[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 18

IMG_20170716_203146.jpg

The One Person Is You [Re : Turn On]

 

Tittle                          : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 18

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

 

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

 

*Author POV*

 

 

“Kenapa juga kita yang harus pergi sih?!” gerutu Mira ketika dia dan kedua temannya sudah berada diluar café, sesekali menengok kebelakang untuk memastikan bahwa Hyojin baik-baik saja disana, walaupun agak sangsi karena suasananya tak terlihat baik.

 

“Menurutmu, mereka akan senang, mengatakan ‘terima kasih’ sambil menyalakan confetti kalau kita berada disana dan bergabung dalam obrolan serius mereka?” sindir Lee Young, menyeret Mira menjauh bersama Kimberly yang semakin heran dengan kemauan gadis berambut pendek tersebut.

 

Sementara tiga gadis itu beranjak pergi, Hyojin, Myungsoo dan Chanyeol serta sang kakak duduk pada satu meja. Hening, baik Hyojin yang terus mendapat tatapan dingin dari Yoora maupun Chanyeol-Myungsoo yang saling sinis, tak ada satupun dari mereka berempat yang hendak mengajukan diri untuk memulai obrolan. Padahal mereka punya banyak hal yang ingin disampaikan. Terutama Hyojin tentunya.

 

Myungsoo tersenyum dan menjadi relawan untuk menghentikan perang dingin itu, “Aku akan kembali setelah memesan empat ice Americano.” Ujarnya seraya berdiri.

 

Tapi Hyojin menahannya, seperti tidak membiarkan Myungsoo pergi karena akan membuat suasana semakin canggung, seolah tak mau ditinggalkan oleh pria yang tiba-tiba datang dan-

 

“Aku susu coklat. Pakai es.” Ucap Hyojin, mengejutkan Myungsoo.

 

“Aku ice lemon tea.” Sahut Chanyeol.

 

“Aku juga.” Timpal Yoora tanpa mengalihkan pandangannya dari Hyojin, “Ah, tidak!, tidak!, green tea saja. Aku harus diet.”

 

Chanyeol menoleh sambil mendelik, “Diet?, hah!, yang benar saja!” serunya.

 

“Memangnya kenapa?, kau tidak percaya kalau kakakmu ini sedang diet huh?!” akhirnya Hyojin bisa sedikit bernapas lega ketika Yoora kini fokus berdebat dengan adiknya.

 

“Buat apa juga kau diet?, tidak sadar kalau badanmu ini tinggal kulit dan tulangnya?”

 

“’K-k-k-kau’?!. ANAK INI BERANI BICARA INFORMAL PADA KAKAKNYA HUH?!”

 

Setelah itu timbullah kekacauan kecil pada salah satu meja café yang cukup sepi tersebut. Myungsoo terdiam saking terkejutnya, apa-apaan orang-orang ini?, batin pria itu keheranan. Ia putuskan untuk langsung memesan, setidaknya menjauh sementara dari orang-orang yang aneh itu sehingga pelanggan lain tak menganggapnya sebagai salah satu diantara mereka.

 

“Tolong empat ice Americano.” Ujarnya pada pelayan.

 

“YAK! KUBILANG GREEN TEA! Kau mau bertanggung jawab kalau berat badanku bertambah huh?!”

 

Itu teriakan Yoora yang melotot kearah Myungsoo sambil menjambak rambut adiknya kuat-kuat.

 

“AKKH! SAKIT!. Noona sudah gila ya?!”

 

Itu teriakan Chanyeol yang kesakitan, berusaha melepas pegangan tangan Yoora pada rambutnya. Namun sang kakak malah memukuli punggungnya karena sudah berkata kasar pada dirinya.

 

“Sudah kubilang aku mau susu coklat! Dengan tambahan es yang banyak!. Aku tidak bisa minum kopi lagi sekarang!, yang seperti itu juga harus diberi tahu ya?!”

 

Lalu Hyojin, berdiri sambil memasang muka kesal, protes tanpa sadar keadaan.

