[EXOFFI FREELANCE] Promise (약속) (Chapter 12)

Tittle        : PROMISE (약속)
Author        : Dwi Lestari
Genre        : Romance, Friendship

Length        : Multi Chapter

Rating        : PG 17+

Main Cast    : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast    : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Park JungSoo, Kim Taeyeon, and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

Disclaimer    : Alur dan ceritanya murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo. Happy reading.

Chapter 12 (Acknowledge)

Saera sudah siap dengan makan siang yang akan ia antarkan untuk sang CEO S&C Corporation. Ini hari terakhir dia mengirim makan siang itu. Kali ini dia memasak Jjampong. Mie kuah yang memiliki rasa yang pedas dan di dalamnya terdapat berbagai campuran seafood seperti udang, cumi–cumi, dan kerang. Selain itu Saera juga melengkapinya dengan sayuran seperti kubis, wortel, bawang, dan jamur. Ia juga menambah beberapa potongan daging sapi. Ini adalah masakan umum disana.  Semoga rasa pedasnya sesuai selera pria itu.

Dia kembali teringat dengan perkataan Sehun semalam. Saat pria itu menelfonnya.

Flashback

“Sehun-ah. Ada apa?”, jawab Saera. Dia yang baru pulang dari rumah sakit meletakkan tasnya di ranjang.

“Bukan apa-apa. Hanya ingin menelfon”, kata Sehun diseberang sana.

“Ah~. Kukira ada apa”, ucap Saera kembali.

“Bagaimana kabarmu noona?”.

“Aku baik. Kau sendiri?”. Saera membuka pintu menuju balkon apartemennya. Dia dapat melihat pemandangan malam kota Seoul.

“Aku juga baik”.

“Kau tak bekerja?”, tanya Saera kembali. Ia tak habis pikir bagaimana pria itu bisa menelfonnya di jam segini. Bukankah seharusnya dia bekerja sekarang. Seingatnya, tempat dimana pria itu bekerja tak memperbolehkan pegawainya menelfon seenaknya di jam kerja.

“Hari ini aku libur”.

“Libur! Bagaimana bisa?”. Ini hal baru yang didengarnya. Tempat dimana dia bekerja dulu tak akan pernah memberikan libur untuk pegawainya, apalagi pegawai yang dibawa oleh pemilik tempat tersebut. Seperti dia dan juga pria itu.

“Kau pasti terkejut. Aku juga. Sejak noona tak bekerja disini Kim sajangnim berubah”, jelas Sehun.

“Berubah! Maksudmu?”, Saera balik bertanya. Dia belum cukup paham dengan apa yang dimaksud pria itu.

“Ya, dia lebih sabar sekarang. Tak ada perkataan maupun umpatan kasar dari mulutnya. Jika biasanya dia akan bertindak sesukanya, kali ini tidak. Sepertinya dia berfikir dulu sebelum bertindak”, jelas Sehun kembali.

“Bukankah itu bagus!”, ucap Saera kembali. Dia turut senang mendengar penuturan pria itu. Bos tempat bekerjanya dulu sudah berubah, itu adalah salah satu keinginannya sejak dulu. Mengapa demikian? Sebenarnya mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Kim Dongman adalah adik tiri dari ibunya yang kini terbaring lemah di rumah sakit. Seharusnya Saera memanggilnya dengan panggilan samcheon, tapi dia tak pernah melakukannya. Dia sangat membenci kata itu jika ditunjukan untuk pria itu. Bukan tanpa alasan dia melakukannya, dia teramat benci dengan pria itu bahkan semenjak dia kecil. Ditambah lagi, dia harus bekerja untuk pria itu tiga tahun terakhir.

“Tentu saja! Ah noona, aku tutup dulu ya, ada yang harus aku kerjakan. Kapan-kapan kita sambung lagi”, pamit Sehun.

Flashback end

Saera membuang lemas nafasnya. Semoga apa yang Sehun katakan semalam benar. Dia selalu mengharapkan hal itu.

***

Saera berhenti di rumah sakit tempat ibunya di rawat. Jam makan siang masih lama, jadi dia memutuskan mampir untuk melihat keadaan ibunya. Entah mengapa perasaannya sedikit aneh. Dia belum merasakan perasaan semacam ini sebelumnya. Dia bahkan tak bisa menyebutkan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yan dirasakannya sekarang. Terdengar berlebihan, tapi memang itu kenyataannya.

