[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 8)

ENDING SCENE

Author :

Angeline

Main Cast :

Park Chanyeol x Wendy Son

Additional Cast :

Kim Saejong| Do Kyungsoo| (OC) Yoon Rae Na| Yook Sungjae a.k.a Park Sungjae|Amber Liu| Etc~

Rating : PG-17 |Length : Series Fic

Genre : Romance|AU|Angst|Sad|Adult|Married life

Disclaimer :

Ff ini murni karya tulis author. Jika ada kesamaan dalam cerita, tokoh atau apa pun, Itu semua bukan unsur plagiat melainkan ketidaksengajaan. Don’t copas without permission. Thankyou

Summary :

Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu bukan hanya untukmu? Melainkan kau harus rela membaginya dengan seorang gadis lumpuh?. Dan peranmu yang tadinya sebagai korban harus terganti menjadi peran penjahat yang seakan-akan telah merebut kebahagiaan seseorang.

-Chapter 8-

4 YEARS AGO

Matahari memancarkan cahayanya. Seorang pria yang berbalut selimut berwarna putih, tengah meringkuk di bawah sana, saat merasa ada sinar matahari yang menganggu tidurnya. Park Chanyeeol membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjapkan mata beratnya, yang sebenarnya enggan untuk ia buka karena masih mengantuk. Chanyeol tersadar, jika ia tidak berada di kamarnya. Sebuah kamar baru dengan nuansa asing untuknya. Dimana ia? Ah, kepalanya juga berdenyut nyeri. Ia mengingat semalam ia berada di pesta bersama Rae na, dan berakhir dengan mabuk berat.

DEG!

Chanyeol membelalak kaget saat melihat bahwa tubuhnya tidak memakai kemejanya. Hanya celana panjangnya saja. Mengapa bisa, ia toples seperti ini? Chanyeol tidak sengaja menyentuh tangan seseorang, sontak ia menoleh ke samping. Dan betapa terkejutnya ia saat menatap seorang gadis yang tertidur di sebelahnya. Apalagi saat Chanyeol tahu, gadis itu adalah Rae na.  Jantungnya berdetak sangat cepat sekarang, rasa khawatir dan cemas menghampiri pikirannya. Ia tidak melakuan hal keji itu bukan? Mengapa juga Rae na memakai kemejanya? Tidak! jangan sampai.

“Eungh–“ Lenguh gadis itu, kemudian mengerjapkan matanya. Rae na menatap Chanyeol yang sudah terduduk, dan menatapnya dengan pandangan terkejut. Sontak Rae na menegakkan tubuhnya, namun Chanyeol mengalihkan pandangannya ke samping. Ia tidak mau menatap Rae na rasanya.

“Chanyeol-ssi.” Panggil Rae na, namun Chanyeol tidak menjawabnya.

“Katakan jika kita tidak melakukannya?”

Rae na memutar ingatannya, pada apa yang terjadi semalam. Hingga pikirannya mengingat dengan jelas semua adegan yang terjadi. Rasanya sangat takut mengatakannya pada Chanyeol. Terlebih Chanyeol sangat marah nampaknya. Rae na benar-benar takut menatap Chanyeol seperti ini. Apalagi harus menjelaskan apa yang terjadi.

“Aku berharap seperti itu, tapi–“

“KAU BOHONG! KAU PASTI BOHONG!” Teriak Chanyeol kemudian berdiri sambil mengacak frustasi rambutnya.

“Maafkan aku Chanyeol, tapi tadi malam kau sangat mabuk dan tidak sadar melakukannya.” Suara parau Rae na, membuat mental Chanyeol semakin down saja rasanya. Jadi benar? Ia melakukan hal nista itu dengan Rae na? Namun mengapa ia tidak percaya akan semua ini?

“Ya Tuhan!” Geram Chanyeol sambil memukul dinding dengan keras.

Rae na terkejut. Ada rasa menyesal ia harus terikat sesuatu dengan Chanyeol dengan cara seperti ini, ia memang perempuan tidak tahu diri mungkin? Namun ia juga tidak bisa melakukan apa pun saat ini. Tentu Rae na menyesal rasanya, ingin ia memutar balik waktu. Namun itu tidak mungkin.

‘Maafkan aku Chanyeol.’ Batin Rae na menyesal.

“Sialan!” Bentak Chanyeol lagi.

Chanyeol menatap enggan seorang gadis selama satu minggu itu, ia abaikan. Dan kini, gadis itu berada di depannya. Bahkan sedari tadi, Chanyeol hanya mengedarkan pandangannya ke arah lain, nampak malas menatap sang gadis. Chanyeol sempat berpikir, gadis ini sangat berani menginjakkan kaki di studionya. Bagaimana jika Wendy datang dan melihat mereka? Chanyeol benar-benar tidak bisa membayangkannya lagi. Sungguh, ia menyesal bertemu, sekaligus berkenalan dengan gadis ini. Rasanya benar-benar membuatnya kesal hingga sampai ke ubun-ubun jika dibilang. Mengapa takdir mempertemukannya dengan gadis ini? Benar-benar sialan.

“Ada apa?” Suara berat Chanyeol, membuka percakapan. Sontak gadis bernama Rae na itu menggigit bibir bawahnya dengan banyak keraguan yang ada di hatinya. Sungguh, ia ragu mengucapkan sepatah kalimat kepada Chanyeol saat ini. Ia takut, kemarahan pria itu, akan semakin memuncak saja. Tapi mau bagaimana lagi? Semua ini harus dibicarakan.

“Chanyeol, aku– hamil.” Rae na menunduk takut.

DEG!