 

Myungsoo membatu, perasaan malu, kesal, bingung dan lain-lain merasukinya. Pelayan yang menunggu di counter mencolek bahu pria itu, untuk menghentikan keterkejutannya sekaligus mempertanyakan pesanan Myungsoo sekali lagi.

 

“Saya ulangi pesanannya tuan, empat ice Americano-”

 

“Tidak jadi.” Ia menarik kembali kartu pembayaran yang hampir diterima oleh pelayan café. “Aku mau pulang saja.” Lanjutnya lirih menuju pintu keluar.

 

“Sunbaenim!”

 

Hyojin buru-buru mengejarnya sebelum Yoora dan Chanyeol menghentikan pertengkaran mereka dan kembali memojokkannya. Beruntung dia bisa meloloskan diri, tapi dia kehilangan jejak Myungsoo. Ia bersandar pada dinding rumah penduduk sekitar sambil mengatur nafasnya, kelelahan setelah berlari sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kepungan pertanyaan Yoora apabila gadis itu tak segera mengejar Myungsoo sebagai alasan.

 

*Hyojin POV*

 

“Haah… ha-aah! Kemana perginya pria itu?. Padahal… hosh… harusnya aku sedang makan traktiran dari Mira! Sialan!”

 

Aku tahu, mengumpat bukanlah hal bagus yang diucapkan sering-sering apalagi aku sudah belajar banyak dari jurusan psikologi. Tapi jujur, bukankah hari ini memang satu dari sekian hari sial yang menimpaku?. Bersyukur saja aku tak bertemu dengan si tua menyebalkan itu.

 

Omong-omong ini dimana ya?, aku tidak tersesat lagi kan?. Konyol saja kalau aku tidak tahu arah jalan pulang dan akhirnya merepotkan Sehun maupun Jong In. arrgh, cuacanya juga panas sekali!, dan hei! Sepertinya aku mengenali toko yang memiliki kotak surat merah itu. Ah iya, bagaimana aku bisa lupa!, toko ini kan tidak jauh dari gedung sekolah SMP-ku dulu. Dan kalau tidak salah, kami sempat menaruh surat didalam kotak merah besar itu. Kira-kira, masih ada disana atau tidak ya?, mengingat kotak yang terbuat dari besi itu sudah usang, jadi sepertinya sudah tidak digunakan lagi.

 

Kuputuskan untuk masuk ke toko, membeli sebatang es krim dan meminta izin sang pemilik toko untuk membuka kotak surat tersebut, setelah bertanya soal ‘apakah kotak itu masih digunakan’ tentunya. Karena itu, aku keluar dari toko sambil membawa kunci sementara mulutku bersenandung tidak jelas sambil mengigit plastik pembungkus es krim yang aku beli.

 

“Ukhhh…” aku menarik penutup kotak itu sekuat tenaga karena macet, sepertinya memang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Aku menariknya, terus menarik… terus… terus… dan yup! Akhirnya engselnya lepas. Aku berdiri dengan sebal lantas menendang kotak itu gemas yang langsung membuahkan tatapan tajam pemilik toko yang mendengar kegaduhan yang aku timbulkan.

 

Aku meringis, meminta maaf tanpa suara dan kembali berkutat dengan kotak surat yang… ajaibnya terbuka sendiri.

 

Dasar brengsek!.

 

“Coba lihat, adakah surat milik trio idiot ini?”

 

Aku berjongkok, mengacak isi kotak tersebut yang lumayan penuh dengan surat, kartu ucapan, juga sampah serta daun kering yang pastinya dimasukkan oleh orang-orang jahil dan kurang kerjaan. Aku keluarkan semuanya, memisahkannya, kemudian mengangkut surat-surat tersebut diatas meja depan toko, mencari coretan konyol milikku seraya membaca tulisan-tulisan orang lain yang ditinggalkan dalam kotak merah tersebut.

