[EXOFFI FREELANCE] Go! Go! Minjae (Chapter 1 : His Secret)

Go! Go! Minjae

Cast        :

  • Park Minjae
  • Oh Sehun
  • Song Minho
  • Im Nayeon
  • Lee Jieun

Author        : Kino

Genre         : Romance, School life, Friendship.

Rating        : T

Lenght        : Chapter

Disclaimer    :

“Cerita ini murni hanya fiksi belaka. Apabila ada kesamaan cerita, tempat dan sebagainya itu murni unsur ketidak sengajaan. Semua alur dan cerita ini adalah hasil karya pribadi penulis. Dilarang keras untuk menyalin tulisan ini dalam bentuk apapun tanpa seizin penulis. Mohon beri dukungannya untuk fanfiction ini. Selamat Membaca ^^”

**Chapter 1**

His Secret

Aku Minjae, gadis remaja biasa yang hampir genap berusia delapan belas tahun ini. Juga seorang pelajar kelas dua SMA Chunhee yang tidak begitu menyukai belajar. Kehidupan ku sungguh biasa, sama seperti kebanyakan gadis seusiaku lainnya. Tapi, semua itu berbeda ketika aku bertemu dengannya.

Ya, tepat saat itu, ketika pintu kelas tiba-tiba terbuka di jam pelajaran pertama, duniaku perlahan mulai berubah. Suasana saat itu masih membekas dalam ingatanku.

“Anak-anak kini kita kedatangan murid baru.” Aku sangat ingat bagaimana Guru Lee mengucapkan kalimatnya itu dengan suara beratnya. “Kalian tolong jangan berisik.”

Tentu saja kata-kata guru Lee saat itu diabaikan ketika melihat siapa anak baru yang akan mengisi absen di kelas 2-3 ini. Awalnya aku tidak tau mengapa semua gadis dikelasku jadi berisik seperti ini, tapi perlahan aku akan mengetahuinya.

“Ya, Minjae. Lihat itu! Aku tidak sedang bermimpi kan? Oh My God!” gadis yang duduk di belakangku sangat berisik. Ia bahkan mengguncangkan tubuhku sambil berbicara keras sekali. Dia Jieun, gadis kekanak-kanakan yang sangat menyukai permen kapas. “Dia benar Oh Sehun kan? Sehun yang itu.”

Aku mengerutkan kening mendengar ucapan Jieun. “Maksudnya? Kau mengenalnya?”

“Hey, di negeri ini siapa yang tidak mengenalnya. Dia Exo, Sehun Exo, idol yang sangat terkenal akhir-akhir ini,” ucap Jieun sambil merapatkan telapak tangannya yang ia naikkan didada. Pipinya berubah warna, ia tampak senang sekali. “Jangan bilang kau tidak mengenalinya.”

Aku mengangkat bahu. “Memangnya dia orang yang harus ku kenal,” ucapku acuh sambil menggelengkan kepala. “Dia bahkan bukan pejuang Korea.”

“Ya, bahkan dia menaikan keuangan negara dengan lagunya. Kau tidak tau ya, lagunya bahkan terjual hingga ke pelosok Eropa dan Amerika. Dia adalah harta berharga Korea,” ucap Jieun penuh penekanan. “Dia lebih baik 100 ah tidak tapi 1000% lebih baik dari pada Park Minjae yang hanya mengerti games saja. Oke.”

Diam bahkan lebih baik daripada harus membalas ucapan Jieun kali ini. Percakapan dengannya tidak akan selesai dengan mudah. Ya, selain karena aku memang tidak memiliki jawaban untuk menepis perkataannya barusan sih.

“Ah, perkenalkan namaku Oh Sehun. Mohon bimbingannya.”

Perkenalan singkatnya kini memecahkan keheningan kelas untuk ke sekian kalinya. Sebenarnya siapa Oh Sehun? Kenapa seorang idol sepertinya pindah sekolah di tempat seperti ini?

Perlu diketahui, sebenarnya sekolahku saat ini bukanlah sekolah yang bagus atau pun ternama. Ini hanya sekolah biasa yang letaknya berada di pinggiran kota Seoul. Bangunnya bahkan tampak tua, dan sedikit menakutkan jika malam hari.

Jadi, kenapa idol sepertinya mau sekolah di tempat seperti ini? Seperti tidak ada sekolah lain saja. Dia orang kaya bukan? Aneh sekali.

**

“Ah, kenapa peringkatku terus menurun,” ucap Jieun dengan raut wajahnya yang lucu. Ia kemudian melipat kertas hasil nilai ujian dengan asal. “Bagaimana aku bisa masuk universitas dengan nilaiku yang seperti ini.”

