[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN 8: FOR LIFE

Title | Let Me In  [Sequel Hold Me Tight]

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

                        Yoon So hee  x Baek Eun Ha

                         Irene Bae  x   Park Ae Ri

                       Song Yun Hyeong  x  Yun Hyeong

                       Kim Jong In  x   Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun  x   Dahyun

                               Wang Jackson  x  Jackson

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life  x Revenge

Disclaimer | Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Poster | RahayK Poster

Summary  this  Chapter |

Previous Chapter| First Encounter > Before time tell you to stop > Interview > Stranger(us) > Past pt.1 > Past pt.2 > Her Beloved > Fools love > For Life[now]

=-Konfrensi Kerjasama Farmasi seluruh dunia ke -23 -=

“Mr.Dellion Foster dan Mr.Joe Kefric harap berjabat tangan sebagai pengesahan kerjasama yang telah dibuat.” Jabat tangan antar para wakil peneliti seluruh dunia menjadi penutup acara konfrensi kerja sama yang memang dilaksanakan di salah satu hotel bintang 5 Seoul.

Lelaki itu tak henti-hentinya mengulas sebuah senyum sebagai ajang kesepakatan yang telah disahkan melalui jabat tangan tadi. Jaebum menghampiri Baekhyun,ia membisikkan sesuatu hingga membuat matanya sempat melebar,namun ia berusaha untuk tetap tenang.

“Tolong awasi beliau–setelah acaranya usai aku akan kesana.Pastikan ibuku baik-baik saja.”

“Nde algeseubnida.”

łæ Let me In æł

Beberapa jam sebelumnya..

Seorang karyawan mengetuk pintu bertuliskan ‘Ruang Direktur D Magazine’.Taklama, pemilik ruangan menyuruh karyawannya itu untuk masuk.

“Anda memanggilku,direktur?” tanyanya.

Lelaki yang berpangkat direktur itu tampak berfikir “Oh benar—Jun Wonwoo, suruh editor Eunha  ke ruang rapat setelah makan siang.” Pintanya  lalu membaca bukunya lagi. “Baiklah,permisi..” ujar lelaki bernama Wonwoo itu dan segera keluar dari ruangan.

Eunha baru mau makan siang bersama Sunbae Yuri, baru mau melahap hotdog yang ia pesan Won woo memanggilnya.”Eunha!kau sudah usai makan siang?” tanya Won woo dengan nafas terengah.Yah,Eunha dan sunbaenya tak makan di kantin kanto melainkan disebuah resto cepat saji yang berada di sisi jalan lain dari kantor.

“Aku baru membuka mulutku dan kau memanggilku,sunbae.” ujar Eunha yang akhirnya mengunyah hotdognya.

“Hei,kalau kau punya kesopanan biar Eunha menghabiskan dulu makan siangnya.” bela Yuri lalu menyedot colanya.

Won woo hanya menyengir kecil lalu membungkukkan badannya. “Baiklah,maaf  Yuri sunbae.Tapi Eunha,kau diminta untuk menemui direktur bersamaku,cepat habiskan makan siangmu.”

“Aku?–sunbae anggota timmu kan juga banyak,kenapa aku?” tanya Eunha malas. Dulu, D Magazine adalah tempat kerja yang Eunha impi-impikan.

Benar,itu dulu.

Namun,ada suatu peristiwa saat gadis itu sedang menjalani masa traineenya yang membuat ia ingin mundur,tapi ia tak dapat melakukan itu. Banyak tuntutan yang membuat ia harus tetap bertahan walau itu cukup melukai harga dirinya yang tingginya selangit.

Menurut Eunha,jika ia tak punya harta lantas apa yang dapat ia pertahankan selain harga diri?

Jawabannya tentu saja tak ada.

Baek Eunha hanya memiliki harga diri.

“Mungkin ini kesempatan bagus untukmu, Eunha. Ingatlah,kau punya kemampuan.Dan enyahkanlah semua hal yang mengganggu pikiranmu.” tutur Yuri dan menepuk bahu Eunha sebagai tanda penyemangat.

