[Vignette-Series] The Wonderful “EDISI : Tugas Kelompok Matematika” — HyeKim

TW-POSTER-1

The Wonderful

EDISI : Tugas Kelompok Matematika

OC`s Kim Hyerim, OC`s Ace Wu, Kim Jongin as the main cast

Lu Han, Kris Wu, Park Chanyeol, OC`s Kim Haneul as special appearance

Story with School life, Comedy, Fluff, Friendship Slice of Life  rated by G  type in Vignette-Series.

’Kim Jongin, Kim Hyerim, Ace Wu merupakan tiga anak baru gede bin labil, yang punya geng bernamakan The Wonderful. Ketiganya anak SMA yang menetap di asrama—singkatnya boarding school. Series ini hanya seputaran kisah tak berfaedah ketiganya. Dari Jongin yang putus-nyambung sama Haneul, pacarnya. Hyerim yang kakak-adek zone sama Luhan, salah satu Kakak OSIS. Ace yang diem-diem pacaran sama Chanyeol, saingan kakak sulungnya. Seputaran asam-manis anak remaja`

Disclaimer : This is a work of fiction. Any similarity of plot, character, location are just accidentally. Some of this story is slice of my life with my squads. This contain is not meaning for aggravate one of character/organization. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Plagiarism, copy-paste without permission, and be a silent readers  are prohibited. Leave this story if you don’t like it.


”Ini tugas, kapan beresnya?”


© 2017 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Katanya sih mau belajar kelompok. Eh sampai siang bolong juga, dua ekor temannya belum nampakin batang hidung. Kim Hyerim, namanya, yang lagi menunggu dua ekor temannya yang enggak tahu ke mana saat ini. Jengah, bosan, kepanasan. Itu yang menimpa cewek ayu satu ini.

Kebanyakan anak murid boarding school sekolahnya di siang tepat hari Jumat begini, udah menyepi ke kamar atau hang out sampai batas waktu gerbang terakhir dibuka karena pengajaran hanya sebentar di hari Jumat. Hyerim juga maunya gitu, tapi karena Guru Jeon—guru matematika super baik, ups, maksudnya guru matematika se-killer sepanjang sejarah, memberi tugas kelompok. Hyerim harus, mau tidak mau, mengerjakannya. Apesnya, dia malah sekelompok sama sohib deketnya. Kim Jongin dan Ace Wu. Harusnya sih seneng, tapi yang ada Hyerim bete sebab dua ekor karibnya itu punya otak yang enggak bener—walau kalau masalah matematika, Ace juaranya.

“Hyerim!”

Nah, baru muncul. Hyerim menatap Ace yang barusan memanggilnya lagi berjalan ke arahnya sambil lambai-lambai berserta cengiran menghiasi, dengan tatapan tajam. Di belakang Ace, bukannya Jongin yang mengekori, tapinya Park Chanyeol—salah satu anggota klub basket dan pacarnya Ace. Maka dari itu, Hyerim memutar bola mata jengah.

“Jongin mana?” ketus Hyerim dengan wajah menekuk habis-habisan, saat Ace dan Chanyeol sudah ada di depannya.

Kedikan menjadi jawaban, “Enggak tahu. Paling sama Haneul.” Ace menjawab dengan muka tak acuh. By the way, Haneul alias Kim Haneul itu pacarnya Jongin.

“Dih, malah pacaran. Bukannya ngerjain tugas kelompok,” nyinyir Hyerim, kelewat sebal. Udah disuruh nunggu, eh temen-temennya yang mentang-mentang taken, malahan ngaret dan malah satu ekor gak muncul.

“Mereka bukan pacaran, Hyer,” Chanyeol menyahut membuat Hyerim menatapnya dengan alis naik turun minta penjelasan. Dengan lagak sok tak acuh, Chanyeol menyambung. “Mereka lagi debat di taman belakang sekolah. Biasa, Haneul cemburu, Jongin harus sekolompok sama kalian berdua lagi buat tugas kelompok.”

O, udah ketebak. Fyi, Haneul emang cemburuan, sekali malah. Dikit-dikit cemburu, dikit-dikit ngambek, sekalian aja dikit-dikit mules minta buang air besar. Terlihat Ace memasang wajah tidak suka setelah sebelumnya mendecih dan melipat tangan.

“Cemburu tanda sayang. Cemburu tanda suka. Tapi tidak usah segitunya juga. Lagian aku dan Hyerim bersama Jongin hanya satuan The Wonderful doang.” kata Ace seraya menyebut nama gengnya bareng Jongin dan Hyerim—The Wonderful.

