[EXOFFI FREELANCE] Point Of View-Wendy Son (Page one)

|   Point Of View   |

| Wendy Son, Sehun Oh, Mora Son, Luhan Xi, Kyungsoo Do |

| Romance x Fantasy |

| PG-17 | Chapterred |

2017 – Storyline by JUJU’s

Suatu waktu, mereka bisa jadi orang baik.

Di lain waktu, merekalah si penjahat.

Prev : Prologue & Cast

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

“Alieía”

Ah, sial.

“Melarikan diri lagi, Wendy Son?”

    Wendy menatap nyalang pada Mora, kini ia tertangkap oleh kakaknya. Wendy mengutuk kebodohannya, walaupun ia tahu itu tidak akan mengubah fakta.

“Wahh, kau hanya bisa membuat masalah.”

    Mora mengedarkan pandangannya. Lalu, menatap sinis kearah Wendy yang sedang menggumam kesal. Ini benar-benar kekacauan, setelah minggu lalu Wendy merusak taman belakang. Sekarang, ia menghancurkan beberapa perabotan rumah dan melukai 2 orang pengawal.

    Mora melepaskan Wendy dari sihirnya, dan menatap adiknya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Kau melepas pelindung yang kubuat?”

    Wendy tertegun mendengar pertanyaan dari kakaknya, ia benar-benar tidak beruntung hari ini.

“Pelindungnya tidak sengaja hancur olehku, saat aku mencoba untuk menggunakan sihir.”

    Wendy menatap kakaknya ragu-ragu. Ia yakin, setelah ini Mora akan berteriak marah dan memberinya hukuman. Kemungkinan yang paling buruk, kakaknya akan menambah jumlah pengawal untuk mengawasinya.

“Kau tahu, berapa banyak uang yang aku keluarkan? Aku harus mengobati orang yang sudah kau lukai, belum lagi perabotan rumah yang kau rusak.”

    Ah, Wendy benar. Kakaknya mulai meninggikan nada suaranya.

“Dengar! Uang yang ayah tinggalkan, tidak akan cukup menanggung kehidupanmu sampai mati. Jadi berhen—“

    Mora menghentikan ucapannya, lalu menghela nafas. Wendy bisa melihatnya dengan jelas, kakaknya mencoba menahan amarah.

“Aku akan memasangkan kembali pelindung untukmu,”

    Wendy menatap wajah Mora yang memerah, karena menahan amarah. Dalam diam, kakaknya mendekati Wendy dan memasangkan kembali pelindung. Para pelayan yang sejak tadi hanya diam melihat, kini mulai bergerak untuk membersihkan ruangan yang sudah hancur berantakan.

    Setelah memasang pelindung, Mora memerintahkan beberapa pelayan dan pengawal untuk mengikutinya ke ruang tamu.Wendy pun ikut serta. Sejujurnya, sejak tadi ia benar-benar penasaran. Tidak biasanya, Mora pulang ke rumah pada siang hari dan menggagalkan aksi melarikan diri Wendy yang sangat payah itu.

    Saat tiba di ruangan, Wendy melihat pemuda yang memakai seragam kerajaan. Sorot matanya dingin dan ekspresi wajahnya juga benar-benar kaku. Kakaknya memberi hormat dan meminta maaf karena membuat pemuda itu lama menunggu, sesuai perkiraan Wendy. Pemuda itu, pasti mempunyai jabatan tinggi di kerajaan.

“Namanya Sehun Oh, dia menjabat sebagai wakil ketua yang bertugas melindungi Pangeran. Tetapi, ia ditugaskan untuk memperbaiki pelindung rumah kita. Karena akhir-akhir ini, banyak perampokan yang terjadi pada rumah-rumah bangsawan.” jelas Mora.

    Ini aneh. Wendy tahu, kakaknya menyadari ada yang tidak beres.

“Aku tidak tahu, ternyata Pangeran sangat perhatian denganmu.” ujar Wendy dengan sinis.

“Wah, aku juga tidak tahu. Pangeran begitu perhatian dengan bawahannya, bahkan setelah lama aku berhenti.”

