[EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 9)

CYMERA_20170722_221151

Title | Let Me In  [Sequel Hold Me Tight]

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

                         Yoon So hee  x Baek Eun Ha

                          Irene Bae  x   Park Ae Ri

                        Song Yun Hyeong  x  Yun Hyeong

                        Kim Jong In  x   Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun  x   Dahyun

                                Wang Jackson  x  Jackson

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life  x Revenge

Disclaimer | Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Poster | RahayK Poster

Summary  this  Chapter |Aku tak perduli jika kau memang lebih bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang.Malah aku bersyukur untuk itu,tapi aku mohon padamu Ae Ri -ssi,kembalikan kebahagiaan Baekhyun.Kau harus tahu,anakku hidup seperti boneka tanpa perasaan sejak kau meninggalkannya

Rate | PG15

Previous Chapter| First Encounter > Before time tell you to stop > Interview > Stranger(us) > Past pt.1 > Past pt.2 >Her Beloved > Fools love > For Life > All thing is back[now]

-=9=-

1 tahun silam..

            Lelaki itu memandang layar monitornya sebentar, lantas ia segera menghentikkan aktivitasnya begitu ia melihat Sekretarisnya itu masuk kedalam ruangannya. “Ini adalah hasil saham Song Corp. dalam bidang farmasi dalam kurun waktu 3 bulan ini –rata-rata menunjukkan pasar saham anjlok dan memengaruhi yang lainnya, Daepyo-nim.” Jelas lelaki itu. “Baiklah,aku tahu siapa yang bisa menaikkan saham dan pasar farmasi Song Corp. dan aku minta tolong padaku segera selidiki keberadaan Kai Kim di Jerman, dan berikan aku kabarnya nanti, karena Song Corporation membutuhkan kinerjanya –“ pinta lelaki tampan itu yang merupakan pemilik atas Song Corp. “Baik, daepyo –nim.”

                               

Jerman, 1 tahun silam..

            Lelaki itu berada dalam kesendirian didalam sebuah ruangan minim cahaya yang dikelilingi oleh pintu dengan tralis dan kawat listrik, penjagaan ketat 24 jam tanpa akal untuk bertahan, lelaki itu hanya bernafas seperti mayat hidup. Daripada dibilang bahwa ia tahanan kelas atas, dirinya lebih mirip seperti binatang yang menunggu pawangnya untuk mengeluarkannya dari kandang.

Dan, saatnya tiba.

“Get Up! Follow Me! –“

            Meski begitu, lelaki itu tak pernah kehilangan jiwanya. Dan, ketika melihat dua orang yang menemuinya lelaki itu bak psikopat, sementara tangannya diborgol. “Kai Kim –ssi, aku akan langsung bicara ke inti saja. Jadi –apa kau akan membuat kesepakatan denganku? Kau bisa keluar dari sini, kembali ke Korea menikmati udara Seoul dan –kembali ke duniamu. Bukankah, itu kesepakatan yang menggiurkan untukmu –Kim- Kai –ssi?”

Bukannya menjawab, lelaki berbaju nara-pidana itu menyeringai sakarstik. Ia mendekat kearah kaca tembus pandang dimana lelaki yang menawari kesepakatan itu hanya memadangnya tanpa emosi. Lelaki itu menggeleng tak percaya dan mengangkat kepalanya menatap lawan bicaranya picik. “-call. Kesepakatanmu menarik, Tuan.” Ujar lelaki itu seraya tertawa puas, lantas lelaki yang menawarkan kesepakatan tadi hanya tersenyum samar lalu beranjak bangun dari tempatnya duduk. “Kesepakatan lebih lanjutnya kita bahas setelah kau tiba di Korea –silahkan nikmati sisa waktumu disini.”

Lelaki itu pergi dari ruangan gelap itu, sementara lelaki lainnya hanya bersandar di tempatnya duduk. “Tentu saja.”

 

CHAPTER 9TH

            Eunha masih kesal pada Wonwoo karena tak membiarkannya untuk turun dari mobil dan menghabiskan malam di Rumah Sakit. Alih –alih mencairkan suasana yang sepi, Wonwoo mencoba memulai perbincangan “Aku baru sadar sudah banyak CCTV di daerah menuju rumah kosmu, Eunha..” ujar Wonwoo yang juga dulu tinggal disekitar rumah kos Eunha. Membuat Eunha tetap melihat pandangannya keluar meski matanya melihat objek yang jadi bahasan Wonwoo. Eunhapun merasa begitu, dulu –jalanan yang ia lewati setiap pulang malam setiap hari dari kerja paruh waktunya setelah usai sekolahnya sangat gelap dan tanpa CCTV, Eunha yang berani sekalipun tetap merasa khawatir saat pulang sendirian pada masa-masa itu. “Mungkin itu salah satu perbuatan Ahjussi –ku.”terka gadis itu asal saja, ia juga tak tahu sebab pastinya, mungkin karena banyak warga sekitar yang mengeluhkan jalan yang gelap dan merasa tak aman.

