SPRINGFLAKES – Slice #7 — IRISH’s Tale

   SPRINGFLAKES  

  EXO`s Baekhyun & OC`s Chunhee 

   with EXO & iKON Members  

  adventure, slight!action, fantasy, romance, slice of life story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © IRISH Art & Story all rights reserved

— release hurt with a truth —

Reading list:

〉〉   Slice #1Slice #2Slice #3Slice #4Slice #5Slice #6 〈〈

 Slice #7

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

Manusia terkadang menyimpan perasaan konyol, yang membuat mereka terlihat menggelikan juga. Kadang-kadang, perasaan itu mengubah mereka, membuat manusia tak lagi mengingat ambang batas perilaku normal yang seharusnya mereka jaga dan lakukan ketika berhadapan dengan orang lain.

Tapi, perasaan itu juga lah yang membuat mereka menjadi ‘manusia’ dan membedakan mereka dengan makhluk lainnya di muka bumi. Karena mereka masih memiliki perasaan terhadap sesamanya, baik itu kepedulian, sekedar rasa kasihan, kecemburuan dan marah, rasa iri dengki, maupun perasaan yang disebut sebagai kasih.

Hal serupa ternyata juga membuat pemuda bernama Kim Hanbin—yang sejak awal pertemuannya denganku tak pernah memasang ekspresi ramah—ini bersikap di luar kebiasaannya.

Aku jelas tahu dia cemburu, pada tindakanku yang beberapa menit lalu dia dapati aku lakukan pada Chunhee, tapi memang itu tujuanku. Aku ingin tahu sedalam apa perasaan yang dia simpan pada Chunhee.

Sebagai seorang yang punya kuasa terhadap Chunhee, aku pantas untuk tahu tentang kehidupannya, bukan? Tapi sayang Chunhee tidak mengerti. Gadis ini sepertinya memasang pagar batas dalam perasaannya sendiri, sehingga dia tidak bisa merasakan maupun menerima perasaan yang telah Hanbin tunjukkan dengan begitu kentara.

“Apa yang tadi kalian lakukan? Apa semuanya sejelas yang kulihat?” kudengar Hanbin bertanya, bukan padaku tapi pada Chunhee. Manusia satu ini agaknya tak bisa sedikit pun menutupi perasaannya sehingga perasaan yang dia tunjukkan pada Chunhee pun terlihat dengan begitu kentara.

“Apa maksudmu?” Chunhee balik bertanya, dengan nada kesal yang terselip dengan tidak kentara.

“Mengapa kau melakukan—tidak, mengapa dia melakukan itu padamu, Chunhee? Apa yang tadi sedang kalian coba untuk lakukan saat tidak ada aku dan Chanwoo?” tanya Hanbin lagi-lagi menguar, kali ini kecemburuan itu begitu kentara terasa.

Dia semakin memasang benteng permusuhan denganku, sebab dia telah kubuat cemburu sementara Chunhee sendiri tampak tidak ambil pusing dengan hal itu. Chunhee menghargai ikatan pertemanan yang dia miliki dengan Hanbin, tapi juga tak mau memamcing ambang batas kesabaranku.

Pasti, dia tak ingin aku mengucapkan sepatah kata pun soal perjanjianku dengannya. Dia juga tak ingin Hanbin mencurigaiku, mungkin.

“Apa hubunganmu dengan pria ini?” akhirnya Hanbin mengutarakan kecemburuannya, astaga, aku sungguh tak sabaran dengan pria seperti ini, yang bersusah payah berusaha menutupi perasaannya sementara perasaan itu sendiri sudah terlihat dengan begitu kentara.

“Yang kau lihat tadi aku dengannya bagaimana?” dengan santai Chunhee berkata, sementara dia menatap Hanbin dengan pandang menantang, sekilas ia lemparkan pandangan ke arahku, dan kutangkap kepanikan dalam manik gelapnya.

“Kalian terlihat seperti sepasang kekasih, tidak, malah lebih dari itu.” Hanbin berkata, agaknya dia merasa tidak terima karena telah tidak tahu menahu perihal ini.

Mendengar ucapan Hanbin, Chunhee sendiri akhirnya menghembuskan nafas panjang. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk membela diri, sementara aku memilih bungkam dan tidak tertarik untuk terlibat dalam perdebatan mereka.