“Ya, lagian, ‘kan kalian udah pada taken,” respon Chanyeol lalu melirik Hyerim dengan senyum mengolok. “Kecuali Hyerim, yang digantungin.”

Langsung saja ucapannya diberi pukulan di lengan cukup keras—bukan cukup lagi, tapi emang keras, dari Hyerim. Chanyeol mengaduh sambil mengelus lengan.

“Sudah, sudah,” tangan Hyerim terkibas-kibas, “ayo kita kerjain tugasnya di perpustakaan.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Sayang, fotoin aku dulu,” vokal Chanyeol mengusik Hyerim dan Ace yang tengah berkulat dengan tugas matematikanya.

Atensi Si Gadis Wu blasteran Korea-China-Kanada itu, teralih ke Chanyeol. Senantiasa mengambil ponsel kekasihnya lalu membidik kamera. Dengan cengiran bodoh, tangan Chanyeol membentuk v sign dengan background jendela perpustakaan.

Sebab berkali-kali diusik, Hyerim menggertakan giginya jengkel dengan memegang erat pulpen di tangan kanannya hingga kuku-kukunya memutih, saking kerasnya.

“Bagus, gak?” Ace bertanya seraya melihati hasil foto Chanyeol yang ia fotoi.

Pacarnya itu menilik gambarnya yang disodorkan Ace, kemudian menggeleng. “Ulangi, ulangi. Cengiranku kelebaran.”

Pemuda Park itu mulai mengatur wajah dan posisi. Ace hanya nurut dan mulai membidik kamera lagi.

“Satu, dua, tiga. Senyum!” aba-aba Si Gadis diiringi ‘cklek’-nya bunyi kamera ponsel. Setelahnya menyodorkan lagi ponsel dengan hasil gambar Chanyeol itu pada Si Pemuda. “Gimana? Sudah puas?”

Chanyeol memperhatikan, lantas menggeleng. Di tempatnya, Hyerim sudah gemas setengah mati menahan diri tidak menendang tulang kering Chanyeol. Nyatanya, Ace juga sama-sama jengah dan bertanya.

“Kau mau foto yang seperti apa, sih?”

Membuat Chanyeol menatapnya dengan cengiran, “Foto berdua denganmu, boleh?”

Alis Ace berjungkit, “Asal jangan disebar ke sosial media. Nanti Kak Kris tahu.” peringat Sang Gadis.

Mengingat dirinya backstreet dengan Chanyeol—hanya Jongin dan Hyerim saja yang tahu hubungan keduanya. Sebab, Park Chanyeol itu saingan kakak sulungnya Ace, Kris Wu—Sang Kapten Basket. Jadilah hubungan keduanya tidak direstui Kris. Anggukan terjawab dari Chanyeol, lekas dia pun menggeser diri mendekat ke Ace. Lantas keduanya mulai tersenyum dengan kamera depan ponsel diarahkan lengan kanan Chanyeol dan lengan kirinya merangkul Ace.

Menjadi pengamat yang kelewat jengkel, Kim Hyerim mendengus dan bergumam. “Sialan mereka. Di sini, ‘kan buat ngerjain tugas. Bukannya membuatku menjadi nyamuk disaat mereka pacaran.”

Lantas gadis Kim ini meronggoh ponsel dengan bibir mencebik, jarinya menari tak santai di atas layar sentuhnya. “Lihat saja. Kalian berdua kena batunya.” gerutu Hyerim terselubung hasrat dendam yang besar.

Pasangan Park Chanyeol dan Ace Wu malahaan bermesraan dengan berselfie ria dan berbagi earphone, bahkan membaca buku novel romansa bersama. Ace lupa akan tugas kelompoknya. Lagian, Hyerim juga anteng aja mainin ponselnya tapi dengan wajah penuh kepicikan.

Tahu-tahu, terdengar suara langkah tungkai lebar-lebar terkerubungi marah. Kim Hyerim sudah tahu oknumnya, dia tersenyum licik dan mengangkat kepala. Nah, itu dia orang yang tadi dia kirimi pesan untuk ke sini.

“ACE WU! KAU NGAPAIN DENGAN CHANYEOL?!” gelegar pria yang baru datang tersebut saat menerima Line dari Hyerim.

Ace dan Chanyeol tersentak dan dengan takut-takut menatap Kris yang baru hadir dengan wajah merah padam. Hyerim, selaku pelapor kedua insan itu lagi enjoy-enjoyan di perpustaan, hanya tersenyum miring.

