GIDARYEO – 5th Page — IRISH’s Tale

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  Crime  — Family — Fantasy — Melodrama — Supranatural — Suspense  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 2Teaser Pt. 3Teaser Pt. 41st Page2nd Page3rd Page — 4th Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

“Tempatnya memang tidak terlalu luas, tapi fasilitasnya lengkap.”

“Ah, ya. Terima kasih banyak, ahjussi.”

“Kau bisa menghubungiku jika ada hal-hal lain yang kau butuhkan.”

ArraseoGomawo…”

Aku mengantar ahjussi pemilik flat bertingkat tiga yang salah satu kamarnya berhasil kudapatkan dengan harga murah di pinggiran kota ini. Niatku untuk pergi ke Incheon dan menemui Jaein entah musnah kemana karena kehadiran Shadow of The Dark di sini.

Ia mungkin saja akan muncul lagi bukan?

Aku melongokkan kepalaku dari jendela kamar minimalis yang kutempati. Hanya rerumputan hijau yang bisa kulihat sejauh ini. Sangat berbeda dengan pemukiman di Venezuela yang sangat padat. Tempat ini lebih berkesan… menenangkan.

“Kau baru di sini?”

Aku menoleh, mendapati seorang pemuda—tampak jauh lebih muda daripada aku—juga tengah melakukan hal yang sama denganku, rupanya dia adalah penghuni kamar sebelah.

“Ah, ya. Aku baru saja pindah. Bagaimana denganmu?” tanyaku.

Pemuda itu tersenyum mendengar ucapanku.

“Aku juga belum lama di sini. Ah, perkenalkan namaku Do Kyungsoo.” ucap pemuda itu, tangannya ia ulurkan ke arahku, dan aku juga melakukan hal yang sama.

Kami kemudian sadar kalau usaha kami sia-sia. Tangan kami tak dapat bertemu bagaimanapun kami coba untuk mengulurkannya.

“Ah, kita bisa berjabat tangan nanti jika bertemu di luar. Aku Anna, Park Anna.” ucapku akhirnya, menyerah pada usaha untuk mencoba menggapai tangan Kyungsoo karena mungkin saja tindakan konyol kami akan berujung pada jatuhnya salah seorang di sini karena kurasa, tembok yang sekarang jadi tumpuan kami tidaklah kuat.

“Kau benar. Senang bertemu denganm, Anna.” Kyungsoo berucap dengan sebuah senyum lembut terukir di wajahnya.

“Aku juga begitu. Darimana kau datang, omong-omong? Katamu kau juga baru di sini.” aku kemudian melanjutkan konversasi kami, tidak nyaman rasanya jika harus mengakhiri konversasinya dengan canggung.

“Tokyo,” jawab Kyungsoo, “Selama dua tahun aku menetap di sana, kemudian aku tinggal di Incheon selama beberapa bulan sebelum aku putuskan untuk tinggal dan menetap di sini.” sambungnya kemudian.

“Ah, kau berasal dari Tokyo rupanya…” aku menggumam tanpa sadar.

“Kau sudah bekerja?” tanyaku lagi dijawab Kyungsoo dengan sebuah gelengan pelan.

“Aku masih sekolah.” jawabnya membuatku menatap dengan pandangan membola. Wah, dia masih sekolah dan bisa hidup berpindah-pindah begini?

“Maaf, maaf. Aku pikir kau sudah bekerja karena tinggal berpindah-pindah. Kau tidak tinggal bersama orang tuamu, ingin jadi pria yang mandiri, huh?” ucapku kemudian, menghindari kecanggungan karena aku telah salah bicara padanya tadi.

“Ya, begitulah, aku rasa kau tidak jadi satu-satunya orang yang bekerja dan hidup mandiri tanpa orang tua, bukankah begitu?”

Aku kini terkesiap mendengar perkataan Kyungsoo.

“Dari mana kau tahu tentangku?” sontak aku bertanya.

“Ah, kau tadi menanyakan apakah aku sudah kerja, dugaanku kau pasti sudah bekerja, sehingga mengira aku juga sudah bekerja. Dan kudengar saat kau datang tadi, pembicaraanmu dengan Ahjussi Kim pemilik tempat ini.

“Kau katakan kalau kau seorang pekerja keras yang hidup mandiri dan tidak mengandalkan orang tua. Benar, bukan?”

Ah, benar juga. Aku tadi sempat bicara begitu sebagai basa-basi pada ahjussi pemilik tempat ini agar dia tidak berpikir jika aku adalah perempuan yang lemah dan memilih untuk hidup sendiri karena putus asa.

Baguslah karena Kyungsoo sudah tahu, aku tidak perlu menciptakan kebohongan apapun untuk menjelaskan keadaan keluargaku yang sebenarnya sangat kacau.

“Hmm, ya benar. Kau ternyata punya pendengaran yang tajam.” gurauku membuat Kyungsoo tergelak.

