[Oneshot] A Half Heart

A fiction by bebhmuach (@bebh_muach)

 

 [EXO] Kim Junmyeon  &  [OC] Anna Tan

 Oneshot (long story)  ||  AU, Angst, Romance  ||  PG-17

 

WARNING!!! UNTUK 17 TAHUN KEATAS

I OWN THE PLOT!

Happy reading!^^

 

.

Junmyeon itu pelangi, indah. Tetapi Junmyeon juga adalah badai.

.

 

©2017 bebhmuach

 

 

Inilah satu kata yang agaknya cocok untuk menggambarkan pemikirannya akhir-akhir ini; runyam.

 

Iya, Anna Tan—gadis keturunan Cina itu— sedang berada dalam kondisi yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Kondisi rumit yang mengakibatkan otaknya buntu seketika, pun berpikir jernih rasanya tidak mungkin. Lantaran tiba-tiba ada sesuatu yang aneh muncul dalam dirinya; sesuatu yang berbeda tak lagi terasa seperti sesuatu yang normal. Tak biasa namun juga tak mengganggu.

 

Semuanya bermula sejak bertemu dengan Kim Junmyeon.

Perkenalan mereka berawal dari karibnya, Park Chanyeol, yang tahu-tahu mengajak pemuda itu untuk makan siang bersama. Junmyeon terlihat mencolok di antara pemuda-pemuda lain yang berada di kantin saat itu. Bukan karena mengenakan setelan semarak atau pun aksesoris yang berlebihan (jika iya, sudah dipastikan ia akan dikeluarkan dari perusahaan, bukan?), hanya saja pemuda itu seolah memancarkan aura yang misterius sekaligus intimidatif dalam waktu bersamaan. Selain pembawaannya yang kelewat tenang membuatnya terlihat lebih ‘cool’ dari yang lain, namun saat ia tersenyum rasa-rasanya gadis mana pun bisa langsung meleleh bak margarin dapur. Dari situlah membuat Anna yang urat ingin tahunya mudah digelitik mulai penasaran tentangnya.

 

Junmyeon tak banyak bicara saat itu, seingat Anna ia beberapa kali mengucapkan ‘iya’ atau ‘tidak’, dua kali memberikan sebuah gelengan saat Chanyeol mencoba mengeluarkan guyonan recehnya, dan dua kali memasang senyum kecilnya; kala mereka berjabat tangan dan saat jam makan siang berakhir mereka saling melontarkan pamit. Kegiatan tersebut menjelma menjadi rutinitas, sejak itulah Anna memasang matanya untuk mengamati Junmyeon (hingga lambat laun ia hafal diluar kepala detil kecil tentangnya).

 

Setelah mengenalnya Anna menyadari sesuatu, meski Kim Junmyeon super pendiam tetapi ia memiliki karakter layaknya sinar matahari pagi; menghangatkan dan memberikan rasa nyaman.

 

“Hei, Anna!”

 

Anna melihat Junmyeon—dari divisi personalia itu—menyapanya dengan manis. Entah mengapa, Anna menyukai ketika kedua telinganya menangkap resonansi suara Junmyeon. Terdengar lembut, merdu dan renyah seperti kepingan kukis yang baru keluar dari panggangan.

 

Anna segera melambaikan tangan  ke arahnya sebagai balasan.

 

“Mengerjakan tugas di jam makan siang?” tanya si pemuda, alisnya terangkat selagi memerhatikan Anna yang kembali menatap layar laptopnya dengan khidmat.

 

Makan siang hari ini, Junmyeon memesan satu porsi roti lapis ukuran jumbo yang berisi tuna dan timun. Di kantin inilah, satu jam dari hari-hari Anna bisa dihabiskan bersama Junmyeon—hanya berdua, lantaran sudah enam bulan ini Chanyeol memutuskan berhenti dan pindah ke perusahaan lain.

 

Anna menoleh, “Aku sedang cek situs online shop.”

 

Dengusan geli terdengar. Memutar bola mata, Junmyeon memilih untuk mulai menikmati makan siangnya namun seraya bergumam, “Dasar wanita.”

 

Tanggapan Anna adalah ekspresi ‘masa bodoh’ ditambah dengan senyum jahil yang tersangkut di wajahnya.

 

“Anna.” Junmyeon kembali angkat bicara, “Memangnya hanya menatap layar laptop bisa membuat kenyang, ya?”

