EXCEPTION – 3rd — IRISH’s Tale

EXCEPTION

|   starring by EXO`s Chanyeol; Sehun; Baekhyun with OC`s Sarang   |

supported by Hello Venus & Lovelyz Members  |

|  AU x Fantasy x Melodrama x Romance  |  Chapterred  |  PG-17  |

—  exception:time passes—love changes

[ 2nd Story of Evening Sky © 2016 ]

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

dedicated for un-real-like fantasy

Previous Story: PrologueChapter 1 — Chapter 2

♫ ♪ ♫ ♪

In Sarang’s Eyes…

Aku sampai di ujung tangga, dan kulihat Sehun tengah berkeliling. Apa dia yang mencariku? Seketika timbul rencanaku untuk menyelinap dan bersembunyi untuk menghindari Sehun. Dia tidak boleh tahu kalau aku baru saja dari bawah tanah, bukan?

“Aish, dimana dia…” kudengar gumaman Sehun saat aku bersembunyi di balik tembok, menunggu di tengah kegelapan sementara Sehun melangkah menyusuri tangga bawah tanah.

Aman.

Aku segera melangkah naik, dan dengan berlari kecil aku masuk ke dalam kamarku, kupandangi sejenak sekeliling kamar untuk mencari rencana lainnya. Ah, mandi. Benar. Berpura-pura mandi adalah cara yang bagus untuk bersikap tidak mengetahui kedatangan seseorang—kalau saja Sehun mencariku ke kamar.

Aku segera masuk ke dalam kamar mandi, membasahi kedua lenganku dan mengusapnya dengan sabun sebelum aku membasuhnya kembali. Tidak lupa, aku juga membasuh wajahku dan menyabuninya, setidaknya harus ada sedikit bau sabun.

Aku kemudian dengan sengaja menuangkan sabun ke lantai kamar mandi, membasahi lantai sebelum kubersihkan sabun tersebut. Baiklah, bau sabun sudah menguar di dalam kamar mandi.

Tak lama, aku keluar dari kamar mandi, meraih handuk yang kusampirkan di dekat pintu kamar mandi untuk mengeringkan lengan dan wajahku sebelum aku kemudian melangkah ke arah pintu, berniat untuk mengintip keberadaan Sehun dan—

“Astaga!”

Aku terkejut bukan main saat kulihat Sehun berdiri tepat di depan pintu kamarku.

“Kemana saja kau?” tanyanya dengan nada dingin khas yang sudah kukenali.

“Apa maksudmu?” aku bertanya balik padanya.

“Kau tadi tidak ada di kamar.” ucapnya, nah, benar bukan? Dia sudah mencariku ke kamar. Beruntung aku terpikir untuk berpura-pura mandi.

“Ah, kau tadi mencariku? Maaf, aku tidak mendengarnya. Aku sedang ada di kamar mandi.” ucapku membuat Sehun memperhatikanku dari atas sampai bawah. Bisa kulihat dia juga mengendus pelan udara yang ada di sekitar kami. Apa bau sabunnya tercium sampai ke sini? Semoga saja.

“Apa? Mengapa menatapku seperti itu?” tuntutku.

“Tidak, lupakan.” hanya itu jawaban Sehun.

Arraseo,” aku berbalik, hendak masuk ke kamarku lagi, tapi Sehun menarik lenganku, membuatku memandangnya bingung.

“Ada apa lagi?” tanyaku.

Umm, maaf soal waktu itu,” kata Sehun.

Aku mengangguk kaku.

“Hmm, gwenchana,” kataku sambil tersenyum.

Mataku tak sengaja menangkap siluet kunci gerbang itu di tas mungil yang ada di pinggang Sehun, sepertinya ia tadi mengecek pintu itu. Pikiranku sekarang berdebat ingin mencuri benda itu darinya.

“Kau seharusnya berhati-hati dengan vampirevampire itu Sarang, mereka berbahaya.” kata Sehun lembut.

Ugh, lagi-lagi dia mengajakku berdebat mengenai hal ini? Apa dia sedang memancingku? Atau dia benar-benar tulus memperingatiku? Apa di mata Sehun aku tidak terlihat serius soal ucapanku yamg ingin melindungi vampire?

Sudahlah, percuma juga berdebat dengan Sehun sekarang. Situasinya toh tak akan menguntungkanku.

“Aku tahu, maaf. Dan maaf juga karena sudah membuatmu kesal.” ucapku pelan, aku tertunduk, bersikap seolah aku tengah merasa bersalah padahal tatapanku tidak hentinya memandang ke arah kunci-kunci tersebut.

“Sehun! Sarang!”

Aku dan Sehun terkesiap saat mendengar teriakan Yooyoung dari lantai bawah. Sosoknya bahkan sekarang tengah berdiri di tengah-tengah tangga, memandang kami berdua dengan pandangan panik yang tak bisa kuartikan.

“Ada apa?” tanya Sehun.

“Yeoreum di serang di luar!” teriak Yooyoung.

Sontak, Sehun langsung berlari. Sementara aku sendiri berlari mengikutinya, tanganku mencekal lengan pakaian Sehun, alih-alih merasa panik karena Yeoreum diserang, aku justru memikirkan cara untuk mencuri kunci tersebut dari Sehun.