“Bukannya pendengaran tajam, tapi sekat di antara kamar ini yang terlalu tipis. Jadi mendengar pembicaraan di kamar sebelah bukanlah hal yang sulit buatku.” Kyungsoo berkata, sedikit membanggakan diri rupanya.

“Apa aku harus memanggilmu noona? Kau ‘kan wanita pekerja keras yang hidup mandiri.” kata Kyungsoo kemudian.

“Tidak, tidak perlu seformal itu. Usiaku masih dua puluh tahun omong-omong. Aku hanya, tidak punya kesempatan untuk sekolah jadi aku bisa bekerja di usia yang masih muda.” aku menjelaskan, tidak ingin Kyungsoo lantas menganggapku rendah karena aku bukan lulusan sekolah menengah atas sepertinya.

“Astaga, kau memang benar-benar wanita mandiri.” Kyungsoo berkata, kuterima saja ucapannya sebagai pujian karena dari mimik wajahnya sekarang, ia tidak terlihat sedang meledekku atau apa.

“Lalu bagaimana denganmu sendiri, Anna—aku boleh memanggilmu Anna bukan? Dari mana kau berasal?” tanya Kyungsoo kemudian mengganti topik pembicaraan kami.

“Venezuela. Empat tahun aku di sana, merantau tentu saja.” ucapku membuat Kyungsoo menatap dengan mata membulat yang begitu menggemaskan.

“Empat tahun? Wah, kau di sana sejak usiamu enam belas tahun? Keren sekali.” ucapnya membuatku mengulum senyum pahit.

Tidak ada yang begitu mengesankan tentang hidup di sana. Orang tua angkatku bahkan tak akan berpikir kehidupanku di Venezuela cukup layak untuk mereka sebut sebagai sebuah kehidupan.

“Orang tuaku ada di Tokyo, omong-omong, aku belum menjawabmu tadi. Dan setelah bertemu denganmu, aku pikir keputusanku untuk tidak tinggal serumah dengan orang tuaku dan belajar mandiri adalah keputusan yang bagus.” Kyungsoo lagi-lagi buka suara.

Aku kemudian tersenyum.

“Ya, tapi setidaknya kau masih bisa menghubungi mereka jika kau rindu, bukan?”

Setidaknya, Kyungsoo punya kehidupan yang lebih baik daripada aku.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kyungsoo teman yang baik. Ia sering membangunkanku di pagi hari. Hanya dengan mengetuk-ngetuk dinding—yang terbuat dari kayu tipis—yang memisahkan kamar kami. Aku memang tidak berharap tempat ini akan sebagus di Venezuela, tapi keadaan di sini jauh lebih menyenangkan.

Dan setiap hari aku selalu melihat Kyungsoo pulang sekolah, sekitar jam 3 sore. Walaupun aku tidak yakin Kyungsoo senang dengan sekolah barunya. Ia tidak pernah tampak pulang bersama dengan teman-temannya. Mereka berjalan saling berjauhan, dan membuatku berpikir bahwa Kyungsoo adalah orang yang penyendiri.

Satu hari, aku sengaja mengekorinya saat ia pulang sekolah. Berharap aku mungkin bisa menjadi temannya bicara selagi dia melangkah menuju tempat tinggal kami. Bukannya kenapa, tapi aku merasa tidak nyaman saat harus selalu melihat Kyungsoo pulang dengan ekspresi muram di wajahnya.

Ia sendiri juga pasti tidak merasa nyaman, bukan?

“Kyung—” aku baru saja berteriak memanggil Kyungsoo—yang datang dari arah timur—saat netraku menangkap bayangan hitam dari arah berlawanan. Dari arah itu juga kulihat seorang siswa berpakaian mirip dengan Kyungsoo, tapi aku yakin seragam mereka berbeda.

Benar dugaanku, murid sekolah itu diikuti oleh seorang berpakaian gelap. Tapi kupikir dia tidak tahu kalau dia sedang diikuti. Rasanya ada yang salah… terutama penampilan orang itu membuatku teringat pada seseorang, yang sering muncul di kegelapan malam dengan pakaian serba hitam, seperti—Shadow of The Dark!

Aku segera mengenakan jaketku, dan melangkah keluar dari apertemen, bahkan melupakan niatanku untuk menyapa Kyungsoo yang baru datang dari sekolah. Lagipula, jarak antara Kyungsoo denganku sekarang masih cukup jauh. Dia pasti tidak melihatku juga.

Jadi apa salahnya kalau aku mengurungkan niatku?

Langkahku terhenti saat dua orang itu berbelok, aku tidak ingin mengikuti mereka. Berada di belokan tidak dikenal seperti ini sering kali berarti mendatangi maut. Dan aku tidak ingin membahayakan diriku.

“Aku tidak menyangka kalian masih hidup setelah perang itu…”

“Apa kau temanku? Atau kau musuhku? Memakai topeng seperti itu untuk menipu orang-orang huh?”

“Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin melihat kembali tempat manusia-manusia ini tinggal.”

