Job’s Goal : Finding Love [Chapter 11] -anneandreas

kak-anne-job-goals-by-irish

JOB’S GOAL : FINDING LOVE

.

a chaptered fiction with Romance feel in Family and Works life rated by T

staring by

EXO’s Byun Baekhyun, Kim Minseok, Kim Jongdae and Do Kyungsoo
INFINITE’s Lee Howon and Nam Woohyun
OC’s Do Kyungrin and Do Ahrin

.

Poster @ IRISH
I own the plot
all cast except OC belong to their real life

.

⇓⇓ PREVIOUS CHAPTER ⇓⇓

Teaser – Chapter 1 [Kembali]  – Chapter 2 [Perkenalan] – Chapter 3 [Laporan Keuangan] – Chapter 4 [Pabrik Kebarakan (1)] – Chapter 5 [Pabrik Kebakaran (2)] – Chapter 6 [Audit Internal] – Chapter 7 [Undangan Sosialisasi (1)] – Chapter 8 [Undangan Sosialisasi (2)]  Chapter 9 [Long Weekend] Chapter 10 [Pengambilan Keputusan]

-11-

TUTUP BUKU (1)

©anneandreas2k17

Minggu sore yang sibuk di apartemen keluarga Do. Bahkan Tuan dan Nyonya Do mereka datang dari Beijing sejak kemarin. Kyungsoo mengecek setiap sudut apartemen memastikan tidak ada setitik pun debu yang terlihat di perabotan dan Nyonya Do sibuk menata meja makan. Di sudut lain apartemen, Tuan Do sedang sibuk berbicara di telepon, entah dengan siapa, tapi sepertinya itu urusan pekerjaan.

Di antara semua kesibukan yang terjadi di ruang depan apartemen itu, Reen dan Arin berkutat sibuk di depan cermin meja rias. Arin berkali-kali menata letak rambutnya yang padahal sudah ditangani oleh stylist dari salon ternama di Seoul, sedang Reen yang juga ikut berdandan ikut sibuk memainkan rambut saudara kembarnya itu.

“Kau serius? Sejak kau cerita padaku hari itu, aku kadang masih berpikir ini tidak nyata.” Reen mengucap, sebelah jemarinya masih sibuk melinting-linting rambut Arin.

“Sudah berkali-kali kau tanya hal itu. Aku serius, aku akan menikah dengan Jongdae.” jawab Arin.

“Tidakkah kau pikir kau terlalu muda untuk menikah? Kita baru 26 tahun.” Reen mengejek.

“Kuberdoa supaya kau jangan sampai jadi terlalu tua untuk menikah.” sahut Arin sambil tertawa.

“Seharusnya kau doakan aku supaya aku bisa bertemu laki-laki baik, seperti Jongdae itu, yang walaupun sudah diselingkuhi tapi tetap memaafkanmu dan malah melamarmu.” Reen membalas.

“Kau! Jangan sampai sisir yang sedang kupegang ini melayang ke dahimu. Ini hari bahagiaku, jangan ungkit-ungkit lagi soal aku selingkuh. Aku tidak selingkuh!” Arin membalik badannya dan melengos tepat di hadapan Reen.

“Ya.. ya.. ya.. Terserah kau saja. Aku penasaran apa yang harus kuceritakan pada Baekhyun, haruskah kubilang padanya jangan mengharapkanmu lagi karena hari ini kita mengadakan pertemuan keluarga dan pesta pernikahan kalian akan berlangsung dalam dua bulan lagi? Oh my God!” Reen meledek sambil berlari keluar dari kamar, sedikit banyak ia takut Arin akan benar-benar melemparnya dengan sisir yang lumayan keras itu. ia tidak mau dahinya terluka di hari pertemuan keluarga.

