[EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 5)

H A V O C

| Cast : All member EXO, Kang Hye-na OC, Kim Hyun-ji OC, Cho Jae-kyung OC, Han Ji-hee OC, Park Rae-sun OC, Kwon Min-ah OC|

|Genre : Romance, Fantasy, Sci-fi, School life|

| Leght : Chapter |

| Rating : PG 15+ |

|Discalimer : All cast in this FF belong to GOD and their parent. All plot in this story belong to me and ONLY me. My Wattpad Account @96dreamgirl. Sorry for alot of cursing word in this story!|

EXO’s Fanfiction by Hecate Helena

Hecate Helena©2017. All right Reserved.

Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Do not copy and Plagiarize my work!

— HAVOC—

Previous Chapter : Prolog | Chapt 1 | Chapt 2 | Chapt 3 |Chapt 4

Chapter 5

“Ketika berada di dekatnya aku merasa aman,” – Kang Hye Na

H Y E N A

Coba tebak, kejadian aneh apa yang bisa ditemui di sekolah yang hampir semua siswanya memiliki kekuatan supranatural? Anak-anak yang sedang membakar pohon seakan itu mainan paling menarik untuk melatih kekuatanya? Atau bocah laki-laki aneh yang berusaha mencelupkan kepalanya ke lumpur hanya karena percaya bahwa kekuatannya adalah mengendalikan lumpur? Atau  juga, segerombol siswa sinting yang berusaha saling membunuh dengan kimchi dan juga lobak ketika waktu makan siang?

Aku ingin sekali bilang bahwa kejadian aneh yang aku sebutkan tadi hanyalah khayalanku saja. Tapi sayangnya, ketika aku mengalami dan melihat sendiri hal-hal itu di depan mataku, aku harus bilang bahwa semuanya nyata. Dan aku masih menyumpahi takdir setiap kali aku harus mengalaminya.

Aku sudah hampir menyerah dengan keputusan bertahan yang aku pilih. Tapi setiap kali aku ingin menyerah, Hyun-ji selalu membujukku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan setiap itu juga, aku selalu luluh dengan senyuman menenangkan yang Hyun-ji berikan padaku. Yah, aku memang payah!

Sudah tiga hari sejak kejadian perkelahian Jae-kyung dan gadis pirang yang aku tahu bernama Hye-min. Dan sejak saat itu, aku tidak mendengar kabar Hye-min lagi. Ada gosip yang beredar bahwa kali ini hukuman yang diberikan kepada Hye-min lebih buruk dari sebelumnya. Tapi hukuman apapun itu, aku sama sekali tidak berniat untuk mengetahuinya lebih lanjut.

Tentang Jae-kyung, aku juga belum melihatnya lagi sejak kejadian itu. Aku tadinya berpikir bahwa Jae-kyung terluka cukup parah. Namun Hyun-ji meyakinkanku bahwa menghilangnya Jae-kyung bukan karena lukanya, tapi karena dia ditugaskan untuk menghadiri Asosiasi para Mutans di Seoul. Meskipun aku tidak mengerti asosiasi apa yang dimaksud Hyun-ji, tapi alasan menghilangnya Jae-kyung cukup bisa aku terima.

Dan Jong-in! Aku semakin tidak bisa mengendalikan rasa penasaranku tentang menghilangnya pemuda itu. Pasalnya, sudah empat hari aku tidak melihatnya. Baik itu di kelas, di kantin, ataupun di perpustakaan. Aku tidak pernah lagi melihatnya. Padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Tentang kejadian malam itu, tentang sikap kasarnya, tentang panggilannya padaku, dan tentang kondisinya.

Seingatku, malam itu Sehun menembakan sesuatu ke lengannya. Aku tidak tahu kenapa Sehun melakukan itu. Aku juga tidak berani menanyakannya. Tapi aku cukup yakin bahwa tembakan Sehun membuat Jong-in sangat kesakitan malam itu. Tapi meskipun begitu, pemuda kasar itu menyelamatkanku bahkan dengan kondisinya yang sangat buruk. Ah, aku benar-benar ingin melihatnya!

