[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) Chapter 20

IMG_20170716_203146

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 20

Author                      : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast               :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                       : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

 

“Jadi, kalian memanggilku kemari hanya karena seorang anak gadis menangis?” tanya Sehun memastikan telinganya tidak salah dengar akan penjelasan dari Mira. Ia tidak mau kedatangannya ke ruang kesehatan kampus secara tergesa-gesa akibat panggilan mendadak dari Hyojin menjadi sia-sia karena tak ada yang terluka sampai dia harus mengunjugi tiga wanita yang salah satunya meringkuk didalam selimut tersebut.

Pria tampan itu memijit kepalanya yang sedikit berdenyut, “Dengar, Jang Mira, kau sendiri tahu kan kalau aku sangat-sangat sibuk?, juga, aku memintamu datang kemari untuk mendiskusikan tentang menjadi partner tari Hyojin saat lomba di festival nanti, bukannya mengurusi hal seperti ini!” ucapnya kesal.

“Yak!” seru Kimberly yang tak tahan dengan keluhan Sehun, “Kalau mau bicara omong kosong dengan leader kami, sebaiknya kalian bicara berdua saja diluar. Dan pastikan suara kalian tidak terdengar sampai kemari.” Ketusnya seraya menarik gorden hingga menutupi tempat tidur Lee Young sekaligus dirinya.

“Apa pria-pria di universitas ini tidak bisa menjaga ucapannya?, dasar brengsek!” lanjutnya kemudian.

Mira segera membawa Sehun keluar ruangan sebelum pria itu turut terbawa emosi dan pertengkaran kembali terjadi seperti sebelumnya, walau ia sepenuhnya yakin kalau Sehun tak akan semudah itu terpancing amarahnya.

“Ada apa sih dengan teman-temanmu itu?”

Mira menghela nafas sambil memalingkan muka, “Mereka sedikit sensitif karena suatu kejadian buruk dalam perjalanan kemari.” Lantas menatap Sehun langsung sebagai peringatan, “Oleh sebab itu, kau jangan sampai membuat Lee Young semakin sakit hati dengan kata-katamu!”

“Arrgghh gadis itu benar-benar…” Sehun mengusap lehernya, “Lalu? Bagaimana? Apa kau bisa membujuk mereka untuk membantu Hyojin?”

Mira berdecak sebal, ia tahu kalau ia punya ‘hutang’ pada Sehun dan dengan cara inilah dia bisa membayarnya tanpa harus mengeluarkan banyak uang atau hal-hal yang lebih sulit lainnya. Tapi ia tak ingin teman-temannya terluka hanya karena harus membantu ketua mereka, dan omongan pedas dari Jun Hong sudah lebih dari cukup untuk membuatnya muak pada pria-pria universitas Yonsei.

“Kalau Kimberly, dia pasti mau melakukan apapun untuk dance, namun setelah apa yang terjadi pada Lee Young, aku tak yakin bisa meyakinkannya.” Ujar Mira, mengigit kuku jarinya dengan gusar.

Sehun menggigit bibir bawahnya, “Lalu? Kau mau bilang ‘tak bisa membantumu’ begitu?!”

Mira menatap Sehun tajam, kesal atas perkataan pria yang pernah beberapa kali menjadi partner dance-nya dulu tersebut. Beberapa detik kemudian dia tersenyum lebar seraya membuka mulutnya, menjentikkan jari didepan wajah Sehun.

“Tapi, kurasa kau bisa.”

“Hah? Aku?”

Mira mengangguk yakin, merangkul bahu Sehun yang lebih tinggi darinya dengan susah payah, kemudian, ketika berhasil -karena Sehun berbaik hati sedikit berbungkuk- ia pun membisikkan ide brilian yang telah dia pikirkan sedetik setelah melihat wajah pria bermarga Oh itu.

“Hah? Yang benar saja!” ujar Sehun yang langsung menegakan badannya, “Tidak, tidak, tidak…”

Mira berdecak, “Kenapa sih? Memangnya Lee Young seburuk itu apa sampai kau harus menolaknya mentah-mentah?!” gerutu gadis itu, “Aku tidak memintamu untuk menikahi temanku atau semacamnya!, aku cuma bilang supaya kau saja yang membujuk Lee Young, toh, kau yang butuh bantuannya juga kan?”