Aku menepuk pundaknya pelan. Aku sedikit menghawatirkannya, tapi daripada itu aku lebih menghawatikan diriku sendiri saat ini. “Setidaknya kau masih masuk 100 besar,” ucapku sambil menghembuskan nafas panjang. “Kau masih ada harapan.”

“Apa gunanya masuk seratus besar di sekolah seperti ini,” ucap Jieun sambil menoleh ke arahku sambil memperlihatkan ekspresi kekenak-kanakannya. “Aku harus bisa masuk 15 besar baru bisa diperhitungkan. Aku sama sekali tidak ada harapan.”

“Heol, bagaimana dengan diriku,” ucapku mengangkat alis.

Jieun berguman pelan. “Hmm, kalau kau sih sudah tamat,” ucapnya sambil terkekeh pelan. Ia kemudian melakukan postur tubuh seolah olah aku sudah sekarat dengan peringkat yang ku dapatkan. “Kau tidak akan masuk universitas manapun.”

“Ya, mau kubunuh kau,” ucapku sambil mengangkat kepalan tangan kananku.

Dengan gerakan sigap Jieun lari begitu melihat kepalan tanganku yang sudah dinaikan ini. Ia tertawa geli sekali. Sekilas aku melihatnya mengedipkan sebelah matanya seakan menggodaku. Dia benar-benar usil sekali.

“Awas kalau kau tertangkap ya,” ucapku sambil berlari kecil yang sbenarnya sama sekali tidak berniat untuk serius mengejarnya. Jieun berlari dengan cepat, mungkin ini karena postur tubuhnya yang kecil. “Aku tidak akan melepa-”

Ucapanku tiba-tiba terhenti begitu menyadari sesuatu. Aku menghentikan langkah kakiku yang sadari tadi mencoba bergerak lebih cepat daripada biasanya. Aku memiringkan kepala, mundur beberapa langkah dan menajamkan pandangan.

“Dia,” ucapku pelan.

Aku menyadari ada seseorang dibalik semak-semak taman belakang sekolah. Ternyata ada orang lain yang suka menyendiri di taman seperti ini selain aku.

Aku mencoba mendekatinya tanpa suara. Jelas yang ku perhatikan tidak menyadari keberadaanku karena ia melihat ke arah yang berlawanan denganku. Aku menelan saliva perlahan, mencoba mengartikan situasi ini cepat. Begitu aku mengerti, aku malah tambah bingung dibuatnya.

Haruskah aku diam saja, pura-pura tidak melihatnya dan pergi begitu saja seperti hantu yang tidak meninggalkan jejak. Ku pikir itu ide yang tidak buruk.

Aku bukanlah orang yang suka mencampuri urusan orang lain.

Tapi, sepertinya hal ini akan berbeda.

Karena asap itu, aku tidak bisa pergi tanpa meninggalkan jejak. Aku terbatuk sangat keras sampai-sampai orang yang ku perhatikan menoleh ke arahku dengan cepat.

Ia kaget, bahkan sangat terkejut melihat kehadiranku di belakangnya. Kehadiranku sepertinya tidak diharapkannya. Begitu mata kami bertautan, ia buru-buru menyembunyikan batangan putih itu dibalik punggungnya. Batang itu masih mengeluarkan asap. Buru-buru ia menjatuhkannya dan mulai menginjaknya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Ia menatapku tajam, seolah berkata aku ini pengganggu yang seharusnya tidak melihatnya di tempat seperti ini. Tidak, bahkan lebih tepat jika tidak melihat apa yang dilakukannya di tempat seperti ini.

Aku berdeham pelan. “Cuaca pagi ini sangat cerah ya,” ucapku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Entah kenapa aku mengucapkan itu, padahal jelas-jelas warna langit saat ini begitu gelap.

Ia bahkan tidak bergeming sedikit pun ketika mendengar ucapanku. Ia nampak sedang brpikir.

“Ah, sebentar lagi bel akan berbunyi. Sebaiknya kau masuk ke kelas,” ucapku sekali lagi sambil menarik ujung bibirku tipis yang bahkan menurutku itu sedikit dipaksakan.

Buru-buru aku berbalik mencoba pergi dari situasi yang aneh ini. Tapi, itu tidak berhasil. Ia menarik lenganku kuat dan menarikku hinga aku berdiri tepat dihadapannya. Wajah kami saangat dekat, yang hanya berjarak sekitar beberapa centi saja.

Aku mengerutkan keningku sambil membuang nafas panjang. “Kau masih bau,” ucapku yang tak tahan dengan baunya karena apa yang dilakukannya barusan.

