[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 5)

Screenshot_2017-03-10-16-50-29

After The Wedding (Chapter 5)

Author : WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. Oh Jae Ra. Sean Jung.

Genre: Hurt. Marriage Life. Romance. Life Family.

Summary: “Itu bukan hukuman. Tapi itu terimakasihku”-Jae Mi.

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

https://whiteblove.wordpress.com/

 

Jae Mi sedikit kelimpungan saat menyadari kini jaraknya dengan Sehun sangatlah dekat. Terlebih lagi pria itu tepat berdiri dihadapannya. Wanita ini kembali mengingat ucapan kakaknya beberapa hari lalu yang memberitahukannya bahwa Sehun tengah kembali mencari keberadaan dirinya dan juga Sean.

Jantung Jae Mi berdetak begitu tak beraturan. Ia belum mau bertemu dengan Sehun, ia sama sekali belum siap untuk berhadapan dengan pria yang telah 15 tahun lalu ia tinggalkan.

Dengan susah payah Jae Mi berpikir untuk segera pergi dari ruanganan sempit yang berhasil membuatnya lebih terhimpit disituasi yang menegangkan ini. Ia sedikit menundukan kepalanya, berusaha terlihat biasa saja karna kini Sehun tengah asik mengobrol dengan seseorang yang berdiri tepat disampingnya.

Tak lama pintu lift terbuka dilantai 8, Jae Mi langsung melangkahkan kakinya keluar seraya menutup wajahnya dengan sebuah dokumen yang tadi sempat ia pegang.

“Nona?” ucap asistennya yang kebingungan melihat Jae Mi keluar disaat mereka belum sampai dilantai dasar.

Sementara itu Sehun tak menyadari apapun selain panggilan seorang wanita berkaca mata yang segera berjalan cepat keluar mengikuti langkah wanita sebelumnya yang sudah pergi terlebih dahulu.

Sore ini sebuah halaman belakang rumah mewah berwarna putih yang penuh akan tanaman Hijau tegah terlihat begitu menyejukan mata ditambah gemericik air yang berasal dari sebuah kolam ikan terdengar begitu menenangkan.

Angin yang berhembus pun terasa begitu ringan ditemani langit yang terlihat biru dengan gradasi warna putihnya awan yang terlihat bergerak pelan.

Ditepi taman, kini terlihat seorang wanita paruh baya tengah duduk disebuah kursi berwarna putih yang bersampingan dengan sang menantu sembari ditemani secangkir teh dihadapan mereka.

“Omma..” ucap Hye Ra yang kini mengarahkan pandangannya pada sang ibu mertua.

“Kenapa Hye Ra?” tanya Nyonya Oh yang kini membalas pandangan Hye Ra.

“Tidak. Apa Omma merindukan Jae Mi?” tanya Hye Ra diikuti senyuman tipis dibibirnya.

“Sangat. Bahkan hampir setiap hari aku berharap bisa bertemu dengannya dan cucu laki-lakiku.” jawab Nyonya Oh yang kini mengarahkan pandangannya kedepan.

Hye Ra terdiam. “Maafkan aku.. semuanya menjadi kacau karna ku.”

Nyonya Oh hanya tersenyum tipis, ia segera mengarahkan pandangannya kembali pada Hye Ra yang kini terlihat sedikit menundukan kepalanya.

“Hye Ra. Jangan terus menyalahkan dirimu. Aku senang kau selalu ada untuk Sehun. Yang lalu biarlah berlalu. Aku tak terlalu mempermasalahkan untuk itu semua. Lagi pula Sehun juga telah memaafkanmu.” ucap Nyonya Oh yang kini menyentuh pungung tangan Hye Ra, berusaha membuat menantunya ini tak terlalu larut dalam rasa bersalahnya.

Hye Ra hanya bisa tersenyum. Dulu Nyonya Oh pernah berkata bahwa tak akan ada yang berubah atas sikapnya sekalipun Jae Mi telah melahirkan anak Sehun, kini semuanya benar-benar terjadi, wanita tua itu menepati ucapannya sendiri. Bahkan setelah Hye Ra merasa bahwa dulu ia pernah melakukan hal yang fatal, kini sang mertua tetap bersikap baik terhadapnya.

“Kau sedang apa, Tuan muda?” tanya Jae Mi yang baru saja masuk kedalam ruangan kerjanya dan langsung menemukan Sean yang kini tengah duduk seraya memainkan ponselnya dengan posisi landscape. Jae Mi sudah bisa menebak bahwa putranya ini sedang asik bermain Game.

“Aku bosan dirumah. Apa pekerjaan Mom sudah selesai?” tanya Sean yang kini menurunkan ponselnya dan beralih memandang sang ibu.

Jae Mi tak menjawab, ia mengalihkan pandangannya pada asistennya, “Rapat untuk hari ini sudah selesai semua, Nona.” ucap sang asisten yang begitu mengerti akan maksud Jae Mi.

