GAME OVER – Lv. 12 [His Loneliness, I Understand] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11 — [PLAYING] Level 12

I want you like this

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 12 — His Loneliness, I Understand

In Jiho’s Eyes…

“Song Jiho-ssi, karena hanya tertinggal kita berdua dalam kekonyolan ini, maukah kau hidup denganku?”

Benakku masih dipenuhi oleh ucapan Baekhyun satu itu, meskipun sudah dua jam berlalu sejak dia mengatakannya. Bukannya aku bodoh, atau tidak mengerti kata-kata Baekhyun. Tapi mengapa ia kerapkali kutemukan mengutarakan hal yang begitu bermakna implisit?

Kalimat-kalimat yang terucap dari bibir Baekhyun hampir selalu bisa disalah artikan. Seperti kalimatnya itu, contohnya. Aku hampir saja mengira kalau Baekhyun memintaku untuk jadi pairnya saat kemudian aku sadar, yang ia maksud adalah hidup bersama di dalam game ini, sebagai dua orang buronan player lainnya.

Untung saja aku menjawab ucapannya dengan benar, tadi. Kalau tidak, bisa-bisa keadaan kami akan berubah jadi canggung, atau malah aku akan terlihat begitu konyol di matanya?

“Apa yang akan kau lakukan saat logout nanti, Jiho?” pertanyaan Baekhyun menyadarkanku, sekaligus mengingatkanku bahwa aku sudah menghabiskan lebih dari delapan jam dalam survival mode, dan hal ini sangat tidak disarankan untuk kondisi tubuh seorang player.

“Bicara pada Taehyung dan Ashley, mungkin. Aku mengunci kamarku jadi mereka tidak bisa masuk secara paksa.” ucapku teringat pada kebiasaanku akhir-akhir ini, mengunci pintu kamar, menjaga privasi kehidupanku dari dua orang yang selama ini tidak pernah sekalipun kuberi batasan untuk mengetahui segalanya tentang kehidupanku.

“Bagaimana denganmu, Baekhyun? Apa yang akan kau lakukan? Aku yakin kau tahu cukup banyak tentangku, tapi aku malah tidak tahu apa-apa tentangmu.” aku berkata, mengingatkan Baekhyun bahwa dia sudah bisa tahu cukup banyak tentang kehidupanku tanpa aku harus memberitahunya apapun, sedangkan aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

“Tidak ada yang menarik tentangku, sebenarnya.”

“Oh ya? Kenapa tidak kau beritahu aku, sedikit? Kalau kau tidak keberatan.” ucapku, tidak ingin memaksa Baekhyun kalau memang dia tidak merasa nyaman jika seseorang tahu tentang dirinya.

“Mengapa kau tidak cerita tentangmu lebih dulu?” Baekhyun malah balik bertanya.

“Ah, aku? Tidak masalah, aku hanya tidak terbiasa menceritakannya pada orang lain. Seperti kehidupanku di sini, di kenyataan pun aku seorang penyendiri. Benar-benar sendiri, maksudku. Aku tak pernah benar-benar punya teman, atau keluarga.”

“Kemana mereka semua?” tanya Baekhyun.

“Kalau teman, aku memang tak pernah punya waktu untuk mencari satu atau dua dari mereka, tidak tertarik juga lebih tepatnya. Keluargaku sendiri memang tidak ada, kedua orang tuaku sudah meninggal, dan aku seorang anak tunggal.” tuturku. Aku mungkin bukan seseorang yang pandai berteman, tidak juga punya keluarga yang bisa kupamerkan pada Baekhyun, tapi aku setidaknya bukan seorang pembohong.

“Bagaimana dengan pekerjaan—maksudku, boleh aku tahu berapa usiamu?” tanya Baekhyun kemudian, tampaknya ia agak sedikit hati-hati saat menanyakannya karena takut aku mungkin merasa tersinggung.

“Dua puluh sembilan tahun.” jawabku membuat Baekhyun tergelak.

“Wah, kau harus menominasikan diri sebagai player tertua, HongJoo-ssi.” ucapnya sarat akan nada sarkatis. Segera, aku menyarangkan sebuah pukulan di lengan Baekhyun, mengabaikan fakta bahwa health barku justru berkurang karena tindakanku sendiri.

Aw, lihat bagaimana health barmu berkurang karenaku.” lagi-lagi Baekhyun memancing kekesalanku.

“Biar saja, nanti aku bisa gunakan live charge dari persediaanmu.” kataku tak peduli. Tidak juga aku ingin menerima adu debat yang sedang Baekhyun buka padaku.

“Ya, boleh, boleh. Sebagai seorang tuan rumah mana bisa aku menolak keinginan nyonya rumah.” sahutnya membuatku lagi-lagi mematung.

Mengapa ia begitu pandai bermain kata? Apa di kehidupan sebenarnya, Baekhyun ini seorang jurnalis, atau semacamnya? Dia sungguh pintar memancing seseorang dengan kalimatnya.

