[EXOFFI FREELANCE] Java in Love (Chapter 1)

javainlove

Tittle : Java in Love

Author : devrizt

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, travelling.

Rating : PG-15

Cast :     Kang seulgi as Abella Javanka

Xiumin as Keyan Alendra Javin

Chanyeol as Arbinta Galih Bagaskara

Sehun as Daviandra Bandriya

Kai as Fabian Raditya

Summary : Aku pergi untuk mencari sesuatu yang baru, sebuah tempat yang baru dan juga suasana yang berbeda. Dan aku menemukan mereka. Tapi, aku tidak seserakah itu, lalu siapa yang harus aku pilih?

Disclaimer : Cerita murni hasil pemikiran disaat malam hari tanpa kerjaan J

Warning : author hanya manusia biasa yang kadang salah so, im so sorry if theres (many) typos.

See more chapter or story at https://www.wattpad.com/user/devrizt

A/N   :  Untuk yang punya wp dan berminat melihat lihat silahkan check watpadnya ya hehe thankyou soo much ~~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 – Tentang Abel

                Ini pertama kalinya gue pergi sendirian. Bukan ke mall ataupun ke rumah makan, atau nonton bioskop sekalipun. Travelling. Pertama kalinya gue pergi meninggalkan rumah gue tanpa ada orang lain yang menemani. Masalah gue hidupnya gimana, itu urusan gue nanti. Gue berusaha nggak ngerepotin Mami ataupun Papa sedikitpun. Mereka awalnya khawatir dan nggak mengizinkan gue, tapi dengan sedikit rayuan anak perempuan manis, akhirnya mereka luluh juga.

Satu orang yang nggak memberi izin, abang gue. Abang terngeselin seantero jagad, tapi gue akui dia sayang banget sama gue lebih dari gue sayang sama dia. Ada kalanya gue nyesal punya abang kaya dia, dan dia tetap sayang. Iya dia. Keyan Alendra Javin, abang yang super bawel bahkan lebih bawel dari Mami gue. Dia satu-satunya yang menentang gue untuk pergi sendirian. Bahkan dia meluk gue kencang banget kaya gue bakal nikah di pulau orang dan nggak balik lagi.

Oh iya. Nama gue Abella Javanka. Mahasiswa tingkat tiga yang sedang mencari hiburan menjelang sibuk bolak-balik mencari dosen ninja yang sangat sulit buat dihubungi untuk minta asistensi. Kalau ada yang tanya prestasi gue, absolutely, I always have a good score.

Dan destinasi gue kali ini —sebenarnya ini yang pertama— adalah pulau Jawa. Gue nggak terlalu mengerti dengan diri gue sendiri kenapa gue segitu terobsesinya sama pulau itu. Terdengar amat sangat nggak masuk akal memang alasan gue. Itu yang membuat abang gue menolak untuk melepas gue, tapi dengan bantuan Mami, dia nggak bisa apa-apa lagi.

oOo

Dua minggu yang lalu sebelum gue minta izin dengan Mami dan Papa, orang yang pertama gue tuju adalah abang gue ini. Dia itu bak kunci jitu, kalau dia bilang iya, maka dengan mudahnya gue keluar tanpa izin Mami dan papa. And if he said no, then I’ll take the next step to Mami. Mami bisa dirayu dan nggak tega melihat anak perempuannya ini kesepian. Sedangkan papa, seperti Anang. Kalau mama yes, ya aku juga yes. Papa orang yang keras sebenarnya, makanya beliau menuruti Mami, kalau nggak keluarga gue bisa jadi semi militer.

Waktu gue bilang ke abang, gue kalau gue mau pergi. Dia kaget dan tertawa.

“Abang, aku mau ke Jawa. Boleh nggak?” gue berbicara dengan sepelan mungkin dan tahu apa jawaban dia. Dan dia akan bilang—

What? You crazy? Jawa tuh luas untuk kamu kelilingi sendirian Ela.” See? Tepat seperti apa yang gue duga.

“Lagian kamu mau apa di sana? Sedangkan kamu abang ajak ikut ke Jakarta aja males, katanya ramai dan macet sama aja kaya Palembang dan sekarang kamu mau keliling Jawa? For god sake Ela, abang aja nggak pernah keliling Jawa, Jakarta-Depok aja udah bikin abang gila karena jadi pepes tiap naik kereta.”

