[Vignette] Still (You) by ShanShoo

b937810a80664eb87ff8b0cf8ded32ce--park-chanyeol-exo-k

ShanShoo’s present

Cast(s) : Reyna, Chanyeol, Baekhyun, other || Genre : School-life, Friendship, Fluff, Family || Length : Vignette || Rating : Teenager

-o-

Bagi Reyna, sekali Park Chanyeol, tetaplah Park Chanyeol!

 

-o-

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

***

Bobby Kim : Pemandangan di sini sungguh indah! Kapan-kapan, aku akan mengajakmu kemari!

Reyna Byun tersenyum ketika ia membaca satu pesan obrolan yang dikirim Bobby kepadanya saat ini. Tetangga semasa kecil, yang kini juga menjadi teman satu sekolahnya itu sedang berada di wilayah Busan untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit. Dan, hari ini adalah hari keduanya Bobby tidak mengikuti kegiatan belajar seperti biasanya karena ia sudah mengirimkan surat izin kepada pihak kesiswaan.

Reyna mulai mengetikkan pesan balasannya, tatkala Baekhyun yang masih mengenakan seragam lengkapnya, membuka pintunya yang tidak terkunci dan langsung berjalan ke arah kursi belajar gadis itu untuk menghempaskan bokongnya di sana.

“Aku lelah,” ujar Baekhyun sambil duduk bersandar dan memejamkan mata.

“Istirahatlah,” sahut Reyna, yang sibuk mengetikkan balasannya untuk Bobby.

“Bagaimana kalau kau membuatkanku segelas besar jus jeruk sebelum aku pergi beristirahat?” Baekhyun melirikkan matanya ke arah Reyna, yang kini mendongak dan menatapnya datar.

“Minta apa, Kak?”

“Minta dibuatkan jus,” ulang Baekhyun santai.

Reyna mendengus kecil. “Bikin saja sendiri!”

Baekhyun balas mendengus. “Kenapa sih, kau tidak menuruti keinginanku? Lagi pula, membuat jus jeruk tidak akan memakan waktu lama, kok,” katanya kesal.

Begitu Reyna selesai mengetik sesuatu di ponselnya dan menyimpannya lagi ke atas tempat tidur, ia lekas menatap kakak kandungnya itu jengah. Baekhyun selalu saja bersikap seperti ini padanya. Apa mungkin… Baekhyun sengaja membuatnya merasa kesal karena untuk membalaskan dendamnya semasa kecil? Sewaktu mereka masih bocah, Baekhyun memang selalu dibuat kesal oleh sikap Reyna yang semena-mena terhadapnya. Sering menyuruhnya ini-itu, dan sering menumpahkan semua kesalahannya pada Baekhyun, hingga akhirnya, sang kakaklah yang menjadi pusat kemarahan ibu mereka. Reyna tentu saja menampilkan ekspresi layaknya seseorang yang tak berdosa. Matanya hanya menatap Baekhyun datar, dan sesekali menunjukkan mimik mengejek di saat Baekhyun masih setia mendengarkan nasihat panjang dari ibunya.

Yah… sepertinya… Baekhyun memang sedang menjalankan rencana balas dendamnya. Reyna meyakini hal itu.

“Aku juga capek,” ujar Reyna jengah. “Jadi, Kak Baekhyun bikin sendiri saja sana!”

“Reyna Byun!”

“Iyaaa, iyaaaa!”

Reyna tak suka ketika Baekhyun memanggil nama lengkapnya dengan nada mengancam seperti itu. Hingga mau tak mau, meski hati dilanda perasaan dongkol, Reyna tetap bergerak turun dari tempat tidurnya dan melangkah dengan kaki dihentak-hentak. Baekhyun yang masih duduk di kursi belajar adiknya mulai menunjukkan seringaian jahil. Ia merasa puas karena sudah menuntaskan balas dendamnya sedikit demi sedikit. Biar saja adiknya itu marah-marah, yang pentin Baekhyun senang.