Dia mencoba menepisnya, menggilangkan perasaan yang dirasakannya. Mungkin hanya efek dari banyaknya hal tak terduga yang menimpanya akhir-akhir ini. Ya, itulah keyakinannya. Dia kembali berjalan pelan menuju ruang inap ibunya.

Dia melihat seorang pria tengah duduk di samping ibunya. Wajah pria itu tak terlihat, karena memang dia duduk membelakangi Saera. Tapi sepertinya postur tubuh itu tak asing. Saera mencoba mengingatnya. Dia membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang ada dalam pemikirannya. Sejak kapan pria itu mau repot-repot menjenguk ibunya. Mungkin yang dibilang Sehun semalam benar. Pria tua itu sudah berubah.

Saera berjalan mendekat, mencoba memastikan kebenaran dugaanya. Pria itu menoleh karena mendengar langkah Saera. Bunyi gesekan heels dan lantai ruang inap itu memang cukup nyaring. “Kau baru datang?”, kata pria itu. Tapi sepertinya itu lebih tepat disebut pertanyaan.

“Iya”, hanya itu yang bisa Saera katakan. Dia masih tak habis fikir dengan kedatangan pria itu. Apa ini benar-benar nyata? Saera bahkan memandang aneh pria itu.

“Kenapa melihatku seperti itu?”, pria itu kembali bersuara.

“Apa ini benar-benar kau ahjussi?”, Saera justru balik bertanya. Dia masih memandang tak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Iya, ini aku. Kim Dongman”, jawab pria itu. Sepertinya dia mulai tak nyaman dengan tingkah Saera.

Saera tersenyum mengejek, dia juga memalingkan wajahnya. Dia bisa melihat sekeranjang buah di atas nakas. Juga bunga mawar merah kesukaan ibunya. “Sejak kapan ahjussi mau repot-repot menjenguk ibuku”, ucapnya. Pandangannya beralih ke pria itu.

“Kenapa? Tidak salahkan jika aku menjenguk kakakku”, jelas pria itu. Memang itu terdengar masuk akal, jika seorang adik datang mengunjungi kakaknya. Tapi akan menjadi aneh jika pria ini yang melakukannya.

“Kakak”, ucap Saera menirukan perkataan pria itu. “Sejak kapan kau menganggapnya kakakmu”, terdengar nada tak suka dari perkataan Saera.

“Meski aku tak mengakuinya, dia tetap kakakku. Bukankah begitu!”, jelas pria itu kembali.

“Terserahlah!”, kata Saera akhirnya menyerah. Dia mencoba menahan diri untuk tidak marah pada pria itu. Tak ada untungnya jika melakukannya. Sepertinya dia harus terbiasa dengan sikap aneh pria itu. Dia kini duduk di kursi kosong samping ibunya.

“Bagaimana kabarmu?”, pria itu kembali bersuara.

Bahkan sekarang dia bertanya kabarnya. Pria ini benar-benar aneh. “Aku baik, seperti yang ahjussi lihat. Bagaimana denganmu?”, Saera mencoba terbiasa dengan pria ini.

“Aku juga baik. Sepertinya aku harus pergi”, pria itu berbalik dan bermaksud pergi, namun terhenti saat mendengar perkataan Saera.

Ahjussi, tunggu!”, ucap Saera.

Pria itu menoleh. “Ada apa?”, tanyanya.

“Ada yang ingin aku tanyakan. Duduklah dulu!”, pinta Saera.

Pria itu mengikuti permintaan Saera. Dia kembali duduk di tempatnya tadi. “Apa yang ingin kau tanyakan?”.

Saera masih terdiam. Dia mengambil nafas dalam beberapa kali. Sepertinya dia sedikit ragu dengan apa yang akan ditanyakannya.

“Kenapa? Apa yang ingin kau tanyakan?”, pria itu terlihat tak sabar menanti apa yang akan Saera tanyakan.

“Apa selama ini ahjussi sudah tahu tentangku? Jika aku bukanlah putri kandung mereka”, dengan sedikit ragu Saera akhirnya bisa mengatakannya. Dia memang masih penasaran dengan statusnya. Karena memang dia belum banyak bicara dengan ibunya. Seharusnya dia mendengarkan penjelasan ibunya sampai selesai.

