EXCEPTION – 2nd — IRISH’s Tale

EXCEPTION

|   starring by EXO`s Chanyeol; Sehun; Baekhyun with OC`s Sarang   |

supported by Hello Venus & Lovelyz Members  |

|  AU x Fantasy x Melodrama x Romance  |  Chapterred  |  PG-17  |

—  exception:time passes—love changes

[ 2nd Story of Evening Sky © 2016 ]

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

dedicated for un-real-like fantasy

Previous Story: PrologueChapter 1

♫ ♪ ♫ ♪

In Sarang’s Eyes…

“Lihat saja, nantinya, kau dan yang lain yang datang ke tempat ini juga akan jadi peralihan seperti mereka.”

Aku terkesiap mendengar ucapan gadis yang ada di hadapanku sekarang. Apa maksudnya? Mengapa kami semua bisa berubah menjadi peralihan? Apa yang akan berubah dari kami? Sikap? Atau sifat? Mengapa keduanya terdengar mengerikan dalam pikiranku?

“Aku tidak mau… Mereka kejam, mereka menggunakan kekuatan mereka untuk menyiksa orang lain, kurasa, mati sebagai manusia akan jadi pilihan yang lebih baik,” kataku.

Gadis itu memandangku ketika akhirnya ia dengar aku bersuara.

“Siapa namamu?” tanyanya membuatku mendongak, menyadarkan diri dari delusi yang beberapa saat lalu mendominasi pikiranku.

“Sarang.” jawabku akhirnya.

“Namamu cantik, dan unik,” ia berkata, “nama yang benar-benar cocok untukmu.” sambungnya membuatku menyernyit tidak mengerti.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Di antara ratusan manusia dan bangsa peralihan di sini, ada satu orang yang tak berpikir bahwa kami adalah makhluk yang harus dimusnahkan, yaitu kau. Kau… tidak berusaha mencari informasi apapun dari kami, tidak berusaha menyakiti kami, kau menolong kami, seperti yang bulan lakukan pada kami di luar sana. Kau masih punya hati dan perasaan kasihan, tidak seperti mereka.” Ucap gadis itu menjelaskan.

“Aku hanya merasa tidak adil jika kalian diperlakukan seperti ini.” tuturku.

“Kau tidak seharusnya ada di sini bersama mereka, Sarang.” kata gadis itu membuatku teringat pada Chanyeol, Jin, dan mereka yang lain yang pernah mengatakan hal itu padaku.

Aku terdiam. Pikiranku melayang pada kebebasan sekarang. Aku tidak ingin berada di sini. Aku tidak pergi dari satu neraka untuk masuk ke neraka lainnya yang diciptakan bangsaku untuk menyakiti makhluk lain.

Tapi itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin membiarkan mereka bertindak semaunya sementara aku terbebas di luar sana tanpa tahu peperangan apa yang sedang terjadi.

“Setidaknya, kupikir harus ada satu orang baik di tengah mereka yang jahat.” kataku.

“Apa?” gadis itu menatapku dengan alis berkerut bingung.

“Jika aku tidak di sini, siapa yang akan menolong kalian? Meskipun aku tidak bisa berbuat banyak, tapi aku setidaknya bisa memberi pertolongan kecil, seperti sekarang misalnya. Bukankah… aku seharusnya membuat perang ini jadi adil bagi kalian?”

Gadis di hadapanku terdiam sejenak.

“Benar, harus ada satu orang sepertimu di sini, sehingga kami tidak berpikir kalau semua manusia pantas untuk kami lawan dan kami hancurkan, seperti yang mereka lakukan pada kami.” ucapnya.

“Kupikir kau tidak pantas untuk ada di sini.” vokal pemuda dingin yang ada di ruangan ini terdengar. Kali ini, aku tidak mendengar nada dingin yang biasanya ia gunakan saat bicara padaku.