“Terserah kau saja, Baekhyun.” aku mengibaskan tanganku acuh, hal yang membuat Baekhyun kemudian mengulum senyum, lantas ia duduk di ruang kosong yang ada di sebelahku.

Aku baru saja hendak menikmati keheningan yang tercipta saat kemudian kurasakan jemari Baekhyun di atas jemari tanganku yang terbebas di atas rerumputan. Sontak aku menoleh, menatapnya terkejut sementara tatapan Baekhyun tertuju pada tautan tak sengaja yang tercipta di antara jemari kami.

Aku kemudian mengalihkan pandangan ke arah yang Baekhyun pandang. Cincin yang terpasang di jari manis kananku dan jari manis kiri Baekhyun sekarang bertemu, menciptakan cahaya berpendar dengan kilau kemerahan yang menyejukkan.

“Aku sering melihat player yang menjadi pair mengenakan cincin serupa di jemari mereka. Tapi tak ada yang secantik Cosmic Rings.” ucap Baekhyun membuatku tanpa sadar ingin membenarkan perkataannya.

“Kau tahu, kehidupanku tidak berbeda darimu, Jiho. Aku juga seorang penyendiri. Tidak punya siapa-siapa, sampai kemudian aku bertemu denganmu. Sejak saat kau menarik perhatianku, aku terus mengawasimu diam-diam.

“Kau mungkin tidak pernah tahu, dan tidak juga memperhatikan. Tapi tiap kali kau butuh bantuan tapi tak ada satupun yang menawarkanmu bantuan, aku ada di sana dan membantumu. Apa kau tidak ingat?”

Ucapan Baekhyun sekarang tanpa sadar mengingatkanku pada masa lalu. Ya, ada beberapa—tidak, begitu banyak kali ketika aku terjatuh, dan hancur, hampir-hampir game over, dan seorang Invisible Black datang menyelamatkanku.

“Aku ingin, begitu ingin menjadikanmu pairku, Jiho. Tapi aku tidak bisa. Tidak, aku belum cukup layak untuk jadi pair dari seorang sepertimu.” ucapan Baekhyun tanpa sadar memicu kinerja jantungku.

Tuhan, mengapa ia lagi-lagi mengutarakan hal yang membingungkanku?

“Apa maksudmu?” tanyaku kemudian.

“Secara finansial, aku belum mampu menghidupimu, Jiho.” hampir saja aku tergelak mendengar ucapannya, jika saja tidak kulihat raut serius Baekhyun saat ia berkata begitu.

Ada apa dengan masalah finansial dan menghidupiku? Apa hubungannya semua itu dengan kelayakan Baekhyun untuk menjadi pairku? Oh, tidak, apa dia baru saja mengatakan bahwa ia sebenarnya ingin menjadi pairku tapi ia tak ingin?

“Kau tahu, aku tak ingin merayakan wedding dengan cara yang sama seperti player lain. Semuanya harus terencana dan rapi, tidak, semuanya harus sempurna. Aku harus menyiapkan wedding yang sempurna untukmu.

“Dan banyak yang harus kumiliki sebelum itu terjadi. Aku tidak bisa membiarkan wedding dari seorang Invisible Black terlihat sama dengan player lain yang—”

“—Tunggu dulu, kupikir tadi kau katakan kau tidak layak menjadi pairku.” ucapku memotong perkataan Baekhyun, meski kemudian aku sadar kalau ucapanku sekarang terdengar sungguh penuh kepercayaan diri.

Tidak langsung menanggapi ucapanku, Baekhyun justru terkekeh. Ia kemudian mengacak suraiku pelan—meski hal itu tidak berefek apapun pada rambutku—sebelum jemari tangannya kemudian bertengger di pipiku.

“Aku katakan aku ‘belum’ pantas, Jiho, bukannya tidak pantas. Apa kau tidak paham perbedaan dua kata itu? Jika aku katakan belum, itu artinya satu waktu nanti aku akan cukup pantas untukmu. Dan saat waktu itu datang, pastikan saja kau sudah menyiapkan senyum terbaik saat mengatakan ‘ya’ padaku.”

Tunggu dulu. Tunggu dulu. Mengapa kami tiba-tiba saja bicara seserius ini? Aku ingat jelas kami tadinya tidak sedang membahas wedding atau pair saat kemudian kusadari Baekhyun secara tidak langsung sudah mengatakan bahwa dia adalah calon pairku.

Kami bahkan belum sedekat itu. Aku bahkan belum memikirkan apapun tentang menjadi pairnya, belum juga kupertimbangkan apapun. Bagaimana bisa Baekhyun mengatakannya dengan gamblang seolah menggelar sebuah wedding dan memiliki seorang pair sama halnya dengan mempunyai equipment baru?

“Darimana kau tahu aku akan berkata ya?” tanyaku kemudian, menyadari bahwa dibandingkan aku yang seringkali dibuat bingung karena ucapannya, Baekhyun lebih punya kepercayaan diri berlebih.