“Dengan tujuan apa? Mencoba membunuh kami lagi?”

Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka saling mengenal? Aku tidak bisa mengenali suara siapa dan suara siapa. Aku tidak mengingat dengan baik suara Shadow, dan pembicaraan mereka sekarang juga terlalu sulit untuk bisa kupahami secara sepihak tanpa tahu masalah yang sebenarnya.

Tapi mengapa pula aku begitu ingin tahu?

“Kalian lihat saja nanti, bukankah kita akan sering bertemu?”

Hening. Tidak ada pembicaraan lagi. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?

Aku melemparkan pandanganku dengan hati-hati ke arah tempat mereka tadinya berada. Tapi kusadari kalau aku sudah seorang diri. Apa mereka sudah pergi? Kemana mereka pergi?

Aku baru saja hendak membalikkan tubuh saat seseorang membekapku, memaksa tubuhku berbalik menghadapnya. Dan—

“S-Sha—”

—detik itu juga aku seolah lupa cara untuk bernafas. Shadow of The Dark ada di hadapanku, membekapku lebih erat karena tadi vokalku berhasil meluncur dari sela jemarinya.

Dia menarikku secara paksa untuk mengikutinya, membawaku ke ruang kosong yang tadi jadi tempatnya bicara dengan murid sekolah itu. Jadi, dugaanku benar? Sosok berpakaian gelap ini memang dia?

“Kenapa kau mengikutiku?” tanyanya saat ia lepaskan bekapannya dariku.

“Kenapa kau ada di sini?” aku balik mencecarnya dengan pertanyaan.

Kemudian aku sadar kalau dia berpenampilan berbeda dari yang kukenal dulu. Seingatku, ia dulu mengenakan topeng berwarna gelap yang menutupi seluruh wajahnya. Tapi sekarang, topeng gelap itu telah digantikan sebuah topeng separuh wajah berwarna putih yang tampak kontras dengan setelan yang ia kenakan.

Tapi tunggu. Aku sekarang merasa bisa melihat wajahnya. Setidaknya aku bisa melihat bibir, dagu dan rahangnya. Sial. Kenapa pula bibirnya menjadi fokus utama pandanganku sekarang?

Jadi, seperti ini dia terlihat?

“Kau harus jawab pertanyaanku dulu.” alisku tanpa sadar terangkat saat manikku kembali menangkap deretan sempurna di balik bibirnya.

Geligi pria misterius ini bahkan terpahat sempurna, dengan sepasang taring yang sedikit lebih menonjol dibandingkan gigi lainnya. Vokalnya juga bisa kulihat terbentuk sempurna dari bibirnya.

Kalau bisa kulupakan sejenak fakta tentang dia yang merupakan seorang pembunuh, pastilah aku sudah terbius dan terjatuh padanya.

“Aku… hanya memastikan jika kau tidak akan membunuh lagi.” terbata aku berkata, sementara kualihkan pandang dari wajahnya, takut jika aku akan benar-benar melupakan fakta bahwa dia adalah seorang pembunuh karena sekarang dia terlampau memesona.

“Aku pergi ke tempat ini karena berharap tak akan bertemu denganmu lagi. Mengapa kau malah muncul di hadapanku?” lagi-lagi ia berkata, kali ini kalimatnya sedikit membuatku merasa terusik.

“Kenapa? Apa salahku sampai kau tak ingin bertemu denganku lagi?” tanyaku, separuh menaruh rasa tidak terima karena kupikir perkataannya sungguh tidak masuk akal.

Memangnya siapa aku sampai dia memutuskan untuk pergi agar tidak bertemu denganku? Tapi menolak untuk menyahutiku, dia justru memilih bungkam, menerorku dengan pandangan dan bibir yang tergaris rapat sementara aku menunggu.

“Jangan pernah mengikutiku lagi, Anna. Nyawamu mungkin bisa jadi taruhannya.” ia berkata, separuh mengancam, separuh lagi terdengar memperingatkan.

Siapa yang akan membuat nyawaku terancam? Dia? Atau aku sendiri?

Belum sempat aku menyahut apapun, dia sudah melangkah pergi. Agaknya, pertemuanku dengan Shadow selalu berada di timing tidak sempurna yang malah membuat semuanya jadi membingungkan.

Perkataannya membingungkan, situasi yang ditinggalkannya juga membingungkan. Dan aku benci, sungguh benci keadaan seperti ini.

“Kalau begitu jangan muncul di dekatku lagi.” aku berucap, kalimat yang kemudian berhasil membuat Shadow menghentikan langkahnya.

“Kau yakin tak mau mengambil langkah untuk pergi dan tidak muncul di hadapanku? Aku bisa saja suatu waktu lupa kalau kau adalah Anna, dan kemudian membunuhmu.”

Aku terkesiap mendengar ucapannya. Ia sungguh mengintimidasiku sekarang. Dan perkataannya tak bisa untuk tidak kukatakan sebagai sebuah ancaman yang serius. Ia tidak pernah bercanda.