Bisa kulihat, bangsa peralihan lainnya juga berlari panik. Memangnya separah apa serangan Yeoreum sampai mereka semua harus terlibat? Hey, mereka bangsa peralihan. Mereka pasti tidak akan terluka sebegitu parahnya, bukan?

Kami berlari melewati pintu menjulang yang selama ini mengurung kami di dalam gedung. Untuk kedua kalinya, aku bisa melihat langit malam. Malam masih sama indahnya dengan saat pertama kali aku melihatnya.

“Bagaimana bisa ia diserang!?” teriak Sehun, ia merunduk untuk menggendong Yeoreum. Timing yang tepat! Bangsa peralihan lain tergopoh-gopoh mendekati Sehun, dan melihat sempit yang sekarang mengurung, aku dengan cepat menarik paksa tas mungil Sehun, membuat kunci-kunci yang ada di sana jatuh berhamburan.

“Sial!” kudengar Sehun mengumpat sambil memandangi kunci-kunci tersebut.

“Biar kubantu.” aku berucap, menyelipkan diriku di antara bangsa peralihan lainnya sambil memunguti kunci-kunci yang ada di tanah.

Aku ingat kunci yang Sehun gunakan untuk membuka pintu rahasia di bawah tanah itu berwarna keemasan dan punya ukuran paling mungil. Melihat adanya dua kunci sama persis yang ada di tanah, aku segera mengambil salah satunya, menyelipkan benda mungil itu di sela jemariku semetara jari yang lain masih sibuk memasukkan kunci Sehun ke rantai yang mengikatnya jadi satu.

Melihat aku yang sedikit kepayahan memungutinya, Yooyoung dan Jongin akhirnya ikut membantu. Sementara Sehun sendiri sudah meninggalkan kami dengan membawa Yeoreum dalam gendongannya.

“Biar kuberikan pada Sehun.” Jongin berkata sembari membawa kunci-kunci tersebut pada Sehun.

Sepeninggal Jongin, aku punya kesempatan untuk menatap alam yang mengurung kami. Pemandangan malam yang tak setiap hari bisa kunikmati ini entah mengapa membuat darahku berdesir. Bagaimana bisa kami selama ini hidup dengan menghindari keindahan semacam ini?

Ah, seseorang ada di sana. Aku menyadarinya saat kulihat bayangan pucat yang bersembunyi di balik gelapnya malam di tengah hutan. Apa dia Baekhyun? Apa Baekhyun yang menyerang Yeoreum? Itu artinya—tidak.

Aku tidak boleh memandang ke arah Baekhyun, mereka mungkin menyadari keberadaan Baekhyun.

Vampire, ia menyerang Yeoreum dengan ranting tajam.” kata Nara, menunjuk ranting berlumur darah yang ada di sana.

“Bagaimana bisa Yeoreum terluka hanya karena ranting kecil?” tanyaku tak percaya. Tentu saja tidak masuk akal bagi mereka untuk terluka hanya karena benda kecil seperti itu. Pasti ada benda lain yang—

“Ayo cepat, masuk, ini malam hari.” ucapan Jongin menghentikan usaha Nara untuk buka suara lagi dan menjawabku. Aku jelas tahu ini malam hari, mengapa Jongin mengatakannya seolah aku tidak tahu apa-apa soal—ah, benar. Dia bukannya menjelaskan tentang malam  hari, tapi tentang bahaya yang mengincar kami saat malam hari.

“Ya,” aku akhirnya mengiyakan, sementara pandangku diam-diam tertuju pada Baekhyun. Apa dia benar-benar menyerang Yeoreum?

Tapi, mengapa? Memangnya selain Baekhyun, ada orang lain yang mungkin menyerang Yeoreum? Tidak, Baekhyun jelas berkata kalau dia sendirian di hutan ini. Itu artinya, memang benar Baekhyun yang menyerang Yeoreum, bukan?

“Jangan melamun Sarang, ayo cepat.” Jongin menarik lenganku untuk masuk ke dalam gedung. Bau anyir segera menyeruak saat kami masuk, sementara kulihat Sehun melangkah menjauh dari Yeoreum saat dokter Soojung dan Alice menekan luka Yeoreum.

“Aku tidak suka baunya.” Sehun berkata saat ia melewatiku.

Aku juga tidak suka, tapi kutahan saja. Ada banyak hal yang harus kuketahui dari serangan yang Yeoreum dapatkan, dan juga aku tak mungkin pergi begitu saja, bukan?

“Apa yang terjadi?” tanya dokter Alice.

“Dia menyerangku dengan ranting itu.” lagi-lagi bicara soal ranting rapuh yang sangat tak masuk akal jika dijadikan senjata yang bisa melukai Yeoreum separah ini.

“Kau bisa mengendalikan tumbuhan, Yeoreum. Apa itu masuk akal?” tanya Nara tak percaya. Ah, jadi Yeoreum bisa mengendalikan tumbuhan?

