[EXOFFI FREELANCE] Black Heart (Chapter 4)

 1501415000985

Black Heart Chapter 4

Writer

Riona Spring

Main Cast

EXO’s Baekhyun and OC’s ??

Additional Cast

Son Jina (OC), VIXX’s Leo aka Leo Anderson, EXO’s Xiumin aka Xiu Minleyw and more

Genres

Mystery, slice of life, supernatural, and maybe romance

Length and Rated

Chaptered ~ PG-13

Disclaimer

Some part of this story (sometimes) inspired by anything that happen in Riona’s life. But, basically this story and the plots are mine. Every cast beside the OCs belong to their real-life–In other word, I don’t own any of them. Please do not take or claim this story as your own. (Plagiarisme dilarang, buddies!)

Summary

Kehidupan itu sulit ditebak. Siapapun akan merasa sulit hanya untuk menebak bagaimana akhirnya.

 

 

 

Third Person PoV

 

“Bosan.”

Hembusan napas kasar keluar melalui celah mulut Baekhyun yang terbuka. Sambil mengatup-membuka mulutnya berkali-kali, pemuda itu juga menggerak-gerakkan tangannya, terlihat tak nyaman dan jenuh.

Situasi yang sangat dibencinya.

Angin semilir musim semi kemudian menerpa wajahnya perlahan–membuatnya menutup mata sejenak. Tak bertahan lama, karena sesudah itu ekspresinya seketika berubah menjadi seperti semula.

Ekspresi datar yang diiringi wajah bosan.

Terkutuklah ‘keberuntungan’ yang ‘tampaknya’ sudah pergi dari hidupnya.

Keurae, pergi saja sana! Aku tidak memerlukanmu!” Baekhyun berseru keras, otomatis membuat beberapa pasang mata di tempat itu menoleh ke arahnya. Pemuda itu mendengus tak peduli.

Peduli amat. Toh, ia juga sudah pernah mengunjungi pusat psikologi untuk memeriksa kejiwaannya. Hasilnya pun tidak mengkhianati keadaan yang sebenarnya.

Depresi ringan, akibat stress berkepanjangan.

Sungguh malang sekali hidupnya.

“Huh, sekarang kupu-kupu sialan ini yang menggangguku!”

Baekhyun kemudian menatap tangannya kesal. Seekor kupu-kupu mungil hinggap di punggung tangan kanannya; mengepak-ngepakkan sayap bermotif seperti mataharinya dengan lembut.

Beberapa saat, hewan kecil itu tidak bergerak. Ia tampak nyaman berdiam diri di tangan pemuda itu. Dan Baekhyun pun akhirnya memilih diam,  memerhatikan makhluk kecil di tangan kanannya dengan seksama.

“Baekhyun-ah!”

Mendengar seseorang memanggil namanya, pemuda itu menoleh. Namun, sedetik kemudian kembali memalingkan wajahnya.

Matanya itu baru saja  bertatapan dengan suatu sosok yang menyebalkan. Membuatnya merasa jengkel seketika.

Gadis Son yang bernama Jina.

“Byun Baekhyun! Aku mencarimu dari tadi!!” Sesampainya di tempat pemuda itu duduk, perempuan itu memulai omelan. Jina meletakkan barang yang dibawanya, kemudian berkacak pinggang, menatap Baekhyun dengan tatapan sengit.

“Untung saja dokter Kim bilang kalau kau pergi ke taman rumah sakit. Katanya kau mencari udara segar,” ujarnya, sedikit marah bercampur cemas. “Aku bahkan sudah mengecek atap dan tangga darurat, setelah melihat kamarmu kosong. Kau membuatku cemas, kau tahu!!”

Baekhyun mendengus, “Kenapa? Kau kira aku bakal bunuh diri karena hasil konsultasi minggu lalu?” Baekhyun menyerang telak. Dilihatnya Jina yang terkesiap.

Dugaannya tepat.

“Cih, kenakan-kanakan sekali.”

Jina kehilangan kata-kata. Perkataan lawan bicaranya itu tepat. Sangat tepat, bahkan. Dirinya memang mengawatirkan koleganya itu–yang kalau dilihat dari penampilannya saat ini ia terlihat hampir mirip dengan zombie berwajah pucat.

