Job’s Goal : Finding Love [Chapter 10] -anneandreas

kak-anne-job-goals-by-irish

JOB’S GOAL : FINDING LOVE

.

a chaptered fiction with Romance feel in Family and Works life rated by T

staring by

EXO’s Byun Baekhyun, Kim Minseok, Kim Jongdae and Do Kyungsoo
INFINITE’s Lee Howon and Nam Woohyun
OC’s Do Kyungrin and Do Ahrin

.

Poster @ IRISH
I own the plot
all cast except OC belong to their real life

.

⇓⇓ PREVIOUS CHAPTER ⇓⇓

Teaser – Chapter 1 [Kembali]  – Chapter 2 [Perkenalan] – Chapter 3 [Laporan Keuangan] – Chapter 4 [Pabrik Kebarakan (1)] – Chapter 5 [Pabrik Kebakaran (2)] – Chapter 6 [Audit Internal] – Chapter 7 [Undangan Sosialisasi (1)] – Chapter 8 [Undangan Sosialisasi (2)] – Chapter 9 [Long Weekend]

-10-

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

©anneandreas2k17

 

Kembali seperti biasa, pagi hari di apartemen keluarga Do diisi suara derap langkah dari sepasang kembar dan Kyungsoo yang sedang memanggang roti di dapur apartemen.

“Aah, liburan sudah habis. Head to head dengan audit internal lagi. Belum-belum sudah pusing kepala rasanya.” racau Reen yang baru keluar dari kamarnya dengan sudah berpakaian rapih lantas mendudukkan dirinya di kursi ruang makan.

“Kau harus semangat, noona. Demi masa depan Byun Electrics!” jawab Kyungsoo sembari menyodorkan sepotong sandwich selai strawberry ke hadapan kakak kesayangannya itu.

“Yang benar, aku harus semangat supaya nama baik Do Company tidak rusak di mata Byun Electrics.” Reen menyambar sandwich itu lantas memasukkan sepotong gigitan besar ke dalam mulutnya. Kyungsoo tertawa.

Hening sesaat kemudian Reen menatap Kyungsoo dan berbisik, “Dia benar-benar putus dengan Jongdae?”

Kyungsoo mengangkat bahu.

“Sejak kejadian perselingkuhan yang tertangkap itu , dia menjadi lebih diam.” Reen mengucap lagi, namun bibirnya bungkam ketika si topik pembicaraan melangkah keluar kamar dengan sudah mengenakan seragam bidan. “Aku tidak putus, kami hanya break. Instropeksi diri.”

Kyungsoo mengangguk sambil menatap Reen, matanya memberi sinyal yang seolah berkata, ‘bukankah sama saja?’

“Omong-omong aku ikut kau dan Woohyun oppa hari ini. Dia bisa mengantarku juga ke rumah sakit ‘kan?” ucap Arin lagi, kini ia sudah mendudukkan dirinya sambil menggigit sepotong sandwich yang ada di meja makan.

Reen mengangguk, kemudian perhatiannya teralih pada bunyi panggilan telepon yang berasal dari handphonenya, Howon oppa. Mengapa pagi-pagi seperti ini menelepon?

.

.

.

Di sinilah Reen sekarang, di dalam mobil Howon. Perubahan rencana tiba-tiba terjadi setelah Howon berkata bahwa dia sudah menunggu Reen di lobby apartemennya. Reen segera menghabiskan sandwich yang tadi dimakannya, lantas berpamitan pada Arin dan Kyungsoo setelah sebelumnya menitip pesan pada Arin, “Bilang Woohyun oppa, antar kau saja. Aku berangkat dengan Howon oppa.”

“Mengapa pagi-pagi ada di sini?” tanya Reen, menoleh pada Howon yang sudah mengemudikan mobilnya menjauh dari apartemen.

“Rindu.” jawab Howon singkat.

Reen menoleh, namun enggan menjawab.

“Aku merindukanmu. Sepertinya sudah lama sekali tidak melihatmu, jadi begitu pekerjaan di Gimpo selesai semalam, aku langsung pulang ke Seoul. Tapi ternyata aku malah tidak sanggup menunggu hingga kita bertemu di kantor, jadi aku memutuskan untuk menunggumu di apartemen.”

“Seharusnya kau beristirahat dulu.” jawab Reen.