“Ya mau jalan-jalan lah abang. Aku bosen disini, aku mahasiswa dan udah gede, masa iya aku masih harus keliaran ditemenin Mami,papi, sama abang?” gue memelas.

With your airsickness? Abang nolak. Kamu disana sama siapa nanti? Siapa yang urus? Kalau ada apa-apa gimana?”

Aduh. Bacot juga ya abangku satu ini. Sebenarnya siapa Maminya? Dia atau mami?

“Aku bisa urus semua sendiri abang. Lagian aku udah pernah nge kost dulu aku tau cara ngurus diri.”

“Lagian untuk apa sih? Pasti ada alasan lain kan.” abang gue diam. Tapi nggak lama. “Jangan bilang kisah cinta Mami dan papa?.” Abang gue mengerutkan dahi. Iya gue tau pasti dia bingung.

Oh tuhan. Gue malu mengakuinya. Iya memang gue baper. Gue terpesona dengan keindahan yang diceritakan Mami dan papa gue yang bertemu di halte di daerah Sarijadi di Bandung. Dan romantisme liburan di pantai di daerah Malang.

Nggak masuk akal memang. Gue terlalu terobsesi karena terlalu banyak menonton ftv picisan waktu gue SMA. Dan setiap Mami dan papa cerita itu, mereka bilang “kapan-kapan papa ajak kesana.” Dan I always stuck here in my purple room. Bahkan gue sampe mencari teman chatting lewat sebuah situs untuk menceritakan tempat itu kaya apa.

Hampir selama satu minggu di setiap waktu yang terbaik gue akan telepon abang gue untuk minta izin. Hal yang sama. Dan jawaban yang sama juga. “Tetap enggak Elannya abang.” Semanis itu ucapan dia. Dan pertempuran terakhir gue adalah Mami.

Nggak perlu repot kalau izin dengan beliau. Mami orangnya pengertian, apalagi soal jodoh. Jodoh nggak Cuma di tangan tuhan, di tangan mami juga. Ingat, ridho orang tua itu mengantarkan kita. Gue memelas, dan bilang sama mami kalau siapa tau nanti gue ketemu orang jawa dan jodoh, nggak mungkin kan gue harus menceburkan diri ke sungai Musi supaya ditolong mas-mas angkatan Laut. Mami mau menantunya Angkatan Laut, atau orang jawa. Jadi itu alasan terbaik.

Dan disinilah gue. Setelah pelukan dramatis abang gue di depan tadi, gue sekarang duduk menunggu keberangkatan gue. Tujuan pertama gue, Bandung. Tempat mami dan papa bertemu. Sebenarnya gue nggak tau nanti gue harus gimana. Gue terlalu excited, worry, guilty, semua bercampur aduk. Ini pertama kalinya gue naik pesawat. Gue naik bianglala aja kaya gitu apalagi ini? Gue berdoa pada tuhan untuk yang terbaik bagi gue.

Satu jam penantian gue akhirnya selesai. Waktunya gue untuk berangkat dan gue akan mendarat di pulau yang berbeda, zona waktu yang berbeda, kota yang berbeda, udara yang berbeda, dan suasana yang berbeda.

oOo

BANDUNG

Tiga puluh menit pertama setelah gue landing gue merasa menyesal meninggalkan kota kelahiran gue. Untuk tiga minggu kedepan gue akan menjadi free soul yang menjelajah. Dan gue akan merindukan rumah gue apalagi abang bawel gue.

Ada perasaan lain. Jet lag. Itu yang paling gue benci. Dan kalau gue menghidupkan ponsel gue, akan ada hantaman pesan dari abang gue itu. Gue memutuskan untuk membiarkan ponsel gue dalam keadaan mati. Hal yang pertama kali gue lakukan setelah sampai Bandung adalah pergi ke penginapan harian di daerah Buah Batu. Dari cerita nyokap gue, daerah buah batu macet, tapi kalau malam hari enak.

Beruntungnya gue sampai Bandung siang hari. Setidaknya gue bisa menghabiskan waktu untuk tidur dan beraktivitas di sore harinya. Mami juga bilang. Bandung itu kaya nggak pernah tidur. Kapanpun selalu rame, ada aja yang nongkrong. Dan gue memutuskan untuk segera ke penginapan dan tidur.