“Memang, aku berusaha menyerangnya, tapi tak satupun seranganku bisa menyentuhnya. Dia… seolah menyatu dengan alam. Dan juga, ada yang aneh dengan ranting itu. Pasti ada sesuatu di sana yang ia gunakan untuk menyerangku.” Yeoreum menekankan pendapatnya.

Tanpa sadar, aku semakin mual melihat darah berwarna hijau-kebiruan kental yang keluar dari luka di tubuh Yeoreum sekarang.

“Kau benar, ada racun di ranting itu.” dokter Soojung terdengar bicara, ia memperhatikan ranting—yang ternoda oleh darah kental berwarna sama—itu sebelum dia kemudian memandangku.

Dia pasti ingat bagaimana mualnya aku jika sudah berhadapan dengan hal-hal semacam ini.

“Kau boleh pergi Sarang, jangan memaksakan diri.” ucapnya lembut.

Aku mengangguk dan langsung berlari dari sana, berusaha menghilangkan rasa mual yang muncul di perutku. Darah kental biru itu benar-benar membayangi pikiranku.

██║ │█║♪ ║▌♫ │█║♪ ║▌♫ ║██

Beberapa hari aku tidak keluar dari kamarku. Bayangan darah itu masih begitu kuat di pikiranku. Membuatku tidak nafsu makan, atau melakukan kegiatan lain. Bahkan saat hari ini aku keluar dan bertemu Yeoreum—ia sudah sembuh total sekarang, kusadari bahwa bangsa peralihan bisa sembuh lebih cepat daripada kami, manusia—rasa mual itu datang lagi. Dan Yeoreum tertawa karena baginya yang terjadi padaku sangat lucu.

Sehun bereaksi berbeda dariku. Walaupun ia bilang ia tidak suka bau darah, tapi dihari kedua setelah Yeoreum diserang, ia sudah beraktifitas seperti biasanya.

Menyiksa vampire lagi.

Aku berjalan pelan melewati ruangan besar yang biasa kami gunakan untuk makan. Semua orang berkumpul disana. Bicara. Aku bersembunyi di balik bilik kecil di sana, berusaha untuk mencuri-dengar pembicaraan mereka.

“Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini, kalian tidak bisa kemanapun selama kalian masih manusia.” suara Kris, salah satu bangsa peralihan.

“Benar, kami, bangsa peralihan, bisa bertahan karena kami punya kekuatan untuk melawan makhluk-makhluk itu.” kata Sehun, kukenali suaranya disana.

“Tapi… Itu artinya melenyapkan sisa manusia yang ada di Seoul…” Jongin membantah.

“Kalian lebih memilih hidup kalian berakhir di tangan vampire itu?” aku tidak begitu kenal suaranya, tapi aku tahu dia sedang marah.

“Luhan, jaga emosimu.” peringat Kris, membuatku tahu nama pemuda itu.

“Begini, kami, bangsa peralihan, sudah bisa membuat alat yang memusnahkan vampire. Maksudku, alat itu bisa benar-benar memusnahkan hidup mereka. Saat kalian membakarnya, vampire itu tidak mati.” kata dokter Alice.

“Jumlah kami hanya lima puluh, tidak sebanding dengan vampire itu, kekuatan kami tidak akan cukup untuk memusnahkan mereka. Kami sudah membuat banyak alat pemusnah vampire, dan jika kalian semua, seratus dua puluh orang yang selamat dari penyerangan itu, menjadi peralihan seperti kami, kita akan menang dari mereka.

“Bangsa peralihan punya satu kelebihan yang tidak dimiliki vampire… Bangsa peralihan… sangat sulit untuk terluka.”

“Lalu bagaimana dengan yang terjadi pada Yeoreum?” tanya dokter Soojung.

“Hanya ada satu racun yang bisa melukai kami, yaitu racun yang melukai Yeoreum. Dan kemarin, yang menyerang Yeoreum hanya satu orang. Tidak semua tangan akan bisa membuat racun itu. Kudengar, mereka membuat racun itu dengan menggunakan darah dari manusia yang menyerahkan kehidupan serta jiwa mereka pada vampire.

“Dan tentu saja, tidak banyak manusia yang sekarang mau diperbudak oleh mereka, bukan? Aku yakin siapapun yang menyerang Yeoreum itu, dia sudah menyimpan racun tersebut cukup lama, itulah mengapa luka Yeoreum juga bisa sembuh dengan cepat.

“Kalau dia sudah menunggu lama untuk menggunakan racun itu, artinya dia tidak punya banyak persenjataan berupa racun tersebut untuk menyerang kita.”

“Kau benar, tidak mungkin ada manusia di zaman ini yang bisa ia jadikan percobaan untuk racun itu.” Jongin berkata.

“Itulah mengapa ku katakan, mereka akan kesulitan menyerang kita.” dokter Alice menegaskan.

“Tapi… Bagaimana cara berubah menjadi seperti kalian?” tanya Jongin, kurasa semua orang mulai tertarik pada tawaran para bangsa peralihan sekarang.

“Itulah mengapa kami menahan vampire itu di sini. Mereka adalah vampire yang berbeda, saat mereka yang menggigit kalian, kalian juga akan mendapatkan kekuatan yang serupa dengan yang mereka miliki.