Howon tidak menjawab namun ia lantas menepikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian matanya menatap Reen hangat, tampak jelas kerinduan yang menyeruak dari sorotnya.

“Aku ingin kita seperti dulu. Aku merasa seperti hampir gila setiap hari karena merindukanmu.” Howon mengucap, tangannya meraih jemari Reen.

Reen bungkam, tidak tahu apa yang harus ia jawab. Terus terang jantungnya memang masih suka berdetak kencang setiap mendapat perlakuan manis dari mantan pacarnya itu. Tapi apakah benar detak itu terjadi karena cinta yang bersemi lagi?

“Aku rasa aku tidak bisa.” jawab Reen akhirnya, Howon menunduk, ia tersenyum namun senyumnya tampak begitu pilu.

“Aku nyaman berada didekatmu, juga jantungku suka berdebar setiap kali mendapat perlakuan manis darimu. Tapi setiap aku pikirkan apa artinya itu, aku tidak bisa menyebut itu karena aku ingin mengulang perasaan itu lagi. Rasa debarnya berbeda dengan yang dulu kurasakan sewaktu kita berpacaran, jadi kupikir ini bukan cinta.” Reen melanjutkan, Howon mengangkat wajahnya dan menatap Reen tepat di matanya.

“Kau menyukainya?”

“Siapa?” Reen menjawab bingung.

“Dia, jika aku sudah membuatmu nyaman bahkan sampai berdebar namun kau tetap tak ingin bersamaku, itu pasti karena di hatimu sudah ada orang itu, Reen. Kau sudah memilih dia.”

Reen menatap Howon, tak mengerti akan maksud laki-laki di hadapannya itu.

“Meskipun sedikit tidak rela, namun aku berharap kau bisa bahagia dengan laki-laki itu.” Howon mengucap lagi, kemudian ia kembali menyalakan mesin mobil dan mengendarainya menuju kantor mereka.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Reen berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya dengan sedikit perasaan bersalah, apalagi melihat Howon yang berjalan melaluinya kemudian lekas menyibukkan diri sesaat setelah ia mendudukkan dirinya di kursi. Walau diungkapkan dalam bahasa halus apapun, tetap saja yang Reen utarakan tadi adalah sebuah penolakan cinta pada Howon, dan sedikit banyak Reen merasa terganggu karenanya.

“Bagaimana proyek Gimpo?” Baekhyun membuka suara, memecahkan keheningan yang entah mengapa terasa menyiksa.

“Progres terus membaik, mungkin nanti malam atau besok aku akan ke sana lagi untuk memantau.” jawab Howon terkendali, Reen menoleh dan menatap mantan pacarnya itu, ini bukan bentuk melarikan diri kan?

“Kau tak perlu terlalu sering ke sana, hyung. Selama kau bisa memantau dari sini, di sini saja. Kau akan terlalu lelah jika sering bulak-balik Seoul-Gimpo.” Baekhun menimpali lagi.

Araso. Tapi kurasa memang ada beberapa hal yang perlu kulihat lagi di sana. Aku akan pergi ke kantor pajak sebentar.” Howon melangkah keluar dari ruangan, menyisakan Baekhyun dan Reen yang kini saling tatap dalam kebisuan.

“Kalian bertengkar?” Baekhyun angkat suara lagi, kali ini ia menatap Reen.

Reen mengangkat kepalanya dan ganti menatap Baekhyun, “Tidak. Memangnya kami kenapa?”

Baekhyun mengangkat bahu namun wajahnya jelas-jelas tampak menunjukkan ketidakpercayaan, “Sampaikan maafku pada Arin.”

Reen yang baru hendak menenggelamkan diri dalam pekerjaan langsung menghela napas panjang yang terdengar sangat menyebalkan, “Kebetulan kau mengungkitnya, Baekhyun-ssi.”

“Sungguh, dengarkan aku dulu.” Baekhyun terlihat gagu karena untuk pertama kalinya ia melihat Reen berbicara dengan nada seperti itu, bahkan untuk sesaat Baekhyun sempat yakin kalau dirinya akan benar-beanr ditampar dengan gagang sapu oleh saudara kembar mantan pacarnya itu.

“Baiklah, katakan alasanmu.”