Beberapa jam kemudian, acara spesial yang sudah dipersiapkan sepanjang hari akhirnya terlaksana. Jongdae beserta kedua orang tuanya datang ke apartemen mereka. Percakapan hangat tentang persiapan pernikahan yang diselingi canda tawa berjalan lancar, pun makan malam dua keluarga berlangsung menyenangkan. Reen ikut bahagia melihat saudara kembarnya yang sebentar lagi akan memulai hari barunya sebagai seorang istri.

Sepulangnya Jongdae dan kedua orang tuanya, apartemen Do kembali sibuk. Kyungsoo mencuci piring kotor sementara Nyonya Do merapihkan meja makan bersama Reen dan Arin.

“Benar, sudah siap?” Terang-terangan Nyonya Do meledek.

“Ah, eomma. Kalau aku bilang tidak siap memangnya pernikahan ini akan dibatalkan?” Arin merajuk membuat Nyonya Do dan Reen tertawa.

“Ya tentu saja tidak. Padahal dulu eomma sempat berpikir mungkin kedua anak gadis eomma akan menikah dengan anak sahabat-sahabat ayahmu itu.”

“Maksudnya anaknya Nam ahjussi dan Byun ahjussi?” Reen menimpali.

“Iya, mereka kan masing-masing hanya punya anak laki-laki tunggal. Tapi ternyata Arin memilih menikah dengan peneliti obat yang ikut program volunteer dengannya.” Nyonya Do tertawa.

“Maksud eomma, eomma sempat membayangkan kalau kami akan menikah dengan Woohyun oppa atau si Baekhyun anak CEO sia-“ Reen menutup mulutnya karena nyaris keceplosan.

“Si Baekhyun anak CEO sia apa?” Nyonya Do menoleh pada Reen.

Aniya. Tidak apa-apa. Mana sini sampahnya biar kubuang.” Reen mengalihkan perhatian dan keluar dari obrolan.

“Reen, duduk di sini sebentar. Appa mau bicara.” Tuan Do mengucap ketika dilihatnya Reen masuk kembali ke apartemen sesudah membuang sampah.

 “Ada apa, appa?” Reen bertanya.

“Apa kau belajar banyak di perusahaan Byun?” Tuan Do menatap Reen.

Reen mengangguk, “Ya kebetulan sekali begitu aku masuk ke sana ada audit internal, lalu pabrik milik Byun ahjussi di Busan terbakar sehingga aku harus mengurus polis asuransinya, lalu ada sosialisasi e-faktur. Aku belajar banyak, lebih banyak dari yang kubayangkan.”

“Bagus. Kalau begitu apa kau sudah siap memegang perusahaan appa di Beijing?” Tuan Do kembali bertanya, kali ini nada suaranya terdengar lebih serius.

“Apa?” Reen terang-terangan mengerjap.

“Izin perusahaan appa di Quangzhou sudah keluar sehingga mungkin untuk setahun ke depan appa akan lebih sibuk di Quangzhou ketimbang di Beijing. Dan tentu saja appa membutuhkan seseorang yang bisa appa percaya untuk memegang perusahaan Beijing. Kalau kau sudah belajar banyak di perusahaan Byun, appa bisa memercayaimu memegang perusahaan appa di Beijing.” terang Tuan Do.

Appa, tapi… di Byun Electrics aku hanya seorang staff accounting, aku tidak tahu menahu soal pergerakan perusahaan, aku juga tidak memegang keuangan. Aku.. Apa appa yakin?”

Tuan Do mengangguk, “Tujuan appa menyuruhmu bekerja di Byun Electrics bukan sekedar supaya kau mendapatkan ilmu tentang pekerjaan, Reen. Tapi agar kau tahu bagaimana bagaimana lelahnya dan perasaan para staff. Setidaknya kau bisa membayangkan posisi appa sewaktu dulu membangun perusahaan kita dari nol. Dan jika kau sudah belajar banyak, appa percaya kau bisa memegang perusahaan di Beijing, appa yakin kau bisa menghargai semua staff-staff appa yang bekerja di sana. Apa appa bisa percaya padamu?”