 

Pertanyaan itu meluncur dan sukses membuat Anna mengerutkan kening. Detik itu, Anna baru menyadari jika lima belas menit jam makan siangnya sudah terbuang percuma. Mendadak satu suapan roti isi sudah berada tepat di depan bibir gadis itu yang mau tak mau langsung dilahapnya.

 

“Tidak baik melewatkan jam makan siang, kau bisa sakit.”

 

Anna menoleh, sementara lelaki itu terlihat asyik dengan kegiatan mengunyahnya. Hei, yang tadi itu apakah bentuk perhatian Junmyeon untuknya?

 

Kembali satu suapan dari Junmyeon mengisi mulut Anna sebelum akhirnya ia berujar, “Aku baru tahu, ternyata makan satu porsi berdua seperti ini mengasyikkan.”

 

Anna mengulas senyum seadanya—ia tidak tahu harus memasang ekspresi yang bagaimana—pada si pemuda Kim sebelum melakukan kunyahan dengan gerakan lambat. Hening beberapa jenak, tahu-tahu Junmyeon beringsut lebih dekat dan mengulurkan satu ibu jarinya guna menyapu saus yang bersarang di sudut bibir si gadis.

 

Oh Tuhan! Setelah ini Anna harus pergi ke dokter demi memastikan jantungnya baik-baik saja di dalam sana.

 

***

“Anna.”

 

Si empunya nama mendongak ke sumber suara ketika komputer di mejanya baru saja menyapa dengan trek penutup. Junmyeon tersenyum ke arah Anna, lalu menumpukan satu sikunya pada pinggiran kubikel.

 

“Pulang bersama, yuk.”

 

Mendengar itu Anna merasa langsung terkena serangan jantung, tepat setelah Junmyeon tersenyum lagi ia merasa jantungnya berhenti sepersekian detik. Sial!

Ini kali pertama setelah dua tahun mereka bisa saling mengenal, Junmyeon mengajaknya pulang bersama. Ini bukan mimpi, kan?

 

Ok,” jawabnya singkat terlihat lugas, meski pada kenyataan ia sangat terkejut tapi menolak untuk menunjukkannya.

 

***

 

Temperatur musim dingin kali ini menyentuh titik di bawah nol derajat celcius, terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Anna mengutuk dirinya lantaran lupa membawa sarung tangan dan syal miliknya tadi pagi. Anna menghela napas. Separuh karena kedinginan dan separuhnya lagi karena dirinya merasa canggung.

Junmyeon memerhatikan gadis itu sedari tadi mereka berjalan berdampingan—mungkin hal ini yang membuat Anna merasa canggung. Kedua tangannya lantas dimasukkan ke dalam saku mantel, berharap mendapat sedikit kehangatan sampai kembali ke kamarnya yang hangat. Jarak rumahnya—yah, kira-kira—lima ratus meter lagi, kok.

 

“Apa kau punya acara malam minggu ini?”

 

Itu kalimat pertama yang dikeluarkan Junmyeon memecah keheningan, padahal saat di bis beberapa saat lalu lelaki itu cukup memiliki topik pembicaraan.

 

“Tidak. Memangnya kenapa?”

 

“Aku mau mengajakmu nonton. Boleh, kan?”

 

Anna mengangguk sebagai jawaban yang disambut senyuman kecil Junmyeon.

 

Oh ya, kau tinggal dengan siapa saja?” tanya Junmyeon dengan tatapan ingin tahu.

 

“Hanya dengan ayahku.”

 

“Oh,” sahut Junmyeon pendek.

 

“Kau sendiri?”

 

“Tidak jauh beda denganmu, aku tinggal dengan ibu dan adik kakak perempuan.”

 

Anna lagi-lagi mengangguk—di sudut lain, ia sedang menambahkan satu hal baru ke dalam daftar ‘all about Junmyeonmiliknya.

 

“Memangnya kemana ayahmu?”

 

Mm—” Junmyeon berkemam sebelum melanjutkan kalimatnya. “—mereka sempat bercerai. Satu tahun setelahnya Ayahku menikah lagi dan lima tahun kemudian ia wafat.”

 

Hening menyambut selama beberapa jenak dan lantas Junmyeon kembali buka suara. “Bagaimana denganmu?”

 

“Ibuku meninggal dua tahun lalu karena kanker paru-paru.”

 

“Ayahmu tidak menikah lagi?”

 

“Entahlah, tapi kurasa ia memiliki seorang kekasih.”

 

Senyum kecil terpasang di wajah masing-masing. Entah mengapa bagi Anna malam yang dingin ini mulai menghangat, ia tidak kedinginan seperti sebelumnya.