Menyedihkan, apalagi jika mengingat beberapa waktu ke belakang Baekhyun sempat melihat ‘sosok aneh’ yang mengganggunya. Bukan hal yang wajar, tentu saja. Dan hasil pemeriksaan kondisi kejiwaan Baekhyun menjawab dugaan Jina dengan benar.

Perempuan itu berdeham, mencairkan suasana canggung, “Aigooo … uri Baekhyun~~ Aku tidak akan pernah berpikir seperti itu, hyun-ah …” Jina mengacak-acak rambut Baekhyun sambil tersenyum, menghilangkan aura tak nyaman yang melanda.

Baekhyun kembali membalasnya dengan sengit, “Lantas mengapa kau membawaku ke pusat psikologi? Kau pasti yakin aku ini berbohong soal sosok transparan itu,’kan? ”

Hening.

Lagi.

Jujur saja, Jina bingung ingin menjawab apa. Jiwa tegas dan elegannya hilang seketika bersama dengan sirnanya kata-kata pembela. Perempuan itu menggaruk tengkuknya, terlihat sekali kalau ia gugup.

Tapi, dengan cepat ia menyadari sesuatu.

“Ah! Jadi karena itu kau marah padaku ya?” ujar Jina sembari menepuk keningnya. Tingkah Baekhyun saat ini menjelaskan semua tingkahnya yang persis sekali sama dengan empat hari lalu.

“Aduh, kenapa aku ini bodoh sekali sampai tak menyadarinya,” Jina berucap, menoleh ke arah lain.

“Benar. Kau itu memang bodoh, noona,” ujar Baekhyun dingin, kemudian bangkit dari tempat duduknya.

Udara awal musim semi ini tiba-tiba terasa sesak baginya. Terlanjur bercampur dengan aura perempuan berwajah manis yang sangat menyebalkan itu–setidaknya anggapan itu hanya menurut Baekhyun.

“Ya! Kau mau kemana?!” Jina menatap kepergian pemuda itu dengan bingung.

Baekhyun tak menoleh dan menyeret tiang infusnya cepat-cepat, menghindari perempuan Son itu secepat yang ia bisa.

“Baekhyun-ah!! Tunggu aku!” seru Jina. Ia memberesi barang bawaannya secara kilat, kemudian menyusul Baekhyun yang sudah melangkah hingga ambang pintu masuk ke rumah sakit.

Dan mereka berdua sama sekali tak sadar, ada yang telah memerhatikan mereka sedari tadi.

Seorang pemuda, berwajah yang-dapat-dikatakan tampan dengan bentuk bahu idaman, menatap dua ‘manusia’ itu dengan ekspresi sulit terbaca.

Dan sesaat kemudian seekor kupu-kupu bermotif matahari hitam hinggap di jari yang sengaja ia julurkan. Sebuah senyum terbentuk melalui sudut bibirnya.

Nabi-ya … Kurasa aku menemukan mereka.”

 

****_****

 

Kembali, pemuda reklame misterius itu berbuat ulah. Kali ini, bukan tiang rekalme setinggi 6 meter yang ia gunakan. Ia memilih menggunakan salah satu sumber penghasilan devisa Korea Selatan sebagai ‘tempat mengamati’nya.

Namsan Tower.

Atau untuk lebih tepatnya, kereta gantung yang ada di tempat destinasi wisata itu.

Haksaeng! Tenanglah! Sekarang, kau sebaiknya jangan panik dan jangan berpikir terlalu jauh!”

Seseorang berteriak dari tempat berlabuhnya seluruh kereta gantung, memeringati dirinya yang dikira orang-orang hendak melompat untuk ‘menghilangkan’ jiwanya.

“Dasar bodoh. Aku tidak akan mati jika aku melakukan hal yang kau pikirkan, idiot,” gumam ‘haksaeng’ itu sambil mendecih. Telinganya pun ikut tidak percaya dengar apa yang baru saja didengarnya.

Sungguh sangat tak masuk akal, baginya.

Namun, tak berlangsung lama, perhatiannya lalu berfokus pada hal lain, “Sialan. Dimana jiwa tersesat itu sebenarnya?!”

‘Haksaeng’ itu menatap sejauh matanya memandang ke berbagai arah. Kereta gantung tempat ia berdiri dan sekaligus kereta lainnya sudah berhenti dari tadi.

Entah itu karena diberhentikan, atau karena ada hal lainnya.