Sikap diam Chunhee sekarang entah mengapa memberitahuku kalau dia tengah menjerit meminta tolong padaku. Aku pikir Chunhee tak berani bicara sembarangan karena takut aku akan menghukumnya, lagi. Padahal tadi saja dia belum menerima hukumannya.

“Kau tidak merasa pertanyaanmu itu sebenarnya tidak perlu dijawab?” akhirnya aku angkat bicara, hal yang kemudian membuat Chunhee menatapku waspada. Apa yang dia pikir mungkin akan aku katakan?

“Apa? Apa maksud ucapanmu?” tanya Hanbin dengan nada meninggi.

“Memangnya yang kami lakukan tidak bisa kau mengerti? Aku dan Chunhee jelas ada dalam hubungan yang sekarang ada dalam benak dan dugaanmu. Mengapa kau terus menanyai Chunhee seolah berharap dugaanmu keliru?” aku lagi-lagi menyudutkannya.

Dari yang kupelajari sekilas, dia terang saja tak akan mau mengungkapkan sedikit pun perasaannya atau membuat Chunhee dengan jelas tahu soal itu. Tapi dia juga tidak mampu membendung perasaannya sendiri, itulah penyebab dia terus-terusan bersikap konyol seperti ini.

“Aku tidak bertanya padamu, tidakkah kau lihat aku sekarang sedang bicara pada Chunhee?” ucapnya, jelas saja dia menghindariku, karena mendengar soal hubunganku dengan Chunhee dari mulutku sama saja seperti menerima serangan yang diberikan musuh.

“Apa kau juga tidak bisa melihat, kalau dia enggan menjawab pertanyaan darimu? Kau jelas sudah menanyainya hal yang konyol. Apa hubungan kami tidak bisa kau lihat dengan jelas?

“Aku pikir kau sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang kami lakukan tadi. Mengapa terus-terusan berisik soal hal itu? Memangnya apa hubunganmu dengan Chunhee sampai-sampai dia harus menceritakan perihal kehidupan pribadinya padamu?

“Kau terdengar begitu marah karena tidak tahu soal hubungan Chunhee denganku.”

Benar, siapapun yang melihat tindakannya sekarang jelas tahu kalau Hanbin ini sedang cemburu. Tapi dia tentu terlalu angkuh untuk membiarkan orang-orang tahu tentang kecemburuannya.

“Hanbin-ah, sudahlah. Dia benar, ada beberapa hal yang tidak semuanya bisa kuberitahukan padamu. Aku tidak setiap waktu menghabiskan waktu denganmu, dan aku juga punya privasi yang ingin kusimpan sendiri.

“Maaf, oke? Aku tidak bermaksud melakukan apapun di sini dengan tujuan supaya kau melihatnya. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau akan datang.” Chunhee akhirnya angkat bicara.

Agaknya dia sudah lelah menghadapi kami berdua. Hanbin dan kecemburuan yang tidak dipahami Chunhee, juga aku dan kemungkinan kalau aku akan kembali melakukan tindakan di luar nalar manusia kalau Hanbin terus bersikap seperti ini pada kami.

“Baik, aku bisa mengerti hubungan kalian. Tapi jangan pikir kalau aku akan diam saja. Aku akan mengawasi kalian. Terutama kau, Baekhyun-ssi, aku akan mengawasimu dan melihat apa hubunganmu dengan Chunhee benar-benar sekedar hubungan yang kuduga.”

“Silahkan saja, aku akan menunggu pengawasan darimu, kalau begitu.”

Hanbin akhirnya menghembuskan nafas panjang. Tampaknya dia sudah menyerah dalam perdebatan ini, sehingga dia tidak lagi memilih untuk banyak bicara, ataupun menyahuti perkataanku meski sebenarnya dia terintimidasi.

Karena menyerah, dia akhirnya melangkah meninggalkan kami, sementara Chunhee sendiri hanya bisa menghela nafas panjang.

“Bisakah lain kali—maksudku, apa kau tidak bisa mengetahui kedatangan seseorang?”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku… kalau mungkin, jika kau bisa, jangan sampai orang-orang memergoki kita saat kau menghukumku, atau setidaknya jangan sampai Hanbin—”

“—Aku tahu.”