“Kau sudah tahu!”.

“Jadi, ahjussi juga tahu?”.

“Ya. Dengan susah payah tentunya. Ayahmu menyimpanya begitu rapat”, jelas pria itu.

Saera hanya bisa membuang pasrah nafasnya. Sebenarnya dia memang masih belum bisa menerima kenyataan dimana dia bukanlah bagian dari keluarga yang dimilikinya.

“Darimana kau tahu itu?”, pria itu kini balik bertanya.

Eomma sudah menceritakannya”, jelas Saera. “Hanya saja, dia belum mengatakan darimana asal usulku”, lanjutnya kembali.

“Jadi akhirnya dia membuka rahasianya”, pria itu tersenyum mengejek. Pandangannya tertuju pada ibu Saera yang terbaring lemah di ranjang. “Jika kau mau bertanya darimana asal usulmu, maka akan aku jawab tak tahu. Aku memang tak tahu darimana asalmu”, lanjutnya.

Saera hanya bisa membuang pasrah nafasnya. Pada akhirnya dia tetap tak tahu asal usulnya. Sepertinya dia memang harus bersabar menanti ibunya terbangun.

“Jika sudah tidak ada yang kau tanyakan, aku akan pergi. Ada beberapa hal yang harus ku urus”, pria itu benar-benar melangkah pergi. Tapi entah mengapa dia berbalik kembali setelah beberapa langkah. “Ah, satu lagi. Sepertinya tuan muda Park dari S&C itu tahu sesuatu tentangmu. Dia bersi keras ingin melunasi hutang ayahmu waktu itu”, setelah berkata demikian pria itu benar-benar pergi. Saera dapat mendengar pintu ruang inap ibunya tertutup kembali.

Dia masih mematung, mencoba mencerna perkataan pria tua itu. Dia tak salah dengarkan tadi? Ya, dia memang tak salah dengar. Park Chanyeol lah yang sudah menebusnya. Tapi untuk apa? Semakin keras dia mencoba mencari alasan, semakin keras pula dia tak mendapat jawaban. Tidak ada alasan yang masuk akal yang bisa menjelaskannya.

Sepertinya dia harus bertanya sendiri alasannya. Siapa tahu apa yang dikatakan pria tadi benar. Tapi bukankah pria itu sejak kecil tinggal di Amerika. Kenyataan itu membuatnya semakin bertambah pusing. Saera hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Kenapa semua jadi serumit ini?

Eomma, apa masih ada rahasia lain yang kalian simpan dariku”, Saera menggenggam erat tangan ibunya. Dia membuang pasrah nafasnya. Ya, dia seperti gadis bodoh. Bagaimana tidak, sudah tahu jika ibunya tak akan menjawab, masih saja dia bertanya.

***

“Saera”, teriak seorang pria saat Saera berjalan menunduk ke arahnya.

Merasa namanya dipanggil, Saera mengangkat kepalanya. Melihat siapa yang tengah memanggilnya. Seulas senyum ia sunggingkan untuk pria itu. Dia memilih menghentikan langkahnya, membiarkan pria itu mendekatinya.

“Sedang apa kau disini?”, tanya pria itu kembali.

Saera mengangkat kotak makanan yang dibawanya.

Pria itu tersenyum saat mengerti apa yang dimaksud Saera. “Jadi kau benar-benar melakukannya?”, tanyanya kemudian.

Saera mengangguk. “Aku kalah waktu itu, jadi aku harus melakukannya bukan”, jawabnya. “Aku ini gadis yang bertanggung jawab”, lanjutnya dengan nada penuh percaya diri.

Pria itu memutar malas bola matanya. Gadis ini benar-benar. “Ya, ya. Terserahlah!”, jawabnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Dia memang sudah hafal sifat gadis ini. Kadang gadis itu memang bertingkah konyol. Tapi setidaknya dia merasa sedikit tenang, gadis ini masih sama dengan yang terakhir dia ingat.

“Kau sendiri, sedang apa kau kemari?”, kini Saera yang balik bertanya.

“Biasa, bisnis yang membosankan”, jawab pria itu enteng.

