minho lah yang tengah memperhatikan Hyerim, merekapun tersenyum miring disertai tatapan diselipi kode.

“Hei, kalian masih ingat, ‘kan kalau kita dulu dihajar Luhan?”

“Tentu saja, Jonghyun-ah. Walau aku tidak kena hajarannya sih, tapi tetap saja kesal.”

“Nah, Taemin-ah. Kau yang tidak kena serang saja kesal. Apalagi aku, Jinki, dan Kibum? Sudahlah, aku ingin balas dendam untuk menghajar Luhan sekarang dengan cara kotor. Kita gunakan Hyerim, bagaimana?”

Itulah konversasi keempatnya beberapa waktu lalu. Keempatnya mengangguk, lalu Kibum, Taemin, dan Jonghyun—kecuali Jinki yang stand by di dekat mobil lamborgininya, berjalan mendekati Hyerim hingga akhirnya sampai di depan perempuan tersebut. Spontan Hyerim mempause langkah dan menatap tiga cowok yang menatapnya penuh minat, membuat ludah Hyerim terteguk takut-takut.

“A—a—da, a—p—”

Belum sempat kata-kata Hyerim beres, Kibum main mencengkam bahu kanannya kasar. Brengsek sekali bukan? Hyerim pun menatap brengsek satu ini memicing.

Melihat tatapan Hyerim, Taemin memasang mimik takjubnya dengan gelengan. “Wah! Wah! Lihat tatapan jalang satu ini.” ucapnya lalu dengan kurang hajarnya mencolek dagu Hyerim.

Netra Hyerim makin melebar dengan wajah enggak terima, mana hal tersebut malahan membuat Kibum dan kawan-kawan tertawa.

“Manis, ayo kita ke hotel. Novotel sepertinya menyediakan kasur yang empuk.” kali ini Jonghyun yang seenaknya merangkul Hyerim.

Ditatapi rangkulan Jonghyun di bahunya dengan sinis, Hyerim pun menatap samping muka Jonghyun masih dengan sinis.

“Kau ingin apa, hah? Lepas tidak?!” bentak Hyerim disertai wajah galaknya.

Tetapi sekarang, Taemin dan Kibum malah ikut-ikutan menempeli Hyerim dan memegang-megang tubuh gadis itu sembarang. Tentu saja Hyerim berontak. Tapi satu gadis lawan tiga pria, memangnya imbang?

“Hyerim sayang, ayo kita pergi dan habiskan malam bersama.” kata Jonghyun dengan nada manja serta tangan yang melingkar di pinggang Hyerim.

Perempuan berkeluarga Kim ini mendelik, lalu menampik kasar tangan Jonghyun, “Ya! Lepas, tidak?” seruannya hanya ditimpali kekehan juga tindak semena-menea ketiganya.

Disaat-saat itulah, sosok Luhan nampak dan tanpa sengaja melihat Hyerim yang diperdaya. Lekas pula amarah mendatangi Luhan, tangannya mengepal dengan gigi menggertak serta rahang mengatup keras.

Mulailah Luhan melangkah dengan wajah geram dan tangan gatal untuk menonjok. “Ya!” teriak Luhan menyebabkan Hyerim dan tiga lelaki kurang hajar tersebut menoleh ke arahnya.

Bola mata Hyerim sudah membelalak, tentu ia paham sinyal apa yang akan Luhan lakukan. Tahu-tahu, Luhan mempercepat langkah sampai berlari.

“Dasar brengsek!” hardik Luhan kala sudah dekat dengan ketiga lelaki tersebut, langkahnya makin dipercepat lantas tonjokannya melayang.

‘Duk!’

Tubuh Kim Jonghyun tersungkur setelah mendapat tonjokan Luhan. Dirinya meringis sambil memegang ujung bibir yang berdarah. Luhan sendiri nampak mengatur napas yang terengah-engah sebab akan amarahnya. Dan Hyerim yang merupakan korban pelecehan ketiga lelaki brengsek itu, hanya memasang raut terkejut seraya membekap mulut menggunakan kedua tangan.

Tapi anehnya, Taemin dan Kibum yang notabene komplotan Jonghyun, malahan tersenyum miring seakan puas. Lalu, Kibum menoleh ke arah Jinki yang stand by dekat mobil, lantas Kibum mengangguk dengan raut mengirim kode.

Paham kode tersebut, Jinki pun berjalan ke arah bagasi mobil—yang omong-omong, sudah dia buka beberapa waktu lalu, lalu sesuatu diambil oleh Jinki dari sana. Tak buang waktu, barang yang diambil dari bagasi itu langsung ia lempar dan dengan senantiasa ditangkap sempurna oleh Taemin dan Kibum.