 

“Terima kasih.”

 

Betapa senangnya Anna bisa mengatakan itu pada pemuda yang telah mengantarnya pulang dengan selamat—maklum saja, momen seperti ini baru ia rasakan.

 

Lagi-lagi Junmyeon membagi senyum manisnya. Sepasang matanya seakan-akan enggan beralih dari sang objek, yakni seorang gadis berwajah Asia dengan rambut sepunggung yang terurai tengah berdiri di hadapannya.

 

“Apakah boleh nanti aku mengantarmu pulang lagi?”

 

Sang gadis tak langsung menjawab, ia hanya memandangi Junmyeon yang masih tersenyum kepadanya. Anna menggigit bibir bawahnya sejenak, lantas tahu-tahu berucap, “Boleh. Kau bisa mengantarku pulang setiap hari kalau kau mau, Jun.”

 

Anna buru-buru menutup mulutnya, ia sadar bahwa rasa gugup  telah membuat dirinya berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Namun, si pemuda rupanya tak berpikiran sama. Junmyeon memulas bibirnya dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya.

 

“Terima kasih.” Ia melambaikan tangan, setelah sebelumnya—Anna berani bersumpah melihatnya—mengedipkan sebelah mata.

 

***

 

“Dia namanya siapa?”

 

Kedua alis Anna bertemu di tengah, “Siapa?”

 

Lelaki berusia 50 tahun itu meneguk susu, lalu tersenyum. “Orang yang membuatmu senyum-senyum sendirian melihat layar ponsel,” lengkapnya sambil menyeret keluar kursi makan dari bawah meja dan lantas mendudukinya.

 

Sepasang bola mata Anna melebar, seumur hidup ia tak pernah suka tertangkap basah. “Bukan. Aku sedang melihat meme di instagram, kok.”

 

Ayahnya menggeleng sambil tersenyum, sementara Anna buru-buru melanjutkan sarapannya dengan santai setelah menempatkan ponselnya di atas meja dalam posisi terbalik.

 

“Apa malam ini kau punya acara, An?”

 

Pertanyaan itu sontak sukses menghentikan kegiatan sang gadis.

 

Mm.” Anna berkemam, raut wajahnya seketika berubah menjadi sedikit tegang. “A—aku sudah punya janji dengan seorang teman.” Ia menjawab dengan nada pelan penuh hati-hati.

 

“Baguslah. Karena malam ini Ayah pulang telat, aku khawatir jika kau sendirian di rumah.”

 

Entah mengapa, tiba-tiba saja Anna merasa geli dengan penjelasan ayahnya. Rasa-rasanya LAnna bisa mencium aroma ‘kencan’ yang tak sengaja tersirat dari ucapan sang ayah.

 

“Dia namanya siapa?” goda Anna.

 

“Jisoo.”

 

Satu kata dan manik Anna sontak membulat. Niatnya yang ingin menggoda sang ayah malah gagal.

 

Woah, Ayah gerak cepat sekali.”

 

“Menjadi seorang lelaki itu harus gerak cepat untuk urusan memikat wanita,” ujar ayahnya sembari matanya disipitkan ke arah Anna. Sang ayah hanya akan memasang mimik itu ketika ia berbicara sesuatu yang benar-benar serius—tapi kali ini Anna tahu ucapan itu dilontarkan sebagai canda, lantaran terdengar nada seriusnya yang dibuat-buat.

 

Masalahnya candaan  itu membuat si gadis penasaran akan suatu hal.

 

Anna meletakkan garpunya di atas piring, tak butuh waktu sampai lima detik  baginya untuk melontarkan hal yang ingin ia ketahui. “Begitukah, Yah? Jadi jika ada seorang lelaki menyukai seorang gadis, ia akan dengan cepat mendekati gadis itu. Bisa juga dengan cara tiba-tiba, begitu?” Anna nampak antusias dengan kalimat yang diajukan.

 

Mendengarnya, sang ayah tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. “Analisaku sih, pemuda itu benar-benar mencintaimu. Jadi, siapa nama pemuda itu?”

 

Hm?”

 

Lelaki itu mengangkat sudut bibirnya sebagai respon seolah menegaskan bahwa ia bisa membaca seluk-beluk pikiran putri semata wayangnya.

 

“Itu hanya dugaanku kok, Yah. Karena seorang temanku pernah cerita begitu,” ralat Anna. Alih-alih, kedua maniknya bergulir ke sembarang arah—asal tak tertangkap pandang oleh iris kelam di hadapannya itu.