“Me-memang benar… tapi…”

“Dengar Oh Sehun.” Nada bicara Mira mulai serius, “Lee Young bukan gadis genit yang selalu menggodamu hanya karena tampan. Jadi, tolong jangan perlakukan temanku seperti wanita murahan yang menyebalkan.”

Sehun menghela nafas, lantas menatap Mira tak kalah seriusnya, dan tanpa mengatakan apapun lagi, keduanya tahu kalau mereka saling setuju.

***

Myungsoo yang baru selesai mengantar Mira dan kawan-kawannya keruang kesehatan akhirnya kembali lagi ke tempat ia bertemu dengan Hyojin tadi untuk mencari tahu keadaan gadis itu yang tadinya nampak serius bersama Park Chanyeol. Tapi dia tak bisa menemukannya disana. Karena itu Myungsoo memutuskan untuk mencarinya sebelum kelas selanjutnya dimulai, dia ingin tahu apa yang hendak Hyojin bicarakan pada Chanyeol sampai mengusir dirinya dan tiga gadis tadi secara tidak langsung supaya Myungsoo dan yang lainnya tak dapat mendengar pembicaraan mereka.

“Kau pikir kau ini siapa?!”

Awalnya Myungsoo pikir, suara bernada kesal milik wanita itu adalah suara mahasiswi yang tengah menindas mahasiswi lainnya, seperti bagaimana koridor sepi yang barusan ia lewati biasa digunakan. Namun ternyata bukan. Ia kembali dan mendapati Hyojin memekik marah pada Chanyeol yang sedang kebingungan karenanya.

Ia mengambil ponselnya, menekan aplikasi kamera dan siap merekam kegiatan dua orang tersebut.

“Yak, Hyojin-ah, kali ini kau harus percaya kepadaku, kali ini aku bersungguh-”

“Hentikan.” Potong Hyojin dingin, “Sudah kubilang kalau semuanya sudah berakhir kan?. Aku sudah tidak mau menyukaimu lagi, ada banyak hal yang harus kupikirkan dalam hidup selain dirimu!”

“Kau tidak perlu melakukan itu!” balas Chanyeol, “Kenapa kau harus melakukannya?”

Karena semakin sakit kalau aku terus menyukaimu, jawab Hyojin dalam hati. Namun mengatakan itu menunjukkan betapa menyedihkan dirinya, sebab itu, Hyojin lebih memilih menjadi pemeran jahat yang mencampakan Chanyeol daripada hubungan mereka semakin tidak jelas.

Toh, sejak kapan pria itu pernah menyukainya?, pikir Hyojin selama ini yang terus terulang-ulang dipikirannya.

“Karena menyukaimu sudah tidak menyenangkan lagi.”

“Apa?”

Hyojin tersenyum sinis, “Sudah tidak menarik lagi.” Ia mengulangi, “Dengar, kita sudah pernah pacaran dan bahkan sebelum kita saling mengetahui motif masing-masing, aku sudah merasa bosan dengan hubungan kita. Waktu itu aku sedang tidak waras sampai tidak bisa memikirkan alasan lain untuk melindungi keluargaku dari Lee Dae Ryeong. Jadi, yah, cukup jelas kan ucapanku?”

“Lee Hyojin, bicarmu…”

“Kenapa? Ada yang salah?. Hei, bukankah kau juga kejam karena menjadikanku kekasih sebagai umpan untuk membalas dendam?. Bukankah kita sudah impas? Kau mau aku mengulangi segala pembicaraan kita waktu itu?”

Chanyeol mendengus, “Lee Hyojin, hentikan lakonmu sebagai gadis cassanova, kau tahu kau tidak cocok dengan peran itu.”

“Pokoknya cukup sampai disini.” Ujar Hyojin seraya memikirkan kata-kata lainnya yang akan menjauhkan Chanyeol darinya, “Menurutmu aku ini mainan atau apa?. Kemarin kau bilang aku ini alat balas dendam dan hari ini kau bilang aku milikmu, memangnya aku ini pelayan huh?!”

