GAME OVER – Lv. 13 [Aftermath] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11 — Level 12 — [PLAYING] Level 13

I’ve never seen movement like yours

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 13 — Aftermath

In Jiho’s Eyes…

Setelah terlibat dalam konversasi menguras hati antara aku, Ashley dan Taehyung, kami bertiga akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan jika WorldWare tengah berusaha mengubah kami. Tidak, permainan ini memang tidak berusaha mengubah kami secara fisik, tapi ia berusaha untuk memengaruhi pola pikir kami.

“Aku tak akan mengatakan apapun pada siapapun, sungguh.”

Kudengar Ashley angkat bicara saat kemudian kami membicarakan perkara player lain di dalam Town yang telah mengetahui tentang hubungan kami bertiga.

“Begitu pula denganku. Aku tak punya ketertarikan untuk membicarakan hal ini kalau artinya akan merugikan sahabatku.” Taehyung berkata, agaknya Taehyung paham benar kekhawatiranku saat ini.

Ya, memang benar adanya, aku merasa khawatir karena eksistensiku dan Baekhyun sekarang di WorldWare tak lagi diterima dengan ramah oleh player lain. Kami mungkin menjadi musuh nasional—mengingat bahwa player yang bisa memainkan WorldWare haruslah berkewarganegaraan Korea—sekarang, dan membiarkan lebih banyak orang tahu tentang kami sama sekali tidak akan menguntungkan siapapun.

Bagaimana jika player di luar sana tidak berpikiran sedewasa dan senetral Taehyung maupun Ashley? Bagaimana kalau mereka malah berusaha untuk menyerangku? Tidak, ini bukannya efek percaya diri yang berlebihan, tapi ini justru ketakutan.

Aku tidak ingin membuat Baekhyun juga berada dalam kesulitan karena ulahku. Baekhyun sendiri sudah terbiasa hidup dengan keadaan yang tidak terlihat, tapi aku tidak. Semua ini begitu baru bagiku, dan kecerobohan yang aku lakukan di sini mungkin bisa membahayakan Baekhyun juga.

Bukannya aku mencurigai playerplayer ini, tapi kenyataannya mereka seolah sudah dikuasai keegoisan dan keinginan atas kekuasaan di dalam permainan. Ingat bagaimana mereka yang dielu-elukan sebagai pemimpin bisa mengeluarkan uang hingga jutaan won hanya untuk membeli pouch dan membagi-bagikannya pada player lain?

Bukannya tidak mungkin jika mereka bisa berbuat lebih ekstrim di dunia nyata.

“Bagaimana kalau kau lupakan sejenak masalah WorldWare dan kembali ke kehidupan nyatamu, Jiho? Kau sudah terlalu lama mengurung diri di dalam tempat ini. Apa kau ingat bagaimana bentuk matahari?” Ashley kemudian menyeletuk. Tampaknya dia tidak banyak mengkhawatirkan perkara aku dan Invisible Black di sini.

Dia tentu tidak perlu khawatir, karena yang Ashley perlu lakukan hanyalah menutup mulut rapat-rapat. Taehyung akan melakukan sisanya, maksudku jika ada player yang berusaha meretas akun Ashley untuk mendapatkan informasi pribadinya yang mungkin berkaitan denganku, Taehyung pasti tidak akan tinggal diam.

“Kau berencana untuk mengajakku keluar rumah? Tapi aku harus online malam ini.” aku berkata, separuhnya menolak ajakan yang belum tentu Ashley utarakan.

Hey, ini masih pagi, Song Jiho-ssi. Dan masih ada banyak waktu sebelum malam tiba. Aku ada photoshoot sampai sore, dan Taehyung tidak mau menemaniku. Apa aku harus pergi ke sana sendirian? Bagaimana jika sesuatu terjadi padaku?” Ashley mulai dengan spekulasi mengerikan yang seringkali dia utarakan jika punya kemauan.

“Taehyung bisa menolakmu dengan alasan hacking, kenapa aku tidak boleh?” aku kemudian berkata tidak terima.

Aku ingat tadi Taehyung sudah menolak Ashley dengan alasan kalau dia ada battle tentang hacking hari ini. Dan aku tahu benar bagaimana Taehyung kalau sudah berurusan dengan dunia cybernya, dia tidak akan bisa dihentikan, tidak juga bisa diganggu.

“Oh, Taehyung, sudah kubilang kalau Jiho tidak akan mau.” Ashley merengut, dia menghempaskan tubuhnya di sofa, menyandarkan diri dengan raut putus asa.

Sebenarnya, masalahku bukan hanya tentang keharusan untuk online malam ini, tapi aku juga tidak merasa nyaman bila harus berurusan dengan dunia luar yang bahkan tidak lagi kuingat kapan terakhir kali aku melihatnya.

“Ayolah, Jiho. Dia tidak akan lama, dan kau juga butuh menyegarkan pikiranmu, memangnya kau mau selamanya hidup di balik layar monitor? Lihat penampilanmu sekarang, kau sangat mengerikan.” komentar Taehyung, mengingatkanku pada keadaan yang tidak pernah kuperhatikan.