Apa katanya? Hamil? Omong kosong apa lagi yang Chanyeol dengar, dari bibir gadis itu? Apa memang niatan Rae na menghancurkan kehidupannya huh? Atau memang Rae na sedang menjebaknya? Karena sampai sekarang, Chanyeol tidak pernah percaya, ia melakukan hal menjijikan itu. Ia tidak bisa percaya pada gadis itu. Ia yakin tidak terjadi apa-apa malam itu bersama Rae na. Ya, meski Chanyeol tahu jika ia bangun dengan keadaan yang menunjukkan jika semalam mereka melakukannya, tapi tidak! Chanyeol yakin jika ia tidak melakukan apa pun.

“Berhenti berbohong!” Tegas Chanyeol dengan amarahnya.

Rae na menggeleng cepat, sambil menunjukkan sebuah hasil testpack pada Chanyeol. Namun Chanyeol enggan menatap alat tes kehamilan itu. Rasanya muak dan ia benar-benar jijik. Sungguh, hatinya benar-benar kacau dan tidak bisa memikirkan hal jernih apa pun. Semua dipenuhi rasa takut, frustasi dan penyesalan. Rasanya Chanyeol ingin bilang pada Rae na untuk menggugurkan anak itu, namun dalam hati kecilnya seperti merasa iba pada janin tidak berdosa itu. Tapi, Chanyeol memiliki kehidupan bersama seseorang. Dan Chanyeol benar-benar tidak bisa melepaskan gadisnya sampai kapan pun. Berbeda, jika Chanyeol memang tidak memiliki kekasih. Mungkin saja ia sudah bertanggung jawab, jika benar.

“Maaf. Tapi aku tidak bisa–“

“Aku mohon, jangan biarkan aku menanggungnya sendiri.” Ucap Rae na menangis tersedu-sedu. Chanyeol ingin mengumpat dengan keras rasanya. Jika saja waktu kembali berputar, ia tidak akan pernah mau bertemu gadis ini. Mengapa takdir sekejam ini padanya? Dan lagi, ini karena ulah sahabatnya Mino. Benar-benar sialan.

Chanyeol hendak pergi, namun Rae na langsung menahan tangan Chanyeol saat merasa pria itu mau meninggalkannya. Chanyeol menghela nafasnya, kemudian melepaskan tangan Rae na dengan pelan. Tidak berniat mengkasari seorang gadis. Meski ia memang sangat marah dengan apa yang terjadi saat ini.

“Aku mohon Chanyeol.” Ucap Rae na sambil terus menangis.

“Maaf, aku memiliki kekasih. Dan aku sangat mencintainya. Dan kutekankan sekali lagi, jika dia bukan anakku!” Tegas Chanyeol pada Rae na. seketika gadis Yoon itu mengangkat wajahnya dengan terlihat marah dan kecewa pada jawaban Chanyeol barusan.

“PARK CHANYEOL INI ANAKMU!” Teriak Rae na yang sudah frustasi rasanya.

Seketika Chanyeol membeku rasanya. Namun bukan karena teriakan Rae na yang keras, bahkan seperti memakai pengeras suara, untung saja mereka ada di luar gedung studio, hingga tidak ada yang mendengarnya. Namun Chanyeol tidak mempermasalahkan tentang orang lain. Karena ia melihat seseorang di depannya, yang kini berdiri mematung tak jauh darinya. Chanyeol merasa di tampar begitu keras, melihat sosok gadis dengan seragam sekolahnya, lengkap dengan tas runsel birunya. Gadis dengan surai hitam bergelombang yang begitu indah di mata Chanyeol.

Wendy.” Lirih Chanyeol seperti berbisik.

Ya, Wendy sang kekasih berada di sana. Dan gadis itu tidak sendiri, karena di sampingnya terlihat Kyungsoo dan Amber. Nampaknya, mereka sehabis pulang sekolah, dan sengaja mengantar Wendy untuk bertemu Chanyeol di sini. Namun yang mereka terlihat shock saat ini.

Tentu saja mereka shock, mendengar seorang gadis berteriak pernyataan mengerikan mengenai ‘Anak Park Chanyeol’. Apa mereka tidak salah dengar? Bahkan mereka berharap, mereka salah dengar dan gadis yang berteriak itu, tidak ada hubungannya dengan Chanyeol.

Chanyeol segera berjalan mendekati Wendy, menggenggam tangan gadis itu untuk memohon mendengarkan penjelasan Chanyeol. Semua penjelasan dari bibir pria itu. Rae na pun ikut membalikkan tubuhnya menatap Chanyeol dan Wendy. Ada sedikit rasa takut, dan cemas di dalam hati gadis Yoon itu.

“Yeo –lie.” Kata Wendy terbata. Chanyeol sungguh tahu, apa yang gadis ini hendak ucapkan. Chanyeol tahu, jika Wendy tidak hanya sekedar ingin memanggil namanya seperti itu. Namun gadis ini, ingin bertanya banyak hal mengenai teriakan Rae na barusan.

“Sayang–“

“Kau kekasihnya?” Suara Rae na membuat atensi mereka beralih pada gadis Yoon itu. Chanyeol menatap geram pada Rae na. Mengapa gadis itu ikut campur saat ini? Sialan. Batin Chanyeol menggeram.

“Siapa kau, dan kenapa kau bertemu dengan kekasihku? Dan apa maksud dari perkataanmu barusan?” Wendy bersuara dengan menatap Rae na.

“Aku–“

“Kita pergi saja dari sini hm? Ayo Wen.” Ucap Chanyeol memotong perkataan Rae na, namun Rae na lebih dulu menahan tangan pria itu. Dengan kesabaran yang sudah menembus batas, Chanyeol menghempaskan tangan Rae na dengan kasar, membuat Rae na tersentak mendapat perlakuan itu.

“JANGAN MENGGANGGUKU!” Teriak Chanyeol, membuat mereka terkejut akan hal itu. Mengapa Chanyeol sangat marah pada gadis ini? Mereka bingung dengan berbagai pemikiran di kepala mereka.

“KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB!” Teriak Rae na tidak kalah keras. Membuat Kyungsoo dan Amber menutup mulut mereka. Apa maksud gadis ini bertanggung jawab? Wendy semakin merasa sesak di dadanya. Air matanya hendak jatuh, namun ia masih memilih menahannya. Sebenarnya apa yang sudah Chanyeol lakukan? Apa Wendy salah jika berpikir kekasihnya itu sudah melakukan hal yang tidak-tidak dengan gadis ini? Wendy takut dan bingung.

“Yeolie, apa maksud semua ini?” Wendy menatap sorot mata Chanyeol dengan wajah kecewanya.

“Sayang, kau harus percaya padaku.”

“Kami tidur bersama!” Ujar Rae na membuat Wendy menegang sempurna. Apa kata gadis itu barusan? Tidur bersama?

“YAK!” Bentak Chanyeol pada Rae na.

Wendy melepaskan tangan Chanyeol dari pergelangan tangannya. Chanyeol segera menatap gadis itu dengan wajah sedihnya. Sungguh, Chanyeol tidak melakukannya sama sekali.

“Apa yang sudah k-kau lakukan Yeolie?” Suara Wendy terdengar bergetar menahan tangisnya, yang sedikit lagi memecah.

“Wendy, aku–“

“JAWAB!” Teriak Wendy frustasi. Kini air matanya sudah membanjiri pipinya. Chanyeol benar-benar tidak bisa melihat gadisnya menangis seperti ini. Benar-benar menyayat hatinya, dan membuatnya begitu terluka. Chanyeol mengacak surainya dengan kasar, sekilas ia menatap Rae na yang juga diam dengan pikirannya sendiri. Betapa sialnya ia harus mengenal Rae na.

Shit.

“Itu bukan aku Wendy. Percayalah padaku sayang. Aku tidak mungkin mengkhianatimu seperti ini.”Kata Chanyeol sambil memegang pundak Wendy dan sedikit meremasnya dengan sayang. Chanyeol ingin Wendy percaya padanya. Bisakah itu terjadi? Tapi melihat Wendy yang semakin menangis, Chanyeol seakan tahu jawabannya, bahwa gadis itu sulit percaya dengan semua perkataan kotor gadis Yoon itu.

“Kau berbohong kan?” Seru Kyungsoo seketika pada gadis bernama Rae na itu. Mereka semua langsung menatap Rae na bersamaan.Wendy yang masih terisak juga menatap Rae na.

“Tidak! Aku tidak berbohong sama sekali. Kau bisa bertanya pada Chanyeol.” Kata Rae na menggeleng.

“Kalau begitu lakukan tes DNA.” Kata Amber. Dan Chanyeol segera mengangguk setuju dengan itu. Karena sejujurnya ia memang merasa tidak melakukan hubungan itu dengan Rae na.

Myungwoo University Hospital, 20th June 2012

Chanyeol memeluk Wendy yang nampak nyaman dalam pelukan pria itu. setelah 2 minggu lalu mengadakan tes DNA mengenai anak yang dikandung Rae na, rasanya hati Chanyeol sedikit melega. Ia yakin jika anak itu bukan anaknya, dan ia tidak pernah melakukan apa-apa pada Rae na. Chanyeol yakin itu.

Chanyeol mencium puncak kepala Wendy dengan lembut, dan mengusap surai hitam gadis itu dengan sayang. Rae na yang melihatnya hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat. Ia membenci kemesraan mereka. Rae na merasa, Wendy terlalu beruntung memiliki Chanyeol.

Sialan.

Amber dan Kyungsoo juga berada di sana menemani Wendy. Mereka berdua nampak gugup menunggu hasil tes itu keluar. Khususnya Amber yang merasa tidak tenang sedari tadi, rasanya perasaan benar-benar tidak enak saat ini. Kyungsoo yang melihat itu, hanya bisa menenangkan sahabatnya tersebut, “Kau baik-baik saja?” Tanya Kyungsoo pada Amber. Dan gadis itu menggeleng, “Aku memiliki firasat buruk.” Ucap Amber menggeleng.

“Lihatlah, Chanyeol tidak terlihat takut. Aku rasa ia memang berkata jujur.” Ucap Kyungsoo sambil menatap Chanyeol. Tentu saja Chanyeol tenang-tenang saja. Namun Amber menggeleng dan menggenggam tangan Kyungsoo.

“Bukan Chanyeol, tapi gadis itu. kau lihat expresinya? Dia juga terlihat sangat tenang.” Jawab Amber, membuat Kyungsoo mengedarkan atensinya pada Rae na. Ya, gadis itu terlihat sangat tenang. Jika begini, siapa yang harus dipercaya? Chanyeol atau Rae na? Jika salah satunya berbohong, semestinya ada expresi takut di wajah salah satu dari mereka.

Kriet

Sebuah pintu ruangan Lab terbuka, menampilkan seorang dokter perempuan di sana. Mereka segera berdiri dan menghampiri sang dokter. Sang dokter melepaskan masker di wajahnya, sambil memberikan surat itu pada Chanyeol. Pria Park itu menghembuskan nafasnya, kemudian dengan santai ia membuka amplop putih itu. Semua akan berakhir sebentar lagi.

DEG!

Mata mereka membulat sempurna saat membaca keterangan hasil tes DNA itu. Kyungsoo dan Amber saling berpandangan, sedang Wendy merasa kakinya lemas untuk berdiri. Chanyeol ikut melongo membaca kertas putih itu.

“Hasil tes DNA menunjukkan 99.9% Janin nyonya Yoon Rae na cocok dengan tuan Park Chanyeol.” Jelas sang dokter kemudian pergi dari sana.

“Jadi benar?” Wendy memegang kepalanya yang terasa pusing.

“Wendy. Ini pasti rekayasa. Aku bersumpah jika aku tidak mela-“

“CUKUP! AKU MEMBENCIMU!”