“Oke, aku tahu kalau aku salah tapi untuk saat ini…” Chanyeol menggantungkan kalimatnya, menatap Hyojin supaya gadis itu dapat melihat ketulusannya, “…aku menyukaimu.” Berharap Hyojin akan luluh dan menghentikan emosi sesaatnya.

“Untuk saat ini?, jadi kemungkinan, esok atau lusa perasaan itu bisa saja berubah?” sarkas Hyojin tak terpengaruh.

“Bukan seperti itu maksudku!” sanggah Chanyeol dengan cepat, “Memangnya kau pikir aku pria macam apa?”

Hyojin kembali menaikkan sudut bibirnya, “Bukankah itu yang tadi aku katakan padamu?” gadis itu membuat Chanyeol terdiam. “Biar kuberi kau sebuah nasehat. ‘Saat ini’ bukan waktu yang tepat untuk memikirkan soal cinta. Urusi saja keluargamu termasuk balas dendam yang diinginkan kakakmu itu. Tapi tolong jangan libatkan aku dan orang terdekatku, aku punya dendam tersendiri untuk Lee Dae Ryeong dan kau tidak usah ikut campur, camkan itu!”

Kemudian Hyojin pergi meninggalkan Chanyeol sebelum pria itu sempat menahan Hyojin dan menjelaskan lagi kepadanya, bahwa kini dia sudah sadar sepenuhnya akan perasaannya, bahwa dia sudah yakin untuk menyukai Hyojin dan melindunginya. Meski sangat terlambat…

Myungsoo menghentikan rekamannya seraya tersenyum puas. Meski dia tak menyukai bagaimana Hyojin memintanya pergi dan lebih memilih bicara berdua bersama Chanyeol, namun pria itu senang dengan kenyataan kalau dia masih punya kesempatan untuk mengatakan pada Hyojin siapa dirinya, mengapa ia tiba-tiba mendekati Hyojin, serta sebab dia ikut andil dalam kekejaman Jiyeon terhadap Hyojin.

“Kau pasti akan sangat terkejut saat mengetahuinya, Jin-ah.”

***

Seorang anak laki-laki berseragam SMA tampak lesu sore itu, ia menendang tiap kerikil yang berada didepan kakinya, melampiaskan kemarahannya pada benda mati tersebut.

Siswa SMA itu ada Jinhyo, yang belum melepas seragam dan sepatunya walau sejak dua jam yang lalu telah berada dirumahnya setelah pulang dari sekolah. Alasannya berjalan di gang tak jauh dari rumahnya tentu saja karena ‘minggat tanpa rencana’ setelah bertengkar dengan orang tuanya yang dia anggap terus-terusan membahas soal kakaknya, padahal dia sudah mengatakan dengan jelas bahwa ia tak menyukai gadis itu tinggal satu atap bersamanya. Bagaimana pun juga, Jinhyo masih belum mempercayai Hyojin meski gadis itu telah berjanji untuk membalaskan dendamnya pada Lee Dae Ryeong.

“Kenapa juga ibu menghkawatirkan gadis itu?!” ia bicara sendiri, mengutarakan kekesalannya. “Padahal aku sudah bilang kalau jangan terlalu mempercayai pengkhianat itu. Bagaimana kalau dia bekerja sama dengan si Presdir sialan untuk kembali membuat keluarga kami porak-poranda lagi? Ck!”

Tanpa sadar Jinhyo menendang kerikil yang berukuran lebih besar dari yang lain dengan kuat, hingga menabrak tong yang berada tak jauh darinya lalu memantul hingga mengenai seorang pemuda yang berkumpul bersama teman-temannya. Pemuda itu mengumpat dengan keras dan menyadarkan Jinhyo kalau apa yang dia lakukan sudah membuatnya dalam masalah. Karena begitu pemuda tersebut melihatnya, dia langsung tersenyum lebar dan memerintahkan Jinhyo agar datang kepadanya.

Dia dalam masalah karena pemuda-pemuda tersebut adalah preman yang dulu sering menindasnya sewaktu SMP, apalagi setelah mereka dikeluarkan dan kabarnya dipenjara akibat melawan Hyojin-Yongguk, mereka pasti akan membalas Jinhyo berkali-kali lipat daripada kesalahan sepele yang ia perbuat pada mereka. Jinhyo bisa saja dibuat tak bisa berjalan lagi oleh mereka.

