[EXOFFI FREELANCE] EVERYTHING HAS CHANGED: 4 (VALUE)

Title |Everything has Changed

Author|RHYK

Cast|        Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jisoo ‘BlackPink’ as Arial Ahn

Additional Cast| Hye Ri ‘Girls Day’

                DK ‘SVT’

                Yuju ‘G-Friend’

               June ‘Ikon’

               Jun ‘SVT’

Length|Chapter

Genre| Romance –Sad –School life –Fluff –Friendship

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks! Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

POSTER| chien @ INDO FANFICTION ARTS –thanks for beautiful poster

Quotes| Karena.. semuanya telah berubah dan tak sama lagi.

Summary this Chapter| Tak perduli, sebodoh apapun Arial soal pelajaran, semenyebalkannya gadis itu ketika berada didekatku, tapi, gadis itu selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk membuatku tertawa.

Previous Chapter|Unique Girl >>  Suck Feeling >> Gemintang >> Value (now)

-EHC-

Sehun masih berada diperpustakaan, hingga hari menjelang malam.Karena, ia sendiri tak tahu apa yang ia lakukan jika ia berada diluar perpustakaan. Sehun bukan model orang yang akan senang mengeluarkan uang dengan kegiatan yang kurang bermanfaat, ia bukan orang yang senang bersantai-santai dengan update game terbaru dan bermain dengan konsol game sepanjang hari. Sehun lebih senang berada diruang tertutup,dengan keheningan yang mengelilingi.

Tapi, jika itu tanpa Arial semuanya seperti terasa sia-sia. Jika dipikir ulang, lelaki itu lebih suka jika Arial ada berada disekitarnya, entah itu berada jauh atau tidak, asal satu ruangan Sehun merasa kegiatannya lebih berarti.Jangan bertanya kenapa? Itu karena Arial. Hanya karena orang itu Arial. Sederhana.

Drrtt Drrtt

Ponselnya bergetar begitu ia berdiri untuk merenganggakan badannya yang kaku.Sehun juga bukan orang yang fanatik dengan ponsel, ia hanya menggunakan ponsel untuk menelpon dan juga chat dengan Arial atau Luhan.Banyak notifikasi sosmed yang masuk keponselnya setiap waktu, namun yang selalu tidak ia abaikan adalah Arial.Lagipula, semua sosmed yang ada yang membuat adalah Arial.

“Sehun!Apa akun instagram punyamu?”

“Tak ada.”

“Bagaimana dengan line, atau path?”

“Aku tak punya,Rial.”

“Bohong, sini pinjam ponselmu sebentar.”

Sehun hanya terdiam dan memberikan ponselnya ke Arial. Mata gadis itu membulat begitu men-scroll menu diponsel Sehun. Ia kemudian tertawa didetik berikutnya.

“Ya Tuhan, aku tak percaya padamu. Ponselmu hening sekali.”

“Aku tak suka dengan hal-hal seperti itu.Tak penting.”

“Penting, Sehun. Akun sosmed agar kau mendapat informasi atau biasa disebut apa ya– date–date.”

“Update.” Sehun memutar matanya kesal, ingin sekali ia menoyor kepala Arial jika saja ia tak berada ditempat umum sekarang.

“Oh ya itu.Nih, aku buatkan instagram dan kau bisa chat aku dari line.Jadi tidak usah mengirimiku sms yang membuat biaya pulsamu membengkak ditagihan bank.” Arial mengembalikan lagi ponsel Sehun. Lelaki itu hanya sedikit menarik sudut bibirnya.Dan b melihat foto pertama yang di-upload oleh Arial adalah foto selfie Arial dan dirinya yang ia ambil secara candid saat Sehun membaca tadi.

*@ArialAhn_12 like your photo.

*@ArialAhn_12 started following you.

From:Arial Bee

Hun?aku akan keasrama tapi, sepertinya aku akan keperpustakaan. Kau ada disana?

**

From: Me

Eoh.

“Perpustakaan?Ya Tuhan..” rutuk Sehun, ia sendiri baru sadar mengapa ia menjawabnya dengan ‘Ya’ memang ia diperpustakaan sekarang, tapi ini bukan diperpustakaan sekolah.

Sehun segera berlari secepatnya, menuju perpustakaan dekat asrama sekolah karena ia sendiri tidak membawa mobil hari ini.

Begitu ia tiba dihalte, bus tak juga datang.Perempatan diujung jalan terlihat macet.Sehun menggaruk kepalanya frustasi.

Aku sama sekali tak menemukan alasan mengapa harus berlari sejauh ini. Mengapa harus rela-rela kerepotan hanya karena gadis yang kerjaannya selalu membuatku dalam masalah.