“Apa?”

“Lain kali aku akan menghukummu saat kita kembali ke istana ketika petang tiba.”

Meskipun dia belum menjelaskannya, aku tahu apa yang Chunhee sedang coba untuk beritahukan padaku. Bukannya aku tidak berperasaan, tapi aku hanya ingin melihat reaksinya. Dan dari yang kulihat sekarang, diam-diam Chunhee pasti telah menyimpan perasaan yang berbeda pula pada Hanbin.

Dia hanya tak bisa mengelak dari situasi tadi, dan tidak juga bisa menjelaskannya dengan alasan yang masuk akal bagi manusia, sehingga dia memilih untuk menyerah pada keadaan yang membiarkan Hanbin menduga apa yang ingin dia duga.

Manusia itu terlampau mudah untuk ditebak, bukankah sudah kukatakan itu?

“Syukurlah kalau kau mau mengerti,” Chunhee berkata. Ada kelegaan kentara yang terselip dalam nada bicaranya sekarang, yang membuatku diam-diam merasa kesal.

Bagaimana dia bisa menutupi perasaanya dengan begitu sempurna? Bagaimana bisa dia sempat mengecohku dengan tindakan dan perkataannya di hadapan Hanbin sampai-sampai aku tidak berpikir kalau dia juga menyimpan perasaan yang sama pada pria itu?

“Kau juga tak boleh menunjukkan perasaanmu dengan kentara.”

“Apa?” Chunhee menatapku tidak mengerti.

“Perasaanmu pada pria itu, aku bisa mengetahuinya dengan sangat mudah. Jangan tunjukkan perasaanmu lagi, jika musuh-musuhku tahu tentang hubunganmu dengannya, dia mungkin juga akan terlibat dalam masalah yang nantinya bisa mengancam nyawanya.”

Bukan hanya memperingatkan, aku juga secara tak langsung meminta Chunhee untuk membangun benteng pertahanan agar dia semakin terlihat kuat. Aku tahu Chunhee tidak lemah, dan Hanbin itu juga tidak lemah.

Keduanya sama-sama kuat, perpaduan yang cukup sempurna untuk melawan bangsaku. Tapi tidak berarti keduanya bisa selamat. Secara jumlah mereka jelas sudah kalah, dan dibandingkan jumlah, manusia lebih bisa dihancurkan secara tak langsung.

“Perasaan seringkali membuat manusia terbunuh, keegoisan dan lemahnya benteng yang perasaan mereka bangun, adalah senjata paling sempurna yang bangsaku gunakan untuk melenyapkan mereka.” aku menjelaskan, memang benar, di awal invasiku dulu di tempat ini, bangsaku juga menggunakan manipulasi perasaan pada manusia, yang membuat mereka akhirnya kalah dan menyerahkan diri tanpa ada perlawanan berarti.

Sudah kukatakan kalau perasaan itulah yang membuat seorang manusia menjadi manusia, bukan? Dan ya, semua manusia begitu, bahkan Chunhee sekalipun. Meskipun dia terlihat begitu keras kepala dan kuat, tapi dia juga seorang manusia yang bisa lemah karena perasaan.

“Aku tidak akan begitu. Jangan khawatirkan aku.” Chunhee berucap dengan cukup yakin.

Tapi aku sendiri tak bisa menaruh keyakinan soal hal ini padanya. Sebab, pada akhirnya perasaan akan lebih mendominasi manusia.

“Aku bukannya mengkhawatirkanmu, tapi itu perintah. Jangan sampai ada bangsaku yang tahu soal perasaanmu pada Hanbin.”

“Aku tidak menyimpan perasaan apapun padanya.” Chunhee berkeras.

“Apa kau sedang mencoba untuk menguji kesabaranku?” akhirnya aku berkata, tahu benar jika Chunhee akan menyerah apabila aku sudah bicara seperti ini.

“Baiklah,” akhirnya dia menyerah juga, “Tapi aku tekankan sekali lagi kalau aku tidak punya perasaan apapun pada Hanbin, entah perasaan apa yang kau maksud itu.” sambungnya masih tak mau kalah dariku.