“Iya, kutahu kau pasti berpikir bahwa aku masih mencintai Arin, dan aku tak akan mengelak itu. Tapi aku sunguh tak pernah berharap menjadi pengganggu hubungan antara dia dan pacarnya. Aku tak menyangka dan benar-benar merasa bersalah karena pacarnya melihat aku bersama Arin hari itu.”

“Lalu, kau berharap mereka putus?” Reen memancing.

“Aku bohong jika aku mengatakan tidak.” Baekhyun menunduk, Reen melemparnya dengan segumpal kertas.

“Aku tidak peduli laki-laki mana yang akan dipilih saudara kembarku. Baik itu Jongdae ataupun kau. Aku hanya ingin ia bersama laki-laki yang baik, kau tahu. Aku tidak membencimu –ya juga tidak menyukaimu sih, whatever. Tapi intinya kejar jika kau ingin dapatkan dia, jangan jadi pengecut seperti ini.”

Baekhyun menatap kembali Reen, diam-diam hatinya berdesir. “Jadi kau setuju jika aku menjadi sauadara iparmu nanti?”

“Yah, setuju tidak setuju sih. Tapi kau juga harus sportif, jika nanti Arin tidak memilihmu, kau tidak boleh memaki-makiku di kantor.” Reen bercanda, dijawab Baekhyun dengan lemparan segumpal kertas yang tadi ditimpukkan Reen pada dirinya.

“Tapi serius, sampaikan maafku padanya.” Baekhyun berucap lagi.

“Minta maaf sendiri saja sana.” jawab Reen sekenanya lalu bangkit dari kursinya dan melangkah.

“Kau mau kemana?” Baekhyun bertanya.

“Ke pantry berbincang dengan Myungsoo, muak sekali melihat tumpukan laporan untuk audit internal itu.” Reen menjawab asal sambil terus melangkah.

“Wow wow wow. Mentang-mentang sudah bukan karyawan baru lagi. Kudoakan kau lembur terus sampai audit internal ini selesai. Ha!” jerit Baekhyun dari ruangan, Reen tertawa.

.

.

.

“Rasanya sudah sangat lama tidak melihatmu kemari, Reen.” sapa Myungsoo ketika melihat Reen masuk ke dalam pantry.

Reen mengangguk, “Iya, seperti sudah seabad rasanya. Aku rindu cappucino yang langsung diminum di sini.” jawabnya sambil melangkah menuju lemari dan membuat cappucinonya sendiri.

“Bagaimana pekerjaan?” tanya Myungsoo ramah.

Heol. Jangan bahas pekerjaan di sini. Aku ke sini karena muak akan itu semua, Myung.” jawab Reen dengan nada frustasi, sementara Myungsoo tertawa. “Araso araso, nikmati saja waktumu di sini.” jawabnya.

Reen menghabiskan waktunya di pantry dengan berbincang bersama Myungsoo hingga akhirnya laki-laki itu keluar dari pantry karena sudah waktunya untuk mengambil gelas-gelas kosong dari meja staff. Tidak berapa lama kemudian, karena bosan Reen mulai memainkan handphonenya, tapi benda kotak pipih itu juga cukup menjenuhkan, tidak banyak yang bisa Reen lakukan di sana. Karena kehabisan ide, akhirnya ia melakukan hal yang biasanya ia lakukan pada benda kotak itu, menekan-nekan layarnya lalu mendekatkan handphonenya ke telinga.

“Woohyun oppa. Sedang apa?” sapa Reen sesaat setelah Woohyun menjawab panggilan.

“Kau pasti sedang bosan makanya meneleponku, kan?” jawab Woohyun singkat, Reen tertawa.

Eoh. Kau paham sekali. Apakah kau sedang sibuk?” tanya Reen.

“Sedikit, sebentar lagi ada meeting, nanti malam kita makan malam bersama, bagaimana?”

“Oke, semangat manager marketing Do Company!” ucap Reen sebelum menutup sambungan telepon mereka.

 

Reen kembali ke ruangannya tidak lama setelah itu, kembali menyibukkan diri dengan rentetan angka-angka menyebalkan yang mau tidak mau harus diolah hingga tanpa diperhatikannya waktu telah bergerak dan matahari nyaris terbenam.

“Aku pulang duluan, besok pagi aku akan langsung berangkat lagi ke Gimpo.” Howon membuka suara sembari bangkit dari tempat duduknya.