“Selama tiga tahun ini kami mengurung mereka agar mereka menyimpan dendam pada kita, dan saat mereka dilepas… mereka akan menyerang kita, dan membuat kita menjadi bangsa peralihan…”

Aku terpaku. Jadi… Jadi itu tujuan mereka? Mereka… Ingin memanfaatkan vampire itu? Air mataku mengalir pelan. Tidak menyangka bangsa peralihan selama ini menyiksa Kei, Jongdae, dan yang lainnya, hanya karena mereka ingin mengubah sisa manusia yang ada menjadi bangsa peralihan.

“Jika vampirevampire itu musnah, kita bisa menyusun kota Seoul lagi.” kata Kris.

“Baiklah… Kapan?”

“Seminggu lagi… Jadi, siapkan diri kalian.” kata Kris.

“Sehun, kau bertanggung jawab akan proses ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku berlari meninggalkan tempat itu. Aku tidak menyangka mereka merencanakan hal ini… Ini terlalu… Kejam. Aku menangis dan berlari ke penjara para vampire itu. Jika orang-orang disini berubah menjadi bangsa peralihan…

“Sarang? Sarang? Kenapa kau menangis?” Kei tersentak saat ia melihatku menangis ketika masuk ke penjara mereka.

Aku membelesakkan diriku masuk ke dalam jeruji Kei, lalu menangis disana. Ia memelukku, mengusap kepalaku perlahan.

“Ada apa Sarang?” tanya Kei lembut.

“Mereka… Mereka…”

Aku menghentikan kalimatku. Aku ingin memberitahu mereka, tapi bisa saja mereka mengungkapkan itu pada Sehun… atau yang lain… yang membuat mereka mengubah rencana jahat mereka.

“Tidak akan ada yang bertindak begitu Sarang. Katakan, apa yang terjadi?”

“Mereka… Mereka ingin membunuh kalian…” tangisku pecah.

Kei diam. Aku benci bangsa peralihan. Aku benci mereka.

“Pikirkan saja kejadian tadi Sarang… Kau tidak harus menceritakannya.”

Segera, aku memutar kembali ingatan tentang pembicaraan mereka. Kuingat setiap detil kalimat yang mereka katakan, sementara kubiarkan Kei membolak-balik ingatanku tentang pembicaraan mereka.

“Ah… Begitu rupanya,” Kei bersuara saat ia selesai mendengarkan pembicaraan mereka yang tadi kuingat.

“Aku benci mereka… Kei. Aku benci mereka. Mengapa mereka berusaha melakukan hal buruk pada kalian?”

“Apa yang terjadi pada Sarang, Kei?” tanya Jongdae.

“Bangsa peralihan menyiksa dan mengurung kita disini dengan satu tujuan… Mereka ingin mengubah manusia disini menjadi peralihan, dengan menggunakan taring kita, dan nantinya mereka akan memusnahkan kita dengan senjata yang sudah mereka buat.”

Kudengar helaan nafas terkejut di dekatku. Sementara aku masih berusaha menetralisir kebencian yang kuakumulasi pada bangsaku, juga bangsa peralihan itu sendiri.

“Aku tidak mau hal itu terjadi…” kataku pelan.

“Hal itu tidak akan terjadi Sarang…” Kei mengusap kepalaku pelan.

“Ya, tidak akan ada satupun dari kami yang akan menyerang mereka seminggu lagi.” kata Jongdae.

“Tapi mereka tidak akan memberi kita darah untuk seminggu ke depan.”

“Aku akan mencuri darah di gudang,” kataku.

“Sarang…” Kei memandangku. Seolah ia sekarang tengah mempertanyakan sikapku, yang berusaha untuk mengkhianati bangsaku sendiri padahal tempo hari dengan bangga kukatakan pada vampire di sini bahwa apapun yang terjadi aku akan tetap bersama dengan manusia yang ada di sini.

“Aku tidak memihak siapapun, Kei. Aku tidak ingin vampire dimusnahkan. Apalagi dengan cara kejam yang mereka rencanakan. Dan aku tidak ingin manusia musnah, dengan mereka berubah jadi peralihan… Jadi, bukankah cara terbaik adalah membuat peperangan ini jadi adil?” kataku.

“Perang ini tidak akan pernah adil, Sarang.” kata Yixing membuatku semakin terisak. Mereka benar, mereka sudah kalah jumlah, dan kalah persenjataan juga. Aku tidak tahu apa vampire di sini akan bisa mendapatkan bantuan dari vampire lainnya sebelum hal mengerikan itu terjadi.

“Tidak, kalian tidak akan kalah. Kalian jauh lebih kuat daripada mereka. Bangsa peralihan tidak akan ada jika vampire tidak menciptakan mereka. Bukankah begitu? Kalian lah yang menciptakan mereka, itu artinya… kalian juga bisa mengalahkan mereka.”

“Sarang benar, vampire yang menciptakan bangsa peralihan, kita pasti bisa melawan mereka juga.” kata Kei.