Well, jika kalian mengenal seorang game freak yang menutup diri dari kehidupan sosial, maka aku adalah salah satunya. Aku bahkan berhenti merawat diriku sendiri sejak beberapa tahun lalu. Aih, lihat bagaimana WorldWare sudah mengubahku.

“Baiklah, hanya sampai sore, bukan?” ucapku akhirnya, lagipula tidak ada ruginya menerima ajakan Ashley. Aku yakin Baekhyun bisa mengatasi Womanizer sendirian, dan aku hanya perlu muncul nanti malam.

Anggap saja aku tengah memercayai Baekhyun dan keputusan yang diambilnya. Dia tentu tidak akan merasa nyaman jika aku terus mengekorinya kemanapun padahal dia sudah terbiasa hidup sendirian.

“Oke, hanya sampai sore. Dan oh, tenang saja, aku bisa sedikit merapikanmu sebelum kita berangkat.” Ashley tersenyum padaku, senyum yang kemudian menjadi sumber rasa curigaku.

“Apa yang mau kau lakukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Di sinilah aku akhirnya, memojokkan diri di sudut ruangan gemerlap yang menjadi tempat Ashley melakukan photoshoot. Ruang sempit ini telah diubah menjadi layaknya club malam, Ashley sendiri tengah sibuk di tengah sana, menjadi highlight dari tempat ini.

“Tarin, cepat rapikan riasan wajahnya!” aku tersentak saat kudengar seseorang memekikkan nama yang begitu familiar dalam pendengaranku.

Segera manikku berputar mencari pemilik nama yang baru saja diserukan, tanpa sadar aku tersenyum saat mendapati seorang gadis dengan rambut dicat berwarna pirang tergopoh-gopoh membawa seperangkat make-up set dan menghampiri Ashley yang duduk dan menunggu.

Ah, dia pasti Medusaria yang kukenal di dalam WorldWare. Wajahnya benar-benar sama dengan yang tervisualisasi di dalam WorldWare. Apa dia juga mengenal Ashley di kehidupan nyata? Tapi mereka bersikap seolah tidak saling mengenal satu sama lain.

Dunia mungkin memang sempit, tapi bertemu dengan seseorang yang kau kenal di dalam game tentu saja jadi kebetulan yang sangat luar biasa, bukan?

Tarin kemudian selesai dengan make-upnya pada Ashley. Dia melangkah ke arahku, meletakkan perlengkapan make-upnya di meja kosong yang ada di sebelahku sebelum akhirnya dia duduk di kursi kosong yang ada di dekatku, pula.

“Apa kau baru di sini?” tanyanya padaku.

“Ah? Aku? Tidak, aku hanya menunggu temanku.” jawabku sambil tersenyum simpul. Tarin kemudian mengangguk-angguk paham, tampaknya dia juga tidak mengenaliku.

Apa aku terlihat begitu berbeda dari avatar yang WorldWare rekam saat pertama kali aku login ke dalamnya? Wajah Tarin terlihat begitu sama persis dengan yang ada di dalam permainan, apa aku terlihat berbeda?

“Aku pikir kau salah seorang model baru yang akan ikut pemotretan. Itulah mengapa aku bawa make-upku ke sini, melelahkan rasanya mendengar namaku terus-terusan dipanggil setiap waktu.” dia berkelakar, sedikit tertawa—tampaknya dia menertawai diri sendiri.

“Siapa namamu?” tanyaku kemudian, berpura-pura bodoh.

“Tarin, Lee Tarin. Bagaimana denganmu?” Tarin mengulurkan tangan ke arahku.

“Song Jiho.” jawabku sambil menjabat tangannya, ini kedua kalinya aku memperkenalkan diriku—identitasku yang sebenarnya—pada player WorldWare, dan aneh rasanya ketika orang yang kukenal dalam game sekarang tidak mengenaliku.

“Aku seorang make-up artist di sini. Apa Ashley temanmu?” tanya Tarin kemudian.

“Kau mengenalnya?” tanyaku, mempertanyakan kemungkinan bahwa dia mungkin mengenal Ashley juga, berhubung mereka sama-sama berasal dari House of Zeus.

“Tentu saja, dia model dari agensi yang sama denganku. Maksudku, meskipun aku seorang make-up artist, aku juga terikat kontrak pada satu agensi. Aku dan Ashley ada di agensi yang sama.” jawabnya.

Ah, rupanya dia tidak tahu kalau Ashley adalah seorang pemain WorldWare juga. Tapi Ashley memang sedikit terlihat berbeda jika dibandingkan dengan saat pertama kali dia bermain WorldWare juga. Well, dia melakukan sedikit perawatan di sana-sini wajahnya sehingga sekarang dia memang tampak bagai boneka.

“Aku mengerti, kau sudah lama bekerja di bidang ini?” tanyaku.

“Sekitar enam tahun, kurasa. Aku bekerja di sini sejak lulus sekolah menengah.” jawab Tarin membuatku bisa memperkirakan usianya.