Sean tersenyum, “Ahh, ternyata tak sia-sia. Ayo temani aku jalan-jalan.” ucapnya sedikit kegirangan.

“Kau tak kasihan pada, Mom? Seharian ini Mom terus menerus menghadiri rapat.” keluh Jae Mi.

“Aku akan memijat kaki Mom saat kita pulang nanti.”

“Rayuanmu sangat hebat!” ucap Jae Mi tersenyum yang kini merangkul pundak putra pertamanya tersebut.

Sore ini sebuah taman kota terlihat penuh dengan orang-orang yang menghabiskan waktu sore mereka untuk sekedar berjalan-jalan ataupun melakukan aktifitas lainnya.

Termasuk gadis yang identik dengan rambut ikat kudanya ini, Jae Ra. Ia dan beberapa temannya tengah menghabiskan waktu untuk sekedar mengobrol dan bercanda akan beberapa topik pembicaraan mereka.

Namun, disaat Jae Ra ikut larut dalam perbincangannya dengan teman-temannya, wajah seorang pemuda yang terlihat jauh dari posisi Jae Ra saat ini berhasil membuat gadis ini terdiam.

Ternyata bukan hanya sang pemuda saja yang menjadi fokus pandangan Jae Ra, tapi juga dengan seorang wanita yang berjalan disampingnya, dan mereka terlihat asik mengobrol seraya melangkahkan kakinya bersamaan.

“Sean? Dia sedang bersama siapa?” ucap Jae Ra pelan.

Dengan tanpa sadar, Jae Ra langsung bangkit dari posisi duduknya dan bergegas berjalan menghampiri Sean dan sang wanita yang tertangkap oleh netranya.

“Jae Ra, ayoo!!”

Jae Ra seakan dibuat tersadar akan lamunannya sendiri. Salah satu temannya berhasil menyeret tangan Jae Ra untuk segera ikut dengan mereka.

“Ahh, Tunggu sebentar!!” ucap Jae Ra sedikit memberontak.

“Sudahlah ayo!!”

Jae Ra kini hanya bisa pasrah menutup sejenak rasa penasarannya akan Sean dan wanita yang terlihat hampir mirip dengannya, karna kini kedua tangan Jae Ra ditarik paksa oleh teman-temannya.

Benar. Dari jauh terlihat Sean dan Jae Mi yang tengah berjalan menuju sebuah bangku taman untuk sejenak beristirahat saat mereka baru saja sampai.

Jae Mi dibuat terdiam saat ia melihat seekor Anjing kecil berbulu putih yang tak jauh dari hadapannya. Mirip dengan Vivi. Itulah yang terlintas dipikiran Jae Mi saat mengingat Anjing kecil yang dulu sempat dipelihara oleh Sehun dan Hye Ra di apartemen mereka.

 “.. Mom, mom tak mendengarkanku ya?”

Jae Mi langsung mengarahkan pandangannya pada Sean yang berdiri disampingnya.

“Hah?” tanya Jae Mi kebigungan.

“Ahh, tak ada pijat kaki untuk malam ini.” ucap Sean sedikit kesal karna ternyata sedari tadi sang ibu tak mendengarkan celotehannya.

“Kyaa.. Mom sedang lihat Anjing itu. Dulu Dad mu punya anjing yang sama seperti itu.” ucap Jae Mi yang kembali mengarahkan pandangannya pada Anjing kecil yang kini tengah bermain dengan sang pemilik.

Sean tersenyum melirik kearah Jae Mi. Dengan segera ia langsung berjalan menghampiri Anjing putih yang tengah bersama sang pemiliknya tersebut.

 Jae Mi hanya mengerutkan keningnya melihat Sean berjalan menghampiri Anjing yang berhasil menyita perhatiaannya. Tak lama putranya itu kembali dengan menggendong Anjing kecil itu dipangkuannya.

“Mom..!” ucap Sean yang tersenyum seraya berjalan kearah Jae Mi.

“Kyaa.. kau tau Mom takut Anjingkan?!” ucap Jae Mi yang kini sedikit menghindar dari Sean karna Anjing putih itu ada bersamanya.

“This is not bad, Mom. Let’s touch!!” ucap Sean yang semakin mendekatkan Anjing putih itu kedekat Jae Mi.

Jae Mi menggelengkan kepalanya. Ia enggan berurusan dengan makhluk yang sangat ia benci.

“Ayo pegang..” ucap Sean yang mengambil tangan sang Ibu untuk segera menyentuh bulu Anjing putih yang berada dipangkuannya ini.

Awalnya Jae Mi memang sedikit ketakutan, namun semakin lama ia mulai terbiasa menyentuh bulu halus Anjing kecil tersebut. Kini penilaiannya tentang ‘Anjing adalah makhluk yang menyeramkan’ mulai hilang dari pikiran Jae Mi.