PLAK

Sebuah tamparan keras mengenai pipi Chanyeol, yang berasal dari tangan kecil Wendy. Tentu itu mengejutkan beberapa orang yang ada di sana. Chanyeol menghela nafasnya, sambil memegang pipi kirinya yang terasa perih. Wendy mungkin benar-benar sangat benci padanya.

PUK

Wendy memukul-mukul dada Chanyeol secara berulang-ulang, juga dengan keras. Kyungsoo dan Amber segera menenangkan gadis itu.

“Wendy, hentikan!” Seru Kyungsoo.

“Aku benci padamu! Aku benar-benar–“

“WENDY!” Pekik Amber dan Kyungsoo bersama, saat gadis itu jatuh pingsan.

Chanyeol memegang tangan Wendy dengan lembut, mencium tangan kekasihnya itu dengan sayang. Meski begitu, pikiran Chanyeol tidak henti-hentinya memikirkan hasil tes DNA sialan itu. Mengapa bisa cocok? Padahal ia begitu yakin dengan pemikirannya. Ya, ia tidak menyentuh Rae na sama sekali.

Chanyeol tersenyum saat gadisnya mulai membuka matanya. Chanyeol mengusap pipi Wendy dengan sayang, Wendy yang sudah tersadar menatap Chanyeol yang berada di sampingnya. Gadis itu sadar jika ia berada di kamarnya saat ini. Terlihat Amber dan Kyungsoo di sana. Wendy berusaha mengingat mengapa ia bisa pingsan? Ah, benar sekali! Itu karena tes DNA sialan itu. Wendy segera menegakkan tubuhnya. Dan menatap Chanyeol, namun Wendy melepaskan genggaman Chanyeol dari tangannya. Membuat Chanyeol terluka.

“Wen–“

“Pergi dari sini.”

“Sayang aku mohon–“

“BERHENTI MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN ITU! KARENA ITU MENJIJIKKAN!” Teriak Wendy sambil menangis dengan hebat.

“Wendy.” Lirih Chanyeol.

“Lebih baik kau pergi Yeol.” Seru Kyungsoo sambil memegang pundak Chanyeol.

Chanyeol mengangguk dan segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah Wendy. kini tinggal Wendy beserta kedua sahabatnya itu. Dan setelah kepergian Chanyeol, Wendy mulai menangis sejadi-jadinya. Amber segera memeluk tubuh Wendy, dan menenangkannya. Namun gadis itu meronta dan melepaskan pelukan Amber. Wendy bahkan membuang seluruh barang yang berada di meja samping ranjangnya. Amber dan Kyungsoo terus berusaha menghentikan Wendy yang begitu frustasi rasanya. Gadis itu menangis seperti orang gila, yang bahkan membuat Kyungsoo dan Amber tidak percaya melihat Wendy seperti ini.

“Wendy hentikan. Kami mohon.” Ucap Kyungsoo menghentikan tangan Wendy yang membuang barang-barangnya sendiri.

“BRENGSEK! BAJINGAN! AKU MEMBENCIMU!” Teriak Wendy histeris.

2 weeks later

Amber menyiapkan beberapa potong roti di atas meja, dan juga 3 gelas susu. Amber tersenyum saat semua sarapan ini telah siap. Hingga matanya menatap seseorang yang memasuki rumah. Ya, Kyungsoo! Amber tersenyum. Kyungsoo yang melihat Amber sudah dengan baik hati, menyiapkan sarapan langsung mendaratkan bokongnya pada salah satu kursi. Dan saat Kyungsoo hendak mengambil sepotong roti–

PLAK

Kyungsoo meringis sambil menatap Amber dengan kesal, gadis itu memukul tangannya dengan keras. Kyungsoo benar-benar kesal karena itu. Lantas pria berkaca mata itu langsung meniup-niup tanganya yang habis di pukul oleh Amber.

“Kita harus menunggu Wendy.” Kata Amber terkekeh, kemudian melangkah pergi untuk menuju kamar Wendy. Mengajak gadis itu untuk sarapan bersama.

Cekrek.

Amber membuka kamar itu, dan menatap seorang gadis yang tengah memakai sepatunya. Amber tersenyum dan segera menyandarkan punggungnya pada pintu, dengan menyilangkan tangannya di depan dada. Wendy yang menyadari, keberadaan seseorang di kamarnya, lantas mengangkat wajahnya. Tanpa expresi, Wendy segera mengambil tasnya dan keluar melewati Amber begitu saja. Benar-benar rasanya, Amber ingin melempar gadis itu dengan sepatu miliknya. Pasalnya sudah hampir 2 minggu, Wendy terus bersikap cuek pada semua orang.

Wendy menatap Kyungsoo yang sudah berada di meja makan. Kyungsoo tersenyum hangat pada Wendy, namun gadis itu tidak menyambut ramah sama sekali senyuman Kyungsoo. Amber yang juga sudah berada di sana, hanya mengkode pada Kyungsoo jika Wendy masih sama seperti biasa.

Menyebalkan.

“Sampai kapan kau seperti ini?” Tanya Kyungsoo menyeruput susu hangatnya.

“Tidak tahu.” Ujar Wendy pelan, kemudian mendudukkan dirinya di salah satu kursi. Amber juga ikut duduk di sana.

“Kau benar-benar menyebalkan Wendy. Kau tahu itu? Lupakan Chanyeol. Dia tidak pantas untukmu.” Ucap Amber sambil menggigit roti bakarnya.

Diam.

Ya, gadis itu hanya diam tanpa merespon perkataan Amber. Lantas, mereka hanya mendesah berat. Wendy benar-benar keras kepala. Dan semua itu karena Chanyeol. Mengingat setiap kali Chanyeol ingin menemui Wendy, Chanyeol selalu berakhir mendapat cacian dan makian, juga sebuah tamparan keras dari Wendy. Sebegitu bencikah Wendy pada Chanyeol?