“Hati-hati di jalan, hyung. Aku juga pulang dulu.” Jongin merespon, sementara Baekhyun mengangguk.

“Apa kau lembur lagi?” tanya Baekhyun, kali ini atensinya menatap Reen.

“Ah? Tidak, sebentar lagi aku pulang. Ada pekerjaan yang tanggung untuk ditinggal. Pulang saja lebih dulu.” jawab Reen.

Tidak lama berselang setelah kepulangan ketiga laki-laki di ruangannya itu, Reen pun memutuskan untuk pulang.  Ia baru hendak keluar dari ruangannya ketika Minseok masuk ke dalam sana, ia tersenyum. Oh, ini pertama kalinya lagi mereka bertatap muka setelah kejadian telepon di malam hari saat long weekend waktu yang lalu.

“Sudah mau pulang?” tegur Minseok ramah, Reen mengangguk.

“Keberatan jika makan malam dulu bersamaku?”

Reen berpikir sebentar kemudian menyunggingkan senyum ringan, “Tidak. Ayo kita makan malam.”

.

.

.

“Ah, aku baru ingat untuk membetulkan AC mobil ini. Acnya rusak, kau buka saja jendelanya. Tidak apa-apa ‘kan?” ucap Minseok kecewa sesaat setelah mereka berada di dalam mobil.

Reen tertawa ringan, “Tidak apa-apa, aku buka saja jendelanya.”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Woohyun memainkan handphonenya di dalam mobil yang terparkir di depan kantor Reen, meski gadis itu tidak memintanya untuk menjemput, Woohyun berinisiatif untuk menjemput gadis itu toh tadi siang mereka sudah berjanji untuk makan malam bersama. Ia baru hendak menelepon Reen ketika dilihatnya sebuah mobil dengan jendela terbuka melintas pelan di depannya.

“Reen?” Tanpa sadar Woohyun berucap.

Tidak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya, Woohyun melakukan panggilan telepon untuk gadis itu.

“Halo, Reen? Kau dimana? Ah, baru saja keluar dari kantor. Ah, tidak apa-apa. Kita bisa makan malam bersama lain kali. Tidak-tidak, kebetulan aku juga masih di kantor dan belum berangkat untuk menjemputmu. Tidak masalah. Hati-hati di perjalanan pulang.”

Woohyun mendesah setelah memutuskan panggilan telepon itu, mau tak mau ia mengakui dirinya sedikit kecewa. Entah mengapa ia mulai merasa ada yang kurang bila dalam satu hari ia tidak melihat Reen. Ia baru hendak mengemudikan mobilnya keluar dari kantor Reen saat ia menerima telepon dari Kyungsoo, berbincang sebentar dengan laki-laki itu kemudian menyepakati untuk makan malam bersama tidak jauh dari kampus Kyungsoo.

.

.

.

“Kau sudah lama menunggu?” sapa Woohyun setelah ia masuk ke dalam cafe dan melihat Kyungsoo sedang duduk sendiri di sana.

“Belum, Sungjong baru saja pulang.” jawab Kyungsoo sambil menyesap ice americano pesanannya.

“Mengapa tidak mengajaknya juga?”

“Katanya ia harus menyelesaikan revisi skripsinya malam ini, dengar-dengar dosen pembimbingnya lusa akan pergi pelatihan ke New Zealand.”

“Wow, sulit juga jika pembimbing skripsi pergi jauh seperti itu.” Woohyun berkomentar.

Kyungsoo mengangkat bahunya, kemudian mengisi sekon berikutnya dengan hening.

“Kau mengapa tidak bersama Reen noona?” Kyungsoo membuka percakapan kembali.

“Dia pergi bersama Minseok.” jawab Woohyun singkat.

Sebuah ‘oh’ singkat dari Kyungsoo kemudian keheningan kembali mengisi ruang antara mereka sebelum akhirnya Kyungsoo memberanikan dirinya untuk mengutarakan pertanyaan yang selama ini hanya ia pikirkan sendiri, “Hyung, bolehkah aku bertanya? Sebagai sesama laki-laki.”

Wae?” jawab Woohyun singkat.

Hyung, kau menyukai Reen noona ‘kan?”