Baiklah–mari menghadap direktur sekarang,Won woo sunbae.”

=Ruang Direktur=

Seo Jun segera memberikan seberkas  dokumen pada kedua bawahannya. “Kalian pasti pernah mendengar nama Dellion Foster ‘kan?–‘

“Nde, namanya sudah menjadi perbincangan di dunia farmasi dan peneliti obat dunia.” ujar Won woo.

Eunha hanya mengangguk seakan mengerti,padahal nama itu baru ia ketahui karena melihat siaran disalah satu stasiun televisi.

Bingo!sampai sekarang identitasnya dan seperti apa sosok beliau masih misteri. Tugas kalian disini–“

“Direktur,bagaimana dengan jurnalisnya?Aku cuman bisa memegang kamera.”

“Baek Eunha yang mencari berita dan kau tetap pada kameramu.Mudah ‘kan?Jika kinerja tim kalian berhasil–akan ada perombakkan tim di beberapa bagian.”

“Tapi aku–‘

“Aku tak mau kalian menolaknya.Kerjakan saja,tugas ini tak memiliki batas waktu tapi lebih cepat sepertinya akan membawa keuntungan pada kalian.”

“Keuntungan seperti apa,direktur?”tanya Won woo tanpa keraguan.

“Turun kelapangan–lagipula untuk kau Baek Eunha–‘

“Ye?”

“Bukankah itu adalah salah satu tujuan kau menjadi jurnalis?–silahkan keluar.”

łæ Let me In æł

Wonwoo akhirnya mentraktir Eunha untuk makan disebuah resto guksu langganannya selama kerja di D Magazine, kenapa? Karena lelaki itu sudah mengganggu waktu makannya dengan Yuri karena panggilan direktur menyebalkan satu itu untuk Eun Ha. “Aku dengar ia menghadiri Konfrensi Kerjasama di Hyatt Hotel malam ini.” Ujar Wonwoo seraya menyantap guksunya yang masih mengepul. Eunha masih cuek saja seraya mengaduk-ngaduk guksunya. Masalahnya, perintah seperti ini pasti diluar pekerjaannya sebagai editor cover D Magazine, ini seperti mempertaruhkan karirnya yang baru seumur jagung di D Magazine.

Akhirnya Eunha menanggapi singkat seraya menyantap guksunya.”Dellion Foster?” tanya Eunha membuat Wonwoo dibuat memutar mata oleh gadis itu. “Bukan,Mike Tyson!Tentu saja tuan Foster.”

Eunha hanya tertawa renyah mendengar jawaban gemas Wonwoo, lalu Eunha mengambil tasnya dan mengeluarkan dokumen yang diberikan Seojun tadi. “Dokumen ini–direktur mendapatkannya darimana?semuanya tentang Dellion Foster itu.” Ujar Eunha lalu menaruh dokumen itu dimeja, sementara Wonwoo berhenti makan dan membuka dokumen itu satu persatu, namun tak ada petunjuk yang berarti selain artikel pendek yang sudah usang kertasnya dan sebuah foto.

Hei,ketika kau punya kekuasaan,kau bisa dapatkan segalanya.Sekarang,kita mau pergi meliput ke Konfrensi Kerjasama?kapan lagi bisa bertemu ilmuwan hebat dunia?” tawar Wonwoo membuat Eunha hanya kembali makan lalu berbisik “Memangnya tak sedikit kentara?kita bukan wartawan berita,sunbae. Kau tahu–ini seperti stalking ilegal.” Ujar Eunha tak cukup yakin dengan tawaran Wonwoo.