Reen menatap ayahnya dalam-dalam, ia merasa begitu bangga pada ayahnya. “Appa bisa percaya padaku.” jawab Reen, Tuan Do menepuk pundak Reen ringan.

.

.

.

Reen tidak bisa tidur, meski tadi ia menyanggupi permintaan ayahnya dengan yakin toh tetap saja hatinya sedikit gentar. Ia merasa masih terlalu muda untuk memegang kendali satu perusahaan.

“Kau kenapa?” Arin yang sudah bergelung dalam selimut di sampingnya bertanya.

Aniya.” jawab Reen singkat, ia duduk dan bersandar pada bantal.

“Memikirkan Beijing ya?” Arin ikut bangun dari tidurnya, kini ia duduk bersila sambil memeluk bantal.

Reen mengangguk.

“Kau pasti bisa. Appa tidak mungkin memilihmu jika ia merasa kau tak sanggup.” Arin meyakinkan.

Araso.

“Atau kau merasa gundah karena akan meninggalkan Seoul?”

“Kupikir itu salah satu masalahnya juga.” Reen menimpali.

Arin mengangguk, “Benar juga. Apalagi timingnya pas sekali ‘kan? Howon sunbae baru menyatakan perasaan padamu lagi yang langsung kau tolak itu. Si Minseok itu juga menyatakan perasaan, di hari yang sama pula –euh sungguh gila, dan kau tolak juga. lalu kau akan pergi begitu saja ke Beijing. Timingnya benar-benar seperti drama.”

“Tidak, aku belum menolak Minseok oppa. Tapi ya, benar. Hidupku seperti drama.” Reen menghela napas.

Arin membelalakkan matanya, “Loh? Jadi jawabanmu padanya kemarin itu bukan penolakan? Kenapa kau menggantungkan perasaan anak orang seperti itu? Sungguh gadis jahat.”

“Memangnya kau tidak begitu? Mengapa kau mau jalan bersama Baekhyun jika hatimu memang hanya milik Jongdae? Tidak usah berbohong bahwa kau tidak tahu kalau ia masih mengharapkanmu. Heol, memainkan perasaan anak orang saja. Sungguh gadis jahat.”

“Walaupun sedang galau kau tetap menyebalkan ya.” Arin melempar bantal yang sedari tadi dipeluknya tepat ke wajah Reen, membuat gadis itu terbahak.

“Tapi benar, kan?” Reen masih tertawa.

“Sudah tidur saja, malas bicara denganmu.” Arin berpura merajuk lalu kembali menarik selimutnya, tidak lama kemudian Reen menyusul.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

“Selamat pagi, putri penerus Do Company!” sapa Woohyun sesaat setelah Reen masuk ke dalam mobilnya.

“Selamat pagi, manager marketing.” jawab Reen sambil tersenyum.

“Aku sudah dengar dari ayahku, katanya semalam kau menyetujui permintaan ayahmu memegang perusahaan di Beijing? Wow! Artinya aku akan menjadi salah satu staffmu? Jadi haruskah aku menggunakan bahasa hormat padamu?” Woohyun meledek, dibalas tamparan ringan tepat di pipi dari Reen.

“Jadi kapan kau pergi ke Beijing?” tanya Woohyun lagi.

“Dua bulan lagi, setelah Arin dan Jongdae resepsi.” jawab Reen.

“Kau terdengar sedikit tidak bersemangat, apa kau mau aku temani ke Beijing?” Woohyun menawarkan.

“Serius? Aku tidak hanya mau ditemani ke Beijing, tapi kau juga harus datang ke Beijing setiap kali aku bosan, bagaimana?” Reen memicingkan matanya nakal.

“Kalau begitu lebih baik kau menikah denganku saja sekalian.” Woohyun mendengus, tapi diam-diam ia berharap Reen mengungkapkan jawaban.

“Ah, aku tidak mau menikah denganmu. Dunia jadi sempit sekali rasanya. Kau, jadi oppaku saja, oke? Oppa yang selalu ada. Oppa yang selalu berdiri paling depan jika ada laki-laki yang menyakitiku. Oke?” Reen meninju-ninju pelan lengan Woohyun.