Yang jelas, ia hanya bertanya padaku apakah aku ada diperpustakaan sekolah. Lalu, aku menjawabnya ‘Ya.’ masuk akal saja jika aku bilang bahwa aku tidak diperpus sekolah melainkan di KH University pada chat berikutnya. Tapi, bodohnya aku malah berlari untuk menuju kesana.

*

*

Luhan memberhentikan mobilnya dipelataran asrama.Sementara gadis itu mengambil tasnya yang berada dibangku belakang. “Salahkan saja yang membuat bangunan asrama ini, Oppa.”

“Memangnya kenapa?”

“Ya karena kau harus memutar untuk kembali kedepan, gerbang disana kan ditutup jika hari libur.Artinya, sama saja kau tur kecil-kecilan disekolahku,benar ‘kan?” tutur Arial antusias, membuat Luhan hanya tertawa pelan.

“Tak apa.Kegiatanku baru akan dimulai besok, ketika senggang aku akan mengajakmu makan siang.”

“Makan?Asik!Tanpa Sehun ‘kan?” Mata Arial berbinar-binar begitu mendengar ajakan Luhan, apalagi yang terpenting adalah ini adalah soal makanan.

Luhan berpikir sejenak,lalu ia hanya menggedikkan bahu. “Aku akan membagi waktuku secara terpisah untukmu dan Sehun.Lagipula–mengapa kau sangat menghindari Sehun?”

Pertanyaan Luhan membuat Arial hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Hanya saja, ia tak tahu mengapa ia sangat menghindari Sehun. Ia hanya merasa aneh saja jika lelaki itu dihadapkan pada ruang dan situasi yang sama dalam waktu yang sama juga.

Mungkin, sebabnya karena mereka memiliki tipikal yang berbeda.

Dan, Arial lebih senang jika ada Sehun tak ada Luhan. Atau, jika ada Luhan jangan sampai ada Sehun.

Tatapan lelaki itu seakan ingin memakan gadis itu hidup-hidup jika Arial bersama Luhan.

Pokoknya menyeramkan, Arial tidak ingin membayangkannya. Bisa-bisa, ia tak dapat masuk ke asrama karena ketakutan yang melandanya seperti ia melihat seorang Grim Reaper sedang memandangnya dari jauh.

Bedanya, anak itu sedikit lebih mempunyai wajah dibandingkan dengan Grim Reaper.

“Entahlah, aku tidak suka dengan matanya. Hanya–sulit saja untuk tidak merasa sebal dengan adikmu itu.Oppa pulanglah, aku akan segera masuk ke asrama.”

Arial turun dari mobil, sedangkan Luhan membuka kaca samping kemudi tempat Arial duduk tadi. “Hati-hati. Hubungi Sehun dan minta antar ia keatas, karena kelihatannya asrama sangat gelap.”

Arial terkekeh lalu mengangguk. Justru Sehun yang membuatnya takut untuk keatas. “Oppa hati-hati mengemudinya. Omong-omong soal gelap–sekolahku mungkin sedang berada digerakan hemat listrik. Pergilah..”

“Baiklah, sampai jumpa lagi.” Luhan hanya menggelengkan kepalanya lantas menyembunyikan senyumannya,dan menarik rem tangan dan mobil kembali berjalan. Arial hanya melambaikan tangannya begitu mobil Luhan berlalu.

[][][]

Tak ada chat lagi dari Sehun, ia benar-benar hanya menjawab ‘Ya’ dan selesai. Membuatku hanya menghembuskan nafas kasar,lalu berjalan menuju perpustakaan.

Benar-benar lelaki dingin.

Aku menyapu pandang begitu memasuki perpustakaan yang pengunjungnya tak begitu ramai, atau karena sekarang hampir jam 8 malam.Atau, orang-orang sudah kembali ke asrama setelah belajar disini.

Tak ada tanda kemunculan Sehun.

Apa lelaki itu sedang berbohong padaku?Sial. Jika benar, siapa yang akan mengantarku ke asrama nanti?

Benar sih, kata Luhan Oppa memang asrama kelihatan gelap dari perpustakaan. “Bu?Ada apa dengan asrama?Gelap sekali.” tanyaku pada Ibu Pustakawan.

Aku asing dengan tempat ini. Karena, Sehun yang sering kesini. Sesekali aku ikut dengannya dan menumpang tidur saja disini,karena ini adalah tempat terbaik.

Dan, Sehun tak pernah mengomeliku jika aku tidur disini. Aku tak tahu alasannya.

“Oh, terjadi pemadaman listrik sejam lalu,tapi hingga sekarang belum menyala juga.”