    Wendy menatap pemuda Oh itu, terlihat dengan jelas Sehun menyadari sindiran dari Son bersaudara.

“Pangeran sangat perhatian dengan masyarakatnya, saya hanya menjalankan tugas.” tukas Sehun dengan senyum kaku.

    Setelah perkenalan singkat itu, Mora meninggalkan rumah dan kembali ke Departemen Penelitian. Sedangkan Sehun, ia memulai pekerjaannya. Sehun mengitari rumah mewah Keluarga Son. Ia tahu dengan pasti, butuh beberapa minggu untuk memperbaiki lapisan pelindung di rumah mewah ini.

    Sejak tadi, Wendy terus mengikuti pemuda Oh itu secara diam-diam. Walaupun kita semua tahu, tindakan bodoh Wendy yang mencoba bersembunyi pasti disadari Sehun. Wendy pikir, ini sebuah kesempatan. Ia harus membuat kesepakatan dengan Bangsawan Oh tersebut.

    Wendy keluar dari persembunyiannya, perlahan ia mendekati Sehun.

“Ayo kita buat kesepakatan,”

    Sehun berbalik, menatap Wendy yang tiba-tiba datang dan menawarkan sebuah kerjasama.

“Semua orang tahu. Jika kakakku sebagai Pewaris Sah Bangsawan Son, tidak ada keterikatan khusus dengan Keluarga Kerajaan terutama Pangeran Luhan. Jadi, apa tujuanmu?”

“Saya hanya menjalankan tugas dari Pangeran, sebaik—“

“Kau sedang mengawasi kakakku, bukan?”

    Baiklah. Wendy tahu sekarang, Sehun mulai menaruh atensi padanya. Melihat raut wajahnya yang kaku itu mengalami sedikit perubahan.

“Aku akan memberikan informasi yang kau inginkan,”

    Sejujurnya, Wendy sedikit ragu atas keputusannya. Tetapi saat ini, ia membutuhkan rekan yang kuat untuk mendukungnya.

“Karena itu, bawa aku pergi dari sini.”

“Kau gila? Aku bisa dituduh menculik putri keluarga bangsawan. Lagi pula, tidak mungkin membiarkanmu berkeliaran dengan keadaan seperti ini.”

    Ah, sepertinya Sehun tahu keadaan Wendy yang benar-benar menyedihkan. Tapi, ini adalah Wendy. Seorang Wendy Son yang menginginkan petualangan di luar sana.

“Aku akan pulang, bodoh. Aku memang ingin pergi dari sini, tapi bukan berarti aku melarikan diri dari rumah.”

“Kau menyebutku bodoh? Aku tidak tahu, ternyata putri keluarga bangsawan bisa bicara kasar.”

“Kau duluan yang menyebutku gila,”

    Oh, baiklah. Wendy benar, Sehun yang lebih dulu berbicara tidak sopan. Tapi, bukan itu inti dari pembicaraan ini. Sehun mencoba menenangkan diri. Sepertinya putri kedua Bangsawan Son ini, benar-benar merepotkan.

“Tidak, ini akan jauh menyulitkan.” tolak Sehun dengan tegas.

“Kau pikir, kakakku bodoh. Tidak mungkin dia meninggalkan jejak begitu saja, ia pasti akan memakai sihir untuk mengunci hasil penelitiannya.”

“Penelitian? Jadi Mora, melakukan penelitian secara pribadi.” gumam Sehun.

Dasar bodoh.

    Kau benar-benar bodoh, Wendy Son. Mulutmu, benar-benar tidak bisa berhenti bicara. Untuk kedua kalinya dalam satu hari, Wendy mengutuk kebodohannya.

    Sepertinya, Sehun tidak tahu apa yang dilakukan kakaknya. Baiklah, Wendy Son. Ini sebagai pembuktian, bahwa kau tahu sesuatu. Manfaatkan kebodohanmu.

“Wah, kau bahkan tidak tahu. Apa yang seharusnya kau selidiki,”

    Ya, Sehun tidak tahu apapun. Jika ini mengenai penelitian, akan sangat sulit mencari informasi tentang Mora Son.

