SADISTIC NIGHT -CH. 1 : Who Are You? P.2- by AYUSHAFIRAA

`SADISTIC NIGHT`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

Starring Baekhyun, Kim Yoojung as Kim Yoora, Chanyeol, Sehun, Suho | Supported by D.O, Tao, Xiumin, Kai, Chen, Lay, Lee Pace |

AU, Drama, Fantasy, Romance, Violence |

PG-17/M | Chaptered |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari Diabolik Lovers dan berbagai film serta anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

*Already published since 2015, here.

AYUSHAFIRAA©2015. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Prev. Night : WAY? P.1

| BAB I ▶ CH. 1 : Who Are You? P.2 |

​​Sekarang, kau sudah mengetahui siapa kami sebenarnya. Jadi, siapa kami?

.

Part 2

.

​​“Sebaiknya, kau tidak perlu berusaha untuk memahami keluarga kami sampai sejauh itu. Semakin banyak kau bertanya, akan semakin banyak pula luka yang kami buat di hatimu. Maka dari itu, berhentilah sekarang juga, Yoora.”

Yoora menatap mata Baekhyun, lensa kuning lelaki itu nampak terang beberapa saat dan kembali lagi seperti semula. Suhu tubuh mereka yang begitu dingin, lensa mata mereka yang terkadang bercahaya, perkataan mereka yang terkadang terdengar aneh, dan juga kejadian pecahnya kaca jendela di ruang tamu secara tiba-tiba sore tadi, semua itu menambah kuat pemikiran Yoora tentang mereka yang sebenarnya. Mereka semua, bukan manusia?

“HENTIKAN! HENTIKAN! HENTIKAN!” bentak Baekhyun seketika seperti orang frustasi. Dengan sigap, Tao dan Kai menjauhkan Baekhyun dari Yoora, sementara Suho menjauhkan Yoora dari Baekhyun.

“KALIAN, CEPAT BAWA DIA KE KAMARNYA! Aku akan menyusul.” Ucap Suho.

“Apa yang terjadi?” gadis itu terkejut bukan main.

“Kembalilah ke kamarmu, Yoora.” titah Suho tanpa menjawab pertanyaan Yoora.

“Ayo pergi!” Sehun menarik tangan gadis itu, membawanya pergi jauh-jauh dari ruang makan.

“Apa yang terjadi pada Baekhyun, Sehun-ssi?”

“Diamlah!” lelaki itu tak memperdulikan rintihan kecil Yoora yang merasa kesakitan karena dirinya menggenggam tangan gadis itu terlalu kuat.

“Hei, Bocah! Kau mau membawa gadis itu ke mana?”

Sehun berhenti melangkah, lalu berbalik menatap lelaki yang tengah berdiri bersandar ke dinding sambil melipat kedua tangannya itu.

Hyung, tidak bisakah kau berhenti memanggilku ‘Bocah’? aku sudah bukan anak kecil lagi!”

Lelaki itu berjalan mendekat, “Di mataku, kau tidak pernah berubah, Sehun-ah.”

“Chanyeol Hyung!” Sehun bereaksi saat tangan dingin kakaknya itu mengambil alih genggaman tangan Yoora darinya.

“Chanyeol-ssi…”

“Diamlah, kau hanya perlu ikut denganku. Tak usah banyak bicara. Mengerti?”

“Tapi, Hyung. Dia bersamaku.” Cegah Sehun.

“Ssst! Sekarang dia bersamaku. Kau, pergilah ke kamarmu dan lakukan apapun yang kau mau. Suho tidak akan marah, dia sedang sibuk mengurusi Baekhyun. Pergi! Cepat pergi!” ucap Chanyeol mengusir Sehun secara halus dan berlari pergi bersama Yoora yang terpaksa mengikutinya.

Hyung…”

 

♥♥♥

 

Langit yang dipenuhi bintang bertaburan malam itu seakan menjadi pemandangan indah yang tak bisa dua insan ini tinggalkan begitu saja. Chanyeol baru saja membawa Yoora ke taman belakang rumahnya yang sangat luas beralaskan rumput hijau di mana sepanjang sisi-sisinya terdapat banyak pepohonan terawat.

Chanyeol duduk di atas rumput itu dan menengadahkan kepalanya, menatap langit yang diterangi cahaya bulan purnama. Perlahan tapi pasti, ia membaringkan tubuhnya di rerumputan itu tanpa merasa khawatir akan mengotori setelan jas yang dipakainya.