“Memangnya kau akan mengatakan tidak?” ia balik bertanya. Hal yang akhirnya membuatku tersudut sendiri, termakan pertanyaannya.

Apa ketertarikanku pada Baekhyun begitu kentara sampai ia tak lagi perlu memastikan perasaanku padanya dalam game ini? Atau… Baekhyun hanya menganggapku sebagai pair layaknya dia yang memiliki equipment baru?

“Apa arti seorang pair bagimu, Baekhyun?” akhirnya aku bertanya, tidak satu dua kali spekulasi tentang Baekhyun yang hanya akan menganggap pair sebagai bagian dari equipment lain yang WorldWare suguhkan muncul dalam benakku.

Dan melihat bagaimana cara ia membicarakannya sekarang, kemungkinan bahwa pair tak lebih dari sekedar equipment bagi Baekhyun cukup besar adanya.

“Kau ingin mendengar jawabanku pada seseorang yang akan jadi pairku, atau seseorang yang tidak akan jadi pairku?”

Bagaimana bisa dia menyiapkan dua jawaban berbeda pada pertanyaan yang sama?

“Keduanya.” sahutku kemudian.

Baekhyun terdiam sejenak. “Jika yang menanyakan hal itu adalah seseorang yang tak akan menjadi pairku, maka jawabanku cukup singkat. Pair, adalah seorang player dengan rank dan DPS tinggi yang akan kuajak bekerja sama untuk menguntungkanku.”

Lihat? Sudah kukatakan dia tak akan menilainya lebih dari sekedar equipment.

“Tapi jika yang bertanya adalah seseorang yang akan menjadi pairku, maka aku punya jawaban berbeda. Bagiku, pair adalah seorang yang bersedia hidup denganku seperti aku yang bersedia hidup dengannya.

“Dia adalah orang yang memahamiku seperti aku memahaminya, dia mengerti apa yang kupikirkan tanpa aku harus mengutarakannya, dan aku juga mengerti apa yang ada dalam pikirannya tanpa ia harus mengatakannya padaku.

Pairku tak harus berasal dari Town terkenal, tidak juga harus punya rank atau DPS yang tinggi, dia juga tidak harus berusaha mencapai itu semua, karena aku akan memberikannya.

“Dia hanya perlu mendampingiku, mendengarku, melihatku, memercayaiku, dan ada untukku, itu saja. Jika dia sudah melakukannya, meski dia ingin aku menghancurkan WorldWare dengan menyelesaikan level terakhir, aku akan melakukannya.”

Aku terdiam mendengar penuturan Baekhyun. Walaupun aku menuduhnya pandai bicara, tapi kenyataannya dia memang begitu pandai bermain kata. Tak hanya itu, dia juga begitu pandai membuat jantungku berdegup tidak karuan.

Aku tidak tahu apa ia sedang berbohong, atau mengutarakan sebuah kebenaran. Kami ada di dalam game sehingga aku tak akan pernah bisa tahu kapan dia berbohong dan kapan dia tidak berbohong.

Apa seperti ini yang Ashley rasakan ketika dia menghabiskan waktu bersama Taeil? Apa seperti ini yang orang-orang katakan tentang cinta konyol yang mengikat mereka dalam dunia virtual?

Apa mereka… orang-orang yang terikat dalam hubungan sepasang kekasih dalam game… adalah orang-orang sepertiku, yang tenggelam dalam permainan kata seseorang hingga berhasil membuat jantungku berdegup tidak karuan, dan tak berhenti memikirkannya?

“Aku tidak pernah mengalami hal ini, Baekhyun. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, kalau bagiku… keterikatakan di dalam game adalah hal yang konyol. Tapi aku—”

“—Aku tahu. Aku juga sudah katakan padamu kalau aku belum pantas untuk jadi pairmu, bukan? Itulah mengapa kau tidak akan pernah bisa menerimanya, sehingga sampai akhir pun aku tak akan pernah pantas.”

“Bukan begitu maksudku.” aku segera berucap, takut jika Baekhyun tersinggung karena perkataanku. “Kau tahu, aku orang seperti apa. Dan bagaimana orang menganggapku, bagaimana aku menjalani hidupku. Bagaimana kita harus menjalani hubungan ini, maksudku…”

“Ini hanya sebuah permainan, Jiho. Hubungan yang kita ciptakan juga tidak nyata, jadi kau tidak perlu khawatir akan kehidupan nyatamu. Kau bebas menjalin hubungan dengan siapapun di kehidupan nyatamu, tidak perlu pikirkan aku.

“Dan aku juga akan begitu. Aku katakan aku juga hidup dengan cara yang sama denganmu, bukan? Jadi aku paham benar apa yang sedang kau coba untuk jelaskan padaku. Hal semacam ini juga asing bagiku, terasa sama anehnya dengan kau yang harus mendengarnya.