“Mana mungkin, memangnya dia itu pegawai tata ruang dan kota –kau ini ada-ada saja, Baek Eunha!” pungkas Wonwoo tak percaya, lalu menepikan mobilnya dibahu jalan mereka sudah tiba di rumah kos Eunha yang berada diseberang jalan.“Karena, CCTV itu ada sejak aku bertemu dengannya.Jadi, siapa tahu?” ujar gadis itu seraya membuka seat-beltnya, dan segera turun dari mobil setelah sebelumnya berterimakasih pada Wonwoo karena telah mengantarnya dan menolongnya hari ini.

Begitu turun dari mobil Wonwoo, gadis itu hanya melihat mobil Wonwoo yang berlalu dan gadis itu memandang sebuah lampu jalan sebentar dan hanya tersenyum kemudian masuk kedalam rumahnya.

5 tahun silam..

            Entah sejak kapan, mengawasi gadis itu hingga tiba didepan rumahnya menjadi kegiatan rutin Baekhyun ketika tiba di Seoul.Ia hanya merasa bahwa tidak aman membiarkan gadis itu pulang sendirian larut malam karena jalanan menuju rumahnya gelap dan juga tanpa CCTV  yang menambah kekhawatirannya, lagipula bukan tanpa alasan ia hanya merasa bahwa gadis itu harus dilindungi sebagaimana ia melindungi Dahyun dulu.Walaupun hanya mengamatinya dari kejauhan, hingga gadis itu pulang dengan selamat sudah lebih dari cukup buat lelaki bersurai hitam itu dan itu cukup ampuh mengusir rasa sepinya.

Setelah menunggu lama,yang ia tunggu akhirnya datang juga. Gadis itu hanya berjalan kebawah memerhatikan langkah kakinya tanpa melihat apa yang ada dihadapannya, air mukanya tampak tidak mood sehingga Baekhyun mengurungkan niatnya untuk menyapa gadis itu dan lagi –lagi Baekhyun hanya memerhatikannya hingga gadis itu masuk kedalam pekarangan rumahnya dari seberang jalan. Baekhyunpun mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.

“Ahjussi,pastikan CCTV ini aktif selama 24/7 bukan? –dan aku juga minta supaya lampu jalan dinyalakan menjelang langit gelap.”ujar Baekhyun sementara sang teknisi masih menyelesaikan pekerjaannya. “Iya tuan, anda bisa memantaunya dari ponsel anda selama 24/7 penuh.” jawab sang teknisi menjelaskan. Baekhyun megangguk, sementaa sang teknisi membereskan perkakasnya dan bersiap pergi dari sana karena pekerjaannya sudah selesai. Namun, Baekhyun kembali berujar “Jika ada masalah aku bisa menghubungi anda lagi ‘kan, Ahjussi –maaf aku terlalu cerewet tentang masalah ini. Karena banyak wanita ataupun siswi tingkat akhir yang pulang malam sendirian rasanya tidak aman membiarkan jalanan gelap apalagi tidak ada CCTV.” Baekhyun berucap ragu –karena ia merasa tidak enak mengganggu petugas itu malam-malam. Lagipula, ia tidak punya waktu lagi untuk mengawasi gadis itu setiap malam karena ia harus segera berangkat ke Amerika dan tentu ia harus mengatakan hal itu pada gadis siswi itu. “Tidak masalah tuan. Kalau begitu –saya permisi dulu.Selamat Malam.” Ujar sang teknisi lalu membungkukkan badannya dan segera berlalu dari sana.Baekhyun melakukan hal yang sama dan tersenyum  “Ye, terimakasih banyak Ahjussi..”

 

            Eunha berjalan sendirian seperti biasa, namun malam itu rasanya sungguh berbeda dan untuk pertama kalinya ia merasa jalan begitu terang. Gadis itu menengadah dan sebuah lampu jalan menerangi langkahnya. ‘Eo! Sudah tidak gelap –Baek Eunha kau tidak perlu takut lagi sekarang –semuanya aman jika kau pulang malam.’ujar gadis itu dan melanjutkan perjalanannya, entah mengapa hari itu ia merasa menjadi orang yang paling beruntung dan gadis itu mengulas senyuman yang dapat dilihat sepasang mata dari sisi jalan lain. Dan, kini dirinya benar-benar bisa meninggalkan gadis itu pulang sendirian tanpa kekhawatiran yang menghantuinya setiap saat.Karena, melihat gadis itu tersenyum membuatnya juga melakukan hal yang sama dan rasanya lega melakukan hal sederhana itu.