Bagaimana pula seorang pembunuh bercanda dengan korbannya?

“Kalau begitu, kau dan aku harus sama-sama saling menghindari. Jika kau melihatku lebih dulu, kau harus pergi, begitu juga denganku. Aku akan lakukan hal yang sebaliknya.” ucapku memberanikan diri.

Bukannya menyahut, dia justru mengikis langkah denganku.

“Aku tidak yakin kau akan pergi jika melihatku.” benar. Dia memang punya magnet yang secara spontan selalu menarik perhatianku, membuatku tidak bisa mengelak dari masalah yang mungkin kuhadapi dan malah mengadu nyawa.

Tapi itu bukan inginku. Dialah yang terlampau menarik perhatianku.

“Setidaknya aku akan berusaha untuk tidak mengikutimu, Shadow.”

Bisa kulihat sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Sekon kemudian tangannya terayun, dan aku kaget bukan kepalang saat sebuah pisau bertengger di kulit leherku, sementara aku sendiri tak bisa bergerak sebab lengan Shadow yang terbebas sekarang menahan tubuhku.

“Aku tak pernah merencanakan cara untuk membunuhmu, Anna. Tapi jika kita bertemu lagi di saat yang tidak tepat seperti sekarang, mungkin kupertimbangkan untuk menyayat nadimu di sisi ini.”

Apa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya? Ada apa dengannya? Ia tak pernah bicara dengan cara mengerikan seperti ini sebelumnya.

“Apa aku sudah mendengarkan pembicaraan yang seharusnya tidak kudengar?” akhirnya aku tersadar, kalau dia tidak mempermasalahkan aku yang mengikutinya, melainkan mempermasalahkan aku yang seringkali tak bisa menahan diri dan dengan lancang mendengarkan semua yang ada di hadapanku.

“Ya, Anna. Dan nyawamu bisa terancam karena itu.”

“Siapa yang akan membuat nyawaku terancam? Kau, atau orang-orang yang terlibat denganmu?” tanyaku kemudian, tak lagi aku merasa takut karena pisau yang ia pamerkan, bagiku dia jauh lebih mematikan daripada pisau ini.

Shadow dan segala misteri tentangnya adalah sebuah harga mati yang sudah mengikatku. Secara tak langsung membuatku sukarela menyuguhkan nyawa untuk dipertaruhkan.

Lantas apa aku akan menyerah hanya karena sebilah pisau? Tidak, tentu saja tidak.

“Bagaimana kalau jawabannya adalah aku?” tanyanya, sengaja mengitimidasiku dengan mendekatkan wajahnya ke arahku.

Tapi yang terjadi aku justru semakin terlena. Hembusan nafasnya sekarang menggema dalam pendengaranku. Tiap silabel yang terucap dari bibirnya justru terekam dengan makin sempurna dalam ingatanku.

Jemari lancang ini mungkin akan dengan tidak tahu diri menyentuh permukaan kulit pucatnya kalau saja aku tidak ingat dia sekarang sedang bermain dengan benda tajam.

“Kau tidak akan membunuhku, meskipun kau sudah memberiku ancaman seperti itu.” aku akhirnya dengan yakin berpendapat.

“Mengapa kau begitu yakin?” tanyanya membuatku menatapnya menantang.

“Karena jika kau memang ingin membunuhku, kau sudah melakukannya sekarang, Shadow. Bukankah sekarang kau berusaha menakutiku dengan pisau ini? Tidak, aku tidak akan takut. Dan aku juga tidak akan menyerah.

“Kau adalah alasanku memilih bertahan di tempat ini. Tidak sepertimu yang justru ingin menjauh dariku, aku ingin mendekatimu, ingin tahu lebih banyak tentangmu. Jadi, lupakan saja perkataanku tentang aku yang akan menjauh saat melihatmu.

“Itu tidak akan terjadi. Tiap kali aku melihatmu, aku akan mendekat. Meskipun itu artina aku tengah membahayakan nyawaku.”

Sebuah tawa kemudian meluncur dari bibirnya, tawa yang membuatku dengan fokus berusaha merekam tiap vokal yang terdengar, karena kuyakini tawa seperti ini tak akan sering ia berikan, terutama di depanku.

“Rupanya, kau sudah terlampau tertarik padaku.” ucapnya, pasti menganggapku sebagai manusia paling konyol.

Tapi ya, memang aku konyol, dan ya, aku memang tertarik padanya.

“Sangat tertarik. Mengapa? Kau malu mendengarnya dari seorang wanita? Kalau begitu kau juga harus tertarik padaku. Supaya kita impas. Apa kau tidak bertanya-tanya soal alasanku begitu tertarik padamu? Aku bahkan memberimu nama yang begitu bagus, dan semua orang mengenalnya.

“Mengapa kau membuatku seolah jadi satu-satunya orang yang mengejarmu secara sepihak? Aku tidak suka ditolak. Dan aku lebih tidak suka lagi dipaksa untuk menghindari apa yang membuatku tertarik. Jadi, ancamanmu tidak akan berguna padaku.”