“Sarang… Curilah darah jika kau bisa, kami akan berusaha untuk tidak menyerang manusia manapun minggu depan, kami hanya akan menyerang bangsa peralihan…”

“Kei, tidakkah kau ingat bahwa mereka sulit untuk dilukai?” tanya Jongdae.

Aku terdiam. Berpikir. Entah sejak kapan… Aku ingin menentukan siapa yang kupihak… Vampire. Walaupun kesan nya aku mengkhianati bangsaku, aku tahu, di perang ini, siapa yang benar dan siapa yang salah.

“Kita bisa pikirkan itu nanti, kembalilah ke kamarmu Sarang, istirahatlah… kau sudah memberi kami informasi yang sangat besar hari ini.” kata Kei.

“Boleh aku di sini saja? Aku tidak ingin ke atas, aku tidak ingin melihat mereka.” kataku pelan.

“Baiklah, aku akan menjagamu.” kata Kei sambil tersenyum.

Aku berbaring di lantai, memeluk kakiku. Kei duduk di sebelahku, memegang lenganku. Membuatku tidak terlihat oleh manusia maupun bangsa peralihan, tentunya.

Gomawo Kei-ah.” kataku

“Kami yang seharusnya mengatakan itu padamu Sarang…”

██║ │█║♪ ║▌♫ │█║♪ ║▌♫ ║██

Aku terbangun dengan keterkejutan yang berlebihan. Kupikir, aku tertidur terlalu lama dan mungkin saja aku sudah melewatkan banyak hal. Tapi ternyata aku masih ada di tempat yang sama, dan Kei masih ada di sampingku.

“Kenapa kau terbangun? Ini masih malam, Sarang.” Kei berucap.

Aku bangkit, menetralisir degup jantungku yang melompat karena rasa terkejut barusan. Aku kemudian duduk di sebelah Kei, menyandarkan tubuh di tembok, membiarkan kulitku bersentuhan dengan dinginnya permukaan kulit pucat Kei.

“Aku tidak mengantuk lagi, Kei.” kataku, aku memikirkan bagaimana cara membantu Kei dan yang lain nya untuk menang dalam perang ini.

“Kau tidak perlu memikirkan hal itu Sarang, kami akan menang. Kau sendiri yang begitu optimis tentang hal itu, bukan?” Kei tertawa pelan.

Aku kembali terdiam. Kusadari kalau aku tak bisa diam saja di sini jika aku benar-benar ingin melihat kemenangan mereka, atau minimal jika aku ingin melihat kebebasan mereka.

“Aku akan pergi sebentar, aku harus memikirkan rencana untuk membantu kalian.” ucapku membuat Kei mengangguk pelan. Bisa kurasakan jemarinya mengusap puncak kepalaku dengan lembut sementara senyum terukir di paras sempurnanya.

“Aku tahu sedari tadi pikiranmu berkemelut. Berhati-hatilah, Sarang.” pesan Kei kujawab dengan sebuah anggukan pelan.

“Baiklah. Akan kutemui kau lagi nanti, Kei.” ucapku sambil menyelipkan diri keluar dari jeruji sempit yang Kei tempati.

Tidak ada siapapun di luar penjara. Semua orang mungkin sudah terlelap, meskipun aku tahu ada beberapa bangsa peralihan yang bertugas untuk berjaga, tapi setidaknya aku tidak melihat mereka.

Diam-diam aku menyelipkan tanganku ke kantong kecil yang ada di celana yang kukenakan. Kunci yang tadi kucuri dari Sehun ada di sana. Aku tidak tahu, apa Sehun sudah tahu kalau kunci-kuncinya hilang? Ah masa bodoh dengan hal itu sekarang.

Aku kemudian melangkah menyusuri tangga menuju pintu kecil yang ada di bawah tanah, mencoba membuka gembok yang menjadi batas di sana dan—

KLIK

Gembok itu terbuka. Aku melangkah keluar gedung itu, malam sangat indah, lagi-lagi aku merasa terpana pada keindahannya. Aku memandang sekitarku, merekam semua siluet malam hari yang bisa kuingat.

“Kau di sini?”

Aku tersentak saat mendengar suara lembut Baekhyun di belakangku. Ia berdiri tak jauh di belakangku, tersenyum. Pucatnya kulit Baekhyun tampak begitu kontras dengan gelapnya malam.

“Aku ingin melihat malam.” kataku sambil tersenyum padanya.

Dalam hitungan detik ia sudah berdiri di hadapanku. Aku sudah biasa berhadapan dengan vampire, jadi sikap Baekhyun sekarang sama sekali tidak menakuti atau mengejutkanku. Baekhyun baik—menurutku, dan kurasa semua vampire pada dasarnya sangat baik.

“Kau tidak pernah melihat malam hari?” tanyanya.

“Baru dua kali,” kataku.

“Bukankah bulan itu cantik?” aku menatap Baekhyun saat mendengarnya bicara.

“Benda itu yang namanya bulan?” aku menunjuk siluet bulat terang berwarna pucat yang ada di langit

Baekhyun memandangku, lalu mengangguk.

“Ya, benda itu yang namanya bulan. Dan itu, titik kecil berkilauan itu, namanya bintang.” kata Baekhyun.