“I told you, this is not bad.” ucap Sean tersenyum melihat sang Ibu yang kini terlihat asik mengelus Anjing putih yang masih ada dipangkuannya.

Kini Jae Ra mencoba melangkahkan kakinya untuk kembali keposisi dimana tadi ia berhasil melihat Sean yang tengah bersama seorang wanita. Namun sudah hampir 10 menit gadis ini menghamburkan pandangannya ke segala arah, ia belum juga dapat menemukan keberadaan Sean.

Apa dia sudah pulang?, tanya Jae Ra dalam hati.

Jae Ra hanya terdiam. Wajahnya terlihat lesu, bukan karna kelelahan, tapi gadis ini kecewa akan dirinya sendiri yang tak dapat menemukan keberadaan Sean dengan sang wanita misterius.

Jae Mi kini masih berdiri ditempat yang sama. Semakin sore semakin banyak orang yang berdatangan. Pandangannya masih tertuju pada Sean yang tengah mengembalikan Anjing putih yang sempat tadi mereka pinjam untuk beberapa menit. Kini pemuda itu tengah berjalan kembali kearahnya, Jae Mi hanya tersenyum.

 “Kita meminjam Anjingnya terlalu lama.” ucap Jae Mi saat Sean berada tak jauh dari pandangannya.

Sean ketawa kecil, “Mau coba pelihara Anjing?” tanyanya.

“TI-DAK!!” ucap Jae Mi dengan begitu tegas pada Sean.

Sean menghembuskan nafasnya kasar, ternyata bujukannya tidak mempan sama sekali, padahal ia menginginkan seekor Anjing untuk menemani mereka dirumah agar hunian mereka tak terlalu sepi.

Jae Mi tersenyum melihat wajah Sean yang kini berubah setelah mendengar penolakannya akan hewan peliharaan.

Tak lama wanita ini mendaratkan ciuman dipipi kanan Sean, “Ya, tadi aku bicara mengunakan bahasa inggris. Tak apalah.” ucap Sean yang berlalu pergi dari samping sang Ibu.

Jae Mi tersenyum, “Itu bukan hukuman. Tapi itu terimakasihku” ucap Jae Mi pelan seraya terus memandang langkah Sean yang mulai menjauh dari hadapannya.

Ya, terimakasih Jae Mi untuk Sean karna telah berhasil membuatnya mengingat kejadian 15 tahun lalu dimana Sehun merelakan Vivi untuk diurus oleh orang lain karna dia takut sekali akan Anjing.

Waktu telah menunjukan pukul 7 malam. Gadis ini sadar bahwa ia telah pulang terlambat kerumah. Ia sangat yakin bahwa kini Ayah nya yang posesif tengah berdiri dibalik pintu untuk menyambutnya pulang dengan tampang dingin.

Jae Ra masih terlihat merendahkan pandangannya karna rasa kecewa akan dirinya sendiri yang tak berhasil menemukan Sean kembali ditaman sore tadi. Ia benar-benar penasaran akan wanita yang berwajah hampir mirip dengannya itu.

“Kau dari mana, Jae Ra?”

Sebuah pertanyaan langsung terlontar saat Jae Ra baru saja membuka pintu apartemen dan mendapati sang Ayah yang posisinya telah bisa ia duga, -berdiri dibalik pintu dengan memasukan kedua tangannya kedalam saku dan bertanya dengan nada dingin.

“Taman.” jawab Jae Ra yang lalu menghembuskan nafasnya kasar.

“Kau telat hampir satu jam.” ucap Sehun yang mengarahkan pandangannya pada sang putri.

“Maafkan aku, Appa.” ucap Jae Ra yang langsung pergi melewati Ayah nya untuk segera pergi kedalam kamar.

Sehun terdiam menatap langkah putrinya yang kini berjalan menjauh darinya. Wajah murung Jae Ra berhasil mengingatkan pria ini tentang Jae Mi, yang dulu selalu pulang telat dan memasang wajah yang hampir sama dengan ekspresi wajah Jae Ra tadi.

Sehun sejenak tersadar sendiri dari lamunannya. Ia bergegas pergi menyusul langkah Jae Ra yang sepertinya telah berada didalam kamar.

Lagi-lagi pria ini masuk tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu. Kini terlihat bahwa Jae Ra tengah terdiam disamping tempat tidurnya.

“Kenapa? Kau murung sekali.” tanya Sehun yang kini memposisikan tubuhnya disamping Jae Ra.

Jae Ra hanya menggelengkan kepalanya, ia enggan menjawab pertanyaan sang Ayah.

“Apa ada masalah?” tanya Sehun yang kini menaikan dagu lancip mirik Jae Ra agar putrinya ini mau memperhatikannya.

Jae Ra tidak menjawab, ia hanya terdiam seraya menatap mata Sehun.

“Kau ini kenapa? Apa disekolah sedang ada masalah?” tanya Sehun kembali.