Agaknya perkataan Baekhyun tentangku ada benarnya juga. Usiaku sudah terhitung cukup tinggi sementara aku masih juga bermain game. Apa saja yang telah kulakukan untuk hidupku? Beberapa orang player game bahkan bisa menghasilkan uang dari kegiatan mereka.

Tapi aku justru hidup dengan menggantungkan kehidupanku pada dua orang sahabat. Tidakkah aku terlampau membebani mereka?

“Bagaimana denganmu sendiri?” tanya Tarin kemudian.

Aku menatapnya sejenak, mempertimbangkan kemungkinan bahwa Tarin jadi satu-satunya orang selain dua sahabatku yang mungkin berpihak padaku saat kami ada di dalam WorldWare entah mengapa sekarang membuatku ragu.

Aku hidup dengan cara yang begitu mengerikan selama ini, dan memperkenalkan diri sebagai seorang HongJoo tidak akan membuatku merasa bangga. Yang ada aku justru akan menelan pil malu, sebab kehidupanku di dunia nyata sungguh berbanding terbalik dengan arogansi yang kutampilkan dalam permainan.

“Jiho?” Tarin memanggilku, menyadarkanku dari lamunan dan pemikiranku soal kehidupanku yang sudah aku jalani dengan begitu banyak membuang waktu.

Tidak, meskipun bagiku bermain game adalah tindakan yang sama sekali tidak membuang waktu, tapi aku seolah jadi satu-satunya player yang seluruh waktu dalam kehidupannya hanya dihabiskan dengan bermain game.

Ashley bahkan punya rank tinggi saat dia bisa menjalani kehidupan sebagai seorang model profesional yang juga terkenal. Di dunia nyata maupun di dalam WorldWare, Ashley sama terkenal dan sama suksesnya.

“Tarin! Cepat kemari!” sebuah teriakan menyelamatkanku dari tatapan menunggu yang Tarin lemparkan.

“Ah, sebentar Jiho, aku akan segera kembali.” dia kemudian berkata, kembali membawa perlengkapannya dan menghampiri orang yang tadi memanggil.

Aku sendiri larut dalam pemikiran bahwa aku sudah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk melakukan hal yang begitu monoton. Jika nanti di kemudian hari tidak ada lagi game dimana aku bisa menjadi seorang yang berpengaruh di dalamnya, bagaimana aku akan melanjutkan kehidupanku?

Ashley tidak perlu khawatir karena aku tahu dia sudah punya simpanan cukup banyak dalam depositonya dan bahkan dia bisa menghidupi dirinya sendiri secara sederhana dari bunga bulanan deposito tersebut.

Taehyung lebih punya kehidupan dengan masa depan yang terjamin. Dia sebentar lagi akan meraih gelar cum laude dari universitas tempat ia belajar teknik jaringan komputer. Taehyung adalah seorang jenius yang terlahir dengan sendok perak di mulutnya. Tidak sulit bagi Taehyung untuk melanjutkan kehidupannya di luar game.

Lalu bagaimana denganku? Apa yang akan terjadi pada hari tuaku nanti?

“Melamunkan apa, Jiho?” aku tersadar dari lamunan saat kudengar vokal Ashley menyapa. Dia sekarang berdiri di hadapanku dalam balutan dress berwarna cokelat keemasan yang begitu mewah dan pas di tubuh.

Ashley punya standar di atas sempurna untuk penampilan, dan dia juga sangat baik. Kalau ada perumpamaan tentang seseorang yang cantik di luar maupun dalam, Ashley adalah proporsi sempurna untuk itu.

Aku bahkan sekarang paham tujuannya memaksaku untuk menemaninya—dan bukannya merengek pada Taehyung untuk menemani.

“Kau sengaja mengajakku ke sini ya? Supaya aku bisa sadar kalau aku sudah terlalu banyak membuang waktu dengan bermain game?” ucapku membuat Ashley terdiam sejenak.

Dia kemudian tersenyum simpul, mengangguk mengiyakan perkataanku.

“Benar, kau sudah terlalu lama mengurung diri dari interaksi sosial, Jiho. Apa yang akan terjadi padamu kalau aku dan Taehyung tidak ada?” tanya Ashley sesuai dugaanku.

Tidak, Ashley bukannya tengah mengatakan bahwa aku telah menjadi beban baginya dan Taehyung selama beberapa tahun ini.

Dia justru tengah berusaha memberitahuku bahwa belum terlambat bagiku jika aku ingin memperbaiki kehidupanku. Belum terlambat bagiku untuk meninggalkan permainan yang selama ini selalu mengurung pikiran dan tubuhku.

“Aku tak pernah memikirkannya sampai kau mengajakku ke sini.” aku akhirnya berucap, tidak sepenuhnya berbohong karena selama ini, aku memang tak pernah memikirkan bagaimana kehidupanku akan berlanjut.