“Jika aku tidak di sini, dimana aku seharusnya berada?” tanyaku sambil diam-diam merenung. Tidak ada tempat yang cukup pantas bagiku, aku bahkan tidak bisa memihak siapapun dalam peperangan ini. Bagaimana aku bisa menemukan tempat yang pantas buatku sendiri?

“Bersama dengan kami.” gadis di depanku berkata.

Aku menatapnya tak mengerti. Mengapa? Mengapa seorang vampire sepertinya berkata begitu? Mengapa ia mengatakan hal yang sama dengan Jin, Chanyeol, dan mereka yang dulu kukenal?

“Aku pikir dunia ini sudah berubah. Manusia tidak lagi jadi makhluk yang berperasaan seperti dulu, sementara kami—para vampire—tetap tidak ingin melukai mereka. Aku pikir, kau akan lebih cocok jika hidup bersama dengan kami.” gadis itu menjelaskan.

“Seandainya bisa semudah itu, aku akan sangat merasa lega. Tapi, aku seorang manusia, dan mereka… seburuk apapun mereka, mereka adalah bangsaku. Aku tidak bisa meninggalkan mereka saat aku tahu kalau mereka tengah berusaha melenyapkan kalian.

“Aku sudah katakan padamu, bukan? Seseorang sepertiku harus ada di tengah-tengah manusia, untuk menolong kalian. Jika aku bersama dengan kalian, aku tidak akan hidup dengan perasaan lebih baik dari sekarang.

“Aku senang begini, keadaan mengerikan ini entah mengapa di satu sisi membuatku merasa senang. Saat aku harus mengendap-endap menemui vampire dan menolong mereka, aku merasa senang karena hal itu.”

Keheningan sejenak mendominasi. Aku sendiri telah kehabisan kata, meskipun dalam benakku ada ratusan kata yang ingin keluar dan kujelaskan pada mereka. Tentang apa yang membuatku ingin bertindak seperti ini, dan yang lainnya.

Tapi aku tidak bisa, mereka yang di sini, belum memercayaiku. Dan aku tak bisa memaksakan semua kisahku untuk mereka dengar dan percaya. Semuanya butuh waktu, dan mereka juga butuh waktu untuk benar-benar menaruh kepercayaan padaku.

“Omong-omong, siapa namamu?” aku akhirnya bertanya pada gadis yang sejak tadi kuajak bicara tapi tak jua kukenal.

“Kei.” jawabnya.

Aku tersenyum simpul, mengulurkan satu kantong darah terakhir yang belum ia minum.

“Kau harus bertahan, jika kau ingin keluar dari sini.” aku berkata.

Kei, akhirnya menerima kantong darah tersebut dengan sebuah senyum di wajahnya.

“Terima kasih, Sarang-ah.” ucapnya lembut sambil menyesap darah tersebut dengan cepat.

Aku mengangguk dan tersenyum. Tidak lama, ia mengulurkan kantong darah yang sudah kosong padaku, membuatku segera menyembunyikannya di saku pakaianku.

“Sebaiknya kau kembali, orang itu mencarimu.” kata Kei kemudian.

“Sehun? Darimana kau tahu?” tanyaku terkejut.

“Aku bisa membaca pikirannya.”

Ah, dia seorang vampire yang bisa membaca pikiran juga?

“Kau membuatku teringat pada seorang vampire yang juga bisa membaca pikiran.” aku berucap, tanpa sadar tersenyum saat teringat sosok yang sedang kubicarakan.

“Siapa?” tanya Kei sambil memandangku.

“Jin,” jawabku.

“Kau… mengenalnya?” Kei terlihat terkejut.

Aku mengangguk. “Dia salah satu dari beberapa vampire yang kemampuannya luar biasa bagiku. Aku juga kenal beberapa vampire lainnya.”

“Siapa lagi yang kau kenal?” tanya Kei.

“Hmm, ada Mijoo, dia bisa menghancurkan puluhan kunci dalam hitungan detik. Lalu… Jisoo yang bisa melihat dan mengubah masa depan.” aku menjelaskan sambil bangkit dari tempat dudukku, hendak beranjak meninggalkan Kei.