“Tapi aku tidak bisa berdiam sementara ketertarikanku padamu terus bertambah di tiap waktu aku bersama denganmu. Aku hanya… tidak ingin seseorang di dalam game ini mendahuluiku, itu saja.”

Ya, aku mengerti. Aku paham benar yang Baekhyun sekarang katakan karena aku sama dengannya. Kami menjalani kesendirian yang sama, kesepian yang sama, sehingga aku benar-benar bisa memahaminya.

Tapi bukankah ini terlalu cepat?

“Jangan khawatir, Jiho, perasaan ini hanya tertarik saja. Sepertimu yang tidak bisa begitu saja menyukai seseorang, aku juga begitu. Jika aku katakan aku ingin kau menjadi pairku, anggap saja aku mengatakannya karena kau dan aku bisa saling memahami, dan bisa hidup bersama dalam permainan ini.

“Kalaupun kau menjadi pairku, kita hanya akan menjadi rekan seperti sekarang, yang saling memahami dan melindungi, juga saling percaya. Tidak akan ada yang dirugikan. Lagipula, bukankah aku kandidat pair terbaikmu? Aku adalah raja yang menduduki rank nomor satu dalam waktu yang teramat lama, Jiho.”

Seperti kalimat-kalimatnya yang begitu mudah membingungkan orang lain, Baekhyun juga tampaknya bisa dengan mudah memutar kata dan menjadikannya tidak lagi terdengar membingungkan.

Aku yang awalnya sempat berpikir jika Baekhyun mungkin mengalami hal aneh seperti yang aku alami juga, justru sekarang berpikir jika dia tengah berusaha mengikatku dengan cara yang lebih kompleks, pair.

Tadinya, kupikir dia mungkin merasa tertarik padaku, benar-benar tertarik. Tapi kemudian aku dilempar pada kenyataan bahwa dia tidak punya pilihan selain percaya padaku. Sehingga, jika dia harus memilih satu dari ribuan player wanita di sini sebagai pairnya, sudah pasti aku adalah pilihannya.

Mengapa pula aku masih ragu-ragu? Batas dari hubungan pair yang Baekhyun sedang coba jelaskan padaku sudah begitu jelas. Kami saling memahami, kami berpikiran sama, kami ingin merencanakan hal-hal yang serupa.

Aku memahami kesendiriannya seperti aku memahami diriku sendiri. Kesepian yang Baekhyun rasakan, aku juga merasakannya. Kesendiriannya, sama sendirinya dengan aku selama ini.

Itulah dasar yang membuat Baekhyun lantas berpikiran untuk menjadikanku pairnya. Tidak lebih dan tidak kurang. Hanya karena tidak ada player wanita lain yang bisa dia pilih selain aku.

“Baiklah, kalau begitu kau bisa menyiapkan diri, selagi aku juga menyiapkan diri agar tidak memalukan untuk bersanding denganmu.” akhirnya aku berkalimat, tidak mungkin aku terus mendiamkan Baekhyun sementara ia sedari tadi menunggu jawabanku.

Tidak, lebih tepatnya dia menunggu reaksiku, ingin tahu apakah aku membawa perasaanku dalam permainan ini, atau sama sepertinya yang menganggap tempat ini tak lebih dari sekedar lapangan permaian virtual yang bisa diakhiri kapan saja, yang takdirnya bisa diatur begitu saja.

Ingat, di dalam permainan ini Tuhan tidak andil dalam mencipta takdir.

“Aku ingin kau seperti ini, Jiho.”

“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Tidak ragu-ragu, dan tidak terbawa perasaan. Begitu juga kau harus menghadapi Taehyung dan Ashley nanti, mengerti?”

Mengapa ia tiba-tiba membelokkan pembicaraan kami?

“Maksud…nya?”

Baekhyun tersenyum kecil. “Terlepas dari pembicaraan kita tentang menjadi sepasang pair, aku juga memikirkan tentang hubunganmu dengan dua temanmu itu. Itulah mengapa aku katakan, aku ingin kau seperti ini. Tidak terbawa perasaan.

“Kita ada di dalam game, dan hal yang kau lakukan pada teman-temanmu juga tidak terlepas dari keputusanmu untuk mengakhiri sebuah game. Kemenangan dan kekalahan adalah pilihan yang jelas menunggu di akhir sebuah game, apapun yang kau lakukan.

“Tapi tidak begitu di kehidupan nyatamu. Kau bisa bicara dengan dua temanmu, dengan tenang, mempertimbangkan segalanya dan mempertimbangkan juga bahwa kalian tidak mengenal baik playerplayer dalam game ini sebaik kalian bertiga saling mengenal.

“Jadi, kau tidak perlu merasa takut untuk menghadapi mereka nanti saat kau kembali. Ucapanku soal menjadi pair, tidak perlu terlalu dipikirkan. Toh, kita masih akan menghabiskan banyak waktu bersama jadi tidak akan ada masalah.