“Belum terlambat, Jiho. Masih ada waktu untuk berubah. Mungkin, kau bisa sedikit mengurangi interaksimu di dalam WorldWare dan mencari pekerjaan yang bisa cocok denganmu. Bagaimana dengan mencari pekerjaan sambilan di perusahaan Taehyung? Dia mungkin bisa membantumu.” Ashley berucap, dengan kedua tangannya dia merapikan suraiku yang acak-acakkan.

Meskipun Ashley jauh lebih muda daripada aku, tapi pemikirannya benar-benar dewasa. Dia sudah menelan begitu banyak garam dalam kehidupan nyata, sehingga tidaklah sulit bagi Ashley untuk memberiku nasehat semacam ini.

“Aku tidak ingin merepotkan Taehyung, Ash.” kataku kemudian.

“Aku sudah membicarakannya dengan Taehyung.”

“Membicarakan soal apa?” tanyaku.

“Masa depanmu, kehidupanmu, semuanya. Semalam aku mendiskusikan banyak hal dengan Taehyung selagi kau menghabiskan waktu dalam survival mode.” sekarang Ashley terdengar seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan masa depan anaknya.

Apa saja yang sebenarnya sudah ia bicarakan bersama Taehyung? Mengapa keduanya bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di hadapanku padahal mereka sudah membicarakan dan merencanakan banyak hal?

“Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah terlalu tua untuk kembali belajar dan menempuh pendidikan. Bahkan dengan usiaku sekarang aku akan kesulitan mencari pekerjaan, meski hanya pekerjaan sambilan. Lantas aku harus bagaimana?” tanyaku, sedikit terbesit keputus asaan dalam kalimatku sebab aku sendiri menyadari bahwa aku sudah terlalu tua untuk segalanya.

Aku sudah terlalu lama menutup diri. Tidak, ini bukan salahku sepenuhnya. Aku mulai mengurung diri di mess sejak kematian kedua orang tuaku karena pembunuhan yang terjadi di rumah kami. Saat itu aku hanya bisa mengurung diri di dalam kamar dan menjadi pendengar bagaimana kedua orang tuaku di bantai di luar kamar.

Aku mungkin sudah mengurung diri dari interaksi sosial karena ketakutanku pada dunia luar yang mungkin memperlakukanku dengan kejam.

“Taehyung bilang, tim administrasi keuangan di perusahaan Taehyung sedang butuh karyawan magang. Kau dulu lulus dari sekolah keuangan, bukan? Aku dan Taehyung yakin kau bisa membantu di sana.”

“Tidak, tidak bisa, Ash. Sudah bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali aku mengingat hitung-hitungan keuangan yang dulu aku kuasai.” aku menolak, tentu saja Ashley tidak paham tentang berapa banyaknya kebiasaan lama yang sudah aku lupakan.

Apa ini timbal balik dari kehidupan dengan pola tidak biasa yang sudah aku lalui selama beberapa tahun ini?

“Kalau begitu, apa yang kau pikir menjadi potensimu saat ini?” tanya Ashley kemudian, dia tidak memilih untuk duduk di kursi yang ada di sampingku.

Mungkin Ashley takut gaunnya tergores, karena aku tahu benar gaun yang dia kenakan sangat mahal—melihat bagaimana benang emas dan ukiran permata terlihat menghiasi gaun tersebut.

“Selain bermain game, kurasa tidak ada. Kau tahu  sendiri, aku mengenal WorldWare lebih baik daripada dunia tempatku tinggal ini.” kataku membuat Ashley tersenyum simpul.

“Kalau begitu aku tahu satu orang yang bisa membantu.” ucapnya.

Apa lagi yang sekarang Ashley coba beritahukan padaku? Apa dia sudah merencanakan hal lain lagi padaku?

“Siapa?” tanyaku segera dijawab Ashley dengan mengedikkan dagunya ke satu arah. Aku kemudian memutar badan, menatap ke arah yang sekarang tengah Ashley pandang.

“Siapa dia—tunggu, dia Taeil?” tanyaku membuat Ashley terkekeh.

“Astaga, ingatanmu tentang avatar semua player WorldWare sepertinya begitu kuat. Tenang saja, dia dan aku sama-sama tahu kau HongJoo, dan jangan khawatir tentang Mr. Mysterious-mu itu karena seperti Taehyung, Taeil juga tidak tertarik pada urusan mereka di dalam WorldWare.” ucap Ashley, mengedipkan sebelah matanya ke arahku sementara kusadari aku tiba-tiba saja mengalami kecemasan yang berlebihan.

Hey, Ash.” pemuda yang kuyakini menjadi Apollo dalam House of Zeus itu menyapa, dia datang dengan dua orang teman.

Hey, aku sudah menunggumu sejak tadi. Perkenalkan, ini Jiho yang kuceritakan padamu.” Ashley berkata, membuat Taeil menatap ke arahku dan menyunggingkan sebuah senyum sebelum ia mengulurkan tangannya.

“Moon Taeil.” ucapnya.

“Song Jiho.”

“Ah, perkenalkan juga dua temanku ini, Jung Jaehyun dan Lee Jeno.” ucap Taeil memperkenalkan dua orang—satu dengan perawakan sedikit lebih besar dan tinggi daripada Taeil, satu lagi terlihat seperti seorang anak-anak.

