[EXOFFI FREELANCE] ENDING SCENE (Chapter 9)

img1497889077955

ENDING SCENE

Author :

Angeline

Main Cast :

Park Chanyeol x Wendy Son

Additional Cast :

Kim Saejong| Do Kyungsoo| (OC) Yoon Rae Na| Yook Sungjae a.k.a Park Sungjae|Amber Liu| Etc~

Rating : PG-17 |Length : Series Fic

Genre : Romance|AU|Angst|Sad|Adult|Married life

Disclaimer :

Ff ini murni karya tulis author. Jika ada kesamaan dalam cerita, tokoh atau apa pun, Itu semua bukan unsur plagiat melainkan ketidaksengajaan. Don’t copas without permission. Thankyou

Summary :

Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu bukan hanya untukmu? Melainkan kau harus rela membaginya dengan seorang gadis lumpuh?. Dan peranmu yang tadinya sebagai korban harus terganti menjadi peran penjahat yang seakan-akan telah merebut kebahagiaan seseorang.

-Chapter 9-

‘Let’s END this SCENE’

.

“Aku tahu, jika kau dan Sungjae sudah mengetahui ini sejak 4 tahun lalu. Kau masih sama Amber! Selalu merahasiakan hal besar seperti ini padaku. Sadarkah kau, jika kalian berdua tidak hanya mengahancurkan hidup Chanyeol? Namun juga menghancurkan kehidupan Wendy, sahabatmu sendiri! Sebenarnya apa yang kau pikirkan?!” Sentak Kyungsoo pada Amber, membuat gadis tomboy itu menitihkan air matanya.

”Tunggu Kyungsoo, aku bisa menjelaskan semua itu.”

“Kau mau menjelaskan apa? Bahwa kau sepakat dengan Sungjae menutupi hal ini dari semua orang? Dan membuat Chanyeol terus terjebak bersama Rae na dalam penyesalannya, dan akhirnya Sungjae bisa mendapatkan Wendy? Apa begitu rencanamu dan Sungjae?” Ucapan Kyungsoo benar-benar tajam, dan terasa menusuk dada Amber. Pasalnya, semua ucapan Kyungsoo benar adanya. Tepat seperti yang Amber dan Sungjae lakukan 4 tahun lalu.

“Aku tidak menyangka kau akan seperti ini. Apa kau sadar jika di sini, kaulah yang bertanggung jawab atas setiap penderitaan Wendy?” Papar Kyungsoo membuat Amber menggeleng cepat. Segera Amber memegang tangan Kyungsoo, dan meremasnya penuh arti. Amber ingin, sahabatnya ini mendengarkan setiap penjelasannya.

“Kyungsoo, aku tidak bermaksud menghancurkan kehidupan Wendy seperti ini. Tolong dengarkan aku Kyungsoo-ah.” Pinta Amber pada Kyungsoo, bahkan mungkin gadis itu akan berlutut di depan Kyungsoo untuk mendengarkannya.

“Apa kau senang drama yang kau buat bersama Sungjae?” Ucapan Kyungsoo terdengar sinis dan menyindir.

“Tidak. Bahkan selama 4 tahun, aku selalu merasa berdosa pada Wendy dan Chanyeol. Aku ingin mengatakan yang sejujurnya, namun Sungjae–“

“Apa kau sadar jika Sungjae dan Rae na memainkan peran yang sama? Dan kau sebagai kaki tangan mereka!” Potong Kyungsoo membuat Amber mendongak cepat melihat pria itu.

Ya, selama ini ia tidak sadar menjadikan dirinya penjahat. Dan membantu penjahat lainnya untuk menghancurkan kehidupan sahabatnya sendiri. Ia tidak berpikir jika semua yang ia lakukan, bisa berakibat fatal seperti ini. Amber tidak memikirkan semua itu, karena peran yang ia mainkan benar-benar hebat. Ia, bersama Sungjae dan Rae na adalah komplotan para penjahat yang hebat bukan? Jika Rae na penjahat yang tidak menutupi identitas dirinya lagi, maka Sungjae dan Amber adalah penjahat yang menggunakan topeng untuk menjalankan aksinya.

Kau sangat mengerikan Amber!

Apa kau pantas menyebut dirimu seorang sahabat Amber? Sepertinya tidak. Kau tidak pantas menyebut dirimu seorang sahabat yang baik.

“Maafkan aku.”

“Apa kata maafmu sekarang dibutuhkan? Semua sudah terjadi! Rencanamu menyatukan Wendy dan Sungjae sangat sukses. Apa kalian bahagia sekarang? Ah, apa kau juga akan merayakan pesta kemenangan ini?” Demi apa pun juga, mengapa kata-kata Kyungsoo benar-benar menusuknya seperti ini? Namun sialnya, tidak ada satu pun dari perkataan Kyungsoo yang bisa dielaknya. Seperti semua tuduhan itu memang benar adanya, dan menghakimi Amber dengan tegas tanpa keraguan.

Kyungsoo pun hendak pergi dari sana, namun Amber menahan tangan pria itu membuat Kyungsoo kembali menatap Amber dengan wajah penuh kemarahan.

