[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 9)

STAY WITH ME

Author :

Angeline

Main Cast :

Oh Sehun (EXO)

x

Bae Joo Hyun a.k.a Irene (RV)

Additional Cast :

EXO Members |Kim Ji Yeon (LOVELYZ)|Kim Seolhyun (AOA)|Im Jung Hoo  (B.I.G)| Lee Hyo Eun (STELLAR) |Krystal Jung (FX) |etc~

Rating PG-17 |Length Series Fic

Genre : romance | Angst | AU |slice of life | Drama |etc~

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran author sendiri , ceritanya tiba-tiba muncul dalam otak author #ea ,dan dari pada lupa langsung dituangkan dalam bentuk FF seperti ini. Bila ada kesamaan tokoh maupun jalan cerita didalam ff ini , itu bukan merupakan bentuk plagiat #noplagiat! melainkan unsur ketidaksengajaan. Don’t judge, don’t copas.  Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya  (nunduk)

Summary :

Bagaimana jika seorang Oh sehun yang berwatak dingin dan tidak pernah peduli pada orang lain terjebak bersama seorang gadis amnesia bernama Irene?. Melalui sebuah pertemuan tidak terduga hingga masalah-masalah yang datang saat keduanya tengah menjalin sebuah hubungan.

-Chapter 9-

“Aku– menyukaimu Hun.” kata Irene begitu jujur.

Sehun terkejut, namun ia tetap bereaksi seperti hal itu tidak mengejutkannya. Kata-kata Irene yang terdengar begitu jujur membuat perasaannya sangat bahagia bukan main, seketika hatinya menghangat mendengar ungkapan Irene padanya. Gadis itu menyukainya, dan apa yang harus ia katakana sebagai jawabannya pada gadis itu? Inilah masalahnya, kau hanya senang tapi bodoh untuk membalas ucapannya. Ya, Sehun bingung apa yang harus ia utarakan sekarang, dan gadis itu menunggu jawaban dari bibir Sehun, seperti orang dungu yang tidak bisa bicara, dan itulah Sehun saat ini.

“Tidak usah dijawab, aku sudah sangat senang kau mau mendengarnya. Aku tahu, jika aku sudah lancang menyukaimu seperti ini, aku pun sadar siapa aku dan siapa yang sudah aku sukai. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya. Terimakasih sudah menjagaku, lebih baik kau istirhat, karena kau pasti sangat lelah.” Ucap Irene kemudian melepaskan genggaman tangannya. Sehun masih diam di tempatnya dan tidak bergeming sedikit pun, ia sudah menjadi patung sepertinya.

“Hun? Kau baik-baik saja?” Ucap Irene sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sehun yang hanya bisa melamun. Hingga akhirnya saat kesadaran Sehun kembali, ia langsung terkejut saat wajah Irene begitu dekat melihatnya.

“Eoh? Kau bilang apa barusan?” Tanya Sehun membuat Irene tertawa geli kemudian menggeleng kecil.

“Selamat malam Hun.” Kata Irene tersenyum manis.

“Ah, sela– mat malam.” Ucap Sehun gugup dan segera keluar dari sana, tanpa membalas ucapan Irene mengenai perihal perasaan gadis itu pada sehun. Sejujurnya ia juga bingung ingin mengatakan apa? Ia terlalu bingung dengan perasaannya saat ini. Ia tidak bisa berpikir jernih rasanya.

Bahkan ia tidak bisa berpikir hal lain, selain perkataan Irene yang serasa merenggut pikirannya seketika. Sialan mungkin, tapi entah kenapa perasaannya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Tidak! Oh, sungguh tidak mungkin Sehun jatuh cinta pada Irene kan? Sehun tidak mau mengakui hal seperti itu.

Sehun yang merasa kepalanya penat, langsung turun ke lantai bawah, untuk mengambil sebuah minuman bersoda untuk menyegarkan kembali pikirannya. Apa-apaan hatinya ini? Mengapa terasa sangat tidak terkontrol seperti ini? Rasanya sedikit menyebalkan, Irene berhasil mencuri atensinya seperti ini. Bahkan kali ini, Irene merenggut pikirannya tanpa sisa. Bukankah gadis itu benar-benar berbahaya?

Glek

Sehun meneguk bir kaleng itu dengan perlahan. Beberapa kali Sehun menggelengkan kepalanya, seperti mengusir baying-bayang Irene di kepalanya. Namun saat melihat ajhuma Han yang sedang menaruh piring-piring di lemari, Sehun menghentikan kegiatannya meneguk bir, kemudian menghampiri ajhuma Han yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, “Ajhuma Han.” Seru Sehun. Dan ajhuma Han langsung membalikkan tubuhnya menatap sang tuan muda.

“Selamat malam tuan muda, anda membutuhkan sesuatu?” Tanya ajhuma dengan sopan.

“Aku– butuh jawaban.” Ucap Sehun pada wanita paruh baya itu.

“Apa itu tuan muda?”

“Apa yang ajhuma lakukan jika, Hyun Joo menyukai ajhuma?” Sontak pertanyaan tidak berbobot yang Sehun lontarkan untuk ajhuma, membuat wanita itu terdiam dan berpikir dengan keras. Apa tuan mudanya baik-baik saja? Mengapa tuba-tiba membicarakan hal seperti ini? Hyun Joo menyukai ajhuma Han? Yang benar saja Sehun!

