GAME OVER – Lv. 11 [Stigma] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — [PLAYING] Level 11

Lift your head to a higher place now

The beautiful courage that is born again

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 11 — Stigma

In Jiho’s Eyes…

“Jangan khawatir. Serangan sekecil itu tak akan melukaiku.”

“Wah, lihat siapa yang sedang berusaha jadi pahlawan di sini.”

Aku masih berusaha untuk menetralkan kinerja jantungku saat kudengar suara White Lion memecah konsentrasi Baekhyun. Sontak, Baekhyun mengalihkan pandang dariku, menatap ke arah White Lion yang sekarang sudah berdiri dengan equipment1 terupgrade.

Bagaimana ia melakukannya? Apa mengupgrade equipment di saat seperti ini bisa terjadi?

“Mundurlah. Kau mungkin bisa terluka lagi jika berada terlalu dekat dari arena.” vokal Baekhyun terdengar, dia bicara padaku—kali ini tidak melalui global chat sehingga aku tidak perlu merasa terkejut lagi.

Tanpa bicara apapun, aku akhirnya bergerak mundur. Memberi ruang pada Baekhyun dan WhiteTown untuk menyelesaikan serangan tiba-tiba Baekhyun. Bisa kulihat, anggota WhiteTown yang lain ikut berdatangan.

Well, White Lion pasti memanggil mereka melalui chat Town mereka bukan?

“Kau tidak mengerti? Kami sudah tahu kalau kau bisa dihancurkan. Untuk apa berpura-pura kuat dengan menutupi identitasmu sebagai Invisible Black? Kau tak lebih dari seorang pecundang sekarang.” White Tiger terdengar berusaha memancing emosi Baekhyun.

Kuakui, Tiger pasti punya keberanian seperti itu karena dia ada di kandangnya sendiri. Dan dia juga merasa kalau kekalahan Baekhyun tempo hari adalah celah kecil yang menunjukkan kalau Baekhyun adalah seorang player yang lemah, dan bisa dikalahkan, tidak berbeda dari mereka.

“Aku tidak dihancurkan. Kalian hanya membuatku berada di titik kritis yang akhirnya membuatku terlogout secara otomatis.” Baekhyun berkata, “Kalian bahkan menggunakan cara paling kotor untuk menyerangku.” sambungnya, mengingatkanku pada keterlibatan Taehyung yang pasti dianggap Baekhyun sebagai cara paling kotor tersebut.

Ya, memang. Aku memikirkan hal yang sama dengan Baekhyun. Mereka menggunakan hacker, dan kecurangan tersebut rasanya terlalu berlebihan. Mereka terlalu menganggap serius permainan ini.

“Sama saja, kau sudah hancur oleh kami. Sekarang apa lagi yang ingin kau banggakan?” Lion berucap, sementara Baekhyun menatapnya tanpa ekspresi.

“Kalau aku menghancurkanmu kau pasti tak akan bicara seperti itu, bukan?” Baekhyun berkata, “Kalian menganggap permainan ini sebagai tempat untuk unjuk kekuatan dan kekuasaan. Kalian pikir berapa lama kalian bisa bertahan dengan cara seperti itu?” sambung Baekhyun membuat White Tiger berdecih muak.

“Kau sangat pandai berkata-kata. Memangnya kau pikir kehadiranmu sebagai pahlawan tanpa identitas di permainan ini berbeda dengan yang kami lakukan? Kau juga berusaha untuk unjuk kekuatan.” ucap Tiger berusaha memancing emosi Baekhyun.

“Tidak. Kalau saja kau tidak mengusikku, aku tak akan bertindak seperti ini. Kau mengikrarkan diri sebagai seorang harimau di sini, tapi mengapa kau tidak tahu? Kalau seekor harimau yang tengah tertidur tidak sebaiknya dibangunkan. Itulah yang seharusnya dulu kau pertimbangkan sebelum menyerangku tanpa alasan.”

Ucapan Baekhyun ada benarnya. Dari yang kuketahui, White Tiger memang seringkali memulai sebuah battle2, entah karena iseng, atau memang sudah direncanakannya bersama anggota WhiteTown yang lain.

Aku juga tidak mengerti, masalah apa yang dimilikinya dengan Baekhyun sampai berhasil membuat seorang Invisible Black keluar dari persembunyiannya selama ini. Bahkan, seorang sepertiku sampai bisa mengenalnya secara pribadi.

Tidakkah Tiger pasti telah melakukan sesuatu yang cukup fatal?

“Kalau begitu kita sudahi saja omong kosong ini.” Lion angkat bicara, melihat dari cara dia sekarang bereaksi, bisa kutangkap kalau dia pasti terlibat juga dalam battle pertama Baekhyun dan Tiger.