“Baiklah, sepertinya aku tidak punya pilihan lain.”

“Keputusan yang tepat. Sekarang, bawa aku ke ibukota.”

“Ibukota? Untuk apa?” tanya Sehun, tak mengerti.

“Bahan untuk membuat ramuan hampir habis, jadi aku perlu membelinya di ibukota. Kau buat pingsan saja pengawal-pengawal yang mengawasiku, nanti para pelayanku yang akan memberikan ramuan yang sudah aku buat, agar mereka lupa bahwa kita pergi dari sini.”

    Sehun hanya diam dan mengangguk. Lagi pula, ia tidak punya rencana apa pun.

×◦◦×

    Wendy tidak bisa berhenti tersenyum, berjalan-jalan di pusat ibukota pada sore hari adalah waktu yang tepat. Banyak stand makanan yang buka, orang-orang pun banyak yang berkumpul. Walaupun, ia harus hati- hati agar menjauhi orang yang membawa senjata ataupun benda dengan kekuatan sihir yang tinggi.

    Lalu, orang yang paling resah dan tidak nyaman adalah pemuda dari Bangsawan Oh ini.  Wendy mencoba memperbaiki keadaan, tetapi Sehun masih saja canggung dan kaku.

“Oh Sehun, cobalah lebih santai. Kenapa wajahmu seperti orang yang dikejar-kejar oleh penagih hutang?” ujar Wendy.

×◦◦×

    Mereka dalam perjalanan pulang ke rumah, tetapi raut wajah Sehun masih saja tidak berubah. Sejujurnya, Wendy masih ingin berkeliling dan melihat-lihat isi toko. Tetapi melihat raut wajah Sehun yang benar-benar mengganggu, membuat Wendy menjadi tidak tega.

“Apa kau selalu memakai pelindung?” tanya Sehun.

    Wendy menoleh dan menatap Sehun dengan pandangan tidak mengerti. Sesaat kemudian, Wendy tersenyum seakan mengerti sesuatu.

“Apa kau mengkhawatirkan ku? Tenang saja, aku memakai Batu Sapphire. Lagi pula, lapis pelindung yang dibuat oleh kakakku ini. Lumayan kuat,” ujar Wendy.

“Aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Kalau terjadi sesuatu padamu, maka aku yang akan diminta pertanggung jawaban,” balas Sehun.

    Wendy menatap tajam Sehun, pria ini benar-benar membuatnya kesal. Tahu begini, lebih baik ia lama-lama berkeliling toko.

“Lalu, kenapa kau mencoba melarikan diri? Jika ternyata, kau tetap akan kembali ke rumah.”

“Kau mau aku mati di jalanan! Aku tidak punya tempat tujuan, meskipun aku benar-benar muak dengan kakakku. Setidaknya, dia tidak menendangku ke jalanan!”

“Kenapa kau jadi marah?”

“Aku tidak marah! Aku akan mencari bangsawan kaya dan menikahinya. Lalu, pindah rumah dan aku tidak akan melihat Mora Son lagi.”

“Kau sebut itu, tidak marah? Kalau kelakuanmu seperti ini, bangsawan mana yang mau menikahimu. Lagi pula, bukankah itu urusan pribadimu? Kenapa kau memberitahukannya padaku.”

    Wendy tertegun, lagi-lagi mulutnya tidak berhenti bicara. Ia menghela nafas, tidak ada untung atau ruginya juga. Jika Sehun tahu, rahasia pribadinya.

“Kau benar, ini bukan urusanmu. Lagipula, aku tidak akan menikahimu.” ucap Wendy.

    Sepertinya, Sehun sudah salah bicara. Ia tidak bermaksud menyinggung perasaan Wendy. Sehun pikir, ini juga kesalahan Wendy. Kenapa gadis itu, harus marah-marah tidak jelas. Ia juga ikut emosian kan.

    Wendy yang berjalan di depan Sehun, tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Kau kenapa?” tanya Sehun dengan nada khawatir.