“Aah, aku mengerti.” aku mengangguk lalu memberi hormat pada bu pustakawan dan berjalan menyusuri satu per satu rak buku.

Dan, kakiku berhenti dibagian buku tentang perbintangan. Ada lelaki itu disana, sedang duduk dan tertidur dengan headsheat yang menyumbat telinganya.

Sehun seperti itu, sama sekali bukan gaya seorang tuan Oh yang dingin dan kelihatan arogan. Ide usil tiba-tiba saja muncul dibenakku, aku mengambil ponselku dan memotretnya secara candid.

“Kerja bagus, Rial Ahn.”

Aku mengernyit, begitu melihat ia begitu berkeringat. Sedangkan lelaki itu membuka matanya. Dan memicingkan matanya kearahku, ia selalu begitu ketika diganggu.

“Hun, kau habis berlari?Badanmu penuh keringat–” kataku mengambil topinya, dan benar saja rambutnya sudah lepek tapi tetap saja Oh Sehun adalah Oh Sehun.

Dia tetap tampan, mau bagaimana-pun.

“Aku kegerahan disini. Kapan kau datang?”

Jawaban Sehun membuatku agak heran, karena aku saja merasa dingin disini, mengapa ia bisa kegerahan seperti itu.

“Baru saja.Hun, sebetulnya aku ingin keasrama tapi, ada pemadaman listrik.”

“Bilang saja kau ingin kuantar keatas–” katanya dengan wajah datar.

“Darimana kau tahu?–tunggu, aku sudah tahu pasti kau akan bilang ‘Karena kau bodoh.’ begitu.”

Normal side’s

“Karena aku sudah mengenalmu selama 12 tahun, selama itu hingga rasanya kepalaku terkelupas mengetahui kebiasaanmu, mengerti?” Sehun bangkit dan memegang kepala Arial, selanjutnya ia tak bergeming dan hanya memandang gadis itu intens.

Hingga akhirnya Arial menarik salah satu bangku dan duduk sehingga tangan Sehun harus jatuh karena hanya udara yang ia pegang sekarang.

“Baiklah, aku akan membaca disini saja–tak usah cemas,aku tak akan merepotkanmu.”

Sehun memerhatikan gadis itu sementara ia membaca dan lelaki itu sendiri sangat tumben memainkan ponselnya.

Ia hanya mencoba menyibukkan diri agar tak memandang gadis itu terus-terusan. Merasa jenuh, akhirnya ia mencoba merengganggkan badannya sementara ia melihat Arial yang sudah terantuk-antuk kemeja karena mengantuk, melihat itu Sehun hanya menggeleng dan bangkit dari duduknya dan mengambil acak salah satu buku tipis dan memberikannya pada Arial dengan sedikit dilempar, sehingga menghasilkan bunyi yang keras membuat gadis itu membelalakan matanya kaget.

Lelaki itu kembali duduk disampingnya. “Kerjakan latihan dibuku ini, salin soalnya. Kau tak akan merasa mengantuk lagi.”

Arial mengucek matanya yang berair, ia tak mengerti bagaimana bisa Sehun bertahan ditempat ini selama berjam-jam lamanya dan berkutat dengan buku yang tebalnya bisa ia jadikan bantal untuk tidur.

Rasanya ia sekarat sekali.

Gadis itu mengeluarkan pensilnya, lalu pandangnya kembali pada Sehun. “Ini kan soal kelas 10.”

“Soal kelas 10 belum tentu kau bisa menyelesaikan seluruhnya. Sudah, kerjakan saja.”

Arial hanya mengerucutkan bibirnya. “Hmm,mengerti. Aku tahu..”

“Waktumu 60 menit, untuk 10 soal.”

“Seandainya aku salah–jangan mentertawakanku.”

Ng–tergantung. Keterlaluan jika kau tak bisa mengerjakan soal yang mudah sekali tanpa ada rumus hitungnya.”

“..memangnya kau pernah aku tertawakan hingga keras?aku ledek hingga kau malu depan murid-murid lain?”

“Pernah!Dan–banyak.”

“Waktumu 58 menit lagi.Cepat kerjakan!”

Sehun Side’s

Arial Ahn.

Nama yang terdengar aneh ditelingaku saat pertama kali kami bertemu, namun lambat laun aku merasa bahwa nama gadis itu cukup unik baik untuk diucapkan atau didengar.

Baiklah. Oh Sehun bukanlah seorang yang puitis, yang dapat menuangkan sebuah deksripsi kedalam ribuan kata-kata yang benar-benar mendramatisir keadaan sesungguhnya.

Untuk itu, aku hanya bisa menjelaskannya seperti itu.

Singkat dan sederhana.