“Tidak, Appa!” Jae Ra kini menjatuhkan tubuhnya dipelukan sang Ayah.

“Jika ada masalah, kau jangan menyimpannya sendiri, Honey! Jika memang tak mau bercerita pada Appa, kau bisa bercerita pada Omma mu!” ucap Sehun mengelus kepala Jae Ra.

Jae Ra terdiam tak mau menanggapi pertanyaan sang ayah. Sesaat ada keheningan yang tercipta.

“Kau mau cerita pada Appa?” tanya Sehun.

“Tidak. Tidak sekarang, Appa!” jawab Jae Ra yang langsung mengeratkan pelukannya pada Sehun.

“Appa sedikit bingung dengan sikapmu! Kau sedang jatuh cinta ya?” ucap Sehun berusaha menaikan mood putrinya meskipun hanya sedikit.

Biasanya Jae Ra akan memukul Sehun dan memperlihatkan semburan merah muda dikedua pipinya jika sang Ayah sudah menggodanya dengan hal tentang ‘cinta’, namun nyatanya kali ini Jae Ra malah terus terdiam dipelukan Sehun.

Kali ini Sehun baru saja selesai mengerjakan beberapa pekerjaanya yang tadi sempat tertunda dikantor, terpaksa pria ini harus segera menyelesaikan dirumah agar pekerjaannya besok tak semakin menumpuk.

Ia berjalan kembali kedalam kamar saat waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Terlihat kini Hye Ra tengah membaringkan tubuhnya seraya berselimut. Ternyata wanita pertamanya ini belum juga terlelap.

“Ku dengar tadi kau  kerumah Omma, dia baik-baik saja?” tanya Sehun yang kini memposisikan tubuhnya disamping sang Istri.

Hye Ra langsung menyentuh wajah Sehun dengan tangan kanannya saat pria ini telah berbaring menghadap kearahnya, “Ya..” jawab Hye Ra. Sehun tersenyum, “Kami mengobrol banyak hal.” lanjut Hye Ra.

“Sungguh?” tanya Sehun yang kini semakin mendekatkan wajah pada Hye Ra.

Hye Ra hanya mengangguk ringan menanggapi ucapan Sehun.

“Kalian mengobrol tentang apa?” tanya Sehun.

“Tentangmu, tentang Jae Ra..”

“Ahh, kau ini.. kenapa selalu aku dan Jae Ra yang menjadi topik pembicaraan?”

“Kalian berdua terlalu punya banyak hal untuk diceritakan.”

Sehun hanya semakin tersenyum lebar saat mendengar jawaban Hye Ra. Sejanak ia terdiam, mengingat tentang Jae Ra yang belakangan ini terlihat tak seperti biasanya.

“Eumm.. Jae Ra sedikit murung. Dia cerita sesuatu padamu?” tanya Sehun.

Hye Ra sedikit mengubah posisinya, ia mendekatkan tubuhnya untuk lebih dekat pada Sehun.

“Iya, sejak kemarin dia terus diam. Ku pikir dia cerita sesuatu padamu.” jawab Hye Ra.

“Tidak. Aku jadi bingung sendiri.” keluh Sehun seraya membelai wajah Hye Ra.

“Entahlah, coba saja besok bicarakan!” Hye Ra langsung memperlihat senyumnya pada Sehun.

“Baiklahh!” ucap Sehun yang berlalu memeluk tubuh wanitanya.

Sesuai dengan kesepakatan yang Sehun bicarakan dengan Hye Ra tadi malam, kali ini ia akan berusaha bicara dengan Jae Ra saat mereka sama-sama tengah berada didalam mobil menuju ke sekolah.

Jae Ra sedari tadi terus terdiam, menghamburkan pandangannya keluar melalui jendela mobil yang sedikit terbuka.

Sehun langsung membelai pipi kanan putrinya saat mobil yang ia kendarai terhenti karna lampu merah.

“Jae Ra? Kau tak apa? Apa kau sakit?” tanya Sehun yang ternyata berhasil membuat pandangan Jae Ra terarah padanya.

 “Tidak, Appa.” jawab Jae Ra.

“Lalu?”

“Semuanya.. baik-baik saja!”Jae Ra sedikit ragu.

“Kau tau.. Appa bisa menangkap sinyal jika Jae Ra sedang berbohong pada Appa.” ucap Sehun mengarahkan pandangannya pada Jae Ra yang kini terlihat diam.

“Seperti yang kemarin aku bilang Appa. Aku akan cerita, tapi tidak sekarang!” ucap Jae Ra.

Sehun menyembunyikan hembusan nafas kasarnya, kali ini ia ingin sedikit mengalah pada sang putri karna ia tak mau merusak suasana hati Jae Ra menjadi semakin abu-abu.

“Baiklahh.. tapi Appa harap secepatnya.” ucap Sehun mengelus tangan Jae Ra.