“Bisa aku tahu, dari mana kau tahu hal ini?”

“Kau bisa menanyakannya pada salah satu sahabatmu?” Ucap Kyungsoo sarkas, kemudian melepaskan genggaman Amber di tangannya, dan berjalan meninggalkan Amber seorang diri.

Amber sedikit mencerna ucapan Kyungsoo barusan. Pikirannya berputar-putar, untuk mencari tahu siapa yang sudah memberitahu Kyungsoo mengenai hal ini. Tentu Sungjae tidak akan memberitahukan hal ini pada Kyungsoo. Lalu siapa yang mengatakannya? Bukankah Kyungsoo mengatakan jika dia salah satu sahabatnya? Jadi siapa?

“Tunggu! Tidak mungkin jika dia –Sungjae?”

Sungjae berjalan cepat saat menaiki lift hotel tempat ia menginap. Hari ini begitu gerah, dan ia ingin segera mandi. Hari ini juga  banyak sekali yang ia kerjakan, dan itu benar-benar membuatnya lelah secara pikiran dan fisik. Sekilas, Sungjae memikirkan apa yang sedang dilakukan Wendy di rumah. Apa ia sedang asik bermesraan dengan Chanyeol? Namun benar-benar aneh rasanya, Sungjae tidak merasa jika itu sesuatu yang harus dicemburui.

Ting

Pintu lift itu terbuka, namun Sungjae sedikit tertegun  mendapati sosok gadis yang ingin memasuki lift itu. Kim Saejong. Sedang apa gadis itu di Jeju? Tidak mungkin ia sedang liburan keluarga kan? Atau ia mengikuti Sungjae ke Jeju? Itu lebih gila lagi sepertinya. Sungjae masih tidak habis pikir, mengapa Saejong berada di hotel yang sama dengannya, dan mengapa Saejong bisa berada di Jeju? Setahu Sungjae, Saejong tidak pernah berpergian seorang diri, jika benar, biasa Saejong akan pergi bersama teman-temannya.

Kini, hanya mereka berdua di dalam lift itu. Saejong masih diam dengan pikirannya, sedang Sungjae hanya mencuri pandang beberapa kali pada gadis itu. Sungguh aneh, perasaannya benar-benar ingin memeluk Saejong, karena merindukan gadis itu. Namun itu tidak lagi bisa dilakukannya, karena status mereka sudah berbeda. Sungjae sudah menikah, dan ia tidak mau menduakan Wendy. Ia tidak mau menjadi seseorang yang ia kenal.

“Kau sedang liburan?” Tanya Sungjae, berusaha mencairkan suasana. Karena sejujurnya, mereka begitu canggung saat ini. Hanya sebuat pertanyaan sederhana, tidak masalah kan? Mereka juga berpisah secara baik-baik.

“Ya. Aku sedang liburang seorang diri.” Jawab Saejong tanpa menatap Sungjae. Pria Park itu menganggukan kepalanya, sambil menghela nafas panjang. Ini adalah suasana yang tidak pernah ia sukai dari dulu. Mereka canggung saat sudah berpisah.

“Apa kau mengajak romeo untuk liburan?” Tanya Sungjae, membuat Saejong langsung menatap Sungjae dengan tatapan kesalnya. Sungjae tertawa kecil melihat expresi Saejong seperti itu, dan sejujurnya Sungjae benar-benar merindukan tatapan kesal, khas seorang Saejong. Ah, kenapa perasaannya menjadi tidak normal seperti ini?

Ting

Pintu lift kembali terbuka, kali ini Sungjae harus keluar karena kamarnya berada di lantai 20, sedang Saejong berada di lantai 22. Sungjae melirik Saejong sejenak, kemudian tersenyum hangat. Hingga, saat pria itu setengah keluar dari lift, “Aku –merindukanmu, sebab itu aku berada di sini.” Kata Saejong cepat, membuat Sungjae langsung kembali masuk ke dalam lift itu. Sungjae tidak peduli, pintu lift itu kembali tertutup.  Ternyata benar, gadis ini berada di Jeju untuk menemuinya. Apa sebegitu besar rasa cintamu pada Sungjae? Jawabannya ya. Saejong sangat mencintai pria di hadapannya ini.

Sret

Tanpa berpikir dua kali, Sungjae menarik tengkuk Saejong, dan dengan gerakan cepat Sungjae melumat bibir manis Saejong dengan penuh kelembutan. Saejong menerima itu dengan penuh rasa bahagia. Ia sangat merindukan pria ini. Benar-benar merindukannya, hingga membuat hatinya sangat sakit. Sungjae merasa tangannya basah, dan Sungjae tahu itu air mata Saejong. Gadis ini menangis? Namun seperti tidak memperdulikan hal itu, Sungjae terus mencium Saejong tanpa henti, bahkan tanpa bosan menyesap rasa bibir Saejong yang begitu ia rindukan, mungkin?

Berkali-kali sungjae memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, agar dapat memagut bibir Saejong lebih dalam. Saejong yang sudah mengalungkan tangannya pada Sungjae, hanya menikmati ciuman Sungjae dengan hatinya yang berdesir.