Cukup lama Shadow of The Dark terdiam, membiarkanku berbicara dengan lantang menantangnya, sementara aku sadari aku telah berkata-kata dengan begitu konyol dan menggelikan.

Ada apa dengan pemilihan kosakataku? Mengapa aku justru terdengar seperti seorang wanita yang mengutarakan perasaannya dan lantas ditolak mentah-mentah oleh si pria, namun masih memaksakan perasaan itu pada si pria?

“Kau sangat menarik, Anna. Begitu menariknya sampai kau jadi orang pertama yang kubiarkan hidup setelah melihatku. Jauh sebelum kau menaruh ketertarikan padaku, aku telah lebih dulu tertarik padamu.

“Apa kau tidak menyadarinya? Kita pernah bertemu, Anna. Di jalan St. Louis 12 saat kau berteriak minta tolong pada orang-orang, padahal kau sendiri sedang berusaha untuk menolong korbanku. Kau tidak ingat? Itu adalah pertemuan pertama kita.”

Aku terkesiap. Ingatanku secara paksa kutarik kembali pada waktu ketika pertama kali aku datang ke Venezuela. Saat itu petang tiba, dan aku melihat seorang wanita yang sekarat di pinggir jalan.

Karena tak ada yang menolong saat itu, wanita yang sekarat itu mati. Aku begitu merasa marah pada publik yang memilih untuk mengabaikanku dan membiarkan nyawa seseorang melayang, sampai aku akhirnya memutuskan untuk bekerja di kantor berita, berharap aku bisa menciptakan berita tentang pembunuh-pembunuh yang tertangkap, atau sejenisnya.

Aku ingin menuntut keadilan atas mereka yang nyawanya terbuang sia-sia tanpa ada seorang pun yang memedulikan. Tapi ternyata keputusanku saat itu malah membawaku berujung pada pertemuan dengan Shadow of The Dark?

“Sudah ingat, sekarang? Kalau begitu biarkan aku menjelaskan lagi. Saat kau masih jadi penulis berita muda, aku begitu sering berulah. Berharap kau akan menyadari keberadaanku, tapi kau memilih tidak peduli.

“Saat itu… aku begitu tertarik padamu. Tapi kemudian ketertarikan itu hilang seiring waktu. Dan saat aku sudah benar-benar tak peduli pada keberadaanmu, kau justru muncul dengan membawa sebuah nama untukku.

“Mengesankan, sekaligus mengesalkan. Mengapa kau begitu terlambat mengenalku, Anna? Sekarang saat aku memintamu untuk berhenti mencari tentangku, kau juga merasa kesal, bukan?

“Ketika kau berpikir kalau kau jadi satu-satunya orang yang menaruh ketertarikan padaku, apa kau merasa aku telah memperlakukanmu dengan tidak adil? Tidak. Aku sengaja melakukannya.

“Ini adalah balas dendamku untukmu. Sekarang, aku tak lagi tertarik padamu, dan kau harus jadi satu-satunya orang yang menyimpan rasa tertarik itu. Aku ingin kau juga tahu bagaimana rasanya ada di posisiku dulu, saat aku membunuh puluhan nyawa untuk menarik perhatianmu, Anna.”

Dia tidak mengancamku, tidak juga mengatakan hal mengerikan untuk membuatku merasa takut. Tapi mengapa aku merasa begitu ketakutan? Menyadari adanya nyawa-nyawa yang melayang begitu saja karena ketidak pedulianku sekarang jadi rasa bersalah yang tiba-tiba saja menumpuk dan memaksaku untuk mengingat kembali kenangan mengerikan itu.

Balas dendam? Ia katakan ia tengah melakukan balas dendam terhadapku? Jadi selama ini semua yang ia lakukan, kemunculannya akhir-akhir ini, semuanya juga karena dendam padaku?

“Menjauhlah dariku selagi kau bisa, Anna. Aku mungkin tak akan segan-segan merenggut nyawa orang-orang tidak bersalah lagi karenamu.” ucapnya, tidak mengancam, sekali lagi, tapi perkataannya terdengar begitu mengancam.

Karena aku tidak kunjung menyahut, ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkanku dengan langkah pelan yang sama seperti tadi. Mungkin, ia biarkan aku berpikir, sembari dia juga menunggu jawabanku.

Aku tahu, jika benar perkataannya tentang dia yang tertarik padaku, maka seperti aku yang merasa sulit melepaskannya, kuyakini ia juga begitu.

“Apa salahku sebenarnya, sampai kau melakukan hal ini padaku, Shadow?” lagi-lagi tercetus pertanyaan konyol itu dari benakku.

Aku sungguh tidak mengerti, mengapa ia harus menjadikanku sebagai sebuah alasan untuk membunuh orang-orang tak bersalah? Masa bodoh dengan urusannya yang tidak kumengerti, yang jelas sekarang aku sudah tahu kalau dia sudah membunuh orang-orang karenaku, karena aku.