Setelah sampai didepan sekolah dan turun dari dalam mobil, Jae Ra memperlambat langkahnya, ada sesuatu yang membuat ia sedikit penasaran. Sesaat gadis ini terdiam, ia membalikan tubuhnya kembali, ternyata mobil sang Ayah sudah tak terlihat dari pandangannya.

 Jae Ra kembali melangkahkan kakinya keambang pintu gerbang sekolah. Tak lama terlihat seseorang yang keluar dari dalam sebuah mobil hitam yang berhenti tak jauh dari posisinya berdiri. Sean. Pemuda ini keluar dari dalam mobil diikuti seorang wanita yang terlihat berdiri disamping pintu mengemudi.

“Bye, my boyfriend!” ucap sang wanita sedikit berteriak pada Sean yang kini mulai berjalan kedalam halaman sekolah.

Sean membalikan sedikit tubuhnya untuk memandang kelakuan wanita tersebut yang menurutnya sangat memalukan, ”Mom!!” ucap Sean dengan senyum kesalnya.

Wanita itu terus tersenyum memandang langkah Sean yang semakin menjauh.

Tanpa Jae Ra sadari, kini Sean sudah berjalan melewatinya, ini semua karna pandangan Jae Ra tertuju pada wanita yang masih berdiri memandangi Sean dari samping mobil hitamnya.

Sesaat wanita yang menjadi figur pikirannya melemparkan pandangannya pada Jae Ra yang masih juga terdiam. Untuk beberapa detik mata mereka saling bertemu. Jae Ra langsung nunduk saat ia sadar bahwa apa yang ia lakukan sama sekali tak sopan, bergegas gadis ini pun langsung pergi kembali kedalam halaman sekolah.

Saat berjalan menuju kelas, Jae Ra masih meringankan langkah kakinya, ia mulai kembali sibuk dengan pikirannya.

Ia yakin bahwa wanita yang tadi ia lihat adalah wanita yang sama saat kemarin Sean berada ditaman. Terlebih lagi, kini pertanyaan utama yang ada dikepala Jae Ra kembali muncul, tentang kemiripan wajahnya dengan wanita tadi.

Wajah wanita tadi mengapa cukup mirip denganku? Omma Sean. Jae Mi Omma?, tanya Jae Ra dalam hati

“..Jae Ra.. ah ya, Jae Ra kan? Hampir sama dengan nama Mom”

Ingatan tentang pembicaraannya dengan Sean beberapa hari lalu kembali muncul.

“..Jae Mi, Hye Ra, menjadi Jae Ra.”

Ditambah lagi ia juga mengingat ucapan sang Ayah dua minggu yang lalu.

Jae Ra menghentikan langkahnya saat dirasa kini pertanyaan besar mulai tercipta kembali dikepalanya.

Apa sungguh nama Omma Sean adalah Jae Mi?, tanya Jae Ra dalam hati.

Siang ini ruang olahraga yang luasnya seperti setengah lapangan bola tengah banyak dikunjungi para murid yang melakukan olahraga gabungan antar kelas. Pihak sekolah beralasan agar para siswa saling mengenal satu sama lain meskipun mereka berada dikelas yang berbeda.

Materi olahraga kali ini adalah lari estafet, dimana setiap grup berisi empat orang yang akan berlari secara bergantian dengan saling sambung menyambung.

Tak dapat disangka, Jae Ra satu regu dengan Sean. Kelompok mereka baru saja selesai berlari dan memecahkan waktu dengan baik.

Kini anggota regu Jae Ra tengah berusaha menstabilkan nafas mereka karna kelelahan setelah berlarian beberapa meter.

Berbeda dengan Jae Ra yang tadi berlari diposisi pertama, ia kini tengah mengalihkan pandangan pada Sean yang tengah berusaha mencoba menormalkan rhythm nafasnya.

 “Tadi.. kau diantar siapa?” tanya Jae Ra. Ia tau sebenarnya ia telah bersikap tak sopan karna bertanya disaat seseorang tengah kelelahan.

“Hah?” ucap Sean seraya terus mengambil nafas.

“Tadi pagi kau diantar siapa saat berangkat sekolah?” ucap Jae Ra memperjelas pertanyaannya.

“My mom. Ahh, Omma! Kau punya minum? kenapa rasanya haus sekali?”keluh Sean yang kini langsung pergi dari hadapan Jae Ra untuk mencari sebotol air.

Jae Ra terdiam saat netra penglihatannya terus terarah pada langkah Sean yang kini berjalan menjauh darinya.

Mungkin ada banyak pertanyaan yang terus berputar-putar dikepala gadis ini untuk segera ia tanyakan pada pemuda yang kini tengah meneguk air es dari dalam sebuah botol berlebel warna hijau ditangan kanannya.