 

::: LET ME IN:::

“Kau sungguh tidak mau ikut ibu melihat Joo Eun? –apa kau tidak rindu padanya?” tanya Mi Yeon pada putera semata wayangnya seraya melilitkan syal hadiah dari Baekhyun yang anak lelakinya bawa saat ia kembali beberapa waktu lalu. “Tentu saja aku rindu padanya –tapi karena aku menjagamu semalaman dan tak tertidur tolong biarkan aku istirahat penuh seharian ini ya,bu?” Baekhyun memeluk sang ibu erat dan merajuk agar keinginannya terturuti, dan faktanya begitu. Miyeon tersenyum dan mencubit ringan pipi Baekhyun dan melangkah ke pintu. “Baiklah –istirahatlah. Ibu akan menyampaikan salam dari ayahnya untuk cucuku.” ujar Miyeon dan menghilang dari balik pintu.

Miyeon sangat terkejut begitu melihat sosok yang sedang berdiri didepan makamnya Joo Eun. “Joo Eun –eomma?” hanya itu yang keluar dari mulut nyonya Miyeon begitu melihat wanita yang dulu ia sudah anggap seperti puterinya sendiri kini menoleh dengan keadaan yang terbalut kemewahan namun seperti tak ada kebahagiaan disana, membuat Miyeon merasa kasihan melihatnya ia bahkan nyaris tak mengenal mantan menantunya itu. “Eomoni -sudah lama tidak bertemu anda.”sapa wanita itu begitu melihat sosok yang memanggilnya. “Aku ingin bicara denganmu –tapi tidak didepan Joo Eun.”ujar Miyeon lalu melangkah pergi dari rumah abu. “Nde –eomoni..”

Mereka duduk berhadapan di Cafe yang tak jauh dari rumah abu. Kecanggungan dan asing menyelimuti mereka. Setelah menolak untuk memesan cofee nyonya Miyeon terdiam dan akhirnya Ae Ri yang memulai perbincangan “Bagaimana kabar anda –eomoni?”

Miyeon menghela nafasnya berat, ia tak mengerti bagaimana bisa gadis itu menanyakan kabarnya setelah semua yang ia perbuat. “Aku mengajakmu disini, bukan untuk membahas kabarku ataupun kabarmu –tapi aku  harus menyelesaikan semuanya selagi kita bertemu.”tegas Miyeon. Ae Ri mengigit bibirnya dan menunduk “Maafkan aku, eomoni –‘ katanya dengan suara parau, karena menahan rasa sesak ia tahu menangis didepan orang yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri tak akan menghasilkan apapun. Ae Ri  tahu betul ia sudah mengecewakan beliau.

“Tidak ada gunanya kau mengatakan itu sekarang. Keadaan tidak berubah hanya karena permintaan maafmu baik padaku ataupun Baekhyun. Jadi –aku akan langsung ke inti dan berbicara sebagai seorang ibu.” Jelas Miyeon menatap Ae Ri nanar.

“Ye –eomoni.. silahkan bicara –‘ ujar wanita itu pasrah. “Berhenti untuk terus-terusan mencoba bertahan dihidup putraku –kau harus keluar dari hidup Baekhyun. Jangan pernah mencoba untuk menjelaskan apapun lagi padanya –‘

Mendengar  itu, Ae Ri memohon pada Miyeon dan memegang tangan beliau namun ditepis “Eomoni –tapi aku-‘

Miyeon memotong dengan cepat, ia tak tahan lagi berlama-lama dengan Ae Ri yang terlihat menyedihkan untuknya. “..kau sudah punya hidup sendiri –kau hanya perlu menetap disana dan berhenti untuk mencoba kembali ke hidup putraku. Kau –tidak perlu menyakiti lebih banyak orang lain hanya demi kebahagiaanmu sendiri, Park Ae Ri –ssi! Aku tak perduli jika kau memang lebih bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang.Malah aku bersyukur untuk itu,tapi aku mohon padamu Ae Ri -ssi,kembalikan kebahagiaan Baekhyun.Kau harus tahu,anakku hidup seperti boneka tanpa perasaan sejak kau meninggalkannya.”ketus Miyeon dan segera beranjak dari sana namun ditahan oleh Ae Ri, likuid gadis itu mengalir.