“Huh. Lihat siapa yang datang.”

Sambil menatap ke arah kanannya, ia tersenyum miring, menunjukkan dengan sengaja niatnya meremehkan kepada sosok yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu.

“Kurasa tempat berkumpul Juru Tulis sepertimu bukan di sini, Tenebris Minleyw,” ucap sosok itu mengejek, menekan kata ‘Tenebris Minleyw’ dengan keras. Ia menatap sosok di hadapannya dengan tatapan menyeringai.

Di sisi lain, Juru Tulis itu justru membalas dengan tersenyum samar-samar. Terdengar dengusan kecil di dalamnya.

“Sudah lama juga kau dihukum. Baru saja kau ‘bebas’ beberapa hari lalu, tapi kau sudah berulah lagi rupanya,”

Sosok itu membuang napas kasar, “Cih, kau tidak berbeda denganku, Xiu. Di antara kaumku dan kaummu, mungkin hanya aku yang mengetahui nama tengahmu,” balasnya sengit, menatap Xiu dengan tajam, “Kau bahkan menggunakan mode ‘tak terlihat’ untuk bersembunyi dari kaum manusia.” Ia melirik dengan tatapan menyeramkan ke arah Juru Tulis itu.

“Hah. Pengecut sekali.”

Xiu tersenyum menyeringai, “Silakan bicara; aku tak melarang sama sekali. Tapi–asal kau tahu saja–itu sama sekali tidak berpengaruh padaku,” Xiu menjawab. Nadanya terdengar antara campuran tenang dan tak peduli.

“Aku datang karena  hanya ingin memberitahumu satu hal. Dengarkan baik-baik.” Xiu lalu menatap ‘haksaeng’ di depannya serius.

“Berhati-hatilah, Ken Hiles. Kau kali ini bisa saja berada dalam masalah,” ucap Xiu sebagai  penutup, lalu menghilang seperti ditelan angin.

 

****~****

 

Heol! Kau lihat dokter muda tadi? My gosh, dia sangat-sangat tampan! Daebak!  Kurasa aku bisa menjadi fans-nya sekarang juga!”

Baekhyun, yang sekarang sedang setengah berbaring di tempat tidur memutar bola matanya malas. “Jangan bilang yang kau maksud itu adalah Seokjin hyung, Jina noona. Residen itu jauuuuh lebih muda darimu,” jawabnya dengan nada mengejek.

Menoleh ke arah Baekhyun, mulut Jina menganga, “Jadi namanya Seokjin?! Wah … Bahkan namanya saja bagus! Kyaaa~ Aku secara tidak langsung langsung menyukainya!” Jina menjawab dengan semangat berapi-api, membuat Baekhyun seketika mengubah ekpresinya menjadi poker face.

“Dasar tak sadar umur.” Baekhyun mendengus.

Tapi beberapa menit setelahnya, pemudi bermarga Son itu masih saja menggumamkan nama ‘Seokjin’ berkali-kali. Tak habis-habis kesenangannya untuk ber-fangirling terhadap sosok ‘Seokjin’ tersebut.

Ya, Son Jina.” Baekhyun memanggil perempuan itu, berusaha menyadarkannya dari imajinasi liarnya.

Ya!! Kau gila ya?!” Baekhyun kali ini berteriak.

Noona!!”

Ya, Son Jina!!!”

“SON JINAAA!!”

Perempuan itu seketika tersadar dan berbalik, menatap Baekhyun dengan wajah tak-tahu-apa-yang-terjadi. “Ah, kau perlu sesuatu, Baekhyun-ah?” tanyanya dengan wajah tanpa dosa.

“YA! Aku perlu kau untuk tetap diam dan tidak berubah jadi orang tidak waras! Aku tak akan sanggup merawatku dan juga dirimu yang merepotkan itu sekaligus jika itu terjadi!!” jawab Baekhyun kesal. Ia meniup rambut di keningnya keras-keras.

Sebaliknya, Jina justru termangu. Dalam beberapa detik ia diam tak bergerak. Otaknya sibuk mencerna kata-kata Baekhyun barusan.

Entah mengapa sulit sekali rasanya untuk menghubungkan perkataan itu dengan saraf otak di kepalanya.