“Kau hanya akan berdiam diri di sana?”

“Hm?” Yoora memandang ke arah Chanyeol. Jika memandang lelaki itu di saat seperti ini, bayangan Chanyeol saat marah padanya tadi sore seakan menghilang begitu saja dari pikirannya.

“Kemarilah.” Chanyeol menepuk-nepuk rumput di sebelahnya, memberi ‘kode’ pada Yoora untuk berbaring di sampingnya.

Gadis itu menuruti kata-kata Chanyeol, tapi tidak menerima ‘sinyal’ yang di’kode’kan lelaki itu dengan baik, sehingga ia hanya duduk di samping Chanyeol yang sedang berbaring.

Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka selama beberapa saat. Chanyeol menunggu Yoora memulai pembicaraan, begitupun sebaliknya. Mereka hanya saling menunggu hal yang tak pasti.

“Kenapa kau diam saja?” tanya Chanyeol akhirnya.

“Bukankah kau yang menyuruhku untuk tidak banyak bicara, Chanyeol-ssi?”

“Benar juga.” Lelaki itu lupa dengan apa yang dikatakannya sendiri beberapa saat lalu.

“Lalu, apa kau dan aku hanya akan terus saling diam seperti ini? membosankan sekali.” lanjut Chanyeol menggerutu.

Gadis itu menatap Chanyeol dengan tatapan aneh, “Kau dan aku tidak sedang saling diam, Chanyeol-ssi. Buktinya saat ini, kau dan aku sedang saling bicara.”

“Ah, iya juga! Kau benar. Tapi bukan seperti itu yang ku maksud.” Raut wajah Chanyeol mulai terlihat frustasi. Ia bangkit dari posisi tidurnya.

“Lalu apa? Kau ingin aku bicara apa? Topik apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Apa saja! Kau mengerti?”

Yoora menggerakan tangannya seolah mengunci mulut Chanyeol, sementara itu Chanyeol hanya terlihat kebingungan dengan apa yang Yoora lakukan.

“Kalau begitu, aku mengerti. Kata-katamu sudah ku kunci, dan kau tidak bisa menariknya kembali, Chanyeol-ssi.”

“Kau harus jujur padaku!” ucap Yoora selanjutnya.

“Tentang apa?” dahi lelaki itu mengkerut.

“Apa saja! Kau mengerti?” gadis itu mengulang kata-kata yang Chanyeol katakan sebelumnya.

“Iya, iya!”

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi baik padaku eoh? Padahal sebelumnya, kau terlihat sangat membenciku. Ada hujan petir seperti apa yang mampu merubah sikapmu dalam sekejap seperti itu, huh?”

“Siapa? Aku? Tidak ah! Aku tidak menjadi baik seperti apa yang kau katakan barusan.” Elak Chanyeol dengan tingkah mencurigakan.

“Benarkah begitu?” Yoora terus mendelik ke arah Chanyeol, sedangkan Chanyeol sibuk menyembunyikan tawanya yang sengaja ia tahan agar tetap terlihat jual mahal di depan gadis itu.

“Kalau begitu, tatap aku!”

“Kenapa aku harus?” tanya Chanyeol masih dengan sikap jual mahalnya.

“Karena mata merupakan pintu hati yang tidak akan pernah bisa berbohong.”

Chanyeol akhirnya menatap kedua mata Yoora begitu dalam setelah mendengar apa yang gadis itu katakan. Gadis itu tak lagi menemukan tanda amarah di mata Chanyeol, saat ini, lensa mata Chanyeol yang berwarna merah itu nampak tenang, begitu tenang, hingga tanpa ia sadari Chanyeol perlahan mendekatkan wajah tampannya ke wajahnya. Semakin dekat, dekat, dan sangat dekat, hingga…..

“Yoora! Chanyeol!” Lay melambaikan tangannya dari jendela yang berada di lantai atas rumah itu.

Chanyeol mengacak-acak rambutnya sedikit kesal, lalu bersikap seperti tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Yoora.

“Lay-ssi, apa yang kau lakukan di sana?” tanya Yoora sedikit berteriak mengingat jarak antara taman itu dengan tempat Lay berdiri sekarang yang cukup jauh.