“Song Jiho,” kataku dijawab mereka dengan sebuah senyuman.

“Aku pikir Taeil katakan kalau kami akan bertemu dengan kandidat di tim kami, yang mana orangnya? Ashley ini, atau Jiho?” Jaehyun kemudian angkat bicara.

“Song Jiho ini pasti orangnya, lihat saja bagaimana jemarinya, dia sudah jelas menghabiskan bertahun-tahun untuk bermain game.” ucap Jeno, tatapannya berfokus pada layar tablet pc yang ada di tangan sementara dia menyahuti.

Aku sendiri menatap Ashley dengan pandangan tidak mengerti. Apa yang sedang dua orang di depanku ini bicarakan?

“Ah, Taeil, tunggulah sebentar di mobil. Aku dan Jiho akan segera menyusul. Aku sedikit lupa memberitahu Jiho tentang tujuan pertemuan kita hari ini.” Ashley menepuk pelan bahu Taeil, seolah memberi isyarat pada pemuda itu untuk memahami ketidak tahuanku.

Hey, memangnya apa yang mereka harapkan dariku? Terlebih lagi, apa yang sudah Ashley katakan pada mereka?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pukul tujuh kurang lima belas menit, aku dan Ashley dibawa dengan menggunakan sebuah mobil mewah dari tempat pemotretan tadi. Mobil Ashley dibawa oleh Jaehyun dan Jeno, sementara kami bertiga menaiki mobil Taeil.

Umm, Ash, kemana kita akan pergi? Ini sudah hampir jam tujuh, sudah kukatakan kalau jam delapan aku harus—”

“—Tidak akan lama, Jiho. Aku sudah bilang kalau kau harus mengurangi porsi bermain online-mu itu dan mulai memikirkan soal kehidupan nyata, bukan?” Ashley memotong perkataanku, dia duduk di kursi depan bersama dengan Taeil.

“Ah, apa Jiho sudah tahu tentangku?” tanya Taeil pada Ashley.

“Ya, aku tahu kau Darkpollo.” ucapku menyahuti ucapan Taeil.

Pemuda itu kemudian tertawa pelan. “Astaga, dia memang benar-benar tahu. Sampaikan salamku pada Invisible Black, omong-omong. Dia sudah merebut empat level survival dariku dan aku masih belum bisa membalas dendam padanya.

“Apa Ashley sudah memberitahumu, Jiho? Kau dan Invisible Black adalah perpaduan player sempurna untuk menyerang dan bertahan.” Taeil dengan santai berkelakar, apa dia benar-benar tidak mempermasalahkan perihal keterlibatanku dengan Baekhyun?

Apa mungkin, aku saja yang berpikir berlebihan tentang mereka? Padahal mereka semua tidak ambil pusing soal permainan? Ah, aku agaknya sudah benar-benar menghabiskan waktu dalam game sehingga perasaan dan pemikiranku tak lagi bisa mengikuti pemikiran mereka.

“Karena Ashley belum mengatakan apa-apa, biar aku saja yang menjelaskan. Jadi, aku ada di semester terakhir pembelajaran master sarjanaku. Sejak lulus sekolah menengah aku berfokus pada pekerjaan untuk menjadi pengembang game. Ah, apa kau tahu tentang NG Game Factory?

“Aku sedang dalam proses untuk menjadi bagian dari tim pengembang terakhir yang akan mereka buat. Tim Delta, namanya. Dan aku sudah dapat lima orang dalam teamku, semuanya berasal dari pemain WorldWare.

“Kalau kau mungkin mengenalnya, mereka adalah player dalam WorldWare. Jeno adalah Hermes dalam House of Zeus, dia adalah staff ahli cyberku, kemudian Jaehyun berasal dari Third Moon, dia ahli visualisasi musik. Lalu ada S-Clown—Seo Herin, dia adalah character designer.

“Ada Kang Daniel dan Ong Seungwoo, dua orang ini berasal dari ANonymous dan sama-sama berperan sebagai pengembang software dan programmer. Aku sendiri bersama dengan Daniel dan Seungwoo, bagian pengembangan game.

“Tapi kami tidak punya staff ahli untuk menguji coba game yang kami ciptakan. Jauh sebelum Ashley menceritakan tentangmu, aku sudah mengenal HongJoo sebagai player wanita terkuat dalam server. Kebetulan sekali kau adalah kenalan Ashley, dan sekarang, aku menawarkanmu untuk jadi bagian dari tim pengembang game-ku.”

Aku terdiam sejenak. Berusaha mencerna penjelasan yang Taeil katakan padaku sementara Ashley sendiri sejak tadi hanya ber-hm ria, mengiyakan semua penjelasan Taeil.

“Katamu semua anggota timmu berasal dari player WorldWare, memangnya kenapa?” tanyaku, mengapa juga ia harus secara spesifik mencari player yang berasal dari WorldWare? Memangnya dia sedang berusaha menciptakan reuni—

“Aku bekerja dalam tim pengembangan game ini, Jiho-ssi.”

