[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür: Toko Buku Tua (Chapter 8)

Tittle : Die geheime Tür

Author : devrizt

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Campus Life, Friendship, Night life

Rating : PG-17

Cast :  Jonathan Virgio S (OSH) (main cast)

    Additional Cast

  • Guntur Putra Mandala (KAI)
  • Keynal Mahesa (PCY)
  • Antares Praditya (BBH)
  • Alandio Fazzikri Mulhaq (DO)

Akan ada pemeran wanita pastinya yang nantinya akan muncul seiring berjalannya cerita~

Summary : Aku tidak pernah memikirkan jika aku mulai membuka pintu itu akan ada ledakan dahsyat yang terjadi di kehidupan ku.

Disclaimer : Cerita ini merupakan murni hasil pemikiran dari author mulai dari yang bener sampai yang agak rusak sedikit(?) tapi masih batas wajar, jika ada kesamaan tokoh atapun latar, itu semua terjadi atas ketidak sengajaan.

    Warning : author hanya manusia biasa yang kadang salah so, im so sorry if theres (many) typos.

    See more chapter or story at https://www.wattpad.com/user/devrizt

A/N   :  Untuk yang punya wp dan berminat melihat lihat silahkan check watpadnya ya hehe thankyou soo much ~~

 

Delapan –  Toko Buku Tua

    Nathan menghentikan mobilnya persis didepan sebuah toko buku jaman dahulu yang pada masanya cukup terkenal. Ini bukan kali pertamanya Nathan kesini. Nathan sering pergi ketempat ini kalau dia memiliki waktu yang lengang, biasanya setiap akhir semester dia akan pergi ke toko ini untuk mencari buku-buku unik yang sulit dicari di toko buku biasa. Saking seringnya, petugasnya pun hafal dengan Nathan.

    Nathan dan Kirana turun dari mobil sedannya dan menghampiri toko buku itu. Toko buku itu tertutup. Tidak ada tanda kehidupan didalamnya. Saat beberapa langkah lagi mendekati pintu, Nathan justru berbelok ke samping toko buku itu. Ada sebuah gang untuk menuju ke pintu belakang toko buku itu.

    Kirana yang tidak tahu menahu hanya mengekori Nathan dari belakang mengikuti Nathan menyusuri jalan setapak menuju toko buku tua itu. Hanya satu dalam benak Kirana, Nathan bisa tau tempat kaya gini dari mana ya. Bukan saat yang tepat untuk Kirana menanyakan hal ini. Mungkin nanti saat mereka sudah sampai, atau mungkin saat mereka kembali pulang.

    Setelah sekitar lima puluh meter akhirnya Nathan berhenti dan mengetuk pintu kayu bercat pudar didepannya dan keluarlah seseorang yang belum terlalu tua, mungkin berumur sekitar empat puluh tahunan, yang membuat Nathan memanngil orang itu dengan sebutan ‘Pak’

“Eh kamu ternyata, udah lama nggak kemari.” Bapak itu tersenyum pada Nathan dan Kirana seraya mempersilahkan masuk, lalu mengunci pintu itu lagi.

“Iya,Pak. Sibuk belakangan ini.” Nathan tersenyum. “Saya ketempat biasa ya, Pak.”

Bapak itu hanya menganggukan kepalanya dan Nathan pergi meninggalkan lantai bawah. Tidak lama Nathan meninggalkan lantai itu, pintu utama toko itu pun dibuka dan orang-orang mulai berdatangan.

    Toko buku ini memang benar-benar bukan toko buku biasa. Toko buku tua lima lantai ini memang sudah ada disini sejak dulu. Memang luarnya cukup usang, tapi dalamnya cukup bisa dijadikan tempat-tempat kekinian yang digandrungi anak-anak jaman sekarang.

oOo

    Toko buku itu tidak hanya menyediakan buku langka dan buku baru saja. Toko buku itu memiliki konsep coffee shop yang membuat pengunjung bisa melakukan banyak hal disana. Memang belum cukup terkenal karena tempatnya cukup sulit untuk dijangkau, tapi untuk pecinta buku pasti mereka akan merelakan apapun untuk ke tempat ini.

    Nathan bukan pecinta buku seperti para nerd diluar sana, bukan juga pengoleksi buku. Dia hanya menikmati apa yang tidak bisa dinikmatinya dirumah. Keramaian yang senyap. Suasana itu sangat sulit didapatkan Nathan.

    Nathan meletakkan ranselnya di sebuah kursi di pojok ruangan dan mulai menyalakan lampu diruangan itu. Tidak banyak lampu disana hanya ada tiga buah lampu gantung berwarna kuning yang membuat cahaya diruang tersebut agak remang-remang. Dan sebuah lampu putih di area balkon yang dibawahnya  terdapat meja bundar kecil dan dua buah bangku yang berhadapan.

    Kirana yang tadinya mengekori Nathan mulai masuk kedalam ruangan dan melihat-lihat sekitar ruangan itu. Disana ada sebuah rak buku besar. Dilihat dari deretan buku yang terletak disana, bisa dipastikan itu adalah buku-buku langka cetakan pertama yang masih utuh dan sudah sulit ditemukan di toko buku biasa. Jari-jemari Kirana menyusuri satu persatu buku yang bersandar di rak buku itu.