“Malam itu sangat indah.” kataku sambil memandangi langit malam.

“Manusia membenci malam hari.” kata Baekhyun.

“Untuk apa membenci malam hari? Malam hari sangat indah, aku suka.” kataku sambil memperhatikan bintang yang hanya berupa noktah kecil di langit.

“Mau berjalan-jalan ke atas sana?” ajak Baekhyun.

“Bagaimana caranya?” tanyaku.

WHUUSSHH!

Aku terkesiap melihat sayap lebar Baekhyun yang berwarna putih cemerlang. Ia tersenyum melihat reaksiku.

“Dengan sayapku, akan kuajak kau berkeliling Sarang.” kata Baekhyun membuatku terdiam.

“Kenapa… kau begitu baik padaku?” tanyaku tidak mengerti. Aku paham jika vampire semuanya memang baik. Tapi tidakkah dia melihatku sebagai ancaman? Yah, walaupun aku tentu saja dengan mudah bisa diserangnya atau ia lukai. Tapi setidaknya, bangsaku dan bangsanya sedang ada di tengah sebuah perang.

Mengapa ia bersikap sebaik ini?

“Kemampuanku.” Baekhyun tersenyum, kemudian melanjutkan, “Aku bisa mengetahui masa lalu seseorang melalui kedua matanya, Sarang. Aku tahu yang sudah kau lakukan sebelumnya, dan aku juga tahu… kau adalah seseorang yang harus kuperlakukan dengan sangat baik.”

Baekhyun melangkah ke arahku, kedua tangannya kemudian terulur ke arah tubuhku. Kubiarkan ia menggendongku dengan gaya bridal sementara aku masih terus mendengarkan penjelasannya.

“Ada banyak yang kuketahui tentang masa lalumu. Kau tidak berniat menanyakan apapun?” tanya Baekhyun memancing keingin tahuanku.

“Banyak, aku ingin menanyakan banyak hal tapi mungkin kau tidak berkenan menjawabnya.” aku berkata.

“Mengapa aku harus menolak untuk memberitahumu? Sudah kukatakan kalau kau adalah manusia yang harus kuperlakukan dengan sangat baik bukan?” ucap Baekhyun sementara dia mulai melangkah pelan dengan membawaku dalam gendongannya.

“Apa yang ingin kau ketahui? Tentang vampire yang menyelamatkanmu saat kau masih bayi? Atau… vampire yang menandaimu?”

Aku berjengit kaget saat Baekhyun bicara tentang hal itu.

“Kau tahu?” tanyaku terkejut.

“Tentu saja aku tahu, Sarang. Vampire yang pertama kali menyelamatkanmu, Park Chanyeol, dia juga yang sudah menandaimu. Ah… kalian juga bertemu lagi bukan? Walaupun pada akhirnya memilih untuk berpisah.

“Lalu… saat kau masih kecil, ada seorang vampire yang pernah menolongmu saat vampire menyerang manusia, namanya adalah Kei.”

“K-Kei?” Kei? Kei yang terkurung di jeruji?

“Bukankah kau mengenalnya sekarang?”

“Kau tahu kalau dia terkurung di dalam gedung tempatku sekarang tinggal?”

Baekhyun mengangguk pelan. Ia kemudian melompat, membawa kami melayang ke udara malam.

“Jangan lihat kebawah kalau kau takut, Sarang.” aku terkesiap saat Baekhyun kemudian membawaku terbang, kami benar-benar terbang. Sontak aku berpegangan di bahunya, ia tertawa karena aku tidak berani membuka mataku sedikit pun.

“Coba lihat sebentar Sarang-ah, pemandangannya sangat indah.” kata Baekhyun.

“Tidak, aku takut.” kataku, masih memejamkan mata.

“Mungkin tidak akan ada kesempatan lagi bagimu untuk terbang seperti ini denganku. Kau tidak akan menyesal?” ucapan Baekhyun akhirnya membuatku memberanikan diri untuk membuka mata, dan memandang—astaga! Kami benar-benar terbang.

Dan Baekhyun benar, pemandangannya jauh lebih sempurna lagi di sini. Bulan terlihat sangat dekat, dan bintang seolah terlihat bisa kugapai dengan jemari.

“Cantik…” gumamku tanpa sadar, aku terbius oleh indahnya langit malam yang dihiasi noktah putih sempurnanya.

“Kau suka?” tanya Baekhyun.

“Sangat suka…”

“Bagi kami, para vampire, malam sudah seperti sebuah surga. Kami bisa hidup dengan bebas saat malam tiba. Dan manusia juga tidak berusaha memburu atau membunuh kami saat malam tiba.” Baekhyun menuturkan.

Mengingat tentang peperangan mereka, aku kemudian teringat.

“Apa kau yang menyerang Yeoreum tempo hari, Baekhyun?” tanyaku.

Baekhyun diam sejenak, tapi kemudian ia mengangguk. “Ya, aku mencoba apa racun yang kusimpan masih bekerja.” jawabnya membuatku tahu kalau ucapan dokter Alice benar tentang racun yang Baekhyun miliki.