“Semua memang salahku, eomoni. Tapi –biarkan aku meminta maaf padanya sekali saja. Tolong –pertemukan Baekhyun denganku, eomoni –‘

Miyeon semakin frustasi mendengar permintaan Ae Ri, yang tak masuk akal. Ia melepas tangan Ae Ri baik –baik dan pergi dari Cafe setelah sebelumnya berujar  “Jangan bicarakan omong kosong apapun lagi!dan –berhentilah untuk membencinya –karena Baekyun sama sekali tak layak untuk itu!camkan itu Park Ae Ri -ssi!”

::: LET ME IN:::

2 Minggu berlalu..

Eunha hanya melihat kearah luar begitu ia mendapatkan bus yang akan mengantarkannya ke kampus. Yap, hari ini ia diminta untuk melakukan bimbingan dengan professor Kim, sebetulnya skripsinya sudah melewati tenggang waktu karena ia sibuk bekerja di D Magazine atas rekomendasi professornya yang satu itu. Fokusnya beralih pada layar LED yang ada disalah satu gedung persimpangan jalan tertulis ‘Misteri Identitas Dellion Foster’ membuat gadis itu hanya menunduk lesu mengingat Wonwoo sedang dikirim untuk liputan ke Timur Tengah bersama Yuri Sunbae dan divisi berita eksklusif, artinya ia harus menunda misi yang diberikan oleh direkturnya, Seo Jun. Dan, saat gadis itu tersadar membuat ia lupa bahwa halte kampusnya sudah lewat sejak beberapa detik lalu. “Ahjussi! Hentikan busnya, aku ingin turun!” teriak Eunha gelagapan.

**

Beberapa gadis terus menjadikan lelaki itu sebuah pusat perhatian, karena tampangnya yang rupawan. “Apa harus aku bertanya pada salah satu gadis itu, dimana ruangan ayah?” gumamnya sambil tebar pesona pada mahasiswi dikampus. Lelaki berlesung pipi itupun menanyakan keberadaan ruangan sang ayah yang adalah rektor di kampus ini.

“Cheogi,-apa ada yang tahu ruangan professor Kim?”

**

Lelaki paruh baya itu menghentikkan aktivitasnya begitu seseorang mengetuk pintu. Ia pun mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintunya tadi namun siapa sangka bukannya disambut sang tamu itu justru dilempar buku oleh lelaki paruh baya yang adalah pemilik ruangan itu, beruntung lelaki itu segera mengelak sehingga buku melesat dan ia kembali memungutnya kemudian menghampiri sang ayah dengan cengiran kanak-kanak. “Untuk apa kau kesini? Memang kontrakmu jadi putraku belum habis ya?”sapa lelaki itu menyindir seorang yang jadi tamunya dipagi ini. Mendengar celoteh sapaan lelaki yang sudah ia cari sejak tadi membuat ia tertawa renyah menanggapinya santai.

“Soal kontrak itu sepertinya berlaku abadi sampai mati. Bagaimana kabarmu, abeoji?Bukannya seharusnya itu kalimat pertama saat orang tua lama tak melihat anaknya, benar bukan?” ujar sang lelaki yang tak lagi muda pada sang ayah. Sementara, si lelaki tua hanya menurunkan kacamatanya dan menyipitkan netranya yang sudah tak fokus lagi, ia hanya perlu memastikan bahwa yang ada didepannya benar-benar putra pertamanya yang tak berguna sama sekali ketika pulang dari luar negeri. “Aku tak perduli dengan kabarmu –lagipula untuk apa kau kembali? –aku tak mengerti kenapa aku punya dua putra tapi sama-sama tak ada gunanya..” keluh sang ayah menyindir si anak-anak frontal, membuat lelaki itu hanya mengulas senyum canggung dan merajuk “Oh, ayolah abeoji...jangan begitu. Memangnya abeoji tidak punya masa kelam dan nakal sepertiku ketika muda-‘ mendengar perkataan sang anak, lelaki itu tak dapat menjawab. Kemudian, sang anak melanjutkan sambil menepuk tangan bangga karena ia menang dalam debat kali ini.

“…ckck, sudah kuduga –kau itu sama saja denganku, abeoji..”lanjut sang anak duduk di kursi sang empu ruangan. Ayahnya mengambil buku lain dan kali ini lemparan tepat kesasaran dan mengenai kepalanya.

 “Jong In!kau semakin kurang ajar –‘ rutukkan sang ayah terhenti ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya lagi untuk kedua kalinya, kali ini pasti tamu yang sudah ia tunggu sejak tadi. “Masuklah..” pinta lelaki bergelar professor itu. Sementara, lelaki bernama Jong In itu meringis tanpa suara masih sambil cengengesan. Namun, ia segera terdiam ketika melihat sosok yang muncul dibalik pintu itu, bukan cengengesan ia justru tersenyum menang.