Senyum jahil terbentuk kemudian. Jina sepertinya sudah berhasil terhubung dengan otaknya. Perempuan itu menatap Baekhyun dengan senyum lebar, memamerkan sederet ggi putihnya,

“Ei~ Kau akan merawatku jika aku tidak gila, Baekhyun-ah? Ow, itu manis sekali …” godanya, mengerling pada pemuda itu dengan senyum mengerjai. Dijawilnya tangan Baekhyun bertubi-tubu dengan gemas.

“Tutup mulut, Son Jina,” Baekhyun menajwab datar–meski sebenarnya ia merasakan panas di wajahnya secara tiba-tiba.

Nervous.

Dan Baekyun tidak tahu itu berasal dari mana.

Aigo~ kau sudah besar rupanya, uri Baekhyun!” Jina mengulurkan tangannya, hendak meraih puncak kepala Baekhyun.

Namun, pemuda Byun itu otomatis menghindar, entah dorongan dari mana membuatnya seperti itu.

Aneh sekali. Bahkan untuk Baekhyun sendiri.

Jina yang agak ignorant tak memerhatikan hal tersebut. Ia lebih mendekat lagi, lalu mengusap rambut Baekhyun dengan lembut. Senyum ceria terpasang di wajahnya.

Untung saja dia tidak melihat, batin Baekhyun. Lega seketika.

“Oh ya! Aku jadi lupa kalau aku bawa sesuatu,” ujar Jina kemudian, secara tiba-tiba. Ia beranjak dari kursinya dan mengambil barang yang ia bawa.

“Ibuku membuatkan samgyetang untukmu, Baekhyun-ah. Ada tambahan ginseng dan kaldu ikan kering, bagus untuk stamina dan memulihkan energi. Makanlah, selagi masih hangat.” Jina menaruh pelan-pelan kotak berbungkus kain itu di pangkuan Baekhyun.

Perempuan Son itu bangkit, dan mengemas sisa barangnya, “Aku harus pamit dulu, Baekhyun-ah. Aku ada janji bertemu dengan Pegawai Chae. Bibimu bilang akan datang setelah menjemput Hongmin dari les cello,” Jina mengatakan itu sembari meraih kunci di tasnya.

“Aku pergi dulu! Kalau ada waktu setelah pulang kerja, aku akan menyempatkan diri untuk berkunjung,” ujar perempuan itu sambil tersenyum tipis. Ia melangkah keluar. Tapi sebelum meraih pintu geser ruangan, ia berbalik lagi.

“Ngomong-ngomong, kau bisa kembali bekerja minggu depan, Byun Baekhyun. Kepala bagian Seo sudah kuberitahu–dan beliau mengizinkan. Yaah, walau berita buruknya waktu cutimu terpotong banyak karena itu,”

Baekhyun menghela napas, “Aku tahu … Terima kasih, Son Jina,”

Jina mengangguk, tersenyum kembali, “Baiklah, aku pamit ya! Jaga diri baik-baik, Byun! Pai pai~”

“Pergilah… Hati-hati di jalan,” ucap pemuda Byun itu sebagai kata terakhir, sebelum Jina benar-benar pergi dari ruangannya.

 

****-****

 

Di berbeda tempat tetapi di waktu yang sama, sosok bertubuh yang sama sekali tidak bermassa berjalan tergesa-gesa di tengah lautan manusia. Meski ia dapat melewati sosok manusia yang ‘bermassa’ dengan sangat mudah, tetapi itu tetap saja terasa sulit untuk dilakukan.

Karena, jika kau menjadi sosok transparan sepertinya dan melakukan hal yang persis sama, kau akan tersiksa karena harus merasakan detak jantung manusia ketika ‘menembus’ mereka.

Untuk informasi saja, itu rasanya sangat sakit.

Sosok transparan itu pun merasakan demikian. Wajah ditekuk, terlihat sekali ia menahan rasa sakit saat menembus puluhan manusia itu.

“Hei, kau gila ya?”

Suatu suara tiba-tiba terdengar, seperti tertuju padanya. Sosok transparan itu menoleh, kemudian menemukan seorang gadis remaja yang tengah menatapnya heran.

Sosok itu otomatis berhenti seketika, “Kau … bisa melihatku?” tanyanya dengan mata membulat.

Gadis itu tertawa kecil, “Siapa juga yang tak bisa.” Ia mengamit tangan sosok transparan yang ‘tak bermassa’ itu dan menepi ke tempat yang tidak dilalui orang.