“Harusnya aku yang bertanya pada kalian. Sedang apa kalian di sana? Hari sudah larut, kalian harus segera beristirahat. Lagipula, kau, Chanyeol! Bukankah kau harus mengikuti kelas etika bersama Kai eoh? Suho Hyung memintaku untuk mengingatkanmu tentang hal itu. Kau tidak ingin melihat Suho Hyung menyita semua barang kesayanganmu lagi seperti waktu itu, bukan?” ucap Lay panjang lebar tanpa henti.

“Iya, Hyung. Terimakasih!” balas Chanyeol seperti dipaksakan.

“Apa kelas etika itu seperti hukuman?” tanya Yoora. Chanyeol tak menggubris.

“Maafkan aku, Chanyeol-ssi.”

“Kenapa meminta maaf?”

“Karena aku, kau harus mengikuti kelas etika yang kedengarannya sangat menyeramkan itu.”

Chanyeol tertawa.

“Bagaimana bisa kau mengatakan itu semua karenamu? Apa kau sudah merasa sangat hebat eoh? Apa kau pikir keluargaku sudah membuat dirimu begitu spesial hingga kau bisa mengatakannya dengan semudah itu?” lelaki itu tersenyum merendahkan.

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?” Yoora memandang Chanyeol, tak percaya dengan perubahan sikap lelaki itu yang berubah drastis dalam sekejap mata.

Lay memandangi mereka dari atas sana, tak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas sehingga membuatnya sedikit bingung dengan situasi yang ada antara Chanyeol dan Yoora.

“Anak itu lagi-lagi menyakiti hati Yoora.” ucap lelaki berlensa kuning terang yang sedang duduk di tepi ranjangnya. Tatapannya kosong. Sesekali lelaki itu terlihat meremas sprei yang membalut tempat tidurnya.

“Baekhyun-ah, apa kau benar-benar tidak bisa mendengar apa yang gadis itu katakan eoh?” tanya Lay pada lelaki itu yang ternyata adalah Baekhyun.

“Sungguh, Hyung. Yoora begitu gelap, seperti buku yang ditutupi kain tebal yang tak mungkin bisa ku singkirkan hanya untuk bisa membacanya.”

“Anak itu meninggalkannya….” ucap Baekhyun selanjutnya, sama persis dengan apa yang sedang terjadi antara Yoora dan Chanyeol di bawah sana.

“Chanyeol-ssi!” panggil Yoora sambil mengikuti langkah kaki lelaki yang saat ini mengacuhkannya.

“Kau tidak perlu khawatir, kelas etika sudah lama menjadi langgananku.” Jelas Chanyeol tanpa menatap gadis itu sedikitpun dan terus berjalan tanpa memperdulikan Yoora yang kelelahan mengejarnya di belakang.

 

♥♥♥

 

Suara gaduh berhasil mengusik nyenyaknya tidur gadis itu di malam pertamanya berada di rumah mewah keluarga Lee. Saat matanya melihat ke arah jarum jam yang ada di kamarnya, jarum jam itu baru menunjukkan pukul 02.35 dini hari.

“Apa yang mereka lakukan?” gumam Yoora masih setengah sadar.

Gadis itu mencoba bangkit dari posisi tidurnya walaupun rasa kantuknya seakan tak bisa terkalahkan. Langkah kakinya membawanya ke sebuah jendela besar yang ada di kamarnya, mencoba mengintip keadaan di bawah sana.

“Huh?! Apa mereka akan berangkat sekolah sekarang? Yang benar saja!” gadis itu terkejut setelah melihat ke-10 lelaki yang sedang asik bercanda gurau di bawah sana itu sudah rapi mengenakan seragam sekolah mereka.

“Apa jam dinding di kamar mereka rusak? Atau, jam dinding di kamarku ini yang rusak?”

“Hebat!” ucap gadis itu spontan setelah melihat 2 buah mobil limousine yang tak perlu dijelaskan lagi betapa kerennya mobil itu sudah terparkir dan siap mengantar ke-10 lelaki itu ke sekolah mereka.

Saat gadis itu kembali memandangi mereka, matanya berpapasan dengan mata dingin Dio yang sedang mengamatinya dari bawah sana. Yoora mengalihkan pandangannya, menghindari kontak mata dengan lelaki dingin yang satu itu. Namun saat dirinya kembali memandang ke-10 lelaki bersaudara itu, mereka semua sudah memasuki mobil dan pergi meninggalkan lingkungan rumah mereka yang luas ini.