“Meski membosankan kau tetap menjalankannya bukan! Kau tidak akan menjadi sekeren ini jika tak melakukannya”, jelas Saera.

Keren! Dia tak salah dengarkan! Gadis ini baru saja memujinya. Dia tertawa kemudian.

“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?”, tanya Saera. Dia benar-benar tak paham dengan pria ini. Kenapa dia tertawa setelah mendengarkan perkataannya. Tunggu! Tadi dia mengatakan apa? Keren, astaga. Pantas saja pria ini tertawa. Saera memalingkan wajahnya, dia sedikit menyesal telah mengatakannya tadi.

“Iya, kau memang benar”, jawab pria itu yang masih diselingi dengan tawanya.

“Sudahlah. Aku pergi dulu”, pamit Saera. Dia segera berbalik, dia tak ingin bertambah malu jika lama-lama bersama pria ini.

“Hei, tunggu”, pria itu menarik lengan Saera hingga membuatnya terpaksa berhenti.

“Apa lagi?”, tanya Saera. Dengan terpaksa dia berbalik menghadap pria itu kembali.

“Mana ponselmu?”.

Kenapa tiba-tiba pria ini menanyakan ponselnya? Apa yang diinginkannya. “Untuk apa?”, tanya Saera kembali.

“Berikan saja”.

Dengan terpaksa dia memberikan ponselnya. Pria itu terlihat mengetikan beberapa nomor telfon, lalu menghubunginya. Tak lama, karena sebelum panggilan itu terjawab dia sudah mematikan sambungannya.

“Itu nomor poselku. Aku ingat kita belum bertukar nomor ponsel. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan lagi, aku masih punya hutang padamu. Jangan lupa disimpan”, pria itu memberikan senyum terbaiknya. Lalu berjalan mendekat dan mengacak pelan rambut Saera. “Oppa pergi dulu”, lanjutnya.

Oppa”, kata Saera dengan penuh penekanan. Apa pria ini sedang gila, bagaimana bisa dia memanggilkan dirinya dengan sebutan oppa.

“Iya, seharusnya aku menjadi oppamu bukan. Ah, sekarang tidak lagi ya. Tapi tetap saja, kau satu bulan lebih muda dariku”, jawab pria itu dengan tampang tak berdosanya.

Saera hanya bisa terdiam. Dia memasang wajah anehnya. Pria ini memang sedang gila, pikirnya. Tapi sebenarnya bukan hanya itu yang membuatnya terdiam. Dia masih memikirkan perkataan pria itu tentang umurnya yang sebulan lebih muda. Itu memang umur Saera. Bagaimana dengan dirinya? Dia bahkan tak tahu kapan hari kelahirannya. Jangankan hari kelahiran, nama aslinyapun dia tak tahu. Dia hanya memakai identitas gadis itu. Gadis yang bernama Han Saera.

Pria itu melambaikan tangan kanannya di depan wajah Saera, karena gadis itu terlalu lama diam. “Kau baik-baik saja”, tanyanya.

Saera berkedip beberapa kali untuk menyadarkan dirinya. “Ya, aku baik-baik saja”, katanya sambil mengangguk.

“Ya, sudah. Aku pergi dulu”, kata pria itu.

“Tunggu, sebenarnya kau punya hutang apa padaku?”, tanya Saera sesaat sebelum pria itu berbalik.

“Aku akan menelfonmu nanti. Annyeong”, jawab pria itu. Dia melambaikan tangannya sebelum pergi.

“Hei Kim Jongdae, kau belum menjawab pertanyaanku?”, protes Saera.

Namun hal itu tak diindahkan pria itu. Pria itu justru tersenyum sambil terus berjalan menjauh.

Saera hanya bisa membuang pasrah nafasnya melihat punggung pria itu yang semakin berjalan menjauh. Dia kembali meneruskan langkahnya, menuju tujuan awal dia datang ke tempat itu.

Dia tak sadar jika ada beberapa pasang mata yang melihatnya tadi. Ya, para resepsionis perusahaan itu memperhatikan tingkahnya sejak tadi. Dari pertama dia datang ke tempat itu, mereka memang terlihat tak menyukainya.

“Gadis itu datang lagi”, kata resepsionis pertama.