“Kau tidak merasakan sakit, ya?” tanya gadis itu tanpa basa-basi.

Sosok itu hanya bisa menatapnya bertanya-tanya. Tangannya yang dipegang masih tidak dilepas oleh gadis itu.

Gadis tadi menghela napas, “Baiklah. Sepertinya kau ini masih ‘baru-baru’ di dunia tingkat bawah seperti ini,”

“Pertama-tama, biarkan aku memperkenalkan diri padamu,” ucapnya, kemudian melepaskan tangan sosok itu perlahan-lahan.

“Namaku Kei. Kei Fouran, dari Australia. Aku mati karena tragedi bus Sacheon. Dan yup, benar. Aku ini sama sepertimu. Manusia biasa memanggil kita dengan–

“Hantu. Aku tahu itu,” sela sosok transparan itu sambil menunduk. Kenyataan itu yang sulit sekali untuk diakui oleh dirinya.

“Ya. Aku tahu kau tidak menyukai menjadi seperti ini. Menyebalkan, memang. Di saat orang-orang yang meninggal bersamaan denganku langsung dibawa ke tempat ‘seharusnya’, hanya aku yang terjebak di dunia ini, di dalam wujud tak berwujud ini,”

Sosok itu mangut-mangut, setuju sekaligus merasa miris dengan pernyataan barusan.

Kei tersenyum masam, melanjutkan perkataannya, “Yeah … dan karena pengaturan zonasi antar dunia malah membuatku terjebak di Korea Selatan ini,”

“Kau … bukan orang Korea?” tanya sosok transparan itu dengan dahi mengernyit. Dari pertama kali menatap wajah Kei, ia bisa langsung menebak kalau ‘gadis’ Fouran itu adalah orang Korea asli.

“Ayahku yang orang Korea. Sewaktu aku meninggal, aku sedang berada di sini, berjalan-jalan karena memenangkan hadiah dari sebuah lotre tour planner,” Kei bercerita pada sosok itu, yang dibalas dengan anggukan pengertian.

Hantu berwajah imut itu kemudian menatap sosok transparan, “Bagaimana denganmu? Apa kau ingat saat kau mati, atau tentang … dirimu?”

Sosok itu mengangkat bahu. Ia juga tak mengingat apapun tentang kematiannya ataupun tentang dirinya.

Sama sekali.

“Tapi, aku ingat satu hal ini. Aku … baru di ‘dunia’ ini selama setahun, kurang lebih. Hanya itu yang kuingat,” ucap sosok transparan itu sambil menatap mata Kei. Entah kenapa ia bisa langsung merasa dekat dengan ‘hantu’ berwajah imut itu.

“Kalau begitu … namamu?”

Sosok itu langsung berpikir. Dahinya mengerut, dikuti dengan arah mata menuju ke bawah, berjuang untuk menyegarkan kembali ingatannya.

“Aku …”

Kei menatapnya intens, menunggu jawaban keluar dengan tak sabar.

“….. tidak bisa mengingat apapun …” ucap sosok transparan itu sebagai simpulan dari hasil rapat saraf otak di kepalanya.

Kei menghela napas dengan menggembungkan pipinya.

Anehnya, ia tidak bisa mengingat satu hal pun yang berhubungan dengan kehidupannya di masa lalu.

Tidak satu pun. Bahkan hal terkecil seperti namanya.

Kei menerutkan kening, “Ini aneh. Sepengetahuanku, itu tak akan terjadi walaupun kita sudah ‘mati'” ujar Kei memberitahu. Kemudian ia menatap heran sosok transparan itu.

Ia menggelengkan kepala, “Ah, lupakan saja. Mungkin itu tidak segaja terjadi,” Kei berucap menenangkan. “Ngomong-ngomong, kau hendak kemana terburu-buru begitu?”

“Tidak kemana-mana. Aku hanya … ingin bertemu dengan seseorang,” Sosok transparan itu menjawab, terdengar ragu-ragu.

Kei menatap sosok itu misterius, kemudian menyeringai, “Pasti Penjaga Dunia, ‘kan?”

Sosok transparan itu membelalakan mata, terkejut karena Kei dapat menebak tujuannya dengan sangat tepat.

‘Hantu’ itu kembali memasang senyum gelapnya, “Benar, bukan? Hah, sudah kuduga kau akan menemuinya,” ujarnya dingin, sifatnya seketika berubah 180 derajat. Nada itu terdengat menakutkan.