 

Meskipun Anna—secara tidak langsung—terbantu menjawab pertanyaan yang bersemayam di kepalanya beberapa waktu belakangan, rasanya ia masih bingung. Oh, jika Junmyeon bersikap manis padanya, apakah bisa dipastikan pemuda itu menyukainya?

Anna tidak mau menyebut ‘mencintainya’ karena satu kata itu masih terasa berat dan canggung untuk diucapkan.

 

Apakah alasan itu kiranya yang membuat sikap Junmyeon akhir-akhir ini berubah padanya?

 

***

 

Anna tidak tahu apa yang menyebabkannya tak menolak saat Junmyeon menggandengnya masuk ke dalam sebuah rumah makan selepas menonton. Sekali lagi, tidak ada penolakan. Oh baiklah, Junmyeon benar-benar mengacaukan jalan pikirnya.

 

“Anna.” Junmyeon menyebutkan namanya lamat-lamat sebelum mengimbuhkan, “Bagaimana filmnya menurutmu?”

 

“Bagus kok, aku suka. Terima kasih sudah mengajakku menonton, Jun.”

 

Usaha Anna untuk mengalihkan pembicaraan agaknya sukses, ia tak ingin Junmyeon benar-benar tahu apa yang tengah dirasakannya. Manik mereka bertemu sepersekian sekon kemudian, dan Anna bisa merasakan kegugupannya makin menjadi.

Sama seperti halnya saat mereka menonton film tadi. Entah karena apa, Anna tidak fokus menonton padahal artis idolanya menjadi tokoh utama film tersebut. Biasanya, Anna bisa dengan khidmat saat menonton Leonardo De Caprio yang tengah berakting. Namun tadi, ia malah asyik menonton Junmyeon yang sedang memerhatikan layar proyektor. Mendengarkan cicit  pemuda itu yang mengomentari beberapa adegan di dalam film. Menatap senyum yang terkembang di belahan bibirnya dan membuat Anna memiliki satu hal lagi yang harus dimasukkan ke dalam daftar ‘all about Junmyeon miliknya; Kim Junmyeon  tampan saat tersenyum.

 

“Anna Tan—”

 

Kelanjutan ucapan Junmyeon terpotong oleh suara gelas membentur meja disusul suara piring yang sukses mengalihkan atensi keduanya pada pesanan makanan yang baru saja datang. Junmyeon menunggu hingga kedua pelayan itu berada di luar jarak pendengaran. Anna terlihat duluan menyesap ice lemon tea pesanannya.

 

“Maukah kau menjadi pacarku?”

 

Nyaris tersedak, Anna terbatuk-batuk  ketika mendengar kalimat tanya yang diajukan Junmyeon untuknya. Yang jelas, ia tak lagi bisa mempertahankan ekspresi datarnya, dengan panik memalingkan wajahnya ke arah lain.

 

“A—apa yang … uh—”

 

“Aku mencintaimu.”

 

Sontak membuat gadis itu menatap ke arah wajah di hadapannya. Apa Junmyeon sedang bercanda?

 

“Entah sejak kapan aku menyimpan perasaan ini, yang kutahu ini sudah lama. Aku tahu kau pasti terkejut, atau mungkin menganggapku pemuda gila.” Anna menatap Junmyeon yang menjungkitkan sudut-sudut bibirnya canggung sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku hanya ingin berkata jujur padamu atas perasaanku.” Junmyeon menempatkan genggamannya di atas lengan Anna, “Maukah kau menjadi pacarku?” Sekali lagi pemuda itu memporak-porandakan perasaannya, dan menjadi satu-satunya alasan detak jantungnya berdegup tak konstan.

 

Jangan sampai Anna pingsan di tempat—tidak boleh terjadi.

 

Anna menyukai Junmyeon, tetapi ia tak punya cukup keberanian untuk menyatakan hal itu. Mendadak Anna merasa kemampuan bicaranya menghilang, gadis itu benar-benar tidak tahu kata apa yang tepat untuk ia taruh di awal kalimat jawabannya. Anna bungkam—bukan karena ia menolak.

 

Melihat gerakan-gerakan canggung Anna, seolah Junmyeon bisa membaca keadaan.

 

Ia melepaskan genggamannya, lantas mengiris sepotong pizza dan memindahkannya ke piring yang lebih kecil.

