[EXOFFI FREELANCE] Married by Accident (Chapter 3)

|| Married by Accident [Chapter 3] ||

by ariana kim

Main cast :

|| Kim Jongin [EXO]– Park Hana [OC] ||

Support cast :

|| Kim Ara [OC] – Hwang Minhyun [Nu’est/ Wanna One] – Park Chanyeol [EXO] – Do Kyungsoo [EXO] – Oh Sehun [EXO] – Han Jihyun [OC] ||

Romance – Married Life – Drama – Sad

Multi Chapter

PG – 17 (berubah tiap chapter)

Summary :

Ini memang bukan kisah baru dalam kehidupan manusia. Namun pernahkah kau berpikir sebuah kecelakaan mampu membuat dua orang bersatu? Kau tidak akan pernah menduga apa yang terjadi sebenarnya.

Disclaimer :

Fanfic ini asli buatanku. Ide cerita berasal dari khayalanku yang tidak pernah terealisasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, alur dan setting, itu hanyalah ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t be a plagiator.

*

*

*

Decision #3.

BRAAAAAK

Kyungsoo yang sejak tadi berdiri di depan ruangan Jongin terlonjak kaget saat Tuan Kim membanting pintu begitu ia keluar dari sana. Dengan gugup, Kyungsoo memberikan hormat yang hanya diacuhkan oleh Tuan Kim. Pria yang hampir berkepala lima itu hanya melengos dan berjalan dengan angkuhnya yang diikuti pengawal pribadi di belakangnya. Begitu langkah Tuan Kim mulai menjauh, Kyungsoo segera masuk dan menemukan Jongin tengah duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang memijit pelipisnya. Lelaki itu terlihat begitu kacau.

“Kenapa Ketua begitu marah?” Tanya Kyungsoo setelah membungkuk hormat pada Jongin.

Mata Jongin bertatapan dengan Kyungsoo, “Kau pasti sudah mendengarnya.” Tebak Jongin.

Kepala Kyungsoo mengangguk, “Beliau bicara begitu keras hingga siapapun yang lewat pasti akan mendengarnya,” Kyungsoo beralasan, “Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Sajangnim?” Tanyanya.

Jongin terdiam. Ia menghela nafasnya yang terasa berat. Hari-harinya belakangan ini begitu penuh cobaan. Kalimat yang diucapkan oleh Ayahnya barusan masih terngiang-ngiang di telinganya.

“Aku memberimu waktu dua hari. Bawa gadis itu ke rumah, atau kau akan kuhapus dari daftar pewaris.”

Kalimat itu benar-benar membuatnya semakin kacau. Bagaimana bisa ia membiarkan harta milik keluarganya yang hampir sepenuhnya ia kuasai hilang begitu saja? Bisa-bisa sia-sia sudah semua usaha yang telah ia lakukan. Jongin tidak ingin kehilangan itu semua. Walau bagaimanapun, perusahaan beserta seluruh asetnya harus jatuh ke tangannya. Entah itu harus mengorbankan kebahagiaannya. Setidaknya ia tidak ingin terlihat begitu buruk setelah kehilangan Hyerin.

“Bagaimana lagi? Aku harus menurutinya.” Jawab Jongin akhirnya.

“Kau tidak serius ‘kan?” Kyungsoo terperangah, tidak percaya pada Jongin yang begitu mudah menyerah. “Jangan katakan kau lupa bagaimana terakhir kali saat kau bertemu dengannya.” Kyungsoo mengingatkan. Sejujurnya Kyungsoo juga tidak mau melihat sahabatnya itu kehilangan warisan. Namun, ia juga tidak mau melihat Jongin kehilangan kebahagiaannya. Gadis yang begitu mirip dengan Hyerin, dia tidak baik untuk Jongin.

Tentu saja Jongin tidak lupa pada kejadian beberapa hari yang lalu. Bagaimana ia yang dengan bodohnya mencium Hana hanya karena wajahnya yang begitu mirip dengan Hyerin. Sampai sekarang ia juga tidak mengerti kenapa bisa melakukan hal itu. Mungkin karena ia terlalu terbawa perasaan hingga semuanya terjadi tanpa bisa ia kendalikan. Ingatannya lalu kembali saat ia mencium Hana waktu itu.

FLASH BACK ON

“Hyerin, saranghae.”

Jongin yang masih di bawah pengaruh kesedihannya, belum tersadar dengan siapa ia berciuman tadi. Akal sehatnya yang masih berfungsi mengatakan jika itu salah. Karena jelas gadis itu bukan Hyerin.

Hyerin sudah meninggal.

Berkali-kali akal sehatnya meneriakkan hal itu. Namun hatinya, hatinya yang terlampau bodoh tidak mau menerimanya. Ia tidak bisa menerimanya. Kenyataan bahwa Hyerin sudah pergi dari hidupnya, benar-benar membuatnya hampir gila. Ia tidak bisa kehilangan Hyerin. Ia belum siap hidup tanpa seseorang yang begitu dicintainya. Seseorang yang begitu ia inginkan dalam hidupnya.

PLAKKK

Tangan Hana yang sejak tadi sudah gatal untuk menyadarkan lelaki itu, dengan mudahnya melayang hingga membuat pipi mulus mempesona milik seorang Kim Jongin memerah sekarang. Hana menatap lelaki itu dengan tatapan tajam, yang dibalas dengan tatapan tak percaya oleh Jongin.

“Hyerin, kau – “

“Aku bukan Lee Hyerin. Namaku Park Hana.” Jelas Hana penuh penekanan di setiap katanya.

Tentu saja ia bukan Hyerin. Ia yang sejak tadi mengira jika Jongin mulai terhanyut dalam pesonanya yang tiada tandingannya, senang-senang saja saat Jongin menciumnya. Namun kata yang diucapkan oleh Jongin serasa membakarnya. Ia marah dan tersinggung. Bagaimana bisa ia terus-terusan disamakan dengan Hyerin? Bukankah ia sudah bilang jika mereka tidaklah sama? Bagaimana bisa lelaki itu begitu bodoh?

“Ma-maaf.” Jongin tersadar akan kebodohannya. Ia buru-buru meminta maaf walaupun kesadaran belum sepenuhnya menghampirinya. Ditatapnya gadis yang kini nampak marah, Jongin menggigit bibir bawahnya khawatir.

“Baiklah. Aku akan memaafkanmu.” Ucap Hana akhirnya. Senyuman yang sebelumnya terus-terusan bertengger di wajahnya kini sudah lenyap tertelan kemarahan.