“Cih, Penjaga Dunia pelupa itu ada di gedung itu–di tempat manusia meletakkan abu keluarga mereka. Dia selalu berkeliaran di sekitar sana, melakukan hal yang benar-benar tak berguna,”

Sosok itu mengernyit, “Kau mengatakan itu seolah kau sudah sangat mengenalnya,”

Sambil mendecih, Kei melipat tangannya di dada, “Tentu saja! Aku sering sekali bertanya dimana ayahku berada, dan satu-satunya yang dilakukannya adalah mengabaikanku.” Ia cemberut. Nada tadi terdengar benar-benar jengkel.

“Temuilah dia; aku tidak melarangmu gara-gara itu. Tapi, bersiaplah kecewa karena si pelupa itu akan segera mengusirmu jauh-jauh begitu ia melihat sehelai saja rambutmu muncul … di hadapannya.”

Sosok transparan itu mengangguk, meski merasa sedikit was-was, “Baiklah. Makasi banyak infonya, Kei-ssi.” Ia tersenyum tipis.

“Tak masalah,” jawabnya singkat. “Tapi berjanjilah padaku kau akan ke sini lagi untuk bertemu denganku,” Kei berujar, mengerucutkan bibirnya dan mengedipkan matanya tiga kali.

Lawan bicaranya tertawa. Aegyo yang sangat menggemaskan buatnya. “Tentu. Aku sama sekali tak keberatan,” Lagi-lagi sosok itu tersenyum, namun kali ini lebih terlihat bersahabat.

Kei mengembangkan senyum lebar. Eyesmile-nya terlihat dengan sangat jelas.

“Sampai jumpa lagi!” Sosok transparan itu melambaikan tangannya.

 

***-***

 

“Apa yang kau inginkan, temannya-Fouran?”

Di sinilah sosok itu berada; gedung J, tempat penempatan kendi-kendi abu orang yang sudah meninggal. Dan di depannya sekarang berdiri seorang figur tinggi dengan jas lusuh panjang biru tua, menatapnya tajam.

“Bagaimana kau–

Segera saja perkataan sosok transparan itu dipotong, “Aku melihatmu berbicara dengannya barusan, as well tentang omongan buruk tentangku. Dan … jika melihat wajahmu, aku dapat mengatakan kau memang melakukannya.

Tak terlalu peduli,–meski sebenarnya ia sedikit merasa takut–sosok perempuan itu memilih untuk tidak melihat ke arah mata di depannya, berjaga-jaga jikalau Penjaga di depannya itu melakukan sesuatu yang ‘menyeramkan’.

“Jadi … kau Penjaga Dunia Amilson?” Ia bertanya, setelah memikirkan apa yang ia ingin katakan pertama kali.

“Hah, si Louren satu itu. Dia memberitahu jiwa tersesat ini semuanya,” gumamnya. Rasa jengkelnya seolah akan meledak saat ini juga.

“Cih. Aku malas sekali melakukan ini, tapi hah … hukumannya akan dua kali lipat jika aku tid– Hah molla molla!!

Sebelum membuka mulut, ia menghela napas panjang, “Oke! Namaku Lay Joshe Amilson, Penjaga Dunia tingkat ketiga. Apa yang kau perlukan, jiwa tersesat menyebalkan?”

Diam-diam sosok mengernyit. Ia memerhatikan gerak-gerik ‘orang’ di depannya secara seksama. Ada sesuatu yang salah dengannya, batin sosok itu.

‘Aneh sekali Penjaga ini’

Sosok transparan itu langsung mengetuk kepalanya keras-keras. Sekarang ini ia tidak boleh berpikiran aneh-aneh. Selain membuang waktu yang berharga, pikiran itu bisa saja didengar oleh Amilson.

“Aku menunggu, sialan.”

Seketika sosok itu terkesiap, otomatis berdeham, “Baiklah. Aku datang ke sini untuk bertanya sesuatu,” ujarnya, berjuang terlihat setenang mungkin.

“Apa?” Amilson berucap dingin. “Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan, kau tahu. Jadi sebaiknya kau bergegas.”

Sosok transparan itu menatap kedua manik mata Amilson, “Kau tahu … siapa diriku?”