“Kau yang memulai omong kosongnya.” Baekhyun berkata, diayunkannya golden fire sword yang dia miliki, benda tersebut berkilau keemasan sebelum kilau emasnya menghampiri corak-corak keemasan lain di suits yang Baekhyun kenakan.

Sial, bagaimana bisa dia terlihat begitu keren?

Pertarungan mereka kemudian berlanjut, kali ini Baekhyun melawan seluruh anggota WhiteTown, sementara penonton yang mengelilingi mereka juga semakin banyak. Baekhyun agaknya juga berhasil memancing beberapa orang musuh yang levelnya harus ia renggut juga.

Terbukti dengan bagaimana sekarang beberapa anggota Enterprise dan House of Zeus juga hadir di sana, termasuk Taehyung dan Ashley. Baekhyun sendiri mulai menyerang membabi buta, meruntuhkan pertahanan Lion sementara Tiger menyerangnya.

Sayang, Baekhyun tidak memasang batas apapun di arena pertarungannya. Sehingga aku bisa melihat bagaimana beberapa player sekarang ikut masuk ke arena dan berusaha merobohkan Baekhyun.

Well, kupikir mereka pasti tahu trik yang bisa menguntungkan mereka. Mengalahkan Baekhyun di saat seperti ini berarti mereka bisa menaikkan beberapa level dalam waktu singkat.

“Ah, kalian berusaha untuk menyerangku secara berkelompok lagi, rupanya. Sayang cara itu tak akan berhasil untuk kedua kalinya padaku.” Baekhyun berucap, dia sempat tertawa kecil padahal dirinya terluka karena serangan dari Royal Thrope yang sekarang ikut terlibat.

Zeus dan kelompoknya ada di barisan depan, menunggu waktu yang tepat bagi mereka untuk ikut terlibat dalam pertarungan ini, sementara kulihat Baekhyun sudah berhasil membunuh empat orang anggota WhiteTown dengan cara cukup efektif—membuat mereka game over tanpa punya keinginan untuk menginjak start lagi.

“Kau harus ikut menyerangku, Jiho!” kudengar teriakan Baekhyun dalam private chat, sementara kusadari kalau Thrope dan anggota Enterprise lainnya sekarang tengah memasang persenjataan mereka dan bersiaga.

Benar, mereka tahu keberadaanku di sini. Secara otomatis tanpa harus menunggu komando dari Thrope di chat group pun aku seharusnya tahu tentang apa yang harus aku lakukan.

“Bagaimana bisa aku menyerangmu padahal aku ada di pihakmu?” aku bertanya pada Baekhyun, sementara kulihat dia kewalahan dengan serangan yang sekarang Zeus berikan secara tiba-tiba.

Tidak, jumlah mereka yang terlibat terlalu banyak. Baekhyun mungkin akan gagal di percobaan pertamanya untuk keluar dari after effect ini. Aku tidak bisa membiarkannya. Tidak bisa.

“Jangan bertindak konyol, Jiho. Keterlibatanmu denganku mungkin akan berakibat fatal bagimu di Town.” Baekhyun seolah bisa membaca pikiranku, dia memberiku peringatan bahkan saat aku belum mengutarakan apa yang aku pikirkan.

“Tidak, aku tidak sedang memikirkan hal konyol.” kilahku.

“Bagus, kalau begitu segeralah ikut dalam pertarungan ini setelah Townmu ikut. Aku akan berusaha menciptakan damage3 sekecil mungkin padamu, Jiho.”

“Jadi aku hanya perlu menyerangmu dengan serangan kecil bukan?” tanyaku sekali lagi, memastikan kalau Baekhyun benar-benar ingin aku terlibat dalam penyerangannya dan kemungkinan besar akan kehilangan satu atau dua level lagi jika saja aku terkena serangan telak darinya.

“Tidak. Serang aku dengan kemampuanmu.”

Aku tertegun saat mendengar ucapan Baekhyun. Dia ingin aku sungguh-sungguh menyerangnya? Di saat tidak seorang pun memihaknya? Bagaimana mungkin aku bisa berdiam dan—tidak, Jiho. Pikirkan apa yang akan terjadi di Town jika mereka tahu aku terlibat dengan Baekhyun.

“Baiklah.” aku berucap sesaat setelah kulihat Thrope masuk ke dalam arena, diikuti dengan dua orang dari Townku.

Empat dari kita harus menyerangnya lebih dulu, sisanya menunggu kami game over, mengerti?’ perintah Thrope terdengar menggema di telingaku, dia pasti mengumumkan strategi itu  lewat group chat.

‘Satu lagi masuk ke arena, siapa yang ikut?’ aku baru saja hendak menginjakkan kaki masuk ke dalam arena saat kulihat Ashley dan Taehyung tiba-tiba saja masuk ke dalam arena.