“Ah, tidak mau. Tugas itu terlalu berat. Kalau aku seperti itu, bagaimana aku bisa punya istri nanti.” Woohyun pura-pura merajuk.

“Ah, benar juga. Bisa jadi juga tidak ada laki-laki yang mau mendekatiku nanti. Sudah tidak jadi.” Reen tertawa.

.

.

.

Reen masih tertawa sesaat setelah turun dari mobil Woohyun, laki-laki itu memang selalu mampu menjadi mood booster bagi Reen. Setelah melakukan scanning jari untuk absen, Reen menyempatkan diri dulu untuk memandang lobby kantornya sebab ia mungkin tidak akan datang ke sini lagi.

Pun hal yang sama dilakukannya saat pintu lift berdenting di lantai dua, ia menyempatkan diri memandang ruang lantai dua yang luas itu sebelum berbelok ke ruangannya. Setibanya ia di ruangan, Baekhyun langsung memokuskan atensi padanya, “Kata ayahku, kau mau ke Beijing?”

Eoh.” jawab Reen singkat.

“Kapan?” tanya Baekhyun lagi.

“Reen noona mau ke Beijing? Berlibur?” Jongin yang sedang bersiap membawa berkas menuju gudang ikut menimpali.

“Bukan, aku resign dari sini, Jong.” jawab Reen, mendahulukan pertanyaan Jongin.

Resign? Whoa, kenapa? Kau harus cerita padaku nanti setelah aku kembali dari gudang.” Jongin mengucap lagi sebelum meninggalkan ruangan.

“Kapan?” Baekhyun kembali mengulang pertanyaannya.

“Setelah Arin menikah. Eh-“ Reen mengerjap kaget atas jawabannya sendiri.

“Arin menikah?” Baekhyun mengangkat sebelah alisnya bingung, ia mengesampingkan dulu berita dari ayahnya tentang Reen yang hendak kembali ke Beijing, tapi Arin akan menikah?

Eum, ya. Duh, aku keceplosan. Seharusnya Arin langsung yang menyampaikan padamu. Kau tanya dia langsung saja ya.” Reen berusaha mengalihkan perhatian Baekhyun.

“Dengan Jongdae?” Baekhyun memastikan.

Reen mengangguk, “Jangan bahas lagi soal ini. Lagipula memangnya ayahmu cerita padamu tentang aku yang akan kembali ke Beijing, tapi tidak cerita padamu tentang anak perempuan Tuan Do yang akan menikah?”

“Tadi kau bilang jangan bahas, tapi akhirnya kau sendiri yang membahasnya.” Baekhyun melengos.

“Ah, ya. Begitulah.” Reen mengangkat bahunya.

“Jadi kau akan di sini sampai kapan?” Baekhyun bertanya lagi setelah Reen meletakkan tasnya dan duduk di kursinya.

Eum, sebenarnya kuharap ini hari terakhirku. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku di Seoul dengan beristirahat sambil membantu Arin mempersiapkan pernikahan, eh- ” Reen menjawab.

Baekhyun mendelik. “Tadi kau bilang jangan dibahas! Ah, baiklah. Araso, tak apa kalau ini hari terakhirmu di sini. Eum, dan.. entah mimpi apa aku semalam sehingga membuatku mengucapkan hal ini padamu, well.. senang bekerja sama denganmu, Kyungrin.”

“Kau tidak perlu berakting seperti itu. Aku tahu kau senang aku akan pergi, kan?” Reen menggumpalkan selembar tissue lalu melemparnya tepat ke wajah Baekhyun, membuat laki-laki itu tertawa.

Heol. Mentang-mentang kau akan resign dari sini dan menjadi direktur Do Company di Beijing, kau berani melempari wajah manager Byun Electrics dengan tissue?”