 

♥♥♥

 

♫ (Call me baby) i georineun wanjeon nalliya

(Call me baby) saramdeul saineun namiya

(Call me baby) hamkkehaneun mae sungani

Like boom, boom, boom, boom, boom (What up)

Hey girl! yeongwon gatdeon challa (unmyeong gateun sungan)

nareul han sungan ttulkoga (beongaecheoreom i segyereul)

neon nae ireum bulleojumyeo naegero dagawa…. ♫

Yoora tersenyum menikmati penampilan ke-10 member EXO di atas panggung indoor sebuah acara musik yang tayang secara langsung di televisi. Saat ini, dirinya sedang berada di tengah kerumunan para penggemar yang terlihat sangat menikmati acara tersebut dengan ikut bernyanyi dan menggoyangkan lightstick mereka.

Dari tempat itu, Yoora dapat melihat betapa profesionalnya ke-10 lelaki itu ketika sedang tampil di atas panggung. Ia kagum, kagum mendengar suara mereka, kagum melihat koreografi mereka, juga, ketampanan mereka tentunya. Ia merasa sangat berterimakasih pada Suho yang telah mengajaknya untuk melihat aktifitas mereka di dunia hiburan, sehingga ia terbebas dari rasa kesepian dan rasa bosan ketika ia sedang sendiri di rumah besar itu.

Gadis itu memberi tepuk tangan untuk penampilan mereka bersamaan dengan tepuk tangan dari ratusan penggemar yang hadir saat itu. Ia segera bergegas keluar dari kerumunan tersebut untuk menghampiri mereka di belakang panggung. Namun ketatnya penjagaan yang ada di acara tersebut membuat Yoora sedikit tertahan.

“Suho-ssi!” panggil Yoora saat melihat Suho di area belakang panggung.

“Yoora?”

Suho menghampiri gadis yang sedang dihadang 2 penjaga dari pihak penyelenggara acara itu dengan senyuman polos.

“Tidak apa-apa, gadis ini bersama kami.” Ucap Suho pada 2 orang penjaga yang menghadang Yoora.

“Ayo!” Suho dengan cepat menarik tangan Yoora dan membawanya ke area belakang panggung sebelum para penggemarnya melihatnya dan menjadi gila seketika.

“Suho-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya gadis itu yang masih melangkahkan kakinya mengikuti Suho menuju ruangan yang telah disediakan khusus untuk member EXO.

“Tanya saja.”

“Kenapa tanganmu begitu dingin? Apa kau sedang sakit?”

Suho berhenti melangkah, namun sedetik kemudian melanjutkan langkah kakinya.

“Tidak, aku memang seperti ini.”

“Huh?”

“Ini ruangan yang mereka sediakan untuk kami. Kami biasa menunggu jadwal tampil kami sambil melakukan segala sesuatu yang menyenangkan di ruangan ini.”

Suho membukakan pintu ruangan mereka, dan…..

PRANG!

“Apa kau sudah bosan hidup eoh?! Kami baru saja tampil menghibur penonton acara yang membosankan ini, dan kau? Tidak menyiapkan apapun untuk menghilangkan rasa haus dan lapar kami?! BAGUS SEKALI!”

PRANG! Baekhyun membanting semua barang yang ada di ruangan itu, membuat orang-orang di sekitar ruangan itu terkejut dan berkerumun melihat apa yang sedang terjadi di sana.

“Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf, Baekhyun-ssi!”

“Kau…” Baekhyun menarik kerah baju staf yang baru saja membuatnya kehilangan akal itu.

“..harus merasakan bagaimana rasanya aku menahan rasa haus ini begitu lama.”

Lensa mata kuningnya yang tertutup lensa kontak berwarna hitam itu terlihat sedikit memancarkan cahaya. Seringai khasnya memperlihatkan taring yang sempurna. Taring itu akhirnya menancap seluruhnya di leher staf acara tersebut, menusuk kulit hingga menembus ke pembuluh darahnya.

“Aaaakh!”

Baekhyun yang sudah menjadi monster penghisap darah itu benar-benar sudah lepas kendali akan dirinya, ia menghisap darah korbannya tanpa merasa kasihan sedikitpun.

“Baekhyun-ssi…” Yoora dan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tampak tak percaya dengan apa yang terjadi saat itu.