 

“Aku tahu pertanyaan ini mungkin sulit untuk kau jawab.” Benda itu tak lama digesernya kemudian setelah ia berujar, “Jika kau ambil berarti kau menerimaku. Jika kau menolak, kau bisa memberinya kembali padaku.”

 

Ada hening menelusup beberapa saat. Mengamati sang lelaki; Junmyeon masih setia menatap ke arahnya dengan penuh harap. Anna tak bisa membiarkan keheningan itu berlalu lama. Kedua lengannya meraih piring kecil di hadapannya disusul dengan senyuman yang merekah dari bibir merahnya.

 

***

 

“Terima kasih untuk hari ini, Jun.”

 

Malam ini, Anna kembali merasa senang bisa mengucapkan itu pada sosok pemuda tegap yang telah mengajaknya kencan sekaligus mengantarnya pulang—terlebih Kim Junmyeon mulai sekarang resmi menjadi kekasihnya (setelah ini tolong ingatkan Anna agar tidak melompat-lompat kegirangan sesampainya di dalam kamar).

 

Junmyeon tersenyum seraya mengangguk, tangannya masih menggenggam tangan Anna—seolah tak berkenan untuk melepasnya. Rasa-rasanya, malam ini Junmyeon tak punya keinginan untuk cepat tiba di rumahnya. Satu senyuman dari Anna, Junmyeon pun bergerak maju mengecup lembut kening gadis itu.

 

Tentu saja Anna terkejut, memangnya apa yang bisa Anna rasakan selain itu?

 

“Terima kasih untuk jawabanmu.” Selang beberapa detik kemudian Junmyeon kembali memangkas jarak, mendaratkan ciuman di atas bibir Anna.

 

Anna memejamkan mata, tangannya balas menggenggam erat. Membiarkan Junmyeon menyelesaikan apa yang ia mulai. Perlahan, penuh kelembutan, dan hangat—Anna mencoba mengikuti permainan meski ia pemula. Ciuman pertamanya telah dicuri, namun ia tak marah.

 

Udara dingin kembali menerpa ketika jarak kembali tercipta. Junmyeon tersenyum sembari melepaskan genggamannya. “Aku pulang dulu.”

 

“Kim Junmyeon—” Mendadak lidahnya kelu selang beberapa detik kembali menatap kedua mata Junmyeon, tahu-tahu Anna berujar, “Aku mencintaimu.”

 

***

 

Klise jika mengatakan cinta pertama memang indah. Yah, Anna tengah dimabukkan asmara. Ia jatuh ke dalam pesona seorang Kim Junmyeon, semakin dalam seiring bergeraknya waktu. Pemuda itu benar-benar menjadi tipikal kekasih idaman bak pangeran-pangeran di dalam cerita dongeng—sempurna di mata Anna. Ciumannya seperti candu yang tak ayal membuat si gadis ketagihan.

 

Beberapa hari lalu mereka pergi ke New York bersama, tujuan mereka bersenang-senang. Jika biasanya Anna hanya mendengar cerita dari beberapa temannya yang berbohong demi pergi berlibur bersama sang kekasih, kini giliran Anna yang berbuat demikian. Iming-iming mendapat tugas ke luar negeri, Anna sukses mengantongi izin dari sang ayah untuk keluar rumah selama lima hari.

 

Keterkejutan Anna tak hanya pada ciuman pertama yang berhasil Junmyeon curi darinya. Malam ketiga mereka di kota New York, Anna yakin sudah memastikan bahwa kunci kamar hotelnya berada di dalam tas. Tapi mungkin kali ini nalurinya memilih untuk berkhianat.

 

“Sepertinya kunciku hilang.”

 

“Tak apa, kita bisa melapor.” Junmyeon berusaha membuat gadis itu melupakan kesalahannya. “Or you can sleep in my  room, tonight.” Lantas beberapa pasang mata yang mengamati mereka di dalam lift tampaknya sudah tertarik pada adegan ini.

 

Anna memaksakan diri untuk tersenyum santai. Namun cengirannya memang tak bisa  mengelakkan kenyataan bahwa ia salah tingkah. Junmyeon tahu-tahu menyampirkan lengan di atas pundaknya—menariknya mendekat dan menguncinya—bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.

 

“Aku tidak keberatan, kok.” Junmyeon mengerling.

 

***

 

Andai saja pihak hotel bisa mempercepat mengurus kunci kamarnya, mungkin saja kini Anna sudah berbaring santai di atas tempat tidurnya. Entah apa kiranya yang membuat mereka jadi dipersulit; dan Anna baru bisa mendapatkan kunci penggantinya esok hari, damn!