Woohyun terdiam, ia bahkan tidak mengangkat kepalanya. “Jangan katakan hal ini padanya.”

“Aku benar. Kau memang menyukainya.” Kyungsoo mengucap lagi.

“Simpan rahasia ini sendiri, Kyung. Aku tidak ingin membebaninya, aku sudah cukup bahagia menjadi sahabatnya. Aku tidak akan menjadi serakah dengan mengutarakan perasaanku lalu mengambil resiko kehilangan.” tutur Woohyun.

“Kau benar-benar menyukainya.”

“Sampai kapan kau mau mengulang-ulang kalimat itu?” Woohyun akhirnya memandang Kyungsoo, pandangan sebal terselip diantara ekspresi wajahnya. Kyungsoo tertawa.

Aniya. Aku selama ini bertanya-tanya sendiri. Kalau memang hanya sebatas persahabatan, berapa banyak waktu yang kau buang sia-sia untuk noonaku?”

“Maksudmu menjadi abudemennya? Kau pikir aku mengantar jemputnya supaya pada akhirnya dia mau berpacaran denganku?” Woohyun menaikkan nada bicaranya.

“Mengapa kau menyimpulkan seperti itu?” Kyungsoo meledak dalam tawa.

“Terserah kau saja. Ayo pindah cari resto untuk makan malam.” Woohyun mengalihkan pembicaraan.

“Ayo. Tidak ajak noona sekalian? Mungkin ia sudah pulang dari berkencan dengan si Minseok itu.”

“Terserah! Dan kuingatkan, mereka belum berpacaran.” jawab Woohyun sambil melangkah menjauhi Kyungsoo yang masih tertawa.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Arin menatap pantulan wajahnya di cermin lipat yang ada di dalam tasnya, shiftnya sudah selesai dan ia akan pulang tapi entah mengapa ia merasa enggan untuk melangkah keluar dari rumah sakit. Bukan karena ia sedang bertengkar dengan saudaranya atau apa, ia merasa ini belum larut malam dan jika ia pulang sekarang maka ia hanya akan menghabiskan sisa malamnya dengan melamun dan memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Jongdae.

Setelah sempat berbincang sebentar dengan perawat di ruang UGD, Arin akhirnya memiliih pulang juga. Ia melangkahkan kakinya dengan gontai dan malas-malasan hingga akhirnya kakinya sempat memaku di lantai sebab ia menangkap siluet yang sangat dikenalnya sedang bersandar di dinding depan rumah sakit.

Antara senang dan takut, Arin memberanikan dirinya kembali meniti langkah mendekati siluet yang begitu dirindukannya itu. Hingga tinggal beberapa langkah, siluet tersebut membalik tubuhnya dan akhirnya matanya menangkap Arin. jantung Arin mencelos, ia takut laki-laki itu akan beranjak pergi setelah melihat wajahnya. Ia sudah nyaris menggila ketika akhirnya laki-laki itu yang mengambil langkah lebar lalu menarik Arin masuk ke dalam pelukannya.

“Aku merindukanmu.”

Arin balas memeluk laki-laki itu, laki-laki yang membuat hidupnya belakangan menjadi tak berwarna itu, “Maafkan aku, Jongdae-ya.”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

“Apa kabar?” Minseok memulai percakapan setelah akhirnya dirinya dan Reen duduk berhadapan di salah satu resto sederhana setelah memesan makanan masing-masing.

“Seperti biasa, hanya sibuk bekerja.” Reen menjawab, berusaha tidak terdengar kaku.

“Maaf.” Minseok mengucap, membuat Reen menatap matanya.

“Maaf kenapa?” Reen menjawab bingung.

“Kupikir aku salah mengajakmu ikut denganku ke acara reuni itu. Aku merasa hubungan kita menjadi ganjil sejak saat itu.”

Reen tersenyum sambil menggeleng, “Ah gwaenchanha.”

“Bukankah aku tidak sopan? Bukankah seharusnya aku menyatakan perasaanku dahulu baru memperkenalkanmu pada teman-temanku?”

Reen kali ini tidak menjawab.

“Aku menyukaimu.” lanjut Minseok.

Jantung Reen terasa seperti berhenti berdetak sesaat, bagaimana mungkin dalam satu hari ia harus berhadapan dengan dua laki-laki yang menyatakan perasaan padanya? Perasaan tidak enaknya pada Howon tadi pagi bahkan belum sirna, tapi malam ini juga ia langsung dihadapkan kembali pada pertanyaan serupa.