Sebuah tongkat bisbol. Yap, benda itulah yang diberikan Jinki. Taemin dan Kibum saling tatap tajam dengan isyarat kode didalamnya. Keduanya mengangguk bersamaan dan menoleh ke Jonghyun yang masih tersungkur, Jonghyun pun mengangguk pelan akan isyarat kedua kawannya.

Tak sadar apa yang dilakukan Taemin dan Kibum yang ada di belakangnya, Luhan masih mengkilatkan kemarahan pada Jonghyun sampai…

‘Buk! Buk! Buk!’

“AKHHH LUHANNN!” Hyerim berteriak histeris dan seketika menintikan air mata secara refleks, ketika Luhan dipukuli tongkat bisbol oleh Taemin dan Kibum.

Luhan yang dipukuli pun kaget akan serangan tersebut yang berasal dari arah belakang. Tubuh Luhan berbalik, tapi malahan tubuh depannya yang jadi kena sasaran pukul. Jinki dan Jonghyun yang menonton tampak tersenyum puas. Sedang Hyerim makin teriak bahkan terisak-isak melihat Luhan yang langsung babak belur.

Dalam hati, Hyerim sempat mengumpati Luhan. Karena sok menjadi pelindungnya, Luhan jadi dihajar dengan cara kotor, ‘kan? Persetan dengan jumlah. Tapi dua tongkat bisbol melawan satu tangan kosong? Tentu, enggak seimbang! Dasar pelindung bodoh. Pelindung bodoh yang membuat Hyerim menangis sampai merangsek di atas aspal sekarang.

║█║♫║█║ — Friendzone : When The Love Blossom ║█║ ║█║

EPILOG

“Kim Hyerim, wajah cantikmu itu lumayan, tahu. Ikut kami ke bar dan hotel, kau akan dapat uang.”

Gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu menatap sinis laki-laki yang mengatakan hal barusan. Laki-laki dengan putung rokok terjepit di kedua jari. Hyerim memangku tangan di depan dada.

“Kau kira aku mau uangmu?” kelit Hyerim sinis.

Klon anak laki-laki bandel yang berjumlah empat orang ini, tertawa mendengar kelitan Hyerim. Lalu salah satu dari mereka yang bernama Jonghyun, menatap Hyerim lekat-lekat.

“Kau, ‘kan hanya anak pemilik laundry dan restoran biasa. Jadi perlu uang, bukan?”

Kata-katanya disetujui tiga temannya yang lain. Mata Hyerim membola tak terima mendengarnya.

“Kau kira aku ini gadis murahan?” vokal Hyerim naik satu oktaf.

Ayolah dirinya baru dihina secara tak langsung sebagai gadis murahan. Padahal faktanya enggak begitu.

Satu lagi yang bernama Kibum tampak menyender ke tembok dengan tangan disakukan serta menatap Hyerim sarkastik. “Kau mau jadi pacar Minho. Berarti kau sudah ditandai menjadi gadis murahan, Hyerim sayang.”

Lantas tatapan tajam diberikan Hyerim kepada Kibum yang sekarang dengan khidmat menyesap putung rokok yang baru diterima dari Jinki—klonnya yang lain. Tak tahan apalagi amarah sudah memuncak, Hyerim melayangkan tendangan ke tulang kering Kibum.

Kibum tersentak dan tubuhnya nyaris ambruk, dirinya memekik, “Akh,” pun tangannya memegangi daerah yang ditendang Hyerim, kemudian menatap gadis tersebut yang tengah tersenyum miring.

“Sialan sekali jalang ini.” bukan Kibum yang berkata begitu, akan tetapi kawannya yang lain nan bernama Taemin dan mimik Taemin sudah terlihat kesal bukan main.

“Akhhhh!” sekarang, Hyerim memekik sebab Taemin menjambak rambutnya kuat-kuat sampai kepalanya mendongak. Temannya yang lain menatapi sambil tertawa. “Ya! Lepaskan aku, brengsek!”

Bukan dilepas, Taemin makin menarik surainya. “Lepas katamu? Tidak ma—“

‘Buk! Buk! Buk!’

Suara pukulan diiringi tubuh yang tumbang masuk ketelinga Hyerim dan Taemin. Segera, Taemin melepas jambakannya dan menatapi teman-temannya yang jatuh tak berdaya di atas aspal. Hyerim yang baru lepas dari Taemin, sedang membereskan rambut acak-acakannya. Dan tatkala merasa rapi, Kim Hyerim melirik oknum yang menumbangkan anggota geng brengsek ini.

Langsung pula mata Hyerim membelalak tak percaya dengan mulut membentuk celah huruf o, “Luhan,” ujarnya pada oknum yang menyelamatkannya secara tak langsung.