 

“Aku ingin meraihmu, memelukmu dalam tidurku…” surat yang ditulis dalam kertas merah muda ini sepertinya puisi cinta, hehe. “…mencumbumu semalaman, menanggalkan pakaian -sialan! Rupanya surat mesum!” seruku kesal, meremas surat tak senonoh itu lantas melemparnya ke tong sampah terdekat.

 

Aigooo, taruhan lima puluh ribu won kalau si penerima langsung memaki begitu suratnya sampai… ughh…” ujarku bergidik ngeri. “Kalau itu aku, angsung lapor polisi biar tahu rasa!. Selanjutnya…”

 

Aku kembali mengacak tumpukan kertas yang memenuhi meja bundar didepanku, surat dengan amplop kuning dengan gambar karikatur yang dicoret-coret mengalihkan perhatianku. Aku meraihnya dengan cepat dan tanpa sadar tersenyum lebar, karena ini dia surat milik Jong In!, dan karikatur tersebut adalah buatan Sehun yang meledek Jong In yang berkulit kecoklatan. Aku ingat mereka hampir saling pukul kalau aku tidak melerainya dengan dua buah es krim coklat.

 

“Mari kita lihat isinya!”

 

*Author POV*

 

Antusiasme Hyojin menghilang seiring ia selesai membaca surat milik Jong In. matanya melotot, memandang kosong jalanan yang sepi dari pejalan kaki dan pipinya memerah saking terkejutnya.

 

“Apa yang barusan kau baca?”

 

Hyojin mendongak dan mendapatkan serangan jantung ringan dua kali saat Chanyeol sudah bediri didepannya, memasang wajah heran dan sedikit curiga pada kertas yang tiba-tiba Hyojin sembunyikan darinya.

 

“Apa itu? kau habis membaca surat mesum ya?”

 

“ENAK SAJA!” bentak Hyojin, tanpa sadar kalau surat pertama yang ia baca berisi konten tak senonoh.

 

“Lalu? Kenapa disembunyikan?” Chanyeol celingukan, mencoba mencari celah untuk merebut surat tersebut. “Kertas-kertas apa ini?, kau membuka milik orang lain tanpa izin ya?!”

 

Hyojin bertindak cepat dengan memasukan surat Jong In kedalam kaosnya, “Tidak kok!, aku hanya mengambil milikku dan teman-temanku saja!”

 

Chanyeol yang menyerah akhirnya duduk disebelah Hyojin, ikut memeriksa tumpukan kertas diatas meja namun tidak sampai membukanya apalagi membaca isinya, tidak seperti Hyojin.

 

“Memangnya, kalau itu milik temanmu, berarti kau boleh membacanya?”

 

“Akh! Terserah!” ketusnya mencoba tak acuh, “Kenapa kau bisa ada disini?. Jangan-jangan!… Yoora eonni juga ikut bersamamu?” tanyanya hati-hati seraya melihat sekeliling, berharap wanita yang tiba-tiba terlihat menakutkan dimata Hyojin juga berada di tempat yang sama dengannya.

 

“Kau masih memanggilnya eonni setelah tahu rencananya?” tanya Chanyeol tak percaya, mengambil es krim Hyojin yang tergeletak dimeja dan memakannya setengah.

 

“Itukan milikku!” Hyojin merebut kembali es krimnya, menggigit bungkusnya supaya tidak diambil lagi oleh Chanyeol. “Lalu aku harus memanggilnya apa? Oppa? Noona? Atau hyung begitu?” sarkasnya, kembali mengacak tumpukan surat untuk menemukan miliknya dan terutama surat Sehun.

 

“Kau tidak sakit hati?”

 

Pertanyaan Chanyeol membuat Hyojin terdiam sejenak, kemudian menjawab, “Mari kita tidak membahasnya.” Menunjukkan senyum tipis yang dipaksakan, dan kembali mengalihkan pandangannya dari pria tinggi itu. “Aku tak ingin membahasnya.”