Tak berselang lama, Baekhyun mendengar ponsel Reyna menderingkan nada LINE. Baekhyun tentu tidak perlu berpikir panjang untuk segera beranjak dari kursi belajar menuju tempat tidur Reyna untuk mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang mengirimnya pesan.

“Chanyeol?” gumam Baekhyun penasaran.

Reyna Byun : Kak Chanyeol, sekarang kak Baekhyun menyuruhku membuatkan jus jeruk untuknya. Uh, aku sebal sekali! Apa kak Chanyeol bisa kemari dan mengajakku untuk berjalan-jalan? Aku benar-benar bosan! Kak Baekhyun menyebalkan! T.T

Chanyeol Park : Kau turuti saja perintahnya. Kau itu adiknya Byun Baekhyun, kan?

Baekhyun mendapati dirinya mengembuskan napas lega membaca balasan dari teman satu kelasnya itu. Ia kira, Chanyeol akan menuruti keinginan Reyna dan mengajaknya pergi berjalan-jalan. Tapi nyatanya, Chanyeol malah mendukung Baekhyun dan membuatnya tersenyum menang. Namun di sisi lain, Baekhyun juga tidak akan membiarkan adiknya yang baru memasuki jenjang SMA itu pergi dengan temannya. Tidak akan pernah!

“Kak Baekhyun! Apa yang sedang kaulakukan dengan ponselku?!” satu teriakan keras dari Reyna, dan berakhir sudah masa penjelajahan Baekhyun pada ponsel Reyna hari ini.

***

Esok harinya, saat di kantin sekolah, Reyna tak henti menusuk-nusuk makanannya dengan garpu, sementara matanya tertuju ke arah pintu kembar kantin yang terbuka lebar. Sudah hampir sepuluh menit lamanya ia tidak melihat sosok Chanyeol. Biasanya, Chanyeol selalu datang ke kantin bersama dengan beberapa karibnya, termasuk Byun Baekhyun. Oh, ya, tentu saja, kalau di sekolah, Reyna sama sekali tidak mengharapkan keberadaan Baekhyun di sana. Kakak laki-lakinya itu hanya akan membuatnya merasa semakin kesal kalau ia sudah mulai memintanya membeli ini-itu menggunakan uang saku Reyna, sedangkan Baekhyun enggan mengeluarkan uang saku yang diberikan oleh ibu mereka.

Oh, Ya Tuhan, terkadang Reyna merenungi kesalahannya semasa kecil karena sudah membuat Baekhyun tertindas oleh perilakunya itu.

Sungguh, demi Krab si Kepiting, bisakah Baekhyun menghentikan aksi balas dendamnya itu? Reyna sudah tidak tahan lagi!

“Mencari siapa?” Park Eunhee, teman satu bangkunya bertanya.

Reyna mengalihkan pandangannya dari pintu kantin kepada Eunhee, lalu menghela napas dan tersenyum malu. “Memangnya, siapa lagi yang sedang kucari?”

Seketika, Eunhee mendengus geli mendengarnya. “Yah, benar, siapa lagi orang yang kau cari kalau bukan Park Chanyeol?”

Reyna menanggapi ucapan Eunhee dengan kekehan pelan. Beberapa detik setelahnya, tanpa diduga, ada seorang siswa bertubuh tinggi berjalan mendekat ke arah Reyna dan berujar, “Reyna, aku sudah menyukaimu selama ini. Maukah kau menjadi pacarku?”

Suasana kantin mendadak sunyi senyap, padahal ruangan berukuran cukup besar itu sudah mulai dipadati banyak siswa. Dan sebagian besar perhatian para siswa di sana tertuju kepada Reyna dengan kilat-kilat tatapan penuh rasa penasaran.

Jeon Jungkook. Itu adalah nama seorang siswa kelas sepuluh yang tiba-tiba saja menyatakan rasa sukanya pada Reyna. Laki-laki itu menggenggam setangkai bunga mawar yang disodorkan pada Reyna. Jungkook tampak berjuang menahan gugup dan gusarnya setelah ia mengungkapkan hal yang menurut Reyna sangatlah romantis. Lihat saja, kedua pipi laki-laki imut setengah seksi itu mulai dirambati semburat serupa warna kelopak mawar merah muda, keringat besar pun membingkai garis rahangnya yang tegas. Membuatnya jadi terlihat berkali-kali lipat lebih imut dibandingkan seksi yang sering para siswi bicarakan.