“Kau… mengenal keluargaku.” ucapan lirih Kei membuatku terhenti, niatku untuk keluar dari jeruji yang mengurung Kei langsng sirna.

“Mereka keluargamu?” tanyaku—oh, yang benar saja. Pastinya mereka semua keluarga, bukan?

Kei mengangguk. “Kami terpisah saat sebuah perang terjadi. Aku terkurung di sini, dan tidak lagi bisa mengontak mereka. Seberapa banyak kau mengenal mereka, Sarang?”

Kini, aku menyandarkan tubuhku di jeruji, menyadari jika vampire lain yang ada di penjara ini hanya jadi pendengar ceritaku, tanpa ada keinginan untuk terlibat dalam pembicaraan yang ada.

Mereka belum percaya padaku, bukankah begitu? Menceritakan tentang keluarga mereka mungkin akan membangun kepercayaan kecil itu.

“Banyak, mereka banyak memberitahuku tentang kehidupan kalian. Asal usul kalian, cara kalian berkeluarga, lalu kisah saat vampire dulu masih berusaha bertahan di antara banyak manusia. Mereka menceritakan kisah yang terjadi ratusan tahun lalu, dan itu selalu menjadi hiburan bagiku.”

“Mereka cerita padamu tentang semua itu?” Kei menatapku tak percaya.

Aku mengangguk.

“Di sana, mereka percaya padaku. Setidaknya, aku dan beberapa manusia lainnya di sana tidak berpikir kalau kalian pantas untuk diperlakukan sebagai monster, atau tawanan. Mereka menceritakannya padaku sebagai sebuah rahasia, jadi… sampai sekarang pun, aku tidak pernah membagi cerita apapun dengan orang lain.

“Bagi bangsaku, kedekatanku dengan vampire di sana mereka anggap sebagai cara vampire ‘mempengaruhiku’, begitu anggapan bangsaku.”

“Bagaimana bisa keluargaku percaya padamu?” tanya seorang pemuda, lagi-lagi pemuda itu.

“Aku juga tidak tahu, setiap mereka bercerita, aku akan mendengarkannya. Dan saat aku bertanya, mereka akan menjawabnya.” kataku, memang itulah yang terjadi selama ini.

“Aku sudah tahu, kau pasti berbeda dari manusia yang lain, Sarang.” Kei berucap.

“Terima kasih,” ucapku.

“Keluargaku, mereka selamat ‘kan?” tanya Kei.

Aku mengangguk. “Tentu saja, mereka semua selamat. Tempat yang dulu digunakan untuk mengurung mereka juga sudah hancur.” kataku, akulah oknum yang membebaskan mereka.

“Benarkah kau yang membebaskan mereka?”

“Apa?” aku terkesiap.

“Aku mendengarmu Sarang, benarkah itu? Kau yang membebaskan keluargaku?”

Ah, bodohnya aku. Tentu saja Kei bisa mendengar apa yang kupikirkan sejak tadi. Bagaimana aku bisa dengan lantang mengutarakan hal semacam itu di pikiranku?

“Ya, kupikir aku sudah menjelaskan tentang posisiku di tengah peperangan ini, bukan?” vampire lainnya di sini tidak akan menganggap ucapanku sekarang sebagai kebohongan, bukan?

Gomawo Sarang, walaupun aku belum tahu mengapa kau menyelamatkan kami, aku sangat bersyukur karena keluargaku selamat.”

Bisakah aku mengira, kalau Kei sekarang percaya padaku?

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku mulai bisa bicara dengan mereka. Vampire-vampire itu, aku sudah hafal nama mereka. Ada seorang vampire dengan senyum yang sangat manis, namanya Jongdae. Lalu yang kuajak bicara, namanya Xiumin. Oh, yang dulu melarang Jongdae untuk memberitahuku namanya, itu Yixing.