Sebuah kertas tiba-tiba mendarat di mejaku. Membuyarkan lamunanku di tengah kelas Sejarah yang saat ini sedang berlangsung. Oh! Aku lupa bilang bahwa pelajaran di sekolah ini juga agak sedikit berbeda dengan sekolah manusia. Di sini hanya ada pelajaran etika, sejarah, strategi peperangan, Sains, pengendalian diri dan teknik pertarungan.

D.O sedikit banyak menjelaskan padaku bahwa sebenarnya tujuan para Mutans bersekolah di sini bukan karena ingin mendapatkan batu loncatan menuju universitas atau bekal untuk bekerja nanti, tapi sekolah ini didirikan dengan tujuan melatih para Mutans muda yang belum bisa mengendalikan kekuatannya. Yah tapi bagaimanapun, pelajaran Sains yang diajarkan di sekolah ini cukup banyak membantu para Mutans untuk bisa bekerja.

Kertas lain mendarat di mejaku lagi. Aku mendengus dan mulai membuka kertasnya.

“Biar kutebak, Kau sedang bosan’kan? Kalau iya, berarti kita berjodoh. Kuucapkan selamat padamu ;* “ – Byun Baek Hyun yang paling tampan

Aku menoleh, mendapati Baek-hyun yang duduk dua baris di belakangku. Sedang memasang senyum bodoh yang biasa dia tunjukan. Headset yang biasa menempel di kedua telinganya juga tidak terlihat. Aku menaikan sebelah alisku padanya, dia kemudian memberikan isyarat padaku untuk membalas pesannya.

“Hei tuan rambut merah muda, jangan jadikan aku wanita menyedihkan itu ☹ “

Aku kemudian melempar pesan balasan padanya. Baek-hyun dengan sigap menangkap kertas yang aku lempar. Sedikit melirik ke arah papan tulis untuk melihat guru Song yang masih asyik menuliskan beberapa catatan penting tentang –Perang antara Avox dan Mutans 100 tahun silam atau apalah itu. Dia kemudian menoleh lagi padaku sebelum akhirnya membuka kertas yang aku lempar tadi.

Beberapa saat kemudian aku melihat Baek-hyun mengerucutkan bibirnya, lalu dia mulai menulis. Dia menatapku, kemudian melempar kertas lagi padaku.

“Harusnya kau bersyukur. Aku pemuda yang populer di sekolah. Penggemarku di sekolah ini hampir sebanyak Fans EXO, tahu!”

Aku memutar bola mataku membaca pesannya. Apa-apaan dia? Bagaimana bisa dia membandingkan dirinya dengan boyband manusia yang sangat populer itu? Aku segera menuliskan balasanku untuknya. Dan beberapa menit berikutnya, aku habiskan dengan saling melempar kertas dengan Baek-hyun. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengeluarkan suara. Menjaga agar tidak ketahuan oleh guru Song –mengingat betapa menyeramkannya dia saat di kelas. Dan aku tidak ingin berakhir dengan ditendang dari kelas hanya karena berbalas pesan kertas dengan si bodoh Baek-hyun itu.

Waktu pun berlalu. Aku tidak tahu berapa lama kami saling melempar kertas, namun kurang lebih percakapannya menjadi seperti ini.

Hyena : “Teruslah bermimpi dan jangan pernah bangun sampai malaikat maut menjemputmu!”

Baek : “Oh jangan khawatir, karena saat ini pun aku sedang berbalas pesan dengan malaikat maut yang kau maksud!”

Hyena : “Kau tahu? Pergilah ke neraka sana!”

Baek : “Dengan senang hati! Asal kau menunjukan jalannya, sayang ☺ “

Hyena : “Bisakah kau tidak menyebalkan?”

Baek : “Apa? Aku tampan? Ya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sudah terlahir seperti ini. Aku tidak bisa kembali ke perut ibuku untuk menjadi lebih tampan lagi ☹ “

Hyena : “Ha Ha sangat lucu! sampai-sampai aku ingin menggunduli kepala merah mudamu itu!”