“Kak… Kr—” gugup dan belum menyapai klimaks ucapannya, Ace main ditarik Kris untuk berdiri. Sang Kakak masih merah padam aja wajahnya.

“Sudah dibilang jangan main dengannya! Sekarang, ikut kakak!” seru Kris, intonasinya agak diturunkan mengingat keempatnya bersinggah di perpustakaan. Lalu dirinya melirik Chanyeol yang gemetaran di tempat. “Jangan dekati adekku, caplang! Awas sampai kalian pacaran!”

Akhirnya, Ace digeret oleh Kris. Chanyeol yang gemetar pun memilih angkat kaki setelah itu.  Lantas Kim Hyerim sendiri, menatap tugasnya lalu mendesah keras.

“Dikumpulkan Senin. Sisa waktu dua hari lagi dengan sisa soal dua puluh. Masih bisa dikerjakan Sabtu. Jongin bisa ikut andil juga.” Kim Hyerim menggumam demikian, menandakan dirinya mulai membereskan barang serta berniat ke kamar asramanya buat mandi dan bersantai.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Bukan, ih! Bukan yang itu rumusnya!”

Esoknya, sesuai rencana Hyerim, mereka bertiga—The Wonderful dengan anggota komplit, mengerjakan tugas kelompok di kamar asramanya Hyerim dan Ace—yang omong-omong sepasang roommate. Dengan duduk bersila membentuk lingkaran di atas karpet di tengah kamar, ketiganya heboh ngerjain tugas.

Ace, yang ditentang Jongin barusan, memberikan lirikan tajam kepada pria itu. “Ini rumus yang benar, tolol!” ngotot Ace dengan mata melotot kesal.

Jongin pun balas menatapnya sama-sama kesal, lalu menunjuk-nunjuk buku menggunakan pulpen dengan nafsunya. “Kau punya mata, tidak? Baca yang benar! Rumusmu salah, tolol!” kelekit Si Pemuda Kim.

Mata Ace membaca yang ditunjuk Jongin, detik berikut kepalanya ia telengkan. “Hah? Rumusku tidak seperti ini. Kak Kris tidak mengajariku begini.”

“Lalu, rumusmu yang bagaimana?” tanya Jongin mulai menurunkan oktaf suaranya lebih melunak. Lelah juga debat dengan Ace.

Di antara keduanya, Hyerim yang duduk di sebelah Ace, memijit pelipis pening dengan mata terpejam. Padahal tadi, dia bertanya simple perihal nomor 39 yang tidak ia pahami—mengingat kurangnya Hyerim dipelajaran hitung-hitungan. Eh, tapinya, itu malah menyebabkan perang saudara antara Ace dan Jongin. Itulah salah satu sebab Hyerim malas sekelompok dengan keduanya.

Ace pun sedang menulis rumus yang diajarkan Kris yang satu tingkat di atas ketiganya. Setelah beres, didorong lah kertas berisi rumus dan cara pengerjaannya kepada Jongin. Jongin meniliknya dengan serius seraya memiringkan kepalanya.

“Bodoh!” semprot pria Kim ini, sekon berikut melayang pandang tajam ke Ace yang melipat tangan di dada saat Jongin mengatainya bodoh. “Ini sama saja seperti yang di buku. Hanya dipersingkat!”

Lekas, Ace Wu menatap bergilir buku matematika dan rumus pengerjaan miliknya, dengan dahi berkerut dalam. Yang bisu, Hyerim, mulai menatap datar mereka berdua.

“Ya, tapi—”

“—Sudah, stop! Lanjutkan tugas kita,” potong Hyerim dengan tangan terjulur ke depan dengan telapak terbuka.

Sudah kepalang pusing lah dirinya dengan debat hal remeh-temeh, timing pengerjaaan tugas, ‘kan jadi tersita. Ace dan Jongin tentunya menurut dan mulai mengerjakan tugas lagi lebih tenang. Bergulir waktu bergulir, sisa lima belas soal lagi lah ketiganya. Namun ditengah khidmatnya mengerjakan, ponsel milik Jongin malahan berbunyi.

“Sebentar,” ucap Si Pria, dirinya menaruh pulpen dan menegakan badan yang membungkuk lantaran menulis, lantas mengambil ponsel di sakunya.

Jongin menghela napas lalu menjawab panggilan. “Ya, sayang?”