Nggak gue sangka, gue tidur tiga jam, dan membuat gue benar-benar segar dan gue rasa gue sanggup untuk nggak tidur hari ini. Sebelumnya gue mengaktifkan ponsel gue yang mati hampir setengah hari ini, atau abang bisa ber-asumsi berlebihan kalau gue diculik atau apapun. Dan benar lagi dugaan gue. Abang gue itu selalu bisa ditebak. Empat puluh lebih pesan Line masuk dari abang gue dengan isi yang tidak terlalu berbeda.

Abang alay : Ella

Abang alay : Udah sampe?

Abang alay : Ella dimana?

Abang alay : Ella

Abang alay : Ella

Abang alay : E…e… under my umbrella

Abang alay : Ella dimana? Lagi apa?

Abella J : Udah sampe, abis tidur, mau pergi.

Abang alay : Okey, jaga diri ya adik abang :*

Okey, gue akui abang gue terlalu alay dan manis, dan menggelikan. Kalau ada yang mau jadi adik abang gue, boleh coba gantiin gue mungkin. Setelah gue balas, gue membuka buku catatan gue dan melihat tujuan yang akan gue singgahi nantinya selama disini. Setelah merasa siap gue meninggalkan kamar minimalis dan membawa tas gue.

oOo

Entah gue salah membaca ramalan cuaca atau apa, gue merasa sial. Tiba-tiba hujan turun gitu aja didepan gue dan hampir membasahi tubuh gue. Untungnya gue berhasil menyelamatkan diri gue sebelum air hujan memeluk tubuh gue.

Di sudut jalan tempat gue berdiri ada sebuah kedai kopi yang terlihat classy yang memiliki tudung diatasnya. Gue berlari ke arah sana dan berteduh sebentar. Setidaknya sampai hujan agak reda karena gue hanya memakai parka dan nggak membawa payung.

Lima belas menit berlalu, hujan pun turun masih dengan gembiranya membawa pasukannya turun membasahi bumi. Gue mugnkin terlihat menyedihkan disini, karena gue sedang duduk terjongkok didepan kedai itu. Mungkin orang mengira gue seseorang yang baru meenjadi gembel dan tidak punya uang untuk membeli secangkir kopi. Padahal bukan itu. Gue nggak suka kopi.

Gue merasa seperti ada yang memperhatikan gue dari balik ruangan, akhirnya gue berdiri dan berbalik badan mendapati seorang tinggi yang berdiri dibalik pintu kaca bergaya klasik yang sedang melihat lurus kearah gue. Gue terkaget dan langsung berdiri.

Hampir ingin pergi tiba-tiba dia menarik lengan jaket gue. Gue terhenti dan melihat kearah tangannya lalu terus ke wajahnya. Gue akui dia ganteng. Satu hal menarik pertama yang gue temui. Well Bandung memang banyak laki-laki ganteng. Gue hampir mau menepis tangannya dengan jurus yang gue pelajari dari papi, tapi ternyata dia nggak jahat.

“Teh masuk dulu, diluar hujan deras. Nanti teteh kecipratan kalau lama-lama disitu.” Cowo itu bilang kaya gitu. Dari aksennya dia udah persis mamang sunda rantau didekat rumah gue. Tapi,yaudahlah.

“I..iya mas.” Akhirnya gue masuk. Di kedai itu nggak terlalu ramai, ada tempat yang agak sepi didekat dapur, dan disitulah gue duduk. Dengan disuguhi cokelat panas.

Gue masih sibuk meniup kepulan asap cokelat itu dan sesekali terdiam meratapi jalanan dibalik kaca transparan menatap orang-orang yang berlarian menghindari hujan.

“Tos lami di luar teh?”. Cowo yang tadi datang lagi dan tersenyum.

Gue nggak ngerti dia ngomong apa. “Hah? Eh.. apa?” gue nggak sengaja melontarkan kalimat yang mungkin nggak sopan buat orang yang nggak mengenal.

Dia tersenyum lagi. “Bukan orang sini ya? Tadi saya nanya, mbak udah lama di luar?” dia mengambil kursi dan duduk didepan gue.