“Sungjae tunggu–“

“Ada apa?” Sungjae menyatukan kening mereka dengan nafas terengah, seperti seseorang yang habis lari marathon.

“Ini tidak benar–“

“Kau tidak menginginkanku?” Tanya Sungjae dan Saejong menggeleng cepat, ia sangat menginginkan Sungjae. “Tapi– “

“Ssst.” Sungjae menyuruh Saejong untuk diam dan gadis itu hanya menurut tanpa memprotes.

Wendy sedang tertidur pulas di ranjang kamarnya, setelah ia merengek pada Chanyeol untuk pulang. Dan mau tidak mau, Chanyeol harus menuruti permintaan wanitanya itu. Lagi, Chanyeol dan Wendy sedikit bingung saat Kyungsoo bilang, Amber sudah pulang karena mengurus sesuatu yang penting, entah apa itu. Tanpa berpamitan? Seperti bukan Amber.

Chanyeol menyingkirkan helaian rambut Wendy yang menutupi wajah damainya saat tertidur. Seakan tidak puas hanya menatap sebentar, karena bagi Chanyeol, wajah Wendy selalu membuatnya terpesona.

Chanyeol menaikkan selimut tebal berwarna abu-abu pada tubuh Wendy, takut gadis itu tidak mendapat kehangatan yang cukup. Sejenak, Chanyeol mengusap perut Wendy yang kini tengah mengandung buah cinta mereka. Jujur, pria Park ini sedikit ragu jika ia akan memiliki waktu selamanya seperti saat ini bersama Wendynya. Mungkin saja, apa yang ia inginkan tidak akan sejalan dengan kenyataan yang ada. Lagi, Chanyeol belum memikirkan bagaimana rencana ke depannya. Apa yang harus ia lakukan untuk Wendy dan anak mereka ini? Mengakui segalanya tidak akan menyelesaikan masalah. Lantas, apa ia harus kabur bersama Wendy? Mungkin terdengar gampang saat memikirkannya, namun sangat sulit untuk melakukan hal yang dari dulu ingin Chanyeol lakukan bersama Wendy.

“Yeol? Kau belum tidur?” Lamunan Chanyeol tentang permasalahan kehidupannya seketika buyar, saat mendengar suara serak Wendy yang terasa menggelitik perutnya. Chanyeol tersenyum kemudian mencium kening Wendy sedikit lama, menyalurkan perasaan cintanya untuk gadis tersebut.

“Kenapa kau bangun? Kau tidak lihat, ini sudah jam berapa? Ini sudah hampir jam 1 malam. Ada apa sayang? Kau butuh sesuatu?” Tanya Chanyeol secara bertubi-tubi, membuat Wendy sedikit bingung menjawabnya.

“Em ya, aku mau roti bakar jika kau ingin tahu.” Ucap Wendy ragu, membuat Chanyeol sedikit mengerutkan keningnya mendengar ucapan Wendy.

Namun Chanyeol segera tersenyum, kemudian berdiri dari ranjang itu dan diikuti oleh Wendy yang menggandeng tangan Chanyeol dengan manja. Lantas keduanya beranjak ke dapur, dan Wendy mulai memperhatikan kegiatan Chanyeol membuatkan roti bakar untuknya. Tidak menunggu lama, roti bakar itu kini berada di sebuah piring hitam dan tersaji untuk Wendy nikmati.

Chanyeol duduk dan menarik gadis itu ke dalam pangkuannya, supaya ia lebih leluasa untuk memeluk Wendynya. Kini Chanyeol sibuk memperhatikan Wendy yang menikmati roti bakar buatan Chanyeol, gadis itu pasalnya terlihat sangat lapar. Mungkin karena sekarang ia tidak sendiri, melainkan ada sebuah janin di dalam perutnya yang membutuhkan lebih banyak nutrisi dari sebelumnya.

“Apa kurang?” Tanya Chanyeol dan Wendy segera mengangguk cepat, sontak itu membuat Chanyeol menghela nafasnya. Nafsu makan gadisnya benar-benar besar sepertinya.

“Tapi tidak usah.” Kata Wendy cepat sambil meneguk air putih di sampingnya.

“Kenapa? Bukankah ini kurang?” Tanya Chanyeol menaikkan alisnya.

“Karena aku ingin kau pulang sekarang.” Ucap Wendy kemudian berdiri dari pangkuan Chanyeol.

“Dan meninggalkanmu yang sedang hamil seperti ini?” Chanyeol menggeleng dan menarik tangan Wendy untuk menuju ke kamar. Chanyeol ingin menemani gadis itu, dan berada di sisi Wendy sebisa mungkin. Apalagi gadisnya sedang hamil, tidak mungkin Chanyeol meninggalkan Wendy dan pulang ke apartementnya kan? Chanyeol tidak sejahat itu.

“Tapi Yeol–“

“Istirahat sekarang nona Wendy. Jika tidak, aku akan membuatmu tidak bisa tidur sampai besok pagi!” Sentak Chanyeol membuat semburat merah pada pipi Wendy merekah. Chanyeol lantas tersenyum geli sambil mencium kening gadis itu dengan lembut.