Sehun yang tersadar dengan pertanyaan anehnya, langsung mengacak rambutnya frustasi. Lalu menghela nafasnya dengan berat.

“Ah, lupakan ucapanku.” Kata Sehun kemudian berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

Sudah tiga hari semenjak perihal Irene menyatakan perasaannya padanya, dan dari situlah sifat Sehun sedikit berubah, bukan menjadi pria yang berkarakter dingin seperti biasanya, melainkan Sehun selalu salah tingkah di depan orang lain. Aneh memang, namun itulah faktanya. Sebut saja saat ia rapat kemarin, Sehun tidak fokus pada rapat dan malah berkahir berkeringat dingin,  dan susah berbicara di depan orang lain. Dan itu membuatnya sangat berbeda jauh dari biasanya, seorang Sehun yang luar biasa saat memimpin rapat. Jongdae juga bingung dengan perubahan sehun ini, apa rohnya tertukar dengan orang lain? Tapi tidak! Sehun tetap Sehun, namun sifatnya saja yang sedikit aneh.

Sehun juga menghindari Irene di rumah, sebisa mungkin ia berangkat sangat pagi sebelum gadis itu bangun, dan pulang sedikit malam agar tidak bertemu Irene seperti biasanya. Sungguh, ia tidak tahu cara menghadapi seorang wanita lagi sepertinya. Ia juga bingung menjelaskan mengapa ia seperti ini sejak malam itu. Namun yang jelas, hatinya selalu berdebar-debar disaat mengingat perkataan tulus Irene waktu itu. Oh, jangan berpikir jika perkataan Irene tidak pernah terlintas lagi dalam pikirannya, seperti sebuah angin lalu. Bahkan setiap detik, suara lembut Irene selalu setia menghiasi otaknya hingga membuatnya seperti ini, tidak fokus bekerja.

Bahkan saat malam itu, Sehun kembali ke kamarnya, Sehun sulit tidur karena memikirkan ucapan Irene. Dan Sehun baru bisa tidur jam 3 pagi, hanya karena memikirkan ucapan gadis itu. Ini gila memang, dan tidak masuk akal, apa ada yang bisa menjelaskan mengapa ia seperti ini? Ataukah Sehun yang bodoh sampai tidak menyadari jika yang tengah ia alami ini adalah jatuh cinta? Oh, tolong ingatkan kita bahwa seorang Sehun masih enggan mengakui hal yang menurutnya mustahil itu, meski sudah jelas sekali.

Saat ini Sehun tengah duduk di kursi kebesarannya, beruntunglah hari ini ia sedang berfokus pada tumpukan berkas di atas mejanya yang tersuguh manis untuknya. Tunggu manis huh? Ini bahkan memuakkan untuk Sehun, bayangkan sepanjang hari ia terus menatap berkas-berkas bertuliskan hal-hal mengenai perusahaannya yang sangat membuatnya lelah. Namun ini pekerjaan yang harus ia lakukan, dan mau tidak mau Sehun harus professional dalam mengerjakan sesuatu, karena itulah yang ayahnya selalu ajarkan dari dulu.

Sehun menghela nafasnya dan kemudian menegakkan duduknya, lalu membuka berkas itu satu persatu. Pekerjaan tidak pernah habis, bahkan jika ia lembur sekali pun, belum menjamin semua pekerjaannya akan selesai dengan cepat. Atau bahkan akan selalu bertambah setiap waktunya.

Sehun yang masi berfokus pada berkas kantornya terkejut saat seseorang mendobrak pintu ruang kerjanya…

BRAK

Sebuah dobrakan pintu begitu keras terdengar di telinga Sehun, membuat pria bermarga Oh itu tersentak dan langsung menatap siapa yang sudah berlaku kurang ajar di ruangannya. Sehun seketika memutar malas bola matanya karena melihat penampakan tunangannya –Seolhyun– sudah berdiri di hadapannya, dengan wajah yang menahan amarahnya dan sedikit lagi ingin meluap padanya. Sehun membuang nafasnya kemudian menutup matanya, menandakan ia lelah bertemu gadis ini untuk kesekian kalinya, apakah Seolhyun tidak lelah juga jika Sehun selalu menolaknya, bahkan mungkin berakhir memakinya?

Pandangan Seolhyun tajam menatap sehun, ia memang sedang marah bahkan sangat marah. Jika kemarin Sehun sudah merendahkannya dengan menciumnya kasar layaknya ia seperti wanita penghibur yang tidak memiliki harga diri di club. Dan lebih lagi, ia melihat Sehun menggendong seorang gadis di depannya, dan mencampakkan Seolhyun di sana, membuatnya menanggung malu karena tatapan rendah beberapa orang padanya.

Seolhyun sudah sangat siap dengan kata-kata makian yang sudah disiapkan dengan baik di kepalanya, dan siap disemburkan untuk pria di depannya itu. Kini keduanya saling memandang dalam diam, belum memulai percakapan yang nantinya akan menjadi topik inti dari masalah mereka. Meski Sehun tahu soal apa yang akan diperbincangkan mereka nantinya. Ayolah, setiap bulannya, bahkan setiap minggunya mereka memperdebatkan masalah yang sama terus menerus, yaitu tentang pertunangan. Bahkan Sehun tahu kenapa Seolhyun sampai datang ke kantornya, dan marah-marah seperti ini. Sehun sangat tahu.