“Lo tunggu sini ya, gue kebawah sebentar ambil minum.”

Kirana menoleh sebentar dan mengangguk lalu kembali lagi ke deretan buku-buku itu. Tidak lama Nathan kembali dengan dua cangkir minuman hangat dan sebuah buku dari lantai bawah dan diletakkannya baki itu di meja bundar.

“Lo udah sering ke sini ya, Nat?” Kirana menghampiri Nathan dan duduk di bangku kayu.

“Ini tempat kabur gue kalau gue penat.” Nathan menyesap kopi panasnya dan merelakskan tubuhnya di sandaran kursi. “Lo orang pertama yang gue ajak kesini.” Nathan terhenti dan melanjutkan, “Itu juga gara-gara lo ngikut gue.”

“Ya maaf deh gue mengganggu me time lo.” Kirana memberi penekanan pada kalimat ‘me time’ dengan nada sarkas. Nathan hanya terkekeh mendengar Kirana. “Disini lengkap ya bukunya. Gue liat The Breakthrough Series tadi.”

“Lo baca serinya? Semuanya?”. Mata Nathan membola, kaget.

“Emm.. nggak semua sih, ada yang gue nggak punya karena susah nyarinya. Kok lo kaya nggak percaya gitu sih?” Kirana terkekeh.

“Gue nggak nyangka aja. Itu novel berat menurut gue sih, gue pernah baca disini. Lo mau pinjam? Gue bisa minta ke bapaknya kalau lo mau pinjam.”

“Lo serius Nat?! Gue mau banget! Gue nyari dari dulu.” Kirana menjawab dengan menggebu-gebu. Baru kali ini Kirana menjawab dengan sangat antusias. Kirana mencondongkan tubuhnya dan menopangkan dagunya diatas tangannya yang bertumpu membulatkan matanya seperti anak kecil yang baru dibelikan boneka baru oleh orang tuanya.

    Nathan hanya mengangguk dan segera mengeluarkan ponselnya pergi agak sedikit menjauh menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian Nathan kembali lagi ketempat duduknya dan meletakkan ponselnya.

“Udah gue bilangin ke bapaknya, lo boleh ambil katanya. Tapi dia minta nama sama nomor hp lo buat data dia. Kirim ke Line gue aja, IDnya nathgio” Nathan merelakskan kembali punggungnya dan membuka buku yang dia bawa.

“Lo modus ya minta ID gue? Hahaha.” Kirana tertawa kecil. “ID lo lucu ya. Kaya singkatan National Geographic.

Nathan yang tadinya membaca buku menurunkan bukunya dan melihat ke arah Kirana. “Gue anggap itu pujian. Hahaha” Nathan tertawa.

Setelah notifikasi pesan Line-nya masuk, Nathan mengetik sesuatu lalu kembali fokus dalam bacaannya.

oOo

    Malam itu benar-benar malam yang menenangkan. Malam hari dengan udara yang tidak terlalu dingin namun tidak juga panas, dengan segelas cokelat dan buku. Dan adalagi yang berbeda dimalam itu yang membuat tidak seperti biasanya, disana. Dia, Kirana. Tidak ada apa-apa. Hanya ada yang berbeda karena biasanya kursi itu diisi oleh barang bawaan Nathan. Entah sebuah kebetulan yang lagi-lagi tidak ada yang tau kenapa seperti itu. Hanya tuhan yang tau.

“Hah, udaranya enak ya disini. Keliatan semua walaupun dari lantai 5 doang.” Kirana meregangkan tubuhnya dengan santai sambil menatap dengan pandangan kosong ke arah langit.

Nathan yang semula membaca memalingkan wajahnya sebentar menatap Kirana yang sedang menatap kearah lain. Tidak terlihat oleh Kirana karena tertutup buku, hanya sedikit saja. Tidak disangka mereka sudah menghabiskan waktu bersantai disana dua jam lamanya. Nathan melihat jam di tangannya lalu menutup bukunya dan berdiri.

“Balik deh yuk? Lo mau nginap disini emangnya? Nyokap lo pasti udah di rumah juga kayaknya.”

“Hah?” Kirana hanya menoleh melihat Nathan yang sedang bersiap-siap. “Yaudah deh.” Kirana meng-iya-kan dengan tidak rela. Bukannya dia tidak ingin pulang, tapi tempat itu memang benar-benar nyaman. Tempat yang tepat untuk menyendiri tapi tidak terasa sepi, atau mungkin karena ada Nathan. Tapi tidak, Nathan sama saja seperti tidak ada dengan hanya diam.

    Nathan dan Kirana meninggalkan tempat itu, tidak lupa juga Kirana mengambil buku pinjamannya dan Nathan kembali mematikan lampu diruangan itu. Saat Kirana dan Nathan turun, mereka mendapati lantai bawah itu sudah cukup ramai orang. Semakin malam, tempat itu semakin banyak pengunjung, namun tidak terlalu ramai.