“Iya, bukankah ini sudah seminggu. Siapa sebenarnya dia?”, jawab resepsionis kedua. “Apa mungkin dia kekasihnya sajangnim. Tidak mungkinkan, jika dia sering datang tanpa memiliki hubungan apapun dengannya”, lanjutnya.

Si resepsionis pertama terlihat sedang berfikir. Memang benar yang dikatakan temannya. Kalau mereka tak punya hubungan spesial, untuk apa gadis itu sering berkunjung. Terlebih lagi dia membawakan makan siang untuk sang CEO.

“Bukankah pria tadi adalah pemilik World Hotel. Mereka juga sepertinya dekat. Kau tahu cara memanggilnya tadi, mereka seperti telah lama saling mengenal”, kata resepsionis kedua kembali.

Resepsionis pertama itu masih terdiam. Sepertinya dia tak rela mendengarnya. Ya, dia memang teramat mengidolakan atasan mereka itu.

“Ah, aku tahu. Pasti gadis itu teman pria tadi yang menjadi kekasihnya sajangmin. Aku benarkan?”, ucap resepsionis kedua lagi. Dia kini melirik ke arah temannya yang masih diam.

“Jangan membuat gosip jika kau tak tahu kebenarannya”, ucap resepsionis pertama pada akhirnya.

***

Saera masih memandang lekat sang CEO yang tengah menikmati makan siangnya. Sebenarnya dia ingin menanyakan alasan pria itu menebusnya. Hanya saja, dia merasa tak punya kalimat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Dia bahkan beberapa kali menggelengkan kepala sambil menutup mata.

“Apa ada masalah!”, tanya sang CEO yang sadar dengan tingkah aneh Saera.

Saera sedikit terkejut. “Tidak ada”, jawabnya sambil menggeleng.

“Baiklah!”, jawab sang CEO. Dia kembali menikmati makan siangnya. Sepertinya pria itu benar-benar menyukai masakan Saera. Terbukti dengan betapa lahapnya pria itu mengunyah makanannya.

“Bagaimana rasanya? Ku harap rasa pedasnya pas untuk anda”, Saera berkata dengan penuh keraguan. Ya, dia tak ingin membuat perut pria itu bermasalah karena masakannya.

“Ini enak, pedasnya juga pas. Kau benar-benar pandai memasak. Jungsoo hyung pasti salah mengatakan jika kau tak pandai memasak”, jelas pria itu.

Saera tersenyum, tapi sepertinya tak tulus. Bagaimana tidak, sebenarnya dia diam-diam ikut kelas memasak karena selalu dihina teman-temannya tak bisa masak. Terutama Baekhyun, pria itu tak akan berhenti mengomelinya karena hal itu. Dia selalu bilang jika perempuan sudah seharusnya bisa masak. Dia benci jika mengingat itu.

“Kenapa? Apa ada masalah? Kau terlihan aneh Saera-ssi. Katakan saja jika memang ada yang ingin kau tanyakan. Ah, bukankah ini hari terakhir kau mengirim makan siang. Sayang sekali, mulai besok aku tak akan bisa menikmati masakanmu lagi”, tutur pria itu panjang lebar. Nadanya terdengar begitu tulus. “Dan maaf karena sudah membuatmu repot seminggu ini”, lanjutnya.

Gwenchanayo. Jika bukan karena aku kalah permainan malam itu, aku tak akan mungkin punya kesempatan memasak untuk anda! Bukankah begitu!”, jelas Saera. Apa yang baru dikatakannya tadi? Seharusnya dia tak mengatakan hal itu, itu akan membuatnya malu. Dia terlihat seperti gadis yang tengah memenangkan lotre.

Pria itu tersenyum. “Kau benar. Aku mungkin tak akan punya kesempatan mencicipi masakanmu”.

Sangat manis. Bagaimana bisa pria ini memiliki senyum yang begitu manis? Itulah yang Saera fikirkan. Bahkan kini dia merasa jika jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Berhentilah berfikiran aneh Saera. Dia mencoba menenangkan dirinya.

Pria itu kembali menikmati makanannya. Sebenarnya dia masih merasa canggung bersama gadis itu. Ya, meski mereka berteman sewaktu kecil tapi itu bukan jaminan dia benar-benar mengenalnya. Dia tak pernah tahu bagaimana sifat serta kebiasaan gadis ini ketika beranjak dewasa. Sepertinya dia memang harus sering menemui gadis ini. Dengan begitu, akan membuatnya semakin mengenal gadisnya. Gadisnya! Apa dia pantas mengatakannya?