“Kalau begitu buktikan kalau kau memang tidak punya perasaan apapun padanya.” ucapanku sekarang mungkin terkesan menginginkan Chunhee untuk menjauh dari Hanbin, atau malah aku terdengar seperti Hanbin yang berusaha mendapatkan penjelasan dari Chunhee tentang hubungannya denganku.

“Aku hanya ingin kau waspada, Chunhee-ah. Aku tidak tahu apa yang bangsaku rencanakan di luar sana. Tapi jumlah manusia di bawah kendaliku di tempat ini masih terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah manusia yang ada di luar sana.

“Tugasmu adalah melindungiku, dan tugasku adalah melindungi orang-orang yang ada di bawah kuasaku. Jika kau bisa melindungiku tanpa menciptakan masalah lainnya yang memaksa manusia untuk terlibat, aku akan bisa melindungi bangsamu di sini dengan lebih mudah juga.”

Chunhee terdiam mendengar penuturanku. Tampaknya dia tidak begitu lambat dalam menerima penjelasan dariku. Dan aku juga tidak lagi perlu menutupi apapun darinya. Banyak hal di luar sana yang tidak Chunhee tahu selagi dia hidup dengan santai di dalam sini.

Bukannya aku pamer bahwa aku adalah bagian dari bangsaku yang memperlakukan manusia dengan lebih baik, tapi aku hanya tidak ingin menyakiti mereka yang sudah memilih untuk ada di pihakku.

Manusia-manusia yang ada di sini, mereka sudah menyerahkan hidupnya pada bangsa kami. Tapi bukan berarti kami harus melenyapkan mereka, atau memperbudak mereka demi kepuasan kami.

Kami sudah hidup dengan cukup baik bahkan tanpa ada mereka. Hanya saja, mereka bisa memperlakukan kami dengan lebih baik dibandingkan dengan bagaimana bangsaku yang haus kekuasaan memperlakukan kami—aku dan bangsaku yang ada di sini.

“Aku tahu, di luar sana mereka pasti mencoba untuk membunuh kami. Tapi jika keterlibatanku denganmu berarti bahwa aku bisa melindungi bangsaku, aku akan melakukannya. Meski nyawaku sendiri yang menjadi taruhannya.

“Aku hanya tidak ingin bangsaku dilenyapkan hanya karena kami adalah manusia, Pangeran. Di sini, kami bahkan tidak pernah mencoba untuk melawan kalian dan aku yakin di luar sana manusia juga bersikap begitu. Kami sudah jelas kalah dari peperangan ini sejak beberapa puluh tahun silam.

“Tapi kami juga ingin hidup, dan aku akan sangat berterima kasih kalau ucapanmu tadi benar adanya. Tentang keinginanmu untuk melindungi bangsaku jika aku bisa melindungimu dengan baik.”

Aku terdiam sejenak saat mendengar penjelasan Chunhee. Dia jelas tidak meragukanku, tapi mendengar penuturannya sekarang mungkin akan membuat siapapun mengira jika dia tengah meragukanku.

“Kau tahu aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku. Aku juga, bukannya meminta perlindungan dari seorang wanita sepertimu—yang aku yakini di kehidupan bangsamu seorang wanita adalah sosok yang harus dilindungi—tapi kau berbeda, Chunhee.

“Meskipun kau kuat, kau tidak lupa tentang darimana kau berasal. Kau tidak lupa pada tujuan utamamu yaitu melindungi bangsamu yang ada di sini. Dan aku sangat menghargai itu, aku menghargaimu sebab kau juga menghargai bangsaku.”

Memang benar, meskipun Chunhee sebenarnya adalah pribadi yang lemah dan mudah untuk digoyahkan pendiriannya, tapi dia hidup dengan sebuah prinsip. Apapun usaha orang untuk menggoyahkan prinsip itu, dia tak akan bisa terpengaruh.

Dan prinsipnya adalah dia harus melindungi manusia dengan cara apapun, meski itu artinya dia harus terlibat denganku, harus menyabung nyawa demi melindungiku. Dia tidak berpikir jika kekuataannya saja yang bisa dia gunakan untuk melindungi manusia, tapi akalnya juga bisa ia gunakan.