Hana bangkit dari duduknya setelah sebelumnya menenggak habis secangkir kopi yang sejak tadi belum ia sentuh. Ia berniat pergi, namun tidak baik ‘kan mengabaikan apa yang sudah mereka hidangkan kepadanya? Hana tahu jika harga kopi itu mahal dan jarang-jarang ia bisa ditraktir walau hanya minum kopi di cafe ini.

“Aku harap kita tidak perlu bertemu lagi, Jongin-ssi.” Mulai Hana, ia menyampirkan tas selempangnya di salah satu bahunya, “Terimakasih atas apa yang telah kau berikan padaku. Namun sekali lagi kutegaskan, aku bukanlah Lee Hyerin dan kami tidak memiliki hubungan apapun. Semoga kau bisa menerima kepergiannya dengan lapang dada.” Sambungnya dan berjalan menjauh.

Jongin hanya terdiam, pikirannya terlalu berkecamuk. Ia memandangi kepergian Hana dengan sejuta perasaan aneh dalam dirinya. Baru beberapa langkah berjalan, Hana berhenti dan menatap lelaki itu kembali.

“Oh ya, kau tidak perlu khawatir. Aku akan menutup mulutku rapat-rapat.” Ucapnya lagi sambil memberikan gerakan menutup mulutnya seolah-olah ada resleting yang terpasang disana.

FASH BACK OFF

“Sajangnim, kau mendengarku?”

Lamunan Jongin tersadar saat Kyungsoo mengetuk mejanya pelan. Jongin menatap lelaki itu dengan raut wajah bingung. Ah, ia pasti tidak mendengarkan apa yang sekretarisnya itu bicarakan tadi.

“Ne? Kau bicara apa tadi?”

Kyungsoo mengerutkan keningnya. Ia menatap atasannya sedikit sebal namun masih tetap mempertahankan ekspresi wajahnya agar tidak kentara. “Apa sebaiknya kita temui saja dia?” Usulnya.

“Kau tidak berpikir untuk melakukan sesuatu yang lain tanpa adanya pernikahan?” Tanya Jongin. Ia pikir Kyungsoo memiliki solusi yang lebih baik dari Ayahnya. Tentu saja tanpa ia harus kehilangan warisannya.

Kyungsoo mengendikkan bahunya, “Apa lagi memangnya? Kupikir apa yang dikatakan Ketua ada benarnya.” Ia berpendapat. “Kegagalan pernikahanmu akan berakibat buruk pada perusahaan. Jika perusahaan ini mengalami kerugian dan ini karenamu, maka Ketua akan langsung mencopotmu dari posisi Presdir.”

Jelas sekali itu berbeda dari apa yang Kyungsoo pikirkan sebelumnya. Ia hanya tidak tahu bagaimana baiknya ia bersikap untuk saat ini. Entah sebagai sahabat atau bawahan kepada atasannya. Ia mendengar semua yang Tuan Kim katakan pada Jongin. Dan jelas bahwa Jongin akan kehilangan warisan jika ia tidak menikahi gadis itu.

Sejujurnya itu hal yang sangat rumit. Tidak mudah memutuskan sebuah pernikahan hanya demi harta. Namun, jika semua ini demi kebaikan bersama, tentunya demi kelancaran perusahaan yang menghidupi ribuan karyawan di bawahnya, Kyungsoo mungkin akan berpikiran seperti Tuan Kim. Tapi ia tidak yakin bagaimana baiknya.

Perlahan Jongin mengangguk. Walau dengan setengah hati. Tapi apa yang dikatakan Kyungsoo memang ada benarnya juga. Ayahnya memberikan tiga tahun masa percobaan bagi Jongin untuk memimpin perusahaan. Dan jika dalam kurun waktu itu Jongin membuat perusahaan rugi ataupun resiko terburuknya bangkrut, maka Tuan Kim tak segan untuk mencoret Jongin dari daftar pemimpin perusahaan. Dan ini baru dua tahun kepemimpinannya. Ini terlalu beresiko jika Jongin salah mengambil langkah. Terlebih, warisanlah taruhannya.

“Kau benar.” Jongin membenarkan. “Lalu apa yang harus aku lakukan, Kyung?” tanyanya sambil menarik rambutnya kuat-kuat. Ia serasa hampir meledak dengan pening yang terus melanda kepalanya.

“Temui Park Hana dan jelaskan bagaimana keadaanmu. Mungkin kau harus membuat beberapa perjanjian agar dia mau menikah denganmu.” Jawab Kyungsoo mantap. Ia memang tidak memikirkan hal lain lagi yang lebih dari ini. “Hanya empat bulan. Dan itu tidaklah lama.” tambahnya.

“Baiklah.” Jongin akhirnya setuju. Walau semua ini terasa berat baginya.

.

.

.

.

“Oppa.. bagaimana bisa kau membuatku malu, huh?”

Hana berteriak di telepon saat seseorang yang sejak tadi ia ajak bicara hanya menanggapinya setengah-setengah. Ia sedang benar-benar kesal dan tidak seharusnya lelaki yang ia telepon ini mengabaikannya.

Yak, pelankan suaramu, Sayang.” Tegur lelaki di seberang, “Lagipula kenapa kau meneleponku malam-malam begini?”

Hana mendesah panjang. Ia benar-benar kesal pada lelaki bernama Byun Baekhyun ini. Bagaimana bisa lelaki itu mengabaikannya selama seminggu hanya karena sibuk bekerja? Terlebih kartu yang ia berikan padanya diblokir. Apa-apaan lelaki itu?

“Salah sendiri sibuk dengan pekerjaanmu.” Ketus Hana.

Terdengar suara kekehan dari seberang, “Jadi kekasihku sedang merajuk, ya?” Tebak Baekhyun masih terus terkekeh. “Ayolah, Sayang. Aku juga bekerja untukmu, untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Bukankah kita akan menikah?”

Menikah?

Huh. Yang benar saja!

“Kau yang mengatakan ingin menikah denganku.” Jawab Hana sambil mencibir, “Lalu kenapa kau memblokir kartu yang sudah kau berikan padaku?” cecarnya.

“Oh aku lupa memberitahumu, Sayang.” Baekhyun teringat akan sesuatu. “Ayah tahu jika pengeluaranku bulan ini sangat banyak sehingga memblokir semua kartu yang kupegang, termasuk yang kuberikan padamu.”

Ditempatnya Hana menggeram. Sialan sekali Ayah Baekhyun ini.

“Bukankah sudah kukatakan untuk mulai berhemat? Berhentilah membeli sesuatu yang tidakpenting.”