 

Chanyeol pun tak bisa memaksa, hanya bisa memperhatikan Hyojin yang sibuk mencari. Pria itu bahkan tak mengatakan maaf, tapi Hyojin membiarkannya berlalu seolah Chanyeol sudah bersujud dikedua kakinya, memohon untuk diampuni atas kebodohannya membohongi Hyojin dengan memintanya menjadi kekasih untuk pembalasan dendam, nyatanya tidak. Mereka hanya saling menjelaskan situasi, kata maaf pun hanya sekedar formalitas dan kini, keduanya duduk bersama, dimana Hyojin masih memperlakukan Chanyeol sebagai orang dekatnya.

 

“Kau… tidak lelah?”

 

Celetukkan Chanyeol dimaknai lain oleh Hyojin, “Yah, melelahkan. Aku ingin cepat lulus supaya bisa segera melepas beban belajar hehehe… walaupun aku tidak tahu mau kerja dimana setelah jadi sarjana nanti.”

 

Tentu saja bukan itu yang dimaksud oleh pria bermarga Park tersebut. Ia ingin mengulangi pertanyaannya dengan lebih rinci, tapi mengingat perkataan Hyojin sebelumnya yang tak ingin membahasnya -entah apa itu- Chanyeol pun mengurungkan niat.

 

“Oh iya, memangnya kau tidak masuk kerja?. Sekarang belum masa liburan semester kan?. Bagaimana kau bisa ada disini bukannya dikampus-”

 

Mulut Hyojin terkunci begitu kepala Chanyeol bersandar pada bahunya. Gadis itu menoleh dan ingin protes, tapi melihat wajah damai Chanyeol yang menutup mata membuatnya kaku dan tak bisa melakukan apapun selain memandangi paras rupawannya. Mungkin karena sudah lama tidak menatapnya lekat-lekat seperti ini, bagi Hyojin, Chanyeol terlihat lebih tampan dari sebelumnya, entah itu saat mereka pertama kali bertemu, atau ketika mereka mulai dekat dan akhirnya pria itu pergi ke Thailand. Sepertinya, Hyojin memang ditakdirkan untuk mengagumi hingga mencintai Chanyeol, meski gadis itu terus menolak mengakuinya.

 

***

 

Sehun berlari tergopoh-gopoh sambil mencari nama café yang disebutkan Mira dalam pesan singkat yang beberapa menit yang lalu dikirim kepadanya. Baru saja menemukan café yang dimaksud, sosok Yoora yang keluar dari café ditangkap oleh penglihatan Sehun. Ia mempercepat langkahnya, lalu menarik lengan Yoora sebelum Sehun kehilangan gadis itu.

 

“Apa-apaan ini?!” kesal Yoora tak terima, tangannya sampai memerah akibat genggaman Sehun yang kuat.

 

“Dimana Hyojin?” tanya Sehun dengan dingin.

 

Yoora mendengus, “Memang aku induknya sampai kau bertanya hal itu padaku?”

 

“Jelas-jelas kalian bersama tadi!” Sehun sedikit meninggikan nada bicaranya dan hal itu sukses membuat Yoora mulai ketakutan.

 

Tapi wanita itu mencoba terlihat lebih kuat dari amarah Sehun. “Hah!, kau punya bukti apa kalau kami bersama tadi?. Oh iya, aku hampir lupa kalau kau menyewa mata-mata untuk menyelidiki diriku.” Sindirnya kemudian.

 

Sehun tak bisa membalas, ia lebih memilih melihat keadaan café dari luar untuk memastikan apakah Hyojin masih disana dan sedang dalam keadaan tak baik, tapi untunglah dia tak menemukan sang sahabat disana, meski fakta itu belum melegakan sama sekali untuk Sehun.

 

“Konyol sekali, demi teman kau rela menghabiskan waktu dan energimu untuk berlari kemari.”

