[EXOFFI FREELANCE] KUPU KUPU MALANG (Chapter 8)

1501256921954

[Oh Sehun (EXO), Seravina (Oc), Park Chanyeol (EXO)]

[Another Cast : Baekhyun (EXO), Chen (EXO), Hera (OC).]

[Cameo: Shannon Arrum williams (solo)]

[Romance, AU, Hurt/Comfort]

[Rate : R]

[Chaptered]

[Storyline by Nano]

BIG THANKS TO MY DONGSAENG DURHAQA(read: Annonly) WHO HAVE BEEN MADE THE POSTER.

[Perhatikan rating. Ada adegan poppo, dimohon kebijakannya]

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

[Summary : Kisah biasa di antara sejuta kisah klasik lainnya.

Tentang seorang adik yang mengingkar janjinya.

Tentang seorang gadis yang tidak dapat melindungi apa yang harus dilindungi.

Dan juga, tentang seorang pria yang menaruh dendam sekaligus cinta.

Semua itu, perjalanan hidup yang mereka tempuh … hanyalah buah dari penyesalan.]

 [Sorry for typo and happy reading…]

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Seravina menggenggam hati-hati tangan Sehun yang dijejali kabel. Wajah pucat itu mulai mengeluarkan rona seiring berjalannya waktu. Terbaring selama satu minggu di kamar putih, Sehun belum juga sadar. Setelah sehari divonis kritis, Sehun dipindahkan dari ICU meski beberapa kabel masih betah menempel di tubuhnya.

 

Sudah satu minggu terlewati, sudah satu minggu pula berbagai semangat dan perhatian terbagi untuk Sehun. Ada Suho yang memberi segala tunjangan makanan untuk Sehun, Baekhyun dengan segala buku catatannya menceritakan kejadian selama di sekolah, ia juga menjelaskan materi pelajaran padanya seakan Sehun bisa mendengar segala celotehannya. Sena dengan riangnya membacakan novel romantis kesukaannya berharap Sehun bangun dan mengejeknya karena terlalu banyak memakan kebahagiaan semu. Joohyun sesekali menyempatkan datang hanya untuk membisikkan harapan agar Sehun bangun maka ia berjanji akan memperlakukan sama rata pada Seravina. Bogum juga hanya menyempatkan beberapa kali menjenguk, ia takut akan jatuh jika terlalu lama berada di dekat Sehun. Karena pada kenyataannya, Joohyun dan Bogum keduanya memiliki kesamaan yaitu menyibukkan diri agar teralihkan perhatian dari Sehun.

 

Shannon yang merasa sangat bersalah karena ia sadar bahwa dirinya adalah penyebab komanya Sehun, berulang kali meminta maaf pada Joohyun yang hanya ditanggapi senyum tipis. Joohyun tahu bukan sepenuhnya kesalahan Shannon, Sehun terlalu baik hingga mengorbankan dirinya sendiri. Chanyeol yang menemani Shannon hanya diam dan merangkulnya.

 

Dan terakhir, sang kakak dengan wajah tak kalah pucatnya berusaha selalu berada di sampingnya. Awalnya Sera tidak mau pulang dan mengisi perutnya, setelah beberapa petuah dari paman Sera baru menurut. Tadinya Sera tidak peduli dengan pekerjaannya yang ia lalaikan, namun mengingat segala bantuan yang Kyungsoo beri Sera pun akhirnya bersikeras untuk bekerja kembali. Kyungsoo marah, ia bukannya tidak senang dengan Sera yang bekerja dengan tatapan kosong dan tidak fokus. Alasan Kyungsoo marah adalah karena ia tahu sakit yang didera, Sera terlalu memaksakan diri. Padahal Kyungsoo mengerti dan memberikan izin kerja.

 

“Sehun-ah…,” Sera mengusap punggung tangan Sehun dengan ibu jarinya. “sampai kapan Sehun tidur terus? Tidak lama lagi Sehun ‘kan akan ujian, Sehun memangnya tidak mau lulus?”

 

Inilah yang dilakukan Seravina setiap kali menjenguk, bermonolog ria seakan memanggil Sehun. Miris memang, Seravina sudah seperti kehilangan akal sehatnya.