“Kau bawa id card milikmu?” tanya lelaki itu, membuat Eunha mengeluarkan tag ID yang memang ia kalungkan terkecuali setelah tiba di rumah. “Bawa.Itu acara resmi bukan,sunbae?” tanya Eunha lalu meneguk air, dan masih saja ia tidak yakin dengan ajakan Wonwoo yang terdengar nekat, ya benar nekat karena mereka tak punya undangan resmi untuk pers atau meliput. “Resmi. Jujur,aku ingin tahu bagaimana wajah si Foster itu.Apa  mungkin karena dia jelek jadi ia merahasiakan identitasnya?” terka Wonwoo seperti membayangkan wajah si Foster itu.

Eunha hanya mendecak lalu menggelengkan kepala, perkiraan Wonwoo cukup masuk akal tapi tidak meyakinkan. “Omong kosongmu itu keterlaluan,sunbae.Tapi–direktur saja menyebutnya ‘beliau’ apa mungkin sudah kakek-kakek?” terka Eunha membuat Wonwo menoyor pelan kepala Eunha karena jawaban tak berdasarnya. “Heol!kau yang lebih tak masuk akal,Eunha.Tapi,menurutmu mengapa direktur meminta kita untuk mencari tahu tentang tuan Dellion Foster ini?”

“Aku tak mau tahu alasannya.Yang perlu kita simpulkan adalah mengapa Dellion Foster merahasiakan dirinya sendiri,kau tahu sunbae–seperti dia punya rencana sendiri,untuk mengejutkan seseorang.” Ujar Eunha mulai berpikir, membuat Wonwoo memegang dagunya dalam diam, ia pun ikut berpikir.  “Kau seperti sudah mencari tahu sebelumnya, Baek Eunha.” Ujar Wonwoo menatap Eunha penuh selidik.

Eunha menggeleng dan mengambil dokumen yang diberikan boss-nya tadi. “Tidak,aku mencari di situs pencarian tapi tak ada yang pernah membeberkan fotonya selain foto para ilmuwan ini.” Jelas gadis itu. Wonwoo melihat sampai matanya menyipit saking buruknya hasil foto itu. “Gohaeng Industry?–fotonya terlalu buram untuk melihat wajahnya.Ini tidak cukup untuk dijadikan bukti sebetulnya.” Ujar Wonwoo, namun lelaki itu sadar bahwa tepat kata Gohaeng Industry dibahas, bibi pemilik resto melirik Wonwoo dan hanya dibalas senyum kecil sebagai sopan santun pada orang tua. Perhatian Wonwoo teralihkan dari si bibi pemilik resto saat Eunha menanyakan hal yang sama. “Tapi–apa yang terjadi dengan Gohaeng Industry?” Eunha terlihat serius dan penasaran kali ini, membuat Wonwoo tak berpikir panjang mengapa sejak tadi si bibi pemilik resto itu memerhatikan mereka. “Pabriknya terbakar tepat setelah berita menyebar tentang gagalnya vaksin yang di produksi oleh Gohaeng,banyak yang meregang nyawa pada saat itu.” Jelas Wonwoo memberikan ponselnya. “Tahun berapa kejadiannya?–‘ ujar Eunha

Brak!!

Pryang!!

Tiba-tiba terdengar suara riuh dan mengganggu perbincangan mereka yang berasal dari bilik dapur resto,membuat Eunha segera mengecek kedalam ia kaget melihat tangan bibi pemilik resto yang sudah memerah dan melepuh “Ahjummoni!kau baik-baik saja?” tanya Eunha  “Ahjummoni,anda bisa bangun?aku akan membantumu.” lalu membantu wanita setengah baya itu untuk meninggalkan bilik yang sudah berantakkan. “Sunbae,cepat ambil mobilmu.” Pinta Eunha. “Baiklah sebentar!” kata Wonwoo segera berlari keseberang jalan dimana mobil miliknya terparkir.

Taklama, mobil Wonwoo datang dan mereka segera pergi ke RS terdekat untuk mendapatkan pengobatan untuk Ahjumma ini. Sesaat Eunha berpikir apa ia akan melakukan hal yang sama pada ibunya sendiri  sepertinya ia akan berpikir dua kali untuk melakukan itu, entah kenapa hingga sekarang jawabannya selalu sama.