 

Sehun memandang Yoora dengan tajam, “Tentu saja. Orang yang dibutakan oleh dendam sepertimu mana tahu mengenai persahabatan?” balasnya tak kalah ketus. Sehun melangkahkan kakinya menjauh dari Yoora tapi seruan gadis itu membuatnya tak bisa diam begitu saja, mengingat wanita itu menjelek-jelekkan Hyojin.

 

“Dasar bodoh! tidak sadar kau hanya dimanfaatkan oleh orang yang kau sebut teman itu?!”

 

“Kalau kau tidak tahu apa-apa lebih baik diam. Kau mengingatkanku dengan anti-fans yang menyebalkan.”

 

Sekali lagi Yoora mendengus sebal, “Gadis itu memanfaatkan keluarga kami untuk kepentingannya sendiri. Dan kau anggap aku masih tidak tahu apa-apa setelah kebangkrutan bisnis ayahku?!”

 

Sehun terkekeh, “Bukannya keluargamu juga memanfaatkannya atas nama hubungan bisnis?. Dari awal ayahmu menginginkan setengah saham Jaeguk dengan pernikahan Chanyeol dan Hyojin kan?. Apa aku salah?”

 

Serangan telak dari Sehun. Tapi Yoora tak mau kalah begitu saja.

 

“B-bukan begitu-”

 

“Lalu apa?. Jangan bilang perjodohan adikmu murni kasih sayang?. Haha, lucu sekali.” Seringai Sehun semakin memojokkan Yoora, “Dengar, Park Yoora-ssi, pengacara muda yang katanya pembela keadilan, harusnya dengan pendidikanmu yang tinggi kau tahu…” Sehun menggantungkan kalimatnya dan menatap Yoora dengan sinis.

 

“…bahwa memanfaatkan orang lain untuk rencana balas dendam juga bukanlah hal yang baik.”

 

***

 

Suara dengungan serangga khas musim panas, siulan merdu burung-burung yang terbang sambil mencari pohon yang nyaman untuk berteduh maupun dijadikan tempat tinggal, serta hawa yang panas namun diselingi dengan semilir angin yang sesekali lewat mampu membawa kedamaian bagi siapapun yang tengah bersantai saat itu. Termasuk Chanyeol yang menikmatinya sambil bersandar dibahu Hyojin.

 

Berbeda dengan pria itu, Hyojin justru tak bisa berpikir jernih. Entah kenapa segala masalah, kejadian-kejadian yang memusingkannya sejak dulu hingga akhir-akhir ini, tiba-tiba muncul disaat suasana menyenangkan sedang ada dihadapannya. Harusnya dia senang, Chanyeol, pria yang disukainya sejak lama kini duduk disampingnya sambil bersandar padanya, hal yang biasanya muncul dalam drama atau komik romantis idaman para wanita.

 

Sayangnya, Hyojin tak merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memikirkan soal kisah manis semacam itu.

 

“Eung?” Chanyeol kaget saat Hyojin tiba-tiba berdiri, mengembalikan semua surat yang ada diatas meja ke kotaknya seperti semula. Hanya saja ditata rapi olehnya tanpa sampah seperti tadi.

 

“Sedang apa kau?” tanya Chanyeol.

 

“Hanya… membereskan kenangan milik orang-orang dan kembali menyimpannya ditempat seharusnya mereka berada.” Jawab Hyojin tanpa memandang lawan bicaranya. “Seperti tumpukan surat-surat yang sudah lama dilupakan oleh pemiliknya ini, tidak seharusnya mereka diungkit kembali. Apalagi kalau hasilnya sia-sia saja.”

 

“Bicara apa sih? Membingungkan.”

 

Hyojin tak menjawab, ia menutup pintu kotak surat itu lalu menguncinya kembali, memastikannya untuk tidak dapat dibuka dengan mudah. Ia lantas berdiri dan mengatakan pada Chanyeol sesuatu yang tidak terduga.

 

“Karena itu membingungkan, mari kita akhiri saja sampai disini.”

 

“Hah?”