Gadis bernama Seolhyun itu masih enggan bersuara, dan berharap pria brengsek di depannya itu yang mengangkat pembicaraan duluan. Namun sepertinya hal itu tidak akan terjadi, Sehun masih enggan membuka pita suaranya atau mungkin ia sangat malas hanya untuk berbicara spenggal kalimat pendek pada Seolhyun. Ia malah lebih memilih menatap kembali berkas-berkas kantornya, dan bekerja. Membuat Seolhyun semakin geram melihat perilaku pria itu.

Sampai kapan ia harus menahan kegeramannya pada Sehun? Sampai berapa lama Sehun mau menguji kesabarannya seperti ini?

Mata seolhyun sudah memanas, kesabarannya sudah menembus batas. Ia tidak bisa menahan amarahnya terus menerus kan? Karena manusia memiliki batas kesabaran. Hingga dengan beraninya, tangan Seolhyun terulur meraih sebuah gelas kaca berisi air putih, dan dalam hitungan detik selanjutnya, gelas berisi air dalam genggamannya terulur menyiram Sehun dengan air putih itu.

BYUR

Seluruh kemeja dan jas Sehun basah, begitu juga dengan berkas-berkas kantornya, ikut basah karena perbuatan Seolhyun. Sehun membuang nafasnya lagi dan menatap Seolhyun tanpa minat sedikit pun.

“Sudah selesai? Jika sudah selesai, silahkan keluar karena aku masih memiliki banyak pekerjaan!” Kata Sehun dengan vokal datar seakan tidak memperdulikan Seolhyun, yang kini sudah berani melakukan hal seperti ini pada Sehun.

Bagi pria itu, ia tidak mau mengurusi hal seperti ini. Terserahlah Seolhyun mau melakukan apa padanya, ia tidak terlalu peduli dengan hal itu, atau mungkin lebih tepatnya ia tidak akan pernah mau peduli akan hal menyangkut Kim Seolhyun, garis bawahi itu.

“Brengsek! Mau sampai kapan kau seperti ini huh?! Aku sudah sangat bersabar saat kau tidak pernah menganggapku, aku sabar saat kau memperlakukanku seperti seorang jalang di club waktu itu, namun hal ini sudah benar-benar keterlaluan Oh Sehun! Kau menolak makan malam bersama keluargaku demi pekerjaan sialanmu itu, yang sebenarnya bisa ditunda!” Teriak Seolhyun dengan air mata yang menurun secara perlahan pada wajah cantiknya.

Sehun terdiam dengan pikirannya kemudian tersenyum miring pada Seolhyun, baginya ia tidak mau bersikap serius pada Seolhyun. Cukuplah ia bersikap santai dalam menghadap gadis itu, karena jika Sehun emosi, akan ada sebuah adu mulut panjang tanpa ujung yang akan terjadi di antara keduanya.

“Ah makan malam bersama mertuaku? Ani! Maksudku calon mertuaku? Aku benar-benar minta maaf sayang, aku tidak bisa makan malam dengan keluargamu karena memang pekerjaanku lebih berharga, dari makan malam tidak berguna itu.” Kata Sehun tersenyum kemenangan. Seolhyun menggeram dan tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih karena eratnya kepalan tangannya.

Ia ingin menampar Sehun setidaknya sekali saja, bisakah? Bahkan ia sudah mengumpat dalam hatinya berbagai makian yang sangat buruk. Memang, karena ia tidak ikut makan malam itu, Sehun sempat mendapat amukan luar biasa dari ayahnya, tapi toh Sehun tidak peduli, karena baginya kemarahan ayahnya itu adalah makanan ringan yang sangat sering ia telan.

“Kita akhiri saja Seolhyun-ah, kau tahu semua yang dipaksakan itu tidak akan berakhir indah.” Ucap Sehun kemudian menatap gadis yang hanya diam dengan tangisannya. Sebenarnya Sehun sedikit tidak tega melihat Seolhyun sampai menangis seperti ini, tapi gadis itu juga tidak mau menyerah memiliki Sehun, jadi apa boleh buat?

“Akhiri katamu? Jangan gila! Kita akan menikah Oh Sehun! Berhenti bersikap keras kepala seperti ini. Cepat atau lambat aku akan menjadi istrimu ingat itu!” Bentak Seolhyun dan menatap tajam wajah datar Sehun, dan hanya membuat Sehun terkekeh pelan.

“Jadi, seorang istri hm? Baiklah ayo kita menikah. Tapi jika kau berpikir dengan menyandang status istri dariku, kau berhak atas urusanku, Oh, jangan bermimpi. Meski kita menikah, kau tidak akan mendapat hak sekecil apa pun atas diriku!” Kata Sehun tegas dan menatap tidak kalah tajam pada gadis di depan mejanya itu.

Seolhyun meremas ujung kemejanya, rasanya benar-benar sakit mendengarnya. Mengapa Sehun begitu kejam pada dirinya? Dan mengapa Sehun hanya kejam padanya dan tidak pada yang lain? Apa yang salah darinya hingga membuat Sehun begitu membenci Seolhyun seperti ini? Seolhyun juga seorang gadis yang memiliki perasaan dan bisa terluka jika disakiti, bukan sebuah robot yang tidak pernah merasa sakit saat disakiti seperti ini, namun Sehun menganggapnya seperti batu yang tidak bisa merasakan apa pun. Tidak! Seolhyun bukan batu, ia hanya gadis yang bisa rapuh meski ia lebih menunjukkan sikap angkuhnya untuk menunjukkan jika ia tegar dan tidak lemah, bukankah sifat itu mirip dengan Sehun?