Dan Baekhyun mulai lagi mengoceh. Ia persis seperti Chanyeol saat membicarakan kebiasaan Hana yang suka menghambur-hamburkan uang. Jika saja orang tuanya masih hidup dan perusahaan yang dulunya dimiliki oleh mereka tidak bangkrut, Hana pasti tidak akan susah-susah untuk mendapatkan uang.

“Baiklah. Baiklah. Aku mengerti.” Ucap Hana akhirnya setelah Baekhyun mengoceh panjang lebar seperti kereta yang kehilangan remnya.

“Oh iya, besok aku harus pergi ke London. Ada beberapa hal yang harus kuurus. Mau mengantarku ke bandara?” tanya Baekhyun.

“Baiklah.” Jawab Hana setengah hati. Sebenarnya ia tidak mau repot-repot mengantar lelaki itu karena dia sudah punya sopir pribadi. Tapi jika ia tidak melakukannya, Baekhyun pasti akan menarik semua pemberiannya.

“Aku tunggu pukul tiga.” Kata Baekhyun ceria, “Sayang, aku tidur dulu, ya.”

“Ya. Selamat tidur.”

Setelah sambungan terputus, Hana melemparkan ponselnya asal di atas kasur. Ia mulai membuka buku tebalnya dan mengerjakan beberapa soal disana. Ujian akan dilaksanakan sebulan lagi dan ia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya. Ia harus berhasil atau Chanyeol akan menendangnya dari rumah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari tapi Hana belum mengantuk. Ada banyak hal yang ia pikirkan akhir-akhir ini.

Gerakan Hana menulis terhenti saat sesuatu melintas dalam pikirannya. Ia meletakkan pensilnya dan menatap sekeliling lalu pandangannya tertuju pada seragam SMAnya yang tergantung di belakang pintu. Hana berjalan mendekatinya dan mengambil sesuatu dari saku roknya. Sebuah ponsel.

Perlahan setelah mendudukkan dirinya di atas kasur, Hana membuka ponsel tersebut. Foto seorang gadis yang memiliki wajah hampir mirip dengannya terlihat sebagai wallpaper utama. Hana meringis. Itu adalah ponsel milik Hyerin yang masih ia simpan hingga kini. Entah apa yang Hana pikirkan, tangannya mulai mengotak-atik isi ponsel tersebut yang untuknya tidak diberi password. Mulai dari pesan yang sebagian besar isinya dari manajernya dan Jongin. Hana tidak berani membuka semuanya, hanya beberapa pesan saja. Dan sesekali ia akan tersenyum membaca pesan romantis yang dikirimkan Jongin kepada gadis itu.

Jongin pasti sangat mencintai Hyerin. Memikirkan itu membuat Hana ingat akan kejadian kemarin, membuat ekspresi wajahnya berubah. Hana lalu membuka gallery foto dan menemukan banyak foto Hyerin dalam balutan gaun-gaun mahal maupun pakaian santai. Beberapa juga ada selcanya bersama Jongin. Lelaki itu nampak begitu tampan dengan semua pakaian yang dikenakannya. Hana mengakuinya. Ia juga sempat terpesona pada Jongin. Jika saja lelaki itu tidak begitu mencintai Hyerin, ia pasti dengan mudah bisa menjatuhkannya.

Sayangnya..

.

.

.

.

Pagi ini tidak ada kegiatan lain yang Hana lakukan selain belajar. Ia tidak sedang dalam kondisi yang baik untuk pergi berbelanja. Terlebih, beberapa kartu yang ada di dalam dompetnya tidak bisa digunakan lagi, ia juga tidak punya uang. Jadi, lebih baik ia menghabiskan sepanjang harinya dengan belajar. Siapa tahu nantinya akan berguna saat ujian masuk berlangsung.

Hana memang bukan orang yang pintar. Ia biasa-biasa saja. Sejak masuk sekolah dasar hingga lulus dari universitas, ia tidak pernah mendapatkan peringkat tertinggi. Paling tinggi saja hanya masuk sepuluh besar, itupun dengan perjuangan yang cukup sulit. Itulah kenapa Hana memutuskan untuk memfokuskan dirinya hanya dengan belajar selama setahun ini setelah lulus kuliah. Sebenarnya ia bisa saja bekerja sembari belajar, namun ia takut fokusnya akan terbagi. Seperti ini saja rasanya sudah sulit, apalagi jika ia melakukan hal lain lagi.

Sejak tadi ia sudah memfokuskan dirinya dengan mengerjakan beberapa soal matematika namun pikirannya malah melantur kemana-mana. Hana melempar pensilnya asal dan merebahkan kepalanya dengan cukup keras ke atas meja. Ia memejamkan matanya sebentar, siapa tahu dengan beristirahat sejenak bisa membuat pikirannya tenang. Jika keadaannya terus-terusan begini, Hana tidak bisa belajar dengan baik. Ah, semua ini karena si sialan Hyerin yang sudah mati itu. Harusnya Hana tidak menolongnya.

TING TONG TING TONG

Baru beberapa menit memejamkan matanya, bel berbunyi menandakan ada seseorang yang datang berkunjung. Hana membuka matanya dan mendesah kesal. Ini masih pukul delapan pagi dan siapa yang repot-repot berkunjung ke apartemennya yang kecil dan pengap ini? Hana saja belum mandi dan masih mengenakan pakaian tidurnya.

Dengan kesal, Hana berjalan keluar dari kamarnya tanpa mengganti baju. Pasti petugas pengantar barang atau surat yang sering  wara-wiri ke apartemennya. Sejak pindah ke apartemen, Hana dan Chanyeol tidak pernah sekalipun menerima tamu yang sebenarnya. Kebanyakan hanya orang-orang yang salah apartemen ataupun orang iseng. Jadi, Hana sudah memikirkan apa yang akan ia lakukan jika itu hanyalah orang iseng.

Tanpa melihat siapa yang menekan belnya terlebih dahulu, Hana membuka pintunya dengan wajah malas. Matanya langsung mendapati dua orang lelaki berpakaian rapi dalam setelan jas yang terlihat mahal. Hana segera mengenali kedua orang itu dan wajahnya menampakkan keterkejutan. Itu adalah Kim Jongin dan Do Kyungsoo. Apa yang kedua lelaki tampan, keren nan kaya itu lakukan di apartemennya yang bak gubuk reot ini?

Apa mereka masih ingin memperpanjang masalah tempo hari?