“Tapi keadaanmu sekarang yang harus dipikirkan. Human wealthmu menyedihkan, kalau dipaksakan kau mungkin tak akan bisa login selama beberapa hari, dan kau tentu tidak mau itu terjadi. Kau harus segera logout, Jiho, dan bicara dengan dua temanmu.”

Aku kemudian memutar otak, kembali kugemakan apa yang tadi Baekhyun katakan padaku. Mengingat bahwa dia mengatakan bahwa hubungan yang ada di dalam game tak akan lebih dari sekedar hubungan dalam permainan, aku rasa aku paham apa yang sedang berusaha ia katakan padaku.

Aku tidak perlu merasa ragu untuk bicara pada Ashley dan Taehyung.

Mereka berdua adalah temanku di kehidupan nyata, yang artinya ada atau tidak ada WorldWare mereka berdua akan tetap jadi orang-orang terpenting dalam kehidupanku. Meskipun sekarang aku ada di pihak Baekhyun, ia tidak bisa berbuat apa-apa tentang kehidupan nyataku, karena aku lah yang menjalaninya, sedangkan Baekhyun hanya bisa memonitoring saja.

“Kau pasti bisa bicara pada mereka.” Baekhyun lagi-lagi berkata, mengingatkanku kembali kalau aku tidak akan dapat masalah karena sudah terlibat dengan Baekhyun meskipun tadi Ashley dan Taehyung terlogout paksa dan beberapa levelnya direnggut secara paksa oleh Baekhyun.

Tidak akan ada masalah.

Semuanya akan baik-baik saja.

“Aku tahu, aku juga berharap begitu. Human wealthmu tidak lebih baik daripada milikku, omong-omong.”

Baekhyun kemudian terkekeh pelan.

“Benar, itu artinya sudah waktunya bagi kita untuk sama-sama logout. Ada rencana untuk esok hari?” tanya Baekhyun.

Aku menggeleng pelan. “Tidak ada, setiap hari adalah hari libur bagiku.”

“Baguslah,” Baekhyun tersenyum, kemudian ia melanjutkan. “Aku akan mengejar level yang tersisa dengan menyerang Womanizer. Kau tidak perlu ikut, aku bisa mengatasinya sendiri kali ini.”

Aku menyernyit tidak mengerti.

“Lalu kenapa kau tanya tentang kegiatanku di hari esok?”

“Aku akan kirimkan map padamu setelah aku selesai dengan Womanizer. Datanglah jam delapan kurang lima menit, mengerti?”

“Memangnya ada apa dengan jam delapan?” tanyaku.

“Kau bisa lihat sendiri besok. Menurutmu untuk apa aku mengirimkan map dan memintamu datang di jam itu kalau aku memberitahumu sekarang?” ucapnya membuatku tertawa kecil, sadar bahwa keingin tahuanku agaknya sudah berkembang jadi begitu liar sejak mengenal Baekhyun.

“Baiklah, aku akan datang. Aku logout duluan, sampai bertemu Baekhyun.” aku melambai kecil padanya sebelum akhirnya kuinjak logout saat Baekhyun memberikan lambaian balasan padaku.

Aku kemudian terbangun di survival tubeku dengan sekujur tubuh yang terasa begitu sakit. Kepalaku bahkan berdenging dan nyeri, serasa ditusuk ribuan jarum kecil. Mual bahkan menyerangku ketika aku duduk di survival tube milikku. Apa ini efek samping karena aku terlalu memaksakan diriku untuk berada dalam survival mode?

Ugh…” tanpa sadar aku menahan mual saat keluar dari survival tube. Sempat aku terhuyung, sebelum aku kemudian berpegangan di bingkai survival tube yang cukup kuat.

Kubiarkan diriku selama beberapa menit berdiri dalam diam, anggap saja aku tengah berusaha beradaptasi dengan bumi yang selama hampir sebelas jam kutinggal. Aku kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar, melangkah ke arah ruang tengah dimana kemungkinan besar Taehyung dan Ashley ada di sana.

“…Aku akan ada photoshoot besok malam, Taehyung, tempatnya cukup jauh. Apa kau benar-benar tidak bisa mengantarku?”

“Tidak bisa, Ash. Aku ada battle dengan para hacker besok malam. Coba ajak Jiho, walaupun dia tidak bisa menyetir tapi setidaknya dia bisa menemanimu.” vokal Taehyung terdengar.

Aku berdeham kecil, secara tak langsung memberitahu mereka kalau aku yang mereka baru saja bicarakan ada di sini.

Aigoo! Sekutu Invisible Black sudah terbangun rupanya!” Ashley terkekeh pelan, berlari kecil menghampiriku masih dengan celemek terpasang di tubuhnya dan sebuah spatula di tangan.

Well, reaksinya mengejutkanku.

“Apa tubuhmu baik-baik saja, Jiho? Kau terlalu lama ada di dalam survival mode. Tidak merasa pusing atau mual?” tanya Taehyung, menatapku dari atas sampai bawah seolah mengkhawatirkanku.