Mereka berbeda dengan vampire yang dulu kurawat di Gedung Penyembuhan. Mereka lebih pendiam. Mereka tidak akan bicara jika aku tidak mulai bicara. Dan kurasa, mereka menjaga arah pembicaraan. Mereka tidak ingin memberitahuku hal-hal penting di kehidupan mereka.

Kurasa mereka masih mengira bahwa aku adalah satu di antara mereka yang ingin membunuh bangsa vampire. Kupahami itu, karena aku seorang manusia. Bagaimana pun, aku musuh mereka dalam perang ini bukan?

Dan di hari ke sepuluh kedekatanku dengan mereka, aku kehabisan persediaan darah yang kucuri. Selama beberapa hari ini, alasanku secara diam-diam mengunjungi mereka adalah karena aku bilang bahwa aku ingin memberi mereka darah.

Dan tanpa darah itu, aku tidak akan bisa bebas menemui mereka.

“Kau melamun?” tanya Sehun sambil menyenggol bahuku pelan.

“Tidak,” kataku sambil membolak-balik buku tua yang ada di depanku.

“Sedari tadi kau tidak membaca.” sindir Sehun.

“Aku membaca.”

“Kau dari tadi hanya membolak-balik buku itu Sarang.” kudengar tawa pelan Sehun saat aku akhirnya menyadari kalau Sehun memperhatikan tindakanku.

“Aku hanya bosan.” kataku akhirnya.

Sehun menyikutku pelan sambil terkekeh. Seolah berkata kalau dia sudah menduga dengan benar tentangku. Herannya, tidak ada rasa sakit apapun di leherku, tidak seperti waktu itu. Mungkinkah Chanyeol sudah menghilangkan tandanya padaku? Aku tidak bisa memastikannya, karena di gedung ini tidak ada cermin sama sekali.

“Mau berjalan-jalan di luar?” tanya Sehun membuatku menatapnya tak percaya.

“Bisakah?”

“Tentu saja Sarang, ini masih siang hari, kajja.” ia menarik lenganku untuk berjalan bersamanya.

Sehun menyampirkan senapan di bahunya—aku tidak suka melihat senapan itu di sana, tapi aku juga tidak bisa menyuruhnya untuk tidak membawa benda itu.

“Kita akan kemana?” tanyaku.

“Hanya berjalan-jalan di hutan,” katanya sambil membawaku lewat lorong bawah tanah, lorong yang sama yang ku lewati jika aku akan mengunjungi vampirevampire itu

“Eh, bukankah ini dekat dengan penjara?” tanyaku.

“Terkadang membuat pintu keluar di depan mata musuh adalah cara terampuh untuk membodohi mereka.”

Aku menyernyit.

“Dokter Soojung pernah mengatakan itu padaku,” kataku mengingat.

“Benarkah? Tapi memang itu faktanya, vampire itu tidak cukup pintar untuk tahu pintu ini.” kami berjalan sedikit merunduk sekarang, jalannya mulai curam dan licin.

“Hati-hati,” Sehun mencengkram lenganku dengan erat, memastikan bahwa aku akan baik-baik saja.

Kami akhirnya sampai di ujung jalan curam dan licin tersebut. Ada pintu di sana, terbuat dari kayu. Begitu rapuh… dan mudah untuk di hancurkan oleh… vampire.

Sehun mengeluarkan kunci dari kantongnya, kemudian membuka pintu tersebut.

Whoahh…” aku terpana melihat hamparan hijau di depanku.

Sehun tertawa pelan. “Keluarlah dulu, baru kau bisa melihat dengan jelas.”

Aku menunduk dan keluar dari pintu, pemandangan di depanku semakin membuatku terpesona. Seindah inikah alam luar? Selama ini aku hanya terkurung di dalam gedung, tidak pernah melihat pemandangan seindah ini.

“Kau suka?” tanya Sehun.

Aku mengangguk cepat.

“Sangat indah…” kataku, mataku tak mampu berpaling dari sekitarku.