Sudah ditebak, Haneul yang pastinya menelepon. Diam-diam, Hyerim dan Ace mencuri pandang ke Jongin yang wajahnya memelas habis-habisan.

“Kencan kita tidak jadi hari ini?” di ujung telepon, Haneul menyemprot habis-habisan Jongin. “Katanya tugas kelompokmu sudah beres kemarin. Makanya bisa kencan sekarang. Jangan bilang kau sedang bersama Hyerim dan Ace!”

Berasa ditampar karena benar, Jongin melirik sekilas Hyerim dan Ace. Well, setelah berdebat dengan kecemburuan Haneul kemarin, dia kira tugas kelompok sudah dibereskan oleh Hyerim dan Ace. Makanya dirinya berjanji akan ngedate hari ini bersama Haneul agar pacarnya mau rujuk dengannya. Nyatanya, anggan semata saat Hyerim dengan capslock mengirim Line untuk tugas mereka hari ini. Ingin bilang ke Haneul, tapi takut pacarnya ngambek.

“Ya! Kim Jongin,” karena tak ada jawaban, Haneul memanggil menyebabkan Jongin menggigit bibir bawah dan menatap bersalah Hyerim dan Ace.

Tahu arti tatapan Jongin. Hyerim mendesah keras dan lesu, pun Ace hanya memandang datar Jongin.

“Iya, maaf aku kesiangan. Aku ke sana sekarang.” Jongin membereskan peralatannya buru-buru dan beranjak.

“Hei, Kim Jongin!” pekik Hyerim tertahan dengan mata melebar horror.

Sebuah tatapan memohon diberikan Jongin dengan merapal kata maaf tanpa suara, dirinya pun langsung memutar badan dan pergi. Melongo sudah Kim Hyerim dan Ace Wu melihatnya.

“Hah, ya Tuhan. Lelaki itu.” desah Hyerim tak habis pikir disertai gelengan. Matanya masih tertuju pada daun pintu—di mana punggung Jongin terakhir terlihat.

Ace sendiri malas berkomentar dan melirik arlojinya. Sehabisnya, menatap samping wajah Hyerim ragu-ragu dengan gigitan di bawah ranumnya.

“Hyer,” Hyerim menatapnya dengan alis terangkat. “Maaf. Aku juga harus kencan dengan Chanyeol. Malam Minggu, ingat?”

Ace menggaruk tengkuknya tak enak. Sedang, Hyerim menganga. Ya Tuhan, sial sekali Kim Hyerim. Jomblo sendiri di gengnya membuatnya kelihatan miris dengan tidak diajak malam mingguan. Sebab tidak disahut, Ace menarik lengan Hyerim dengan wajah memohon. Si Gadis Kim pun hanya menatapnya kosong.

Please, tugasnya Senin, ‘kan? Aku sudah janji dengan Chanyeol. Lagipula kau kemarin mengadu pada kakakku karena kesal dikacangi. Jadi, jangan ganggu waktu kita berdua lagi. Dengan begini, aku dan Chanyeol akan memaafkanmu perihal kemarin.” Ace mengganti wajah sok-sokan merengut kesal.

Disinggung pengaduan dan rasa kesalnya kemarin, Hyerim menghela napas. Terbesit rasa bersalah sih omong-omong meski jengkel dikacangi. Untungnya Ace dan Chanyeol tidak ketahuan pacaran sama Kris. Finalnya, Hyerim mengangguk. Ace pun mengembang senyum.

“Ah, terima kasih Hyerim,” riang gadis Wu ini yang refleks memeluk erat Hyerim dan hanya diberi tepukan singkat di lengan oleh dara marga Kim itu.

Ace melepas pelukan, masih dengan kembang kurva lebarnya. “Aku akan membalasnya lain waktu! Kak Kris juga salah satu pengurus OSIS. Aku bantu kau ngedate dengan Kak Luhan nanti!”

Sontak pipi Hyerim merona otomatis disinggung gebetannya, Luhan—pengurus atau Ketua OSIS SMA Yeonseo. Disarangkan sebuah pukulan ringan dengan gaya malunya pada Ace.

“Sudah, sudah. Sana pergi. Nanti Chanyeol karatan menunggumu.” usir halus Hyerim dengan mengibaskan tangannya.

Sebuah cengiran ditampilkan Ace lalu mencium pipi Hyerim, membuat sahabatnya itu menatapnya jijik. Berikutnya, gadis blasteran itu mendandani singkat dirinya dan beranjak menemui Chanyeol.