 

“Temanmu yang bernama Baekhyun itu lucu sekali.” Seravina senyum tipis mengingat kelakuan Baekhyun beberapa waktu yang lalu. “Sehun tahu? Baekhyun katanya meminta noona agar menjadi noona-nya saja kalau Sehun tidak juga sadar. Ia bilangh-”

 

Seravina membekap mulutnya agar isakan tidak lolos, air matanya pun mengalir tanpa bisa Sera tahan. Tangannya menggenggam erat tangan Sehun. “Ia bilang kalau menjadi noona-nya akan selalu meminta bekal sekolah, lumayan untuk menghemat.”

 

Genggaman terlepas. Seravina membekap mulut dengan kedua tangannya. Ia menggeleng-geleng kepala frustrasi. Seravina berusaha mengenyahkan fakta bahwa Sehun masih tertidur tidak merespon dirinya. Sungguh sangat bodoh.

 

“Mengapa Sehun senang sekali membuat noona menangis, hm?” lirih Seravina di antara isak tangisnya. Bibirnya bergetar menahan gejolak tubuhnya. Luka dihatinya memang tidak berdarah tetapi membuat matanya selalu gerah.

 

“Sepertinya Sehun bermimpi sangat indah ya sampai tidak mau bangun?” Sera menangis tersedu, ia tidak bisa menahan isak tangisnya. Matanya terpejam dengan air mata tetap mengalir deras. Tidak menyadari tangan yang ia genggam sebelumnya jarinya sedikit bergerak.

 

Kelopak mata itu perlahan terbuka, sedikit demi sedikit. Sehun mengerjapkan matanya berulang kali. Cahaya putih yang menyilaukan pandangan mulai menghilangkan kabut sehingga Sehun bisa melihat jelas keberadaan dirinya.

 

Dinding tak berwarna yang asing. Sehun mencoba menggali ingatan terakhir kali. Ah, tentu saja. Serangan tiba-tiba dari Chanwoo. Sehun ingat detik-detik terakhir sebelum kesadarannya hilang. Ia memeluk seorang gadis yang diincar Chanwoo. Gadis itu … bagaimana keadaanya? Jika ia terbaring di rumah sakit, lalu apa kabar kondisi gadis itu? Apakah Sehun … tidak berhasil melindunginya?

 

“Aargh….” Sehun meringis saat mencoba untuk bangun namun ternyata tubuhnya terlalu lemas dan teramat sakit. Sehun hanya bisa menatap langit-langit, menengok pun ia tidak bisa.

 

“S-Sehun?” Sehun mengenali suara yang memanggilnya. Tidak salah lagi, kakaknya. Tetapi mengapa Sehun juga mendengar isakan dalam pertanyaan itu? Kakaknya menangisi siapa? Apakah dirinya?

 

“Tunggu di sini, kakak panggil dokter. Jangan ke mana-mana. Tetap sadar, oke? Jangan tidur lagi!” Sehun terkekeh pelan saat kakaknya itu berjalan mundur dan mengancamnya. Daripada sebuah ancaman itu lebih terdengar seperti seorang yang ketakutan, seorang depresi yang tidak ingin kehilangan. Berapa lama dirinya tertidur hingga kakaknya berubah seperti itu? A, lagi pula Sehun memang tidak akan ke mana-mana. Ada-ada saja kakaknya itu.

 

Pintu terbuka lebar. Derap langkah berkesinambungan yang riuh menyambut pendengaran Sehun, sepertinya para dokter dan suster datang. Benar saja, sekon kemudian Sehun melihat dokter yang tersenyum padanya juga para suster di sisi ranjang. Mereka berbicara bahasa yang Sehun tidak pahami. Cek inilah, stabilisasi itulah, denyut jantunglah, sungguh membuat kepala pening. Tapi … ada beberapa hal yang hinggap dalam benak Sehun setelah kejadian ini.

 

“Kukira aku akan mati. Kukira aku tidak bisa melindungi dan menemani kakakku lagi. Kukira gadis itu adalah hal terakhir yang bisa kulindungi. Kukira aku tidak akan mendapat jawaban dari semua pertanyaanku dulu. Kukira … terlalu banyak permintaanku padamu, Tuhan. Terima kasih telah memberi kesempatanku untuk hidup.”