    Wendy mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah rumah mewah, tidak jauh dari sana terlihat ada perkelahian dua lawan satu.

“Kau tetap disini, jangan selangkah pun mendekat.” ujar Sehun.

    Wendy hanya melihat pertarungan dari jauh, Sehun memerintahkannya untuk bersembunyi.

“Epiviósoun,”

    Sehun menangkis serangan yang tiba-tiba datang padanya. Sejujurnya, Sehun tidak tahu siapa yang salah. Tetapi, ketika melihat seorang pemuda yang berusaha menghancurkan lapis pelindung rumah. Dan pemuda satunya lagi, mencoba untuk menghalangi. Sepertinya, Sehun tahu harus memihak siapa.

    Dengan cepat, Sehun memasang lapis pelindung dan membantu pemuda yang sejak tadi bertarung sendirian. Bukanlah, hal yang sulit bagi Sehun menangkap orang dengan kemampuan sihir yang tidak terlalu tinggi. Apalagi, ia tidak sendirian. Dengan mudah, dua perampok itu tertangkap.

“Terima kasih sudah membantuku, kau bisa memanggilku Xiaolu.”

    Sehun menatap tangan yang terjulur padanya, dengan canggung ia membalas uluran tangan pemuda itu.

“Sehun Oh, kau bisa memanggilku Sehun.”

“Sebaiknya, kita membawa mereka ke kantor keamanan setem—“

    Xiaolu tak menyelesaikan kalimatnya, ia tersenyum dan melambai pada orang yang berjalan mendekati mereka. Sehun yang melihat itu pun, langsung menoleh mengikuti arah pandang Xiaolu.

“Ketua? Kenapa ketua ada disini?”

    Sehun memandang bingung pada Kyungsoo. Tak biasanya, ketua mereka berkeliaran di pusat ibukota. Apalagi, pergi tanpa Pangeran yang harus dilindunginya.

“Ada tugas yang harus kulakukan di ibukota. Lalu, apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Membantu Xiaolu menangkap mereka,”

    Sehun mengarahkan pandangannya pada dua perampok yang sudah terikat. Kyungsoo yang melihat itu, hanya mengangguk seakan ia mengerti. Lalu, Sehun kembali menatap pada ketuanya.

“Ketua mengenal Xiaolu? Sepertinya, ia bukan dari kerajaan kita,”

“Karena namaku, bukan? Kau benar, aku datang ke sini karena diperintahkan untuk membantu kerajaan kalian.”

    Itu benar, nama Xiaolu terasa asing ditelinganya. Tetapi, wajahnya sedikit familiar bagi Sehun.

“Kau sudah tahu kan. Akhir-akhir ini, ibukota kerajaan kita tidak aman. Kita perlu tambahan prajurit,” jelas Kyungsoo.

“Apa mereka sudah tertangkap?”

“Tetap di sana!”

    Wendy menghentikan langkahnya untuk mendekat, ia memandang bingung ke arah Sehun. Kyungsoo yang juga melihat kedatangan Wendy, seakan mengerti atas tindakan Sehun yang melarang gadis Son itu mendekat.

“Maaf, Nona Son. Sekarang, aku sedang membawa pedang,”

    Kyungsoo memperlihatkan pedang yang sejak tadi sudah ia bawa, pedang itu menyimpan kekuatan sihir yang tinggi. Secara perlahan, Wendy mundur beberapa langkah.

“Sebaiknya, biar aku dan Xiaolu yang membawa mereka ke kantor keamanan,”

    Sehun mengangguk, menyetujui ide dari ketuanya. Tidak baik, membiarkan Wendy berkeliaran sendirian. Hal itu, dapat membahayakannya.

“Kalau begitu, kami pergi dulu. Sampai jumpa Sehun,”

    Luhan memberi salam perpisahan, dan tidak lupa menyeret perampok yang sudah tidak berdaya. Kyungsoo sudah berjalan mendahuluinya. Ketika Luhan akan melewati Wendy, ia menghentikan langkahnya.