“Aku sedikit mual, tadi, kurasa kepalaku juga sedikit pusing.” ucapku kemudian.

“Benarkah? Apa perlu ke dokter? Aku bisa mengantarmu.” Ashley menawarkan diri, dia selalu seperti ini, selalu. Pada siapa saja, itulah mengapa Taehyung katakan Ashley itu mengundang masalah. Dia terlalu baik pada semua orang.

“Tidak perlu, Ash. Aku pernah bertahan dalam survival mode selama hampir delapan belas jam sebelumnya.” aku menolak dengan halus.

“Benar, dia pernah bertahan selama itu. Dan saat terbangun dia seperti orang gila yang tidak tahu arah.” Taehyung menyahuti.

Hey, aku tidak begitu.” aku membela diri.

Ashley hanya terkekeh mendengarnya, ia kemudian mencubit pelan kedua pipiku, menatap dengan sepasang manik cantik membentuk sabit dan senyum sempurna.

“Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Song Jiho-ssi. Tapi aku bisa menunggu, karena aku orang yang baik. Aku tidak yakin dengan Taehyung, sejak tadi dia sudah begitu penasaran tentangmu juga Invisible Black itu.”

“Ya, kalian berdua seperti sepasang kekasih gelap yang berusaha menyembunyikan hubungan. Kenapa kau sampai menutupinya dariku, huh? Kau jadi berani karena dia itu seorang hacker dengan tingkatan di atasku?” tanya Taehyung, tidak terdengar marah, tapi memang begitulah cara Taehyung bicara.

Aku kemudian tersadar, kalau Ashley dan Taehyung tidak sedikit pun terdengar marah karena apa yang terjadi di dalam permainan. Rasa ingin tahu mereka semata-mata hanya karena secara tidak terduga aku ada di pihak Baekhyun, itu saja.

Apa mereka juga berpikiran sama dengan Baekhyun? Apa hanya aku seorang yang begitu merasa ketakutan dan tertekan karena spekulasi yang muncul dalam benakku?

“Jadi, kau mengakui kalau dia hacker yang lebih baik daripada dirimu?” tanyaku kemudian, menarik Ashley untuk mengikutiku dan menggoda Taehyung.

“Wah, selama ini aku pikir Epic-T adalah hacker terbaik di Seoul, tapi ternyata dugaanku salah ya.” Ashley ikut-ikutan bicara.

“Selesaikan saja telur gulungmu itu sebelum ikut berisik.” Taehyung berkata, mengingatkan Ashley pada makan malam yang tengah ia buat.

“Dan kau, Song Jiho, duduk di sini, kami menunggu penjelasanmu.” ucap Taehyung lagi.

Aku tidak perlu berbohong. Mereka adalah orang-orang yang dekat denganku. Kecuali tentang identitas Baekhyun, tentunya mereka tidak perlu tahu. Tapi setidaknya ada banyak hal yang bisa kuceritakan pada mereka.

“Baiklah, daripada melihat Taehyung terus-terusan merengut karena punya saingan, lebih baik kuceritakan tentang saingannya itu, benar tidak Ash?” ucapanku sekarang berhasil membuat Ashley tergelak.

“Benar, benar sekali.” sahutnya membenarkan.

“Sudah, berhenti bicara tentangku. Darimana kau sebenarnya mengenalnya, Jiho? Aku tidak pernah sadar kalau akunmu dilindungi, baru beberapa hari lalu aku merasa curiga.” ucap Taehyung.

Aku akhirnya duduk bersila di sofa yang Taehyung duduki, menghadap Taehyung sementara ia sekarang meninggalkan buku yang sejak tadi sibuk dibacanya dan memperhatikanku.

“Aku mengenalnya dari battle yang terjadi antara Invisible Black dengan WhiteTown. Ingat? Waktu itu aku agaknya begitu bodoh dan tidak tahu kalau dia sudah melayangkan tantangan pada Town.

“Jadi aku menawarkan bantuan, dan mungkin dia pikir aku memang orang bodoh, sehingga dia menerima bantuan itu. Kau ingat saat kau katakan aku logout di tengah battle, Taehyung? Sebenarnya saat itu aku masuk dalam invisible mode.”

Taehyung menatapku serius, tampak berusaha menyamakan ingatannya dengan cerita yang sekarang kuutarakan padanya.

“Lalu, hanya itu saja?” tanyanya.

“Tidak hanya itu, kami juga beberapa kali bertemu. Ya… pada intinya timing pertemuanku dengan Invisible Black tak pernah bagus. Jadi mau tak mau kami saling mengenal, bicara beberapa kali, bertengkar beberapa kali.

“Dia pernah mengatakan padaku untuk tidak membiarkan siapapun tahu tentang keterlibatanku dengannya karena khawatir aku akan jadi incaran player lain yang membencinya.