“Kau tidak mau kan? Jadi jangan membantah dan cepat tidur sayang.” Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, lalu membaringkan tubuh Wendy di atas ranjang yang empuk.

Sungjae melirik seorang gadis yang tengah tertidur di ranjangnya, Sungjae tersenyum masam sambil menyingkirkan helaian rambut Saejong. Tidak! Mereka tidak melakukan apa pun kecuali tidur di ranjang yang sama. Meski saat ini dalam pikiran Sungjae, ia sama saja sudah mengkhianati Wendy, bukankah ia juga pria yang brengsek seperti kakaknya? Ataukan ia lebih brengsek mungkin?

Drrrt

Sungjae melirik ponsel yang berada di nakas samping ranjangnya. Sontak, Sungjae langsung meraih ponselnya itu dan melihat siapa sih pengirim pesan itu. Mata Sungjae sedikit jengah saat mendapati jika sih pengirim pesan adalah mata-mata yang ia bayar untuk mengikuti Wendy.

Tanpa berpikir lama, Sungjae menggeser layar ponselnya itu dan membaca pesan yang baru saja ia terima, mata Sungjae melebar sempurna saat membaca pesan itu. Bagaimana tidak? Jika di dalam pesan itu tertulis.

“Nona Wendy dilarikan ke rumah sakit oleh Kyungsoo dan Amber.”

Tidak menunggu lama, Sungjae segera mengambil kemejanya dan memakainya dengan cepat, pikirannya kacau dan ia takut jika sesuatu terjadi pada Wendynya. Apa gadis itu baik-baik saja? Sungjae mengambil ponselnya dari atas ranjang dan menelpon sekretarisnya dengan terburu-buru. Ia harus kembali ke Seoul malam ini juga.

“Aku harus kembali ke Seoul malam ini.” Ucap Sungjae melalui telpon.

Sungjae melirik Saejong sekilas yang masih tertidur, kemudian mendekat pada gadis itu dan mencium keningnya dengan sayang. Namun saat Sungjae hendak pergi, ia merasa tangannya ditahan oleh gadis itu.

“Kau mau ke mana?” Suara Saejong yang serak membuat Sungjae sangat gemas rasanya. Sungjae duduk di tepian ranjang dan mengusap surai Saejong dengan lembut.

“Aku harus kembali ke Seoul malam ini, karena Wendy masuk rumah sakit. Aku minta maaf harus meninggalkanmu, tapi kumohon kau mengerti hal ini.” Ucap Sungjae kemudian menarik tengkuk Saejong untuk mencium bibir gadis itu dengan sedikit melumatnya.

“Kau berjanji akan menemuiku lagi?” Tanya Saejong setelah bibir keduanya terlepas.

“Ya, setelah aku melihat keadaan Wendy, aku akan menjemputmu kembali. Kau bisa menungguku kan?” Tanya Sungjae tersenyum dan Saejong mengangguk kecil.

“Aku mencintaimu.” Saejong mencium bibir Sungjae, dan pria itu hanya mengangguk lalu berakhir mengecup puncak kepala Saejong dengan sayang, dan pergi dari sana.

Rae na mendengar suara dering telfon dari ponsel Chanyeol, dan dengan berani, Rae na merogoh saku celana Chanyeol untuk melihat siapa yang menelfon pria tampan tersebut. Tertulis…

‘Kekasihku’ di sana.

Rae na menatap sedikit kecewa, karena Chanyeol nyatanya sudah memiliki kekasih. Bukankah Chanyeol lebih cocok dengannya ketimbang kekasihnya saat ini?

Rae na tersentak saat tangan Chanyeol menariknya, hingga terjatuh ke atas dada bidang pria itu.

“Chanyeol-ssi?” Rae na berusaha membangunkan pria itu, namun nihil karena Chanyeol benar-benar berada di bawah pengaruh alcohol, hingga ia tidak mampu untuk sadar lagi.

Rae na perlahan melepaskan tangan kekar Chanyeol yang menahannya untuk tetap berada di dada bidan pria itu. Dengan perlahan, Rae na berdiri setelah menyelimuti tubuh Chanyeol dengan selimut tebal itu.

Rae na pun memilih keluar untuk menyegarkan tenggorokkannya dengan segelas air putih mungkin? Entahlah, malam ini terasa panas dan ia begitu lelah sepertinya. Ya, pesta bisa membuatmu lelah kan?

DEG!

Rae na terkejut saat mendapati seseorang berada di apartementnya, sungguh Rae na tahu siapa pria yang sedang duduk santai di sofa empuknya itu sambil meneguk bir kaleng di tangannya.

“Kau?” Ujar Rae na sambil mengepalkan tangannya.

Sontak pria itu menatap Rae na yang sudah berada di sampingnya dengan wajah marah. Pria itu lantas berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Wajah keduanya terlihat bersitegang, wajah Rae na terlihat marah menatap sang pria, dan pria itu hanya menatap datar wajah Rae na, bahkan seulas senyum miring menghiasi wajah tampan pria itu.

Rae na berjalan mendekat pada pria itu dengan maksud mengusir pria tidak diundang itu untuk keluar dari dalam apartementnya. Berani-beraninya pria brengsek ini masuk tanpa seijin Rae na?