Hana menggigit bibir bawahnya kesal. Ah, ia ingat apa yang terakhir kali ia lakukan pada Jongin. Tidak seharusnya Hana menampar lelaki itu. Ia tahu hal itu pasti akan beresiko terhadap masa depannya. Bagaimana jika Jongin berniat menuntutnya lalu memasukkannya ke dalam penjara?

“Hana-ssi, boleh kami masuk?” Tanya Kyungsoo sambil mengetuk pintu di samping Hana. Sejak tadi ia sudah mengatakan maksud kedatangan mereka pada Hana, namun gadis itu hanya diam sambil menatap mereka dengan pandangan aneh.

“Oh.” Hana seakan tersadar dan langsung tersenyum kikuk. “Silakan.” Ucapnya sambil mempersilakan mereka masuk.

Melihat kondisi apartemennya yang cukup berantakan, Hana berlari dan merapikan beberapa barang yang berserakan di atas meja. Ia melempar pakaian Chanyeol yang diletakkan asal ke dalam toilet yang pintunya sedikit terbuka lalu menutupnya agar tidak dilihat kedua lelaki itu.

“Maaf aku tidak terbiasa dengan tamu. Jadi, ya..” Hana mencoba menjelaskan setelah kedua lelaki itu duduk di sofa dengan nyaman. Ia melarikan helaian rambutnya ke belakang telinga dan ikut mendudukkan dirinya pada sofa yang masih kosong.

“Tidak apa.” Jawab Kyungsoo mengerti maksud Hana. Lelaki itu tersenyum pada Hana, membuat Hana semakin curiga dengan kedatangan mereka.

“Hana-ya, dimana kau menyembunyikan jaketku?”

Chanyeol yang baru keluar dari kamarnya, berteriak tanpa tahu jika ada tamu di rumah mereka. Ia melihat sekeliling ruang tamu dan terkejut melihat Hana duduk dengan dua orang lelaki sekaligus. Lelaki jangkung itu menatap adiknya dengan pandangan menyelidik.

“Siapa mereka?” Tanya Chanyeol tanpa repot-repot memberi salam, ia malah langsung duduk di samping adiknya, “Kau tidak berkencan dengan mereka berdua ‘kan?” tuduhnya.

“Ani.” Jawab Hana tegas. “Mereka yang memberiku uang waktu itu, Oppa.” Jelasnya.

Chanyeol menatap kedua lelaki itu, pandangannya masih terus curiga. Kyungsoo dan Jongin seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Chanyeol, buru-buru memperkenalkan diri mereka.

“Annyeonghaseyo, joneun Kim Jongin imnida.”

“Do Kyungsoo imnida.”

Keduanya memberikan hormat pada Chanyeol, seolah tahu jika Chanyeollah yang paling tua diantara mereka semua.

“Oh. Park Chanyeol, kakak Hana.” Chanyeol ikut memperkenalkan diri.

“Begini,” Kyungsoo memulai, “maaf jika kedatangan kami membuat kalian terkejut. Tapi ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan.”

“Tentang Hyerin?” tebak Hana. “Jika iya, aku tidak ingin membahasnya lagi.” Tolaknya cepat. Hana sudah muak mendengar nama Hyerin. Ia ingin segera terbebas dari semua orang-orang ini.

“Kau tidak bisa memutuskannya bahkan saat kami belum mengatakan apapun.” Jongin mulai tersinggung. Ia ingin bicara baik-baik dengan gadis ini tapi sepertinya tidak bisa. “Sampai kapanpun, kau akan tetap ada hubungannya dengan Hyerin, Nona.” Tegasnya.

Chanyeol menatap semuanya dengan bingung, ia tidak mengerti ada masalah apa. Walaupun ia tahu Hana telah menyelamatkan seseorang, ia tidak tahu bagaimana kelanjutannya. “Ada apa ini? Tolong jelaskan maksud kedatangan anda, Jongin-ssi.” Sela Chanyeol, mencoba menengahi.

Jongin mengangguk, “Baiklah. Seperti yang sudah kita ketahui jika adik Anda telah menolong kekasih saya, Lee Hyerin tempo hari, yang sayang nyawanya tidak tertolong. Saya sudah memberikan kompensasi sekaligus ucapan terimakasih. Namun ada masalah baru yang timbul dan saya ingin meminta tolong pada anda, Nona Park.” Jelasnya begitu formal, membuat Chanyeol tahu jika lelaki di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan.

Chanyeol dan Hana mendengarkan dengan serius.

“Kami akan menikah sebulan lagi dan pernikahan kami terancam batal. Tentu saja, memang sudah seharusnya begitu. Tapi kami tidak bisa membiarkannya. Beberapa investor mensponsori pernikahan ini, dan jika pernikahan tidak berjalan, perusahaan kami harus mengganti rugi. Dan itu bukan jumlah yang sedikit.” Sambung Jongin.

“Jadi kau ingin kami ikut membantumu mengganti rugi? Sayangnya, kami tidak sekaya itu, Jongin-ssi.” Sela Hana. Ia tahu jika lelaki ini tidak akan melepaskannya begitu mudah.

“Tidak.” Bantah Jongin, “Justru saya ingin meminta Anda menyelamatkan pernikahan ini.”

“Kau gila?” Hana terperangah. “Bagaimana bisa?”

Menyelamatkan pernikahan? Yang benar saja! Hyerin, si mempelai wanita sudah mati. Apa Jongin ingin menyuruh Hana membangkitkannya? Atau Hana harus menukar nyawanya agar Hyerin hidup kembali?

“Bisa saja. Jadilah pengantinku.” Ucap Jongin mantap.

Hana dan Chanyeol saling berpandangan.

“Begini, Tuan dan Nona Park,” Kyungsoo berniat menjelaskan, “Pernikahan ini hanyalah sementara, hanya empat bulan. Jika kau mau menjadi pengantin Tuan Kim, perusahaan kami akan terbebas dari mengganti rugi. Tentu saja kami tidak akan bodoh, kau akan mendapatkan hasil yang setimpal. Kami sudah menyiapkan rumah mewah di daerah Apgujeong yang sertifikatnya atas namamu dan tabungan beberapa miliar won yang bisa kau gunakan untuk mulai berbisnis. Terlebih, hidupmu akan terjamin selama kau berstatus sebagai istri Tuan Kim. Bagaimana?” tawar Kyungsoo.

Chanyeol sibuk menghitung seberapa banyak yang akan mereka terima jika Hana mau menjadi istri Jongin. Itu bukan jumlah yang sedikit mengingat mereka pastilah orang yang super kaya. Sedangkan Hana, sibuk memikirkan dampak postif dan negatif jika ia mau menerima tawaran itu. Tentu saja ia tidak mau gegabah memutuskan. Pernikahan bukanlah hal sepele yang bisa diputuskan dengan mudah.