Itulah yang membuatku tahu kalau Chunhee adalah lawan yang tangguh bagi bangsaku. Meski dia bisa dikalahkan dengan kekuatan, tapi mentalnya tak akan mudah digoyahkan. Chunhee adalah Chunhee, dan dia adalah manusia yang tak akan mudah berubah pendiriannya.

Dari sana aku tahu, ketika dia memilih untuk memihakku, tak akan mudah bagi siapapun untuk membuatnya berbalik menyerangku.

“Kau harus belajar untuk bertahan juga, Pangeran. Meskipun aku kuat, aku tetap saja seorang manusia yang bisa terluka dan bisa mati. Jika sesuatu terjadi padaku dan aku mungkin tidak lagi bisa melindungimu, kau harus bisa melindungi dirimu sendiri.” dia kemudian berkata.

“Aku tahu, tapi sebagai seorang vampire, aku sebenarnya tidak memerlukan senjata-senjata ini untuk melawan mereka yang juga berkuasa dan sanggup membunuhku. Serangan-serangan yang kau lihat ditujukan padaku, sebenarnya hanya akan melukaiku tanpa bisa membunuh.

“Tapi tiap luka yang berhasil mereka goreskan di tubuhku adalah tanda bahwa aku mudah dikalahkan. Kami, para vampire, berpikir dan berperang dengan cara yang berbeda, Chunhee. Dan jika kau pikir kehidupan kami begitu damai, kami sebenarnya tidak hidup dengan cara seperti itu.

“Sama seperti manusia dulu, yang saling berusaha memperebutkan kekuasaan atas manusia lainnya, di bangsaku juga ada yang seperti itu.”

Chunhee mengangguk-angguk mendengar penuturanku. Dia kemudian tanpa sadar tersenyum simpul, tampaknya gambaran dalam benak Chunhee tentang bangsaku dan apa yang sekarang terjadi sudah cukup jelas.

Bukan hanya manusia yang haus kekuasaan, tapi bangsaku juga.

“Aku pernah berpikir, tentang bagaimana berbedanya kau jika dibandingkan dengan penguasa vampire lain di luar sana. Aku juga pernah merasa bahwa kami beruntung karena kau lah yang ada di sini, bukannya vampire lain.

“Mendengarmu bicara seperti ini, kupikir pendapatku tempo hari tentangmu bukan hanya sekedar pendapat tapi memang benar seperti itu adanya. Kau adalah seorang vampire yang baik, Pangeran. Dan kau juga tahu, aku tidak menginginkan keberadaan penguasa lainnya atas kami yang ada di sini.

“Jadi aku akan melindungimu, sebisa mungkin. Tidak akan aku biarkan satupun vampire dari luar sana menginjakkan kaki di istanamu untuk menyerang, karena aku akan ada di sana dan berdiri untuk melindungimu.”

Kami sudah pernah bicara seperti ini, kami pernah membahas bagaimana perjanjianku dan ikatan kami akan berlangsung. Aku akan melepaskan Chunhee begitu perang ini berakhir. Aku akan membiarkannya hidup dengan manusia lainnya begitu aku dapatkan kekuasaan penuhku atas tempat ini.

Cepat atau lambat, vampirevampire lain di luar sana akan berusaha untuk saling menyerang dan membunuh. Mereka mungkin melontarkan puluhan serangan kecil terhadapku dan pasukanku di sini.

Tapi hanya akan ada satu peperangan nyata. Dan jika mereka gagal mendapatkan tempatku saat perang besar itu terjadi, maka kekuasaanku atas tempat ini akan diakui, dan Chunhee maupun manusia lainnya tidak harus merasa khawatir akan kehidupan mereka lagi.

Aku akan jadi penguasa yang melindungi mereka.

“Aku mungkin akan keluar dari istana malam ini, saat kau sudah beristirahat, Pangeran. Aku harus menyelesaikan senjata-senjata ini sebelum fajar tiba. Sehingga esok hari aku sudah bisa mengajarkan beberapa cara untuk bertahan padamu.

“Apa kau tidak keberatan jika aku menghabiskan malamku di sini? Hanya untuk hari ini saja. Ada banyak senjata yang harus kumodifikasi agar bisa kau gunakan tanpa harus membahayakanmu.”