“Keluar –mmh.” Rae na tersentak saat baru saja sebuah kata ingin keluar dari bibirnya, namun sang pria lebih dulu mencuri start dengan melumat bibir ranum milik Rae na. Bahkan, tidak ada kesempatan Rae na untuk meronta karena pria itu lebih dulu menguncinya dengan memeluk tubuh mungil Rae na dengan erat. Rasanya Rae na hampir sulit bernafas, dan ia merasa bibirnya juga sudah sakit karena lumatan kasar pria ini. Bau alcohol juga terciuma dipenciuman Rae na, sepertinya pria ini sedikit mabuk.

Sang pria akhirnya melepaskan ciuman itu dan mengecup leher Rae na sekilas, lantas ia tersenyum penuh arti setelah melalukan semua itu pada Rae na. Sungguh, Rae na ingin membunuh pria ini rasanya. Brengsek!

“Keluar dari apartementku sekarang juga, atau–“

“Atau? Ayolah sayang, kau tidak merindukanku? Ah, dan aku melihat kau membawa Chanyeol ke apartementmu, apa kalian akan melakukan sesuatu yang–”

“Keluar dari sini Lee Hoya!” Sentak Rae na dengan penuh penekanan, rasanya ia sudah terlalu lelah untuk berdebat lagi. Ia juga tidak ingin menatap wajah pria yang ia panggil Howon itu, “Kita sudah putus, dan kau bebas mengencani wanita mana pun yang kau mau, termasuk kau bisa dengan bebas menjamah tubuh mereka!” Teriak Rae na histeris, namun Hoya hanya tertawa mendengar ucapan Rae na.

“Kau masih marah karena kejadian waktu di Octagon? Hei, kau tahu sendiri jika mereka yang melemparkan tubuh mereka padaku. Termasuk dirimu, kau melemparkan tubuhmu–“

PLAK

Hoya memegang pipinya yang memerah akibat tamparan keras Rae na pada pipinya. Sakit dan terasa panas menjalar di area wajahnya itu, Hoya sedikit meringis namun detik selanjutnya ia tertawa lebar, bak seorang penjahat yang begitu kejam. Rae na sedikit takut akan tatapan tajam Hoya saat ini, ia mencium sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Kau tahu? Saat kau marah, kau terlihat sangat menggoda Rae na. Ah, apa kita harus menuntaskan sesuatu malam ini?”

“Dasar gila! Kau hanya anak yatim menjijikan, yang beruntung keluarga kaya menampungmu! Kau tidak lebih dari seorang rendahan, keluar dari sini sekarang juga brengsek!” Teriak Rae na histeris. Dan seketika itu juga wajah Hoya terlihat muram dan ia sangat marah dengan perkataan Rae na barusan. Oh, meski ia tengah mabuk, Hoya setidaknya masih sedikit sadar jika ia sedang berdebat dengan mantan kekasihnya ini.

“Segera tarik ucapanmu, sebelum kau menyesal Yoon Rae na.” Ancam pria itu sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Rae na hanya tertawa sinis, dan menyilangkan tangannya di dada menatap Hoya dengan tatapan rendahnya.

“Bukankah itu benar?” Ucap Rae na dengan nada ejekan, membuat hoya semakin geram dibuatnya.

“Kubilang tarik ucapan sialanmu itu, sebelum kau menyesal sudah mengatakan hal itu!” Hoya memekik. Rahangnya mengeras menahan geraman yang cukup membuat emosinya naik dengan cepat. Jika saja ia tidak tahu Rae na seorang wanita, ia mungkin akan memberikan salah satu pukulan terbaiknya pada pipi gadis itu.

“Keluar dari apartement sekarang brengsek!” Jerit Re na sekali lagi.

“Akan aku tunjukan, apa itu rasanya menjadi seorang rendahan!” Hoya tersenyum smirk kemudian menarik lengan Rae na secara paksa.

“Kita harus bertemu malam ini!” Suara seseorang melalui telfon membuat Sungjae hanya memijat pelipisnya pelan. Siapa lagi jika bukan Amber, sahabatnya.

Entahlah, rasanya Sungjae lelah bertemu orang lain, dan hanya ingin pulang memastikan jika Wendynya baik-baik saja. Ia baru tiba di Seoul, dan ia sangat lelah untuk membahas hal lain.

“Tidak bisakah ditunda?” Suara Sungjae terdengar lesuh saat menjawab.

“Tidak! Kau harus menjelaskan sesuatu padaku!” Suara Amber memang terdengar sangat serius saat ini.

“Aku harus melihat Wendy!”

“Tidak usah repot-repot, Karena Chanyeol sedang bersamanya.”

Harapan Sungjae pupus sudah saat mendengar nama kakaknya disebut oleh Amber. Oh, jangan pura-pura lupa jika Sungjae tidak tahu Wendy dan Chanyeol masih berhubungan, jangan lupakan hal itu Sungjae.

“Baiklah, aku menuju apartementmu sekarang!” Tutup Sungjae dan mematikan ponselnya dengan mendesah berat.