“Aku tidak mengerti apa yang salah dariku?” Kata Seolhyun  menangis sambil menunduk. Tangan gadis itu terangkat menghapus air matanya sendiri, karena tahu Sehun tidak akan meluangkan waktunya untuk menghapus air mata miliknya. Kini sehun berusaha menenangkan pikirannya juga. Baiklah cukup untuk perang adu mulutnya ini, mungkin ini saatnya ia berbicara dengan baik pada Seolhyun. Mungkin saja gadis itu akan berpikir jernih, jika mereka berbicara dengan lembut kan? Sehun juga tahu Seolhyun gadis dewasa yang berpendidikan dan bisa membuka pikirannya jika Sehun memberi pengertian untuknya.

“Yang salah adalah, kau terlalu memaksakan kehendakmu pada sesuatu yang tidak bisa kau miliki. Seolhyun-ah kita berteman dari kecil, aku pun tahu sifatmu dulu tidak seperti ini. Kau berubah sejak kita menginjak SMA dan itu karena kau menyukaiku, tapi bisakah kau berpikir jika sifatmu yang selalu memaksakan kehendakmu pada sesuatu yang tidak bisa kau dapatkan, adalah sesuatu yang salah? Aku ingin kau menjadi Seolhyun kecil yang selalu bermain denganku, tidak bisakah seperti itu Seolhyun-ah?” Kata Sehun kembali menatap Seolhyun dan kini pandangan pria itu tidak lagi tajam namun lebih lembut. Oh, bahkan ini pertama kalinya ia berbicara, dan menatap Seolhyun selembut ini. Ya, ini pertama kalinya Seolhyun mungkin. Memang, cukup tidak adil jika Sehun terus mengatakan keburukan untuk Seolhyun, mengingat gadis di depannya itu merupakan teman kecilnya yang dulu sempat ia  sayangi- dalam artian teman.

“Tidak semua orang ingin kembali kemasa kecil Sehun! Aku bukan lagi gadis kecil yang tidak hanya ingin bermain denganmu, melainkan aku sekarang seorang gadis dewasa yang menginginkan cinta darimu! Dan maaf jika kau berpikir aku akan menyerah, kau salah besar. Aku tidak peduli meski kau tidak mencintaiku, tapi aku tidak akan melepaskanmu. Kau harus tahu itu! Tidak akan!” Tegas Seolhyun kemudian pergi dari ruangan Sehun, dengan membanting pintu ruangan itu dengan keras. Sehun mendesah berat, apa yang Sehun pikirkan? Berbicara lembut juga tidak berguna dengan gadis arogan itu, Seolhyun sangat keras kepala, dan mestinya ia tahu itu, sebelum berpikir berbicara secara halus padanya, akan membuahkan hasil.

Apa seolhyun begitu terobsesi menikah dengan sehun hingga membuatnya kehilangan akal sehatnya? Dia kira akan menemukan kebahagiaan diakhir hidupnya, setelah menjalani pernikahan tanpa dasar cinta? Bahkan, saat sudah jelas jika Sehun sangat  menolak hubungan ini? Sehun sangat menolak mentah-mentah perjodohan ini. Bahkan Sehun sudah tidak menyukai Seolhyun saat gadis bermarga Kim itu, pernah menampar Ji yeon saat SMA dulu, karena Sehun selalu berdekatan dengani Ji yeon.

Seolhyun menganggap Sehun adalah miliknya, dan membuat Sehun tidak boleh menentukan bergaul dengan siapa, tentu saja itu membuat pria Oh tersebut muak. Seolhyun tidak peduli Sehun menolaknya berapa kali, sebanyak itu juga Seolhyun akan semakin mendekati Sehun. Ia juga bingung kenapa ayahnya menyetujui perjodohan sialan ini? Disaat ayahnya tahu Seolhyun bukanlah gadis yang Sehun sukai.

Sehun pun berdiri dan melepaskan kemeja dan jasnya yang basah, ia cukup merasa kedinganan juga akibat baju basah ini. Sehun berjalan menuju sebuah lemari kecil dan mengambil stelan jas dan kemeja yang sudah tersiap di ruangannya. Dengan perlahan Sehun melepaskan kancing bajunya, dan mulai mengganti pakaiannya.

Ring!

Ponsel Sehun berbunyi di atas meja, dan priaitu langsung menoleh ke arah ponsel miliknya itu. Sambil mengancing kancing kemeja barunya tersebut, Sehun berjalan mendekat ke arah meja dan melirik siapa yang sedang menelfonnya di siang bolong ini. Seketika matanya melebar melihat siapa yang menelfonnya. Oh tidak, hatinya mulai berdegub kencang, hal ini mulai lagi. Ia gugup mengingat Irene, dan kini ucapan lembut gadis itu kembali terhias di kepalanya. Sungguh membuat perasaan Sehun tidak terkontrol. Dengan gugup Sehun menggeser symbol hijau di layar ponselnya, dan segera menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.

“Yeobeoseyo?”

“Wae? Kau bermimpi buruk lagi?” Ucap Sehun setelah ia berhasil menormalkan perasanannya sendiri.

“Ani,aku hanya mengetes ponsel ini, apa aku menganggumu? Mian.”