Tawaran yang kedua lelaki ini berikan pada Hana memang sangat menggiurkan. Siapapun pasti akan tergoda. Bayangkan saja, hanya dengan menikah dan kau akan mendapatkan semua yang selalu kau bayangkan hampir seumur hidupmu akan kau miliki. Nilainya bukan ratusan atau ribuan, tapi sampai milyaran! Benar-benar fantastis. Jongin pastilah orang yang super duper sialan kaya. Jika tidak, bagaimana bisa ia mau mengeluarkan uang sebanyak itu?

Tapi tunggu dulu. Menikah berarti hidup bersama dan saling melengkapi. Hana tidak bodoh. Ia sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang dilakukan oleh dua orang yang sudah menikah. Hidup serumah, tidur sekamar. Tentu saja tidur dalam artian istilah maupun harfiah. Jadi Hana harus menyerahkan dirinya demi mendapatkan uang? Huh, memikirkannya saja membuat Hana merasa seperti seorang pelacur yang menjual dirinya pada pria-pria kaya. Tapi bukankah selama ini Hana juga memanfaatkan pria-pria kaya demi menyalurkan hasratnya untuk berbelanja? Apa bedanya ia sekarang dengan nanti?

“Bagaimana? Kau setuju?” Pertanyaan Kyungsoo membuat lamunan Hana terhenti. Ia menatap Jongin yang juga tengah menatapnya. Lelaki itu duduk tegap dengan begitu berwibawa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Hana,” Chanyeol memanggil Hana, membuatnya menoleh, “terima saja. Ini baik untuk kita.” Bisiknya yang sialnya masih bisa didengar oleh Jongin dan Kyungsoo.

Hana meringis melihat kedua lelaki di depannya terlihat ingin tertawa, “Sebentar, kau bilang pernikahan ini hanya empat bulan? Kenapa tidak tiga bulan seperti yang di TV itu?” tanya Hana, sedikit bingung.

Kyungsoo ingin tertawa mendengarnya, namun ia menahannya. “Para investor memberikan waktu tiga bulan sebagai masa percobaan pernikahan. Jika dalam waktu tiga bulan pernikahan ini gagal karena kedua mempelai memutuskan untuk bercerai atau yang lainnya, maka perusahaan harus mengganti dua kali lipat.”

“Empat bulan.” Jongin menyela, “Tiga bulan masa percobaan dan sebulan untuk meyakinkan dan menyelamatkan perusahaan. Itu bukan waktu yang lama, Hana-ssi.”

Hana mengangguk mengerti. Jadi pernikahan ini hanyalah alasan untuk terbebas dari penggantian rugi. Ia merasa dimanfaatkan sekarang. Ia menoleh dan menatap Chanyeol, meminta pendapat kakaknya.

“Kami setuju.” Celetuk Chanyeol tiba-tiba membuat Hana terkejut. Bagaimana bisa kakaknya memutuskan dengan begitu mudah? “Kalian tidak berniat mempermainkan kami ‘kan?” tanyanya memastikan. Walau wajah mereka tidak terlihat seperti seorang penipu.

“Tentu saja tidak.” Kyungsoo menimpali. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya. Sebuah dokumen. Ia membukanya dan meletakkannya diatas meja agar bisa dilihat oleh Chanyeol, “Kami bahkan sudah menyiapkan surat pernjanjiannya, Tuan. Silakan dibaca.” Sambungnya.

Mata Chanyeol membulat saat melihat logo BIG Company tertera di kop surat perjanjian itu. Chanyeol sangat tahu jika itu adalah perusahaan besar di Korea yang cukup berpengaruh. Ia tidak akan merasa rugi jika harus melemparkan adiknya pada lelaki di depannya ini.

“Jadi aku hanya perlu tanda tangan disini?” Tanyanya sambil membuka tutup bolpoin dan membubuhkan tanda tandangannya di atas materai. Seketika Hana menjerit di tempatnya.

“Oppa, apa yang kau lakukan? Kita bahkan belum membaca isinya!!” Jeritnya histeris sambil menarik surat itu.

“Sudahlah. Apa yang kita dapatkan lebih dari cukup untuk membayar usaha yang akan kau lakukan nantinya.” Hibur Chanyeol, memberikan senyuman lebar yang terlihat bodoh sekaligus menjengkelkan di mata Hana.

“Silakan ditanda tangani, Hana-ssi.” Kyungsoo memberikan bolpoin pada Hana yang ragu-ragu diterima oleh gadis itu.

Hana menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya ia belum memutuskan. Masih ada banyak hal yang ingin ia lakukan sebelum menikah. Dan kakanya yang bodoh ini dengan mudahnya memberikan persetujuan. Sialan sekali Chanyeol ini!

“Ayo cepat, Hana. Aku harus bekerja.” Desak Chanyeol yang mulai tidak sabaran. Ia melihat jam tangannya dan menatap adiknya tajam.

Ragu-ragu, Hana mendekatkan tangannya pada kertas tersebut dan dengan perlahan membubuhkan tanda tangannya disana. Ia menutup matanya saat Kyungsoo mengambil dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam tas kembali.

“Terimakasih. Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik.”

.

.

.

.

Berkali-kali Hana mendesah saat lift di depannya ini tak kunjung terbuka. Beberapa orang yang juga menunggu lift sudah berdiri di belakangnya dengan sikap yang sama seperti dirinya. Ini hari Jumat dan mall terlihat ramai dari hari biasanya. Itu sebabnya lift belum juga naik ke lantai tempat ia berada walau Hana sudah menunggu selama hampir sepuluh menit.

Diam-diam Hana mulai mengumpat. Tidak seharusnya ia jalan-jalan ke mall saat keadaannya begitu buruk, terlebih tidak ada yang ingin ia beli. Ia tidak memiliki kantong ajaib dan pergi ke mall hanya akan memperkeruh suasana hatinya saja. Terbukti dengan saat ini. Untungnya setelah tadi hampir satu jam berkeliling, ia tidak bertemu dengan musuh bebuyutannya. Kau bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia bertemu dengan Ara, pasti mereka akan berakhir di kantor keamaan bahkan mungkin di kantor polisi. Oh, memikirkannya saja membuat Hana menahan nafas.