Reen ikut tertawa, entah sejak kapan mereka berdua berubah akrab seperti ini. Kadang-kadang Reen berharap andai mereka sudah akrab seperti ini dari awal, mungkin julukan si Baekhyun anak CEO sialan tidak akan pernah tercipta.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

“Kudengar kau akan resign dan pergi ke Beijing, Reen?” tanya Myungsoo begitu ia melihat Reen memasuki pantry.

Reen mengangguk, “Sepertinya mulut Jongin perlu kuperban. Cepat sekali ia dalam hal menyebarkan berita.”

“Bukan karena pekerjaan di sini terlalu melelahkan ‘kan?” tanya Myungsoo serius.

Aniya.” Reen tertawa, “Ayahku membutuhkanku untuk memegang perusahaannya yang di Beijing.”

“Wow! Artinya kau akan jadi CEO? Komisaris? Direktur? Ah, apa sih sebutannya itu.” Myungsoo semangat.

“Ya, anggap saja direktur. CEOnya tetap ayahku.” Reen menimpali sambil melangkah menuju lemari persediaan, mengambil cappuccino sachet favoritnya.

Daebak. Aku tidak menyangka akan pernah punya teman seorang direktur.” Myungsoo tertawa.

“Tidak seindah yang kau bayangkan kok. Omong-omong maafkan aku jika selama aku bekerja di sini aku bersikap menyebalkan padamu.” Reen mengucap.

Myungsoo tersenyum sambil mengangguk, “Aniya, kau tidak pernah menyebalkanku. Kau hanya sering menghabiskan pasokan cappucino di sini.” jawabnya sambil tertawa.

Araso, araso. Jangan lupakan aku. Aku akan menghubungimu juga seandainya aku berlibur ke Seoul lain kali.” Reen melambaikan tangannya sebelum keluar dari pantry.

Araso. Hati-hati di jalan, teman!”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Reen sedang membereskan tasnya ketika hari sudah lewat dari pukul lima sore dan ia bersiap pulang. Ruangannya sudah kosong namun ia merasa enggan untuk mengangkat tubuhnya dari kursi, entah mengapa ia sudah merindukan kursi kerjanya ini meskipun ia belum pergi ke Beijing. Reen memutuskan untuk mengundur waktu pulang sebentar lalu kembali merebahkan kepalanya di atas meja kerjanya.

Ia baru memejamkan matanya sebentar ketika handphonenya berbunyi, panggilan masuk dari Howon yang sedang berada di Gimpo. Percakapan yang terjadi di telepon tidak terlalu lama, Howon hanya memastikan bahwa Reen pergi ke Beijing bukan untuk menghindarinya, ia juga berharap Reen bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia di sana.

Tidak lama setelah panggilan dari Howon terputus, Reen memutuskan untuk pulang. Setelah sempat berdiam diri sebentar di depan ruangan Minseok yang sudah kosong, akhirnya Reen benar-benar pulang.

“Kau tidak bersama Woohyun hyung?” tanya Reen begitu ia masuk ke dalam apartemennya.

Reen menggeleng, “Ia lembur. Aku mandi dulu. Arin mana?” jawabnya lantas langsung masuk ke dalam kamarnya.

“Arin noona kan shift malam.”

Seusai mandi, Reen merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Matanya menatap acara televisi namun pikirannya melayang entah kemana. Sesekali ia menatap handphone yang tidak menunjukkan aktivitas berarti, sesekali lainnya ia menghela napas begitu saja.

Tidak lama kemudian bel pintu apartemen mereka berdenting, dengan langkah malas-malasan Reen berjalan ke depan dan membuka pintu apartemen mereka.

“Reen..” sapa seseorang yang berdiri di depan pintu apartemen.

“Minseok oppa?” Reen tidak bisa menutupi rasa kagetnya.

“Bisa pergi bersamaku sebentar, sekarang?” tanyanya gugup.

Reen mengangguk.

.

.

.