Jae Ra ingin mengetahui lebih dalam tentang siapa diri Sean sebenarnya, bersama siapa ia tinggal, dimana keberadaan ibunya saat ini dan terlebih lagi, Jae Ra ingin segera mengatur waktu pertemuan antara mereka bertiga dengan secepat mungkin. Terdengar gegabah, jika boleh jujur sebenarnya batin Jae Ra sedikit kelelahan dengan banyaknya pertanyaan dan kemungkinan yang terus ia ciptakan didalam otaknya sendiri.

Sore ini Jae Mi tengah melangkah ditrotoar jalanan kota Seoul setelah jam kerjanya baru saja berakhir 20 menit lalu. Ia memilih untuk berjalan kaki menuju sebuah kafe dimana Sean tengah menunggu kedatangannya disana, karna jarak yang tak terlalu jauh dari kantor tempat ia bekerja.

Namun dari kejauhan ada seorang anak kecil yang berhasil menyita perhatian Jae Mi, saat sang gadis kecil terus menengokan kepalanya kesegala arah seperti sedang mencari sesuatu.

Jae Mi menghentikan langkahnya saat ia sudah berada tepat didepan anak kecil tersebut, ia langsung mengarahkan pandangannya pada anak berikat dua ini.

“Kau sedang mencari sesuatu?” tanya Jae Mi dengan nada yang terdengar begitu ramah.

“Apa Ahjumma melihat Appa ku?” ucapnya polos seraya membalas tatapan Jae Mi.

“Appa? Kau kehilangan Appa mu?” tanya Jae Mi mengerutkan keningnya.

Gadis kecil ini hanya menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Jae Mi. Kedua mata sang gadis kecil kini terlihat memerah karna menahan air matanya yang ia larang untuk muncul kepermukaan.

“Kemana Appa mu?” tanya Jae Mi yang kini ikut masuk kedalam kebingungan sang gadis kecil.

“Aku tak tau.”

Jae Mi sedikit menghembuskan nafasnya kasar. Ia berpikir bahwa Appa dari anak kecil ini keterlaluan karna telah meninggalkan ia sendirian.

“Kau ingat Appa mu memakai baju warna apa?” tanya Jae Mi.

Gadis kecil ini sedikit memperhatikan Jae Mi untuk sesaat. “Appa menggunakan baju hitam seperti Ahjumma.” ucapnya.

Jas. Jae Mi dapat memahami maksud dari anak ini, karna ia sendiri juga tengah menggunakan Jas kantor berwarna hitam.

“Baiklah, sebelumnya siapa namamu?”

“Yun Bi.” jawab gadis kecil ini.

“Yun Bi, ayo kita cari dimana Appa mu.” ucap Jae Mi membukakan tangannya agar Yun Bi mau memegang tangan kanannya.

Tak disangka gadis kecil itu langsung menerima uluran tangan Jae Mi karna dirasa wanita ini bukanlah seorang penculik yang tengah menyamar dibalik paras cantiknya.

“Apa dia tinggi?” tanya Jae Mi seraya mulai melangkahkan kakinya.

“Appaku sangat tinggi.” ucap Yun Bi.

“Ahh, terakhir kau melihat Appa mu dimana?”

“Disana.” ucap Yun Bi menunjuk sebuah toko diseberang jalan.

“Baiklah, ayo kita kesana. Siapa tau Appa mu kembali mencarimu disana.”

Yun Bi hanya mengangguk, setelahnya mereka sama-sama menyebrangi jalan dan berdiri tepat didepan sebuah toko untuk menunggu Appa Yun Bi menghampiri mereka. Sesekali Jae Mi masih mau menghamburkan pandangannya ke segala arah berharap ia dapat menemukan pria tinggi berjas hitam yang merupakan ciri Appa Yun Bi, namun nyatanya itu tidak mudah, disaat jam pulang kerja seperti ini terlalu banyak orang yang memakai Jas hitam seperti miliknya.

“Kau melihat Appa mu?” tanya Jae Mi pada Yun Bi yang kini tangan gadis kecil itu mulai berkeringat digenggaman tangan Jae Mi.

“Belum.” jawab Yun Bi.

Jae Mi menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Pasalnya sudah hampir 20 menit mereka berdiri menunggu dan mencari Appa dari anak ini.

“Appa!!”

Teriakan Yun Bi berhasil membuat pandangan Jae Mi terarah pada pukul 2. Terlihat seorang pria tinggi dengan Jas hitam ditubuhnya tengah berlari kearahnya dan Yun Bi.

Jae Mi tersenyum. Orang yang ditunggu Yun Bi kini telah tiba.

“Kau kemana saja? Appa mencarimu! Kau baik-baik saja?” tanya sang pria yang langsung memeluk putri kecilnya ini dengan tatapan mata yang terlihat khawatir.

Yun Bi tak menjawab, tangisnya hampir tumpah dipelukan sang Ayah karna sedari tadi ia ketakutan ditinggal terlalu lama.

“Sedari tadi dia kebingungan mencari anda.” ucap Jae Mi yang berusaha menjawab pertanyaan sang pria jangkung.