Sehun menutup matanya dan membuang nafasnya. Oh, apakah Irene sepolos ini, dengan menelfon hanya karena ingin mengetes ponsel itu bekerja atau tidak? Jangan bercanda, ia hanya amnesia dan bukan berarti ia bodoh akan segala hal kan? Sehun memberikan ponsel itu untuk menelfon jika Irene butuh sesuatu, atau jika Irene dalam bahaya. Dan lagi, Sehun tidak memberikan Irene sebuah ponsel bekas. Ayolah, Sehun membelikannya ponsel berkelas, bukan sebuah ponsel murahan yang belum di gunakan, lalu bisa rusak. Tidak sayang!

“Irene, jika tidak penting, jangan menelfonku. Telfonlah jika itu sesuatu yang penting! Dan lagi pula, kau kira itu ponsel murahan? Yak! Aku membelikanmu ponsel berkelas kau tahu?” Ucap Sehun sedikit tegas.

“Sebenarnya aku kesepian, ajhuma sedang ke pasar dan aku berada di rumah sendiri. Sebab itu aku menelfonmu, tapi sepertinya kau sedang sibuk. Baiklah aku tutup. Ah Sehun-ssi, bisakah aku titip es krim strawberry? Aku sangat ingin makan itu saat ini, maaf merepotkanmu. Belilah jika kau tidak sibuk, namun jika kau sangat sibuk jangan membelinya.”

Tunggu dulu, apa Irene sedang memerintahnya sekarang? Oh, Sehun Irene hanya minta tolong membelikannya es krim, bukan bermaksud memerintahmu, atau pun menyuruhmu. Tenanglah!

“Memangnya aku mau membelikanmu meski aku tidak sibuk?” Ucap sehun sambil tersenyum kecil di wajahnya. Oh, mengapa ia sangat suka menggoda Irene sekarang? Dan kini hatinya seakan berbunga-bunga saat bertelfonan dengan Irene. Sehun gila mungkin?

“Ya sudah! Tidak usah, Aku beli saja sendiri! Tapi kau harus tanggu jawab jika pria-pria itu menculikku saat aku keluar rumah!” Bentak Irene dan memutuskan sambungannya. Mata Sehun melebar, dikala perkataan terkahir Irene sedikit membuat dirinya tersentak.

“Yak Irene! Yeobeoseyo? Yak! Sial.” Teriak Sehun namun gadis itu tidak lagi menjawabnya. Sehun memukul kursinya, dan segera menyambar jas hitamnya. Lalu segera keluar dari ruangannya, menuju ruangan Jongdae.  Kenapa juga ia khawatir saat Irene bilang begitu? Tapi ia benar-benar tidak tenang saat ini, bagaimana jika yang dikatakan Irene benar? Pria-pria itu kembali menangkapnya? Sialan. Lagi-lagi Irene membuatnya khawatir seperti ini. Apa gadis itu suka sekali mengusik hatinya?

BRAK

Sehun mendobrak pintu ruangan Jongdae, membuat pria yang sedang sibuk dengan pekerjaannya itu terkejut dengan suara dobrakan barusan. Hampir saja Jongdae melempari Sehun dengan map di tangannya, jika ia tidak tahu itu Sehun. Jongdae kembali berkutat pada pekerjaannya, dan malas melihat Sehun yang wajahnya kini terlihat cemas, dan pikirannya mengarah pada gadis amnesia di rumahnya itu. Ia sangat khawatir, dan ia tidak bisa menjelaskan alasan ia sangat kahwatir pada Irene. Eentahlah, ini seperti bukan dirinya.

“Jongdae-ah, apa hari ini aku ada meeting?” Tanya Sehun cepat terlihat terburu-buru.

Jongdae menggeleng pelan tanpa menatap wajah pria yang menajadi bossnya itu.

“Kalau begitu aku pulang sekarang, dan bawakan berkas-berkas yang belum aku tanda tangani ke rumahku, mengerti?” Jelas Sehun pada Jongdae, dan seketika pria itu menatap Sehun dengan tatapan tanda tanya. Tumben seorang Sehun pulang cepat disore hari, dan mau mengerjakan pekerjaannya di rumah. Biasanya, Sehun akan memilih mengerjakannya di kantor dari pada dibawa pulang.

“Baiklah, tapi apa kau ada masalah? Wajahmu terlihat cemas, ada apa?” Tanya Jongdae penasaran dengan sikap Sehun yang sangat aneh itu.

“Bukan urusanmu, aku pergi!” Kata Sehun datar, dan langsung berlari menutup ruang pintu Jongdae

“Cih dasar bos sialan.” Cibir Jongdae

~

Hyun joo memarkirkan mobil Sehun, tepat di depan pintu penthouse Sehun. Segera pria bernama Oh Sehun itu keluar dari mobilnya, dan berjalan masuk dengan langkah cepat ke dalam rumah mewah itu. Entah mengapa, ia sangat kahwatir pada Irene sekarang. Gadis itu, apa yang ia pikirkan sampai bicara seperti tadi? Bagaimana jika ia benar-benar diculik? Sehun yang akan kerepotan nantinya. Terlebih, Sehun merasa takut jika hal itu benar-benar terjadi.

Sehun melihat ke sekeliling rumah itu, dan wajahnya kembali tenang saat tahu gadis yang tengah menguasai pikirannya siang ini, tengah duduk di sofa dengan es krim strawberry yang berada di genggamannya. Sehun menghela nafasnya, kemudian mendekati Irene. Rasa khawtir itu sedikit demi sedikit hilang, karena melihat Irene baik-baik saja.