“Aku.. Aku tidak tahu apa yang harus kujawab.” Reen menjawab ragu.

Minseok mendesah lalu tersenyum.

“Aku tahu ini juga mungkin terlalu buru-buru bagimu. Ini juga sangat tidak romantis, tidak ada bunga, coklat, kembang api, atau hal-hal romantis lainnya yang diimpikan perempuan. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menjadi romantis.” Minseok mengucap sambil mengaduk-aduk minuman di dalam gelasnya.

“Ah, tidak. Bukan seperti itu. Hanya saja aku kaget.” Reen menjawab.

“Aku tahu. Aku juga tidak meminta jawabanmu sekarang, aku hanya ingin kau tahu bahwa ada seorang laki-laki di sini yang menyukaimu dan ingin menjadi milikmu.”

Lagi-lagi Reen tidak menjawab, bagaimana bisa seorang laki-laki yang mampu membuat pipinya merona karena kalimat manis itu mengaku bahwa dirinya tidak romantis?

“Araso, oppa.” Sebuah pilihan jawaban yang konyol akhirnya keluar dari bibir Reen.

“Kau tampak menggemaskan saat terkejut seperti itu, Reen. Rasanya aku ingin memelukmu. Ayo habiskan makananmu lalu aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak kuat berdiam diri terlalu lama melihat seseorang yang begitu aku sukai.” Minseok tersenyum.

“Ah, hentikan kalimat-kalimat seperti itu. Kupikir pipiku akan matang sebentar lagi.”

Minseok tertawa mendengar jawaban polos Reen lalu mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

“Aku pulang.”

Ucapan Reen menggema ke seluruh ruangan apartemen. Kemudian ia meletakkan tasnya sembarang lalu merebahkan diri di sofa ruang tengah di samping Kyungsoo.

“Tadi aku makan malam bersama Woohyun hyung. Kejam sekali kau membatalkan janji begitu saja dengannya.” Kyungsoo membuka pembicaraan, Reen menoleh dan membelalakkan matanya.

“Apakah aku harus meminta maaf padanya, Kyung? Aku benar-benar lupa.”

“Tak perlu, lagipula ada aku yang menggantikanmu.”

Araso.

Reen melemparkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan mata lalu menghela napas panjang. Kemudian telinganya menangkap suara senandung riang dari arah kamar, karena penasaran akhirnya ia membuka matanya lagi lantas menatap kembali si adik yang tampak hanyut dalam progran televisi.

“Si Arin kenapa? Sepertinya ia bahagia sekali. Sudah lama ia tidak begitu.”

“Sepertinya ia berbaikan dengan Jongdae hyung. Tadi ia pulang diantar Jongdae ke sini.”

Jinjja?!” Reen menjerit.

Kyungsoo mengangguk.

Tidak mengambil banyak sekon selanjutnya, Reen langsung mengakat tubuhnya dari sofa lalu berlari ke dalam kamar sambil menjerit, “Arin! Kau harus cerita padaku! Sekarang!”

.

.

.

to be continued.

AnNotes:

Akhirnya chapter 10!!
Kantor masih begitu menyiksa sampai seperti tak ada waktu tersisa bahkan untuk sekedar menarik napas saja. heol.
/alaykamu
Dan akhirnya hawi ini meski diawali dengan badan meriang sehingga tidak pergi ngantor, beberapa jam kemudian malah ngetik JGFL chapter 10 sampe selesai, yeay!
/dimaki bos /plak

Seperti biasa terima kasih semua readernim-readernim baik hati yang masih setia membuang waktunya untuk membaca alur gaje yang sebentar lagi tamat ini.
/ciyekode /ciyekayaadayangpeduliaja

Satu komentar darimu masih selalu sangat berharga bagiku. Doain akunyah gak banyak mengalami kerontokan rambut garagara pemeriksaan pajak+beacukai ini yaa! *klikhttpsayasudahlelahdansangatinginresigndotkom