“Aku tak bisa mendengarmu, dan kau bersalah karena itu.”

Aku kini menatapnya, sementara ia memunggungiku. Tapi langkahnya terhenti, dan aku tahu dia menunggu jawaban dariku lagi.

“Apa yang tak bisa kau dengar? Saat kita bertemu di tempat tinggalmu dulu, kau juga berkata seperti itu. Tapi aku tidak mengerti, apa yang tak bisa kau dengar dariku? Ucapan ketakutanku padamu, atau kau tak bisa mendengar rasa bersalah yang harusnya aku pamerkan karena sudah berurusan denganmu?”

Hening beberapa saat, sampai kemudian aku mendengar helaan nafas, dia, pasti dia yang baru saja menghela nafas karena ucapanku.

“Semuanya, aku tak bisa mendengarmu, Anna. Aku tak tahu kapan kau berbohong padaku, kapan kau berkata jujur padaku, sementara aku membenci kebohongan. Aku tak tahu apa kau tulus dengan semua perkataanmu padaku, atau semuanya kau katakan semata-mata hanya untuk mendapatkan berita tentangku atau memenuhi rasa ingin tahumu tentangku.

“Aku tak tahu apa alasanmu terus mengejarku, tapi rasa tertarik yang kau ungkapkan sebagai alasannya tidak menjadi hal rasional untuk jadi alasanmu terus mengejarku. Aku bahkan tidak tahu alasanmu terus muncul di hadapanku meski aku tidak ingin.”

Aku terdiam mendengar penuturannya. Mengapa ia ingin tahu semua itu saat semua jawabannya sudah begitu jelas?

“Aku tak pernah berbohong, setidaknya padamu aku tak pernah berbohong. Dan ucapanku, semuanya tulus, aku bukan seorang bermuka dua yang bicara lain di hati lain di bibir. Kalau bagimu alasanku tidak cukup kuat untuk jadi alasan untuk terus mengikutimu, aku bisa memberi alasan lain.” aku akhirnya menuturkan, memang, aku tidak pernah mengatakan kebohongan padanya.

Di beberapa hal kecil, mungkin, tapi hal kecil itu tak ada hubungannya dengan apapun. Kebohongan yang mungkin pernah kuutarakan padanya pastilah caraku untuk melindungi sebuah privasi, membangun benteng antara diriku dan dirinya sehingga aku tidak menyerahkan diri seutuhnya ke tangan seorang pembunuh yang membuatku begitu tertarik.

“Apa alasan itu? Aku ingin mendengarnya.” dia berkata, kali ini kudengar langkahnya berbalik, ia menatapku—aku tahu dia menatapku dari balik topeng itu, dan dia menunggu.

“Apa kau akan percaya jika aku mengatakannya?” tanyaku kemudian, mengingat bahwa dia mungkin berpikir bahwa aku pernah membohonginya, bisa saja kali ini dia juga berpikir bahwa aku seorang pembohong, bukan?

“Tergantung dari jawabanmu.”

“Tapi aku tidak berbohong, dan aku mengatakannya dengan tulus. Jika kuberitahu alasanku, apa kau akan membiarkanku untuk terus mengikutimu?” tanyaku lagi.

Sunyi sejenak sebelum akhirnya kudengar dia bicara.

“Mungkin, ya.” ucapnya membuatku akhirnya menyunggingkan sebuah senyum. Anggap saja, dia telah mengatakan ‘ya’ meskipun nanti dia pamerkan ancaman lainnya padaku.

“Sekarang katakan apa alasanmu.” lagi-lagi dia berucap.

“Aku, ingin berada di dekatmu, Shadow. Aku ingin mengenalmu. Aku ingin tahu, apa alasanmu membunuh orang-orang itu, apa dendam yang kau simpan sampai-sampai kau harus hidup tanpa ada yang mengenalmu.

“Kupikir, selama ini kau selalu sendirian. Dan tak ada rekan yang menemanimu, tidak ada yang berusaha memahamimu atau mendengar keluh kesahmu. Kau pasti sangat kesepian, bukan?

“Meskipun aku sekarang terdengar bodoh dan konyol, tapi aku benar-benar ingin mengenalmu. Bukan untuk menjebloskanmu ke penjara, atau membuat berita tentangmu. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang tahu segalanya tentangmu.”

Benar, itulah yang selama ini memaksaku untuk terus mengejarnya. Saat di Venezuela juga begitu, aku tidak berusaha menyudutkannya dan membawanya ke jeruji, tapi aku justru selalu berusaha untuk bertemu dan bicara dengannya.

Kupikir itulah alasanku terus berusaha melekatkan diri pada seorang pembunuh sepertinya. Karena aku tahu, dia sendirian dan kesepian.

“Dan apa yang akan kau lakukan setelah kau tahu segalanya tentangku?” lagi-lagi ia bertanya.