 

“Chanyeol-ah…” Hyojin menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, “…aku akan mengakhiri perasaanku padamu. Mulai sekarang, aku tidak akan dan tidak mau menyukaimu lagi. Jadi, kumohon, mengertilah dan jangan lakukan hal yang bisa membuatku jatuh hati padamu.”

 

“Yak! Lee Hyojin, apa maksudmu?. Kenapa tiba-tiba kau-”

 

Hyojin segera memotong ucapan Chanyeol dengan sebuah tepukan tangan keras sekali, cukup keras sampai membuat kedua telapak tangannya memerah.

 

“Aku sudah muak, harusnya dari awal memang begini. Harusnya sejak awal kita tidak bertemu…” meski tersenyum, Chanyeol bisa melihat mata Hyojin memerah dan mulai berair.

 

“Kau ini kenapa sih?!. Kenapa memaksakan segalanya semaumu?!” teriak Chanyeol marah, “Kau pikir aku tidak punya perasaan? Kau kira aku akan setuju kalau kau bilang begitu?. Aku mungkin masih belum tahu perasaanku padamu, tapi aku tidak suka mendengar kau bicara seperti itu!”

 

“Cih, lihat siapa yang egois.” Gerutu Hyojin, yang langsung memalingkan muka begitu air matanya tumpah. “Kau tanya apa aku lelah atau tidak kan?. Jujur, aku lelah… tentang cinta, tentang keluarga, tentang sahabatku, tentang masalahku, dan… tentang kau. Kenapa sih aku tidak bisa membencimu supaya segalanya lebih mudah?!”

 

“Jangan lakukan itu.”

 

“Jangan lakukan apa?” ketus Hyojin, “Memang kau senang ya menggantunggkan perasaanku? Bangga begitu karena ada yang suka padamu? Dasar si-”

 

Bukannya tidak mau menyelesaikan kalimatnya, tapi Chanyeol membungkam Hyojin dengan bibirnya. Benar mereka berciuman, dan Chanyeol bahkan melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar menempelkan bibir, yang bahkan tidak berani Hyojin lihat baik di drama maupun dunia nyata. Ciuman panas sepihak yang membuat Hyojin kaku serta lupa bagaimana cara untuk bernafas.

 

 

~To Be Continue~

 

 

Holaaa holaaaa!

Hehehe maaf updatenya lama, mentang-mentang liburan hari raya malah keterusan libur bikin FF-nya kekekeke *dilempar batu bata* habisnya belum nemu waktu luang setelah liburan dan baru minggu ini agak free huhuhu T.T semoga chapter kali ini menghibur dan memuaskan kekangenan pembaca pada Hyojin dan finally! Bisa bikin scene ciuman HUWAHAHAHAHA!. Soalnya author suka susah kalau bikin adegan hot-hot begitu, maklum, sukanya sama yang dingin-dingin kayak Chanyeol yang di teaser #KOKOBOB graaaa! Jadi gasabar nunggu kambek kekekeke~

 

Yaudah deh, pokoknya selamat membaca dan juga (meskipun telat) MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN pembaca sekalian, saya minta maaf kalau pernah menyinggung perasaan pembaca baik dari FF-nya maupun komentar balasan dari saya. Mulai dari nol yeth~~

 

Okedeh, RCL JUSEYOOOOOO~~~~

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 18

  1. Aku malah ga ad bca ff ini,ga brasa udah part 18 aj,mulai mncari part sebelumnya dulu authornim
    maaf lupa…😅😅😅😅😅😅

  2. Authorr aku merindukanmuu sama ceritamu kembalii, aku selalu pengen tau kelanjutanyaaa, jangan lama lama yaa update nyaa. Fighting!

  3. Akhirnya update juga ff ini.. 😀
    Ceritanya makin rumit ya.. jadi ikut ngerasain masalahnya Hyojin juga.. 😦
    Minal Aidzin wal Faidzin juga thor..
    Di tunggu next chaptnya.. Jangan lama” ya thor.. Fighting.. 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s