 

Mati saja aku! Anna membatin. Dari kalimatnya, belum bisa dipastikan apakah gadis itu  mengatakannya dengan kesadaran penuh atau hanya akibat gerak refleks yang merupakan reaksi biasa tatkala terhenyak oleh sesuatu. Namun dalam kasusnya hal ini dikategorikan ke dalam sesuatu yang indah, seharusnya.

 

Malam ini ia harus tidur satu ruangan bersama Junmyeon.

 

Mati saja aku! Anna lagi-lagi membatin, kali ini ia menahan napas. Gadis itu tidak pernah memperhitungkan soal tidur bersama di acara liburannya ini. Anna tidak melirik pemuda itu barang sedikit pun, semakin sering Junmyeon menangkapnya sedang memerhatikan semakin besar pula Kyuhyun tahu hal yang tengah mengganjal di dalam benaknya.

 

“Kenapa?”

 

“Tidak apa-apa.” Anna lekas menjawab dan dibalas pandangan tak percaya Junmyeon.

 

“Kalau sudah mengantuk, kau bisa tidur nyaman di sana.” Junmyeon menunjuk satu ranjang  di belakang sofa yang tengah mereka duduki.

 

Namun arti ucapan Junmyeon memiliki makna sebaliknya bagi Anna; bagaimana bisa ia tidur dengan nyaman jika Junmyeon berada dalam ruangan yang sama tanpa tembok atau pun pintu sebagai pembatas?

 

Anna hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia sedikit bergeser lantaran kepalanya sudah terisi pikiran-pikiran liar yang membuatnya jadi tak nyaman sendiri. Anna bukannya munafik, namun jika mereka melakukan hal-liar-seperti-di dalam-pikirannya bukankah masih terlalu cepat?

 

Satu gerakan lagi dari Anna hingga tanpa ia sadari  tak banyak dudukan sofa tersisa. Tubuhnya limbung menuju lantai, tetapi tiba-tiba tangan Junmyeon berusaha menariknya. Sayangnya saat mereka tak sama-sama siaga, alhasil keduanya jatuh saling tindih. Tidak terlihat klise seperti di dalam drama, kan?

 

Pandang saling beradu, tubuh mereka saling bertumpu. Tidak ada yang mengubah posisi mereka.

 

“Jun—”

 

Ucapan Anna itu terpotong kala Junmyeon tahu-tahu menempatkan ciuman di atas bibirnya. Melumatnya dalam, semakin dalam. Praktis membuat tubuh mereka semakin menempel. Anna yang semula ingin mencecar Junmyeon dengan berjuta protes, malah kini lengannya mengusap-usap tengkuk si pemuda dengan lembut membuatnya nyaman bermain di sana.

 

Hingga akhirnya Junmyeon mencipta jarak, selama tiga detik pandangan itu bertemu lagi.

 

“Aku mencintaimu, An. Apa kau mencintaiku?”

 

Kim Junmyeon itu pria lucu. Terbukti dengan kalimat tanya yang baru saja ia ucapkan. Apakah lelaki itu pikir Anna melakukan semua hal bersamanya beberapa waktu belakangan hanya untuk menghilangkan bosan? Ya, ya, Junmyeon memang bercanda.

 

Anna tidak menjawab. Namun seolah dikomando lantas ia berujar, “Tentu saja aku mencintaimu, sangat cinta.”

 

 

Mendengar jawaban Anna, satu sudut bibirnya menjungkit sebelum sebuah kalimat dibisikkan  pada si gadis. “Kalau begitu, percayalah padaku untuk yang satu ini.”

 

Belum sempat Anna memikirkan maksud di balik kalimat tersebut, Junmyeon sudah mengangkat tubuhnya menuju tempat tidur. Tiba-tiba ada rasa takut bercampur ragu menggelayut manja di dalam benaknya. Hubungan mereka baru menginjak bulan ketiga, bukankah semua ini terasa terlalu cepat?

 

Sikap tubuh Anna tidak menunjukkan penolakan, meskipun di dalam hatinya merasakan ada sesuatu yang salah.

 

***

 

Anna menyerahkan segalanya yang ia miliki tanpa penolakan. Sedetik pun ia tak pernah merasa sial atas kondisi itu. Mulai saat itu, baginya sosok Junmyeon adalah sosok suami ideal untuk seorang gadis polos sepertinya. Junmyeon penuh perhatian dan kehangatan—jika dipikir-pikir ia memiliki karakter seperti ayahnya yang penuh kasih. Anna bahagia.