Aku memandang semua pohon-pohon besar di sekitar tempatku dan Sehun berdiri. Begitu sempurna. Aku tidak pernah melihat hal seindah ini seumur hidupku.

“Dulu aku bertahan hidup di hutan saat mereka menyerang,” kata Sehun.

“Benarkah? Berapa lama?” tanyaku.

“Tiga tahun. Aku berkelana di hutan, sampai seorang vampire hendak membunuhku…” Sehun terdiam, mengenang.

Vampire perempuan?” tanyaku lagi

“Ya, dan dia sangat cantik—tidak, dia… sempurna. Kukira ia manusia sepertiku pada awalnya, dan aku bersamanya sampai beberapa minggu. Sampai suatu malam, ia… ia hendak membunuhku.” kata Sehun pelan, mengenang.

“Kau… menyukainya?” tebakku

“Tidak.” katanya singkat. Oh. Ayolah. Manusia mana yang akan tidak terpesona oleh kesempurnaan fisik para vampire?

“Tidak mungkin.” aku menyenggol lengan Sehun.

“Aku tidak hanya menyukainya, aku jatuh cinta padanya, dan ia katakan bahwa ia mencintaiku juga. Aku tidak mengerti mengapa pada akhirnya ia berusaha membunuhku.” kata Sehun.

Aku terdiam. Kurasa itulah alasan Sehun membenci vampire. Karena hidupnya hampir di renggut oleh seorang vampire yang ia cintai.

“Jangan melamun lagi, kajja,” ia menarik tanganku dan kami mulai berjalan lagi.

Kami berjalan cukup jauh dari gedung, dan aku terlalu malas untuk kembali ke gedung itu, meninggalkan semua keindahan ini.

“Matahari sudah hampir tenggelam Sarang, ayo kita pulang.” kata Sehun.

Aku mendesah pelan, tidak ingin kembali ke gedung penuh siksaan itu.

Arraseo,” aku berjalan mengikuti langkah Sehun.

“Mau temani aku menghukum mereka nanti?” tanya Sehun.

“Tidak.” jawabku tanpa berpikir.

“Eh? Kenapa?” Sehun memandangku bingung.

“Aku… Aku… Aku tidak tahan jika harus melihat mereka disiksa begitu.”

“Aku tidak menyiksa mereka.” kata Sehun.

“Kau menyiksanya. Kau melukai mereka dengan cambuk api dan besi itu. Tidakkah kau pikirkan perasaan mereka?” kataku, emosiku mulai tidak bisa kubendung.

“Mereka berusaha membunuh kita semua Sarang.” Sehun mulai terdengar dingin

“Mereka tidak berusaha membunuh kita, Sehun. Kalian lah yang berusaha membunuh mereka. Mereka bahkan tidak pernah berusaha melukai kalian, bukan?” tanpa sadar aku bicara dengan nada meninggi pada Sehu.

Sehun terkejut mendengarku bicara dengan selantang itu padanya. Tapi aku tidak peduli. Aku sudah cukup peduli pada mereka selama ini.

“Di gedung penyembuhan, kau mungkin bisa mengatur sesukamu. Di sini. Kau harus mengikuti aturan jika kau ingin hidup.” kata Sehun.

Air mata mulai menerobos pertahananku tanpa bisa kutahan. Keterlaluan. Mereka sungguh keterlaluan. Bagaimana bisa manusia berubah menjadi tidak berperasaan seperti ini?

“Sarang… tenanglah. Mereka tidak akan mati hanya karena siksaan itu.” ucapan Sehun sekarang membuatku entah mengapa merasa marah.

“Tidak mati? Itulah yang membuat tindakan kalian semakin kejam! Mereka terus merasakan sakit setiap hari. Pernahkah mereka mencoba menyakiti kalian saat mereka di borgol seperti itu?” kataku sambil memandang Sehun.

Ia menatapku dalam diam.