Ring ring.

Amber menatap suara telfon rumah yang berdering. Hingga mereka melihat, seorang pelayan berjalan menghampiri telfon itu, untuk mengangkatnya.

“Yeobeoseyo?”

“…”

“Ah, ne tuan.” Sang ajhuma menatap Wendy.

“Nona, ini tuan Son.” Ucap sang ajhuma kemudian memberikan telfon itu pada Wendy.

“Kau berbohong kan?” Seru Chanyeol datar, sambil membelakangi tubuh Rae na. Kini mereka berada di rumah Rae na. Chanyeol masih, tidak percaya dengan semua ini. Ia tidak percaya dengan tes DNA, dan ia masih menganggap semua ini adalah kebohongan belaka. Benarkan?

“Sampai kapan kau mau mengelak? Semua sudah jelas Chanyeol! Ini anakmu. Apa lagi yang harus aku buktikan?” Ucap Rae na memegangi perutnya yang sudah sedikit berisi. Rasanya juga sedikit kecewa, Chanyeol terus mengelak. Namun bukankah harusnya begitu? Ini bukanlah sesuatu yang harusnya menjadi tanggung jawab Chanyeol, kau hanya menjebaknya agar kau tidak jatuh sendirian.

“Sialan! Ini karenamu! Jika saja kau tidak menyuruhku minum saat itu, semua tidak akan terjadi! Ini semua salahmu!” Teriak Chanyeol kemudian berjalan menuju pintu keluar. Chanyeol membuka dengan kasar pintu itu. Rae na mengejar Chanyeol, berusaha membicarakan semua ini baik-baik. Namun sepertinya pria Park itu memang tidak bisa menerima segala fakta pahit ini.

“PARK CHANYEOL!” Teriak Rae na pada Chanyeol, yang sudah berjalan ke arah mobilnya yang berada di seb’rang jalan. Namun Chanyeol tidak mau mendengar panggilan gadis itu. Rae na mencoba menggapai Chanyeol, dengan mengikuti pria itu untuk menyebrang jalan.

“CHANYEOL–“

BRAK

Suara hantaman keras, khas sebuah tabrakan membuat Chanyeol langsung membalikkan tubuhnya ke belakang.  Chanyeol membulatkan matanya, saat menatap Rae na terkapar di jalanan, dengan darah yang sudah mengalir dari kepalanya dan bagian tubuhnya yang lain. Beberapa orang sudah berkerumun di sana mengelilingi Rae na. Beberapa dari mereka, juga sudah menelfon ambulance untuk segera datang. Chanyeol segera berlari mendapatkan Rae na, ia menabrak kerumunan orang-orang, dan mendekap tubuh Rae na.

“Yak! Yoon Rae na!” Seru Chanyeol khawatir.

Beberapa menit menunggu ambulance, Chanyeol segera bernafas lega karena mobil ambulance itu sudah datang. Segera para tim medis mengangkat tubuh Rae na dan memasukkannya ke dalam mobil ambulance itu. Chanyeol juga segera menancap gas mobilnya untuk mengikuti ambulance itu. Kini pikirannya semakin kalut saja, perasaan memancarkan kecemasan yang lebih besar ketimbang sebelumnya. Mengapa semua menjadi sesulit ini? Chanyeol tidak mengharapkan sebuah drama seperti ini, namun takdir seperti sengaja memberikan ujian yang begitu berat untuknya.

Chanyeol mondar mandir di depan ruangan operasi. Tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Chanyeol hanya mengangguk cepat saat seorang dokter meminta ijin untuk mengoperasi Rae na sesegera mungkin. Yang Chanyeol harapkan hanyalah, gadis itu baik-baik saja. Meski ia memang marah pada Rae na, namun Chanyeol tidak sejahat itu dan mendoakan agar Rae na mati saja saat di operasi. Tidak! Chanyeol bukan orang seperti itu.

Chanyeol semakin cemas, saat pintu ruangan operasi itu tidak kunjung terbuka. Apa memang keadaaanya sangat kritis? Chanyeol hanya berdoa agar semua tidak menjadi semakin buruk di dalam sana. Ini sudah hampir 4 jam, dan belum ada tanda-tanda dokter yang menemuinya. Ya Tuhan, Chanyeol semakin frustasi rasanya.

Sreet.

Pintu ruang operasi terbuka, dan sontak menyadarkan Chanyeol dari kecemasannya. Chanyeol segera menghampiri dokter itu dengan berharap bahwa dokter itu membawa kabar baik untuknya. Tidak ada salahnya untuk berharap kan?

“Bagaimana Seonsaengnim?” Tanya Chanyeol benar-benar tidak sabar mengetahui kondisi Rae na.

“Bayinya meninggal, dan kami sudah mengeluarkannya. Kemudian– 10 Ruas tulang belakang bagian punggungnya patah, sehingga mengganggu system kerja syarafnya. Tapi jangan khawatir, karena kami berhasil melakukan operasi stabilisasi pada tulang belakangnya yang patah. Namun nona Rae na, dipastikan akan mengalami kelumpuhan. Maaf harus mendengar kabar buruk ini.”

DEG!

Chanyeol seperti kehilangan nyawanya. Bayinya meninggal, dan Rae na sekarang lumpuh. Demi Tuhan, cobaan apa lagi yang diterimanya? Ada rasa kehilangan saat mendengar dokter berkata jika bayinya tidak bisa diselamatkan. Tentu saja, tabrakan itu sangat keras. Chanyeol sendiri mendengar suara hantaman itu. Dan mengapa rasanya, ia menyesal sudah menolak anak tersebut? Seorang anak yang tidak berdosa, harus kehilangan nyawanya. Chanyeol merasa bersalah dan menyesal. Dan lagi, ia lebih kasihan pada Rae na. Gadis itu kehilangan bayinya, dan juga kehilangan kedua kakinya. Alias lumpuh. Apa gadis itu siap menghadapinya? Apa ia memiliki mental yang kuat untuk menerima semua ini? Chanyeol rasa tidak.