 

“Aku ingin mengenalkanmu pada ayahku.”

 

Pernyataan Anna terlontar di tengah alunan lagu all of me milik John Legend yang cukup menggiurkan untuk dinyanyikan. Anna mendengarkan Junmyeon —yang juga pandai menyanyi—mengalunkan bagian reff-nya. Suaranya merdu. Oh Tuhan, Junmyeon memang pandai membuat Anna lagi-lagi jatuh ke dalam pesonanya.

 

“Baiklah. Lagipula, sudah saatnya kita ke tahap yang lebih serius.”

 

Mendengar itu sukses membuat sudut-sudut bibir Anna menjungkit. Junmyeon mengusap lembut pipi kiri Anna dengan ibu jarinya, ia menelengkan kepala sebelum berujar, “Aku tak sabar menjadikanmu Nyonya Kim.”

 

Nyonya Kim? Menarik. Anna menyukainya.

 

***

 

Semua berjalan normal, rencananya mengenalkan sosok Junmyeon mendapat persetujuan dari sang ayah. Namun acara perkenalan antara Junmyeon dan ayahnya akan dilakukan setelah acara perkenalan Anna dengan sosok ‘Jisoo’ yang sempat diceritakan di acara sarapan paginya bersama sang ayah beberapa waktu lalu.

 

Sayangnya, tak ada tawa kali ini.

 

Entah bagaimana rasanya jika tersambar petir, mungkin seperti yang dirasakan Anna saat ini.

 

“An, ini Jisoo yang pernah Ayah ceritakan waktu itu.” Senyum bahagia sang ayah terpatri di wajahnya. “Cantik, kan? Ingat Ayah pernah bilang jika seorang lelaki harus bergerak cepat untuk memikat wanita?” bisik ayahnya yang di sambut tawa kecil dari wanita—yang sepertinya tak terlalu jauh jarak umurnya dengan sang ibu jika ia masih hidup.

 

Namun berbeda dengan tanggapan seseorang yang duduk di sebelah wanita itu. Pemuda itu sama sekali tak memberi respon apa-apa.

 

Beberapa menit awal pertemuan.

 

Junmyeon menghampiri Anna yang berjalan menuju toilet. Mencapai jarak terdekat, buru-buru lengannya menarik Anna.

 

“Anna,” Junmyeon membuat gerakan jari satu arah yang monoton.

 

Anna tak ingin iris kelam di hadapannya akan bersirobok dengan miliknya, tapi terlambat ketika Junmyeon melihat cairan bening mengisi pelupuk mata sang gadis. Sepasang buliran turun dengan cepat. Sejemang selanjutnya Junmyeon tersenyum sembari mengusap kedua pipi Anna.

 

“Biarkan kita yang mengalah, An.” Pernyataan Junmyeon seperti tak ada yang pernah terjadi di antara mereka.

 

“Kenapa?”

 

Suaranya tercekat, dadanya terasa sesak. Rangkaian kata yang sudah berada di ujung lidah seolah lenyap tak berbekas.

 

“Aku ingin ibuku bahagia. Pertemuan dengan ayahmu memberikan kebahagiaan lain untuknya. Aku tak bisa merusaknya.”

 

Tanpa harus diceritakan lagi, Anna sudah tahu kisah di balik perceraian kedua orang tua Junmyeon. Bagaimana tersiksanya sang ibu kala tahu suami yang amat ia cintai malah berselingkuh dengan sekretarisnya di kantor. Beliau tidak peduli dengan keluarga yang tengah menantinya di rumah. Layaknya berpolah bagai istri yang baik-baik saja selama dua tahun, akhirnya ia menyerah. Ibu Junmyeon meminta cerai dan langsung diamini oleh sang suami.

 

“Kurasa, kita harus mengakhiri hubungan ini.” Ada jeda sejenak. “Aku yakin, kau akan menemukan pemuda yang lebih baik—” Junmyeon seolah sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia menghela napas dan segera mengimbuhkan, “—dari diriku.”

 

Mendadak Anna kehilangan pesona keindahan Kim Junmyeon. Ada rasa sakit yang berasal dari dalam tubuhnya—entah bagian mana. Rasanya seperti teriris-iris. Anna ingin berteriak kencang, bahkan ia ingin memaki Junmyeon. Tapi ia tak bisa melakukannya. Anna hanya bisa diam dengan bulir-bulir bening yang terus berlinang dari kedua sudut matanya.