 

*****

 

Hari ketiga setelah Sehun sadar. Ini hari terakhir Sehun di rumah sakit. Besok baru bisa pulang.

 

Suasana riuh seperti pasar mengisi ruang rawat Sehun. Tentu penyebabnya teman-teman Sehun. Apalagi jika Baekhyun dan Chen bersatu. Uh, keduanya tidak bisa diam seperti sedang melawak di atas panggung. Berbagai guyonan mereka lempar dan yang lain menanggapi juga, guna menghibur suasana sunyi rumah sakit. Untung saja Sehun ditempatkan di ruang kedap suara, jadi mereka tidak akan mengganggu pasien lainnya.

 

Seravina tersenyum simpul. Ia duduk di samping ranjang Sehun. Sesekali tertawa sopan. Namun dalam hatinya setiap datangnya teman-teman Sehun, Seravina sebenarnya sangat ingin pergi mengunci diri ke toilet untuk menumpahkan air matanya. Penyebabnya tak lain adalah Chanyeol yang selalu merangkul seorang gadis yang bernama Shannon. Ia tidak tahu hubungan macam apa antara Chanyeol dan Shannon, tapi keduanya menunjukkan seperti sepasang kekasih. Ditambah lagi, selama satu minggu lebih Chanyeol tidak berkomunikasi dengannya. Diam saja seolah membenarkan bahwa dirinya dengan Shannon adalah sepasang kekasih, sementara hubungan Sera dan Chanyeol tidak jelas.

 

Noonagwaenchana?”

 

Seravina mengerjap, menatap Sehun yang diam menunggu jawaban darinya. Suasana tiba-tiba menjadi hening.

 

“Tidak apa. Wae?” tanya Sera balik. Ia menyelipkan ke belakang telinga untaian rambutnya yang menghalangi pandangan. Gugup karena semua orang kini fokus menatapnya.

 

“Wajah noona pucat. Benar, tidak apa?” Sehun hendak beranjak bangun mengecek suhu tubuh kakaknya, namun Sera menahannya agar tetap berbaring.

 

“Tidak apa, Sehun. Noona hanya belum sarapan saja,” jawab Sera bermaksud menenangkan tetapi malah membuat Sehun semakin resah. Belum sarapan? Mungkin lebih tepatnya belum makan pagi dan siang. Sekarang waktu menunjukkan pukul dua siang.

 

Noona…,” geram Sehun menggertakan giginya. Ia ingin marah tapi tak bisa. Sehun tidak akan pernah membentak kakaknya. Melihat Sehun yang menahan amarah, teman-teman Sehun mengalihkan pandangan dan fokus ke mana saja asal bukan Sehun. Mereka tidak ingin ikut campur.

 

Seravina meringis pelan. Ia tahu Sehun tidak senang dengan pernyataannya tadi. Maka dari itu ia berdalih bermaksud menenangkan Sehun, “Baiklah, baiklah. Noona akan pergi ke kantin sekarang.”

 

“Pergi sendiri?” tanya Sehun skeptis. Ia khawatir kakaknya pergi sendirian. Pasalnya kakaknya itu tidak ditemani Kyungsoo. Bos kakaknya itu hanya mengantar kakaknya ke rumah sakit, katanya Kyungsoo sibuk.

 

“Memangnya mengapa? Kakak bisa pergi sendiri. Sehun pikir kakak anak kecil yang tidak tahu jalan dan tersesat?” Seravina tertawa kecil. Ia mentertawakan Sehun yang berlebihan tentang dirinya. Sehun bukannya berlebihan, hanya saja hatinya entah mengapa tiba-tiba gelisah, takut kakaknya terkena musibah.

 

“Aku akan menemani kakakmu, Sehun. Kau tidak perlu khawatir. Aku juga ingin membeli minum, jadi sekalian saja.”

 

Chanyeol yang sedari tadi diam tiba-tiba mengeluarkan suaranya menghentikan Sehun yang hampir berkata pada kakaknya.

 

“Itu bagus. Setidaknya noona tidak sendirian. Noona tidak keberatan ditemani temanku?” Sehun melirik kakaknya, menunggu jawaban.