“Kurasa ucapan dokter Soojung benar, mereka mempengaruhimu dengan sangat mudah,” kata Sehun.

Aku menatap Sehun sambil mengatur nafas, berusaha menahan emosiku supaya aku tidak berteriak histeris saat menghadapi Sehun yang begitu tenang.

“Mereka tidak mempengaruhiku. Aku menggunakan akal sehatku. Mereka tidak salah apapun…” kataku pelan.

“Mereka salah! Mereka berusaha memusnahkan kita semua!” Sehun berteriak.

BLAR!

Aku terkejut saat mendengar ledakan di dekatku. Sehun segera tersadar. Aku terpaku. Itukah… kekuatannya?

“Maaf Sarang. Ayo kembali.” Sehun menarik tanganku.

“Tidak!” tanpa sadar aku berteriak. Aku tidak ingin kembali. Aku tidak ingin kembali ke tempat mereka.

“Sarang! Jangan buat aku meledakkan tempat ini!” Sehun memperingatkanku.

“Wah, wah. Sekasar itu kah sikapmu pada seorang gadis cantik?”

Aku terkejut saat seorang pemuda entah sejak kapan sudah berdiri tidak jauh dari kami. Aku memandang pemuda itu, ia berparas sangat sempurna. Vampire. Pasti.

“Kau membuat kita berada dalam masalah.” desis Sehun padaku.

“Bukan urusanmu makhluk kotor.” kata Sehun sambil menarik kasar lenganku.

“Hanya pecundang yang memperlakukan kasar seorang wanita.” kata pemuda itu lembut membuat Sehun menghentikan langkahnya.

DOORR!!

“Tidak, Sehun!”

Peluru melesat ke arah vampire itu. Peluru perak. Pemuda itu tersenyum tipis, dan tepat sebelum menyentuhnya, peluru itu terhenti.

“Oh, kemampuanmu cukup baik rupanya.” desis Sehun.

Pemuda itu tersenyum. Lalu tangannya bergerak, dan peluru itu melayang pelan ke arahku. Aku bergidik ngeri, kalau saja pemuda itu berniat menyarangkan peluru itu di tubuhku, dia pasti—

“Ah…” aku terkejut bukan main saat telapak tanganku bergerak sendiri.

“Tidak hanya pada benda, tapi pada kalian…” tanganku menengadah dengan sendirinya, lalu peluru itu jatuh di kedua telapak tanganku.

“Itu untukmu nona, kenang-kenangan kecil dariku.” pemuda itu tersenyum padaku, lalu ia menatap tajam Sehun. Saat tangannya bergerak, Sehun seolah tertarik ke arahnya.

“Tidak, jangan.” aku menahan lengan Sehun. Aku tidak ingin siapapun terluka, sungguh. Pemuda itu memandangku, lalu terhenti.

“Sarang!” bentak Sehun, ia pasti sudah siap untuk pertarungan apapun.

“A-Ayo kita kembali, Sehun.” aku menarik lengan Sehun untuk berbalik, tapi aku terkesiap saat pemuda itu sudah ada di belakangku.

Kudengar Sehun sudah memompa senapannya.

“Senapan itu tidak akan berguna.” pemuda itu melirik Sehun, lalu ia memandangku.

“Bau darahmu sangat manis… semanis tindakanmu sekarang, nona.” ia tersenyum, membuat taringnya terlihat, meski kupikir taring itu tidak pantas untuk ada di wajah rupawannya, tapi keberadaan taring itu entah mengapa terlihat pantas baginya untuk mempertahankan diri.

“Terima kasih pujiannya,” ucapku.

“Ah… kau bahkan sangat baik.” kataku cepat sambil mencengkram lengan Sehun.

“Sampai bertemu lagi, Sarang,” ia menyentuh puncak kepalaku pelan, membuatku bergidik ngeri. Dan tak sampai dua sekon dia sudah menghilang.