Dia tidak punya banyak racun itu.

“Kudengar kalau kalian membuatnya dengan darah dari manusia yang menyerahkan jiwa pada vampire, benarkah begitu?” tanyaku pada Baekhyun.

Ia mengangguk pelan. “Tidak seperti manusia yang hidup dengan perkembangan teknologi, kami masih menggunakan cara konvensional, Sarang. Di dunia kami, ada ikatan-ikatan sakral seperti itu.

“Bagi manusia, cara kami mungkin terkesan begitu kolot dan kuno. Tapi bagi kami, cara itu adalah cara yang tidak bisa manusia tiru bagaimana pun mereka menginginkannya. Racun itu digunakan untuk menyerang bangsa peralihan, sedangkan bangsa peralihan sendiri berasal dari kami, para vampire yang telah mengubah manusia jadi seperti itu karena tidak bisa mengubah mereka sepenuhnya.

“Kau tahu, bukan? Kalau kami, para vampire, mengisap darah manusia dan menyisakan cukup banyak racun kami di dalam darah mereka, manusia bisa benar-benar berubah menjadi vampire? Dalam jumlah yang sedikit, racun kami hanya akan mengubah manusia menjadi bangsa peralihan.”

Ah… itulah mengapa darah manusia dibutuhkan untuk menciptakan racun tersebut. Karena bangsa peralihan adalah manusia yang diubah secara tidak sempurna oleh para vampire.

Aku terdiam, lagi. Tidak tahu harus berkata apa. Aku sesak mengingat rencana jahat mereka yang ingin memusnahkan para vampire. Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak tahu siapa yang harus kupihak. Aku tidak ingin salah memihak, dan kalau aku bisa diberi pilihan… aku ingin tidak memihak siapapun.

Aku tidak ingin jadi bangsa peralihan, dan aku juga tidak ingin jadi seorang vampire. Aku suka hidupku sebagai seorang manusia, aku tidak ingin kehidupan abadi seperti seorang vampire, atau hidup dalam kekejaman seperti para bangsa peralihan.

“Kau memikirkan apa?” tanya Baekhyun.

“Tidak… Aku hanya takut… Jika nanti perang itu benar-benar terjadi…” kataku pelan.

“Perang itu tidak bisa di tolak, tidak juga bisa dihentikan, Sarang. Cepat atau lambat, perangnya akan terjadi.” Baekhyun tertawa pelan. Seolah pengharapanku tentang perang yang mungkin bisa dihindari oleh bangsa vampire maupun manusia ini bisa terealisasi.

Ucapanku terlalu bodoh bukan? Aku hanya tidak ingin ada perang seperti ini.

“Baekhyun, sejak kapan kau jadi seorang vampire? Apa kau dulunya manusia?” tanyaku membuat Baekhyun memandangku tidak mengerti.

“Aku bisa menceritakannya, kita mungkin bisa bertukar cerita juga. Apa kau keberatan untuk singgah ke tempat tinggalku?” tanya Baekhyun.

Aku menggeleng pelan.

“Kurasa aku sudah cukup menikmati pemandangan ini.” ucapku membuat Baekhyun tertawa pelan.

“Jangan khawatir, Sarang. Kau masih bisa melihat pemandangan ini dari tempat tinggalku.” ucap Baekhyun membuatku tersenyum kecil.

Dia begitu mudah tahu tentang apa yang kupikirkan.

“Baiklah, ayo kita ke tempat tinggalmu kalau begitu.”

Baekhyun menyernyit sejenak. “Bagaimana kalau mereka mencarimu?” tanya Baekhyun membuatku mengedikkan bahu acuh.

“Biarkan saja, aku tidak peduli. Di sana, yang kupedulikan dengan sungguh-sungguh hanyalah vampire yang dijadikan tawanan saja.” ucapku.

“Baiklah.” Baekhyun mengiyakan. Ia kemudian membawaku terbang rendah ke bagian dalam hutan yang lebih kelam dan mengerikan.

Tapi aku tidak merasa takut. Aku tahu Baekhyun tak mungkin membawaku ke tempat yang berbahaya, aku percaya dia tidak akan melukaiku atau membuatku terluka. Entah sejak kapan, aku begitu mudahnya mempercayakan nyawaku pada vampire yang sebenarnya bisa dengan mudah membunuhku.

Kami tiba di tempat kecil yang dibangun di atas pepohonan, tersembunyi di antara pohon-pohon besar di hutan. Tidak ada penerangan di dalam tempat ini, satu-satunya cahaya berasal dari bulan yang terlihat dengan sangat jelas dari tempat ini.

“Kita sudah sampai.” Baekhyun berucap saat menurunkanku di atas ruang kosong yang ada di bagian depan ruang kecil di atas pohon ini.

“Selama ini kau tinggal di sini?” tanyaku dijawab Baekhyun dengan sebuah anggukan pelan.

“Ya, aku punya kemampuan bertahan hidup yang cukup baik.” Baekhyun berucap.

Ia kemudian mempersilahkanku untuk duduk di sebelahnya, sementara dia sendiri bersandari di pintu kecil yang ada di depan ruangan tempat kami sekarang berada.