“Ahh, maaf merepotkan.” ucapnya mengarahkan pandangan pada Jae Mi.

“Tak apa, aku hanya menemaninya agar tak sendiri.” jawab Jae Mi.

Kini Yun Bi mulai melepaskan pelukannya pada sang Ayah, ia berlalu menatap Jae Mi.

“Terimakasih sudah menemaniku, Ahjumma.” ucap Yun Bi.

Jae Mi mengangguk seraya tersenyum, “Appa mu sudah datang, Ahjumma pergi dulu ya!”.

 “Nee, Ahjuma.” ucap Yun Bi tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Jae Mi.

“Baiklah, aku pamit pergi.” ucap Jae Mi tersenyum pada Appa Yun Bi dan sedikit membungkuk pada pria jangkung dihadapannya.

“Ya, terimakasih telah menemani anakku!” ucap pria bergaya rambut cepak ini.

Jae Mi hanya tersenyum dan setelahnya ia kembali bergegas pergi.

Jaga anakmu dengan baik, tuan Park!, ucap batin Jae Mi dengan sedikit kesal setelah menyadari sebuah name badge tertera didekat saku atas jas pria itu. Jae Mi hanya dapat melihat tulisan ‘Park Chan.. –‘ yang tertera, namun satu yang tentu Jae Mi yakini, pria itu bermarga Park, nama lengkapnya, ahh.. itu tak penting bagi Jae Mi.

Setelah Jae Mi sampai disebuah kedai kopi, ia langsung menghamburkan pandangannya kesegala arah untuk mencari putranya yang sudah menunggunya hampir 1 jam.

Tepat. Ternyata disanalah Sean berada, disamping jendela kafe seraya menikmati segelas Ice Coffe dihadapannya.

“Mom lama sekali.” keluh Sean saat melihat keberadaan sang Ibu yang kini tengah berjalan menghampirinya.

“Tadi ada anak yang hilang dari pengawasan orang tuanya. Jadi Mom menemaninya sebentar.” ucap Jae Mi membela diri.

“Sungguh?” tanya Sean seolah tak percaya ucapan Jae Mi.

“Yaa..” ucap Jae Mi dengan cukup tegas seraya memandang wajah Sean.

“Karna Mom terlambat dari jam pertemuan yang telah kita sepakati, jadi Mom yang harus meneraktirku.” ucap Sean membalas tatapan Jae Mi.

“Tangah mencoba memeras, Mom?” tanya Jae Mi yang langsung menyilangkan tangannya diatas meja seraya menatap tajam putra tunggalnya ini.

Sore ini Sehun baru saja pulang dari kantornya. Ia sedikit terlambat karna beberapa dokumen menginginkan segera tanda persetujuannya untuk beberapa hal penting yang menyangkut perusahaan.

Sehun tengah menyandarkan tubuhnya dikursi belakang mobil, ia ingin sedikit beristirahat setelah seharian ini pekerjaannya terasa begitu banyak.

Mobil hitam yang ia tumpangi terhenti disebuah persimpangan jalan karna terlihat ada sedikit kemacetan yang menjalar. Sebuah kafe dipinggirnya berhasil menyita pandangan Sehun karna terlihat banyak orang yang berkunjung.

Sehun sedikit memperhatikan setiap sudut bangunan kafe tersebut, tak lama Sehun menghentikan pandangannya pada jendela kaca yang tengah memperlihat seorang pemuda dibaliknya asik berbicara dengan lawan bicara dihadapannya.

Sehun tak memperdulikan lawan bicara sang pemuda, karna wajah wanita tersebut tak terlihat jelas sebab logo stiker kafe tersebut berhasil menutupi wajahnya.

Yang menjadi perhatian Sehun kali ini adalah wajah dari sang pemuda. Wajah yang mengingatkannya akan dirinya saat muda dulu. Terlebih lagi ia ingat bahwa sang pemuda adalah orang yang bulan lalu tak sengaja ia takbrak dibandara. Wajah sang pemuda begitu mirip seperti wajahnya. Namun beberapa detik kemudian Sehun merasakan ada sesuatu yang berbeda didalam batin saat netranya terus memperhatikan wajah pemuda tersebut.

Sebuah lahan parkiran luas dari gedung pusat perbelanjaan ini telah terlihat sepi karna waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.

Hanya terlihat tiga orang yang kini tengah terlihat serius satu sama lain.

Hye Ra. Ia tengah berada diantara mantan kekasih dan calon suaminya.

Pandangan wanita ini tengah tertuju pada sang mantan kekasih. Pria yang dua tahun lalu ia putuskan untuk berpisah dengannya karna pemuda itu telah membuat hati Hye Ra kecewa akan sikapnya yang telah bermain dengan wanita lain dibelakang.

Kini ia menampakan batang hidungnya dan memohon pada Hye Ra untuk kembali padanya disaat waktu pernikahannya dengan sang calon suami yang tinggal hitungan hari lagi.