Sontak, rencana Thrope untuk melibatkan player lain dari Townnya urung. Tapi tidak, ini justru lebih buruk. Ashley dan Taehyung ada di jajaran player kuat WorldWare, bagaimana jika mereka berhasil menghancurkan Baekhyun seperti tempo hari?

Apa Taehyung sekarang sedang melancarkan serangan pada Baekhyun secara cy

“Sialan, dia lagi-lagi berusaha meretasku.” Baekhyun mengumpat dalam private chat kami. Memang, tidak ada pendengar lain yang bisa diajaknya bicara selain diriku saat ini.

“Aku bisa logout untuk mematikan koneksi listrik keduanya.” aku berinisiatif. Mematikan aliran listrik di mess tak akan memakan waktu banyak, dan aku hanya perlu logout saja. Lagipula, aku tidak bisa banyak membantu Baekhyun dalam pertarungannya.

“Tidak, jangan. Mereka mungkin akan mencurigaimu.” Baekhyun berucap.

“Lalu aku harus berdiri diam dan menonton mereka menyerangmu? Jangan bercanda, Baekhyun. Thrope memerintahku untuk berdiam sampai dia dan dua lainnya game over.”

“Kalau begitu aku akan—akh!” sial. Baekhyun rupanya terlalu menaruh fokus pada konversasi kami sehingga dengan mudah dia diserang oleh Thrope.

Dengan cepat, health bar Baekhyun merosot, hingga berkedip-kedip merah seolah dia akan—

‘Star Anda tengah berada di masa kritis, apa Anda berkenan memberi bantuan?’ aku terkesiap saat sebuah suara menyapa runguku. Bukan suara player, melainkan NPC4. Apa ini yang Wendy katakan kalau aku akan tahu jika Baekhyun membutuhkan bantuan dan begitu pula sebaliknya?

“Tiger! Serang! Dia sudah mencapai ambang batas powernya!” Lion berteriak cukup lantang saat melihat Baekhyun yang tertatih-tatih berusaha bangkit.

Segera, Tiger mengarahkan clown archery miliknya ke arah Baekhyun. Anak panah berwarna merah darah baru saja melesat ke arah Baekhyun saat aku menemukan keputusan yang harus kupilih.

Masa bodoh dengan mereka, aku harus menolong Baekhyun.

‘Star Anda tengah berada di masa kritis, apa Anda berkenan memberi bantuan?’ untuk kedua kalinya suara itu terdengar. Sontak saja, aku menginjak pilihan ‘ya’ pada dua option yang disediakan di sana.

“Jiho!” teriakan Baekhyun terdengar begitu lantang saat aku temukan diriku telah berdiri tegap melindunginya dengan menggunakan ministry swordku untuk menangkis anak panah yang Tiger arahkan pada Baekhyun.

“HongJoo?”

“Ada apa dengan HongJoo?”

“Dia HongJoo player unggulan Enterprise bukan?”

Kudengar puluhan player di global chat menyebut namaku. Hal yang kemudian kuanggap mengganggu konsentrasi sebelum aku akhirnya memutuskan untuk mematikan global chat.

“Apa yang kau lakukan!?” teriakan Thrope terdengar begitu lantang. Ada dua global chat yang sekarang available, satu global chat yang bisa diikuti siapapun meski tidak sedang terlibat dalam pertarungan ini, dan satu lagi battle chat yang terhubung dengan orang-orang yang terlibat dalam pertarungan ini.

“Kau tidak bisa melihatnya? Aku ada di pihak player ini.” aku berkata, sementara kudapati suitsku sudah berubah senada dengan yang Baekhyun kenakan. Beberapa equipmentku juga naik level, seolah menyetarakan tingkatannya dengan milik Baekhyun.

Secara otomatis, health barku juga terbagi dua dengan Baekhyun, sama rata, dan ada kilau berwarna perak pada health barku maupun Baekhyun.

“Kau sudah gila?” Baekhyun bertanya padaku melalui private chat.

“Ya, anggap saja begitu. Aku tak bisa terus-terusan membiarkanmu dicurangi oleh mereka. Kita ada di pihak yang sama sekarang, bukan?” tanyaku membuat Baekhyun menatapku dengan sebuah senyum di wajahnya.

“Jangan menyesal kalau setelah ini sesuatu yang buruk terjadi padamu di Town.” ia memberiku peringatan.

Untuk apa aku khawatir tentang Town saat aku bahkan tak lagi merasa jika mereka menganggapku ada?

“Kau pengkhianat!” Thrope berteriak, ia melesatkan sebuah serangan ke arahku, dan dengan mudah aku menangkisnya.

Wah, apa abilityku juga meningkat setara dengan Baekhyun?