“Apa ia bisa kembali berjalan?” Tanya Chanyeol, berharap masih bisa memberikan secercah harapan untuk Rae na.

“Bisa dengan mengikuti fisioterapi yang rutin. Mungkin akan lama untuk sembuh, namun itu memungkinkan. Dan juga, kau harus terus menyemangatinya untuk berusaha sembuh, karena psikologi pasien juga merupakan faktor utama dalam penyembuhannya. Semakin ia semangat untuk sembut, semakin cepat kesembuhannya.”

“Terimakasih seonsaengnim.” Kata Chanyeol membukukkan badannya pada dokter itu.

Chanyeol duduk di sebuah kursi dekat ranjang rumah sakit dimana Rae na berbaring di sana. Wajah pucat gadis itu, mengukir sebuah rasa iba di hati Chanyeol. Bahkan mengingat bayi mereka sudah tiada, membuat pukulan keras untuk Chanyeol. Rasanya pria itu benar-benar jahat, terus menolak mentah-mentah bayi yang sudah terbukti anaknya itu. ia terus mendorong Rae na menjauh, padahal gadis itu hanya meminta pertanggung jawaban darinya.

Pengecut.

Mungkin itulah kata yang pantas Chanyeol sandang sekarang. Rasanya ia memang lelaki biadab yang pengecut, dan lari dari tnaggung jawab. Setidaknya itulah yang Chanyeol pikirkan tentang dirinya saat ini. Chanyeol menghela nafasnya, ia merindukan Wendy disela-sela ia menjaga Rae na. Gadis yang sudah tidak ia temui hampir seminggu ini, karena gadis itu terus mendepaknya saat mereka bertemu.

“Maafkan aku Rae na-ssi.” Seru Chanyeol sambil mengusap lembut jemari Rae na.

Sungjae menatap beberapa buku di atas meja. Saat ini, ia sedang berada di perpustakaan sekolahnya. Seperti biasa, mengerjakan tugas seorang diri dengan tenang dan damai. Itulah yang selalu ia rindukan. Sebuah music classic yang terputar melalui ear phone miliknya, menambah ketenangan jiwa untuknya.

PLAK

Sungjae tertegun sesaat, karena merasa ada yang memukul kepalanya. Lantas, pria itu menoleh ke belakanga dan menemukan Amber di sana yang asik tertawa dengan santainya. Sungjae melepaskan ear phone miliknya, dan segera melayangkan jitakan kuat pada kepala Amber, dengan maksud pembalasan dendam.

Amber tentu meringis, lantaran Sungjae memang menjitaknya dengan segenap hati.

Shit. Ini sangat sakit bodoh!” Ringis Amber memegangi kepalanya. Sungjae tidak menggubrisnya, dan kembali duduk di kursi santainya.

Amber pun mengikuti Sungjae dan duduk di depan pria itu, kemudian memperhatikan kegiatan Sungjae sebagai murid dan ketua osis teladan. Cih, itu membosankan untuk Amber. Belajar tanpa henti, hanya untuk mendapatkan sebuah peringkat, menurut Amber terlalu membosankan. Bukankah mereka masih muda, dan harusnya hidup dengan kesenangan?

“Bagaimana dengan Chanyeol?”

Appa dan eomma masih tidak berbicara dengannya. Mungkin mereka masih shock dengan apa yang terjadi. Aku sempat terkejut, saat appa memukulnya dengan ikat pinggang seperti halnya dia masih bocah berumur 12 tahun. Punggungnya sangat lebam, dan eomma terus menangis karena itu. Aku benar-benar kasihan pada Chanyeol hyung.”

“Aku juga benar-benar kasihan padanya. Lalu? Apa dia masih merawat Rae na?”

“Ya. Dia datang ke rumah sakit hampir setiap hari. Kau tahu, aku tidak tahan melihatnya menderita. Apa mungkin kita beritahu saja pada Wendy?”

Are u crazy? Kau tahu aku mengkhianati Kyungsoo karena ini. Dan kau mau mengatakannya dengan gampang? Kau sadar, jika Kyungsoo tahu aku menyembunyikan hal ini darinya, ia akan membunuhku dengan segera! Ini hal besar Sungjae-ah, kau tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan! Aku membantumu karena kau adalah salah satu teman baikku. Aku tahu, jika ini salah. Namun, ini kesempatanmu.”

“Kau benar. Hah, aku terlihat lemah kan?” Sungjae mendesah kecewa pada dirinya sendiri.

“Ada Wendy!” Seru Amber setengah berbisik. Dan Sungjae yang mendengar nama Wendy, langsung mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangannya untuk menatap gadis cantik bernama Wendy itu. Detik berikutnya, Sungjae tersenyum manis dan penuh kehangatan, melihat gadis bermarga Son itu sedang mencari beberapa buku di rak. Ah, bahkan melihatnya dari jauh, membuat jantung Sungjae berdegub dengan cepat. Kau benar-benar jatuh cinta padanya.

“Kapan kau akan mengatakan perasaanmu padanya?” Sungjae tersenyum kecil sambil masih memandang Wendy dari kejauhan.

“Tidak sekarang.” Ucap Sungjae menopang tangannya di dagu.

Heol. Jadi kapan tepatnya? Hei! Kesempatan tidak datang dua kali. Kau harus cepat bertindak! Aku ragu, kau memiliki kesempatan lain, selain saat ini.” Kata Amber sambil ikut memandang Wendy dari kejauhan

“Amber. Aku yakin, jika aku memintanya untuk berpacaran denganku sekarang, Wendy tidak akan menerimanya. Kau sadar? Gadis itu terlalu mencintai hyungku.” Kata Sungjae tersenyum masam, kemudian melanjutkan kata-katanya “Tapi aku yakin, suatu saat aku akan memiliki kesempatan untuk memilikinya.” Sungjae tersenyum saat gadis Son itu sudah berjalan keluar dari perpustakaan.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Tanya Amber pada mereka semua.