Baek : “Sangat manis, sayang. Kau terlihat cantik dengan tampang galakmu. Aku terharu kau sangat mirip sekali dengan boneka Annabelle. Oh! Aku ingin menangis rasanya ☹ “

Hyena : “ENYAHLAH DARI DUNIA INI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI SAMPAI SERATUS KEHIDUPAN BERIKUTNYA!!! MALAIKAT MAUT PASTI AKAN BERTERIMAKASIH PADA HAN HYENA KARENA SUDAH MENGEMBALIKAN SEORANG IBLIS KE TEMPAT ASALNYA!”

Aku melihat Baek-hyun tertawa tanpa suara di tempat duduknya. Aku hanya bisa menatapnya dengan kesal. Pemuda itu selalu bisa membuatku kesal setengah mati. Dan sialnya, sampai sekarang aku belum bisa menemukan cara paling menyenangkan untuk bisa memenggal kepala merah mudanya itu. Sepertinya, aku harus lebih serius untuk merencanakannya mulai sekarang.

Tiba-tiba Baek-hyun menyeringai. Dia menggulung kembali kertas dariku. Dan sebelum aku sempat menyadari tindakannya, kertas itu sudah terlempar jauh mengenai kepala Guru Song. Oh ya ampun! Aku benar-benar berakhir kali ini!

Aku mendelik ke arah Baek-hyun. Dia hanya menaikan bahunya dan mengeluarkan headsetnya. Memasang benda itu ke telinganya dan melambai padaku. Dia mengucapkan isyarat ‘Selamat tinggal ‘ sebelum menutup matanya. Aku menggertakan gigiku dengan kesal. Aku bersumpah akan membunuh pemuda itu nanti!

“Han Hye Na!”

Aku terlonjak kaget saat tiba-tiba namaku dipanggil. Mendapati Guru Song yang sedang melemparkan tatapan marah paling baiknnya padaku. Wajah cantiknya memerah saking marahnya. Aku menelan ludah dengan susah payah. Menoleh ke arah Hyun-ji dengan muka memelas andalanku. Namun Hyun-ji malah menatapku dengan bingung. Ya ampun! Aku benar-benar tidak akan lolos hari ini!

N-ne, songsaengnim..” aku menjawab, memberanikan diriku sebisaku.

“Apa kau yang menulis ini?” tanya guru Song dengan tegas, menaikan kertas yang dilempar Baek-hyun tadi di tangannya.

“I-iya…” jawabku ragu.

“Apa sebenci itu kau padaku sampai kau menyumpahiku seperti ini?” geramnya.

“Apa? ti-tidak. Aku itu- sebenarnya itu- aku-…”

“Sudahlah. Kau akan mendapatkan hukuman untuk ini. Pergilah ke ruang detensi dan tulislah essay mengenai sejarah kemunculan Avox. Mengingat kau masih baru di sini, itu akan membantumu juga,” ucap guru Song dengan nada yang tak terbantahkan.

“Tapi aku-“

“Pergilah atau kau akan mendapatkan hukuman yang lebih berat!”

Aku mendesah sedih sebelum menjawab, ”Baiklah.” Balasku.

Aku bangkit dari kursiku, menoleh kembali ke arah Hyun-ji. Dia hanya menatapku dengan prihatin. Namun aku cepat-cepat memalingkan wajahku dan mulai melangkah. Sebelum sampai di ambang pintu, aku melirik ke arah Baek-hyun. Pemuda itu masih saja memejamkan matanya. Aku ingin sekali melempar papan tulis ke wajah tampannya. Tapi alih-alih melakukan itu, aku kembali melangkahkan kakiku dengan satu tekad kemarahan yang kuat. Byun Baek Hyun! Aku pasti akan membalasmu!!!

-o0o-

Author POV

Suho mengalihkan pandangannya saat mendengar pintu laboratorium tempat dia berada terbuka. Memunculkan sosok Sehun dengan wajah lelahnya. Sehun menyunggingkan senyum, namun Suho tahu bahwa di balik senyuman itu terdapat kehkawatiran yang sangat besar.

“Kau sedang sibuk, hyong?” tanya Sehun, dia melangkah ke arah sofa di pojok ruangan. Kemudian tanpa ragu mendudukan tubuh lelahnya di sana.

“Tidak juga—“  jawab Suho,melanjutkan kembali kegiatannya, “—Kau datang untuk mengambil pil untuk Jong-in lagi?” tanyanya.