**

“Masuklah..” terdengar jawaban dari dalam ruangan professor Kim begitu ia mengetuk pintu ruangan beliau. Eunha menarik nafas dalam, setelah merasa siap gadis itupun membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan, namun belum sempurna engsel pintu tertutup dengan tangannya ia dibuat terkejut dengan kehadiran seorang lain yang duduk di kursi kerja Professor Kim, lelaki itu tentu dengan jelas melihat kearahnya dengan senyuman lebar yang main-main menampilkan lesung pipi yang tercetak sempurna. Niatnya ingin menutup mata dengan kehadiran lelaki itu, justru tujuannya masuk keruangan ini dan bertemu dengan pemiliknya membuat ia melanjutkan langkahnya maju setelah menutup pintu rapat. “Kukira kau tak bisa datang hari ini, Baek Eunha..kau sepertinya sibuk sekali ya?” sapa Professor Kim, membuat Eunha hanya tersenyum merendah dan menjelaskan

“Tidak juga Professor,aku minta maaf karena aku menyerahkannya melewati jadwal yang anda beri.” Kata Eunha tak menghiraukan kehadiran lelaki yang sedang berjalan kearahnya dan professor Kim berdiri, namun meski begitu Eunha terganggu dengan kehadiran lelaki itu di ruang professor Kim karena dari yang Eunha lihat Professor Kim juga merasakan hal yang sama.

Lelaki itu berhenti dihadapan Eunha dan mengantungi tangannya kesaku celananya. “Eo! Jadi –namamu itu Baek Eunha ya?-‘ sapa Kai tersenyum lebar. Eunha hanya mengernyit melihat tingkah lelaki aneh ini, Eunha heran darimana ia dapatkan kepedeannya ini, karena dari yang Eunha tahu professor Kim berbanding terbalik dengan lelaki gila satu ini. “Kau itu –‘ belum selesai bicara, Kai mengangguk mengiyakan seakan sudah mendengar semua yang gadis itu baru akan dikatakan.

“Sudah kubilang padamu –tak ada yang tau takdir Tuhan bukan?”

“Jong In –bisakah kau keluar dulu dari sini? Eunha punya urusan yang lebih penting darimu.” Pinta professor Kim mengisyaratkan putra pengganggunya untuk segera meninggalkan ruangannya, ia bahkan tersenyum terpaksa dan akhirnya sang anak menurut. Meski begitu professor Kim harus mendorong anaknya untuk segera melangkah ke pintu, sementara Eunha masih memandang Kai malas. “Senang bertemu denganmu lagi, Baek Eunha!” katanya berteriak sebelum menghilang setelah diusir oleh ayahnya sendiri dari ruangannya.

 Professor Kim mempersilahkan Eunha untuk duduk disofa tamu dan beliau duduk dihadapannya. “Maaf sebelumnya professor –aku mungkin tak sopan menanyakan ini padamu, tapi –apa lelaki aneh itu anak anda?”

“Sedikit malu mengakuinya, tapi tak ada jawaban lain yang dapat menghancurkan fakta konkrit itu. Apa kau sudah mengenalnya?” jawab professor Kim seraya tertawa renyah, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Eunha mengangguk ragu “Ye, dia teman direkturku di D Magazine..”

Professor Kim menjentikkan jemarinya “Oh ya, aku ingat. Oh ya, bagaimana bekerja disana?” tanya beliau, membuat Eunha sempat terdiam sejenak. Ia canggung membahas apapun yang berkaitan D Magazine. Tapi, tidak mungkin juga ia bilang yang sesungguhnya tentang pengalaman buruknya disana. “Ye, professor. Meski seperti yang anda tahu bekerja tak lebih menyenangkan dari belajar –sebetulnya aku tak bermaksud begitu –professor.. maaf.” Jelas Eunha sebisa mungkin, entah mengapa itu membuatnya semakin nervous saja. Kata-katanya menjadi ngelantur dan hanya dibalas sebuah ulasan senyum maklum oleh beliau. “Aku mengerti itu –Eunha. Jadi –soal skripsimu –‘

**

            Setelah Kai menunggu lama diluar ruangan, akhirnya gadis yang ia tunggu keluar dari ruangan ayahnya. Eunha bukan malas karena masih ada perbaikan dalam skripsinya. Tapi, karena begitu ia keluar dari ruangan professor Kim yang ia lihat malah Kai. Dan, sesuai dugaannya “Ada apa dengan wajahmu, Eunha –ssi?”

“Bukan urusanmu!”