Chanyeol menoleh singkat, pada Amber dan Kyungsoo. Kemudian kembali menatap gadis yang tengah mengandung anaknya itu. Chanyeol mengusap bibir Wendy sebentar sambil tersenyum.

“Kita rahasiakan untuk sementara waktu.” Ucap Chanyeol mengenggam lembut jemari Wendy, dan meremasnya dengan sayang.

“Sampai kapan? Chanyeol! Dia sedang hamil, dan perutnya akan semakin membesar. Kau tahu itu kan?” Amber tidak setuju dengan ucapan Chanyeol. Menyembunyikan kehamilan Wendy sampai kapan? Apa sampai Wendy melahirkan? Tidak mungkin kan? Chanyeol menghela nafasnya lalu berdiri, sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana hitamnya.

“Aku tahu. Sebab itu aku meminta kalian untuk merahasiakannya dulu, karena aku harus berpikir.” Ucap Chanyeol mengusap rambut Wendy dengan sayang.

“Tapi–“

“Amber!” Seru Kyungsoo sambil menggeleng pelan pada gadis tomboy itu. Kyungsoo benar-benar tahu, Amber tidak mau melakukan hal ini. Apalagi ini adalah permintaan Chanyeol, pria yang membuat Amber kesal karena sudah membuat sahabatnya menderita selama 4 tahun.

“Ikut aku.” Kata Kyungsoo kemudian menarik tangan Amber keluar dari ruangan itu. Chanyeol dan Wendy hanya saling berpandangan tidak mengerti, apa yang keduanya hendak bicarakan secara privasi. Yang jelas, Chanyeol saat ini tengah bahagia mengetahui gadisnya tengah mengandung sang buah hati.

“Kau mau menamai anak kita siapa?” Tanya Chanyeol sambil mengelus perut datar Wendy. Gadis itu tersenyum geli, kemudian mendekat pada Chanyeol, sambil bergelayut manja di lengan kekar pria itu, “Aku belum memikirkannya. Saat ini aku hanya ingin ia lahir dengan sehat.” Wendy tersenyum penuh arti, namun detik selanjutnya wajahnya murung dan tidak bersemengat, membuat Chanyeol ikut khawatir.

“Ada apa sayang?” Tanya Chanyeol membelai lembut pipi chubby Wendy.

“Aku takut yeol. Bagaimana jika, kita tidak bisa merawatnya bersama? Chanyeol, aku sangat takut bayi ini akan memisahkan kita. Aku takut–“

Chu

Wendy terdiam saat bibir ranum Chanyeol mencium bibirnya dengan kelembutan. Menyalurkan ketenangan untuk Wendy, dan membuatnya tidak gelisah dan takut.

“Kau tahu? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kita tidak akan terpisah sayang, jangan khawatir.” Wendy mengangguk kecil merespon ucapan manis Chanyeol.

“Dia akan baik-baik saja kan?” Tanya Wendy menatap perutnya sambil mengelusnya dengan lembut. Chanyeol tersenyum dan mengecup puncak kepala Wendy dengan sayang.

“Ia memiliki eomma yang kuat, jadi ia akan baik-baik saja. Terimakasih Wendy, sungguh aku tidak tahu harus berterimakasih atau minta maaf. Jujur, aku sangat senang mendengarmu hamil.” Ucap Chanyeol sedikit menekuk wajahnya, kemudian mengecup kedua mata indah Wendy.

“Aku memang sangat takut saat ini. Tapi, saat kau bersamaku, aku yakin akan baik-baik saja. Kau akan terus bersamaku kan?” Tanya Wendy tersenyum, dan Chanyeol tersenyum sambil mengangguk, “Tentu saja, sampai kapan pun aku akan selalu bersamamu.”

“Bisa kau singkirkan egomu terlebih dahulu?” Kata Kyungsoo dengan pelan, pada sosok gadis di depannya ini.

Amber. Saat ini, Kyungsoo tengah berbicara 4 mata dengannya. Pasalnya Amber tidak pernah terkontrol saat berbicara dengan Chanyeol. Yang ada gadis itu terus emosi jika sedang berbicara dengan pria yang Wendy cintai itu. Kyungsoo tahu betul, mengapa Amber bersikap demikian. Tapi setidaknya, Amber harus tahu jika Chanyeol merupakan kebahagiaan Wendy sampai kapan pun.

“Aku tidak membencinya Kyungsoo! Namun saat aku melihat Chanyeol. Yang ada hanya wajah Rae na, yang ingin aku pukul dari dulu.” Ucap Amber frontal. Kyungsoo menghela nafasnya dengan teratur. Kemudian kembali menatap Amber yang terlihat jengah mendapat wejangan dari Kyungsoo saat ini, “Aku tahu, kau berniat memberitahu Sungjae.” Ucap Kyungsoo, membuat Amber menatap pria itu seketika, “Tidak!” Elak Amber. Namun Kyungsoo benar memang. Karena itulah pikiran Amber saat ini, yaitu memberitahu Sungjae segalanya.

“Amber! Jangan kekanakan seperti ini.”

“Kyungsoo! Sebenarnya kau sayang pada Wendy atau tidak huh?”

“Tentu saja aku sayang padanya. Sebab itu, aku mohon padamu untuk tidak melakukannya. Mungkin, jangan dulu untuk saat ini.” Ujar Kyungsoo sambil menunduk.

“Maksudmu?” Amber terlihat penasaran akan sikap Kyungsoo, yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya.