Sehun mendesah pelan, “Tidak. Aku hanya ingin menemuimu,” jawabnya.

Mendengar jawaban Sehun, Suho kembali menghentikan kegiatannya. Melepas masker, sarung tangan dan juga kacamatnya. Kemudian dia melangkah ke arah Sehun yang terlihat murung.

“Ada apa? kau terlihat sangat kacau hari ini,” ucap Suho, menatap pemuda yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu menunduk lesu.

Sehun menoleh, “Hyong, apakah kau tidak bisa menaikan dosis pil untuk Kai?” tanyanya, hampir terdengar memelas.

Suho menghela nafasnya, “Maafkan aku, Sehunnie. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Dosis yang aku berikan pada Jong-in sekarang adalah dosis tertinggi yang bisa diberikan kepada seorang Mutans. Kalau aku menaikan lagi dosisnya, maka itu akan mengacaukan pikirannya,” jelas Suho.

“Aku tahu, Hyong. Tapi pil itu sepertinya mulai tidak berefek padanya. Semakin hari kondisinya semakin buruk,” kata Sehun, menundukan kepalanya lagi.

Suho lagi-lagi menghela nafasnya, “Dari awal, aku membuat pil itu untuk menekan kekuatan para Mutans muda yang belum bisa mengendalikan kekuatannya atau belum menemukan penyegel kekuatannya. Dan selama ini, pil itu sangat efektif. Setidaknya efeknya bisa bertahan selama beberapa bulan—“ Suho menghentikan perkataannya sejenak, “—Tapi untuk Jong-in, dari awal aku memberikan pil itu efek yang bisa dia dapatkan hanya 5%nya saja,” lanjutnya.

“Apa? Kenapa bisa begitu?”

Suho menggeleng, “Aku tidak tahu. Banyak sekali hal yang terjadi pada tubuhnya dibandingkan dengan Mutans yang lain. Aku harus memeriksanya sendiri untuk memastikan.”

“Kalau begitu, kita bisa membawa dia ke sini dan memeriksanya!” usul Sehun.

“Tidak bisa. Jong-in akan membenciku kalau aku melakukannya,”

“Tapi hyong, ini untuk kebaikannya juga. Mungkin saja setelah kau memeriksanya, kita akan bisa mengetahui penyebabnya. Mungkin saja setelah itu kita bisa menyelamatkannya. Mungkin-“

Suho menepuk bahu Sehun, memotong perkataannya, “Sehunnie, aku tahu kau sangat mengkhawatirkan kondisinya. Jong-in sudah banyak sekali menderita. Ada sesuatu yang sangat buruk dan menyakitkan yang terjadi padanya sebelum dia masuk ke sekolah ini. Meskipun aku tidak tahu hal buruk apa yang terjadi padanya, tapi aku yakin bahwa hal itu sangat berat untuk bisa dia terima. Aku juga punya keinginan yang sama denganmu, tapi kita juga harus menghargai keputusannya. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berusaha semampu kita untuk menyelamatkannya. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, tapi kita tidak boleh menyerah,”

Untuk beberapa saat Sehun terdiam. Membenarkan semua perkataan yang Suho ucapkan padanya. Namun pada akhirnya dia memutuskan kembali untuk bertanya, “Bagaimana dengan rantainya? Bukankah itu cukup mampu membantunya?” tanya Sehun.

“Entahlah. Rantai itu memang sangat kuat. Itu khusus dibuat untuk melawan kekuatan Jong-in. Tapi, rantai itu akan sangat menyiksanya. Semakin kekuatan itu menelan Jong-in, maka semakin kuat juga tekanan yang akan dia dapatkan dari rantai itu. Dan aku sendiri tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dia terima karena itu. Kau pasti sering mendengarnya’kan?”

Sehun memejamkan matanya, teringat semua teriakan kesakitan sahabatnya itu beberapa malam terakhir, “Jadi kita benar-benar tidak bisa menyelamatkannya?” ucapnya lirih.

“Aku tidak tahu. Kita bisa saja memaksa Jong-in untuk melakukan pertarungan demi menemukan penyegel kekuatannya. Tapi dia pasti akan menolaknya mengingat trauma terakhir yang dia alami.”

“Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Aku tidak pernah melihat pengendalian diri yang sangat buruk seperti ini,” komentar Sehun.

“Itu karena dia berbeda. Jong-in itu bukan jenis Mutans yang sama seperti kita. Kita juga bisa merasakannya sendiri, bukan? Chan-yeol tidak bisa merasakan auranya, kau juga tidak bisa merasakan kekuatannya, D.O yang tidak bisa menembus pikirannya, dan aku yang tidak bisa mengendalikan darahnya.”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya, “ Kau benar. Tapi Hyong, aku tidak tahu kenapa kali ini kondisinya lebih buruk dari tiga tahun yang lalu. Padahal aku yakin kali ini dia tidak mengeluarkan energi sebanyak tiga tahun yang lalu,”

Suho terdiam, mengerutkan keningnya tampak berpikir, “Apa karena gadis itu?” bisiknya.

Sehun mengerutkan kening, “Gadis itu? Maksudmu Han Hyena?”

Suho mengangguk, “Iya. Sejak nyonya Han memerintahkan kita mencari gadis itu, aku mulai mendapatkan firasat baik. Kau tahu? Tiga tahun lalu, saat kita menyelamatkan gadis itu. Jong-in tidak pernah pergi dari sisi gadis itu. Dia selalu menemani Hyena yang tak sadarkan diri. Aku tidak tahu kenapa Jong-in melakukan itu. Tapi itu jelas membawa perubahan pada tubuhnya. Jong-in memang mengeluhkan bahwa dia merasa dadanya sakit, tapi dia tidak pernah lepas kendali saat berada di dekat Hyena. Aku tidak tahu apakah kalian juga merasakan perubaha itu. Namun saat kita mengembalikan Hyena, dia mulai lepas kendali dan kita harus mengurungnya. Kau ingat?”

Sehun berjengit, “Ah! Aku ingat. Dan waktu itu juga aku tidak bisa merasakan kekuatan Hyena, sama seperti yang aku rasakan pada Kai. Apakah ini pertanda baik, hyong?” tanya Sehun tiba-tiba antusias.

“Aku belum bisa memastikan. Tapi kalau itu benar, ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk kita, “

Sehun menyunggingkan senyum,“Apakah pada akhirnya kita bisa menyelamatkan Kai, hyong?” tanya Sehun penuh harap.

Suho mengangguk, lalu membalas senyuman Sehun, “Kita pasti bisa menyelamatkannya, Sehunnie. Dan kita harus pastikan itu terjadi!” jawa Suho dengan yakin.

“Kau benar. Kita pasti bisa menyelamatkannya!”

-o0o-

H Y E N A

Oh ayolah, apakah tak ada lagi yang lebih buruk dari ini? Maksudku, hariku sudah cukup buruk dengan ditendang dari kelas Sejarah gara-gara Baek-hyun. Dan sekarang? Aku harus berputar-putar melewati koridor yang semuanya hampir mirip. Hidupku benar-benar sial!

Beberapa saat yang lalu, aku bertanya pada seorang penjaga sekolah untuk bisa menemukan ruang detensi. Penjaga tua berambut perak itu menjawab dengan acuh bahwa aku bisa menemukannya setelah berbelok di ujung lorong yang ada lukisan sekeranjang apel. Tapi semua koridor yang aku lewati semua ujungnya terdapat lukisan yang sama. Dan akhirnya aku terjebak di koridor panjang di lantai tiga.

Aku mendesah lelah, harusnya penjaga bodoh itu bilang di belokan ke berapa aku bisa menemukan ruangannya. Ah! Bodohnya aku karena aku langsung percaya padanya. Aku mulai menatap kembali ruangan yang berderet di depanku. Berusaha menemukan tulisan ruang detensi di pintu-pintu itu. Tapi aku tidak bisa menemukannya juga. Aku mulai kehilangan kesabaran. Sebenarnya di mana sih ruangan sialan itu?

Saat aku ingin berbalik pergi, mataku menangkap sesuatu. Aku memicingkan mataku, melihat lebih jelas ruangan paling ujung di koridor itu. Benar! Ada aura aneh yang melingkupi pintunya. Aura itu seperti sulur-sulur kabut ungu yang meliuk-liuk di seputar pintu. Aku bergidik, ingin segera lari dari tempat itu. Tapi tanpa aku sadari, kakiku malah membawaku lebih dekat.