Tanpa bicara apapun, aku menarik Sehun untuk melangkah pergi. Kami akhirnya berjalan dalam diam. Pemuda itu tidak mengikuti kami, kurasa. Aku tidak akan tahu jika mungkin ia mengikuti kami diam-diam. Tapi keadaan aman-aman saja sampai saat kami tiba di pintu masuk.

“Kurasa aku tidak akan membawamu keluar lagi.” kata Sehun.

Aku memilih bungkam. Tidak ingin membantahnya lagi. Kejadian tadi cukup membuatku takut untuk keluar dari gedung ini. Aku memandang peluru mungil yang ada di tanganku.

Peluru perak, yang bisa melukai vampire. Hanya vampire yang akan bisa terluka dengan peluru ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sudah seminggu lebih aku tidak banyak bicara dengan Sehun. Sejak kejadian itu, kurasa ia marah padaku karena aku membantahnya. Dan aku juga tidak berniat mengajaknya bicara.

Aku berjalan ke jalur tempat dulu Sehun mengajakku keluar dari gedung. Tempat ini sangat jarang di datangi oleh siapapun. Kurasa Sehun yang paling hafal isi gedung ini, juga jalur-jalurnya.

Aku berhenti di depan pintu itu. Awalnya aku sudah akan berbalik dan kembali ke kamarku, tapi entah mengapa tanganku bergerak membuka paksa pintu itu. Gemboknya sangat kuat, dan aku tidak sanggup merusaknya.

Aku terduduk bersandar di tembok yang ada di dekat pintu. Aku hanya bisa mendengar suara angin di luar. Beberapa lama aku duduk diam sampai aku mendengar suara seseorang di luar.

PstPst…”

“S-Siapa?” lirihku takut.

“Ah, kau benar-benar nona tempo hari,” kudengar vokal itu melalui celah-celah kecil pintu. Nona tempo hari? Ah, dia pasti vampire yang kemarin kulihat saat bersama dengan Sehun.

“Umm, kau vampire yang waktu itu muncul?” tanyaku.

“Ya, ya, baguslah kau mengingatku. Apa yang kau lakukan di sini?” aku menyernyit bingung, ia tidak bicara dengan nada semenyeramkan kemarin.

“Aku… bosan. Tapi aku tidak bisa keluar dari sini, apa yang kau lakukan di dekat gedung ini? Apa tidak berbahaya bagimu jika ada di sini?” tanyaku.

“Aku mencium bau darahmu.” aku bergidik ngeri mendengar ucapannya, tapi tidak cukup untuk menakutiku. Aku tahu dia bercanda.

“Aku hanya bercanda, namamu Sarang ‘kan?” katanya. Lihat? Dia benar-benar bercanda, bukan?

“Ya, bagaimana denganmu?”

“Baekhyun,” jawabnya dengan vokal lembut yang membuatku tanpa sadar tersenyum. Semua vampire memang pandai bersikap baik, pada orang-orang yang mereka percaya, atau pada korban mereka.

“Senang berkenalan dengnmu.” ucapku pada Baekhyun.

Ia tertawa pelan, tindakan kami berdua sangat bodoh. Sungguh. Kami bicara seolah tengah bicara secara langsung, padahal ada pintu yang membatasi kami.

“Rasanya aku ingin merusak pintu ini.” kata Baekhyun.

“Eh? Kenapa?”

“Pintu ini membatasi kita, Sarang. Aku ingin bicara lebih banyak denganmu. Kau tahu, aku selalu kesepian di hutan,” kata Baekhyun pelan.

“Dimana keluargamu?” tanyaku.

“Aku belum bisa menemukan mereka. Kurasa, saat mereka menyerangku waktu itu, aku terjatuh di hutan ini dan aku tidak bisa mencium bau mereka,” ia tidak terdengar sedang berbohong

“Dan kau sendirian di hutan?”

“Tidak juga.” ucapnya membuatku menyernyit bingung, bukankah dia katakan dia kesepian di sini?