“Apa?” aku kemudian terbelalak.

“Selain versi terbaru yang akan rilis akhir bulan depan, akan ada banyak pengembangan dalam game yang harus terus terjadi. Dan tim Delta adalah satu dari enam tim yang akan bersaing untuk mendapatkan tempat dan pengakuan sebagai tim yang berhasil menciptakan versi terbaru dari WorldWare.

“Itulah mengapa, kami butuh seorang player kuat yang tidak hanya ahli dalam memainkan jemari di atas keyboard, tapi juga ahli bertahan hidup dalam survival mode. Dan kau adalah orang yang paling sempurna, HongJoo.

“Selain itu, aku juga sudah memilih orang-orang paling netral dalam WorldWare. Karena kau tahu sendiri bagaimana ‘liar’-nya persaingan dalam WorldWare bukan? Antar para player saja sudah tercipta persaingan yang cukup mengerikan. Dan aku tidak mau sembarangan merekrut anggota timku.”

Ashley berdeham pelan.

“Dia juga pintar merancang sudut pandang, omong-omong. Sering aku dengar bagaimana Jiho berkomentar tentang kekurangan-kekurangan dalam WorldWare. Dan jika dibandingkan dengan player netral lainnya yang hanya ada segelintir saja dalam game, Jiho adalah yang terkuat. Yah, setelah Invisible Black tentu saja.”

Aku akhirnya terdiam, larut dalam pemikiranku tentang bagaimana kehidupanku akan berlanjut jika aku mengiyakan ajakan Taeil sekarang.

“Ada seorang lagi yang kukenal sebagai seorang yang netral dan mungkin akan berguna di dalam tim ini. Dia juga berasal dari Town kalian, Medusaria.” ucapku kemudian, teringat pada kebiasaan Tarin saat kami online, dia terus-terusan bicara tentang perpaduan warna dan pakaian yang karakter-karakter dalam WorldWare gunakan.

“Memangnya kau mengenalnya?” tanya Ashley tidak mengerti.

“Tidak juga, tapi aku tahu siapa dia. Make-up artist yang bekerja untukmu, Ash. Namanya Lee Tarin.”

“Ah! Tarin!? Benar, benar. Dia tidak hanya ahli dalam mendandani wajahku tapi juga begitu pintar berkomentar tentang pakaian yang kukenakan. Dia punya fashion sense yang sempurna, Taeil. Dia pasti bisa membantu Herin.” ucap Ashley kemudian, agaknya dia baru menyadari juga tentang identitas Medusaria yang selama ini bermain game bersamanya.

“Ternyata dia adalah Medusa, astaga, dia satu-satunya di Town kita yang dekat dengan Jiho, selain aku tentunya. Jadi tentu saja Jiho mengenalnya dengan baik.”

“Baiklah, aku akan bicara dengannya nanti. Lalu bagaimana denganmu sendiri, Jiho? Tertarik untuk menjadi bagian dari Tim Delta?” tanya Taeil kemudian kujawab dengan sebuah anggukan.

“Ashley sepertinya sangat khawatir pada kehidupanku dan bagaimana aku selama ini menjalaninya. Jadi kupikir ini bukan tawaran yang buruk, aku rasa aku bisa ikut membantu.”

Taeil kemudian tersenyum simpul.

“Oke, kita hampir sampai di kantor tidak resmiku. Minggu depan, setelah aku mengirim CV anggota Tim Delta ke NG Game Factory, kita baru bisa menempati kantor Tim Delta di NG Company. Kau tidak keberatan jika harus masuk ke survival mode dan mengikuti battle dengan kami?” tanya Taeil.

Battle?” ucapku tidak mengerti.

“Ya, semua orang yang masuk ke Tim Delta harus mencoba battle melawan kami semua. Oh, tenang saja, kami tidak memburu game over padamu, hanya ingin tahu bagaimana caramu bermain. Terutama karena kau adalah player trial kami, kau tidak boleh kalah dengan player trial dari tim lainnya, Jiho.”

Apa dengan bergabung dengan Taeil dan kawan-kawannya akan bisa membantuku? Lagipula, efek apa yang mungkin akan terjadi jika aku berusaha memperbaiki kehidupanku?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku sedang berada dalam survival mode sekarang, dengan menggunakan survival tube yang sudah dimodifikasi oleh Taeil dan kawan-kawannya. Mereka benar-benar sekumpulan player jenius. Heran sekali mengapa nama mereka tak pernah muncul dalam jajaran rank tertinggi padahal mereka bisa bermain dengan sangat luar biasa.

“Jeno! Ayo serang dia!” Jaehyun berteriak, dari yang kuperhatikan, Jaehyun dan Daniel lebih mendominasi permainan karena keduanya pandai dalam serangan jarak dekat. Herin di sudut sana lebih suka menyerangku dengan magical potion, sedangkan Jeno dan Seungwoo menyerangku dari jarak jauh.