Sulur aura itu menghilang saat aku memegang knop pintu. Aku menjauhkan tanganku dengan refleks, namun aku kembali mengulurkannya menyntuh knop pintu. Aku menelan ludah. Berusaha menimbang-nimbang keputusanku untuk masuk ke ruangan. Menghembuskan nafasku dengan berat, aku memberanikan memutar knop pintu dan masuk. Dan pemandangan di depanku mampu membuatku membeliakan mataku dengan maksimal.

Apa-apaan ini? Seumur hidupku aku tidak pernah merasakan kekuatan segelap ini. Aku ingin pingsan saja rasanya! Seluruh ruangan itu tertutup oleh kabut ungu yang terasa menyesakkan. Tekanan kekuatan yang ada di ruangan ini membuat kepalaku sedikit pusing.

Aku mengedarkan pandanganku. Dan di sana. Tepat di atas tempat tidur aku melihat Jong-in berbaring tidak berdaya dengan rantai mengikat kedua tangannya. Matanya terpejam dan mulutnya meneriakan erangan tertahan. Saat itu juga aku tahu, bahwa sumber aura ungu yang memenuhi ruangan itu berasal darinya.

Aku melangkah mendekat. Mengeryit ngeri saat bisa melihat kondisinya lebih jelas. Mukanya sangat pucat. Darah mengalir di sudut bibirnya. Seolah belum cukup, ada luka menganga yang cukup parah di pergelangan tangannya. Sedangkan sulur-sulur aura ungu itu keluar dari setiap bagian tubuhnya. Tanpa diberitahu pun aku tahu bahwa aura itu sedang menyiksanya. Dengan sangat menyakitkan!

Sesuatu di dalam dadaku berdenyut nyeri melihat kondisi Jong-in. Meskipun matanya terpejam, tapi aku tahu bahwa saat ini dia sedang berjuang. Aku melihatnya menggertakan giginya, lalu erangan tertahan keluar dari mulutnya. Kedua tangannya terkepal, lalu bergerak menggesek rantai dan mengenai lukanya. Aku tidak tahu kekuatan apa yang mendorongku. Yang aku tahu bahwa tanganku saat ini sudah mendarat di keningnya. Bergerak-gerak untuk mengusap keringat yang membasahi dahi Jong-in.

“Kau harus bertahan,” lirihku.

Aku tidak mengerti kenapa aku mengucapkannya, tapi aku merasa aku perlu mengatakannya.

“Kau benar-benar harus bertahan Kim Jong-in,” ulangku.

Waktu berlalu dengan erangan kesakitan yang sama. Entah sudah berapa lama aku ada di ruangan ini. Tapi selama waktu itu,  aku terus-terusan membisikan kata-kata menenangkan untuknya.

Alhasil, kerutan di kening Jong-in mulai mengendur. Erangan dari bibirnya pun berangsur-angsur menghilang. Dan yang membuatku terkejut, aura ungu itu sedikit demi sedikit mundur dan menghilang kembali ke tubuh Jong-in. Nafas pemuda itu juga perlahan-lahan mulai tenang. Namun, setelahnya aku melihat air mata yang mengalir dari sudut matanya. Tangannya bergerak-gerak. Berusaha menggapai sesuatu.

Aku segera menggerakan tanganku ke tangannya, dengan cepat dia menariknya. Rantai di tangannya pun cukup panjang sehingga dia bisa menggenggam tanganku. Sangat erat. Seolah-olah seluruh hidupnya bergantung pada tautan tangan kami.

“Jangan pergi..” lirihnya.

Aku terkesiap, sesuatu di dalam dadaku kembali berdenyut nyeri  mendengar perkataan Jong-in. Mendengar nada putus asa yang digunakannya membuatku merasa seseorang sedang meremas jantungku.

“Aku mohon jangan pergi. Jangan tinggalkan aku,” ulang Jong-in, tangisannya berubah semakin kencang.