“Hancurkan mereka!” teriakan Lion terdengar begitu lantang. Kini, tidak hanya playerplayer dari Town yang berusaha menyerang kami—aku termasuk dalam sasaran mereka juga selain Baekhyun—sementara aku dan Baekhyun secara otomatis merapatkan diri, menyerang secara bergiliran untuk melumpuhkan mereka.

Aku berhasil membunuh tiga player, dan kulihat gold chain—Baekhyun menjelaskan padaku kalau tiap level yang berhasil direbutnya akan berubah dalam bentuk gold chain yang masuk dalam weekly quest miliknya—dari tiga player tersebut masuk ke dalam weekly quest Baekhyun.

Ah, jadi aku juga bisa membantu Baekhyun merebut level-level itu? Baguslah, keterlibatanku dalam pertarungan ini tidak akan percuma.

“Awas!” Baekhyun berteriak dan segera mengambil alih serangan dari Zeus yang tadinya di arahkan kepadaku. Dengan mudah Baekhyun merobohkan Zeus menggunakan equipment yang ia miliki, menekan mundur anggota House of Zeus lain yang berusaha untuk terlibat dalam pertarungan ini.

Taehyung berdiri di hadapanku kemudian, menatapku dengan sepasang mata menyipit dan senyum penuh makna.

“Aku sudah tahu ada yang aneh denganmu saat akunmu tiba-tiba saja terproteksi dengan begitu sempurna. Rupanya, tempo hari dia sudah menghinaku dengan membiarkanku menang atas peretasan yang kulakukan pada akunnya.” Taehyung berucap, dia pasti teringat pada battle yang berhasil membuat Baekhyun mendapatkan after effect5 ini, dimana Baekhyun memang membiarkan Taehyung untuk masuk dan meretas akun miliknya.

Aku tak pernah menyangka, jika bagi Taehyung apa yang Baekhyun lakukan merupakan sebuah penghinaan yang menyinggungnya.

“Aku sudah mencoba memberitahumu, Taehyung. Kau saja yang tak coba untuk mengerti. Sejak awal, aku ada di pihaknya.” aku berucap, sementara sekarang Taehyung menatap ke arah Baekhyun.

“Haruskah aku coba mengacaukannya sekarang?” pertanyaan Taehyung sontak menjadi sinyal bagiku jika dia akan berusaha untuk menyerang Baekhyun dengan meretasnya, lagi.

Satu-satunya cara agar konsentrasi Taehyung terpecah adalah memaksanya untuk bertarung sehingga dia tidak bisa terlogout secara otomatis meskipun dia ingin.

“Tidak, lewati dulu aku jika kau ingin mengusiknya!” aku berucap tegas, segera kusarangkan sebuah serangan pada Taehyung, hal yang membuatnya mau tak mau masuk ke dalam pertarungan karena aku telah melibatkannya.

“Sialan, apa yang sudah terjadi padamu, Jiho? Mengapa kau tiba-tiba memihaknya?” Taehyung berucap tidak terima, dia kemudian meladeni pertarungan yang kusuguhkan.

Serangan demi serangan Taehyung lemparkan padaku, tapi sayang aku sudah mengenalnya lebih baik daripada siapapun di permainan ini. Sehingga dengan mudah tiap serangan yang dia berikan kupatahkan. Taehyung banyak belajar padaku, tentang teknik menyerang, strategi dalam pertarungan, dan equipmentequipment sederhana yang berefek cukup luar biasa pada pertarungan.

Dan sekarang, aku tengah menelanjanginya dalam permainan ini. Kubelokkan tiap serangan yang berusaha Taehyung lemparkan, tidak kubiarkan dia menyendiri karena bisa saja dia berusaha memaksakan dirinya untuk terlogout.

“Kau tahu aku akan keluar dari permainan ini jika kau menghabisiku, Jiho.” kami bicara melalui private chat sekarang, sehingga aku tak perlu khawatir soal orang-orang yang mungkin mengetahui namaku.

Lagipula, tak ada pengaruhnya sekarang meskipun mereka tahu tentangku. Stigma yang mereka berikan padaku tak lagi baik. Aku hanya seorang pegnkhianat dari Enterprise yang memilih untuk bekerja sama dengan Invisible Black.

“Kau pikir aku akan membiarkanmu terlogout begitu saja? Mari kita bermain-main sampai dia selesai dengan urusannya, Taehyung.” aku berkata, kupinjam salah satu equipment Baekhyun, rodeo swings, dan kugunakan benda itu untuk mengikat Taehyung cukup erat di sudut arena.

Aku tahu rodeo swings adalah salah satu equipment pengikat yang kuat. Dan tak sempurna rasanya jika Taehyung kubiarkan begitu saja. Jadi aku segera meraih simple knife yang dulu kudapatkan di level awal, kugunakan benda itu dalam autobot sehingga sekarang perlahan-lahan Taehyung dicabik.

Health barnya berkurang dengan sangat lambat, tapi dia masih terjebak dalam pertarungan ini.