 

“A-ah. Tentu, tidak apa,” jawab Seravina gagap. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena ia akan berjalan berdua dengan Chanyeol, kekasihnya.

 

“Ayo,” ajak Chanyeol yang sudah berdiri dari sofa. Memang, Chanyeol tadi duduk di sofa menemani Shannon.

 

Seravina mengangguk kaku. Ia menebar senyumnya sekali lagi pada adiknya sebelum keluar mengikuti Chanyeol.

 

Langkah kaki bergema di antara lorong putih. Seravina menatap punggung Chanyeol di depannya yang berjarak tiga langkah. Gugup melandanya membuat ia sangsi berjalan bersisian dengan Chanyeol. Rasanya, meski berada di dekatnya, entah mengapa Chanyeol terasa jauh dan tak tergapai. Seravina menunduk.

 

Mungkin sejak awal dia tidak berharga bagi Chanyeol. Jatuh cinta tanpa tahu wajah? Omong kosong! Bodohnya Seravina menelan bulat-bulat bualan Chanyeol. Mulutnya manis sekaligus mengandung racun.

 

Tidak ada yang berbicara. Masing-masing hanya diam. Lagipula apa yang diharapkan Seravina? Mengobrol hangat tentang cuaca? Basi sekali.

 

Sebenarnya ia cukup nyaman berjalan di belakang Chanyeol, terlihat seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Namun kenyamanan itu hancur ketika mereka memasuki lift yang hanya mengangkut mereka berdua saja.

 

Kamar rawat Sehun berada di lantai paling atas, sementara kantin berada di lantai dasar dekat dengan lobi. Mengharuskan mereka turun, tentunya memakai lift.

 

Seravina lagi lagi berdiri di belakang Chanyeol, menyandar di sudut lift.

 

Pintu lift tertutup. Chanyeol lalu menekan tombol yang menuju lantai dasar. Keheningan sempat melanda sebelum Chanyeol membalikkan badannya menghadap Seravina.

 

Terperangkap.

 

Tubuh Seravina membeku ditatap tajam Chanyeol. Rasanya seperti ribuan sengatan listrik dialirkan ke tubuhnya, membuat ia diam tidak bisa bergerak dengan perasaan tidak menentu. Apa yang akan Chanyeol lakukan?

 

Menunduk takut. Seravina tidak tahu apa yang berada di pikiran Chanyeol saat langkah panjangnya mendekat ke arahnya. Seravina merasakan kehadiran seseorang di sampingnya.

 

“Bagaimana kabarmu, noona?” ujar Chanyeol memulai konversasi. Situasi semakin canggung, pertanyaan itu terlalu buruk untuk mengawali percakapan. Sudah jelas jawaban di depan mata. Sera dan Chanyeol bahkan setiap hari hampir bertemu. Tidakkah Chanyeol memperhatikan kondisi Sera?

 

Sera membatin. Ah, mana mungkin Chanyeol memperhatikannya. Dunia Chanyeol dipenuhi oleh Shannon.

 

Gwaenchana,” jawab Sera sekenanya. Ia masih menunduk, tangannya memilin ujung kemeja putihnya. Memilih untuk berbohong dan tidak ingin melanjutkan percakapan.

 

Chanyeol berdeham membersihkan tenggorokan. Tahu bahwa basa-basinya tidak ampuh, Chanyeol mengutarakan niat yang sebenarnya.

 

Noona cemburu?”

 

Pertanyaan yang tidak terduga itu membuat Seravina menoleh menatap Chanyeol. Ia terkejut, matanya membulat lucu. Bagaimana Chanyeol menyimpulkan hal itu?

 

“Maksudmu? Cemburu pada apa?” tanya Sera balik. Ia bukannya tidak mengerti. Sekedar waspada agar hatinya tidak salah tangkap informasi. Apakah Chanyeol sengaja bertanya demikian untuk memperjelas bahwa hubungan mereka telah kandas? Membuktikan selama ini Sera hanyalah mainannya karena yang ada dalam benak Chanyeol hanya Shannon seorang. Batin Sera semakin meradang. Hatinya ngilu serasa disayat-sayat.