Sepeninggalan kedua karibnya. Lagi-lagi, Kim Hyerim sendiri. Dirinya menghela napas dan menatapi sisa soal yang tinggal lima belas lagi.

”Ini tugas, kapan beresnya?” gumam dara Kim ini, miris dengan tatapan lesu pada tugasnya. Detik berikut setelah menepuk-nepuk pipi, Hyerim mengambil pulpennya lagi. “Sudahlah, kubereskan. Walau diriku loading lama masalah hitung-hitungan, tapi lebih baik tidak menunda-nunda sesuatu, bukan?”

Dengan gontainya lah, Kim Hyerim mulai mengerjakan sisa tugas kelompoknya sendiri.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Timing nan tertera sudah jam enam. Hyerim menggeliat dengan posisi tertidur di karpet tengah kamar. Kesadarannya masih sekian persen saat menyadari dirinya ketiduran tatkala mengerjakan soal sendiri. Matanya membelalak melihat jam dinding lalu mendesah seraya mendudukan diri di atas karpet.

“Ishh, niat membereskannya malah ketiduran,” gerutu Hyerim yang menatap lesu tugasnya yang baru terkerjakan tiga soal dari lima belas.

Pekara awalnya karena Hyerim stuck di nomor berikutnya. Ia kurang paham meski sudah baca berkali-kali dan mengingat ajaran Guru Jeon. Jadilah dirinya rehat sejenak yang malahan fatal ketiduran.

“Ah sudah,” tubuhnya diiring berdiri serta matanya tertancap ke pintu kamar. “lebih baik refreshing dulu di teras depan kamar.” putus Hyerim kemudian.

Gadis bernama Kim Hyerim ini mengayunkan tungkai ke luar kamarnya bersama Ace. Langit sudah menggelap, dia pun memasukan pasokan oksigen ke dada lantas menghembuskannya. Setiap kamar asrama memang memiliki teras dengan pemandangan ke luar dari pembatas balkon setiap lantai bangunan. Hyerim yang merasakan kekakuan disekujur tubuh, mulai melakukan pengerangan singkat.

Di masa Sang Dara Kim tengah merenggangkan badan, di ujung koridor lantai dua ini, muncul figur lelaki yang berjalan ke arahnya. Sontak lelaki ini mempause langkah dahulu ketika melihat Hyerim yang baru selesai perenggangan dan menatapi langit malam dari teras kamarnya.

“Eh, itu Hyerim,” gumam Si Lelaki—Luhan, yang kemudian tersenyum dan melirik dua cup kopi yang dia beli di mini market barusan. Detik berikut, tatapannya jatuh lagi pada Hyerim. “Benar, kata Ace. Hyerim sedang sendiri.”

Start rajutan langkah Luhan terurai mendekati Hyerim. Sementara gadis itu sedang sibuk menatap langit malam. Dikala udah mendekati posisi Hyerim, Luhan mulai mengimbuhkan namanya.

“Hyerim-ah,” kepala Hyerim berbelok ke arahnya, matanya membelalak. Luhan mengusahkan senyum terbaik serta termanisnya.

Manik Hyerim mengerjap-ngerjap dengan wajah kaget. “Kak.. Luhan?” mendadak jantungnya berdegup gila-gilaan disertai Luhan sah berpijak di depannya, masih menyungging senyum. “Kenapa Kakak di si—”

“—Aku tanya Jongin via Line, kau di mana. Katanya kau bersama dengan Ace di asrama. Lalu saat aku hubungi Ace, katanya kau sendirian. Jadi, aku ke sini, menemani adik kelas kesayanganku.”

Pipi Hyerim mendadak panas. Buru-buru dia menutupi dengan menunduk, diam-diam juga senyum gembiranya terkulum.

“Oh, ya. Kau sedang apa sendirian di sini?” vokal Luhan pecah lagi. Kepala Hyerim terangkat, niat menjawab tapi tertunda sebab Luhan menyerongkan satu cup kopi bawaannya kepada Hyerim, dengan senyum hangatnya. “Buatmu, ngomong-ngomong. Your favourite, coffe latte.

Lengan Hyerim terjulur menerimanya dan bersua, “Terima kasih, Kak.” lantas meminumnya dulu sedikit dan menatap Luhan tuk menjawab pertanyaan kakak kelasnya barusan. “Kita sedang mengerjakan tugas. Tapi Ace dan Jongin malahan ngedate. Mentang-mengang punya pacar.”

Bibir Hyerim mengerucut. Yang mana hal itu menggemaskan di mata Luhan yang lagi menyesap kopinya. Makanya, Luhan mencubit gemas pipi kanan Hyerim.