“Oh, belum kok. Saya baru disitu tadi.” Dengan canggung gue tersenyum dan meminum cokelat lagi.

Dia hanya mengangguk. “Mbak dari mana? Jakarta? Bukannya sok dekat nih, jarang aja soalnya orang tau daerah sini kalau bukan orang Bandung.”

“Saya dari Palembang, Mas.” Gue ragu-ragu awalnya tapi karena bingung akhirnya gue memberanikan diri. “Mas, asli Bandung?”

Dia sempat terdiam dan agak kaget, “Keliatan ya emang? Saya baru empat tahun di Bandung, aslinya Jakarta. Born and raised.”dia agak tertawa hingga memperlihatkan lesung pipinya.

Gue kali ini hanya menganggukkan kepala karena nggak tau mau apa lagi. Sepertinya dia tahu suasana diantara kita, dia mencoba membuka obrolan lagi.

“Dari Palembang jauh-jauh ngapain nih ke Bandung? Saya penasaran aja.”

“Saya lagi libur kuliah, dari pada bosan jadi saya milih buat jalan-jalan ke Jawa. Mau keliling lah.” Gue menjawab seadanya. Bisa malu seumur hidup gue kalau dia tau tujuan sebenarnya.

“Loh mahasiswa juga?” dia kaget. Juga? Berarti cowo ini mahasiswa dong. “Tingkat berapa?” tanya cowo itu.

“Naik tingkat empat saya. Mas juga mahasiswa?” gue bertanya.

“Ya ampun, ternyata tuaan saya. Saya baru aja wisuda. Makanya saya empat tahun di Bandung, ya selama saya kuliah ini.” Dia terlihat santai, kaya sudah kenal gue dengan baik.

“Mending kenalan dulu deh. Biar nggak formal, gue Arbinta. Panggil aja Binta. Nggak usah pake kak juga.” Lagi-lagi senyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Gue Abella. Terserah sih mau panggil apa aja.” Gue meraih tangannya dan bersalaman.

“Gue panggil sayang mau? Hehe. Panggil Abel aja deh.” Dia terkekeh. Gue hanya mengangguk dan tersenyum. Untuk orang yang baru gue kenal dia cukup baik sepertinya.

Tanpa disangka, hujan merenggut waktu dihari itu, dan malampun tiba membuat gue harus kembali ke penginapan karena kondisis yang nggak memungkinkan buat gue bepergian. Saat gue berdiri dan berpamitan dia menghampiri gue lagi.

“Abel, tunggu.”suaranya menghentikan gue dan gue menoleh.

“Jaket lo basah, pakai punya gue aja, gue ada lagi kok.”

“Tapi Bin, gue kapan ngembaliinnya?” gue mengerutkan dahi bingung.

“Kapan aja, cari aja gue disini, kalau nggak ada dan lo keburu balik, pegang aja dulu, siapa tau ketemu lagi.” Binta mengemasi barangnya bersiap pergi.

“Terus kalau nggak ketemu gimana?” gue bertanya agak sedikit berteriak karena dia mulai mendekati pintu keluar.

“Nggak jodoh berarti. Hahaha. Simpan aja pokoknya. Pasti ketemu kok kita. Gue cabut ya.” Dia  keluar berlari menembus hujan.

Malam itu malam yang penuh kejutan buat gue. Hari pertama sampai,kehujanan, dan bertemu Binta dan jaketnya. Dan gue nggak tau apa bisa bertemu dia lagi.

 

#TBC#

A/N:

Jadi sebenernya ini gak mau di post karna kayaknya masih mentah gitu tiba tiba di post karna die geheime tur belum bisa update karna belakangan ini agak sibuk L next week mungkin 2 chapter dgt kali ya.

So semoga suka, feedback apapun aku terima. Terimakasiihh!!

Jakarta, 30 jul 17. 11.41 PM

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Java in Love (Chapter 1)

  1. Nekat juga nih seulgi-eh maksudnya abel :v
    Cieee…. seulgi ketemu chanyeol nih. Aduh, maaf ya thor aku kurang pas aja panggil mereka pake abel atau pun binta, mungkin masih awal, jadi belum terbiasa. Keep fighting and writing ya thor^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s