Reyna tentu mengetahui tentang Jungkook yang sudah lama menyukainya, seperti apa yang dikatakan laki-laki itu barusan. Reyna sudah pernah mendengarnya dari Park Eunhee, bahkan dari Choi Haneul―pacar kakaknya―yang juga bersekolah di sini. Tapi… yah, namanya juga Reyna Byun. Gadis itu tetap akan menyukai seseorang, sehingga setampan apa pun laki-laki yang ada di dekatnya―seperti Jeon Jungkook, Reyna tidak akan pernah meliriknya meski sejenak. Karena sosok yang selama ini Reyna sukai sekaligus ia kagumi adalah Park Chanyeol.

Iya, Park Chanyeol yang itu. Yang rambutnya ikal sejak lahir serta berwarna kecokelatan. Yang tinggi badannya di atas seratus delapan puluh senti. Yang senyumannya selebar kepakan sayap merpati. Yang matanya besar dan hampir menyaingi besarnya mata Do Kyungsoo. Yang… yang… yang saat ini baru saja memasuki kantin bersama dengan Oh Sehun―tanpa Baekhyun karena mungkin saja, laki-laki itu sedang sibuk pacaran dengan Haneul―dan langsung tertangkap oleh pandangannya.

Seketika itu pula, senyuman Eunhee mengembang.

Sementara Chanyeol yang masih berdiri di dekat ambang pintu kantin tampak kebingungan. Kenapa semua atensi para siswa tertuju pada Reyna dan… Jungkook? Apa yang sebenarnya terjadi?

“Aduh, begini ya, Kookie…” Reyna berusaha terlihat tenang, bahkan tak segan memanggil nama Jungkook dengan panggilan ‘Kookie’ yang terdengar imut sekali. “Maaf sekali. Tapi… aku tidak bisa menjadi pacarmu.”

“Kenapa?” sontak saja, ekspresi sedih, kecewa, terkejut dan malu berdesakan ingin tampil paling dominan di wajah Jungkook. “Kenapa… tidak bisa?”

“Karena…” Reyna mencoba melirik pada Chanyeol yang masih berdiri di sana, dan kali ini turut membalas tatapannya. “Karena aku sebenarnya sudah menyukai seseorang.” Kalimat itu ditutup dengan senyum meminta maaf pada Jungkook.

“A… pa?” Jungkook mendesah kecewa. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras sambil memejamkan matanya sejenak. Uh, ditolak itu rasanya benar-benar menyakitkan! Tapi, Jungkook tidak ingin kelihatan seperti orang yang sedang patah hati sekarang. Makanya, ia lekas memunculkan senyuman kecil, kemudian mengangguk paham. “Baiklah, aku mengerti,” katanya, setengah menggumam.

“Kookie,” panggil Reyna yang kini berdiri dan menepuk-nepuk bahu Jungkook. “Kita masih bisa berteman, kok. Kau tenang saja.”

Jungkook hanya menggumam tak jelas, sedangkan Eunhee yang duduk di samping Reyna masih tidak memercayai penglihatannya sendiri. Sungguh, ia sama sekali tidak menyangka kalau Jungkook akan seberani ini menyatakan perasaannya pada Reyna di depan para siswa yang kini sibuk berbisik-bisik. Wow, Jungkook adalah tipe laki-laki sejati idaman setiap perempuan. Sayangnya, Reyna tidak mau membuang waktunya untuk sekadar ingin mengetahui sifat Jungkook lebih dalam.

***

Berhubung saat ini Chanyeol sedang berjalan sendirian―mengingat Sehun sedang berusaha melakukan pendekatannya dengan Eunhee, Reyna memanfaatkan waktu istirahatnya yang tinggal beberapa belas menit lagi untuk menghampiri Chanyeol yang berjalan menyusuri koridor panjang menuju kelasnya.