Tak banyak hal menarik yang aku temui dalam dirinya seperti yang Luhan -hyung katakan padaku.

Atau, memang aku sampai saat ini belum–bisa–menemukannya.

Awalnya, kukira Arial adalah gadis cerdas karena ketika ditingkat sekolah dasar ia selalu menjadi juara satu dikelas apapun, entah itu bahasa, fisika, matematika, sosial,biologi, atau kesenian. Arial berada diperingkat pertama selama 6 tahun berturut-turut.

Namun, ketika kami beranjak kelas 1 sekolah menengah pertama–sosok gadis itu seakan benar-benar mati.

Kecerdasannya berubah drastis. Wajahnya lebih sering terlihat bertanya-tanya ketika guru menjelaskan. Dan, ketika ditanya ia sama sekali tak bersuara ataupun bergeming.

Karena penasaran, pada saat itu aku memutuskan untuk bertanya padanya. Saat itu, tanpa disengaja aku adalah orang yang disuruh membagikan nilai ulangan matematika anak-anak.

Dan, ketika aku usai  membagikan nilai anak-anak lain tersisalah punyaku dan Arial. Namun, bertapa terkejutnya ketika aku melihat hasilnya.

Nama: Ahn Arial

Kelas: 1-1

Nilai: 3,2

“Apa kau lihat Arial?” tanyaku pada salah satu anak. “Dia ada ditaman sedang duduk sendirian.”

“Terimakasih.” Akupun segera ketaman sekolah untuk menemui dia.

“Arial!” teriakku dari jauh. Gadis itu hanya menoleh sambil menyipitkan matanya. Baru ia tersenyum setelah aku mendekat. “Oh, ternyata kau. Berapa nilaimu Tuan Oh?” tanyanya tanpa semangat.

Entah ia sudah tahu nilainya, atau bagaimana aku tak mengerti. Aku hanya diam sebentar dan duduk disampingnya. “Tak begitu baik dari yang kemarin–“

Dia malah mengangguk pelan. “Aah, apa sekarang harus 0 lagi?”

Mataku membelalak begitu mendengar perkataannya,jelas saja tempo hari ia tak bicara padaku soal nilai matematikanya.

“Apa kau serius nilaimu 0?–” aku bertanya begitu antusias dengan wajah yang pasti sangat ingin tahu. “Tapi kau jangan bilang-bilang pada siapapun ya?”

Aku hanya mengangguk ragu dan menyerahkan nilai fisika miliknya. Begitu ia menerimanya, ia langsung menunduk lemas. “Aah, memalukan!Sekarang 3,2!”

*

*

Dan, ketika aku masuk kedalam kelas, aku menemukan tulisan sangat besar dipapan tulis tentang nilai Arial. “Siapa yang menulis ini?!” teriakku pada teman seisi kelas namun tak ada seorangpun dari mereka yang mengaku.

Baru saja aku mau menghapus, Arial masuk kekelas dan tertegun melihat tulisan dipapan tulis.

“Arial Ahn, hanya nama dan orangnya saja yang cantik tetapi soal nilai hanya dari angka 0-6 hahaha.”

“Bukan aku yang menulisnya.” kataku, namun terlambat, gadis itu sudah menangis dan berlari keluar kelas.

*

*

Tak perduli, sebodoh apapun Arial soal pelajaran, semenyebalkannya gadis itu ketika berada didekatku, tapi, gadis itu selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk membuatku tertawa, hal yang terhitung jarang aku lakukan dan aku harap hanya dia seorang yang dapat melihatnya.

Lamunanku kembali ditarik begitu mendengar Arial mengecap pelan, dan gadis itu sudah menempelkan kepalanya dimeja.

“Kau adalah kau, Nona Ahn.” gumamku pelan, lalu menyelimuti gadis itu dengan jaket yang aku kenakan.

Normal side’s

Ada sebuah pesan teks yang mengharuskan Sehun harus segera pergi dari perpustakaan. Ia pun memutuskan untuk mengambil buku Arial dan meninggalkan catatan kecil agar gadis itu mengerti.

“Tidurlah yang nyenyak.”

Setelah itu, Sehun segera berlalu pergi dari sana.

Bersambung…

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] EVERYTHING HAS CHANGED: 4 (VALUE)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 14) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Everything has Changed (Chapter 8) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] EVERYTHING HAS CHANGED – 7: THE END OF US | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Everything has Changed (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Wei ditinggal?!! Mau kemana, Hun?
    Kerumah gue yak 😅 wkwkwk ..
    Konflik belum terlihat, hmmm.. Jadi penasaran
    Ditunggu next chap nya, kak. Fighting 😄

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s