Luhan tampak terengah dan menatapi Kibum, Jinki, serta Jonghyun yang baru ia lumpuhkan kemudian menatap Taemin yang masih cengo, dengan sorot tajam. “Jangan ganggu, Hyerim! Kalian pikir kalian siapa, huh? Kalian tidak akan bisa main meganggunya! Aku akan melindunginya. Awas saja!” ancam Luhan sembari menunjuk keempatnya satu-satu.

Gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu udah terperangah mendengar kata-kata Luhan. Apa-apaan sih kata-katanya? Melindungi? Sebab sibuk berpikir enggak jelas, Hyerim jadi tidak sadar sudah digeret Luhan dengan tangannya yang jadi korban cengkraman lelaki itu. Tapi, Hyerim merasa hatinya menghangat mendengar kata-kata Luhan. Aneh.

—To Be Continued—

blog-divider-wreath-elements-06-2013-smaller

KLIK UNTUK LANGSUNG MEMBACA CHAPTER 4

Mengutip lirik Tonight – Boa ft Mad Clown; ‘You idiot, you have to love me.’ yang jadi bekson chapter ini. Iyap, itu buat Luhan. LOLOL. Anggap aja Hyerim secara gak langsung bilang gitu walau mereka sama aja idiotnya -_- sama-sama gak peka, ya kan? Hahahahah. Aku kemarin-kemarin abis liburan ke Madrid, makanya ini pending dulu dan tadinya mau kupending juga sampe minggu depan, mau fokus ke This Love. Tapi, ah sudahlah, luncurin aja. Dan tadinya ini kan projek selingan, paling 7/8 chapter. Eh mpret 😦 di fileku udah sampe chapter 8, tapi belum masuk penyelesaian perasaan dua sahabat idiot yang kejebak prenjon ini, alias konfliknya masih ada :”” padahal ane bisa dengan bangganya nyelesein Agent Lu yang konfliknya lumayan ruyem cuman 4 chapter. Lah ini, yang prenjon-prenjon gemezin ternyata sulit. Iya prenjon emang sulit ya /showeran langsung/

Aku ini akhir-akhir ini mau nulis FF-FFku. Banyak kan yang digantungin. Tapi beberapa kali aku krisis otak, mungkin bisa dibilang imajinasiku mentoque. Mau nulis FWTLB (singkatan FF ini, LOL) aja agak mentokue :”’ mungkin agak writer block, huhuhu. Dan bisa jadi efek males karena selama liburan ini cuman jadi babhi. Iya, tidur sampe siang, malem kelayapan nontonin drama koriya/running man korea sampe pagi menjelang. Lalu paling makan. Mandi 1 kali. Baper, mewek, ketawa liat drama koriya sama running man korea -_- diri ini aja baru selese ngeliat Dabong di The Best Hit (keliatan kali ya ngeliat bekson FF ini ost.nya The Best Hit, hahahah)

Mongngomong ada yang suka baca imagine Luhan gak? Yang English tapinya. Boleh rekomen? Imagine loh ya, jangan FF XD XD XD dan kalo bisa B.Inggris mueheheheh. Ane akhir-akhir ini suka bacain imagine Luhan pake Inggris. Lebih bagus soalnya semacem FF cuman tokoh perempuannya itu bukan OC/Pembaca yang dipakein nama tapi si pembacanya sendiri ahahahah.

Udah, see you next chapter yo! Kecium adanya orang ketiga uhuk :v /lirik Haneul yang mau wamil nanti/mendadak galaw/ :((( beidewei, ini aktor banyak yang wamil. Dunia Kdrama sepih :((((((((((((((((((((((((((((

P.S : KENAPA LUHAN MAKIN BANGZAT? KENAPA IGNYA DIPENUHI PAMER AURAT? KENAPA JADI MAKIN SAYANG DIA? KAPAN BISA LUPAIN LUHAN PADAHAL JEJERAN AKTOR KORIYA JUGA BUAT KOKORO INI JATUH CINTRONG KEBANGETAN SAMPE PEN MEWEQ DI ATAS KASUR SAMBIL GULING-GULING T.T

P.P.S : KENAPA JISOO SETELAH MUNCUL JADI COWOK BRENGZEK DI FF INI JADI KEBAGIAN LEAD MALE CAST DI DRAMA BAD GUYS 2 SETELAH JADI SEKEN LEAD PATAH HATI TERUS? SELAMAT MAS, BERKAH DIRIMU JADI COWOK BRENGZEK KANG SELINGKUH SAMA ATE-ATE, AKHIRNYA DAPET PERAN GAK CINTA SEBELAH BUJUR LAGI LOL.

P.P.P.S : Jangan lupa sebarkan cinta kalian di box comment, sayangque ❤

XOXO,

HyeKim

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s