 

Noona selalu memperhatikan Shannon. Raut sedihmu tidak bisa disembunyikan seakan-akan aku selingkuh terang-terangan di depanmu, noona.” Sera menahan napasnya. Pipinya bersemu hingga ia memalingkan pandangan. “Hubungan kita belum berakhir, aku diam bukan berarti tidak peduli padamu noona. Shannon membutuhkanku, dia sangat rapuh.”

 

Serapuh itukah sampai dirimu, kekasihku tercinta lebih mementingkan selain diriku?” tanya Sera dalam hati.

 

Bungkam. Sera tidak mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Bisa dipastikan jika ia membuka suara maka tangisnya akan pecah. Bulir air mata mengumpul di pelupuknya, siap terjun menyusuri pipi. Kalimat terakhir Chanyeol sungguh menyakiti hati. Semakin membuktikan Sera sekedar menyandang status saja.

 

Chanyeol menyergap kedua bahu Sera, satu tangannya menarik dagu Sera agar menatapnya.

 

Noona telah terukir di hatiku, tidak akan ada yang menggantikan. Tapi Shannon sepupuku, dia bagiku adik yang sangat kucintai. Kalau boleh meminta, aku ingin pengertianmu.”

 

Air mata sukses jatuh. Sepupu? Pantas saja. Mungkin Chanyeol kewalahan menangani Shannon yang terus menangisi Sehun. Sera merasa bersalah atas kekeliruan pikirannya sendiri. Sera pikir Chanyeol dan Shannon menjalin hubungan romansa, sebab keduanya terlihat seperti sepasang kekasih. Si gadis yang menyandar dan si lelaki yang menguatkan. Chanyeol bahkan meminta dengan cara yang sangat sopan, berhati-hati agar Sera tidak tersinggung.

 

“Maaf,” ucap Sera dengan bibir bergetar. Ia berusaha menahan isak tangisnya, jemari Chanyeol yang mengusap air matanya malah menjadikannya semakin lemah. Mengapa ia begitu egois ingin Chanyeol hanya peduli padanya?

 

“Untuk apa meminta maaf? Noona tidak salah. Justru aku yang seharusnya minta maaf karena mengabaikan noona selama seminggu ini.”

 

Seravina menggeleng lemah. “Maaf karena noona menuduhmu mempermainkan noona. Maaf karena noona tidak mengerti perasaanmu, Chanyeol. Maaf karena noona kekanak-kanakan.”

 

Senyum simpul menghias wajah Chanyeol. Seravina terlalu larut mendalami sesuatu yang tidak pasti, membuatnya sakit sendiri. “Tatap aku,” pinta Chanyeol karena Sera terus menatap liar sekitar. Seravina menurut, ditatapnya Chanyeol dengan wajah yang dipenuhi linangan air mata.

 

“Jangan menangisiku, noona. Kau bahkan tidak salah apapun. Aku mohon, buanglah pikiran anehmu yang menganggap aku tidak mencintaimu. Apakah noona perlu bukti?”

 

Seravina mengerjap. Air matanya tiba-tiba berhenti mengalir, tersihir oleh kalimat Chanyeol. Mengapa Chanyeol sebaik ini padanya? Nadanya penuh permohonan seolah Sera adalah hidup dan matinya.

 

Tidak juga mendapat jawaban, Chanyeol lebih memilih aksi untuk pembuktiannya. Tangan kirinya merangkul pinggang Sera, membunuh jarak di antara mereka. Belum sempat mencerna apa yang sedang terjadi, Sera dibuat terbelalak saat Chanyeol menarik tengkuknya lalu menempelkan bibirnya di bibir Sera.

 

Satu.

 

Dua.

 

Tiga.

 

Empat.

 

Lima.

 

Chanyeol melumat pelan sebelum menanggalkan tautan bibir mereka. Walaupun begitu, tubuh mereka masih merapat, hidung saling menempel, manik saling bertemu dengan napas memburu.

 

“Aku hanya mencium wanita yang kucinta,” lirih Chanyeol tepat di depan bibir Sera. Menghantarkan uap panas di mulutnya ke bibir Sera. “Dan wanita itu adalah dirimu, noona.”