“Tapi karena battle kemarin, aku justru tidak tahan untuk terus diam. Dan jadilah… kejadian kemarin saat aku dengan tiba-tiba saja muncul dan memihak padanya. Lalu menyerang kalian berdua dan membiarkannya mengambil dua level dari kalian.”

Taehyung mengangguk-angguk, tampaknya penjelasanku sekarang terdengar masuk akal dalam pemahamannya sebagai seorang jenius.

“Aku tidak mempermasalahakan satu level itu, Jiho. Aku hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa kau tahan untuk tetap diam dan menyimpan rahasia luar biasa itu? Bayangkan, Jiho, kau mengenal Invisible Black, player legendaris WorldWare!” Ashley hampir memekik—kebiasaannya jika ia terlalu bersemangat terhadap satu dua hal kecil tak penting seperti saat ini.

Sementara Taehyung sendiri tampak tidak ambil pusing. Nampaknya ada hal lain yang lebih mengganggu Taehyung ketimbang itu.

“Jangan-jangan, dia bisa ada di rank itu karena dia seorang hacker.” tuduhan Taehyung kemudian mengudara.

Hey, jangan menuduh sembarangan. Dia memang player yang hebat, tahu. Lagipula, sebagai sesama hacker, apa kau pernah berpikir untuk melakukan peretasan-peretasan pada WorldWare demi keuntunganmu sendiri? Ya kecuali saat ketika kau meretas Invisible Black tentunya.”

Taehyung terkekeh sendiri. “Tidak, tentu tidak. Meretas game untuk kesenangan dan keuntungan sendiri adalah hal yang sangat memalukan dan tidak bermoral. Jadi, apa kau sudah tahu kalau dia meretas akunmu Jiho?” tanya Taehyung kemudian.

Aku menjawab dengan anggukan pasti.

“Ya, aku tahu. Dia sudah memberitahuku. Seperti perkataanmu tentang cara kalian—para hacker—yang bertindak berbeda dalam melindungi orang yang ada di dekat kalian, aku pahami tindakannya terhadapku juga sama.

“Aku satu-satunya partner yang dia punya, jadi mungkin dia tak ingin terjadi sesuatu padaku, makanya ia meretasku begitu, tidak masalah buatku. Karena aku juga tidak dirugikan oleh tindakannya.”

Omong kosong, sekarang saja aku bisa bicara begitu, padahal saat tahu Baekhyun meretasku dulu aku marah dengan begitu kekanak-kanakkan dan konyol.

“Benar juga, aku paham mengapa ia bersikap begitu. Tapi apa dia memang benar-benar hacker yang jenius? Aku jadi tertarik untuk menantangnya dalam hacking battle.” ucap Taehyung.

Agaknya, Taehyung sudah berpikir sedikit keluar jalur. Ia tak lagi fokus pada game yang melibatkan Baekhyun dan dirinya. Seperti dugaan Baekhyun, baik Ashley maupun Taehyung tak ada yang bersikap tidak wajar padaku setelah apa yang terjadi di dalam game.

“Apa dia tampan?” pertanyaan itu Ashley utarakan kemudian.

“Memangnya bagaimana dia terlihat?” aku balik bertanya.

Aku tidak begitu sering berpapasan dengan Baekhyun sebelum aku terlibat dengannya, sehingga sedikit sulit bagiku untuk mengingat bagaimana Baekhyun terlihat saat itu. Dia seringkali muncul dengan menggunakan topeng.

“Dia itu hero in a mask Jiho, apa kau sudah lupa?” tanya Ashley mengingatkanku, melemparku kembali pada ingatan yang sempat aku lupakan tadi.

“Tidak, tidak, aku masih sedikit ingat tentang topeng hitam yang selalu ia kenakan. Makanya nama Invisible Black sangat cocok dengannya bukan. Umm, dia tampan, beberapa gesture di wajahnya mengingatkanku pada Taehyung, tapi dia lebih tampan.”

“Mana mungkin ada player di server yang lebih tampan daripada aku. Aku ini sudah dinobatkan sebagai hacker paling tampan, tahu.” Taehyung membela diri, lebih tepatnya ia tidak suka disamakan dengan orang lain.

“Bukannya kau bilang para hacker tidak tahu wajah masing-masing?” tanyaku kemudian.

“Ya aku menarik kesimpulan. Lagipula, kenapa dia harus disamakan denganku?” lihat, Taehyung tidak suka jika harus disamakan dengan orang lain.

“Baiklah, baiklah. Yang jelas dia tampan.” ucapku mengakhiri.

“Oke, dia tampan. Lalu, bagaimana kalian bisa jadi begitu dekat? Maksudku, bagaimana bisa dia begitu percaya padamu?” tanya Ashley, ia letakkan sepiring penuh telur gulung di hadapan kami sebelum ia kemudian menatapku, menunggu.

Mengapa Baekhyun percaya padaku? Bukankah sekarang jawabannya sudah kuketahui dengan sangat jelas?