Mendengar aku mengucapkan itu, ia langsung melepaskan kaitan tangannya dilenganku dan mundur beberapa langkah. Ia kemudian membuang wajahnya sambil berdehan pelan.

Aku mendecakkan lidah. “Tenang saja. Aku tidak akan memeberi tau siapaun tentang apa yang kau lakukan barusan. Aku juga tidak foto apa pun, lihat aku bahkan tidak membawa ponsel saat ini,” ucapku sambil mengangkat tangan. “Aku juga akan menganggap kita tidak pernah bertemu ditampat ini. Jadi jangan khawatir.”

Ia masih saja terdiam.

Aku menghembuskan nafas panjang. “Kalu begitu aku pergi duluan ya. Aku harus kembali ke kelas,” ucapku yang tak tau harus melanjutkannya dengan apa. Begitu aku berbalik dan berjalan pergi beberapa langkah aku teringat sesuatu.

Seharusnya aku tidak melakukannya saat itu. Tapi, tiba-tiba saja tubuhku bergerak dengan sendirinya.

Aku kembali ke hadapan orang itu sambil menjulurkan sebuah permen lolipop rasa lemon yang ku beli ketika menunggu bus sekolah tadi pagi. Awalnya ia tidak menerima pemberianku, ia hanya memperhatikan permen yang aku arahkan padanya dengan tatapan heran.

Tak ingin membuang waktu, aku memaksanya menerima pemberianku itu dengan memberikan permen itu secara langsung ke telapak tangannya.

“Sebaiknya kau juga kembali ke kelas. Tidak baik bolos untuk anak baru sepertimu. Setidaknya kau harus masuk kelas meskipun kau hanya pura-pura mendengarkan guru Kim nanti,” ucapku sambil menarik ujung bibirku.

Hanya seperti itu, setelah itu aku benar-benra pergi dari hadapannya dan mulai berjalan kembali ke kelas.

Tapi kejadian itu benar-benar mengubah banyak tentang kisah ku di masa ini. Aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Bagaimana caraku bisa mengenalnya.

**

Pelajaran Sejarah Korea selesai cukup lama. Padahal pelajaran ini hanya diberi waktu satu jam setengah tapi bagiku ini terasa seperti setengah hari. Aku memang benar-benar tidak suka pelajaran seperti ini, membuatku merasa kantuk. Padahal, aku juga tidak menyukai pelajaran lainnya juga selain ini.

Selain itu, kelas tadi terasa cukup berbeda dari biasanya.

Sudah seminggu sejak idol yang bernama Oh Sehun itu ada dikelas ini, ya dia bahkan selalu hadir setiap hari berbeda dengan apa yang aku bayangkan tentang bagiamana kehidupan sekolah seorang idol. Menurut Jieun sih itu karena Sehun tidak punya jadwal padat akhir-akhir ini karena baru saja menyelesaikan promosinya beberapa minggu yang lalu.

Juga karena sudah seminggu, kelas jadi jauh lebih tenang dari biasanya. Ah, lebih tepatnya lebih tenang sejak kedatangannya.

Tapi

“Ya, Minjae-ah, kurasa Sehun daritadi sedang meperhatikanmu. Mungkin orang lain tidak akan menyadarinya, tapi aku berbeda. Aku sangat jeli mengenai ini, Sehun benar-benar sedang memperhatikanmu,” ucap Jieun berbisik dari bangku belakang. Ia mendekatkan posisi duduknya ke arahku. “Dari guru Kim berbicara hingga ia memberikan kita tugas, pandangannya selalu tertuju ke arahmu.”

Aku mengangkat bahu, malas menanggapi ucapannya barusan.

“Hey, aku serius,” tiba-tiba nada bicaranya naik sedikit. “Apa kau tidak merasakannya. Huuu, ada apa ini?” aku bisa mendengar dari nada bicaranya kalau Jieun saat ini sedang menggodaku.

Aku hendak menoleh ke arah Jieun, dan benar, saat aku menoleh tanpa sengaja mataku bertemu dengan milik Oh Sehun. Begitu menyadarinya, Sehun langsung membuang wajanya dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku bisa menebak apa yang sedang dilakukan oleh Oh Sehun barusan.

“Dia hanya sedang mengawasiku,” ucapku pada Jieun dengan penuh penekanan. “Jangan berpikir macam-macam.”

Jieun mengerutkan keningnya. “Kenapa dia mengawasimu?” ucapnya sambil memiringkan kepala. “Hey, kau yang jangan berpikir macam-macam.”

Aku tersenyum masam ke arahnya.