“Eoh? Lee Jinhyo…” panggil Rae Mi yang bertemu Jinhyo dipersimpangan jalan sebelum dia sempat menyelesaikan langkahnya untuk mendatangi para preman itu.

Ia berdecak, “Sebaiknya kau pura-pura tidak mengenalku kalau tidak mau terluka.” Bisiknya dengan penuh penekanan lalu melewati Rae Mi begitu saja.

“Hah… apa dia masih marah padaku?” ujar Rae Mi yang terus mengawasi Jinhyo, kemudian tak sengaja bertemu pandang dengan pemuda yang punya dandanan seperti berandalan itu.

Ponselnya berbunyi, ada panggilan dari Bang Yongguk. Rae Mi mengalihkan perhatiannya sebentar lantas menjawab panggilannya.

“Eoh, ada apa?”

“Dimana kau? Ibumu datang ke kampus!” suara Yongguk terdengar panik.

“Hah?! Yang benar?!”

“Menurutmu aku repot-repot menelponmu hanya untuk mengatakan suatu kebohongan?” terdengar decakan kesal, “Kau dimana sekarang? Cepat kemari!”

Rae Mi ikut panik, “A-ah, tapi aku hendak menemui orangtua Hyojin…”

“Untuk apa kau kesana? Mau membuat mereka marah dengan mengatakan kalau kau adalah anak dari Lee Dae Ryeong lalu meminta mereka untuk tidak punya pikiran buruk terhadap ayahmu mentang-mentang kau telah berteman dengan Lee Hyojin begitu?!”

“Bu-bukan begitu, aku cuma -akh!”

Terputus. Yongguk yang belum selesai bicara terkejut karena Rae Mi memutuskan panggilannya begitu saja. Dia ingin berpikir positif dengan menganggap bahwa Rae Mi kebingungan dan segera kembali ke kampus untuk membawa ibunya pulang. Tapi teriakannya tadi membuat Yongguk khawatir. Pria itu dikejutkan oleh ibu Rae Mi yang tiba-tiba berada dibelakangnya, tersenyum manis seraya mengatakan bahwa ia harus pulang.

“Apa tadi kau menghubungi Rae MI?” tanya beliau, Yongguk mengangguk. “Biarkan saja dia jalan-jalan, mungkin mencari gaun untuk pesta pertunangan kalian, soalnya Rae Mi bilang ingin belanja.”

“Ka-kalau begitu, biar saya yang antar.” Tawar Yongguk.

“Tidak perlu, aku kemari bersama sopir. Sebaiknya kau jemput Rae Mi, kalau-kalau gadis itu tersesat karena masih belum hafal jalanan Seoul.”

Yongguk mengiyakan kemudian mengantarkan ibu Rae Mi sampai di pintu keluar gedung. Setelah memberi salam pada beliau dan memastikannya sudah pergi dari area kampus, barulah pria itu mencoba menghubungi Rae Mi lagi. Sesuai ekspetasinya, gadis itu tak menjawab panggilannya kali ini.

“Aish!” ia semakin kesal karena ponselnya mati karena kehabisan daya.

Jun Hong dan Himchan yang sedari tadi memperhatikan ikut khawatir dan bertanya-tanya mengapa teman mereka terlihat dalam keadaan tak baik. Bahkan sebelum mereka mengatakannya secara langsung, Yongguk sudah mendatangi mereka serta meminta bantuan mereka.

“Bagaimana caranya menemukan lokasi seseorang dari melacak ponselnya?”

***

“Kau tidak pulang kerumahmu?” tanya Sehun pada Hyojin, kelas mereka sudah berakhir hari ini, tinggal menunggu Jong In yang belum menyelesaikan presentasinya di kelas lain.

Hyojin menggeleng, “Kau ingin terus memaksaku?”

“Bukannya begitu.”

“Ah, aku sudah muak mendengar kata ‘bukannya begitu’!” ujarnya sambil menutup kedua telinga. “Sekarang belum waktunya.”

“Lalu kapan waktunya?… ah sudahlah, terserah kau saja.” Sehun kemudian menyerah, memilih bermain game di ponselnya.