Eunha kemudian teringat sesuatu dan mengeluarkan salep dari tasnya, mengingat ia cukup ceroboh untuk sering kena air panas ketika menyeduh kopi dalam keadaan terburu-buru. “Aku akan mengoleskan krim agar lukanya tak infeksi dan melebar,Ahjummoni. Maaf agak sedikit perih.” Ujar Eunha lalu mengoleskan perlahan krim itu.

Wanita itu hanya memandang Eunha kagum tak sangka bahwa masih ada orang sebaik gadis yang ada dihadapan ini. “Terimakasih tapi maafkan aku, jadi merepotkanmu,Agasshi.”

“Sunbae,cepat sedikit menyetirnya.Bantu aku kali ini saja?” pinta Eunha menepuk bahu lelaki itu yang sedang sibuk menyetir.  “Baiklah,kau harus membayarnya nanti?” kata Wonwoo bergurau membuat Eunha hanya menghela nafas dan mengiyakan saja mau seniornya yang satu ini, membuat Ahjumma yang meyaksikan tingkah Eunha tersenyum. “Baik-baik, nanti.-‘ Eunha menanggapi cepat saja. “-apa anda bekerja sendirian di restoran yang sebesar itu,Ahjummoni?” tanya Eunha, yang ditanggapi dengan senyum samar sang Ahjummoni.  “Anakku sibuk dengan pekerjaannya.”

Eunha hanya mengerutkan wajahnya gemas, mendengar jawaban sang Ahjumma. “Seharusnya anda memperkerjakan orang lain.Dengan begitu,hal seperti ini tak akan terjadi lagi.” Ujar Eunha lalu memegang tangan sang Ahjumma.  “Puteraku juga meminta hal yang sama,Agasshi.Ini karena tanganku tiba-tiba keram tadi.”

Mereka tiba di UGD Rumah Sakit dan Eunha segera membawa Ahjumma ke ruangan agar segera ditangani. “Perawat, tolong rawat luka bakar Ahjummoni ini.”

“Silahkan ikut dengan saya,hwajabeun.”

łæ Let me æł

Lelaki itu segera berlari begitu turun dari mobilnya menuju ruang UGD,mendapatkan kabar bahwa sang ibu masuk rumah sakit membuat jantungnya hampir copot kalau saja ia tak harus bertindak profesional di depan seluruh rekan kerjanya.

Lagipula,identitas aslinya tak boleh terungkap hingga hari yang ia tandai sebagai hari pembuktian tiba. Hingga hari itu, identitas bahwa dia adalah Byun Baekhyun tak dapat terungkap dan identitas bahwa dia adalah Dellion Foster yang menjadi perbincangan orang banyak tak boleh terungkap sampai waktunya tiba.

“Dimana–‘

“Ae-deul–“

Eomma,kenapa kau–sudah ku bilang berapa kali pekerjakan orang kau tidak menurut juga,restoranmu itu tak sekecil dulu.”

“Jangan marah-marah,berterimakasihlah pada gadis yang sudah menolong ibu.Dan,ini Won woo temannya.”

Aah,terimakasih sudah membawa ibuku ke RS.”

“Apa anda wali nyonya Mi Yeon?”

“Nde, Byun Baekhyun -imnida.”

“Untunglah nona yang mengantar ibumu sudah memberi krim pereda luka jadi tidak akan ada infeksi. Dia cukup cekatan,jika tadi hanya dibiarkan saja selama perjalanan itu akan memperparah lukanya.”

“Dokter apa wali–‘ seperti tersedak,saat itu juga Eunha tak mampu meneruskan kata-katanya yang masih belum terselesaikan. Ilusi apa ini? atau takdir macam apa ini? siapa yang berdiri tak jauh dari Won woo dengan air mukanya yang masih khawatir dan menjadi marah karena merasa takut orang yang disayangnya terluka parah.

Paru-paru Eunha seakan tak mampu memasok oksigen lagi,sepersekian detik ia lupa bahwa dirinya masih manusia yang memiliki jantung yang masih berdetak,dan tentu saja Eunha harus menormalkan kinerja seluruh anggota badannya setelah menjadi patung sekian detik.