 

Seravina salah tingkah. Gugup, cepat-cepat Sera melepas rangkulan Chanyeol dan memberi jarak. Kepalanya menunduk menyembunyikan rona merah di pipi. Ia malu. Pintu lift tiba-tiba terbuka. Seorang ibu-ibu memergoki Sera dan Chanyeol yang berdekatan. Karena itulah Sera menjauh. Posisi Chanyeol yang membelakangi pintu membuatnya tidak mengetahui bahwa seseorang baru saja masuk lift.

 

Dehaman seorang wanita paruh baya terpantul. Chanyeol membalikkan badannya lalu mengangguk sopan. Tak lupa senyum manisnya ia tebarkan. Ia mundur mensejajarkan agar berdampingan dengan Sera.

 

Wanita paruh baya itu berdiri di dekat tombol lift dan memiliki tujuan yang sama, turun ke lantai dasar.

 

Chanyeol menggenggam tangan Sera, memberi cengiran khasnya saat Sera menatapnya tajam. Dengan sengaja Chanyeol mencubit pelan pipi Sera. Perbuatan kecil yang berdampak Sera semakin merona. Sera tidak tahu sudah semerah apa wajahnya saat ini. Rasanya ia ingin sekali mempunyai kekuatan teleportasi agar menghilang dari pandangan Chanyeol. Ia sangat malu.

 

*****

 

Sehun lega sekaligus bertanya-tanya. Sikap kakaknya aneh sekali. Bukannya tidak senang dengan perubahan kakaknya yang menjadi lebih riang setelah kembali dari kantin. Ia sangat bersyukur melihat rona merah menghias asri di wajah kakaknya, menggantikan putih pasi yang menyebalkan. Tetapi, tetap saja rasanya aneh. Seperti ada yang mengganjal.

 

Bibir Sehun membentuk satu senyum. Kakaknya pamit pergi. Kyungsoo menelepon, kafe di Seoul agak kewalahan tanpa satu karyawan lagi, terpaksa kakaknya pulang. Sehun mafhum. Ia tidak mungkin menahan kakaknya agar menemaninya sampai besok, Sehun tidak ingin membebani kakaknya. Lagipula malam nanti Paman dan Sena akan datang menginap, menemaninya sampai besok.

 

“Sehun,” panggil Chanyeol.

 

Menoleh, Sehun melihat Chanyeol yang mengusap kepala Shannon di sofa, Shannon tertidur. “Apa?” respon Sehun santai. Menjawab malas seraya mengambil potongan buah hasil Baekhyun. Sehun menyeringai mengingat ia diperlakukan seperti seorang raja oleh teman-temannya.

 

“Kau tahu aku tidak pandai berbasa-basi. Jadi, aku akan memberikan satu pertanyaan untukmu.” Sehun mengunyah apel dengan mengernyit. Ucapan Chanyeol sedikit aneh, tetapi ia menunggu kalimat lanjutan Chanyeol. “Mengapa kau membiarkan dirimu dipukuli? Setahuku, seorang Sehun pemegang sabuk hitam taekwondo tidak akan sudi kulitnya disentuh dalam medan perang.”

 

Sehun berhenti mengunyah. Ia menghela napas tanpa ketara. Menyesal karena mempunyai teman yang terlalu cerdas sampai tahu detil permasalahan.

 

“Mereka jumlahnya banyak. Aku tidak sanggup melawan.” Bukan Sehun namanya jika tidak bisa mengarang alasan. Sehun tidak akan pernah mau untuk jujur mengenai konflik di hatinya. Toh ia bisa mengatasinya sendiri. Sehun melirik Baekhyun yang sedang mengupas buah mangga. “Aku ingin anggur.”

 

Pletak!

 

Sehun meringis. Dahinya disentil Baekhyun. Tidak sakit, hanya saja ia senang berhasil mengganggu Baekhyun.

 

“Makan saja yang ada. Syukur kau disediakan makanan. Kalau bukan karena noona-mu yang menitip amanat agar memberimu makan, aku tidak akan sudi melakukan hal ini.” Baekhyun berkata panjang lebar yang ditanggapi Sehun dengan gelengan kepala. Miris dengan teman yang tidak ikhlas merawatnya.

 

“Katakan saja kau iri padaku. Cih, makanya pergi cari pacar yang lebih tua darimu supaya bisa merawatmu layaknya seorang kakak.”