“Oh, ayolah –aku bertanya baik –baik padamu.”

“Dengar ya –aku sudah selesai bicara dengan ayahmu. Jadi –kau bisa kembali keruangan beliau dan lanjutkan perbincangan yang belum selesai karena kedatanganku tadi.”

“Omong-omong,rasanya senang bertemu denganmu lagi!Baek Eunha..”

“Aku malah tidak ingin melihatmu lagi, Jong In-ssi!” gidik Eunha dengan wajah masam.Namun, hanya dibalas tawa renyah oleh laki berlesung pipi itu. Tiba-tiba saja, di pelataran parkir ada mobil terhenti tepat di hadapan Eunha yang hampir tiba di ujung lorong Departemen Jurnalistik.”Jung Yeon-ah!-” panggil Eunha.

Eunha tersenyum menang dan berjalan cepat meninggalkan lelaki yang terus mengekorinya sejak ia keluar dari ruang pak kim.

“Cepat naik!” ujar Jungyeon yang sudah bersiap menancap gas.

“Hei! Baek Eunha!perbincangan kita belum selesai!” ujar Jong In mengejar Eunha. Namun, mobil sudah melaju dan Eunha hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum menang.

**

     Baekhyun kini hanya menselonjorkan kakinya di sofa panjang sembari menonton tv dengan channel acak yang terus ia ganti sejak beberapa menit lalu. Tidak ada siaran khusus favoritnya, Baekhyun bukan orang yang betah berlama-lama menonton layar televisi yang programnya hanya itu-itu saja. Ia melirik Jae Bum yang sedang sibuk di dapur suasana terlalu hening ketika ada dua orang di apartemen ini namun rasanya hanya Baekhyun seorang dikarenakan Jaebum yang terlalu pendiam atau dirinya yang terlalu dingin hingga lelaki itu tampaknya canggung untuk bicara dengan Baekhyun.

“Jaebum -ah!?” panggil Baekhyun masih memandang layar tv sesekali ekor matanya mengintip apa respon lelaki itu. “Ye?” responnya singkat dan cekatan. Ia segera meninggalkan dapur lalu menghadap ke Baekhyun. “Coba, ceritakan tentang dirimu padaku.” kata Baekhyun lalu mengalihkan pandangnya kini ke Jaebum. “Ye?” lagi, Jaebum hanya menjawab singkat, ia menatap atasannya tak mengerti. “Aku bilang padamu untuk menceritakan dirimu.” ulang Baekhyun. “Ah, ye. Aku keturunan Korea asli, saat aku melamar kerja untuk menjadi sekretarismu aku membutuhkan uang untuk kembali ke Seoul, karena adikku sakit. Aku tinggal dengan adikku dan Ibuku di daerah Seokcheok-dong, Daegu. Aku menunda kuliahku di Amerika beberapa tahun lalu, dan aku berpikir untuk pindah kuliah di sini saja. Hanya itu, ceritaku.” ujar Jaebum membuat Baekhyun terdiam sejenak lalu mematikan saluran tv yang sejak tadi memang tidak ada yang menarik perhatiannya. “Lalu, bagaimana keadaan adikmu sekarang?” tanya Baekhyun dengan suara melunak, terbesit Joo Eun dipikirannya. “Ia sudah di rumah bersama ibuku di Daegu, meski setiap 3 bulan ia harus kembali ke Seoul untuk check-up.”terang Jaebum. Baekhyun hanya mengangguk mengerti.

“Apa kau sudah punya tempat tinggal di sini?” tanya Baekhyun lagi, Jaebum memegang tengkuknya lalu menjawab “Tidak jauh jaraknya dari sini, aku hanya menyewa atapnya saja.” kata Jaebum ragu. Baekhyun tersenyum kecil lalu menjentikkan jarinya. “Bagus. Aku punya ide.” ujar Baekhyun jenaka. Kali ini, Jaebum melihat sisi lain lagi dari sang atasan.

“Ide?” ia balik bertanya. “Ya, ide. Sepertinya, akan bagus jika aku yang tinggal di rumah atapmu. Dan kau yang tinggal di apartemenku ini. -‘ ujar Baekhyun lalu melanjutkan “..seperti yang kau tau, apartemen ini sudah kosong 5 tahun. Ada alasan aku tidak membiarkan apartemen ini di jual. Jadi, kau bisa menempatinya. Dan kurasa hal yang terbaik adalah kau juga bisa membawa adik dan ibumu tinggal disini, apartemen ini cukup untuk ditinggali bertiga. Bagaimana?”

“Tapi, bangunannya tak sebagus apartemenmu, Presdir.” ungkap Jaebum masih tak yakin.