Deg!

Dan,ketika fokus lelaki itu beralih pada si gadis ada sebuah tatapan kaget namun ia dengan cepat mengatur kembali air mukanya.Menjadi tampak tenang walaupun ada suatu binar kecil entah apa. “Baru saja datang–Tuan Byun dia adalah nona yang menolong ibumu.Aku permisi dulu.Nyonya Mi Yeon,anda bisa pulang setelah hasil tes CT Scan dan Xray tanganmu keluar.”

Suara-suara lainnya tetap masuk kedalam indera pendengar dua insan itu.Namun,tak dapat dipungkiri salah satunya diam-diam ingin melarikan diri segera dari sana sementara yang lain ingin berjalan kearahnya dan membaurkan dirinya dalam peluk agar dapat merasakan hangat yang sudah lama ia tak rasakan.

“Gamsahmnida,sonsaengnim.”

Baekhyun–sapa nona ini dan ucapkanlah terimakasih padanya.”

Ketika nama itu tersebut,Eunha seakan kembali kesaat-saat pertemuan kedua mereka.Saat dirinya dan orang itu melaksanakan sebuah interview kecil.

“Ibu,istirahatlah.” lelaki itu bersuara dan keluar dari ruang UGD.

“Aku dan Won woo keluar dulu,permisi Ahjummoni.”

łæ Let in æł

Gadis itu hanya melihat lelaki itu dari kejauhan, ia sedang berbicara dengan sekretarisnya. Setelah sang sekretaris menjauh dan menghilang dibalik pilar gedung rumah sakit, lelaki itu kembali berjalan ke arahnya.

“Lama tak melihatmu,Ahjussi.” sapa Eunha,tak berhentinya ia mengulas senyum.

“Terimakasih sudah menolong ibuku.Kau–bagaimana kabarmu?” tanya Baekhyun ragu.

“Sangat baik.Apa kau di luar negeri selama 5 tahun ini?” tanya Eunha lagi,sebenarnya bukan itu yang Eunha ingin tanyakan pada Baekhyun di pertemuan ketiga mereka.

Baekhyun memasukkan tangannya ke saku celananya, ia menatap gadis itu dalam perasaan yang tak jelas. Ia mengangguk mantap “Ya,aku bekerja.Maaf jadi merepotkanmu karena ibuku.” Katanya lagi pada Eun Ha, justru gadis itu hanya menggelengkan kepala bahwa hal itu bukan masalah besar.

“Ibu Ahjussi juga ibuku.Takdir macam ini disebut apa,Ahjussi?–‘ kekeh Eun Ha tak berhenti  mengungkapkan kegembiraannya, tanpa ragu ia bahkan memegang lengan Baekhyun, sementara Baekhyun hanya kembali melangkah. “Apanya?” tanya Baekhyun datar-datar saja.

Eunha melepaskan tangannya dari lengan Baekhyun ia lalu menepuk tangannya sekali yang cukup menggema dalam lobby Rumah Sakit  dan beberapa orang yang melihat kearah mereka. “–woah bukankah jika bertemu tiga kali artinya kita jodoh,Ahjussi?Keuchi Ahjussi?” goda Eun Ha tertawa seraya menyenggol lengan lelaki itu dan hanya dibalas dengan kening Baekhyun yang mengernyit lalu menyedekapkan tangannya.

“Kau percaya dengan takhayul?Ah,benar kau masih bocah.Jadi,dengan mudah percaya dengan hal-hal receh seperti itu.” Lelaki itu menanggapi Eunha tak serius, malah makin membuat gadis itu berdecak kagum dan menunjuk Baekhyun dengan jari telunjuknya. “Eoh?kau juga mengatakan hal receh saat aku bilang kegemaranku menulis fanfiction.Dan,kau mengatakan hal yang sama sekian detik lalu.Lihat, inilah yang disebut takdir.”