 

Baekhyun mendelik tajam. Ia sekarang sangat ingin menyumpal mulut Sehun menggunakan kaus kaki yang bau seperti bunga bangkai. Sementara Sehun sendiri acuh tak acuh mengambil beberapa potongan buah karya Baekhyun. Kali ini jeruk yang disantapnya.

 

Hap!

 

Sehun menangkap santai apel merah yang melayang hampir membentur sisi kepalanya. Lalu memberikan buah itu ke Baekhyun untuk dikupas. Sementara Chanyeol si pelempar menatap datar.

 

Sambil mengupas buah, Baekhyun melirik Sehun dan Chanyeol. Kedua orang ini memang agak aneh, kadang dekat layaknya sahabat namun juga tak jarang seperti musuh bebuyutan yang haus perang. Baekhyun kemudian mengalihkan perhatian pada Chen yang duduk di sisi lain ranjang Sehun, meminta pendapat apa yang harus dilakukan.

 

Chen mengerti tatapan Baekhyun. Ia mengangkat bahu, memilih diam dan menyimak.

 

“Refleksmu bagus sekali,” sindir Chanyeol. Menekankan fakta pada alibi Sehun yang berkata bahwa ia lengah hingga babak belur dan masuk rumah sakit.

 

Mata Sehun bergulir malas, bibirnya menyeringai. “Terima kasih atas pujiannya.”

 

Chanyeol mendengus. Menyerah, tidak ingin bertanya lebih lanjut. “Bagi apelmu.”

 

Lempar dan tangkap. Adegan itu tampak biasa bagi Sehun-Chanyeol. Tapi Baekhyun dan Chen tidak mengerti arti dari sikap mereka berdua. Terlalu rumit dipahami.

 

*****

 

Seravina menatap ponselnya. Merenungi fitur pesan yang selama satu minggu ini jarang mendapat notifikasi. Ia baru sadar ternyata rentetan hal yang menggangunya kini berhenti total.

 

“Sera, kau baik-baik saja?” tanya Hera yang sedang menyetir. Hera diberi perintah oleh Kyungsoo untuk menjemput Sera. Dan ia tidak sengaja menangkap Sera yang sedang melamun dengan alis mengerut.

 

Sera menganggukkan kepala. Untuk lebih meyakinkan bahwa ia baik-baik saja, Sera tersenyum manis. Ia kemudian mengalihkan tatapannya ke layar ponselnya lagi setelah dirasanya Hera percaya padanya.

 

Satu pertanyaan hinggap dalam benaknya. Apakah teror ini … benar-benar berhenti atau hanya sementara?

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

To be Continue

 

Nano note: Maaf up-nya ngalor ngidul alias ngaret. Sebenernya saya sangat malu karena tidak bisa menepati janji untuk up seminggu satu kali. Saya tidak memaksa reader untuk menerima permintaan maaf saya, karena saya tau reader pasti kecewa. Dan dikarenakan waktu luang saya yang semakin menyempit, saya gak bakal janji up ff ini tiap minggu. Tapi saya akan usahakan untuk menyelesaikan ff ini secepat mungkin.

 

Haha, mungkin ini agak ngelunjak, tapi boleh gak saya minta jejak kalian? Tolong hargai author, kalo udah baca setidaknya kalian beri apresiasi sebagai hubungan timbal balik. Author menghibur dengan cerita, reader menghibur dengan jejaknya. See you.

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] KUPU KUPU MALANG (Chapter 8)

  1. Sebenarnya hubungan sehun sama chanyeol gimana sih ? Betul kata baekhyun “kadang dekat layaknya sahabat namun juga tak jarang seperti musuh bebuyutan yang haus perang”. Masih bingung sama mereka. Sera sudah gak diteror lagi, jadi terornya sudah berhenti apa cuma sementara ?
    Ditunggu kelanjutan cerita nya, semoga di chapter-chapter selanjutnya semua misteri nya akan terungkap.

    • Ya hubungan Chanyeol-Sehun kayak gitu. Sahabatan, tapi agak kasar dikit sih*ngomongapasih?
      Aih…. makasih ya udah mau nunggu fanfic-ku ini. Jadi terhura😢
      Ehehehe😂😂😂 sebenernya ini gak misteri kok, cuma konfliknya masih disembunyiin.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s