Dengan cepat, Tao menunjukkan kekuatan tersembunyinya sebagai pengendali waktu. Ia menghentikan waktu saat itu juga, membuat aktifitas di seluruh dunia terhenti seketika. Jarum jam berhenti berputar, orang-orang tetap di tempatnya dan tak bergerak sama sekali, pesawat-pesawat yang sedang berada di atas awan hingga semuanya yang ada di alam jagat raya ini benar-benar berhenti dalam sekali tepukan tangan Tao. Lelaki itu menjaga kedua tangannya tetap saling menggenggam seakan ia sedang menangkap waktu dan tidak akan melepaskannya begitu saja.

Saat itu juga, Kai bergegas menyeret staf yang sudah tak bernyawa itu dan menghilang dalam sekejap mata.

Sementara Suho terlihat serius memejamkan matanya, berusaha menguasai pikiran orang-orang di seluruh dunia termasuk pikiran gadis yang ada di sebelahnya, ya, Yoora. Setelah lelaki itu berhasil menguasai pikiran orang-orang, ia langsung berusaha untuk menghapus segala ingatan orang-orang itu yang berhubungan dengan staf yang menjadi korban kehausan Baekhyun tadi. Ia berusaha membuat orang-orang tersebut tidak bisa mengingat apapun tentang korban, dan membuat korban itu seakan tak pernah hadir dalam hidup mereka.

Hyung, kekuatan kalian tidak berpengaruh pada gadis itu. Dia masih dalam keadaan sadar.” Ucap Sehun yang seketika membuat kakak-kakaknya itu terkejut.

“Yoora-ssi…” Baekhyun memandangi gadis yang terlihat sangat ketakutan itu dengan raut wajah menyesal.

“Ini semua salahmu, Hyung. Kau seharusnya tidak perlu membawanya bersama kita.” Ucap Chanyeol yang jelas-jelas menyalahkan Suho dalam masalah ini.

“Kalian semua… apa yang kalian lakukan? Kalian-”

Dengan kaki gemetar, gadis itu berusaha untuk melarikan diri dari mereka. Gadis itu berlari di antara manusia-manusia lain yang tak bergerak sama sekali, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Benar dugaannya, ke-10 lelaki tampan yang terkadang berkata aneh, ke-10 lelaki yang memiliki suhu tubuh begitu dingin, mereka semua, benar-benar bukan manusia.

“Semuanya benar-benar terhenti.” Ucap Yoora setelah melihat keadaan di area depan panggung indoor acara tadi benar-benar tak ada satupun yang bergerak selain dirinya. Saat ia mengamati arloji berwarna coklat yang ia pakai di pergelangan tangan kirinya, jarum jam di arlojinya pun sama sekali tak berputar.

“Bagaimana bisa? Bagaimana ini semua bisa terjadi?”

“Tidak ada yang tidak bisa terjadi di dunia ini, Yoora-ssi.” Lelaki berkulit eksotis itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya entah dari mana setelah matanya jelas-jelas melihat lelaki itu menghilang secara tiba-tiba juga di ruangan tadi.

“Kai-ssi…”

Yoora mengambil langkah mundur, namun di belakangnya sudah ada ke-9 lelaki tampan yang sudah mulai berani memperlihatkan sisi lain yang selama ini mereka sembunyikan darinya.

Kai membalikkan tubuh Yoora menghadap ke-9 saudaranya,

“Apa yang harus kulakukan? Sebenarnya aku benar-benar lelah setelah mengirim staf tak berguna itu ke tempat yang sangat jauh, tapi mungkin, sedikit bermain denganmu akan menghilangkan rasa lelah itu.”

“Apa maksudmu?” gadis itu tampak berkeringat dingin.

“Sekarang, kau sudah mengetahui siapa kami sebenarnya. Jadi, bisakah kau mengatakan padaku siapa kami sebenarnya?” Lensa mata anak kedua keluarga Lee itu terlihat bercahaya sekilas.

“Kalian semua… Vam… vampir.”

Ke-10 lelaki itu menyeringai, memperlihatkan taring tajam yang dimiliki mereka masing-masing.

Hyung, bagaimana ini? dia sudah mengetahui sedikitnya tentang kita, haruskah kita bermain-main dengannya sebentar?” tanya Kai sambil mengelus-elus pipi gadis itu.

“Aii, yang benar saja! Bukankah kau pernah berkata dia sama sekali tidak seksi?” Sehun menggerutu.

“Ah, Sehun-ah. Kau masih ingat ternyata.” Lelaki itu tertawa.