“Omong-omong, aku tidak melihat Yongguk saat kau keluar kelas tadi.”

“Entahlah, sejak bertemu dengan ibunya Kang Rae Mi, dia pergi bersama dua kacungnya. Sepertinya bolos kelas lagi.”

“Heh?, berani sekali dia?. Bukannya tadi kelasnya dosen Kim yang tidak mentolerir absen muridnya ya?”

“Terserah. Bukan urusanku.”

Hyojin mendengus sebal, tak ingin bertanya lagi pada Sehun yang sepertinya marah padanya.

“Aku mau ke toilet, jangan tinggalkan aku dan pulang duluan. Oke?” ia mengingatkan.

Sehun mengangguk lalu kembali tak acuh. Hyojin pun tak ambil pusing dan segera menyelesaikan urusannya di toilet, begitu keluar, ia mendapati Yongguk tengah berbincang dengan seseorang ditelepon, ditemani Jun Hong dan Himchan. Bukannya menyapa, ia justru penasaran dengan pembicaraan mereka sampai ekspresi Himchan yang biasanya santai dan terkesan tak peduli kini malah terlihat menyeramkan. Karena itu Hyojin mengendap-endap sampai berada dilingkup yang bisa mendengar suara tiga pria itu.

“Baik… baik, ya pesannya sudah masuk… terima kasih sudah membantu, akan aku transfer uangnya secepatnya… iya, dan tolong jangan hubungi polisi atau siapapun itu, kau hanya perlu percaya kalau ini bukan tindak kriminalitas… baik.”

Yongguk mengakhiri pembicaraannya, mengembalikan ponsel Himchan kemudian Jun Hong bertanya ‘bagaimana?’, membuat Hyojin makin penasaran.

“Katanya tempat terpencil, memang masih didaerah tempat tinggal Hyojin tapi tempat ini terkucil dari penduduk.” Jawab Himchan setelah membaca pesan yang tadi Yongguk maksud.

“Hyojin? Aku?” ujar Hyojin dengan suara pelan, “Apa-apaan ini?”

“Kita pergi dengan dua mobil, jadi bisa digunakan sebagai cadangan bila keadaan darurat. Parkirkan agak jauh, kita tidak tahu siapa dan berapa musuh kita nantinya.” Yongguk mengatakan strateginya.

Jun Hong berusaha membuat suasana lebih baik, “Hei, tapi kan belum tentu Rae Mi dalam bahaya, ya kan?” katanya, berusaha berpikir positif.

“Mari berharap dia hanya tersesat.” Himchan menimpali, walau dia sendiri tampak tak yakin dengan ucapannya.

“Ayo pergi sekarang!” ajak Yongguk.

Hyojin diam terpaku menyaksikan kepergian mereka. Perkataan Yongguk serta dua temannya terus terngiang dan membuatnya tak tenang, apalagi menyangkut pautkan dirinya serta Rae Mi. Pasti ada sesuatu yang tak beres, ucapnya dalam hati seraya mengikuti Yongguk diam-diam.

~To Be Continue~

Maaf atas segala typo dan salah kata, soalnya dikerjainnya ngebut T.T

Semoga terpuaskan, dan RCL Juseyooo~~~

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) Chapter 20

  1. waduh ada masalah apa lagi nih?
    aelah cintanya bang CY datang terlambat deh..
    Makin seru thor,, di tunggu next chaptnya segera ya.. Fighting.. 🙂

  2. duhhh kira2 rae mi diapain tuh? smoga yongguk cs bs tpt waktu
    kak, selain note’s life, apalagi ff kk yg laen , aku pengen bc yg laen, yg udh end pun gpp kok

  3. Lah….org y dibahas ga ngerti….
    Ya maklum dia g tau biduk permasalahnnya kok.
    Adeh….ceye oppa telat sih…
    Tuh kn hyojin jdi kesel sendiri,disaat mau melupakan mlh diberi harapn kt gini,gmn g muak coba,udah lama2 nunggu ga dikasih kepastian,abang g tau kalo ksbran org punya batasx ya.
    Okay…g pp kak,typo mah manusiawi,kalo g ad typonya ga ad manis-manisnya gitu 😅😅😅😅😅😅😅

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s