“Senang bertemu dengan anda , Nona Son. Saya harap kelak, kita dapat bertemu lagi di situasi yang lebih baik,”

    Luhan memberi salam penghormatan pada Wendy, layaknya seorang gentleman. Lalu, ia pergi menyusul Kyungsoo yang sudah berada jauh di depan sana.

“Melihat matamu yang tak berkedip, apa dia yang akan menjadi targetmu?”

    Wendy tersadar, ia langsung menatap tak suka pada Sehun. Gadis Son itu hanya kagum pada sikap Xiaolu, sikapnya benar-benar mencerminkan seorang pria sejati.

“Tidak perlu tahu, kau sendiri yang bilang bahwa itu bukan urusanmu.”

    Sepertinya, Wendy benar-benar marah pada Sehun. Bahkan, gadis Son itu sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Sehun.

“Baiklah, aku juga tidak ingin tahu itu.” ujar Sehun yang berjalan di belakang Wendy.

“Tetapi, tepati janjimu. Setelah kita sampai di rumahmu, kau harus menjawab semua pertanyaanku.”

“Hanya satu pertanyaan, Tuan Oh.”

    Sehun tertegun, ia masih mengingat dengan jelas bahwa Wendy akan memberikan semua informasi yang dia tahu. Sehun mempercepat langkahnya, hingga posisinya tepat di samping Wendy.

“Kau mengatakan akan memberi informasi yang ku inginkan,”

“Iya, aku akan memberi tahumu. Setiap kau menemaniku berjalan keluar, aku akan menjawab satu pertanyaan darimu. Bukankah, itu adil?”

    Wendy mengatakan hal itu sambil tersenyum manis. Tetapi, Sehun melihat senyum gadis Son itu dengan sudut pandang yang berbeda.

“Dasar wanita licik,”

“Itulah yang namanya adil, Sehun Oh.”

    Sehun ceroboh, seharusnya ia membuat perjanjian terlebih dahulu. Sebelum, menyetujui tawaran Wendy.

“Kau tidak akan mendapatkan bangsawan kaya, jika sifatmu begitu!”

“Kalau aku tidak mendapatkannya, aku akan datang mencarimu.”

    Sehun memandang bingung pada Wendy. Kemudian, Bangsawan Oh itu menunjukkan wajah kesal.

“Kau yang mengatakan tidak akan menikahiku. Lalu, untuk apa kau mencariku?”

“Tetapi, jika kau yang meminta padaku. Aku akan menerimanya,”

    Sehun terdiam, mungkin telinganya mengalami kerusakan atau serangga masuk ke dalam telinganya. Lalu, kemungkinan yang lainnya. Gadis dari Bangsawan Son itu gila.

    Tetapi, pemikiran-pemikiran bodoh itu mendadak hilang. Ketika, Sehun melihat Wendy Son tertawa geli melihat reaksinya.

“Kau benar-benar lucu, Oh Sehun. Kupikir, kau hanya bisa berekspresi datar dan kesal.”

“Berhenti main-main denganku!”

“Jangan marah. Kau tampan, kok. Sehun-a,”

    Sehun pikir, Wendy Son memang merepotkan. Tetapi, bukanlah hal yang buruk menghabiskan waktu bersama gadis dari keluarga Son ini.

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

Juju’s Note :

Terima kasih sudah membaca sampai habis ^^ diriku juga membuat ficlet POV-Another Story, jangan lupa dibaca y. Ide ficlet muncul, hasil dari mentoknya otakku utk ide POV series dan berandai-andainya kalau diriku membuat POV versi School-Life. Dimana Wendy-Mora akur, plus Wendy yang demen ngejahilin Sehun. Sekali lagi, terima kasih banyak dan jangan lupa tinggalkan jejak… bocoran chapter selanjutnya Point Of View-Sehun Oh ver.

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Point Of View-Wendy Son (Page one)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] HURT | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Point Of View-Wendy Son (Page one) — EXO FanFiction Indonesia – 10u10u

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Point Of View-Wendy Son (Page one) — EXO FanFiction Indonesia – Beauty world

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s