Baekhyun menghentikkan langkahnya, ia menghela nafasnya frustasi tak disangka gadis ini benar –benar cerewet dan benar-benar diluar ekspektasinya selama ini. Kini, gadis satu ini bagai Dahyun kedua.  “Berhentilah bicara sebelum aku menyumpal mulutmu dengan kertas!” ujar Baekhyun seraya menarik bibir gadis itu supaya diam, namun bukannya diam Eun Ha semakin cerewet saja   “Ahjussi–kalau begitu kita bisa bertemu lagi lain kali bukan?” tanya Eunha yang membuat Baekhyun terdiam sejenak lalu menyipitkan matanya dan menjawab tegas “Tidak.” ujar Baekhyun datar,namun Eunha masih mengekori langkahnya dan terus memanggil dirinya. “Ahjussi!–“

Baekhyun memutar matanya,ia akhirnya membawa Eunha pergi menuju mobil Won woo yang sudah menunggunya di depan lobby. “Dengar,kau harus pulang sudah larut.” pinta Baekhyun dan memaksa Eunha naik. “Kau teman atau rekan kerjanya?” tanya Baekhyun dengan tatapan menyelidik. Won woo hanya menggedikkan bahu lalu menjawab “Dia juniorku.”

“Baiklah–dia masih gadis kecil,jadi antarkan dia pulang hingga depan rumahnya.Mengerti?”pinta Baekhyun,bagaimanapun ia harus mengirim gadis itu pulang ke rumahnya dengan selamat,seperti yang ia bilang ‘karena sudah larut’.

“Umurku sudah 23 tahun,Ahjussi,mari kita minum dulu sebentar saja.” ajak Eunha,ia ingin membuka pintu namun telah dikunci otomatis dari kemudi. “Tidak.Aku harus mengurus ibuku,sudah larut–pulanglah.” Tolak Baekhyun mentah-mentah, jujur sekarang atau nanti tidak akan ia menemui Eun Ha lagi kalau tau Eun Ha sebawel itu.

Ahjussi–jika begitu aku bisa menemuimu?” tanya Eunha semakin cerewet yang membuat Won woo ingin menyekap gadis itu segera. Sementara Baekhyun hanya menatapnya sebentar lalu memerintahkan Won woo untuk pergi dari sana secepatnya. “Cepat jalan.”  Won woo menundukkan kepalanya hormat dan mobilpun melaju.“Anyeonghaseo,hyung-nim.”

Eun Ha membuka jendela dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat Baekhyun “Ahjussi!!lihat saja aku akan menemukanmu!”

Jaebum mau menghampiri Baekhyun,namun untuk pertama kalinya selama ia bekerja dengan Baekhyun baru kali itu Jaebum melihat lelaki itu mengulas sebuah senyum,bahkan ia sedikit terkekeh seraya melihat mobil yang baru keluar dari pelataran rumah sakit.

“Mengapa–anda senyum-senyum sendiri, Daepyo?–nim?” tanya Jaebum membuat air muka Baekhyun kembali datar dan dingin seperti biasa, namun kali ini diselipi sebuah senyum kecil. “Yah,panggilan hyung-nim seperti gangster buatku.” ujar Baekhyun lantas kembali ke dalam RS untuk menjaga ibunya. “Hyung-nim?” gumam Jae Bum, sementara Baekhyun kembali menoleh dan melihat kearah dimana Jaebum berdiri. “Oh ya,ambilkan baju salin untukku.Panas sekali memakai tuxedo di RS seperti ini.”

“Baik,hwajang–nim.”

Tidak ada yang tahu,bahwa yang membuatnya tersenyum bukan karena panggilan Hyungnim yang terdengar seperti gangster untuknya,bukan juga karena tuxedo yang ia gunakan tapi karena gadis itu menepati janjinya,untuk hidup yang sangat panjang,hidup penuh dengan semangat dan penuh sinyal positif.