Aku mengangguk.

“Ya, kau boleh bermalam di sini, karena aku juga tidak bisa meninggalkan tempatku begitu lama. Aku tidak tahu, tapi firasatku berkata jika di tengah-tengah istanaku ada seorang pengkhianat yang juga mengawasi.

“Jadi aku tidak ingin dia tahu tentang absennya aku dari istana. Kita bisa berlatih di bawah tanah dulu untuk esok hari, karena berlatih di hutan mungkin akan memancing rasa penasaran bangsamu ataupun bangsaku.”

Kali ini giliran Chunhee yang mengangguk-angguk mengiyakan. Tampaknya dia sudah mulai memahami jalan berpikirku, sehingga tidaklah sulit untuk mengatur apa yang harus dan tidak harus dia lakukan sekarang.

“Baiklah. Aku akan menemuimu esok hari sebelum fajar menyingsing.” Chunhee kemudian tersenyum, dia letakkan beberapa lempengan logam yang sedari tadi ia asah sementara ia bicara denganku.

“Kalau begitu kita bisa kembali sekarang, Pangeran. Aku akan menemanimu di istana sampai petang tiba. Aku juga berhutang satu hukuman padamu.” ia akhirnya memutuskan.

Tanpa bicara apapun aku akhirnya bangkit dari tempatku sedari tadi duduk diam. Chunhee kemudian memimpin langkahku, mengantarkanku keluar dari bilik yang kami tempati sebelum dia menutup rapat tempat itu dan melangkah mengikutiku.

“Bagaimana kau bisa melakukannya, Pangeran?”

“Melakukan apa?”

Kudengar Chunhee menghembuskan nafas panjang di belakangku, sementara dia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, tidak memilih untuk segera menjawabku.

“Seingatku tadi kau membunuh begitu banyak tanaman dengan langkahmu. Tapi sekarang kau melangkah tanpa membuat tanaman apapun terbunuh. Bagaimana kau bisa mekakukannya?” aku tersadar pada apa yang menjadi perhatian Chunhee sejak tadi.

“Karena aku sudah terikat denganmu, mungkin. Keterikatanku dengan manusia bisa saja membuat beberapa perubahan padaku. Bagaimana denganmu sendiri? Apa menurutmu kau tidak akan mengalami hal-hal yang biasanya bangsaku lakukan? Seperti misalnya—”

“—Oh tidak.” aku terhenti saat Chunhee memotong ucapanku.

Mendengar langkah Chunhee terhenti, aku akhirnya turut menghentikan langkah, berbalik untuk melihat apa yang menjadi sumber keterkejutannya sekarang ini.

“Ada apa? Sesuatu ter—” lagi-lagi ucapanku terhenti, kali ini karenaku sendiri. Kusadari kalau hal yang biasanya terjadi karena eksistensiku sekarang terjadi karena Chunhee.

Bukan aku yang membuat tanaman terbunuh, tapi Chunhee. Langkah yang ia untai sejak tadi telah menciptakan sebuah jalan kecil yang dipenuhi dengan tanaman mati.

“Lihat? Sudah kukatakan kalau kau akan jadi penyebabnya.” ucapanku kemudian membuat Chunhee mengalihkan pandang menatapku dengan penuh rasa bersalah.

“Bagaimana ini? Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti mereka semua. Tidak bisakah kau membantuku, Pangeran? Apa aku akan terus menghancurkan tanaman karena langkahku?” ia bertanya dengan nada bersalah yang sama.

Aku tidak pernah benar-benar menggunakan kekuatanku. Maksudku, aku tak pernah menggunakannya untuk melakukan hal-hal kecil seperti pertolongan yang sekarang Chunhee minta padaku.

Tapi aku juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Kerusakan yang Chunhee buat mungkin saja akan membuat manusia lain mencurigainya, dan kecurigaan bukanlah hal yang aku harapkan untuk saat ini.

“Sebaiknya kau berterima kasih jika aku membantumu.” akhirnya aku berkata, kugerakkan jemariku ke arah deretan tanaman yang telah hancur karena ulah Chunhee.