“Hentikan, Jiho!” kali ini vokal Ashley terdengar.

“Musuhmu adalah aku, Nona.” Baekhyun segera menghadang Ashley saat dia berusaha untuk menyerangku. Sepertinya Baekhyun tahu benar, aku tak bisa menghadapi Ashley.

Bukan karena aku tak mampu, tapi aku tidak sanggup. Aku begitu dekat dengan Ashley, dan melukainya dalam permainan ini mungkin juga akan melukainya nanti saat kami bertemu di dunia nyata.

Dan aku tahu Baekhyun tidak berusaha membuatku dimusuhi oleh dua orang yang berharga bagiku di kehidupan nyata.

“Kau melukainya, Hong!” Ashley berteriak melalui battle chat, dan Baekhyun segera melemparkan sebuah plasma ke arah Ashley.

“Dia tidak berusaha melukainya, justru, aku yang akan melukai kalian.” Baekhyun memperingatkan Ashley, segera setelah plasma tersebut mengenai tubuh Ashley, dia terkurung tak berdaya.

Segumpal asap ada di dalam bola plasma tersebut, perlahan-lahan menggerogoti health bar Ashley sementara Ashley sekarang menatapku tak percaya.

Tentu dia tak percaya jika aku bisa melakukan pemberontakan semacam ini.

“Bunuh HongJoo! Dia seorang pengkhianat!”

Akh!!” aku terkejut bukan kepalang saat sebuah sword melayang ke arahku, menancap di tubuhku dan kontan membuat—tunggu, ada apa dengan health barku? Seharusnya aku kehilangan banyak bar karena serangan ini. Tapi yang terjadi hanyalah hilangnya kilau perak di bagian kecil health barku.

Apa pertahananku dan Baekhyun jadi semakin kuat karena Cosmic Rings yang mengikat kami?

“Bagus, ternyata tidak ada ruginya menjadikan seorang yang kalian sebut pengkhianat sebagai sekutu. Keadaannya sekarang berbalik, bukan?” Baekhyun berucap dengan nada penuh ledekan di tengah battle chat.

Sungguh, aku tak menyangka jika Baekhyun akan punya cara untuk menghina mereka begitu. Awalnya kupikir dia akan marah karena keputusanku untuk membiarkan semua orang tahu tentang keterlibatanku dengannya.

Tapi ternyata Baekhyun tidak bereaksi begitu. Malah, dalam pandanganku dia terlihat makin bersemangat untuk membunuh—aih, bahasa yang begitu keji, memang. Tapi begitulah kenyataannya. Baekhyun semakin menambah damage yang dia keluarkan, sehingga aku tidak lagi perlu repot-repot menyerang mereka karena Baekhyun sudah melakukannya.

“Wah! Game over, begitu mudah ternyata menghancurkan kalian.” aku menghentikan aktifitasku menyerang SelynMa saat kudengar Baekhyun bersuara. Weekly questnya sudah terisi hampir tiga perempatnya, sementara playerplayer kuat lainnya dari Town sudah lenyap.

“Ada lagi yang mau mengadu nyawa denganku?” tantang Baekhyun dengan nada meledek yang sangat kentara dalam suaranya.

Beberapa player langsung beringsut mundur, sementara aku sendiri sekarang mengakhiri battleku dengan SelynMa dengan membunuhnya menggunakan ministry sword andalanku. Dua level lagi kurenggut dari permainanku, dua level yang akan sangat membantu Baekhyun untuk meninggalkan after effect yang menyerangnya, tentu saja.

“Sekarang sudah berakhir, Jiho-ya. Lepaskan Ashley.” Taehyung berucap dalam private chatku.

Aku melirik ke arah Baekhyun, mempertanyakan apa dia tahu tentang Taehyung yang tengah bicara seperti itu padaku.

“Rasanya tidak lengkap jika aku tidak merenggut satu atau dua level dari mereka juga.” Baekhyun berucap, aku kemudian mengedikkan bahu, semua keputusan terserah padanya.

Karena Ashley dan Taehyung juga terlibat dalam penyerangan yang terakhir kali berhasil membuat Baekhyun game over, jadi aku tak bisa dengan sembrono memintanya untuk melepaskan Ashley dan Taehyung begitu saja.

Bagaimana pun, kehidupan yang sekarang kami jalani adalah sebuah permainan. Aku bisa bicara dengan Taehyung dan Ashley nanti saat kembali, yang jelas pertarungan ini menyisakan dua orang itu, dengan nasib mereka yang ada di tangan Baekhyun.

“Baiklah, kalau keputusannya memang ada di tanganku, aku memilih untuk mengakhiri pertarungan dengan mereka juga.” Baekhyun berucap, ia kemudian menggerakkan jemarinya, mengeluarkan dua buah sword dengan noda darah yang menghiasinya.