“YAK! Sudah kubilang, jangan keluar dari rumah seorang diri! Kenapa kau sulit sekali mendengarkanku?” Bentak Sehun tiba-tiba, membuat Irene tersentak, dan langsung membalikkan tubuhnya pada Sehun di belakangnya.

Irene mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian menghela nafasnya dengan pelan. Ia bisa kena serangan jantung mendadak, karena teriakan Sehun yang tiba-tiba. Apa pria ini berniat membunuhnya? Mengapa mengejutkan Irene tiba-tiba seperti itu?

“Maafkan aku, aku–“

“Kau keras kepala! Bagaimana jika kau benar-benar diculik tadi?” Tanya sehun dengan keras membuat Irene menundukkan wajahnya menyesal. Irene takut dengan amarah pria itu, pandangannya benar-benar gelap dan mematikan rasanya. Irene seperti seorang anak kecil yang sedang di sidang oleh orang tuanya saat ini.

“Aku tidak membelinya sendiri. Saat ajhuma pulang, aku meminta ajhuma menemaniku untuk membelinya. Aku minta maaf sudah membuatmu kesal seperti ini.” Ujar irene menunduk sedih. Sehun menghela nafasnya, dan kini mencoba tidak lagi emosi pada Irene. Kini terbesit di pikirannya, untuk mengajak Irene pergi jalan-jalan, pasti gadis itu sangat senang. Pasti!

“Aku tidak bermaskud membentakmu, hanya saja kau tahu, aku–“

“Tidak papa. Aku yang salah, maafkan aku.” Sela Irene cepat sambil tersenyum tipis pada Sehun.

“Kau mau jalan-jalan?” Tanya Sehun membuat Irene melebarkan matanya, dan segera melompat berdiri di sofa itu sambil menatap Sehun dengan mata berbinarnya.

“kau sungguh-sungguh mengajakku jalan-jalan? Mau kemana?” Tanya Irene dengan sangat antusias, dan Sehun tersenyum.

“Kemana saja, cepat ganti bajumu.” Kata Sehun, dan Irene mengangguk semangat.

~

Suara tawa dari mulut gadis itu, membuat hati Sehun menghangat seketika. Senyuman sempurna nan tulusnya, membuat Sehun ikut tersenyum senang melihat Irene, yang kini menikmati gulali berwarna pink dengan gembira, layaknya anak kecil yang menggemaskan. Mereka kini tengah duduk di taman, setelah Sehun mengajaknya untuk berbelanja sepuas yang Irene mau, di pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Oh, Sehun sangat memanjakan gadis ini sepertinya, masihkah Sehun mau menyangkal jika ia tidak tertarik dengan Irene? Sehun tidak tahu, ia kini hanya sedang menikmati indahnya pemandangan sore hari taman itu, dengan Irene yang bermain ayunan dengan bahagianya. Oh, sungguh gadis itu sangat mencuri perhatiannya, bahkan hampir berkali-kali. Sekuat itukah efek seorang Irene untukmu Sehun?

Sehun melihat bahagianya Irene di sana, ia bahkan tidak pernah melihat Irene sebahagia itu sejak tinggal satu atap bersamanya. Yang jelas, Sehun ikut bahagia jika melihat Irene bahagia. Jadi kata apa yang tepat untuk menjelaskan, mengapa Sehun bahagia karena Irene? Sehun menggeleng kecil, melihat tingkah menggemaskan Irene yang memakan gulali itu dengan wajah super imutnya, dan bahkan kelihatan bertambah cantik saja menurut Sehun. Ya, puji terus gadis itu Sehun! Dan jelaskan mengapa kau terus memujinya?

Sehun memang belum bisa mengakui sebuah kalimat, yang menyatakan jika ia sudah jatuh cinta dengan Irene, ia hanya terpaku jika melihat wajah Irene yang begitu hangat dan lembut. Ada sebuah perasaan aneh yang singgah di hatinya, sebuah perasaan yang ingin membuat senyuman itu tidak pernah hilang dari wajah cantiknya. Sehun ingin gadis itu terus tersenyum seperti itu di depannya. Seperti saat ini, mata keduanya bertemu, lalu Irene tersenyum menatap Sehun. Seolah-olah Sehun tersihir dengan senyuman gadis itu, seakan sebuah senyuman gadis itu bisa menyihir dunianya dan membuat waktunya berhenti berputar, juga otaknya membeku seketika.

Selalu sama setiap senyuman itu merekah di bibir mungilnya. Apa yang ia rasakan ini? Oh, tolong jangan pura-pura tidak tahu Oh Sehun! Kau jelas sangat tahu apa yang kau rasakan pada Irene saat ini. Efeknya melebihi saat ia bersama Ji yeon sebelumnya. Sesuatu yang membuatnya lebih hilang akal saat melihat Irene. Apa kau masih mau mengelak tidak jatuh cinta pada seorang gadis asing, yang ia temui di jalanan karena sebuah kecelakaan? Seorang gadis yang saat kali bertemu dengannya begitu lusuh dan kotor? Namun bagaimana jika gadis itu nyatanya adalah kekasih orang lain? Atau mungkin saja istri orang lain? Memikirkan itu saja membuat kepalanya berdenyut. Sebuah rasa, yang takut jika gadis itu akan pergi saat ingatannya kembali.