“Kak Chanyeol!” seru Reyna riang, seperti biasa. Chanyeol yang mendengar seruan itu lantas bersikap setenang mungkin dan berusaha mengabaikan gadis berisik itu. “Kak Chanyeol!” panggil Reyna lagi, kali ini lebih keras hingga mengundang sedikit perhatian para siswa yang ada di sekitar koridor.

“Apa?” akhirnya Chanyeol menyerah dan menoleh menatap Reyna yang berdiri di sampingnya.

Reyna menyengir lebar. “Jangan bilang kalau Kak Chanyeol cemburu melihat Jungkook bilang suka padaku,” godanya kemudian, namun yang ia dapatkan hanyalah dengusan geli dari sosok laki-laki yang selama ini ia sukai.

“Sok tahu,” jawabnya tak acuh, lantas kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini lebih lebar.

“Kak Chanyeol!” Reyna tak lelah untuk terus mengejar langkah lebar laki-laki itu. “Kalau Kakak cemburu bilang saja, tidak usah disembunyikan begitu.” Dan Reyna semakin gencar menggodanya.

Begitu Chanyeol menghentikan langkahnya tiba-tiba, Reyna jadi tidak sengaja menabrak punggung lebar laki-laki itu hingga membuatnya meringis kecil. Detik berikutnya, Chanyeol membalikkan badan dan menatap gadis itu dengan mata memicing.

“Kata siapa?”

“Apa?”

“Kata siapa aku cemburu?”

“Mm… aku?”

Chanyeol mulai menahan tawanya yang akan meledak begitu ia melihat bagaimana ekspresi gugup di wajah Reyna, tatkala Chanyeol sengaja menepis sedikitnya jarak di antara wajah mereka. Dari dekat seperti ini, Chanyeol bisa melihat rona merah samar muncul di kedua pipi tirus gadis itu.

Chanyeol menyentil cepat kening Reyna, sehingga gadis itu kini mengaduh kesakitan. “Bodoh! Bilang cemburu juga tidak, mana bisa kau berbicara seyakin itu? Memangnya kau ini cenayang?” Tak ada sahutan, membuat Chanyeol berbalik dan melangkah lagi sambil berujar, “Terima saja laki-laki itu, apa susahnya?”

Reyna masih dapat mendengar ucapan itu meski ia masih berdiri di tempat, dan ia mengikuti langkah Chanyeol yang kian menjauh. “Bagaimana bisa aku menerimanya kalau aku tidak menyukainya?” desis Reyna seraya mengusap keningnya yang terasa sakit. Sentilan Chanyeol tidak main-main, rupanya.

Chanyeol tentu mendengarnya, tetapi ia masih bersikap tak acuh seakan ia tidak mendengar apa-apa.

“Kak Chanyeol!”

Laki-laki itu sudah memantapkan hati untuk mengabaikan Reyna.

“Kak Chanyeol!”

***

“Apa? Pertunjukan Swan Lake? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?” Reyna berjalan mondar-mandir di kamarnya sembari menempelkan layar ponsel di telinga kiri. Informasi yang ia dapat dari Eunhee tentang pertunjukan kesukaannya itu benar-benar membuatnya terkejut setengah mati.

Di seberang sana, Eunhee menyahut, “Malam ini. Apa kau sudah dapat tiketnya?”

Binar-binar senang yang semula muncul di kedua bola matanya mendadak padam. Reyna mendesah berat sambil menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya yang rapi.

“Aku tidak mendapatkan tiketnya. Ah… pasti tiketnya sudah habis,” kata Eunhee kecewa. “Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”

“Maafkan aku, Reyna. Aku juga baru tahu hal ini dari Sehun. Malam ini, ia hendak mengajakku pergi ke sana karena ia sudah mendapatkan dua tiketnya,” tutur Eunhee penuh penyesalan.

Jeda selama beberapa saat, hingga Eunhee menggumam, “Enak sekali punya seseorang yang juga menyukaimu.”

“Kau bilang apa?”

“Tidak,” sahut Eunhee pendek. “Baiklah. Mungkin aku tidak akan bisa menonton pertunjukan Swan Lake itu, Eunhee.”