“Tapi Minjae, sore nanti mau temani aku pergi belanja? Aku ingin membeli hadiah untuk Jungkook, sebentar lagi dia ulang tahun,” ucap Jieun dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah. “Aku tidak tau harus membeli apa.”

“Tidak bisa,” ucapku cepat sambil kembali menoleh ke arah depan dan membenarkan posisi dudukku. “Aku harus menyelesaikan misiku malam ini, sebentar lagi levelku akan naik.”

“Ya,” Jieun sedikit berteriak dan mengguncang tubuhku pelan. Kalau saja guru Kim masih di kelas ini. Sudah dipastikan Jieun akan ikut ke ruang guru bersamanya. “Kenapa kau selalu saja bermain game seperti itu sih? Kapan kau punya waktu denganku. Lagipula aku memintamu menemaniku sore nanti, kau kan bermain game setiap malam. Jadi masih ada waktu.”

Aku tersenyum kecil dan kembali lagi menoleh ke arah Jieun. “Aku sudah buat janji duluan dengan Mino. Dia bilang akan mentraktirku makan daging bakar karena aku berhasil mengalahkannya minggu lalu. Kau tau sendiri kan bagaimana sikap Mino, kalau aku membatalkan janji ku hari ini, dia tidak akan membuat janji ulang lagi. Jadi aku harus membuat dia membayar semuanya.”

“Lagi-lagi Mino,” ucap Jieun cemberut.

“Kenapa? Mau ikut?”

“Tidak, lebih baik aku pergi belanja sendiri saja daripada makan dengan Mino,” ucap Jieun sambil menggelengkan kepalanya. “Dia pasti akan menggodaku, dia selalu menggoda wanita yang ditemuinya kapan pun itu. Jelas-jelas dia tau aku sudah punya Jungkook, tetap saja dia selalu melakukannya.”

Aku tertawa kecil mendengar ucapan Jieun. “Tapi dia sama sekali tidak pernah menggodaku tuh.”

“Mana berani Song Minho menggodamu, Minjae,” ucap Jieun yang ikut tertawa kecil bersamaku.

Ya, itu pasti karena Mino tidak pernah menganggapku wanita jadi dia seperti itu. Aku tidak peduli sih. Yang lebih ku pedulikan sekarang ialah…

Sampai kapan dia akan terus menatapku seperti ini.

**

Aku menunggu Mino di sebrang jalan dekat swalayan tempat ia bekerja paruh waktu. Aku sudah mengganti pakaianku, berbeda dengan Mino yang kini mulai mendekatiku dengan seragam sekolah lengkap.

Heol.

Padahal nanti malam dia akan bekerja, kenapa masih menggunakan seragam? Dia memang aneh.

Song Minho, yang biasa aku sebut sebagai Mino ini adalah teman baikku sejak SMP. Kami berdua sudah lima tahun lebih saling mengenal. Hobi ku bermain games juga tertular dari dirinya itu. Orang yang menurut Jieun suka menggoda gadis ini, adalah tipe anak yang terlihat berantakan diluar tapi hangat didalam. Pertama kali orang melihatnya pasti akan mengira Mino adalah pelajar tanpa masa depan, itu karena gaya pakaiannya yang sangat aneh. Tapi meskipun begitu, ia termasuk peringkat sepuluh besar sekolah Chunhee yang katanya bisa diharapkan untuk meneruskan pendidikan ke universitas ternama di Korea. Tapi sepertinya, Mino tidak tertarik dengan hal itu.

“Minjae-ah, ayo pergi. Aku tidak bisa lama-lama hari ini,” ucapnya sambil merangkul bahuku dan mengajakku untuk berjalan cepat. “Bos memintaku untuk menjaga toko dua jam lebih awal daripada biasanya.”

“Aku tidak masalah kalau kau pergi duluan nanti asalkan kau membayarkan tagihannya terlebih dahulu,” ucapku sambil tertawa kecil. “Kau juga bahkan bisa pergi sekarang asalkan kau memberiku uang.”

“Hey,” aku mendapat pukulan pelan dikepalaku. “Aku juga ingin makan daging.”

Kami pun berjalan pelan menuju restoran yang biasa kami datangi sambil saling melempar lelucon lama di sepanjang perjalanan. Begitu sampai, Mino langsung memesan daging tanpa melihat harga. Baru kali ini aku melihat sisi kerennya.

Sekarang giliran Mino yang memanggang daging dan mulai memotong bagian daging iu kecil. “Bagaimana nilai ujian mu baru-baru ini?” ucap Mino membuka pembicaraan.

Aku mengangkat bahu dan kemudian meminum segelas cola perlahan.