“Haruskah kita mencicipinya sedikit? Hidungku tidak pernah salah mencium bau darahnya. Kalian tahu? Darahnya pasti sangat menyegarkan.” ucap Xiumin.

Chen bergerak cepat ke belakang Yoora dan menjilat leher putihnya, membuat gadis itu seketika merasakan ketajaman lidah Chen.

“Kau memang tidak salah, Hyung. Bolehkah aku yang memulainya? Aku sudah tak tahan.” Chen menjilat bibirnya sendiri. Membuat yang lain juga ikut terprovokasi.

“Hei! Hei! Hei! Aku yang pertama kali bertemu dengannya eoh! Kalian dilarang menyentuhnya sebelum aku menyentuhnya! Dia milikku!” ucap Chanyeol tak terima.

“Apa aku tidak boleh seperti ini, Hyung?” Kai menghirup wangi tubuh Yoora dengan wajah sensual.

“Hei!”

“Aku tidak boleh seperti ini?” lelaki itu menjilati leher Yoora. sedangkan yang dijilati lehernya itu hanya bisa diam tak melakukan apa-apa karena lelaki itu menahan tubuhnya begitu kuat.

“Hei! Kau!”

“Aku tidak boleh seperti ini juga?” Kai menyiapkan taringnya.

Baekhyun terlihat mengepalkan tangannya, geram melihat sikap Kai.

”Kai, cukup!” tapi ternyata Suho selangkah lebih dulu dalam mencegah adiknya dan melindungi Yoora daripada Baekhyun.

“Maaf, Hyung.”

“Ku mohon, jangan memperlakukanku seperti ini. Tidak bisakah kalian bersikap seperti biasanya saja?” Yoora memohon sambil menitikkan airmatanya.

“Kau hanya perlu menutup mulutmu dan hidup seperti tidak pernah ada yang kau ketahui tentang hal ini, maka kami tidak akan menyakitimu.” Ucap Suho.

“Loh? Loh? Kenapa jadi begitu, Hyung?” semuanya terlihat kecewa mendengar apa yang dikatakan Suho, kecuali Baekhyun dan Dio yang tetap tak bereaksi apa-apa selain memasang wajah datar.

“Apa aku bisa mempercayai kata-katamu?”

“Jawabannya ada di dirimu sendiri.”

“Baiklah, aku akan menutup mulutku akan hal ini, dan tepati janjimu.” Yoora terisak.

Suho kembali menyeringai,

“Kai, lepaskan dia. Dan kalian semua, minta maaflah padanya karena sudah membuatnya ketakutan.”

“Maafkan kami ya, Yoora!” ucap mereka bersamaan dengan wajah malas dan dipaksakan.

Hyung, haruskah aku menyudahinya sekarang?” tanya Tao yang masih terlihat menggenggam tangannya sendiri.

“Lay-ah, apa kau sudah membersihkan ruangan kita dari hal-hal yang mencurigakan?” tanya Suho pada Lay sebelum menjawab pertanyaan Tao.

“Sudah. Kita hanya perlu kembali ke ruangan kita sebelum mereka yang ada di sana mulai kebingungan dengan apa yang telah terjadi.”

“Kai, bawa kami semua ke ruangan tadi.” Titah Suho.

Kai terlihat mulai fokus, tapi kefokusannya itu buyar setelah melihat Yoora yang kebingungan.

“Hei! Kau harus menatap mataku!”

“Aku? Kenapa harus?” Yoora menatap mata Kai. Dalam sekejap, ia mendapati dirinya sudah berada di ruang tunggu EXO bersama ke-10 lelaki yang sudah menghilangkan taring tajam mereka dan mulai bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

“Lain kali, jangan banyak bertanya! Mengerti?” ucap Kai mengingatkan.

“Ah, iya. Maaf.”

Tao melepaskan genggaman tangannya yang seketika membuat keadaan di seluruh dunia kembali normal. Para staf yang tadinya berkerumun di depan ruangan EXO mulai merasa kebingungan, kenapa mereka semua berkerumun di sana dan mengganggu kenyamanan para member EXO?

“Ada apa?” tanya Suho pada mereka yang masih berkerumun dan menampakkan wajah bingung.

“Ah, tidak, tidak. Maafkan kami!” jawab mereka serentak.

“Semuanya kembali bekerja!”

Yoora memandangi ke-10 lelaki itu secara bergantian, kenapa mereka bisa bersikap seperti itu? Bersikap seperti tidak ada sesuatu yang telah terjadi di antara mereka? Kenapa mereka bisa bersikap biasa-biasa saja seperti tanpa dosa?, pikir gadis itu.