Penjaga Dunia bernama depan Lay itu mengerutkan kening. Tapi tak lama kemudian, ia menatap tajam sosok transparan dengan tatapan mengancam.

“Sinting! Pertanyaan macam apa itu?!” Amilson berteriak marah. Aura biru khas miliknya bersinar terang, menimbulkan udara panas yang menyengat.

Situasi yang tidak baik.

Bukan. Ini benarbenar buruk.

Terkejut akibat tanggapan yang tak terduga, sosok transparan tersebut menunduk dalam-dalam seketika. Takut, dan juga harap-harap cemas agar Penjaga Dunia Amilson itu tidak berbuat apapun yang dapat menjadi lebih buruk.

“Kau membuang waktuku!! Kau tahu berapa orang hidup setiap menitnya?! 4 orang!! Dan kau membuatku membuang lima jam waktuku yang berharga!!!”

Kali ini, gantian sosok itu yang mengerutkan dahi. “Maksudmu … orang yang ‘mati’, dan juga …. lima ‘menit’mu yang berharga?”

Salah tingkah tiba-tiba, nada suaranya tiba-tiba berubah, “P-pokoknya begitu!! Silakan saja kau tanya sendiri pada Juru Tulis!! Aku tidak peduli,” ucapnya terbata-bata. Bahkan matanya yang tajam tidak lagi melihat langsung ke depan.

“Pergi sekarang, atau aku akan membawamu ke tempat yang kau akan sesali jika kau tidak menuruti perkataanku,” ancam Amilson dingin setelah menatap sosok itu sekilas.

Menyeramkan.

Tak punya pilihan, sosok itu segera ambil langkah seribu menjauh dari Lay Amilson. Dan setelah merasa keadaan sudah cukup aman, ia berbalik. Ditatapnya tempat penyimpanan abu itu dengan tatapan kesal yang meluap-luap.

“Keparat!!”

Umpatan tanpa sadar keluar dari mulut sosok itu. Tangannya menahan kaki yang hampir lemas karena berlari. Karena pikirannya yang kacau barusan, ia lupa kalau ia dapat ‘terbang’ alih-alih menghabiskan tenaga dengan menggunakan kaki.

“Cih, aku seharusnya menuruti perkataan Kei! Dia tidak pantas dan tidak bisa diharap!!” teriaknya keras-keras. Beruntung saja sosoknya tidak dapat ‘dilihat’ sehingga tidak ada yang mendengarnya.

 

Tetapi, tanpa diketahui olehnya, Amilson muncul dari kejauhan, menatap dingin sosok yang sedang marah-marah itu.

“Hah, kau memang tidak boleh mengetahui apapun tentang dirimu, jiwa spesial.”  Amilson lalu menghilang bersama aura birunya dari tempat itu.

 

 

 

 

To Be Continued

 

 

Riona’s Note :

Heiyoo~ Apa kabar reader-nim semua?

Pertama-tama, maafkan aku karena telat apdet, huhu ㅠ.ㅠ Minggu lalu benernya udah mau ngirim, tapi baru nyadar hari kalo udah lewat … (Uh jujur ini semua karena acara sekolah menyebalkan -__-) Jadi sebagai ‘tebusan’, Rion sengaja bikin chapter 4 ini lebih panjang ^^ (Aku berharap uri reader-nim enjoy bacanya ya, hehe)

Dan terima kasih yang udah mau baca sampe sini♡ Aku, Riona Spring really-really love and appriciate semua semnangat dan komen yang kalian kasi ke Rion~ Huhu…. aku terharu T.T

(Fyi, aku selalu baca semua komen yang masuk lho, walo aku gak bales … mian hehe)

Lastly, Rion pamit dulu♥ Sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya ^o^

 

 

(Btw, posternya mirip sama cover Wattpad ya ._.)

 

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Black Heart (Chapter 4)

  1. Posternya baru ampe ga ngenalin. Ga ada Leonya di poster 😔😔
    Kalo baca ff ini harus konsentrasi penuh apalagi banyak muncul cast baru jadi agak bingung karna kurang konsentrasi. Itu yg cast baru Ken, Ken vixx kah??

  2. Siapa yang merhatikan baekhyun dan jina ya ? Trus kenapa lay gak kasih tau siapa sebenarnya jiwa yang tersesat itu ? Terus kenapa lay bilang jiwa spesial ya ? Masih banyak misteri nya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s