“Aku memahaminya. Kesendirian dan kesepian yang dia rasakan selama ini, aku bisa memahaminya dengan sangat baik. Itulah mengapa dia percaya padaku.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Aw, aw. Enggak mau bagi-bagi glossarium ah kali ini, kepengen menguji ingetan kalian-kalian tentang istilah-istilah simpel yang ada dalem level kali ini. Lagian kata-kata sulitnya juga enggak banyak dan yah, enggak begitu butuh glossarium pada dasarnya :v

Berhubung diriku seminggu ke depan bakalan melayang ke luar kota buat pelatihan dan rekreasi kantor, jadi mungkin beberapa fanfiksi di minggu ini dan minggu depan bakal aku jadwal dan miane miane hajima, aku mungkin enggak bisa langsung balesin komentar dari kalian T.T maaf yah…

Lagian Violet juga lagi demam dan lagi nginep di rumah temen, anggep aja Violet di sana mau cari gebetan laptop cowok gitu, mungkin dia kesel karena udah aku duain sama Leo. Jadi yah, ngetik bersama Leo masih enggak bisa semaksimal ngetik duet sama Violet yang notabene sama-sama fangirl sama diriku /kemudian khayalan ini berubah jadi sureal/ tapi gapapa, nanti kalo Violet udah sembuh total dia bakal bisa performance penuh buat fangirlingan sampe tengah malem sama diriku /nabung dulu Rish, nabung/

Sekian sapaanku di Game Over kali ini. Maaf oh maaf kalau semakin ke sini cerita ini semakin membingungkan dan mengesalkan )):

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

21 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 12 [His Loneliness, I Understand] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Lv. 15 [Dawn Attack] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 14 [Perfect Match] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GAME OVER – Lv. 13 [Aftermath] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ciiee udah ngomongin wedding aja nih, bentar lagi dapet undangan kan ya? wkwk di game aja baekhyun ngerencanain nikah yg antimainstream, yg gini yg gitu, nunggu sampe layak uh apalagi kalo di dunia nyata ye gak? kan udah berhasil ciptain worldware tuh, pasti duitnya banyak wkwkwkw layak mah udah, tinggal calonnya aja :v

    Kak irish bilangin ke violet kalo kak irish mendua ke leo itupun demi kesehatannya violet wkwk ato coba aja kalo violet udah sembuh, bawa ke rumah yunmi biar kita nikahin sama chenle /nama leptop yunmi abis tau kalo suaranya cowok/ ngehehe sapa tau ditinggal bentar udah menghasilkan notebook X’D /aqu terchelup ikut imajinasinya kak irish/

    • kayak kata kamu Yun, ada bau2 peje gitu di sini udahan XD wkwkwkwkwk di dunia nyata emang bakal ketemu ya? XD aku enggak bilang gitu loh ya XD
      violet udah pensiuuunn ~ dia udah terlalu tua buat ikut campur sama kehidupan aku :”) kok aku jadi salfok sama Chenle XD

  5. Semangat buat kerjaan kantornya risssshhhh!!
    Iya sih ceritanya ngeselin. KESEL KARNA JIHO GAK CEPET2 PEKA, LAMBAT NANGKEP MAKSUD NAMJA GANTENG EN MANLY KEK CABE. Uppss maaf capslock jebol. Aku terlalu semangat. Utk part sebelumnya ak belum sempet baca secara rinci. Dan sepertinya banyak yg ak lewatin. Keknya ada yg ketahuan deeh. So, ak mau baca yg part sebelumnya daripada tar kudet sama kek jiho/upss/

    • XD iyesh aku jelas selalu semangat kok tenang aja XD semangatku enggak bisa dirusak sama kerjaan, jadi fanfiksi tetep jalan juga XD wkwk
      ADUH, JIHO EMANG SENGAJA DIBAUT BEGITU LOH XD wkwk

  6. Duuuhhh.. Makin bikin penasaraaaaannn..
    Pengen liat mereka wedding.. Mau di world ware, mau di dunia nyata terserah.. Yg penting jadi.. Amin
    Kuatkan ya Lord, masih puluhan level menunggu..
    Gomawo Unnie..

  7. “Bagiku, pair adalah seorang yang bersedia hidup denganku seperti aku yang bersedia hidup dengannya.” kata” nya itu lohh bikin melayang entah kemana.. tapi sayangnya cuma sebatas di dalam game. Berharap mereka jadi pair beneran nanti waktu di kehidupan nyatanya.. Aku terkesan banget sama persahabatan tae, ash sama jiho di kehidupan nyatanya.. Makin seru, penasaran sama lanjutan hubungan baek-jiho ^^ semangat ka rish lanjutnya aku tunggu.. Btw aku udah ga bingung sama kata” yang dimaksud di game nya ^^

    • karena persahabatan itu enggak bisa dihancurkan walaupun karena game XD ini gitu ceritanya wkwkwkwkwkwkwk thanks yaaa karena udah terus baca cerita ini :”)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s