    Nathan dan Kirana berjalan terus lurus kearah pintu utama, bukan pintu belakang lagi. Saat berjalan mereka bertemu bapak pemilik itu, lalu Nathan dan Kirana berpamitan pulang. Mereka berdua masuk kedalam mobil sedan yang terparkir dan segera beranjak sebelum kepadatan lalu lintas menyerang mereka.

oOo

    Hari ini mereka benar-benar beruntung. Entah karena alasan apa jalanan terasa lebih lengang membuat Nathan dan Kirana tidak perlu menghabiskan waktu memakan umur didalam mobil karena macet.

    Seperti biasa, Nathan mengantar Kirana kerumahnya dan akan pergi setelah kirana masuk ke pagarnya.

“Makasih banyak banget ya, Nat. Lo ngebantu gue banget hari ini.”

“Santai. Gue kan sekalian juga tadi. Oh iya, buku yang lo pinjam itu kalau lo mau balikin sendiri nggak papa kok, bilang aja sama bapaknya nanti.” Nathan melihat jam tangannya menandakan waktu semakin malam. “ Gue cabut ya, Ran.”

“Kalau udah sampe kabarin ya, Nat. Makasih banget hari ini.” Kirana tersenyum.

Nathan hanya mengangguk dan malambaikan tangannya lalu melajukan mobilnya berjalan keluar komplek Kirana.

oOo

    Sesampainya dirumah, Nathan membuka aplikasi Line-nya lalu mencari chat dari Kirana yang sudah terpendam. Sebelum negetikkan Nathan terdiam. Untuk apa dia memberi tahu Kirana kalau dia sudah sampai. Memangnya untuk apa? Nathan berpikir, lalu akhirnya dia tetap mengetikkan pesan karena tidak enak kalau tidak mengabari. Namun saat ingin mengetik tiba-tiba pesan dari Kirana masuk.

Kirana Cathaleeya : Udah sampe?

Kirana Cathaleeya : Makasih banyak ya Nat, maaf banget ngerepotin lo mulu.

Tumben dia bilang kaya gitu. Batin Nathan.

Nathan Virgio : Baru sampe kok ini

Nathan Virgio : Iya udah biasa lo kan ngerepotin gue, hahaha. Bercanda kok. Santai aja

Kirana Cathaleeya : Tau gitu nggak usah minta maaf ya gue ☺

Kirana Cathaleeya : Oh iya bukunya mungkin kamis gue balikin

Nathan Virgio : Oke

Nathan menutup Line-nya dan meletakkan ponselnya. Baru sebentar Nathan merebahkan tubuhnya di kasurnya tiba-tiba sebuah panggilan masuk.

“Halo?”

Lo dimana nyet?”

“Nggak ada panggilan yang bagus dikit apa?”

“Jo sini dong, temenin gue bentar dong bule” terdengar suara Uta yang seperti orang melantur.

“Ck. Lo teller ya?”

“Halo? Halo? Heh tem?”

Tidak ada jawaban dari balik telpon dan akhirnya terputus. Nathan berdecak kencang dan mengacak-acak rambutnya kesal. Baru dia tiba 10 menit lalu, dan tiba-tiba si jawa metal alias Jamet itu menelpon dan meminta ditemani. Cowo macam apa seorang Nathan pergi malam-malam menemui temannya yang cowo juga di sebuah club. Bisa-bisa dia disangka gay.

    Nathan memilih jalan lain dengan menelpon satu temannya lagi yang dijamin gabut di malam ini. Nathan mengetikkan nomor yang sudah dihafalnya dan menekan tombol dial.

“Halo Key?”

“Temenin gue cabut, gue otw.”

“Ngapain anjir, gue nggak mood maho-an sama lo hari ini.”

“Temen lo teller bego. Nggak kuat gue ngangkut dia sendirian, lo tau kan dia kalo tidur, walaupun ada perang dunia ke lima sekalipun nggak akan bangun apalagi pas teller. Nggak usah bawa kendaraan. Gue jemput lo.”

“Ck. Nyusahin dah tuh jamet satu. Yaudah gue siap-siap.”

“Oke. Tiga puluh menit lagi gue didepan kamar lo!”

Nathan menakhiri telponnya dan berganti pakaian sekenanya, lalu berjalan keluar rumah mengambil mobilnya lagi dan segera pergi ke apartemen Keynal.

oOo

#TBC#

A/N:

Feedback aku terima dalam bentuk apapun dan mohon maaf kalau aneh atau nggak sesuai selera tapi alurnya emang gini tunggu aja semua akan terkuak nanti hehe dan terima kasih sudah membaca u.u

Btw sebenernya mau coba post cerita lain tapi gajadi hehe curhat aja kok ini

See you on next chapter~

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür: Toko Buku Tua (Chapter 8)

  1. Nanthan kirana sebenarnya pengen minta romance dikit,tapi itu aja udah cukup kayaknya,ya namanya juga awal.
    Dan selalu,kalo anggota kps muncul,komedi gak pernah ngilang.
    Lanjut kak,,fighting

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s