“Tidak ada, aku hanya akan menyimpannya untukku sendiri,” aku tersenyum simpul, tapi melihat ekspresi kakunya sekarang justru membuat nyaliku diam-diam menciut. Kutelan kembali senyum yang tadi sempat dengan lancang berani muncul, lantas aku kembali buka suara. “Apa aku terdengar sedang membohongimu sekarang? Aku tidak berbohong, sungguh.”

“Tidak, kau tidak terdengar membohongiku.”

“Lalu mengapa kau memasang ekspresi begitu? Apa… perkataanku membuatmu tidak merasa nyaman?” tanyaku lebih hati-hati. Dia mungkin sudah tidak memamerkan pisau lagi di tangannya, tapi tetap saja dia adalah seorang pembunuh yang harus kuwaspadai meskipun aku ingin tahu tentangnya.

“Kau mungkin akan menyesal, Anna.”

“Mengapa aku harus menyesal?” tanyaku.

Shadow of The Dark kemudian melangkah mendekatiku, lagi. Kedua kalinya dia melangkah mendatangiku setelah ia dengan santai berusaha meninggalkanku.

“Bagaimana jika aku memutuskan untuk membiarkanmu mengenalku?” tanyanya.

“Bukankah itu bagus?”

“Aku mungkin tidak akan melepaskanmu, Anna.” tanpa sadar tatapanku melebar saat mendengar ucapannya. Dia tidak akan melepaskanku? Apa begitu cara main pembunuh satu ini? Bersikap obsesif pada sesuatu yang menarik minatnya?

“Apa itu artinya aku tak akan bisa pergi kemana pun? Kalau begitu aku cabut ucapanku, aku lebih merasa takut jika kau mengikutiku dengan cara mengerikan dan—”

Ucapanku terhenti saat Shadow menarik bahuku dengan cukup keras, menyudutkanku ke tembok hingga ia sekarang mengurungku di antara sepasang lengan kuatnya.

“Sekarang sudah terlambat, aku sudah memutuskan apa yang harus kulakukan padamu.” ucapnya dengan nada dingin yang anehnya terdengar begitu hangat di dalam runguku.

“Apa… yang akan kau lakukan?” tanyaku hati-hati.

“Aku tak akan melepaskanmu, Anna. Kau juga tidak akan bisa berlari dariku meskipun kau ingin. Karena kau sudah memilih, bukankah sekarang bisa kunyatakan kalau kau adalah milikku?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Aw, aw, aw. Udah berapa abad sejak terakhir kali aku ngepost Gidaryeo? Tega gitu, ini fanfiksi nyuruh nunggu sampe berbulan-bulan. Kayaknya ini fanfiksi sinkron banget sama arti dari titelnya yang nyuruh pembaca buat menunggu, LOLOLOL.

Well, anggep aja chapter kali ini sebagai pemanasan. Buat kalian-kalian yang ngebaca dari awal tapi udah mulai lupa-lupa inget sama ceritanya. Hasek. Di sini Kyungsoo udah mencungul, dan di sini banyak adegan Shadow-Anna yang selalu jadi adegan favoritku /KUKASIH SPOILER KALO KEDEPANNYA NANTI AKU BAKALAN NGESHIP KAI-ANNA BUKANNYA SHADOW-ANNA/

Huhu, apa ada yang masih inget cerita ini? Aku enggak mau congkak, tapi kayaknya akhir-akhir ini aku udah menarik diri dari kehidupan sosial buat nyelesein pe-er tertunda selama beberapa bulanku.

Yap. Satu persatu fanfiksi chapter ini harus aku habisin. Target sih akhir tahun udah kelar semua, tapi biasanya target ala orang Indonesia itu suka molor, ngaret gitu kayak iket rambut yang udah dipake selama setaun.

Tapi enggak apa, aku optimis dulu kalau usahaku dan timeline yang udah aku buat bakal tepat waktu semua, yes!

Dan ya, lagi-lagi aku separuh putus asa buat menarik kalian kembali ke pangkuan /eh/ karena fanfiksi ini udah kembali, artinya aku juga berharap kalian udah kembali. Anyway, aku sadar udah banyak waktu berlalu sejak kita dulu pertama kali berjumpa di Kajima, dan aku sadar kehidupan dan kesibukan kalian sebagai pembaca juga udah berubah.

Tapi apa salahnya meninggalkan serpihan antusiasme kalian di kolom komentar ataupun ngeklik ‘suka’ di postingan ini? Sesungguhnya tanpa kalian aku cuma butiran cucu debu.

Nah, sekian dariku, semoga chapter kali ini cukup mengobati rindu sama Shadow yang misterius dan Anna yang jadi remaja semi dewasa labil yang super kepo. Semoga kedepannya Anna bisa ngejawab semua kekepoan kalian.

p.s: ada yang masih inget Sehun-Injung? Chapter depan mereka bakal mendominasi, kayaknya, kkk ~

Sekian dariku, salam penuh cinta, Irish!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

26 pemikiran pada “GIDARYEO – 5th Page — IRISH’s Tale

  1. oh daebak KYUNGSOOOOOOOO-ya ~~~~ wae kamu harus pindahan dari tokyo ??? dan irish aq gak sabar buat baca sehun injung moment hehe,, kenapa aq mikir shadow dari avg ya ???