Sejujurnya ia masih ingin gadis itu berlama-lama di dunianya, atau mungkin Sehun masih ingin Irene mewarnai kehidupannya dengan senyuman indahnya, karena Sehun masih ingin melihat senyuman khas gadis itu. Sebuah senyuman yang bisa ia nikmati dalam mimpinya, dan terkadang membuat hatinya berdebar kencang. Sehun juga masih ingin melihat gadis yang sudah berani merajuk pada sehun itu. Sungguh, ia sangat suka melihat Irene yang berbicara ketus, karena Irene akan terlihat menggemaskan. Ia masih ingin mendengar suaranya yang seperti sebuah penyemangat baru untuknya. Masih ingin menggendong gadis itu, saat ia merasa sakit atau saat gadis itu ketiduran di sofa. Ya, Sehun masih menginginkan semua itu. Dan ia belum rela, jika Irene mengingat masa lalunya dengan cepat. Katakan Jika Sehun jahat, tidak ingin Irene mengingat masa lalunya, dan ingin Irene membuat lembaran baru bersamanya, hanya mereka berdua.

Tunggu, mereka berdua? Apa yang sedang kau pikirkan Sehun?

“Sehun.” Panggil Irene, membuat Sehun tersadar dari lamunannya dan langsung menuju ke arah suara yang memanggilnya lembut. Irene sudah berada di depannya, dengan sebuah senyuman lagi. Dia benar-benar cantik.

Wae?” Tanya Sehun dengan suara beratnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Aku lihat kau melamun. Ah, apa kau sudah bosan menemaniku? Kalau begitu kita bisa pulang sekarang.” Kata Irene pada Sehun, namun Sehun hanya menggeleng sambil tersenyum penuh arti.

“Tidak, aku hanya memikirkan sesautu. Kita bisa lebih lama di sini. Aku, masih ingin melihat seseorang tersenyum.” Jawab Sehun, membuat Irene hanya mengangguk. Sejujurnya, Irene tidak tahu siapa yang Sehun maksud, karena Irene berpikir jika itu pasti bukan dirinya. Ayolah, seorang Oh Sehun menyukaimu? Mungkin hanya sebuah angan.

“Untuk kata-kataku malam itu…”

DEG

Jantung Sehun kembali berdetak dengan cepat. Bahkan Sehun sudah susah payah untuk tidak mengingatnya lagi, agar ia tidak gugup seperti biasanya. Tapi Irene malah kembali mengingatkannya, dan sekarang jantungnya terasa tidak normal saat ini. ‘Astaga Irene! Apa yang sudah kau lakukan padaku?’ Ucap Sehun dalam hati.

“Lupakan saja ucapakanku malam itu.” Kata Irene tersenyum, sembari duduk di samping Sehun dengan gulali yang ia pegang tadi.

Sehun lebih bingung sekarang, mengapa Irene mau Sehun melupakannya? Apa Irene tahu bagaimana efek dari ungkapan Irene untuk dirinya itu? Karena kata-kata itu, Sehun sulit tidur dan hanya berfokus pada satu orang saja, yaitu Irene. Dan sekarang, Irene menyuruh sehun untuk melupakan kata-kata itu. Meski memang Sehun mencoba tidak mengingatnya, tapi bukan untuk melupakannya begitu saja, melainkan agar ia bisa berfokus mengerjakan sesuatu. Ia tidak mau melupakan perkataan Irene, seakan Irene tidak pernah berucap hal itu.

“Aku tidak mau.” Kata Sehun membuat Irene menoleh ke arahnya dengan wajah bingung, apa ia tidak salah dengar ucapan Sehun?

“Tapi kenapa?”

“Sudah hampir malam.” Kata Sehun mengalihkan pembicaraan, membuat Irene mendesah pelan.

Mereka pun melihat hari yang mulai menutup terangnya, dan berganti dengan malam. Dan ditambah lagi mendung yang tiba-tiba saja membuat mereka terkejut, bukankah tadi hari cerah? Mengapa tiba-tiba mendung? Hingga…

Tes tes tes

Hujan yang mereka tunggu kini membasahi tubuh keduanya secara perlahan, membuat Sehun menarik Srene dengan cepat menuju mobilnya, agar mereka tidak semakin basah kuyup karena hujan itu. Irene dan Sehun masuk ke dalam mobil. Namun gadis itu malah tertawa setelah duduk dengan nyaman di mobil itu. Sehun mengerutkan keningnya, mengapa lagi Irene ketawa sekarang?

“Kenapa?” Tanya Sehun bingung, sembari memasang seat beltnya.

“Aku ingin bermain hujan.” Kata Irene meminta ijin pada Sehun, dan membuat pria itu menatap keluar jendela mobilnya, dan merasa jika hujan itu semakin deras. Apa Irene yakin ingin bermain hujan sekarang?

Andwae, kau bisa sakit.” Tolak Sehun, kemudian menyalakan mesin mobilnya.

“Ayolah Hun, pasti menyenangkan”. Kata Irene, kemudian keluar dari mobil membuat Sehun melebarkan matanya menatap gadis keras kepala itu, yang sudah terjun keluar dan menikmati hujan yang mengguyur tubuhnya. Irene membuka tangannya, meraskan tetes hujan yang mengenai permukaan kulitnya, dan endengar suara hujan yang menenangkan. Sehun pun ikut keluar, dan memakaiankan mantelnya pada Irene, takut jika gadis itu nanti masuk angin dan akhirnya sakit.