“Aku pernah hidup jauh dibawah sana. Jangan khawatir.-‘ kata Baekhyun lalu menepuk bahu Jaebum.

“..Oh ya, apa barang-barang yang aku minta untuk di kemas sudah kau selesaikan?” tanya Baekhyun lalu beranjak dari sofa. “Ya, sudah beres. Apa kau akan pergi?” tanya Jaebum yang melihat Baekhyun mengambil coat dan kunci mobil dari nakas yang terletak di belakang sofa. “Mencari udara segar. Aku bosan. Dan, segera hubungi jasa angkut barang untuk membawa barangmu ke apartemen ini dan sisa barangku segera kirim ke rumah atapmu, Jaebum.” Jaebum mengangguk mengerti, Baekhyun segera menurunkan sepatu dari raknya. Jaebum hanya mengekorinya dan berdiri diambang batas pintu dan ruang utama.

“..Aku ingin tidur di rumah atapmu malam ini juga. Kirim alamat rumahmu padaku.” ujar Baekhyun lalu membuka pintu. “.. Aku pergi.” pamit Baekhyun dan segera menghilang dibalik pintu tanpa menunggu jawaban Jaebum lagi yang baru saja ingin bersuara. Lelaki itupun hanya menghela nafas panjang, dan benar apa kata Nam Joon – akan ada banyak kejutan ketika dirinya tiba di Korea nanti. Ia pun terpaksa memakan ramyun yang ia buat sendiri.

**

   Baekhyun berjalan memutar untuk menuju pelataran parkir yang letaknya di balik bangunan utama apartemennya.Ia butuh waktu untuk sendirian hari ini. Meski dari awal, kesendiriannya sudah terganggu begitu sebuah bola mengenai lengannya,lalu ia melihat sekumpulan bocah lelaki bermain di taman, ingatannya mulai memuai tentang Joo Eun. Tak ingin bernostalgia lama-lama, Baekhyun hanya kembali melempar rendah bola itu hingga salah satu anak menangkapnya. Mereka pun kembali bermain, sementara Baekhyun kembali berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.

**

    Mesin mobil menyala, dan Baekhyun hanya melihat GPS sebentar, ia berpikir “Kemana aku harus menghabiskan waktu hari ini?” gumamnya penuh tanya. Bertemu Miyeon sepertinya bukan pilihan terbaik, ia pun memilih untuk mematikan GPS nya dan memutuskan untuk ke sebuah tempat. Tempat dimana ia bisa memulai hidup barunya, hingga ia berada di tingkat sekarang.

::: LET ME IN:::

      Eunha membuka laptopnya, ia mulai mengetik sebuah kalimat untuk membuat artikel mengenai Dellion Foster. Matanya mulai melirik hal lain didetik berikutnya, tangannya meraih foto yang ada di dalam dokumen. Foto itu diambil tepat di depan gedung Gohaeng Chemical Industry, membuat Eunha jatuh kedalam lamunan yang mengingatkannya pada seseorang. “Appa..” lirih Eunha tanpa gadis itu sadar. Hingga sebuah getar interval teratur yang berada di atas laptopnya membuat Eunha keluar dari lamunannya. Ia sempat ragu, untuk menekan virtual hijau yang ada dilayar datar ukuran 5 inchi itu, sampai akhirnya getar itu terhenti sebelum Eunha sempat untuk menyentuh layar datar itu. Namun, tak lama getarnya kembali datang dan akhirnya dengan segera Eunha menggeser tombol virtual hijau dan menempelkan benda itu ditelinganya, ia kali ini mencoba mendengar -walau enggan.

Detik pertama hanya terdengar suara tangis yang tertahan diseberang telfon membuat Eunha segera terhenyak mendengarnya. “Apa yang terjadi?!” ujarnya dengan nada panik, “..baiklah, aku akan kesana.” setelah panggilan itu diputus Eunha lebih dulu. Gadis itu segera meninggalkan semuanya dan mengambil coat dan barang yang ia butuhkan secukupnya, kemudian segera berlalu.

:::LET ME IN:::

     Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada bangku yang ia tempati, tadi ia merasa lapar dan sekarang ia merasa perutnya serasa akan meledak begitu ia usai makan ramyun instan yang kedua kalinya.