Di sinilah Reen sekarang, di dalam mobil Minseok yang melaju santai menjauhi apartemen. Laki-laki itu tidak bicara, membuat Reen bertanya-tanya. Karena merasa kaku, akhirnya Reen memilih menghabiskan waktunya dengan memandang keluar jendela, hingga akhirnya ia menyadari Minseok memarkirkan mobilnya di taman pinggir sungai Han.

“Apa kau ingin makan malam?” tanya Minseok. Mereka berdua kini tengah bersandar di depan mobil Minseok sambil menatap pemandangan sungai Han di malam hari.

Aniya.” Reen menjawab.

Minseok mengangguk, namun matanya tak lekat melepaskan pandangan dari Reen.

“Mengapa oppa memandangku begitu?” Reen akhirnya angkat bicara.

“Aku mau mengingat setiap detail wajahmu. Aku takut jika nanti kau sudah terlalu lama di Beijing, aku bisa melupakan wajah itu.” Minseok berbicara dengan nada yang tampak serius.

Reen tersenyum, namun ia kehilangan kata-kata untuk merespon.

“Ah, belum-belum aku sudah merindukanmu.” Minseok berbicara sendiri, membuat Reen yang menyadari jantungnya sudah berdebar sejak tadi merasakan pipinya memanas.

Sekon-sekon kemudian dilanjutnya masih dalam keheningan, Minseok masih memandang Reen lekat-lekat seolah gadis itu akan menghilang jika ia memalingkan matanya sedetik saja. Hingga akhirnya ia berdiri dari sandaran, mengambil langkah lebar setelah sebelumnya mengguman ‘Aku sudah tidak kuat menahannya.” lalu menarik Reen masuk ke dalam pelukan.

Reen kaget dan mengerjap, namun ia tidak menarik diri, tidak menolak pelukan Minseok. Ia tahu ia belum menjalin hubungan apapun dengan laki-laki yang sedang memeluknya ini tapi entah mengapa ia juga enggan untuk melepaskan diri.

“Aku akan menunggumu, Reen.”

.

.

.

to be continued.

AnNotes:

Chapter 11 yeay!!

Publishnya cepat kan cepat kan cepat kan.
/ditabok readers

Sesungguhnya ini tiga perempatnya sudah dikerjakan hari Jumat kemarin pas aku izin gak ngantor karena sakit itu sih makanya cepat. Hihihihi~

Udah baca-bacain komen dari chapter-chapter yang belum kubalesin, tapi belum sempet bales karena ini hari Minggu pun dipake buat ngelembur kerjaan kantor, hiks. *lapingus.
Tapi sungguh, sungguh dan sungguh /alay /plak, bacain komenan dari kalian itu rasanya kaya dapet dopping.
Ketika bener-bener jenuh sama pekerjaan kantor yang really nyebelin, mencoba mengisi hari dengan melakukan hobi lalu dapet semangat dari orang-orang tulus, rasanya bahagia, rasanya kaya jadi makin pengen resign terus menulis aja sepanjang hari setiap hari.
/plak /lalu gaji gimana /dor.

Dan spoiler tidak ya spoiler tidak ya.
Sub Judul “Tutup Buku” ini adalah Sub Judul terakhir, and yap! Tepat! Artinya FanFic ini bentar lagi (banget banget) tamat. Karena memang di dalam dunia accounting, Tutup Buku itu menandakan berakhirnya kegiatan akuntansi dalam suatu periode. Makanya aku namain Sub Judul terakhirnya “Tutup Buku” biar berbau-bau akuntansi gitu.
/iyain aja /iya.

Doakan supaya chapter berikutnya bisa publish Sabtu depan, semoga semoga! Semoga kantor gak menyita waktu dan menyiksa batin! Semoga! Huh!