Dan untungnya lift terbuka sebelum Hana mengumpat untuk ke sepuluh kalinya. Beberapa orang yang ada di lift keluar berbondong-bondong hingga menyebabkan saling senggol bahkan saling dorong karena orang-orang yang sejak tadi sudah lelah menunggu mulai tidak sabaran hingga memaksa masuk walau lift belum sepenuhnya kosong. Hana yang juga mencoba masuk, tidak sengaja menyenggol seseorang. Untungnya ia bisa masuk ke dalam lift dengan selamat.

Buru-buru Hana menekan tombol lantai dasar sebagai tujuannya dan pintu lift perlahan tertutup. Namun, ada sesuatu yang tertangkap oleh indera penglihatan Hana. Sebuah dompet berwarna peach teronggok mengenaskan di lantai. Hana teringat akan ia yang menyenggol seseorang dan mungkin saja itu dompet milik orang itu. Entah bagaimana, Hana meloncat keluar dari lift dan mengambil dompet itu sebelum didahului oleh orang lain. Ia harus mengembalikan dompet itu pada pemiliknya.

Maka Hana mulai berlari kesana kemari mencari wanita pemilik dompet ini. Bagaimana Hana tahu jika ia adalah wanita? Tentu saja karena dompet ini begitu feminim. Terlebih Hana sempat melihat wajah orang itu walau samar-samar. Tak perlu berlari terlalu jauh karena dewi fortuna seperti sedang bersama dirinya. Ia melihat wanita yang berpakaian sama persis dengan wanita yang ia tabrak tadi tengah memilih tas di salah satu butik mewah. Hana tersenyum dan melangkah mendekati wanita itu.

“Permisi, apa dompet ini milik Anda?” Tanya Hana hati-hati.

Wanita paruh baya dengan pakaian super mewah nan glamour itu menoleh, memperlihatkan wajahnya yang halus hingga semut pun bisa bermain ice skiting (?) disana. “Oh, ini seperti milikku.” Seru wanita itu terkejut dengan gaya yang dibuat-buat. Ia membuka tasnya dan langsung mengambil dompet itu. “Tentu saja. Dompetku tidak ada di tas.”

“Maaf. Ini pasti karena saya tidak sengaja menyenggol Anda tadi di lift, Nyonya.” Hana mencoba menjelaskan.

“Oh, tidak apa. Yang terpenting dompetku tidak hilang.” Wanita itu memeriksa dompetnya seolah itu adalah harta berharga yang akan membuatmu pingsan hanya karena tergores sedikit. “Terimakasih, anak muda. Kau benar-benar baik.”

“Sama-sama, Nyonya.” Ucapnya. Hana membungkukkan badannya dan berniat untuk pergi.

“Tunggu.” Wanita itu menahan lengan Hana, “Aku harus memberikan sesuatu sebagai rasa terimakasihku.” Ucap wanita itu sambil membuka dompetnya.

Hana seolah tahu apa yang akan wanita itu berikan. Ia buru-buru mencegahnya, “Tidak perlu, Nyonya. Saya ikhlas menolong Anda.” Tolaknya halus saat wanita itu berniat memberikan lima lembar seratus ribu won padanya.

“Ayolah, Nak. Terima ini atau aku akan marah.” Desak wanita itu, namun Hana tetap teguh pada pendiriannya.

“Tidak, Nyonya. Aku akan merasa buruk jika menerimanya.” Hana terusa saja menolak.

Tiba-tiba ponsel wanita itu berdering.

“Halo…” ucapnya pada seseorang di seberang. Merasa perbicaraannya akan penting, ia meminta ijin pada Hana untuk menjauh sebentar. Hana mengangguk dan mempersilakan wanita itu menyelesaikan urusannya terlebih dulu.

“Maaf membuatmu menunggu.” Kata wanita itu setelah lima menit berbicara di telepon. Ia menatap Hana dan baru kini Hana memperhatikan jika wanita ini benar-benar cantik, “Kau masih tetap tidak mau menerimanya, ya?”

“Saya tidak bisa menerimanya, Nyonya.” Jawab Hana halus.

“Baiklah,” wanita itu tampak menghormati pilihan Hana. “aku harus segera pulang. Anakku menungguku di rumah. Lain waktu jika kita bertemu lagi, kau harus menemaniku minum kopi. Ada cafe enak di dekat sini.” Sambungnya dan berniat pergi.

“Baiklah, Nyonya.”

Wanita itu mengangguk dan melangkah menjauh. Hana memperhatikan punggungnya yang semakin terlihat kecil lalu hilang di ujung lorong. Ia mendesah panjang. Dipukulnya kepalanya yang barusan begitu bodoh tidak mau menerima pemberian dari wanita itu. Cih, tumben sekali Hana bersikap begitu baik. Bagaimana bisa iblis matre seperti dirinya bisa menjelma menjadi malaikat dan menolak diberi uang? Hahaha, Hana pasti sudah gila.

Harusnya ia menerimanya. ‘Kan lumayan uang tersebut bisa ia gunakan untuk membeli satu buah pakaian. Bagaimana bisa Hana begitu naif? Wanita itu juga terlihat kaya lagi. Huh, lain kali jika ia bertemu dengan wanita itu, ia harus bisa memanfaatkannya. Mungkin wanita itu mau membelikannya high heels yang begitu ia inginkan selama ini? Ah, tentu saja. Hana harus selalu bisa memanfaatkan situasi. Tiba-tiba saja kesengannya di rusak kala ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari Baekhyun. Oh, ia lupa. Ia harus mengantar Baekhyun ke bandara sore ini.

.

.

.

.

Setelah menerima telepon dari Baekhyun yang menyuruhnya untuk langsung ke bandara, Hana segera melesat dengan menaiki taksi yang ongkosnya mampu menguras setengah isi dompetnya. Ia baru saja berhutang pada Chanyeol tadi siang dan kini uangnya sudah hampir habis. Harusnya ia naik bus saja. Tapi, bus pasti akan lama dan Baekhyun itu tidak suka menunggu. Terlebih ia sedang buru-buru untuk terbang.

Hana sampai di bandara sepuluh menit kemudian dengan nafas terengah-engah. Keringat bercucuran membasahi pelipisnya, membuat rambut depannya terlihat lepek namun tak mengurangi kadar kecantikannya. Bukankah sudah kukatakan jika Hana itu sangat cantik? Entah bagaimanapun penampilannya, orang cantik akan tetap cantik. Itu adalah fakta yang tidak bisa kau acuhkan begitu saja yang terkadang begitu menyebalkan dan tidak adil.