“Kenapa anda melakukannya?”, tanya Saera tiba-tiba.

Pria itu tak mengerti maksud perkataan Saera. Dia mengerutkan alis mencoba memahaminya. Tapi tak ada jawaban dari rasa tak tahunya. Dia kemudian bertanya untuk menghilangkannya, “Melakukan apa maksudmu?”.

“Kenapa anda melunasi hutang ayahku. Dan bagaimana anda tahu tentang hutang itu? Seingatku aku tak pernah memberitahukannya pada anda”, tanya Saera penuh selidik. Dia benar-benar sudah tak bisa menahan diri untuk mengetahui alasan pria ini. Bagaimana bisa dia dengan rela membuang uangnya hanya untuk gadis yang bahkan baru dikenalnya. Terlebih lagi gadis itu hanya seorang wanita penghibur. Dan dia rasa, hutang ayahnya masih cukup banyak.

Pria itu berhenti mengunyah. Bagaimana bisa gadis ini tahu jika dia yang melunasi hutang ayahnya? Tidak ada yang tahu hal ini, kecuali pria tua itu. Apa mungkin memang pria tua itu yang memberitahukannya? Hanya itu kemungkinan gadis ini bisa tahu. “Bagaimana kau tahu?”, hanya itu yang bisa dikatakannya.

Dia membuang kesal nafasnya. Dia memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan dirinya. Ada apa dengan pria ini? Kenapa dia melakukannya? “Kim ahjussi yang memberitahuku”, jawab Saera kemudian.

“Ah, pantas saja”, dia mengangguk paham. Dia kembali melanjutkan makannya.

“Kenapa anda melakukannya?”, Saera kembali bertanya. Pertanyaan yang sama dari sebelumnya. Ya, dia hanya ingin mendengarkan alasannya, itu saja. Kenapa pria ini tak kunjung menjawabnya?

Pria itu tahu jika gadis dihadapannya ini sedang penasaran. Tapi dia tak bisa memberitahukan alasannya. Karena memang itu tak masuk akal untuknya. Ya, saat itu dia merasa begitu kasihan dengan gadis ini. Sebenarnya itu juga rasa terima kasihnya karena sudah menjadi teman hidup gadis kecilnya. Saat itu dia menganggap jika Sora lah temannya. Siapa sangka jika gadis yang ditebusnya adalah orang yang dicarinya selama ini. “Angap saja itu bayaran untukmu. Kau pergi sebelum aku membayarmu malam itu”, jawabnya kemudian. Dia benar-benar tak bisa menjelaskan alasannya sekarang.

“Tapi aku tak semahal itu Park Chanyeol-ssi. Dan lagi, bukankah anda sudah membayarnya saat memesanku. Karena memang itulah aturannya”, jelas Saera. Dia terlihat tak terima dengan alasan yang diberikan pria itu.

Benar yang dikatakan gadis ini. Memang aturan Club itu sedikit aneh. Mereka harus membayar dulu sebelum memesan. Sepertinya kali ini dia salah memilih alasan. Haruskah dia berkata jujur? Tapi itu tak mungkin, akan sangat aneh nantinya. “Tapi aku harus tetap membayarmu bukan”, ucapnya. Hanya itu yang terlintas dalam fikirannya. Dia tak terfikirkan alasan lain. Dia kembali menikmati makanannya yang tinggal setengah.

“Berapa banyak yang anda keluarkan? Aku yakin anda bukan hanya membayar hutangnya. Kim ahjussi pasti meminta tebusan. Tidak mungkin dia melepaskanku begitu saja hanya karena hutang ayahku lunas. Aku akan mengembalikannya nanti. Mungkin tidak bisa secara bersamaan, tapi akan aku usahakan mengembalikan semuanya”, jelasnya. Dia tak ingin memiliki hutang budi pada pria ini. Terlebih lagi mereka tak saling mengenal.