“Sangat buruk ya?” ucap Mino yang setelah itu mendecakkan lidahnya. “Aku jadi merasa bersalah karena mengenalkanmu pada games itu.”

“Ya, mana mungkin kau merasa bersalah. Orang sepertimu bahkan tidak pernah minta maaf.”

Mino tertawa kecil. “Lalu ku dengar ada Idol ya di kelas mu?” tanya Mino dengan mulut penuh makanan. “Aku akan senang sekali jika idol yang datang itu wanita, sayangnya bukan.”

Aku memandang jijik ke arahnya begitu melihat ia makan sambil berbicara seperti itu. Sedetik kemudian aku menggelengkan kepala pelan. “Ini sudah seminggu, dan kau baru bertanya mengenai hal ini?”

Dia terkekeh pelan. “Aku baru menyadarinya akhir-akhir ini,” ucapnya sambil mengangkat alis.

Mendengar ucapan Mino tentang idol itu, ini jadi mengingatkanku tentang kejadian siang tadi.

“Ehm, Mino. Apa kau merokok?” entah kenapa aku tiba-tiba bertanya seperti itu pada Mino. Jelas, aku tau jawabannya.

Mino tiba-tiba tersedak. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Untuk apa aku merokok hah. Aku akan dibunuh ibuku kalau akau ketauan merokok.”

“Lalu jika ibumu mengizinkamu untuk merokok apa kau akan merokok?”

“Tidak mungkin ibu ku akan seperti itu.”

“Tapi bagaimana kalau itu terjadi.”

Mino mengangkat alisnya. Ia memandangiku dengan tatapan bingung. Sedetik kemudian ia menghembuskan nafas panjang. “Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?”

Melihat perubahan ekspresi Mino sepertinya ia menyadarinya. Sedetik kemudian aku menghembuskan nafas panjang. “Mino, kenapa sih orang suka sekali merokok? Kenapa banyak pelajar yang mengabaikan peraturan dan merokok sesuka mereka, padahal itu hal yang buruk bukan.”

Entah kenapa aku bertanya tentang ini. Aku bukanlah tipe orang yang ingin tau seperti ini, tapi keadaan ini benar-benar menggangguku. Entah kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannyaa.

“Kenapa kau bertanya hal itu pada anak baik-baik seperti ku ini?” ucap Mino sambil mengangkat gelasnya yang penuh dengan cola. Ia kemudian terkekeh pelan.

Aku menghembuskan nafas panjang.

“Tapi, Minjae. Aku juga ingin bertanya sesuatu padamu,” ucap Mino sambil manaruh gelas yang penuh cola itu ke hadapanku. “Kalau kau, kenapa suka sekali bermain games, hah? Bahkan sampai tidak tidur semalaman hanya untuk mengalahkanku.”

“Hmm, kau kan yang mengajakku bermain terlebih dahulu,” ucapku mengakat dagu.

“Lalu kenapa kau mau?”

Aku terdiam sejenak. Sedetik kemudian aku menganggukan kepala pelan. “Sebenarnya aku sedikit stress karena ibuku selalu memarahiku karena peringkatku tidak pernah naik, dan games adalah pelampiasanku untuk menenangkan itu semua,” ucapku sambil membayangkan bagaimana aku bisa menang melawan monster tingkat sepuluh kemarin setelah ibuku membandingkan aku dengan gadis tetangga sebelah yang selalu mendapatkan peringkat pertama dikelasnya. “Ibuku benar-benar parah. Kau tau sendiri kan.”

Ku lihat Mino meminum cola digelas nya dengan sekali teguk seakan akan ia sedang minum soju. Ia kemudian menatapku lama. “Minjae-ah, kau sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu barusan kan,” ucap Mino yang kemudian memainkan sumpitnya, mencoba memasukan potongan daging ke mulutnya.

Aku memiringkan kepala.

Alisku terangkat begitu hal itu terpikirkan. Ah, apa mungkin dia sama sepertiku?

Aku melupakan fakta tentangnya, dia juga remaja delapan belas tahun sama seperti ku, dia juga pelajar biasa seperti ku yang juga membutuhkan pelampiasan untuk meringankan bebannya itu. Idol juga seorang manusia biasa.

Masalahnya, kenapa dia melakukan itu? Apa yang terjadi padanya?

**To Be Continued**

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Go! Go! Minjae (Chapter 1 : His Secret)

  1. Kalo memang butuh pelampiasan kenapa harus merokok, kan maaih banyak hal lainnya. Ap sehun sama minjae terlibat kisah cinta ya ? Yah, idol juga seorang manusia biasa.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s