Taeil sendiri menjadi pengawas, melihat ranknya sekarang, dia jelas pemilik rank tertinggi dalam tim ini, oh—ada aku tentunya. Pasti Taeil menunggu anggota timnya yang lain untuk menginjak give up sebelum dia menghadapiku.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit saat aku berhasil melumpuhkan Herin dengan melemparkan sebuah magical potion padanya. Gerakan Herin terlalu lambat untuk bisa mengelak dari seranganku.

Jeno adalah yang berikutnya. Health barnya segera berubah kritis saat aku menyerangnya dengan menggunakan ministry sword andalanku. Aku sengaja tidak menggunakan equipment Baekhyun karena aku sendiri penasaran tentang kemampuanku.

Hey! Kau tidak katakan kalau akan membuat health barku hancur!” Jeno berteriak sebelum dia dengan kesal menginjak give up.

Daniel dan Seungwoo berhasil kulumpuhkan sekaligus, dengan serangan jarak dekat yang kulakukan pada keduanya. Daniel menginjak give up segera setelah health barnya berubah kritis karena ulahku, sedangkan Seungwoo sendiri memilih menjaga jarak denganku.

“Ayo, Seungwoo-ssi, aku pikir kau ingin mencoba bertarung dengan ministry sword ini.” aku berkata, ucapan yang kemudian membuat Seungwoo tergelak.

“Tidak, tidak perlu nona. Aku sudah mengenal baik ministry swordmu yang terkenal itu, dan tidak tertarik untuk menjadi kritis hanya karena serangannya. Aku give up sekarang!” ucapnya sebelum ia menginjak give up, meninggalkanku bersama dengan Taeil di tengah arena.

“Kita sudahi saja, health barmu tinggal separuh. Dan aku sudah sangat terkesan karena battle yang baru saja kutonton. Aku tak pernah melihat gerakan player lain sesempurna dirimu, Jiho. Kau benar-benar berbakat dalam permainan ini.” ucap Taeil kujawab dengan gelengan pasti.

“Aku masih punya tiga menit untuk mengalahkanmu.” kataku.

“Bagaimana aku bisa membiarkanmu menyerangku selama tiga menit padahal dia ada di sana dan siap menyerangku kapan pun?” ucap Taeil kemudian, mengedikkan dagunya ke arah sudut arena.

Aku kemudian memutar pandang, menyadari bahwa seorang player lagi sudah ada di tepi arena dengan blood swings yang menari-nari di sekitar tubuhnya, equipment langka itu pasti sudah bersiap menerjang Taeil.

“Ada apa dengan kalian? Bagaimana dia bisa datang ke sini? Apa kau menghubunginya?” tanya Taeil kemudian, agaknya dia merasa heran juga mengapa bisa player satu itu bisa muncul di sana.

Ya, siapa lagi kalau bukan Baekhyun. Aku bisa melihat ekspresi kakunya di sudut arena. Kemarahan jelas mendominasi rautnya, dia pasti berpikir kalau aku tengah diserang.

“Aku tidak menghubunginya, tapi kami terikat. Dia pasti mengira aku tengah diserang, kau tahu sendiri kami berdua adalah musuh WorldWare sekarang bukan? Tunggu sebentar kalau kau tidak keberatan, aku akan bicara dengannya dulu.” ucapku kemudian, menyimpan ministry swordku sebelum Taeil kemudian juga menyimpan archerynya.

“Baiklah, aku bisa menunggu.” Taeil berkata.

Aku kemudian melangkah menghampiri Baekhyun, sementara dia masih bergelut dengan blood swings yang entah mengapa di mataku terlihat seperti beberapa ekor ular berwarna merah darah yang melayang di udara kosong di sekitar tubuh Baekhyun.

Hey, Baekhyun, sejak kapan kau di sini?” tanyaku menyapa, berharap dia bisa menunjukkan mood yang baik karena after effect itu masih ada di tubuhnya dan dia terlihat dua kali lipat lebih mengerikan saat ini.

“Menurutmu sejak kapan?” ia balik bertanya dengan nada dingin.

Dari yang sekarang kudengar, aku seratus persen yakin kalau Baekhyun memang benar-benar berpikir jika aku tengah diserang oleh mereka.

“Aku bisa jelaskan, keadaannya tidak seperti yang kau pikirkan sekarang, Baekhyun.”

Alis Baekhyun terangkat saat mendengarnya. “Memangnya apa yang kurang jelas di sini? Terang aku tahu kau tengah diserang. Mengapa kau tidak memberitahuku jika kau diserang? Apa kau mencoba untuk membohongiku lagi, HongJoo?”

Oh Tuhan, mendengar bagaimana Baekhyun sekarang memanggilku HongJoo dan bukannya Jiho sekarang jelas membuatku tahu kalau dia lagi-lagi salah paham.

“Aku bisa menjelaskannya, Baekhyun, tapi tenanglah dulu, oke?” pintaku.

“Kebohongan apa lagi yang harus kudengar?”

Sungguh, bisakah sekali saja Baekhyun dan aku tidak bertemu di timing tidak tepat seperti saat ini?