Baginya,itu cukup menjadi alasan dirinya untuk melakukan hal yang sama,seperti yang gadis itu telah lakukan. Meski kini ia harus mendorong gadis itu jauh-jauh agar tak terlibat lagi dengan kehidupan seorang lelaki bernama Byun Baekhyun.

Karena, dirinya tak pernah sebaik seperti yang gadis itu pikirkan.

Eunha begitu terlihat senang saat mengatakan hari ini adalah pertemuan ketiga mereka.Gadis itu tidak bisa menutupi ekspresi gembiranya namun bisa menutupi ekspresi kesedihannya.

Dan,salah satu diantara mereka ada yang memohon dan yang lainnya ada yang merasa bersyukur atas anugerah Tuhan dan keberuntungan hidup.Meski tak ada yang tahu bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan yang akan dipenuhi bebatuan dan duri hanya untuk menemukan sebuah sungai dengan air terjun yang menyembunyikan pelangi yang mempunyai tujuh warna.

‘Terimakasih telah menjalani hidup dengan baik.’

łæ Let Me In æł

    Ae Ri segera masuk kedalam mobil begitu Yunheo masuk kedalam area sekolahnya dan tak lagi memerhatikan dirinya.Pagi ini, ia harus kesuatu tempat. Karena, hari ini ia sebetulnya harus memperingati sesuatu kalau saja ia bukan siapa-siapa sekarang. Tapi, karena kini dirinya adalah seorang istri dari pemilik Song Corporation ia tidak dapat mengunjungi  putrinya bahkan memperingati hari kematiannya saja tidak bisa. Mungkin, ini adalah salah satu hukuman dari ratusan daftar hukuman yang ia jalani yang diberi Tuhan karena meninggalkan orang yang begitu mencintainya hanya demi seseorang yang dapat menjamin hidupnya kedepan. Ae Ri tahu ia pantas mendapatkan itu. Ia harus melupakan segalanya yang berkaitan dengan mantan suaminya itu –termasuk Joo Eun.

Lamunannya tentang kerinduan akan sang puteri yang meninggalkannya lebih dulu lebih cepat dari dugaannya sebagai seorang ibu,membawanya hingga tiba dalam sebuah ruangan besar dengan lemari kaca yang besar dan banyak sekat-sekat yang terdapat foto dan sebuah keramik kecil berisi abu-abu orang yang sudah tiada dan salah satunya milik puteri kesayangannya –Joo Eun. Tungkai gadis itu melangkah gontai, heels-nya menggema dalam ruangan itu, mengisi kekosongan dan dingin yang menerpa rumah abu itu. Hingga ia tiba tepat didepan lemari kaca dan tertulis ‘Byun Joo Eun’ dan terpampang foto dalam pigura kecil didalamnya. Melihatnya, membuat likuid gadis itu yang tadinya sempat ia tahan akhirnya lolos tanpa peringatan, bahunya bergetar dan bibirnya kelu tak dapat berucap apa-apa selain memanggil nama puterinya itu penuh sesal yang terlambat. “Joo Eun –ah.. maafkan ibu..maaf –’’

Ae Ri  yang terlalu sibuk dengan delusinya dan rasa bersalahnya membuat ia tak sadar ada derap langkah lain yang jalan mendekat kearahnya. “Joo Eun –eomma?” sapa suara itu menatap wanita yang adalah Joo Eun eomma tidak menyangka. Ae Ri menoleh dan sama kagetnya dengan wanita setengah baya yang menyapanya.

Bersambung…

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN 8: FOR LIFE

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 11) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 10) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 9) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Penasaran bnget dengan hari pembuktian ituu.. semoga baekhyun dapat menyisikan sedikit saja ruang untuk eun ha dapat masukkkk… amin author semangattt yaa

  5. Semangat eunhaaa 💪💪💪💪 rasanya aku mencium bau persaingan buat cintanya baekhyun
    Apapun itu semoga baekhyun bisa bahagia kaa😍😍😍😍😍 kecup manja dari ku kaa 😚😚😚😚😚😚

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s