“Yoora, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Baekhyun.

“Ah? Tidak ada.”

“Jangan membuatku frustasi.”

“Maksudmu?”

Lay mendekati Yoora dan merangkulnya,

“Jawab saja, Cantik. Apa kau tidak merasa kasihan padanya?”

“Aiii, Hyung!” Sehun bangkit dari duduknya dan memandangi wajah Baekhyun dari dekat sambil menahan tawanya. “Apa kau tidak bisa membaca pikirannya eoh?”

“Diamlah!”

“Eoh? Kau benar-benar tidak bisa?” Sehun terus memojokkan Baekhyun, membuat kakak-kakaknya yang lain juga ikut menahan tawa mereka.

“Yaha! Yehet! Ohorat!” lelaki itu bergerak menghampiri Yoora, menyingkirkan rangkulan tangan Lay dari pundak gadis itu dan menggantinya dengan rangkulan tangannya.

“Hei, Oh Sehun! Kenapa kau terus melakukan hal itu ―menyingkirkan tangan Lay saat merangkul Yoora―?” protes Lay.

“Hehe, maaf, Hyung.” Ucap Sehun nyengir.

“Aiii, bagaimana ini? ternyata kau benar-benar gadis yang spesial, Yoora. Bahkan ke-4 hyung-ku yang mempunyai kekuatan spesial saja tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan dirimu. Haha, apa maksudnya ini? apa rahasiamu, hm?” Sehun mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Yoora, sementara itu Yoora hanya menatap kedua mata anak bungsu keluarga Lee itu dengan mata yang benar-benar polos.

PLETAK! PLETAK! PLETAK!

Tiga botol minum yang dilemparkan Chanyeol berhasil mendarat dengan mulus di kepala Sehun, membuat si empunya kepala spontan memasang raut wajah mengkhawatirkan. Lelaki itu berdiri melangkah mendekati Sehun dan menarik kerah leher bagian belakang adiknya, memaksa adik nakalnya itu untuk duduk tenang dan tak mengganggu gadis yang sudah ia cap menjadi miliknya.

“Aiii, benar-benar! Kau ini kenapa, Hyung?” anak bungsu keluarga Lee itu cemberut, menunjukkan sikap manjanya.

“Dia milikku, kau mengerti?”

Baekhyun menatap mata Chanyeol tajam, membaca apa yang adiknya itu sedang pikirkan, mendengar apa yang adiknya itu katakan dalam hatinya. Baekhyun melepas jas biru yang sejak tampil di panggung tadi ia kenakan, menampakkan kaos hitam lengan pendek berhurufkan ‘C’ yang dipakainya.

“Kau kepanasan, Hyung?” tanya Chen yang memperhatikan gerak-gerik Baekhyun sambil memeluk Chloe erat.

“Kenapa? Padahal pendingin udara di ruangan ini sudah menyala.” Tao langsung mengarahkan pandangannya ke pendingin ruangan yang ada di ruangan itu dengan heran.

“Yoora.” panggil Dio.

“Hm?”

“Keluarlah! Ini bukan tempatmu!” perintah lelaki dingin itu dengan ekspresi wajah datarnya.

Semua mata otomatis tertuju pada lelaki dingin yang berani menunjukkan sikap sangat tidak sukanya akan kehadiran Yoora di sana.

Lelaki itu terus menatap mata Yoora tanpa ekspresi, membuat bulu kuduk gadis itu seketika berdiri. Dio adalah satu-satunya anggota keluarga Lee yang sampai saat ini seperti belum mau menerima kehadirannya di keluarga itu, seperti sangat benci, seperti, memiliki dendam tersendiri padanya, tapi kenapa?, pikir gadis itu.

“Kau tidak akan keluar?” tanya lelaki dingin itu masih dengan tatapan yang sama.

Pikiran Yoora buyar, matanya menatap mata Suho seolah bertanya ‘haruskah aku menuruti kata-katanya?’. Suho yang mengerti arti tatapannya pun menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Kalau begitu aku minta maaf, aku akan keluar sekarang juga.”

Gadis itu keluar dengan membawa sedikit luka di hatinya, lagi-lagi lelaki dingin itu berhasil menyayat hatinya dengan kata-katanya yang sangat tajam. Perih, luka kecil itu sangat sakit.

