[EXOFFI FREELANCE] DREAM (Epilog)

DREAM  –  EPILOGUE

[ S(H)e is Dreaming]

Author: Azalea
Cast : Bae Suzy (Miss A), Byun Baekhyun (EXO), Kim Sejeong (IOI), Kim Myungsoo (Infinite)
Genre : Romance, Sadness.
Rating : PG-17
Length : Chapter
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Kalian juga bisa baca ff ku ini di wattpad. Nama id ku mongmongngi_b, dengan judul cerita DREAM. Jangan plagiat, ataupun me re-upload ff ini tanpa sepengetahuanku.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita Sebelumnya : CHAPTER 1 ( DREAM )  ->  CHAPTER 2 (REAL?)  ->  CHAPTER 3 (DEJA VOO)  ->  CHAPTER 4 (FATE) -> CHAPTER 5 (설레 [ SEOLLEDA – BERDEBAR ])  – > CHAPTER 6 (LOCKVOGEL – PEMIKAT) -> CHAPTER 7 (SWEET MORNING) -> CHAPTER 8 (VERWIRRT) -> CHAPTER 9 (LÜGE – KEBOHONGAN) -> CHAPTER 10 (INSTINKT – INSTING) -> CHAPTER 11 (DINNER) -> CHAPTER 12 (BAEKHYUN STORY)  -> CHAPTER 13 (JEJU DO – JEJU ISLAND) -> CHAPTER 14 (GEHEIMNIS – RAHASIA) -> CHAPTER 15 (SUNRISE) -> CHAPTER 16 (BEAUTIFUL LIAR) -> CHAPTER 17 (JEALOUS) -> CHAPTER 18 (KIM YERI) -> CHAPTER 19 (JOURNEY) -> CHAPTER 20 (MISSING YOU) -> CHAPTER 21 (SECOND WOMAN) -> CHAPTER 22 (WEDDING DAY) -> CHAPTER 23 (KIM SEJEONG) -> CHAPTER 24 (HURT) -> CHAPTER 25 (ENGAGEMENT) -> CHAPTER 26 (CONFESSION) -> CHAPTER 27 (SECOND MARRIAGE) -> CHAPTER 28 (IF YOU LOVE ME) – > CHAPTER 29 ([IT’S NOT] FINE)

“Kau masih di mana?” tanya Myungsoo lewat sambungan telepon yang saat ini tengah tersambung dengan Suzy.

“Aku sedang di lampu merah dekat butik yang kita tuju,” jawab Suzy sambil memperhatikan lampu lalu lintas. “Lima belas menit lagi aku sampai. Kau sudah sampai?” tambah Suzy lagi tanpa melihat ponsel yang ia taruh di dashboard mobilnya karena ia tahu Myungsoo tidak melihat dirinya saat ini karena berbicara tanpa menatapnya.

“Aku baru sampai,” jawab Myungsoo.

Tepat setelah mendengar jawaban dari Myungsoo, lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau. Suzy yang melihat lampu telah berubah pun segera menginjak pedal gasnya. Saat Suzy akan membelokkan mobilnya, tiba-tiba dari arah kirinya ada sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi menerobos lampu lalu lintas.

BRAAKK

Kejadiannya begitu cepat. Suzy yang terkejut pun tidak sempat untuk menghindar. Sisi mobil tempat ia mengemudi adalah bagian pertama yang terkena hantaman mobil truk tersebut. Semua kaca pecah menjadi berkeping-keping. Walaupun ada airbag, benturan yang begitu keras tidak bisa menyelamatkan Suzy dari arah samping. Mobil yang dikendarainya pun berputar-putar beberapa kali sebelum berhenti dan malang melintang di tengah jalan.

Suzy perlahan membuka matanya. Pemandangan di depannya begitu mengerikan. Di tengah keburaman matanya, ia bisa melihat satu mobil lainnya yang juga kena hantaman dari truk yang menghantamnya tadi. Laju truk tersebut telah berhenti. Namun naas, truk tersebut berhenti tepat di atas mobil yang ditabraknya. Bagian depan sebelah kanan pengemudinya hancur tak bersisa, tapi tidak ada waktu bagi Suzy untuk ikut mengkhawatirkan keadaan pengemudi lainnya itu karena saat ini keadaannya tidak jauh berbeda dengan pemandangan di depannya.

Sayup-sayup Suzy masih bisa mendengar suara teriakan masa yang mencoba untuk membantunya keluar dari dalam mobil. Beberapa orang berkerumun ke arah mobilnya. Tubuhnya terjepit pintu mobil dan ia tidak bisa bergerak. Suzy mengerjapkan matanya lemah di tengah ambang kesadarannya. Napasnya terasa semakin lama semakin sesak. Kegelapan pun perlahan menyelimutinya. Sekuat apapun ia menolak, pada akhirnya ia termakan juga.

Entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Saat Suzy membuka matanya, yang terlihat hanya gerak semu dari lampu-lampu yang berjejer. Suara panik dengan sedikit bentakan terdengar oleh telinganya. Ia tidak merasakan sakit, tapi ia tahu semua itu karena tubuhnya terlalu kebas dengan rasa sakit yang teramat sangat. Cairan hangat dengan bau menyengat terus keluar dari kepalanya walau ia tidak melihatnya.

Perlahan Suzy menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke kiri dengan susah payah. Rasa sakit tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata tiba-tiba menghantam tubuhnya. Rasanya ia ingin menangis, atau pun berteriak. Tapi sekali lagi, tubuhnya terlalu kelu untuk sekedar merintih pun. Sebuah pintu tiba-tiba terbuka, dan bangsal tempat ia berbaring saat ini pun segera dibawa masuk ke ruangan tersebut.

Bangsal pun berhenti bergerak. Beberapa perawat yang membawanya sibuk memasangkan berbagai peralatan medis untuk menunjang kehidupannya. Suzy hanya bisa pasrah menerima semua tindakan itu tanpa protes sama sekali. Suzy memandang ke depannya sambil mengerjapkan matanya. Dapat dilihatnya seseorang juga tengah berbaring lemah di samping bangsalnya. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan Suzy. Seluruh kepalanya berlumuran darah. Bahkan kemeja putih yang digunakannya juga sudah berubah warna.

Saat Suzy menaikan pandangannya untuk menatap wajah orang di sebelahnya. Sedetik kemudian pandangan mata mereka bertemu. Mata hitam kelam yang begitu menenangkannya membuatnya tanpa sadar tersenyum lemah. Suzy tidak tahu siapa pria itu, tapi entah kenapa ia juga merasa sakit saat melihat keadaannya yang tidak berdaya seperti dirinya.

Perasaan takut akan sesuatu yang tidak tahu apa membuat Suzy tiba-tiba menggigil kedinginan. Napas yang sudah tersengal, semakin terasa sesak kala merasakan takut itu. Pandangan matanya berubah menjadi semakin buram. Tidak biasanya ia merasa takut seperti ini.

Sebuah tangan yang terasa dingin tiba-tiba terasa menggenggam telapak tangannya yang terkulai lemah di sisi bangsalnya. Pandangan mata mereka kembali bertemu. Sebuah senyuman menenangkan terbit dari pria di sebelahnya. Suzy pun tertegun sejenak. Seakan dunia berputar kala ia melihat senyuman itu.

“J-jang-an t-ting-gal-kan a-ku…” ucap Suzy menggerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suaranya.

Seakan mengerti ketakutan Suzy saat ini, genggaman tangannya pun semakin menguat. Menguatkan Suzy jika saat ini ia tidak sendirian. Pria di depannya masih tersenyum walau pandangan matanya semakin meredup.

“A-aku a-akan be-berada di sisimu…se-lamanya.”

Itu adalah ucapan terakhir dari pria di sampingnya sebelum ia menutup matanya, dan bersamaan dengan itu pula genggaman tangannya pun terlepas. Melihat hal itu membuat Suzy sedih bukan main. Ia memang tidak mengenal pria itu, tapi rasa sakit saat ia tidak bisa melihat wajah tersenyumnya lagi begitu menusuk hatinya.

Masih dengan memandangi wajah di depannya, seorang perawat memasangkan sebuah selang untuk menutup saluran pernapasannya. Oksigen dari udara bebas pun tergantikan dengan oksigen dari tabung. Semakin lama Suzy menghirupnya, semakin menipis pula kesadarannya. Suara gerekan dari tirai yang ditutup membuatnya tidak bisa melihat pria asing itu. Mau berontak pun Suzy tidak bisa, karena perlahan ia tidak bisa merasakan tubuhnya. Semua ototnya lemas tak bertenaga.

Satu hal yang ingat sebelum ia menutup matanya kembali, yaitu senyuman dari pria asing itu yang terasa begitu menenangkannya saat ia memandangnya.

Mereka pun terlelap menuju alam mimpi masing-masing, tanpa mereka sadari, hati mereka telah terpaut untuk merekam wajah dari orang yang terakhir mereka lihat dan menyimpannya di alam bawah sadar mereka masing-masing.

Dia bermimpi

Kau tertidur dalam pelukanku membuatku tidak bisa menahan senyum. Aku hanya bisa memandangimu, karena ketika pagi datang, kau akan terbangun seolah-olah tidak ada yang terjadi

EXO – She’s Dreaming

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] DREAM (Epilog)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] DREAM (Extra Part) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s