Aku merasakan mataku memanas. Dan tanpa aku sadari air mata meleleh menuruni pipiku. Aku tidak tahu kenapa Jong-in menangis, tapi tangisan dan permohonanya membuatku ingin menangis bersamanya. Seolah aku mengerti beban berat yang sedang ditanggungnya. Ini benar-benar aneh! Tapi saat ini bukan saatnya aku memikirkan semua itu.

Aku kemudian menggerakan tanganku yang satunya untuk mengusap kening Jong-in lagi, berusaha menenangkannya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di sini. Di sisimu,” bisikku. Entah dari mana aku menemukan kata-kata itu. Tapi efek ucapanku berhasil.

Setelah aku mengatakannya, Jong-in mulai tenang. Nafasnya mulai teratur dan tangisan pun sudah berhenti. Namun, genggaman tangannya semakin erat.  Memancing perasaan dan keinginan baru yang mulai memenuhi dadaku.

Aku tidak tahu apa reaksinya kalau dia tahu aku ada di sini. Mungkin saja dia akan meneriakiku lagi atau berkomentar kasar padaku. Tapi aku tidak peduli. Untuk kali ini saja. Untuk kali ini aku ingin membiarkannya menggenggam tanganku. Karena dengan menggenggam tangannya seperti ini, aku merasa aman. Hal itu cukup mengejutkanku sebenarnya. Namun ada hal yang aku sadari kali ini yaitu…

Aku merasa aman ada di dekatnya!

Aku merasa aman ada di dekat Kim Jong In!

Jadi, biarkan aku menggengam tangannya. Untuk kali ini saja!

-TBC-

Huwaa, maaf ya chapter kali ini lebih pendek dari sebelumnya. Maaf juga kalo belum bisa munculin moment Jong-in sama Hye-na lebih banyak. Aku ingin hubungan mereka berjalan dengan pelan wkkwk

Pokoknya aku harap kalian suka sama chapter ini dan menyempatkan untuk membaca dan juga memberikan komentar. Jangan lupa untuk follow wattpad aku ya @96dreamgirl Sampai bertemu di part selanjutnya ^^

GLOSARIUM

Mutans : Makhluk abadi yang berasal dari manusia yang mengalami mutasi genetik akibat ledakan shapire stone seribu tahun yang lalu. Memiliki kekuatan supranatural, namun mereka memiliki masalah dalam mengendalikannya.

Avox : Avox adalah monster psikopat yang memburu Mutans untuk meningkatkan kekuatan dan memburu manusia untuk bertahan hidup. Hasil ekperimen yang gagal dari pembentukan Mutans baru.

Para Pemburu : Manusia yang memburu Avox dengan melumpuhkan mereka dengan cairan. Bermusuhan dengan Mutans karena dendam masa lalu.

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 5)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  2. apa yg terjadi 3 tahun yang lalau ? bagian terkhir di part ini bikin tersentuh dag dig dug.. miris sekali sama kai seperti naruto ya dia punya monster di tubuh nya suka ngamuk 😦
    btw aku kesel sama dedek baekhyun nyebelin ,nakal sangat
    masih banyak halhal yg belum terkuak masih misterius
    jadi aku selalu menunggu kelanjutan nya fighting ^_^

    • Wah sepertinya kyubi juga ada di tubuh Kai wkwkwk makasih banyak ya udah nyempetin baca dan komen. Terus ikutin ceritanya ya 😊😉😘

  3. Sumpah aku ikut nangis di part terakhir😭😭😭, jangan nangis apa malikaa,, gue jadi ikutan sedih😭 jongin ahh Fighting😢😚😚😚😚💪❤❤
    Next kak😭

    • *lempar tisu* uljimayooo wkwkk makasih ya udah nyempetin baca dan komen, terus ikutin ceritanya ya 😉😊😘

  4. Trauma apa sih yang dialami kai, sampe-sampe kekuatan kai gak bisa disegel. Terus kenapa waktu hyena datang ngehampirin kai, kai langsung bisa tenang. Masih banyak rahasia yang belum terungkap. Pokoknya ditunggu kelanjutannya terus.

    • Itu semua akan terjawab di part yg akan datang. Terus ikutin ya ceritanya. Dan makasih banyak udah nyempetin baca dan komen 😉😊😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s