Dan terakhirnya, sekali lagi terima kasih buat semua readers yang sudah baca dan komen, selain satu komen kalian selalu berharga untukku, komen kalian juga jadi dooping plus moodbooster!! Thanks!!
See you next chapter!!
p.s: AnNotesnya nyaris sepanjang FF, bhay.
*bow*

Iklan

15 pemikiran pada “Job’s Goal : Finding Love [Chapter 11] -anneandreas

  1. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [EPILOG + AfterWord] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [Chapter 12END] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  3. woah cepet amat postnya kak😂😂 padahal baru td ngecomment wkwkwk

    dari endingnya td aku mencium bau” reen bakal sama xiumin 😢😢 /soktau
    aku benar” bingung deh kak sama cast utamanya kemaren posternya paling gede si baekhyun terus cast pertamanya namanya baekhyun tapi moment” si reen dan baekhyunnya dikit amat dah galau aku kak cuman gegara si baekhyun wkwkwk😂😂

    buat kak author semangat terus nulisnya ya kak jangan sakit terus kak wkwkwk pokoknya semangat kak memang hidup itu capek kak kalo gk capek bukan hidup namanya wkwkwk.

    pokoknya aku masih nunggu kalo reen jadinya ama baekhyun

    • Iyah soalnya kemarin itu emang nulisnya sekalian jadi daripada nunggu lama, sebagai permintaan maaf karena aku kalo libur lama bangeeett, jadi kupost cepat hihihihi..

      Baunya kecium banget yah?
      Iyaaah itu penjelasannya aku tulis di afterword yaa,, im so sorryyy.. :”)
      Terimakasih semangatnyaaa, aku kalo capek bawaannya suka sakit-sakitan emang, imunnya lemah. kena ujan suka pasti sakit, gak cocok sama suho akunya /eh /plak.
      Makasih sudah komen yaaa.. >.<

  4. Whoa.. Cpt’ny 😄 dah da update’an, yg dr jdl’ny sngt jlas bkl jd 마지막 eps ff ni 😞 sdih & sneng @ d’same time. Visualisasi Mr. d.o kan 김수현 😀 bearti Mrs. d.o nya 준지현 ya 😄
    첸 gas poll nih lngsng propose 😮 /takut ditikung 백 dy! 😂
    & arin stuju 😢 ksian bgt sih 백. /moga da keajaiban u/ 백 bs bersatu sm arin. /keukeuh 😁 by all means!
    Itu scene prosesi lmrn 첸-arin, yg mkn mlm 2klrg tu, based on lmrn anne & hubby kah?
    Emang sk gt org2 di kntr, pdhl ga ksh announcement/broadcast ke mrk tp tetiba pd tau/kepo tny2 ‘mo resign ya?’ klo qt mo resign, /sngt cpt mnyebar ky spora di t4 glap & lembab. /pas ga ya tu prumpamaan 😅
    wlw da yg ngship reen-백 tp I believe mo di ff mn pun reen hny akan brsm umin 😁
    Reen dah kbiasaan nybut 백 ‘anak ceo sialan’ 😂 jd habit.

    • Iyaaah papa super ganteng Do Min Joon!! wkwkwkwk..
      Ya agak dituatuain dikit aja biar cucok jadi bapak bapak..
      Bisa dibilang begitu kak, tapi bedanya aku makan siang bukan makan malem wkwkwkkw..
      Iyah betul, cepet bener nyebarnya mau resign tah, dimarain bos juga sama nyebarnya cepet. wkwkwkwk..

      wlw da yg ngship reen-백 tp I believe mo di ff mn pun reen hny akan brsm umin
      NHA INIIIII UP UP UP wkwkwkwkwk

    • Duh kepencet pula blm selesai pidato..

      Duh deg2an kak. Ntar si arin bakal nikah beneran gk ya sm jongdae. Atau malah digantiin baekhyun?
      Ini penasaran tingkat akut.. Wkwk #lebay

      Udah pidatonya..
      Fighting eonn..!!

  5. Ini teh sebenernya si reen sama siapa sih thor, bingung aku tuh, aku si setuju aja arin nikah ama jong dae, lah si baek gmanaa?
    Semangat next chaptnya…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s