“Aku punya kau sekarang, kita berteman bukan?” ucapan Baekhyun berikutnya membuatku tanpa sadar tersenyum.

“Ya, tentu saja kita berteman.” ucapku.

“Ah, kau pasti sangat manis jika bisa kulihat bagaimana kau tersenyum sekarang.” ucapnya membuatku terkejut.

“Bagaimana kau tahu aku sedang tersenyum?” tanyaku.

“Hanya menduga saja. Omong-omong, apa yang sedang kau lakukan di sana, Sarang? Kau tidak bersama bangsamu?”

Aku menggeleng. Kemudian aku sadar bahwa Baekhyun tidak akan tahu saat aku menggeleng padanya. Astaga. Bodohnya aku.

“Aku tidak sering bersama mereka.” kataku.

“Begitu, ya? Kau memang terlihat sedikit berbeda dari manusia yang lain—sikapmu, maksudku. Ah, Sarang kembalilah, ada manusia yang sedang mencarimu. Senang bisa bicara dengan,u.” kata Baekhyun membuatku menyernyit tidak mengerti.

“Kau mau pergi?” tanyaku, sedikit merasa kecewa saat dia memilih untuk mengakhiri konversasi yang baru saja tercipta.

“Ya, aku harus menjaga jarak dengan gedung ini. Kalau kau mau, kau bisa cari cara untuk keluar dari sini, Sarang. Karena jika tidak, aku mungkin akan benar-benar merusak pintu ini supaya bisa menemuimu.” ucapan Baekhyun sekarang tidak terdengar seolah dia sedang bercanda.

“Tidak, biar aku saja yang mencari cara untuk keluar. Tapi… kau akan datang lagi besok, bukan?” tanyaku memastikan.

“Ya, aku akan datang saat petang. Sarang, cepatlah. Orang itu akan curiga kalau kau ada di sini. Sampai jumpa.” kudengar suara desiran angin di luar, kemudian hening.

Baekhyun sudah pergi. Aku mendesah pelan. Kemudian aku berdiri dan berjalan pelan meninggalkan tempat itu. Kurasa aku akan sering kesini, aku punya Baekhyun sebagai temanku sekarang.

Tapi sebelum itu, bukankah aku harus menemukan cara untuk keluar?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Yea ~ akhirnya ada jalan buat kembali ke jalan yang benar. Akhirnya Exception bisa kupublish tanpa cobaan apapun—cobaan ketika draftnya kesimpen di tempat yang enggak karuan di mana alamnya T.T

Aduh, udah berapa taun sejak Exception aku tinggalin gitu aja ngegantung di chapter pertama padahal cerita ini cuma mini chapter yang harusnya bisa selesai kalo dieksekusi beberapa minggu doang T.T lagi-lagi aku merasa bersalah sekaligus pengen protes tentang waktu yang cuma ada 7 hari dalem seminggu dengan 24 jam setiap harinya.

Kepengen protes juga tentang rasa ngantuk yang seenaknya nyerang di jam-jam fatal dimana harusnya aku bisa produktif buat ngetik dan saking ngantuknya, akhirnya fanfiksi ditinggalin buat tidur.

Yah… rencana sih satu-satu fanfiksi chapter mau dikelarin, tapi enggak keburu-buru, soalnya hasilnya enggak akan maksimal kalo balapan diakhirinnya :”) tapi di draft ini loh udah bejibun aja rencana-rencana buat cerita lain padahal yang atu belum kelar, kemaruk banget ini otak.

Nah, udah empat paragraf, kuharus mempersingkat fingernotes biar enggak mabok bacanya :’D sekian dariku, see you tomorrow! Salam peluk-cium, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

8 pemikiran pada “EXCEPTION – 2nd — IRISH’s Tale

  1. Ping balik: EXCEPTION – 3rd — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. Akhirnya diupdate lagi ni ff, makin penasaran sama kelanjutannya lahi. Jadi sarang ada pasangan nya kah ?
    Jangan lama-lama update nya ya kak …

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s