Sungjae keluar dari mobil mewahnya, dan segera melangkah dengan cepat menuju pintu apartement Amber, tidak menunggu lama pria Park itu langsung menekan bel apartement tersebut. Hingga dilihatnya Amber membukakan pintu untuk Sungjae, dan pria itu langsung masuk tanpa berbasa basi lagi.

Kini mereka duduk di ruang tengah, dengan Sungjae yang terlihat santai namun wajahnya menunjukkan jika ia letih luar biasa. Amber sadar itu, namun apa yang ingin ia bahas sekarang sangat penting, hingga membuat Amber tidak memikirkan kondisi tubuh Sungjae lagi. Ya, memang sangat penting.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Apa mengenai Wendy dan Chanyeol?”

“Ya, ini tentang mereka, juga tentang 4 tahun yang lalu.” Ujar Amber membuat Sungjae mengerutkan keningnya sebentar. Ada apa Amber membahas 4 tahun yang lalu? Bahkan rasanya Sungjae sudah sangat jarang mengingat hal mengenai 4 tahun lalu, jadi apa ada hal penting menyangkut masa lalu mereka?

“4 tahun lalu? “ Sungjae menaikkan alisnya, dan Amber mengangguk mantap. Kini keduanya menatap serius masing-masing, bahkan Sungjae sudah menegakkan duduknya.

“Kyungsoo…”

“Apa ini tentang tes DNA milik Rae na 4 tahun lalu? Dan kau ingin bertanya siapa yang memberitahu Kyungsoo mengenai hal ini?” Tanya Sungjae seakan tahu apa yang ingin Amber sampaikan padanya. Sejenak Amber tidak mengerti dengan cara berpikir Sungjae, namun ia menunggu sebuah penjelasan lebih detail mengenai hal ini.

“Aku yang memberitahunya Amber. Aku memberitahunya sebelum aku berangkat ke Jeju tadi siang.”

“Apa?! Tapi kenapa?”

“Karena aku ingin mengakhirinya. Amber, aku mencintai Wendy, bahkan sangat mencintainya. Bahkan selama 3 bulan, aku selalu berharap ia melupakan Chanyeol dan berapaling padaku, namun yang kudapat hanyalah sebuah tatapan kecewa dan penderitaan darinya. Kau sadar, betapa menyakitkan itu untukku? Melihat gadis yang aku cintai memandangku seperti seorang penjahat di matanya. Meski memang benar, akulah penjahatnya selama ini.” Jelas Sungjae membuat Amber hanya terdiam bak patung, serasa ia sedang mencerna setiap kata demi kata yang terlontar dari bibir Sungjae barusan. Ya, bukan hanya Sungjae sang penjahatnya, melainkan ia juga seorang penjahat bagi Wendy, jika saja gadis yang menajadi sahabatnya itu tahu, apa yang selama ini ia lakukan.

“Kita akhiri saja Amber, bahkan selama 3 bulan ini aku sudah menyiapkan surat perceraian kami.” Kata Sungjae lagi membuat Amber membulatkan matanya tidak percaya.

“Mungkin kau mau mengakhirinya, tapi tidak dengan cara seperti ini. Maksudku, jangan menceraikannya untuk sekarang.”

“Ada apa?”

“Karena Wendy sedang ha– mil.” Sungjae diam bak patung, seperti nyawanya kosong dan melayang entah ke mana. Sedikit merasakan goresan kecil di hatinya, yang memang sudah sering tergores sejak 4 tahun yang lalu.

“Anak Chanyeol hyung?” Tanya Sungjae dan Amber mengangguk lesu. Seperti menyesal sudah menyampaikan berita ini pada Sungjae.

“Bagaimana dengan Rae na?” Tanya Amber membuat Sungjae menghela nafasnya berat. Sejenak ia memijat kembali pelipisnya, karena jujur ia bingung untuk berpikir saat ini. Mengetahui wendy yang masih menjadi istrinya itu hamil anak dari hyungnya sendiri.

“Entahlah Amber, aku tidak bisa berpikir untuk saat ini. Yang jelas, aku ingin semua ini berakhir. Meskipun aku tahu resiko apa yang harus aku tanggung.” Ujar Sungjae menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan pikirannya dan berusaha berpikir keras untuk masalah yang menurutnya semakin rumit ini.

“Kita harus beritahu ayahmu.” Ucap Amber nyaris tanpa berpikir, membuat Sungjae membuka matanya dengan cepat dan menatap Amber tidak percaya.

“Kau ingin membunuh Chanyeol hyung? Hei! Dia masih saudaraku.” Sungjae tidak terima dengan ide Amber barusan.

“Percayalah padaku Sungjae, aku yakin ayahmu memiliki solusi untuk masalah ini. Kita harus cepat, karena bulan depan ayah Wendy akan ke Seoul untuk mengunjungi kalian!”

“Sial.” Umpat Sungjae mengacak surainya dengan kasar.

Wendy mengerjapkan matanya, saat merasa sebuah alarm membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Lantas tangan mungil Wendy terulur dan mematikan jam waker itu, lalu melirik pria yang tidak memakai koasnya, alias hanya bertelanjang dada sedang memeluknya protektif dari tadi malam. Wendy tersenyum lalu mencium bibir Chanyeol dengan lembut, kemudian beralih memandangi wajah pria itu dengan menyusuri setiap inci wajah Chanyeol dengan telunjuknya.