Baekhyun dengan mudah dapat dikenali karena lelaki itu memakai pakaian yang menonjol. Lihat saja bagaimana gilanya lelaki itu memakai mantel hitam sepanjang mata kaki dengan bulu-bulu di sekitar lehernya di cuaca yang luar biasa panas ini? Belum lagi kaca mata hitam yang bertengger manis di hidungnya mungilnya yang membuatnya terlihat glamour. Oh, ternyata lelaki itu juga mengecat rambutnya menjadi orange. Cih, seperti idol saja.

“Oh, Hana…!!!” Panggil Baekhyun begitu lelaki itu melihat Hana. Ia membuka kaca matanya dan matanya yang begitu sipit itu langsung terlihat. Walau wajahnya polos tanpa make up, Baekhyun sialan tampan dan cool di saat yang bersamaan. Hana memang pandai memilih lelaki untuk dikencani.

“Oppa.”

Begitu sampai di depan Baekhyun, lelaki itu tanpa aba-aba langsung memeluk Hana begitu kencang, membuat Hana yang masih ngos-ngosan karena berlari serasa sakarotul maut (?). Ia ingin melambaikan tangannya pada kamera dan meminta tabung oksigen. Oh, siapapun tolonglah Hana. Ia butuh udara segar dibandingkan parfum mahal yang dipakai Baekhyun.

“Kenapa lama sekali? Kupikir kau tidak akan datang.”

Untungnya Baekhyun segera sadar dan melepaskan pelukannya. Ia mempoutkan bibirnya saat mengatakan itu membuat siapapun yang melihatnya akan gemas dan langsung melahap bibir mungil seksi milik lelaki itu. Dan untungnya, Hana sedang dalam lindungan Tuhan untuk tidak melakukan hal nista itu.

“Jalannya macet.” Ucap Hana enteng. Bohong memang. Sebenarnya karena ia hampir lupa. Benar-benar lupa.

“Tidak apa. Yang terpenting kau sudah datang.” Ucap Baekhyun, “Sepertinya aku harus segera pergi.” Sambungnya sambil mengecup puncak kepala Hana.

“Oh, hati-hati, Oppa.” Ucap Hana setelah Baekhyun menjauhkan dirinya. Sesuatu di saku mantel Baekhyun tertangkap mata Hana dan mata gadis itu langsung berbinar-binar.

“Oppa..”

Hana menarik tangan Baekhyun yang sudah berbalik dan langsung menempelkan bibirnya pada bibir lelaki itu. Baekhyun agak terkejut namun dengan cepat ia sadar dan tersenyum . Hana melumat bibir Baekhyun perlahan sambil tangannya bekerja menuju saku mantel Baekhyun. Lelaki yang tingginya hanya beberapa senti meter dari Hana itu membalas ciuman Hana tanpa tahu maksud terselubung gadis itu. Hana melepaskannya ciumannya saat ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Sayang, kau benar-benar tidak terduga.” Baekhyun mengusap bibirnya yang sedikit basah karena permainan mereka barusan. Bibirnya terlihat memerah dan agak membengkak.

“Hati-hati di jalan, Oppa. Aku pasti akan merindukanmu.” Ucap Hana sambil menyuruh Baekhyun pergi.

“Nado.” Baekhyun segera berbalik karena operator sudah mengatakan jika pesawat yang akan terbang menuju London akan segera berangkat.

Sepeninggalan Baekhyun, Hana membuka genggaman tangannya. Telihat beberapa lembar uang seratus ribu won berhasil ia ambil dari saku mantel Baekhyun.

.

.

.

.

Pertemuan akan diadakan satu jam lagi, Hana-ssi. Kau harus segera kesini.

Sekali lagi Hana membaca pesan yang dikirimkan oleh Jongin. Lelaki itu memang sudah mengatakan jika ia akan dikenalkan pada keluarganya siang ini. Hana mendecakkan lidahnya kesal. Bagaimana bisa lelaki itu hanya menyuruhnya datang tanpa berniat untuk menjemputnya? Biasanya tokoh pria akan melakukan itu pada tokoh wanita yang akan ia nikahi. Sialnya, Jongin itu berbeda. Dia bodoh karena terlalu mencintai Hyerin.

Hana memasukkan buku-bukunya ke dalam tas selempang kecil dan menyelesaikan kursusnya lebih cepat hari ini karena ada pertemuan keluarga. Harusnya ia tidak perlu melakukan itu mengingat pernikahan mereka hanya pura-pura dan didasarkan atas keuntungan masing-masing pihak. Bagaimana bisa lelaki itu terlebih keluarganya harus bertemu dengannya? Atau jangan-jangan Jongin menyembunyikan perjanjian mereka pada kedua orang tuanya?

Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Hana sampai tidak sadar jika sejak tadi ada seseorang yang memperhatikannya. Lelaki dengan pakaian santai yang berdiri pada tiang penyanga halte itu menatap Hana dengan seksama. Ia melangkah mendekat dengan kakinya yang panjang. Tubuhnya yang menjulang tinggi terlihat paling menonjol diantara orang-orang yang lain.

“Park Hana.” Ucap lelaki itu memanggil nama Hana.

Merasa ada yang memanggilnya, Hana menoleh dan matanya membulat melihat siapa lelaki yang ada di hadapannya ini.

“Kau terlihat berbeda. Aku hampir tidak mengenalimu.” Ucap lelaki itu lagi, tak menghiraukan reaksi Hana yang begitu terkejut. Lelaki itu tersenyum begitu manis memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Rambut hitamnya yang sebagian menutupi dahinya bergerak tertiup angin yang membuatnya sedikit berantakan. Dengan gerakan slow motion, lelaki itu merapikan rambutnya dengan mata tajam nan mempesonanya yang masih tertuju pada Hana.

“M-Minhyun Sunbae.” Hana tergagap mengucapkan nama itu. Nama yang tidak pernah ia sebut setelah sekian tahun berlalu. Hwang Minhyun. Nama yang saat ia sebut saja, langsung membuat hatinya berdesir. Ia begitu terkejut mendapati lelaki itu ada di Seoul, setelah sebelumnya ia tahu jika lelaki itu meneruskan studinya ke Swiss beberapa tahun yang lalu. Lalu bagaimana bisa ia bertemu dengannya di sini? Begitu tidak terduga?

“Senang bertemu denganmu lagi. Aku mencarimu selama ini.”

.

.

.

.

“Masuklah.”

Jongin mempersilakan Hana setelah gadis itu menginjakkan kakinya di teras rumahnya. Hana hanya terdiam. Ia masih sedikit syok bertemu dengan orang yang tidak terduga di halte tadi. Selama perjalanan, pikirannya masih terus tertuju pada sosok lelaki itu. Lelaki yang selalu ia pikirkan selama ini. Wajah pucat tampannya masih tercetak jelas dalam matanya. Apalagi saat lelaki itu memintanya untuk bertemu di lain hari.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat.” Jongin terlihat bingung. Sejak tadi Hana hanya diam dan tak merespon ucapannya.