“Benar! Ramyun korea adalah yang terbaik.” ujarnya seorang diri. Lagipula, jika dipikir lagi sudah sangat lama ia tak memakan ramyun instan yang langsung di makan seperti tadi. Kini, dirinya merasa haus, Baekhyunpun memutuskan untuk kembali ke dalam untuk membeli minuman yang dapat menyegarkan tenggorokkannya. Ia membuka lemari pendingin, jajaran minuman berbagai jenis siap untuk menghapus dahaganya, namun alih-alih tangannya mengambil sebotol air mineral ukuran sedang, lelaki itu malah merasa tertarik dengan jajaran botol minuman berkarbonasi.Lelaki itupun mengulas sebuah senyuman,toh bukan karena minumannya, ia tersenyum karena melihat deretan minuman itu membuatnya teringat pada musim dingin 5 tahun silam dan juga pada seseorang yang sangat gemar meminum minuman karbonasi itu walaupun musim dingin sekalipun.

Ia pun tak sadar, bahwa ada seseorang yang memerhatikannya dari balik rak seller dengan tatapan intens, Baekhyun hanya berjalan ke kasir dan meletakkan air mineral yang memang ia pilih sejak awal dan dua botol cola ukuran single. Orang yang mengamatinya tadipun mengikuti Baekhyun ke kasir, begitu tangan Baekhyun ingin meraih colanya, sebuah tangan raih juga meraih benda yang sama.

“Oraemanida, Byun Baekhyun!” sapa lelaki lain yang dari tadi sempat mengamatinya dari jauh.

:::LET ME IN:::

Bersambung..

a/n

mulai sekarang aku akan apdate sesuai komentar aja, yah jadi kalau ada yang komen aku apdate tapi kalo nggak, kemungkinan besar apdate bakal mangkrak sampe berminggu-minggu, karena buat saya komentar pembacalah yang memotivasi saya buat terus nulis, kalo kalian hanya membaca dan bergumam dalam hati aja buat apa?saya juga gak denger, soalnya rasanya sedih ketika kita capek buat cerita dengan niat menyenangkan pembaca tapi gak ada feedbacknya.. karena saya juga sering bca ff orang lain kok dan saya komen walau telat atau sekedar keren nih atau apalah yang buat authornya semangat~ hehehe udah kok gitu aja,, kadang saya suka sedih aja.. makasih banyak yang sudah mendukung ff ini. Semoga fanfic ini bisa kalian baca sampai selesai yaa ~~

see yaa~

keep health and joy your life!!

RHYK 30/07

 

 

 

Iklan

22 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 9)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (CHAPTER 17 PT 2) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN 17: MAD (NO) HATE | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 15) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [Bagian #10] Let Me In: Best (bad) gift – Ssstt!! This Fiction!

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 14) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] – LET ME IN -13: MEET AND INVITATION | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In [Chapter 12] | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 11) | EXO FanFiction Indonesia

  9. Gak sabar nunggu kelanjutannya >< Apa cuma aku aja ya yg berharap Baek ketemu lagi sama Chanyeol? Hahahaha rindu Chanyeol. Cepet2 updatenya yhaaaa 💟

    • well, belom kepikiran bakal masukkin mas ceye lagi ke sequel hehehe.. smga ada kali ya eheheheh kalo mau baca cast ceye judulnya adorable love ya cloud~ makasih udah baca
      kalo gak ada halangan tiap minggu akan apdate selalu

  10. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 10) | EXO FanFiction Indonesia

  11. Huaaa suka sukaaa.. penasarann nihh baekhyun ketemu siapaaa yaaaaa? Sayangnya gaka danm pertemuan antara eunha dan baek baek.. semangat yaa buat nulis lanjutanyy!!!

    • Ayo ayo tebak~~ siapa ya kira”?
      Ada kok pertemuan mereka kan di rs pas ibu baekhyun di rawat, itu di chapter brp gtu kalo gak salah dan di airport pun juga ketemu, tp ceritanya dr sudut pandang eunha sehingga kesannya baekhyun gak perduli sm eunha. Tapi di next chapter bakal ada pov dr baekhyun tentang pertemuan dia sm eunha disana kamu bs tau gmn perasaan baekhyun heheheh

    • insha allah nggak, walaupun bakal banyak halang rintang buat si baek bahagia yaa berdoa aja semoga akhirnya happy bukan sad, karena sampe skrng masih gak tau endingnya gimana masih dalam diskusi wkwkwk

  12. Kak Author aku Readers baru disini…Mohon izin baca ff nya yha kak…insyaallah aku akan komen slalu ff kak. Yha wlaupun pendek,geje dan agak lebay dikit sih hehehehehe…. Salam kenal yha kak author

    • Hai … Shinta salam kenal yaa.. Iya memang hrus komen sbg tanda kamu menghargai penulisnya.. Lagipula kayaknya gak cuman aku kok yg ingin dinilai tulisannya, smua author pasti mau diapresiasikan tulisan mereka.. Btw.. Makasih udh komen yaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s