Aku kemudian duduk di sebelah Baekhyun, sejenak kami sama-sama terdiam memandang langit malam juga hamparan gelap hutan yang ada di depan kami. Sebelum akhirnya kudengar Baekhyun berdeham pelan.

Aku melemparkan pandang ke arah Baekhyun, bisa kulihat dia sekarang menatap dengan pandang menerawang. Kurasa, dia tengah mengenang masa lalunya sebelum dia mulai menceritakan masa-masa itu padaku.

“Dulu… aku adalah seorang manusia.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Lagi-lagi daku kembali dengan pekan produktif, LOLOLOL. Kali ini kayaknya keinginan buat segera mengakhiri Exception bener-bener niat, WKWK.

Karena cerita ini mungkin cuma ada lima atau enam chapter aja (di draft sih ada enam, tapi sebelum dipublish kan masih kena edit-edit dan kena tambahin cerita lagi dariku yang baru aku pikirin, jadi biasanya ada bagian yang kupotong buat nyempil di chapter berikutnya… dan kemudian chapternya jadi molor, huhu) dan endingnya di draft masih ambigu (apa-apaan ini) jadi aku enggak yakin mau selesaiinnya di mana, LOLOLOLOLOLOL.

Kepengennya berenti aja di sini, tapi kalau endingnya ngegantung (as always…) mungkin aku nanti bisa cari-cari ide buat bikin mini chapter trilogynya (weis, gaya gaya, kayak bakal selesai aja kalau bikin trilogy /kemudian disepak/).

Exception seminggu atu ya biar cepet selesai, dia prioritas dulu karena udah mapan ceritanya dan udah mapan juga endingnya. Tinggal edit-edit dikit, tambah-tambahin dikit dan publish (kemudian minggu depan molor dan akhirnya daku kembali dirajam pembaca T.T) enggak, mungkin kalau Exception enggak molor asal dia prioritas. Maklum, bentar lagi kelar, fanfiksi lain bisa menunggu dulu /NAHLOH/

Aku ini masih mikir, Chanyeol enaknya dimasukin apa enggak dalem cerita. Bikos kupengen bikin kokoro Sarang menikung ke Sehun atau enggak ke Baekhyun. KE SEHUN AJA KALI YAK BIAR SARANG JADI SEMAKIN LABIL, GITU, MAU MIHAK SIAPAH, HAHAHAHAHAHA, JAHATNYA AKU.

ATAU KE BAEKHYUN AJA BIAR DIA NINGGALIN DUNIA NISTA TEMPAT DIA TINGGAL? YAAMPUN JAHAT PART DUA, WKWK. Pokoknya menurut aku tuh Sarang enggak usah sama Chanyeol lagi, biarlah Chanyeol cukup jadi mantan aja enggak usah balikan lagi, gitu maunya aku. Biar sarangnya Sarang berputar /APASIH/.

Ya enggak taulah nanti jadi kayak begimana akhirnya, tebak-tebak dan duga-duga aja deh mendingan daripada menunggu aku spoiler, WKWK. Nah, sekian dariku, sampai ketemu lagi di Exception berikutnya!

XOXO, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

22 pemikiran pada “EXCEPTION – 3rd — IRISH’s Tale

  1. Ping balik: [AFTERWORD] EXCEPTION — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: EXCEPTION – 7th [final] — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: EXCEPTION – 6th — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: EXCEPTION – 5th — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: EXCEPTION – 4th — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  6. Oh my god, i’m waiting this FF until bulukan (?)
    Setelah hiatus dr dunia fana selama beberapa bulan, gue dibikin baper lagi sm si baekhyun gara2 ini FF, dan why the next chapter is soooooo lambreta di postingnyaaa??? Bisa gila gue, riiiissshhh. Heeeelllllpppp.

    • Mbb ya sayangs :* kok aku ngakak sih karena ada yang baper gara2 cerita ini XD wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk aaaahhhh maafin aku yang bisa publishnya lambat lambat…

  7. Wahhhhh ff yg aku tungu² akhirnya muncul juga… God job untuk kak Irish…semoga sarang bisa nyelamatin vampir² itu. Maaf kak gak bisa komen panjang lebar udah komennya geje pendek lagi.

  8. Semoga sarang bisa nyelamatin vanpir-vanpir yang dikurung itu. Sarang enaknya sih sama baekhyun aja. Gak tau mau komen apa lagi, pokoknya semua cerita kak irish ditunggu terus.

  9. Kak irish kejhamm huee.. Membiarkan sarangnya Sarang berputar diantara baekhyun atau sehun.. Tapi personal aku lebih ngeship baekhyun-sarang, sehun sikapnya dingin eww gasukagasukaa.. Btw, sorry ya kak irishh komentarku gajelas wkk.. I dunno what should i write here :3
    Finally, keep going on kak rishh..
    See ya~

    • Mbb ya sayangs :* biarin aja, biar Sarang jadi labil XD wkwkwkwkwkwk chanyeol aja deh ya, jangan baekhyun, di ff aku jatah baekhyun dapet pair itu udah overload XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s