“Oh, aku sungguh meminta maaf…”

“Tidak, ini bukan salahmu, kok,” kata Eunhee sambil tertawa hambar. “Semoga kau menikmati waktumu, Eunhee.”

Pembicaraan mereka berakhir. Reyna menatap langit-langit kamarnya yang bersih dan rapi. Jujur saja, ia benar-benar merasa iri pada Eunhee, karena temannya itu rupanya memiliki perasaan yang berbalas. Ya, Sehun juga menyukai Eunhee. Dan mungkin saja, mereka akan sampai ke tahap yang paling dinantikan. Tahap berpacaran. Andai saja Chanyeol juga menyukainya, sudah pasti, Reyna akan merasa senang sampai-sampai ingin terbang ke langit ketujuh. Tapi rasanya… mustahil. Chanyeol tidak pernah memberikan tatapan penuh rasa suka padanya. Chanyeol juga jarang menaruh perhatian setiap kali Reyna sedang berusaha mendekatinya.

Haruskah… Reyna menyerah saja terhadap perasaannya itu?

“Tidak! Tidak! Aku tidak boleh menyerah!” Reyna menepuk kedua pipinya berkali-kali. “Aku tidak boleh menyerah!” ucapnya penuh semangat, tapi akhirnya, gadis itu malah mengembuskan napas pasrah seraya memejamkan matanya rapat-rapat.

Tetapi… bagaimana jika Reyna merasa benar-benar ingin menyerah?

***

Sabtu malam ini Reyna habiskan dengan menonton sebuah drama romantis yang ditayangkan setiap hari. Pada situasi normal, Reyna tentu menikmati setiap adegan yang ada di dalam drama itu. Baik ketika ada adegan yang menegangkan atau romantis yang sanggup melelehkan kedua lututnya saat itu juga. Iya, itu pada situasi yang normal. Berbeda ketika situasinya sedang buruk seperti sekarang. Maksudku… suasana hatinya sungguh buruk.

Reyna jadi tak bisa menikmati drama itu sebagaimana hari-hari sebelumnya. Meneguk segelas susu rasa vanilla-nya pun terasa hambar di lidah. Pertunjukan Swan Lake akan diadakan dalam waktu sekitar tiga jam lagi, dan itu malah semakin menambah kadar uring-uringan Reyna setiap kali ia mendengar kakaknya yang sedang tertawa di dalam kamarnya.

“Kak Baekhyun! Kalau ketawa itu jangan keras-keras dong! Berisik! Dramanya tidak terdengar jelas!” ucap Reyna penuh emosi. Padahal, Baekhyun berbicara dengan Haneul lewat ponselnya hanya sebatas nada bicara normal, tawanya pun kedengaran ringan.

Entah Baekhyun yang memang berbicara dan tertawa keras di dalam kamarnya, atau telinga Reyna yang mendadak kelewat sensitif. Pokoknya, Reyna tidak melewatkan setiap detiknya untuk memarahi Baekhyun. Sampai akhirnya, sang kakak keluar dari kamar menuju ke ruang duduk hanya untuk mendapati Reyna yang menekuk wajahnya kesal di sana.

“Kau kenapa sih?” tanya Baekhyun, tak kalah kesal. “Aku sudah berbicara sepelan mungkin, bahkan sampai menahan tawa, tapi kau masih saja marah. Ada apa?”

Reyna melirik tajam pada Baekhyun. “Pokoknya Kakak jangan banyak bicara! Berisik!” katanya, tepat setelah tayangan iklan selesai dan dilanjutkan dengan tayangan dramanya kembali.

Baekhyun melotot tak percaya. “Kau ini kenapa―”

“Diam! Dramanya mau main!” tegas Reyna, semakin menyulut emosi Baekhyun.

Sepasang adik kakak itu masih saja diliputi amarah. Dan baru sedikit mereda ketika ada seseorang yang menekan bel rumah dua kali, membuat keduanya sontak menolehkan kepala ke arah pintu rumah, lalu kembali bertatapan.