“Ne? Aku baik-baik saja.” Hana dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia menghapus bayangan wajah Minhyun dari pikirannya. “Aku hanya terkejut melihat rumahmu yang seperti istana.” Bohongnya. Ia hanya tidak ingin Jongin curiga padanya.

Jongin tersenyum mencibir, “Sebentar lagi kau akan tinggal di sini. Jadi, biasakan dirimu agar kau tidak terlihat kampungan.” Ucapnya yang sukses membuat Hana terpana.

Ucapan lelaki ini terkadang tidak terkontrol. Mungkin karena dia merasa memiliki segalanya. Namun Hana membiarkannya. Jika saja keadaannya sedang baik-baik saja, ia pasti sudah menutup mulut lelaki itu dengan flat shoes yang dikenakannya. Namun kali ini ia harus bersikap baik. Mungkin ia harus berusaha mengambil hati calon mertuanya. Heol, mengatakannya saja membuatnya merinding.

Begitu mereka masuk, mereka langsung disambut oleh tiga orang di dalam ruang tamu yang super luas tersebut. Hana berdiri di tempatnya dengan tampang bodoh mengagumi arsitektur rumah ini yang bergaya eropa klasik namun tetap modern. Ia melihat pria paruh baya dengan kaca mata yang membingkai kedua matanya tengah menatapnya. Di sampingnya ada seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik walau Hana yakin usianya tidak muda lagi. Eh, tunggu dulu. Hana seperti pernah melihat wanita itu.

“Oh, kau gadis yang waktu itu.” Wanita itu berdiri dan mendekati Hana begitu ia ingat jika Hana adalah gadis yang mengembalikan dompetnya di mall kemarin. “Jadi kau calon istri putraku rupanya.” Sambungnya.

Hana terdiam. Calon istri putranya? Astaga! Apa wanita ini adalah Ibunya Jongin? Sialan. Sempit sekali dunia ini.

“Nyonya..” Hana terkejut saat wanita itu memeluknya.

“Jangan panggil aku, Nyonya. Sekarang kau harus memanggilku Ibu.” Sela Nyonya Kim begitu Hana mulai memanggilnya Nyonya lagi.

“Ibu, bagaimana bisa kau mengenalnya?” Jongin bertanya, jelas ia terkejut bercampur bingung.

Nyonya Kim melepas pelukannya dan menuntun Hana untuk duduk di salah satu sofa, “Dia gadis yang kuceritakan waktu itu. Yang mengembalikan dompetku.”

“Oh, jadi kau gadis yang begitu diagung-agungkan oleh istriku rupanya.” Tuan Kim yang sejak tadi diam, ikut bersuara. “Senang rasanya calon menantuku adalah orang yang baik.”

Hana tersenyum kikuk. Tidak tahu harus bagaiman merespon.

Kedua orang tua Jongin mulai membicarakan mengenai pernikahan Jongin dan Hana. Karena semuanya sudah diatur dulu sebelum Hyerin meninggal, jadilah mereka hanya perlu mengubahnya sedikit. Semuanya sudah diatur oleh keluarga Jongin jadi Hana hanya tinggal mengikutinya saja. Hana setuju-setuju saja karena ia tidak enak menolak apalagi memberikan pendapatnya. Ia hanya perlu menurutinya agar kedua orang tua Jongin semakin bersimpati padanya.

“Ayah, Ibu, ada acara apa ini?”

Perbincangan mereka terhenti saat seorang gadis masuk begitu saja ke ruang tamu dan menatap semua orang yang ada di sana. Wajahnya terlihat kebingungan.

“Oh, Ara. Kemarilah. Kau harus bertemu dengan calon kakak iparmu.” Nyonya Kim tersenyum dan menyuruh putri bungsunya untuk ikut bergabung.

Hana terdiam melihat siapa yang berdiri di sana. Ia menatap gadis berambut panjang itu dengan tatapan tidak suka yang juga dibalas tatapan tajam oleh gadis itu. Mereka bertatapan cukup lama, saling mengintimidasi. Aura kebencian menguar diantara keduanya namun orang-orang di sekitarnya tidak menyadarinya. Hana tersenyum miring. Semuanya menjadi semakin menarik sepertinya.

Kim Ara, kenapa aku harus selalu bertemu denganmu?, batinnya.

.

.

.

.

TBC~

Holla~ akhirnya chapter 3 selesai juga *usap keringet* Maaf ya kalo updatenya lama dan agak ngaret.. Ada yang nungguin ff ini? Aku harap masih ada ya..Kita kedatangan cast baru kali ini. Ada Minhyun Nu’est/Wanna One *tebar bunga tujuh rupa* ada yang tau siapa namja tampan ini?

Dan ada yang bisa menebak seperti apa hubungan Minhyun sama Hana di masa lalu? Ayo-ayo.. yang bisa nebak kasih komennya dong.. kalo ada yang bener, aku doain biar bisa ketemu sama bias, walau cuma dalam mimpi, hehehe..

Gak mau banyak omong, terimakasih sudah membaca karyaku dan maaf kalo banyak typo.

Ariana Kim :*

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Married by Accident (Chapter 3)

  1. Wah wah wah, kim ara sama hana bakalan jambak2 an ni hahaha. Kayanya minhyhn bakalan jadi orang ke-3 dalam hubungan jongin sama hana deh. Ditunggu chapter selanjutnya. Semangat eon, fighting!

  2. Hallo kak aku readers baru nih.. Perkenalkan namaku Yoshinta widya febrina biasa dipanggil yosi.. Mohon bantuannya yha… Insyaallah aku bakalan ninggalin jejak di Ff yang sudah aku baca..#SALAM KENAL#

  3. Minhyun sepertinya adalah orang di masa lalu hana. Bisa mantan Ataupun orang yg pernah hana suka. Dan bakal makin seru saat musuh bebuyutan bakal jadi ipar… 😆😆😆
    Biasku sabtu ini mau fanmeet di kokas tapi aku ga bisa dateng 😭😭😭😭😭😭

  4. Akhirnya update author aku sudah menunggu hehe
    Hana bakal jadi mantu idaman nih pasti
    Tapi bakal jadi ada perang tiap hari nih keknya secara hana sama ara bakal satu rumah wkwk
    Semoga hana jongin jadi suka beneran hehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s