  2. Ping balik: GIDARYEO – 10th Page — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GIDARYEO – 9th Page — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: GIDARYEO – 8th Page — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: GIDARYEO – 7th Page — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: GIDARYEO – 6th Page — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  7. akhirnya setelah nunggu lama bisa komen juga , soal ny aku ruh readers terlambat hehehe , dh lma pengen komen d kajima tp kata temen(kk), komenny nnti aja pas d gidaryeo
    ak inget bngt sm sehun injung pengen liat next ny cemngutt eaaa

  8. Akhirnya update juga
    Bener ni ff sinkron ma judulnya
    Jujur sih yang kemaren udah agak” lupa dan tadi sempet buka chapter yang lama :v
    Shadow itu dari kalangan AV-G kah? Eh bener gak itu namanya lupa :v pokoknya itulah ya
    Ah bodo ah
    Jangan lama” ngepost ini ya kak irish

  9. Tolong ingatkan yunmi ini ff cast exo, soalnya salah fokus shadow punya ‘taring’ jadi keinget mingyu T~T mentang2 sama2 gelap *eh
    emang kalo jodoh gak kemana dah, kemana2 ketemu. ciiee yg lagi balas dendam, enak ya? enak dong. Abis ngejar, capek, pas balik malah dikejar :’D
    entah kenapa anceman shadow kok kyk ngajak jadian /halah/
    Dear kak irish, yunmi terus meng-gidaryeo-mu kok wkwk ampe gambar spoilernya gidaryeo + password yg dulu dikirim ke email masih yunmi simpen kok ngehehe /yunmi gak pamer cuman mau nyombong dikit ah/
    Udah, makasih buat kak irish atas perhatiannya sama anak2nya di tengah kesibukan, yunmi mewakili anak2nya kak irish dari yg lawas yg udah berlumut, yg udah kehapus ataupun yg baru aja mecungul mengucapkan, “SARANGEK KAK IRISH” *emot cium*peluk*ndusel*

    • XD buakakakakakak iya, ini cast ekso, dan iya, aku juga seneng sama mingyu karena dia bukti nyata ada bias bertaring, guanlin juga bertaring loh XD wkwkwk jngan2 mereka pampir ~ /slapped/
      IH, YUN, KUJADI TERHARU KAMU MASIH SIMPEN GAMBAR ITU… DI AKU JUGA MASIH ADA LOH SEMUA ITU XD WKWKWKWKWKWKWK SINI PELUK PELUUUUKKKK !

  10. Hi.. 🙋 Aku jg kembali rish. Sneng bgt da update-an gidaryeo stlh bbrp century berlalu, udah lupa2 detil crita/ending part sblm’ny ky gmn. Spt’ny hrs refresh bc2 part sblm’ny lg nih. Sblh muka’ny shadow kliatan 😃 pen liat!! Suka sm interaksi’ny shadow-anna, ky’ny bkl ngship mrk. Msh inget dong sm sehun-injung 😙 ga sbr mo bc part slnjt’ny yg bkl didominasi mrk 😍 moga target’ny irish ga molor ya..

  11. Siapa sih sebenarnya si shadow itu ? Dan shadow itu membunuh cuma ingin menarik perhatian anna tapi anna, tapi sekarang keadaannya yang terbalik, malahan anna sekarang yang tertarik dengan si shadow dan shadow gak akan melepaskan anna lagi, apa si shadow akan membunuh anna atau malahan melindungi anna ? Gak sabar nunggu kelanjutannya lagi dan semoga semua ff kak irish banyak yang update lagi dan gak ngegantung terus. Fighting kak irish

    • Mbb ya sayangs :* aduh biyung, ini teori pembunuhan si shadow kayaknya jadi tanda tanya ya XD wkwkwkwkwk biar deh nanti diselesein sama Anna aja misterinya XD

  12. Kak irish omaygattt….. baper ane kak yaampun….
    Gakuat gue sama cowo cowo bangsat cem shadow,,, Astaghfirullah yaampun,, gatau kenapa aku lebih suka sama cowo tipe badboy atau bangsat kaya si shadow,,, entah kenpa jantung ane jadi tak terkontrol😂 justru makin dia ngancem, makin ane jatuh cinta masa😂😂 rela deh aku kalo tiba tiba diculik sama penculik macem shadow, si cadel, sm malika 😚😚 betah gue disitu kkkk.
    Ditunggu chap selanjutnya kak😘😘😚❤❤❤❤❤❤❤

  13. Kak irishh.. Thankiseeuu udah mulai mengepost gidaryeoo.. Walaupun uda agak sedikit lupa sama ceritanyaa wakss.. But, ditunggu next chapnya ya kakk~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s