“Kakak yang buka pintunya!” pinta Reyna, tak terbantahkan.

“Kau saja yang membukanya!” Baekhyun kelihatan tak mau kalah.

“Kakak!”

“Kau!”

Bel rumah kembali berdering.

Reyna mengerang kesal, terpaksa mengalah lalu beranjak untuk membuka pintu.

Dan begitu ia membuka pintunya, sosok yang berdiri menjulang di hadapannya mampu menghilangkan segala macam emosi yang terus bergelayut manja di dadanya.

Park Chanyeol.

“Kak Chanyeol!” pekik Reyna kegirangan. Tidak biasanya laki-laki itu datang ke rumah dengan pakaian yang bisa dikategorikan formal. Reyna pun mencium wangi aroma maskulin dari tubuh Chanyeol.

“Kak Chanyeol mau pergi ke mana?”

Chanyeol kini terlihat gelagapan. Berkali-kali ia mengusap belakang tengkuknya, lalu berdeham kecil.

“Malam ini akan ada pertunjukan Swan Lake di―”

“Kak Chanyeol mau mengajakku?!”

“….”

“Kak Chanyeol sudah punya tiketnya?!”

“Reyna―”

“Iya! Aku mau! Aku ingin sekali menyaksikan pertunjukan itu!” tanpa sadar, Reyna memekik kegirangan sambil melompat-lompat di hadapan Chanyeol. Rasanya, Reyna ingin menangis karena bahagia. Pantas saja Chanyeol kelihatan lebih rapi saat bertandang kemari. Oh, Ya Tuhan! Rasanya gadis itu seperti bermimpi. Dan kalau memang Reyna sedang bermimpi, ia tidak ingin terbangun dari mimpinya itu.

Chanyeol berusaha menahan tawanya. “Sok tahu,” katanya mengejek. “Kata siapa aku ingin mengajakmu pergi menonton pertunjukan itu? Memangnya kau ini cenayang?”

Reyna mendapat pertanyaan itu lagi. Sebelumnya, Reyna tak bisa menjawab. Tapi kali ini, ia pasti bisa. Dan ia yakin, jawabannya tidaklah salah.

“Iya, aku memang cenayang! Dan aku benar-benar yakin, Kak Chanyeol mau mengajakku menonton pertunjukan itu, bukan mengajak kak Baekhyun yang jelas-jelas tidak menyukainya sedikit pun!”

Chanyeol tidak dapat berkata-kata. Lidahnya mendadak kelu. Biasanya, ia selalu berhasil membuat Reyna bungkam. Namun kali ini ia tidak bisa. Ekspresi ceria Reyna terlalu berharga untuk ia lewatkan. Dan tentu saja, melihat senyuman lebar yang terpeta di bibir gadis itu membuatnya mau tak mau terkekeh pelan seraya berkata, “Sok tahu,” dan terus tertawa sampai menimbulkan semburat merah muda di kedua pipinya.

***

“Reyna! Kau mau pergi ke mana?”

“Aku mau pergi kencan dengan kak Chanyeol!”

“Apa? Hei, kita bukan pergi berkencan―”

“Berkencan? Hei, Reyna Byun! Kau tidak boleh pergi keluar―”

“Berisik! Kakak urus saja urusan kakak sendiri! Lagi pula, aku juga tidak akan protes kalau Kakak pergi kencan dengan Kak Haneul malam ini!”

“Reyna, kita tidak pergi berkencan, tapi pergi menonton pertunjukan―”

“Aku anggap pergi menonton denganmu adalah sebuah kencan bagiku yang paling berharga. Jadi, jangan banyak protes, oke?”

“Oh… ya… baiklah. Terserah saja.”

-Fin.

Fanfiksi gaje…. x(

Iklan

5 pemikiran pada “[Vignette] Still (You) by ShanShoo

  1. Aduh yeol, jaim banget sih jadi orang. Reyna tuh tulus cintanya buat kamu. Sampai2 baekhyun juga kena marah reyna pas dia patah hati karena gak ada yg ngajak nonton. Terima aja laaah. Ya kak! Buat mereka jadian!! 😀 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s