Sampai ketemu di chapter selanjutnya!
*bow*

Iklan

11 pemikiran pada “Job’s Goal : Finding Love [Chapter 10] -anneandreas

  1. Hallo kak author!!! aku reader baru disini jd baru komennya di chap ini hehehe

    kak baekhyun sama reen aja kek kak aku lebih suka couplelannya yg ini. kak kasian baekhyun udah gk dipilih sama arin jd baekhyunnya ama reen aja kak #alasan wkwkwkwk dan sebenarnya aku juga bingung pemeran utama cowoknya itu Baekhyun apa enggak? tp gk papa yg penting baek sama reen akhirnya bersatu (gk nyambung kali ya?) wkwkwk

    untuk kak author semangat terus kak buat ceritanya dan cepet up nya ya kak

  2. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [Chapter 11] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  3. Huaaaa satu hari dua penembakan ga mati tuh reen *halah tapi kayanya ga ada yg diterima deh dari chapter2 kemarin yg nunjukin keseharian dan perasaan reen ga ada yg nunjukin tanda2 kalo dia bakal menjalin hubungan sama siapapun mungkin…. Nunggu waktu lagi sampai moment baekreen tercipta baru reen merasakan debaran jantung dan kupu2 bertebaran diperutnya *eaakk haha tapi itu sih maunya saya semoga di iyakan jg sm author

  4. AAAKKKK~ DITERIMA UDAH MAS UMIN DITERIMA AJA UDAAAH /mingkem/back to kalem mode/
    ciee keknya arin gabisa hidup tanpa jongdae, begitupula jongdae~ ya kalo arin bahagianya sama jongdae mah baek bisa apa yekan wkwk tp masa baek belum mulai berjuang lagi udah kalah finish? AYOLAH KAK ANNE TAMBAHIN OMBAK LAGI BUAT KAPAL ARIN-JONGDAE DONGS HEHEHE :V
    buat mas woohyun sama mas hoya yang sabar ya, tungguin reen jadian sama umin X’D
    Buat Kak Anne yang semangat aja kalo kerja, kalo pas ijin sakit itu berarti dikasi waktu buat istirahat, tp abis ngetik ini kak ne langsung sehat kan? waah ff jadi obat meriang kak anne /maybe kak anne merindukan kasih sayang wohyun hoya sama umin/ :v

  5. Akhr’ny.. bs bc lnjtn ff ni lg 😀
    seneng howon ditolak reen 😁 pkk’ny 꼭!! jd-an sm umin ya 😄 woohyun jg abaikan aja! 😛 kai dialog’ny pendek bgt, bkrj ta’ jemu2 ya. Seneng jg reen neutral antara 첸 & 백, tp spt’ny arin brat ke 첸 ya 😞 ksian 백.
    Prnh tu wkt nyusun skripsi 2 pembimbing’ny pd sbk msng2, da yg s3 di luar kota, 1 lg prg2 kluar negri 😒 pe skt2 bdn ni krn stress pen cpt2 lu2s. /curcol
    Ada scene dinner reen-umin jd kangen couple ni yg di LDA, pa kbr ya mrk? /kode minta update’an 😆
    Mo ksh srn jgn resign cz diri ini msh struggling bwt dptn new job nih 😢 hiks.. /tp anne kan dah pny hubby jd klo resign pun tetap da yg nafkahin /ga ky yg ngtik komen ini 😢
    Dah smbh kan mriang’ny? Mrindukan ksh syng umin spt’ny ya ☺

  6. Kak Author aku Readers baru disini…Mohon izin baca ff nya yha kak…insyaallah aku akan komen slalu ff kak. Yha wlaupun pendek,geje dan agak lebay dikit sih hehehehehe…. Salam kenal yha kak author

  7. Ok,dua orang udah ngungkapin,maaf mas howon kau ditendang,dan reen uminnya ditolak aja,tinggal woohyun yang belum ngungkapin dan aku yakin woohyun pasti bakal ditolak.
    Reen balikan ama jongdae chen jadi maaf baek kau tak bisa kembali.
    Kak please,baekreen dijadiin couple disini,,,,
    Banyakin lagi momentnya mereka,dan sedikit sisipin sedikit rasa suka gitulah diantara mereka.
    Next dipercepat yak kak,,,,

  8. Up juga akhirnya….
    Kepe deh sebenernya yg mau dijadiin couple utamanua itu siapa sih?
    Aku keburu baper minseok reen nih thor,
    Mangat next chaptnya….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s