Wendy tersentak saat merasakan pelukan Chanyeol semakin mendekapnya dengan erar, bahkan rasanya benar-benar erat di pinggangnya. Kini mata Chanyeol terbuka perlahan, meski sejujurnya ia masih mengantuk. Sempurnalah saat ini, kedua orang itu saling memandang kagum.

Tangan Chanyeol beralih memegang tengkuk Wendy, kemudian berakhir dengan mencium lembut bibir gadisnya, disertai lumatan-lumatan manis yang membuat Wendy terbang ke angkasa rasanya.

Ring

Kegiatan mereka terhenti saat mendengar suara ponsel Chanyeol berdering, dengan enggan Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka dan melirik ponselnya yang berada di atas meja samping ranjang. Chanyeol memutar jengah matanya saat mendapati nama Rae na terpampang di layarnya. Wendy tahu siapa yang menelpon, melihat raut wajah prianya itu seperti malas mengangkat panggilan tersebut.

“Yeolie, kau harus mengangkatnya.” Wendy tersenyum kemudian mencium cepat pipi Chanyeol dan segera beranjak dari ranjang itu.

Chanyeol medesah berat kemudian menegakkan duduknya, lalu dengan enggan menekan tombol hijau pada layar ponselnya dan berikutnya menempelkan alat komunikasi itu pada telinganya.

“Wae?” Suara berat Chanyeol mengawali konversasi itu.

“Kau tidak pulang semalaman. Ke mana saja kau huh?” Suara setengah berteriak Rae na membuat Chanyeol meremas ponselnya sendiri. Merasa kesal jika Rae na terus mengusik segala kegiatannya.

“Jangan mencampuri urusanku.”

Bip

Chanyeol mematikan ponsel itu, dan segera menaruh ponselnya di atas meja dengan kasar. Chanyeol mengusap wajahnya dan segera turun dari ranjang king size itu. Tidak berniat memakai kaosnya terlebih dahulu, Chanyeol langsung keluar dari kamar untuk mencari keberadaan kekasihnya tersebut. Tidak menunggu lama, Chanyeol tersenyum mendapati Wendy sedang menyiapkan sarapan di dapur.

Lantas, Chanyeol mendekat dan memeluk gadisnya dari belakang, membenamkan dagunya pada leher putih Wendy, bahkan terkadang mengecupnya dengan gemas.

“Geli Yeol.” Ucap Wendy sambil berusaha melepaskan pelukan Chanyeol pada perutnya.

“Oh ayolah, bahkan aku sudah sering melakukannya.” Kata Chanyeol membuat Wendy akhirnya hanya diam dan melanjutkan kegiatannya.

“Bukankah kata dokter kau tidak boleh bekerja yang terlalu berat?”

“Apakah membuat nasi goreng, hal yang berat? Ayolah sayang, aku tidak suka kau terlalu protektif seperti ini.” Kata Wendy sedikit kesal pada Chanyeol, yang terlihat melarangnya melakukan kegiatan.

“Baiklah gadis keras kepala.” Kata Chanyeol menggeleng, lalu memberikan sebuah ciuman manis pada pelipis Wendy, sebelum Chanyeol melepaskan pelukan hangat itu.

“Kau harus bekerja kan? Setelah sarapan, kau harus pulang.” Ucap Wendy sambil menyiapkan piring di atas meja, lalu menaruh nasi goreng itu di atas meja. Kini makanan telah siap, dan Wendy juga Chanyeol sudah duduk berhadapan untuk menikmati makanan tersebut.

“Bagaimana jika aku tidak mau?” Ucap Chanyeol lalu menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya. Mendengar itu wajah Wendy langsung menatap pria tersebut dengan tajam, “Park Chanyeol!” Bentak Wendy.

“Aku hanya bercanda sayang, astaga.” Seru Chanyeol menggeleng melihat Wendy yang terlihat marah padanya.

Chanyeol melirik arlojinya singkat, ia sudah siap dengan kemejanya, dan ia harus pulang untuk mempersiapkan keperluannya di studio nanti. Wendy yang juga sudah selesai mandi dan hanya menggunakan bathrobenya, mulai menyusuri pakaiannya di dalam lemari.

Chanyeol yang tadi berfokus pada ponselnya, kini beralih fokus pada Wendy. Bagaimana tidak? Gadis itu baru saja selesai mandi dan hanya berlapis bathrobe berwarna putih yang melingkar indah pada tubuhnya. Jika saja Chanyeol tidak mengingat pesan dokter untuk tidak melakukan ‘sesuatu’ pada Wendy, Chanyeol akan dengan senang hati membawa gadis itu ke atas ranjang.

“Ehem.” Chanyeol berdehem membuat Wendy menoleh sejenak pada pria yang sedang menatapnya dengan pandangan aneh.