“Karena tes DNA Rae na 4 tahun lalu – menunjukkan bahwa anak yang dikandung Rae na bukan anak Chanyeol.” Kyungsoo menatap Amber yang terlihat kaget dengan paparan Kyungsoo. Namun detik berikutnya, Kyungsoo menggeleng pelan sambil menghela nafasnya. Lantas, Kyungsoo sedikit menyunggingkan senyumannya menatap Amber.

“Aku tahu, jika kau dan Sungjae sudah mengetahui ini sejak 4 tahun lalu. Kau masih sama Amber! Selalu merahasiakan hal besar seperti ini padaku. Sadarkah kau, jika kalian berdua tidak hanya mengahancurkan hidup Chanyeol? Namun menghancurkan kehidupan Wendy. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?!” Sentak Kyungsoo pada Amber, membuat gadis tomboy itu menitihkan air matanya.

-To Be Continued-

Kuy, dikomentarin ini ffnya yang masih anget :’) /Plak/ Katakan tidak pada silent reader yes! Sampai jumpa pada chapter berikutnya, Anyoeng -,-

Ps: yang gak nulis komentar, gak dicium bias loh! /plak/

 

Iklan

35 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 8)

  1. Esmosii,,, bawaanny pengen nonjok gue deh ke muka raena,, muka sok drama bnget,

    Kok kyungsoo bisa tau rahasia kbhonganny raena,, ?
    Pnasaran thor ,, jngn lama2 ya update ny, fighting!

    • Gak nyangkaa kah? Hehe dintggu chapter selanjutnya yah…Semoga gak lama updatenya..
      Tergantung otak dan jari tangan utk mengetik😂😂..

      Terimaksih❤

    • Heheh ada kok..
      Vangepark yah nama wattpadnya..
      Tapi disana belum bnyak cerita yg aku up..

      Dan karena aku baru buka lagi wattpadku setelah buat dari bulan juni lalu😂..

      Tapi mulai saat ini aku akan rajin up kok disana..
      Hehe,
      Selamat membaca yah❤

  2. Dari awal udh curiga sih sm si re na, terbuktikan itu bkn anaknya chanyeol. Disini si re na ngeselin bgt sumpah deh ya, bikin org emosi mulu -_- . Jadi si amber sm sungjae sebenrnya udh tau dari dulu, tpi knp musti dirahasiain coba? Yah untuk couple wenyeol moga cpt bahagia eaps, kutunggu chapt selanjutnya fighting 🙂

    • Raena emang sukanya bkin orang marah😂🔥
      Iya, sih sungjae sama amber sudh tahu..
      Kenapa harus drahasiakan? Haha sebenarnya itu udh dijawab dichapter ini..

      Ea, semoga happy yah mereka☺
      Fighting

      Terinaksih❤

  3. IGE MWOYA??? JADI ITU BUKAN ANAK CHANYEOL? TRUS AMBER AMA SUNGJAE UDAH TAU??? INGIN KU TENGGELAMKAN RAE NA SEKARANG! maaf author-nim, capslock jebol 😀 Huaa kupen pukul beneran deh si Rae Na -_- ini Amber ama Sungjae juga bikin ribet ih! Lanjut terus thor, Fighting!

    • Haduuhh capslocknya jebol😂..
      Yok kalau mau ditenggelamkan mbak raenanya monggo..😂
      Amber dan sungjae sepertj abu2 gitu sih yah😂..
      Fighting

      Terimaksih❤

  4. anjirrr ini ada pengkhianattt apa gimana anjir kesel. raena ngapa ga mati aja. wenyeol kuu sayang bertahaann kalian harus happy ending. gamau tau. next kaaa

  5. Sebenarnya kasian ama raena tapi tetep aja kesel ama dia. Pas baca katanya tes dna itu anaknya chanyeol agak curiga dan ga percaya. Ga taunya di part akhir ke jawab sama kalimat kyungsoo. Tapi kq dia bisa tahu ya kalo tes dna itu palsu(?)

    • Hahah, terkadang author yg nulis, serasa bersalah menistakan mbak rae na kyak bgitu..
      Tapi yah emang terkadang otak tak sejalan dengan hati :v /Abaikan eaps/😂
      Dari manakah merk tahu? Akan terjawab dipart selanjutnya🙂..
      Terimaksih sudh berkomentar ❤

  6. apaan sih author hrs TBC???
    tuh kan, terjadi maslah yg rumit lagi!! 😱
    panas dingin ini/PLAK!!

    penasaran, sebenarnya sungjae itu jahat apa nggk sih?? huh/bingung!!😂😂

    chan, rahasianya jgn lama2! ntar nasib loe kyk baekhee. (kan, salah lapak lagi!😅)
    ungkapin ajah biar si rae na judes itu pergi jauh2 deh.

    *maap thor itu pesan buat chanyeol tolong sampe in. wkwk… 😂

    keep writting!…

    • Lahh, kok marah dikasih tbc😂..
      Yah masa aku harus nulis sampai the end kak? Entar jadi brapa ribuu kata itu ?😂..

      Diungkapin ye yeol, dengerin tuh!!😂..

      Udah aku sampaikan kok kak, dia blang ktanya sesuai otak author😂🔫

      Terimaksih sudh berkomentar ❤

    • Lahh, tidak ingin berkata-kata, ini maksudnya speechless kaget dengan chapter ini kah?😂..
      Haha nantikan chapter selanjutnya yah😊

      Terimaksih sudh berkomentar ❤

  7. Sakit hati,kesel,segala macam kekesalah itu nyampur sudah.
    Adeuh sumpah sekarang jadi benci juga sama sih sungjae,oh sungjae hilang kemanakah keimutanmu itu.
    Lanjut dan jangan bikin emosi lagi.

    • Uhh jngan kesel2 yah😂
      Yang sabar, doakan author selalu agar bisa buat reader terus baper 🙄😂 /ditampol/

      Jangan benci sama sungjae 😂.. ini semua salah author kok😂

      Terimaksih sudh berkomentar ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s