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

ECIEH, di level ini Baekhyunnya enggak banyak, yang ada malah penuh Jiho dan kawan-kawan baru :v wkwk sekalinya muncul si cabe malah marah-marah enggak jelas. Itu marah atau cemburu, si cabe mah suka begitu, baperan, ih.

Anyway di sini enggak banyak istilah jadi glossarium juga enggak diperluin, aku yakin karena Game Over yang up-nya paling rutin kalian-kalian juga udah mulai pada paham sama cerita ini dan istilah-istilah astral di dalamnya, HOHOHO.

Btw, aduh, kenapa kokoro aku goyah sama Tim Delta yang Taeil buat? Sekedar spoiler sih kalo Tim Delta ini nanti juga ngebawa Jiho ke dalem masalah lain di kehidupan nyatanya yang bakal berhubungan sama game juga, BUAKAKAKAK, sesungguhnya spoiler itu amat sangat menyenangkan.

Terus terus apa lagi ya, oh iya :v level depan adalah level yang ‘panas’ HAHAHA tebak aja deh di level depan apa yang bakal terjadi sama Baek-Ho ini.

Sekian dariku, salam kecup dariku yang sampe tanggal lima belas ini bakal terjebak sama bias imunisasi MR dan pelatihan luar kota :’D do’akan kuselamat sampai tujuan!

Salam, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

24 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 13 [Aftermath] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Lv. 15 [Dawn Attack] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 14 [Perfect Match] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Eeecieeeee cembuluuuuuuu
    Baek mah bawaannya PMS muluuu
    Dengerin dlu penjelasan jiho baru deh malah malah. Eta terangkanlaaaaah.

    Bener niih setuju sama ashley dan tae, jiho kudu fokus juga sama real life. Kudu seimbang yaak. Biar sama2 enak.

    Kudoakan kamu sampe tujuan risshhhh
    Fighting

  4. “kebohongan apa lagi yg harus aku dengar?”
    deg,, seketika gue merasa kaya ada kesel keselnya gitu, tapi entah apa penyebabnya wkwk
    tapi sumpah, kenapa ini ff bikin deg2ser siiih suka bangeeeet
    semangat terus nulisnya kaa
    oh iya, sebenernya aku udah sering nyoba komen tapi gatau kenapa ga pernah muncul/keliatan
    semoga yg ini ada deeh

  5. duh duh duh seneng ny dh keluar
    baca lv ini kok banyak senyum ny y ak krn bnyk yg d ceritqin dunia nyata ny jiho jd ngerasa duniq nyata ny aku hohoho, yesss next level bakalan lbh bnyk baek-ho kn kak? aku berharap mrk bakal ketemu d perusahaaan itu, klo ga slh baekhyun jd progammer kn

  6. ongniel haha..
    tim delta bawa pengaruh buruk nih..
    baekhyunnya cuma secuil ih…
    nanti ada tentang keluarga jiho yang dibunuh ga ka?
    semangat keliling imunisasi dan pelatihannya ka

  7. Setelah tau ini ff di lanjut girangnya ga ketulungan duhh 😀 btw member wanna one ikutan juga sih disini wkwk.. Dan nama couple Baek-Jiho = Baek-Ho jadi inget Kang Dong Ho yang gagal debut bareng wanna one T-T *jadi curhat* dan Baekhyun nya nyempil bentar doang di akhir pula -_- aku berharap kalo part selanjutnya bakalan full Baek-Ho dan lagi manis”an hahaha.. Keren lah makin lama ini ff, semangat lanjut author-nim ^^

    • Mbb ya sayangs :* BUAKAKAKAKAKA IYA MAKLUM AUTORNYA LAGI DEMEN WANNA ONE JADI IKUTAN DEH MEREKA XD wkwk, aku juga sedih loh karena Dongho gajadi debut… huhuhu…

  8. FIRASAT YOON GAK ENAK KAK IRISH, BOLEHKAH YOON MENCURIGAI TAEIL DKK?? APA MEREKA MAU MEMBACA BAGAIMANA CARA JIHO BERTARUNG DAN BERTAHAN BIAR KALO MEREKA BATTLE UDAH MAHAMI JIHO DAN BISA SERANG KELEMAHANNYA??? ATAU WAH MANCING BAEK KELUAR JUGA?
    hmm gitu ya yg udah terikat, yoon kira jiho bakalan absen dr ketemuan sama baek, eh baek nya yg muncul. Uhuhu apa baek marah kalo jiho jadi bahan percobaan tim pengembangan gamenya? gak rela kah? khawatir ato gimana?
    wih kak irish toh yg keliling imunisasi mr, semangat tenaga medis 💪😘

    • Mbb ya sayangs :* hush, jangan suudzon, ketularan Jiho aja kamu Yun XD wkwkwkwkwkwk mereka baik kok, jangan kuatir, ini bukan spoiler tapi godaan XD wkwkwkwk

  9. Kak irish, maaf yah kalo komentarnya gk sesuai 😀 kak, mau nanya. Ff DREAM udah gk dilanjut yah? Soalnya aku baru baca dan cman sampe chapter 12 T.T

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s