Namun Irene malah melepaskan mantel Sehun, dan membuangnya ke bawah membuat keduanya sama-sama terkena tetes hujan yang semakin deras membasahi bumi. Sehun menatap wajah teduh Irene yang sangat menikmati saat-saat bermain hujan. Sejujurnya, Sehun tidak pernah melakukan ini, bahkan sejak kecil. Namun gadis ini membawa sebuah pengalaman baru untuknya, dan membuat ia melanggar semua perturannya. Gadis ini membuat Sehun melangkah semakin jauh dari zona amannya, dan membuat Sehun keluar dari lingkarannya sendiri, dan masuk bersama di dunia yang gadis itu ciptakan.

Irene berputar dengan bahagia, di tengah hujan itu terus membasahi tubuhnya.

Entah kenapa Sehun sangat menyukai melihat wajah tersenyum Irene entah sejak kapan, hingga tanpa sadar ia menarik tangan Irene hingga gadis itu menghadap ke arah Sehun. Dan tubuh keduanya sangat dekat, bahkan jarak itu hampir saja terhapus. Sehun menarik tengkuk Irene untuk mendekat pada wajahnya, menggunakan kedua tangannya. Hingga saat keduanya sudah saling menutup mata, dan hidung mereka sudah saling bersentuhan, begitu juga dengan deru nafas masing-masing yang terasa di permukaan kulit wajah masing-masing…

Tiba-tiba saja Sehun membuka matanya dan menjauhkan wajahnya dari Irene, seperti merasa keasadarannya sudah kembali. Gadis itu sedikit terkejut, namun detik selanjutnya keduanya jadi salah tingkah.

“Ayo pulang, kau bisa sakit.” Ucap Sehun lalu menurunkan tangannya yang berada pada tengkuk Irene.

-To Be Continued-

it goes down down baby! Uhuy, gimana chapter kali ini? Membahagiakankah? Atau ada yang pengen gorok author karena

tbcnya, sungguh tidak pas? Wkwkwk. Sengaja, biar kalian baper. Yoo gaes, jangan lupa ninggalin jejak yah. Bye bye -,-

Iklan

39 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 9)

  1. Sukses bikin orang senyum2 sendiri😊😊 ayolah sehun.. akui perasaan mu pada irene😉

    Oke fix. Kiss nya gak jadi dan bikin aku keselllll..

    Ditungfu next chapnya…

  2. Baru ini ini baca sekaligus dri chapter 1 sampe 9. Bapeeeerrr ish kesel tbc nya nanggung wkwkkwkw
    Lanjut lagi thor, di tunggu 😀

  3. Ige mwoya.. kiss nya beneran ga jadi 😂😂 greget kakakk 😂
    Tapi part ini sukses buat aku senyum” sendiri hqhq..
    Chapter selanjutnya semoga nempel beneran 😂
    Semangat kakak 🙂

  4. Kenapa ciumannya batal?! >_<
    Kesel gue sama lo thor php banget:v
    Seolhyun juga bikin kesel aja
    Next chap jangan lama lama yakk ditunggu pake banget😉

    • Hayaloh, kenapa batal?😂 karena author suka😂 /Plak/
      Kesal yah ? Hahaha sengaja kok😂
      Seolhyun bikin kesel? Emang gitu😅

      Okee sipp..

      Terimaksih❤

  5. Huaa thor kok kejam begitu sih? Kenapa TBC-nya disitu??? IT GOES DOWN DOWN BEYBEH, gw tambah kesemsem sama mereka thor! Tanggung jawab T.T Lanjut terus thor, kek gini terus ya apdetnya. Jangan lama-lama. FIGHTING!

    • Lahh? Author emang kejam😂 baru tahu yah?
      Yokk nyanyi sama2😗
      Asekk yee tambah kesemsem❤ lah author kudu eottokeh?😂
      Siap yah, nntikan chapter selanjutnya..

      Terimaksih ❤

  6. Ahhhhh… Kak, gak wow itu Tbc nya 😤😤
    Kenapa gue juga ikutan dag dig dug ye? 😅
    Ku suka.. Lope lope 😍
    Ditunggu next chap nya kak.. Fighting 😄

  7. wahahaha..
    selalu pas partnya hunren aku selalu tersenyum. kekeke..
    gemes bgd sm tingkah sehunnie😌
    wow, pas mau adegan kissing pengen aku njongkrongin lu hun. biar cepet2 nempel. lhoh! /digampar author😂

    nice, dtggu lnjutannya. fight!!

    • Huahh, senang aku bisa buat kakak tersenyum 😊😂..
      Buahahaha, gemes kan yah??😏
      Kenaps kak? Gedeg sama sehun apa sama aku?😂
      /gak ada yg nanya😂/

      Terimaksih sudh berkomentar ❤

  8. Sehuun akuin aja kamu suka, jgn ditutup” gitu nanti klo irene pergi baru tau rasa deh
    Author kapan ngungkap identitas asli irene?penasaran hehehe
    Ditunggu next chapnya ^_^

    • Lah itu sehun, disuruh akuin, jngn main tutup2an🔫
      Nah, kalau irene pergi baru rasa kamu..

      Kapan yah diungkapkan? Haha masih pnjang perjalanannya..
      Nantikan dengan sabar yah, pasti akan keungkap kok..

      Terimaksih sudh berkomntar ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s