“Kau kenapa?” Tanya Wendy mendekat pada Chanyeol. Sungguh, Chanyeol bisa mencium aroma sabun Wendy yang membuatnya hilang akal. Bahkan ia seperti seseorang yang menginginkan sesuatu dengan sangat, namun Chanyeol tidak bisa menggapainya. Gadis ini selalu membuat Chanyeol hilang akal sehat.

“Em, Yeolie?” Panggil Wendy sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Chanyeol.

“Hm?” Chanyeol hanya bersuara pelan, karena ia sedang berusaha mati-matian untuk menahan gejolak yang menganggunya sedari tadi.

“Apa terdengar aneh kalau aku memintamu untuk tidak bekerja?” Ucap Wendy membuat Chanyeol sedikit mengerutkan keningnya bingung.

“Jadi kau mau aku menemanimu sepanjang hari?” Tanya menggendong Wendy dan menaruh gadis mungil itu di atas meja,

“Ya?” Suara Wendy membuat Chanyeol tersenyum.

“Aku benar-benar ingin menemanimu sejujurnya, namun hari ini aku harus melakukan seleksi pada model-model baru. Dan–“

“Baiklah.” Ujar Wendy memotong ucapan pria itu, membuat Chanyeol menyesal rasanya.

“Sayang, jangan marah.” Kata Chanyeol mulai menciumi wajah Wendy dengan kelembutan.

“Tidak.” Elak Wendy, meski rasanya gadis itu memang kesal, Chanyeol menolak keinginannya.

“Aku akan langsung menemuimu sepulang kerja, aku berjanji.” Yakin Chanyeol sedikit berbisik, sambil mencium gemas tengkuk Wendy yang memang menggodanya sedari tadi.

Wendy tidak bersuara dan hanya diam, meski Chanyeol sudah menggodanya dengan mencium setiap inci wajah Wendy, namun gadis itu tetap tidak bersuara.

“Kau sungguh menggemaskan.” Bisik Chanyeol sambil mencubit pipi gadis itu dengan gemas.

“Baiklah, aku masih memilik satu jam sebelum bekerja. Kau mau bermesraan?” Dan Wendy mengangguk dengan cepat. Ah, sungguh menyenangkan melayani gadisnya yang tengah hamil. Bahkan Chanyeol rasanya sangat senang saat sikap Wendy benar-benar manja saat ini, Chanyeol juga senang dengan sikap Wendy yang suka merajuk padanya. Itu membuat Chanyeol sangat bersemangat.

-To Be Continued-

Ihiy udah Chapter 9, dan gak lama lagi berarti ff Ending Scene bakalan tamat. Ada yang sedih epep ini mau tamat? Hing T_T aing sedih sih yah. Wkwk.

Ada yang bisa nebak, endingnya gimana? Hehe, sejujurnya aku juga belum tahu bakalan gimana sama endingnya. Semoga aja sesuai harapan kalian eak. Chapter ini aja, baru aku tulis hari ini. Sebenarnya aku gak ingin update minggu ini, tapi karena aku mencintai kalian, haha.

Btw, mungkin chapter terakhir bakalan aku PW, mungkin gaes, mungkin. Cause, aku tidak ingin mengotori mata kalian saat membacanya, karena mengandung unsur-unsuran. Cukup aku aja yang kotor, kalian jangan /PLAK/

Untuk yang mengharapkan mbak Rae na minggat dari ff ini, sepertinya kalian bakalan bertambah kesal. Hahaha. Ini aku spoiler gak sih? /Abaikan/

Udah deh notenya, hehe. sekian dan terimakasih.

Jangan lupa komentar dan like yah bebebku semuahh. Saranghae (Kecup jauh)

 

Iklan

25 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] ENDING SCENE (Chapter 9)

  1. Dari chapter 1 sampai sekarang yg udah aku baca,bener-bener bikin penasaran sama ending dari ff ini…
    Tpi Aku berharap ending dari ff ini happy ending….
    Dan buat author jangan patah semangat untuk selalu buat karya yg lain yg lebih bagus dari ini…😉

  2. Ya ampum mbk wen wen,, ku jd ikut grmes deh,, pngin juga cubit pipiny,

    Aku sneng part ini, krna raena mnculny dkit hahaaha go away aja lu!

  3. Wait…wait…wait
    Jadi hoya mantannya rae na??
    Bukannya hoya temenya chanyeol(?) kalo ga salah hoya pernah memperingatkan Chanyeol buat ga mempermainkan rae na atau wendy ya dulu. Lupa2 inget….

  4. Oh terimakasih kak,kau tidak menghilangkan keimutan seorang sungjae,ya biarpun masih bikin sakit hati sih,tapi gak apa2lah.
    Next kak,chanwen plizzzzz bersatulah.(sekalian di kehidupan nyata).

    • Wkwkwkwk.. luvyu tuu beybeh😗😘 /Awas muntah/😂😂
      Happy end gak yah? Hehe ditnggu saja yah😗
      Dapat PWnya di Got PW biasa😁 .
      Tapi bru mungkin kok 😄😆

  5. Thor, bikin endingnya Happy yaaa mohon dengan sangat 🙂
    Sangat di syg kan kalo tidak bahagia di akhirnya, dan aku pun akan kecewa hehee maaf ya Thor sedikit memaksa,, so much buat thor :*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s