Memang, selama ini bangsa kami tak pernah repot-repot menggunakan kekuatan mereka untuk hal semacam ini. Bisa kukatakan, kalau aku mungkin vampire pertama di tempat ini yang menggunakan kekuatanku untuk menghidupkan kembali tanaman-tanaman yang mengering akibat ulah vampire sendiri—meskipun sekarang Chunhee yang melakukannya, tapi itu terjadi karena ikatannya denganku.

“Wah, bagaimana kau bisa melakukannya? Aku tidak pernah tahu jika vampire bisa begitu.” Chunhee berucap takjub, sementara dia kembali melangkah mendekatiku, membuat tanaman yang ada di sekitarnya kembali mati.

“Berhentilah melangkah, kalau begitu. Sepertinya sekarang kau yang jadi perusak tanaman, Chunhee.” ucapku membuat langkah Chunhee terhenti. Lagi-lagi dia menatapku khawatir.

Aku yakin kekhawatiran itu bukan hanya karena ia telah merusak tanaman, tapi juga karena alasan lain. Jika bangsanya menemukan jalanan dengan tanaman hancur yang membawa mereka dari hutan ini menuju istanaku, mereka juga akan bertanya-tanya, bukan?

“Biar aku yang membawamu kembali.” aku kemudian melangkah mendekati Chunhee, hal yang membuatnya berjengit kaget sekaligus takut.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya waspada.

“Membawamu dalam gendonganku. Apa kau berencana menghabiskan kekuatanku hanya untuk memperbaiki tanaman? Jangan pikir aku mau melakukannya.”

“Apa kau akan menggigitku dan membuatku tidak sadarkan diri lagi untuk membawaku kembali?” tanyanya mengingatkanku pada kejadian tempo hari di hutan, saat Chunhee secara tidak sengaja menyerangku dan membuatnya kemudian menerima hukuman dariku di tempat ini.

“Apa kau ingin menerima hukumanmu sekarang?” tanyaku segera dijawabnya dengan gelengan tegas.

“Kalau begitu kau tidak perlu khawatir. Aku juga bukannya ingin membawamu dengan kedua tanganku.” ucapku, dengan cepat merengkuh tubuh Chunhee dan mengangkatnya dalam kuasaku.

Sontak, Chunhee melingkarkan lengannya di sekitar bahuku.

“Apa tidak masalah bagimu, membawa tubuhku seperti ini? Saat itu aku masih belum terikat denganmu, tapi sekarang—”

“—Tidak masalah buatku. Kau adalah orangku, kepemilikanku, jadi aku tidak harus ragu-ragu saat melakukan apapun padamu.”

Chunhee mengangguk-angguk pelan.

“Ah, begitu rupanya.”

“Aku tidak akan menghukummu kali ini.”

“Apa?” ia menatapku tidak mengerti.

“Kali ini kau kuampuni, karena aku sedang tidak tertarik untuk membuatmu tertidur selama berhari-hari karena ulahku. Beberapa hari ke depan aku mungkin akan membiarkanmu lolos dengan kesalahan-kesalahanmu. Tapi bukan berarti aku tidak akan mengingat berapa kali kau melakukannya.”

Tidak ada jawaban dari Chunhee, hal yang kemudian membuatku membawanya kembali ke istana dengan cara yang sama seperti tempo hari.

“Mengapa kau melakukannya? Aku tidak keberatan menerima hukuman itu.” ucap Chunhee kemudian.

“Aku sedang memberikan pengecualian, karena kita sekarang terikat, Chunhee-ah.”

Chunhee sekarang mengusikku karena reaksinya. Tidak, dia memang tidak memutuskan untuk mengatakan apapun untuk menyahutiku, tapi yang terjadi padanya sekarang begitu mengusik konsentrasiku. Degup jantungnya.

Mengapa sekarang jantungnya berdegup dengan sangat kencang?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

HALO! Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku menyapa dengan Springflakes? Huhu, rasanya udah satu semester berlalu. Ya jangan salahin aku, salahin waktu yang begitu cepet muternya sampe satu semester enggak berasa lama sama sekali /kemudian dilempar sendal/.