SRASH! SRASH!

Tidak lama, Baekhyun melontarkan masing-masing sword itu ke arah Ashley dan Taehyung. Tentu saja mereka berakhir game over dengan dua level yang berhasil Baekhyun dapatkan.

Tersisa enam belas level lagi yang harus Baekhyun renggut, dan entah mengapa kupikir sekarang situasinya akan menyulitkan kami.

“Pertarungannya sudah berakhir, Jiho. Apa yang masih mengganggumu?” pertanyaan Baekhyun menyadarkanku, kalau dia ternyata sudah membawa kami berpindah dari arena pertarungan tadi.

“Mereka tak akan membiarkan kita begitu saja memulai battle.” aku akhirnya berucap.

“Ya, mereka memang tak akan begitu. Kita bisa mencari mangsa, Jiho. Tidak sulit menemukan enam belas orang player untuk diserang. Womanizer masih aman, omong-omong.” Baekhyun mengusap noda darah yang mengotori wajahnya, lengannya kemudian bergerak menggapai rahangku, mengusap noda yang kemungkinan besar juga ada di sana.

Sial. Baekhyun, tolong hentikan. Bagaimana bisa aku berpikir dengan jernih saat tingkah laku Baekhyun saja sudah mengeruhkan pikiranku? Dan juga, ada apa dengan jantung bodoh ini, kenapa ia terus-terusan memberontak saat aku bersama dengan Baekhyun?

“Mereka mungkin mengeluarkanmu dari Town.” ucap Baekhyun menyadarkanku, aku kemudian membuka profileku, menyadari bahwa aku tak lagi termasuk dalam Enterprise entah mengapa membuatku sedikit diburu rasa bersalah.

Aku sudah menyerang separuh anggota Enterprise tadi, termasuk menyerang Taehyung. Sekarang bagaimana aku akan menghadapi dunia yang sudah mengenaliku sebagai seorang pengkhianat?

“Kau menyesalinya, bukan?” Baekhyun seolah menebak apa yang kupikirkan saat kudengar ia berkata seperti itu.

“Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya merasa bersalah, sedikit. Kau tahu aku tidak pernah melukai anggota Townku.” aku bertutur, tidak sepenuhnya berbohong karena kenyataannya aku memang merasa bersalah.

“Stigma mereka tentang kita sudah terlampau buruk. Tidak ada jalan kembali, bagimu maupun aku. Jika saja aku keluar dari mode invisible dan membiarkan mereka tahu tentangku, segalanya akan jadi semakin rumit.

“Begitu juga kalau kau berniat untuk menghapus akunmu dan lantas membuat akun baru, terlalu rumit dan beresiko, Jiho. Kita sudah terlanjur dianggap sebagai ancaman dalam permainan ini sekarang.”

Baekhyun benar, pemikirannya sungguh benar. Tak akan ada player yang menerima eksistensi kami sekarang. Yang bisa aku dan Baekhyun lakukan hanyalah berkelana dan meneruskan kegiatan yang dulu sering Baekhyun lakukan, menolong playerplayer baru yang mendapat perlakuan buruk.

Tapi aku sendiri tak bisa menjamin jika mereka pun akan menganggap kami baik. Aku belum mengaktifkan global chat, tapi aku tahu seisi WorldWare pasti tengah menghujat kami, atau mungkin ada segelintir kecil yang mengagumi kami tapi jika nanti dihadapkan dengan kami yang mereka lakukan hanyalah menyerang saja.

“Jangan menunduk karena malu atau rasa bersalah, Jiho. Tak ada kata benar maupun salah dalam dunia tak nyata ini. Kita berdua sekarang seolah menjadi highlight di WorldWare. Jadi jangan merasa takut pada mereka.

“Yang ada, bangunlah keberanian baru untuk menantang mereka. Jika mereka menghendaki, kita mungkin tak akan pernah lepas dari battle. Dan aku akan melindungimu, karena aku menghargai pilihanmu.

“Kau bisa saja tetap diam dan menjadi musuh dalam selimut bagi mereka. Tapi kau memilih untuk benar-benar memihakku, yang berarti… kau telah percaya padaku, Jiho. Jadi aku tak akan merusak kepercayaan itu dengan membiarkanmu dilukai oleh mereka.”

“Jadi… aku akan terus bersamamu mulai saat ini? Hanya kita berdua saja?” tanyaku kemudian, membayangkan kami berdua bak orang tolol menghadapi pertarungan-pertarungan tidak diduga tiap harinya dengan kemampuanku yang masih begitu buruk entah mengapa membuatku merasa tidak percaya diri.

Baekhyun terlalu kuat untuk disandingkan denganku. Tanpa kemunculanku tadi, aku juga tahu pasti Baekhyun bisa menghadapi mereka. Tapi dia memilih untuk menerima bantuanku.