“Eiy, jangan begitu dong bibirnya. Kau lucu, tahu!” gemas Luhan dengan kekehannya menarik-narik pipi Hyerim yang memasang wajah kesakitan.

“Aaa… Kak, lepasin, dong! Sakit!” ranum Hyerim kian mengerucut, kian saja Luhan juga mencubit gemas dirinya.

“Kau lucu, Hyer. Adikku, sih.” Luhan berkata dan menyudahi cubitannya, tergantikan elusan lembut di puncuk kepala Hyerim.

Walau disinggung status adik-kakakannya lagi, Hyerim merona juga dielus begini oleh Luhan.

“Oh, ya. Tugasmu mau kubantu tidak? Kau, ‘kan kurang masalah hitung-hitungan.” tawar Luhan setelah menarik tangannya dari puncuk Hyerim.

Dwimaniknya mengerjap dulu dengan wajah dungu. Sebelum akhirnya ingin sekali loncat-loncat tak karuan.

“Kak Luhan ingin membantu tugasku sekarang?” konfrimasi Hyerim segera disambut anggukan Luhan.

Obsidiannya lekas berbinar. Malam Minggu bersama orang yang disukai? Surga duniawi, kawan! Hyerim mulai semangat, jadinya dia menarik tangan Luhan untuk masuk kamarnya.

“Ayo masuk kalau begitu! Hanya sisa dua belas nomor lagi, kok!”

Melihat super antusiasnya Hyerim, Luhan mengulum senyum kecil memperhatikan punggung Si Gadis yang menariknya masuk ke kamar. Malam itu, bersama Luhan, Hyerim pun menikmati mengerjakan tugas bersama. Setelahnya mereka mengobrol dan bercanda di teras.

♫  

The Wonderful (3 Members)

Kim Hyerim :

Untuk @Ace Wu. Jangan pulang cepat, ya. Aku sedang bersama Luhan. Dan untuk kalian berdua, termasuk @Jongin Kim. Tugas kita sudah selesai. Aku juga malam mingguan kok walau di teras asrama :p

[20.45 — Read by 2]

—FIN.

Hai /digampar/ setelah lalai dengan beberapa fic, aku malahan ngeluncurin ini /dasar emang/ seperti kataku didisclaimer. Fic ini inspirasi dari kisah nyataku, sedikit sih. Jadi karena aku anak Indo yang tinggal di Spanyol cuman 2 tahun butuh asupan sekolah Indo, aku pun sekolah Indo via skype yang muridnya anak-anak Indo yang tinggal di Eropa. Singkatnya, bukan mo pamer, aku di sekolah ini ketemu dua ekor /anjir ekor, orang keleus/ berbeda kelamin yang akhirnya jadi sohib deket aku BUAKAKAKAK. The Wonderful sendiri adalah perwujudan squadku di dunia fiksi. Hyerim seakan nyeritain aku (makanya di sini lebih fokus ke dia). Ace nyeritain sahabat cewekku yang tinggal di Jerman. Jongin nyeritain sahabat cowokku yang tinggal di Itali. Nama squad kita gak sebeken di fic ini TROLOL. Btw, squad unfaedah ane bersama temen ane ini sudah berumur 17 bulan lamanya buakakakak.

Dari sekian bacot. Maafkan kegaringan di fic ini. Insya Allah akan ada series tak faedah dari The Wonderful. Jangan lupa komennya mumumu ❤

WARNING : RAWAN TYPO DENGAN SISTEM KEBUT SEMALAM.

Luv,

HyeKim ❤

HyeKim Teatro!

[www.hyekim16world.wordpress.com]

Iklan

6 pemikiran pada “[Vignette-Series] The Wonderful “EDISI : Tugas Kelompok Matematika” — HyeKim

  1. Ngakakk… receh uyy recehhh 😂😂 demi apa haneul serem amat, sumpah 😂 sampe si Jongin bisa kek gitu banget lolololll😂😂 itu si hyer bisa kesemsem ughaa wkwkwk 😂 kudo’ain ente cepet nyusul hyer v: taken sama luhenn😂😂 kaga kakak adik zone muluuu kan capekk sakitt tekanan lahir batinn :”v /apaan/

  2. kkkkkk….
    Like it Els…
    jadi gemes deh sama mereka. dan plis LuHan, haruskah bikin baper anak orang? kkkkk

    di tunggu next series.. himneyo
    *bow

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s