“Hye Ra!! Aku mohon!” ucap pria bermarga Park ini. Ia tengah berdiri disamping kiri Hye Ra.

Hye Ra hanya terdiam. Kini giliran Hye Ra mengarahkan pandangannya pada pria yang berpredikat calon suaminya. Sehun, ia tengah diam mematung memandang Hye Ra disebelah kanannya. Tak ada yang dapat Hye Ra baca untuk mengartikan pandangan Sehun, ia hanya melihat sebuah permohonan dibalik tatapan Sehun.

Hye Ra kini menundukan kepalanya. Ia terlalu bingung jika harus dihadapkan oleh kedua orang ini. Terlebih lagi jika ia didesak untuk memilih salah satu dari mereka.

Sejujurnya Hye Ra masih mencintai Chanyeol meskipun dulu pria itu telah membuatnya kecewa, namun disisi lain ada orang yang tengah berusaha Hye Ra sayangi, Sehun. Pria itu telah menemani masa kelam Hye Ra yang kecewa akan Chanyeol dan berhasil membuatnya bangkit untuk kembali mempercayai cinta. Tak lama Sehun menyatakan perasaannya, Hye Ra hanya bisa mengangguk meskipun bibirnya terasa kelu untuk berkata tidak. Tepat dua bulan lalu, pria bermarga Oh itu melamar dirinya, meminta Hye Ra untuk menjadi istrinya, lagi-lagi Hye Ra mengangguk, karna saat itu ia tak tau harus berkata apa.

Sampailah ia disini. Berhadapan dengan Chanyeol dan Sehun.

“Maafkan aku.” ucap Hye Ra yang berlalu menarik tangan Sehun untuk pergi dari hadapan Chanyeol.

Wanita ini memilih Sehun untuk menemani kebahagiaan hidupnya. Hye Ra ingin belajar mencintai Sehun dan berusaha melupakan Chanyeol.

Selama 3 tahun pernikahan Hye Ra dengan Sehun, Chanyeol sama sekali tak kehilangan akal untuk merebut wanitanya kembali. Ia baru sadar bahwa ia benar-benar membutuhkan Hye Ra.

Sampai akhirnya Hye Ra kelelahan dengan sikap Chanyeol, wanita itu menangis dihadapannya dan meminta mantan kekasihnya itu pergi jauh dari hidupnya. Hye Ra benar-benar memohon pada Chanyeol bahwa ia ingin kebahagaiaanya dengan Sehun tak terusik hanya karna kehadiran pria jangkung itu.

Ternyata pria itu mengalah setelah banyaknya derai air mata Hye Ra yang terlihat oleh matanya. Chanyeol berinisiatif untuk pergi keluar negeri, memulai kehidupan baru dengan beberapa wanita baru. Namun dengan sedikit catatan kecil untuk Hye Ra, bahwa ia akan kembali jika Hye Ra ‘tak bahagia’ dengan Sehun.

Tak lama lamunan Hye Ra terpecah saat langkah seseorang terdengar berjalan menghampirinya didapur.

“Sehun!” ucapnya melihat figur pria nya yang begitu lesu.

Sehun memperlihatkan senyumnya, pria ini langsung mencium kening Hye Ra dan memeluk wanita ini untuk beberapa saat.

“Jae Ra belum pulang?” tanya Sehun.

Hye Ra hanya memperhatikan wajah prianya seraya menggeleng.

Sehun kembali tersenyum, “Tolong beritahu jika dia sudah sampai rumah. Aku akan istirahat sebentar!” ucap Sehun yang berlalu pergi meninggalkan Hye Ra kembali.

Hye Ra hanya terdiam melihat langkah Sehun yang semakin menjauh darinya. Ternyata wanita ini masih larut dalam pikirannya tentang Sehun dan pria masalalunya dulu.

-To Be Continue-

#Note: Aduh, ko nyesek ya mikirin nasib Jae Ra yang susah payah memecahkan teka-teki tentang Sean dan wanita misterius (Jae Mi)? :’)

Ebuset itu siapa yang comeback? ‘Park Chan..-‘ ahh, siapa, Je?

Sehun, itu yang mukanya ketutupan logo kafe Jae Mi, Hun! Jae Mi!!! *author berusaha ngasih tau*

-yang penasaran atau bahkan kebingungan tentang masa lalunya Hye Ra, Sehun sama Chanyeol, udah sedikit terjawab yaa..

Mungkin akan ada (banyak) yang protes dengan alur cerita selanjutnya dan penambahan atau comeback-an para tokoh sebelumnya di The Wedding. I told you, di After The Wedding ini memang akan banyak (sekali) kejutan yang MUNGKIN melenceng dari perkiraan kalian. Tapi aku akan berusaha membuat ceritanya gak terlalu rumit untuk dibaca, dan dipikirin apa lagi dibaperin.

Thanks for reading this story 🙂

See U next week(s) (?)

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 5)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s