 

Satu tatap singkat dan tanpa permisi sebuah kecupan hangat mendarat di atas kening Anna. Junmyeon melangkah kembali menuju tempat pertemuan.

 

Memorinya tergulung selesai. Pertemuannya kali ini tak kalah mengejutkan dengan ucapan Junmyeon beberapa waktu lalu. Pemuda itu menyerah tanpa perlawanan.

 

“Ayahmu senang sekali bercanda.” Suara wanita itu menginterupsi lamunannya. Anna tersenyum kecil. “Oh ya, Junmyeon-a bersikap baiklah pada Anna. Sepertinya, ia seumuran dengan Jinhee.”

 

Yang diajak bicaranya hanya membagi senyum samar, Junmyeon mengatupkan bibirnya rapat-rapat sejak kembali duduk di kursi itu.

 

“Kami berencana menikah. Dan kami ingin—”

 

Suara sang ayah lenyap. Otaknya mengalami disfungsi, tak dapat merespon baik rangsangan dari apa pun. Kedua maniknya memaku tatap pada sosok Junmyeon, seolah tengah menyampaikan, “Aku harus membencimu agar aku bisa melupakan kita.”

 

“Jadi, kami akan melaksanakannya bulan depan.”

 

Junmyeon terbatuk kala mendengar pernyataan ayah Anna.

 

“Kami tahu ini terlalu cepat.” Pria itu tertawa kecil, menyadari ucapannya memang terdengar lucu mengingat perkenalan keluarga ini masih terlalu singkat. “Tetapi, aku ingin cepat kita menjadi sebuah keluarga. Kalian tidak keberatan, kan?”

 

Secara tak langsung Junmyeon mengakui keberatannya, kendati dirinya pun masih separuh tak yakih apakah cara seperti ini akan membuat ibunya bahagia—lebih tepatnya, ia juga turut merasakan hal yang sama. Yang jelas, ia tak lagi bisa mempertahankan ekspresi datarnya, spontan mengalihkan pandangan ke arah Anna.

 

Gadis itu tak nampak terlihat ingin menjawab. Ia hanya meneguk minumannya tanpa terdengar buka suara. Namun detik berikutnya Anna menjungkitkan sudut-sudut bibirnya membuat sebuah kurva manis di sana.

 

“Aku sangat setuju. Aku bahagia mendengarnya. Selamat untuk kalian berdua.”

 

Junmyeon bungkam. Ia melempar satu pandangan keraguan pada Anna.

 

“Apa yang kau katakan?” Tatapannya tak lepas mengunci bayang si gadis di kedua iris kelamnya.

 

Anna sadar tengah diperhatikan, ia lantas melayangkan tatapan selagi  Junmyeon hanya bisa mengangkat sebelah alis. Hanya butuh waktu dua detik bagi Anna mengubah raut wajahnya menjadi datar dan membuang pandangan, tanpa sempat melihat ekspresi terkejut Junmyeon.

 

.

.

“Bukankah sudah kukatakan, aku akan membencimu untuk melupakan kita.”

.

.

 

 

End.

Iklan

4 pemikiran pada “[Oneshot] A Half Heart

  1. Halo kakdel 🙂 ketemu lagi
    Bagus sih kalo dari segi bahasa dan feel romance di awal tapi begitu akhir … Gak ketebak sih tapi klise hm ;-; not a common cliche tapi plot ini sdh sering aku baca… Jadinya agak kecewa sih baca panjang2 doki2 dsb nya tapi endingnya begitu… Tapi gapapa kok, saya juga sering bikin ff klise.
    Keep writing kakak!

  2. kakdeeeeeeeeelll….. apa kabar? x)
    eh btw pengen curhat bentar xD
    awalnya aku buka ff ini karena pertama, aku udah lama juga nggak baca ffnya mas junmyeon, terus kedua, dari awal paragraf aku udah mulai kesengsem sama gaya tulisan kakdel yang emang selalu santai dan enak dibaca, dan ketiga… aku suka banget sama alur ceritanya!
    huhuuhuhuhuh kukira endingnya bakalan bahagia gitu, Junmyeon sama Anna jadi nikah, tapi ternyata… why kakdel? why kakak malah bikin mereka nggak bisa bersatu dan malah menyatukan orang tua mereka? huhuhu baper maksimal 😥
    good job kak, udah bikin anak orang baper jam segini 😥

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s