Dia memercayaiku. Dan aku tak boleh berdiam diri sementara dia telah memberiku kepercayaan dan keyakinan atas pilihanku.

“Kau punya Wendy juga, bukan?” Baekhyun mengingatkanku pada NPC cantik yang tinggal di Tacenda Corner itu.

“Ya, benar. Masih ada Wendy, masih ada kau. Aku tidak sendirian. Meski Taehyung dan Ashley memperlakukanku seperti musuh saat aku nanti kembali, aku tidak perlu peduli. Seperti katamu, dunia ini hanya fiksi virtual yang diciptakan oleh manusia, bukan?”

Baekhyun tersenyum penuh makna. Ia kemudian mengulurkan tangannya ke arahku, menyadarkanku bahwa dia masih berada dalam after effect yang bisa membuatku kehilangan health bar dengan mudah saat bersentuhan dengannya.

Tapi siapa peduli? Dia satu-satunya orang yang bisa kupercaya, untuk saat ini setidaknya.

“Song Jiho-ssi, karena hanya tertinggal kita berdua dalam kekonyolan ini, maukah kau hidup denganku?”

Ya Tuhan! Kenapa dia lagi-lagi mengutarakan kalimat yang membuat jantungku melompat tidak karuan?

— 계속 —

Glossarium:

Equipment: kepemilikan barang-barang tertentu di dalam game, termasuk di dalamnya suits, amulet, weapon, potion, wealth, dan beberapa hasil dari quest.

Battle: istilah untuk menyebut sebuah pertandingan/pertarungan di dalam sebuah game, melibatkan dua sampai sepuluh player dengan rules terikat yang sudah diciptakan oleh game itu sendiri dan tidak bisa melibatkan player lain secara tiba-tiba di tengah battle tersebut.

Damage: kerusakan yang diciptakan seorang player terhadap player lainnya yang membuat health bar player lawan berkurang/game over.

NPC: Non-Player Character, sebuah karakter yang diciptakan oleh programmer sebagai karakter pembantu/pendukung untuk game tersebut.

After effect: efek samping yang didapatkan seorang player dalam invisible mode yang mengalami masa krisis/game over dalam sebuah battle. After effect biasanya bisa dihilangkan dengan menyelesaikan quest tertentu.

IRISH’s Fingernotes:

Halo!

Maaf karena sedikit terlambat ngepost Game Over kali ini karena alasan-alasan tertentu yang kalo diceritain kesannya klise dan modus doang ;~; tapi ya gak apa sih ya dicurcolin aja.

Jadi ceritanya, Violet ‘kan udah jadi soulmate buat ngetik fanfiksi, jadi ngetik Game Over pun feelnya beda kalo ngetik di Leo sama di Violet—efek lebih hafal sama keyboardnya Violet dan keyboardnya Violet juga lebih empuk /modus/—dan kemudian sejak kemarin sore sampe saat sekarang aku ngepost Game Over ini si Violet kena epilepsi, yang artinya dia ngedadak sering hang—tanda kalo Violet minta pensiun /NO!/—dan baru besok mau aku benerin ke temen ;~;

Dan juga, di awal aku ngepost Game Over ini di hari Jum’at dan Minggu. Jadi kedepannya Game Over bakal publish kalau nggak hari Jum’at ya hari Minggu. Dan menurut deadline yang udah aku buat dengan penuh komitmen, insya Allah akhir tahun ini Game Over bisa kelar /YEY!/ itu kalo enggak ada halangan apapun, ya.

Lalu, sesuai janji aku di level 10, level pekan ini bakal ditemenin sedikit sama Jiho dan kawan-kawan—juga lawan—yang bakal cerita sedikit tentang WorldWare itu sendiri. Selamat membaca!

p.s: aku kembali jadi anak alay yang haus perhatian ketika aku merasa kecewa karena statistik Game Over yang cukup bagus tapi jumlah komentar dan perhatian dari kalian begitu miris… kenapa… segitu sulitnya kah mengomentari permainan Jiho dkk ini? ;~;

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

38 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 11 [Stigma] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Lv. 21 [Eden’s Nirvana] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 20 [Black Radiant] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GAME OVER – Lv. 19 [White House] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: GAME OVER – Lv. 18 [WorldWare 4.2.4] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: GAME OVER – Lv. 17 [Fire on the Temple] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  6. ‘Star anda sedang kritis. Apakah anda berkenan memberikan bantuan?’ iyah, berkenan banget.