“Kau tidak seharusnya mengusir Yoora seperti itu.” Ucap Xiumin.

“Kenapa kau kasar sekali padanya?! Tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih lembut? Kata-katamu juga, tak bisakah sekali saja tidak melukainya?” Chanyeol menatap Dio sambil menahan kekesalannya.

Dio tersenyum meremehkan. Ia lantas mengambil sebuah cermin berukuran sedang dari tasnya dan memberikan benda itu pada Chanyeol.

“Kau harus memiliki benda ini, agar kau bisa lebih sering BERKACA sebelum mengatakan sesuatu. Sadarlah, bahwa kau juga pernah menyakitinya lebih dari apa yang kulakukan.” Ucap Dio berbisik tepat di telinga Chanyeol.

Dio berlalu meninggalkan Chanyeol yang benar-benar sudah tak bisa menahan kekesalannya lagi. Lelaki itu menggenggam kuat cermin yang Dio berikan.

“Aaaaaaaaaargh!” Chanyeol berteriak dan melampiaskan amarahnya dengan membanting benda berukuran sedang itu ke arah cermin yang ada di meja rias, membuat cermin di meja rias tersebut hancur dan pecahan kacanya berjatuhan ke lantai.

Hyung….”

“Chanyeol-ah….”

 

♥♥♥

 

[Preview Chapter Berikutnya]


“Pergilah ke kelas etika.” Ucap Suho.

Yoora memandang takjub bangunan yang sangat besar dan bernuansakan eropa tersebut.

“Selamat datang di sekolah malam milik keluarga kami!”

Gadis itu merasakan seluruh tubuhnya membeku seketika saat tubuh kecilnya tenggelam di air yang sangat dingin itu. Sepasang tangan lembut nan dingin berhasil meraihnya, merangkulnya ke dalam pelukan yang menenangkan menuju kematian.

“Maafkan aku, Yoora. Aku sudah tak tahan lagi…”

Iklan

28 pemikiran pada “SADISTIC NIGHT -CH. 1 : Who Are You? P.2- by AYUSHAFIRAA

  1. genre fantasy… aku sukaaaaaa bangeeeetttt… baek vampire…
    pkoknya baek harus sama yoora.. hehe.. #maksa.. tapi kayaknya chanyeol juga suka sama dia… 🙂

    • Iya genrenya fantasy hehe^^ sama aku pun suka fantasy apalagi kalo vampir2 gitchu xD huahahahah pokoknya yaa pokoknya titik 😂 hmmm asib idaj asib idaj /plak😂

  2. Kak.. boleh saran gak?? Menurut aku plotnya kecepatan nih.. agak dilambatin tapi jangan terlalu lambat juga.. tapi overall ceritanya udah oke.. lanjut ya​ kak

    • Boleh kok boleh 😄 insyaallah gak terlalu kecepetan kok soalnya semuanya udah dipertimbangkan baik2 tiap chapternya dari 2015 muehehe :3 lambat laun pasti terkuak(?) kenapa alurnya kek gini 😆 makasih sarannya unchhh😍 pasti dilanjut kok, coming soon^^

    • Siapa cobaaaa?😆 huhahuhaaa amiin mudahmudahan makin ngefeel yaa~~ kudu sabar bacanya soalnya lumayan rada menimbulkan rasa capek /plak😂
      Siip, coming soon^^

  3. Preview nya bikin penasaran kaaa 😔 apa maksudnya ya “pelukan yang menenangkan menuju kematian” arrghhh pokoknya aku bener bener penasaran ditunggu aja buat next chapter nyaaa 😊😊😊

  4. Preview nya, buat penasaran. Siapa laki-laki itu ? Apa dia baekhyun ya ? Dio-yah jangan jahat-jahat sama yoora. Sampai sekarang masih penasaran kenapa yoora harus tinggal sama mereka dan kenapa kekuatan mereka gak berpengaruh sama yoora.
    Ditunggu kelanjutannya terus.

    • Sungguh mati kamu jadi penasaran~~~🎤🎵😍 /plak/yugakadalagulainapa😂/ siapa cobaaaa? 😆 huahahaha Dio mah maklumin aja sifatnya emang gitchu, tapi dia baik kok seperti apa yg dibilang Suho eakkkeakkeakkk😂
      Kudu sabar yaaa, simpen dulu penasarannya 😂 perlahan tapi pasti akan dijelaskan kok😍 siiip siip coming soon yaa^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s