Bukan ini yang diharapkan pria itu. Dia tak butuh uangnya kembali. Yang dia butuhkan hanya gadis itu ingat padanya. Ya, hanya itu. “Kau tak perlu mengembalikannya. Dan juga anggap aku sedang gila saat itu, hingga aku melakukannya”, nada bicaranya tedengar enteng. Seolah hanya uang receh yang dikeluarkannya.

“Park Chanyeol-ssi”, ucap Saera. Nada bicaranya naik satu oktaf. Sepertinya dia mulai hilang kesabaran. Dia hanya ingin alasan masuk akal dari pria itu, tapi apa yang dikatakannya. Dia berkata seolah apa yang dikeluarkannya bukan apa-apa. Dia tahu pria ini memang sangat kaya, tapi tidak begini. Setidaknya harus ada alasan yang jelas dibalik tindakannya.

Pria itu dapat melihat raut kesal dari wajah gadis yang tengah duduk di depannya. “Percayalah! Aku tak punya maksud apapun. Uang itu tak sebanding dengan penderitaan yang selama ini kau rasakan. Bejanjilah satu hal. Jangan pernah bekerja seperti itu lagi. Hiduplah dengan normal seperti orang pada umumnya. Kau gadis yang baik, kau pantas menerima itu semua”.

“Apa anda mengenalku? Anda berkata seolah anda sudah lama mengenalku”, tanya Saera penuh selidik.

“Aku memang mengenalmu, meskipun kau tak mengingat hal itu”. mereka hanya saling menatap untuk beberapa saat. “Cha, aku sudah selesai”, pria itu meletakkan sumpitnya di meja. “Terima kasih untuk makanannya, Han Saera-ssi”. Pria itu bangkit menuju lemari pendingin. Mengambil minuman untuk membuang rasa hausnya.

Saera hanya bisa mengawasi gerak-gerik pria itu. Dia masih sulit mencerna perkataan pria itu. Bagaimana pria ini bisa mengenalnya? Dan memang benar yang dikatakannya, Saera tak pernah ingat pernah mengenal pria itu. Beragam pertanyaan kini berputar diotaknya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia melirik jam tangannya sekilas. Jam makan siang sudah hampir habis. Dia harus pergi meskipun tidak ingin. Dengan berat hati dia membereskan meja itu, mengambil kembali kotak makanannya.

“Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada anda. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat”, Saera berdiri, berjalan mendekati pria itu yang masih mematung di depan lemari pendingin. Dia membungkukkan tubuhnya membentuk sudut 90 derajat. “Terima kasih untuk semuanya”.

Pria itu masih diam seribu bahasa. Dia bingung dengan apa yang harus dilakukannya. “Tak perlu seformal itu Han Saera-ssi”, ucapnya akhirnya.

Saera kembali berdiri. “Aku memang harus melakukannya”. Dia kemudian merogoh tasnya. Mengambil kartu namanya. Memberikannya pada pria itu. “Ini kartu nama saya. Mungkin suatu saat anda akan membutuhkan bantuan dariku. Jangan sungkan untuk menghubungi”, lanjutnya. Senyum manisnya, juga ia berikan.

Pria itu mengambilnya dengan sedikit ragu. Sepertinya dia memang membutuhkannya. Nomor ponsel memang hal utama yang dibutuhkan untuk menjadi lebih dekat dengannya.

“Saya permisi dulu”, ucap Saera kembali. Dia menunduk hormat sebelum meninggalkan ruang tersebut.

Pria itu mengacak pelan rambutnya setelah mendengar pintu ruangannya tertutup. Dia merasa sedikit frustasi. Ada banyak hal yang ingin pria itu lakukan untuk Saera. Dan sebenarnya dia tak ingin jika gadis itu pergi tadi. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan yang memaksakannya. Dia harus bersabar jika tak ingin gadis itu menjauhinya.

to be continue…..

Hai, saya kembali setelah sekian lama.

Terima kasih sudah membaca.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya…….

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Promise (약속) (Chapter 12)

  1. Akhirnya cy sadar nggak sabar kalau saera ingat klo cy itu teman kecilnya ayo dong thour buat meraka bersatu jangan patah semangat thour
    Hwaiting ^^

  2. Akhirnyaaa.. Semoga Saera bisa cepat inget sma Chanyeol..
    Di tunggu next chaptnya ya thor.. Jangan lama” klo bisa.. Hehe
    Fighting.. 👊👊😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s