    Itu ceritanya kalo aku jadi Jiho. Tapi berhubung Jiho bukan aku, /dan beruntung banget bukan, kata Irishnim,/ makanya ceritanya jadi greget gini. Ga seru aja kan kalo Jiho langsung milih ‘Yes’ tanpa hahihu… /ceileh, ribet shann/
    Trus, aku suka cara personifikasi /itu yah, istilahnya? kalo bukan, tolong di koreksi yah, Irishnim/
    antara /aku baru ingat, Analogi, istilahnya. Yakan, kan,kan? -maksa banget-/, STAR sama NEBULA. Sweet deh.

    Fighting ya..

    Sincerely,
    Shannon

    • Dear Irishnim,
      Aihhh… untung iyah. kalo nyata yah itu… aku udah Overdose bapernya. akakakakakak…

      Ehtrus, kalo Irishnim umurnya 20, aku baru 19 loh.
      Makanya aku manggilnya ‘Irishnim’. Ada -nim-nya. hhehehe…

      Tau gak, saking addict sama nih ff, aku sempat ngarep biar bisa dipost 3 kali sehari lho./buset, ini post ff apa minum obat sih?-_-/
      Maunya yah… /dikirain gampang bikin ff/ hhehehe…

      Jadi, level 18nya bakal dipost senin depan yah?
      Ta’ tunggu ya…

      Himnebuseyo,
      *bow

      Sincerely,
      Shannon

  7. Ping balik: GAME OVER – Lv. 16 [Epic-T] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: GAME OVER – Lv. 15 [Dawn Attack] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: GAME OVER – Lv. 14 [Perfect Match] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: GAME OVER – Lv. 13 [Aftermath] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  11. Secara ya keputusan baek buat ngajak jiho jadi pendamping hidup/cieeee/ tepat. Karna jiho pasti udah di cap sebagai pengkhianat gak bakal ada player yg mihak dia. Seenggaknya itu harga yg pantas di bayar baek utk jiho.
    Ak udah baca part 12nya jadi tau apa jawaban jiho ahahahaha
    Semoga royal wedding mereka sesuai bayanganku. Amin

  12. Apa konflik sebenarnya antara papan catur-white tiger invisible black dan white lion-? Apakah para white pelaku pembullyan dalam worldware? trouble maker/?

    Waah ena kebetulan ashley masuk, jiho gajadi muka dua lagiiii~ ciee udah official partner/? tapi jiho jadi lawan temen sendiri sih… but it’s just a game. Syukurlah masih belum demo vers yg sampe bisa ngerasain sakit fisik, kalo udah waaah pasti sakit tuh rasanya ditusuk temen sendiri /jadi baper/

    ciiieeee bapper jihooo bappeerr ciee diajak hidup bersamaa, akhirnyaaaa baekhyun-jiho paired/? apa cuma yunmi yg mencium bau2 peje??

    • Mbb ya sayangs :* ini papan catur apaan banget XD kok aku malah jadi salfok sama papan catur sih ah XD wkwkwkwkwk
      jiho serasa jadi pengkhianat ya, demi cabe loh, demi cabe, padahal dia aja baru kenal sama cabe XD wkwkwkwkwkwkwkwk

  13. Ping balik: GAME OVER – Lv. 12 [His Loneliness, I Understand] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  14. sebenernya yg diajak hidup bersama itu jiho, tapi kenapa kok gua yg baper yahh :”v
    efek terlalu kerennya abang baek sihh 😂😂
    .
    ohh ya semangat buat kak irish yahh supaya cepet lanjut kkkkk 😂😂 aku padamu pokoknya kak 😘😘😂😂

  15. Lah kampret itu kata” nya si cabe diakhir bkin aku merinding bneran 😂
    Seneng sih pas jiho mau ngebuka identitasny tapi sedih juga ntar di real life ny jiho psti dpt mslh sma taehyung+ashley …
    Lanjut terus kak rish.. Fightingg!😊

  16. Entah mengapa ff dgn cast baek cabe itu buat aku terkenyot-kenyot sendiri…ini kah efek kebangsatan mu pdaku baek😂… Aku slalu tunggu ni ff mu rish, apa gak bsa tiap hari aja updatenya???

  17. Akhirnyaaaaa di post juga wkw. Itu baekhyun selalu aja cari cari kesempatan biar bisa serasa dunia milik mereka bedua\apaan si des\

  18. Aku udah coba komen 2 kali panjang kali lebar tapi ga ke kirim” -_- uhh intinya ini cerita makin seru dan baekhyun udah mulai nunjukin ke jiho kalo dia suka sama jiho.. Walaupun updatenya lama tapi aku masih setia buat nunggu bolak balik buka ini blog.. Udah gamau panjang” lagi ngenes kalo ga kekirim lagi wkwk.. Semangat lanjutnya ka jangan terlalu lama keburu berjamur akunya hehe..^^

    • Buakakakakakakk XD aku updatenya kalo enggak jumat ya minggu si Game Over ini XD biar enggak bosen kalo Jumat melulu XD wkwkwkwkwkwkwkwk thanks yaaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s