SEMBILAN BULAN YA LORD. SEMBILAN BULAN LAMANYA AKU MENJADIKAN SPRINGFLAKES ANAK TIRI. INI KALO IBU HAMIL UDAH LAHIRAN SAAT INI…

Mengingat aku udah mulai punya komitmen buat ngelarin semua fanfiksi berchapter di akhir tahun ini sebelum tahun depan menyapa dengan karya-karya baru, jadi komitmen itu kayaknya sedikit ngedorong aku buat ngebut gila-gilaan buat ngetik di tengah malem demi nyelesein semua deadline.

Berhubung semuanya udah aku susun di timeline (yang harapannya sih jangan sampe ada yang molor, karena nyusun timelinenya itu susah minta ampun, gaes) jadi aku enggak bisa menjanjikan fanfiksi apa yang harus up duluan karena eh karena semuanya harus sesuai jadwal.

Nuker jadwal publish fanfiksi itu enggak semudah tukeran shift jaga saat praktek maupun kerja, kawan. Dan pahamilah kalo fanfiksi aku yang menumpuk itu masih banyak jadi aku enggak bisa jadiin salah satu fanfiksi sebagai prioritas publish.

Ada antriannya, cielah fanfiksi juga pake antri segala. Dan enggak ada jarak pasti antara satu chapter dengan chapter lain. Ya aku nyusun jadwalnya suka-suka aku sih, tapi terus jadwalnya jadi super padet merayap dan enggak bisa nyempil-nyempilin apapun.

Huhu, berarti aku enggak bisa bikin fanfiksi dadakan dong T.T

Ya sejenis itulah, demi komitmen selesai semua fanfiksi di akhir tahun, aku harus menahan semua keinginan buat nyempilin fanfiksi baru meski itu sekedar drabble/ficlet/vignette/oneshot. Enggak boleh ada pelanggaran di antara para fanfiksi, mereka semua anak-anak kesayangan aku jadi harus ikut jadwal.

Daritadi menekankan jadwal melulu. Dan akhirnya di akhir aku bisa dengan percaya diri bilang kalo chapter berikutnya insya Allah bakal publish dua minggu lagi karena di jadwalnya begitu, HOHOHO.

Ya sudah, kalau gitu sampai bertemu di chapter berikutnya!

Salam, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

12 pemikiran pada “SPRINGFLAKES – Slice #7 — IRISH’s Tale

  1. Ping balik: SPRINGFLAKES – Slice #10 — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: SPRINGFLAKES – Slice #9 — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: SPRINGFLAKES – Slice #8 — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  4. Kak irish sibuk terus aja udah gapapa biar ff nya dijadwal terus enakk ngehehehe ^^’v
    berarti udah sembilan bulan baekhyun sama chunhee di pause pas posisi ena :’v
    berita terkini : setelah ditinggal sembilan bulan oleh authornya, springflakes berubah menjadi oatflakes /maap ngereceh/
    cie hanbin jeles ciiee chunhee jantungnya berdetak, tandanya masih idup kan ya :’D

    • XD buakakaka, aku udah enggak sesibuk dulu kok Yun, udah bisa rajin ngetik sekarang, dan yes, utang ff ini ada ruar byasa banyakkk huhuhu springflakes kenapa jadi oatflakes? aku jadi inget sama jajan oat yang dijual di ind*maret 12 ribuan ituuuu

  5. Compare to gidaryeo, springflakes ini msh ckp jlas di ingatan ttg eps trakhr sblm update-an yg ini 😀 krn trnyt gap’ny 9 bln ya, klo gidaryeo kan entah brp century tlah berlalu sjak trakhr sblm di update irish lg.
    Haduh, digendong a la bridal style sm 백 bikin chunhee’s heartbeat race 😍 kesian hanbin klo dy liat makin jealous n sdih pasti 😁
    Ih, siapa ya mata2 di istana yg 백 curigain, moga cpt ktauan & di hkm 백 tnp ampun!
    Baiklah 😊 ku tunggu antrian slnjt’ny, smoga oao & hol(m)es, jg anak2 berchapter irish yg bbrp dah lupa jdl’ny apa tp dulu rutin ngikutin jd pemirsa stia’ny 😃

    • Mbb kak, iya, springflakes enggak begitu kelelep soalnya XD dan enggak jadi sekuel, kalo gidaryeo kan sekuel jadi lebih mbuletisasi gitu XD wkwkwkwkwkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s