[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 8)

STAY WITH ME

Author :

Angeline

Main Cast :

Oh Sehun (EXO)

x

Bae Joo Hyun a.k.a Irene (RV)

Additional Cast :

EXO Members |Kim Ji Yeon (LOVELYZ)|Kim Seolhyun (AOA)| Im Jung Hoo  (B.I.G)| Lee Hyo Eun (STELLAR) |Krystal Jung (FX) |etc~

Rating PG-17|Length Series Fic

Genre : romance | Angst | AU |slice of life | Drama |etc~

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran author sendiri , ceritanya tiba-tiba muncul dalam otak author #ea ,dan dari pada lupa langsung dituangkan dalam bentuk FF seperti ini. Bila ada kesamaan tokoh maupun jalan cerita didalam ff ini , itu bukan merupakan bentuk plagiat #noplagiat! melainkan unsur ketidaksengajaan. Don’t judge, don’t copas.  Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya  (nunduk)

Summary :

Bagaimana jika seorang Oh sehun yang berwatak dingin dan tidak pernah peduli pada orang lain terjebak bersama seorang gadis amnesia bernama Irene? Melalui sebuah pertemuan tidak terduga hingga masalah-masalah yang datang saat keduanya tengah menjalin sebuah hubungan.

-Chapter 8-

Irene nampak sibuk di dapur, sedari tadi gadis itu berkutat pada bumbu-bumbu dapur seorang diri karena ia melarang ajhuma Han untuk ikut membantu. Irene ingin memasakan sesuatu untuk Sehun mengingat semalam, Sehun begitu baik sudah merawatnya dengan lembut. Paling tidak dengan membuatkan makanan untuk pria itu, bisa membayar rasa terimakasihnya untuk apa yang Sehun lakukan.

Pagi-pagi sekali Irene sudah bangun untuk menyiapkan bahan-bahan makanan. Ia bertanya pada ajhuma apa yang Sehun sukai? Dan ajhuma menjawab sehun tidak pernah memilih-milih makanan, dan itu berarti Sehun bisa memakan apa saja.

Irene merasa sangat mahir saat di dapur, seperti ini sebuah pekerjaan yang sering ia lakukan, hal yang sangat dekat dengan hidupnya. Mungkinkah dulu ia memang suka memasak? Ah, jika memikirkan masa lalunya, demi Tuhan Irene sangat takut jika masa lalunya memang mengerikan. Namun tidak! Ia harus percaya kata-kata Sehun, bahwa ia adalah gadis baik-baik.

Lihatlah bagaimana ia memotong bawang dan sayuran dengan ahli, juga cara memasak dengan gesit dan cepat. Irene tersenyum sempurna dikala masakan itu hampir siap. Ia dengan semangat mengatur makanan-makanan itu dengan rapih di atas piring, lalu menaruh makanan itu di atas meja. Kimbap, japchae, kimchi, daging dan telur dadar gulung menghiasi meja makan sehun. Melihat indahnya hasil makanannya Irene begitu puas. Hanya tinggal menunggu Sehun mencicipinya.

Dan tidak lupa ia membuat sebuah jus jambu dipagi hari untuk menambah stamnia Sehun dalam bekerja. Mengingat Sehun sangat suka meneguk minuman sehat berbahan buah-buahan itu setiap hari. Dan Irene sangat berharap Sehun akan memakannya, agar upaya memasaknya dengan tulus hati ini tidak sia-sia. Meski menurut ajhuma, Sehun tidak pernah makan di rumah, namun entah mengapa Irene berharap Sehun memberikan pengecualian untuknya sekali lagi, mungkin? Irene berharap Sehun menerima niat baik Irene sebagai bentuk terimakasih yang tulus darinya.

Irene kini mengedarkan pandangannya, melihat ke atas kamar Sehun dan tidak menunggu lama, manik mata indah Irene melihat jelas sosok tampan yang berjalan menuruni anakan tangga dengan memeriksa berkas-berkas kantor di tangannya. Ya, Sehun yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Tiada waktu baginya untuk beristirahat, jika mengenai pekerjaan kantornya.

Irene segera berjalan menghampiri Sehun yang sudah berada di ruang tengah sambil memeriksa kembali berkas-berkas yang akan dibawa ke kantor. Sehun takut jika nanti ada yang tertinggal, karena hari ini ia memiliki meeting di kantornya.

“Sehun-ssi.” panggil Irene lembut, membuat Sehun menatapnya sebentar dan kembali melihat file kantornya. Ya, setidaknya namja itu mau meliriknya sedikit kan?

Wae?” Tanya Sehun cepat dengan suara khasnya yang begitu Irene kenali, karena memang suara itu yang paling sering ia dengar selama ini. Bahkan jika dibilang, suara Sehun adalah suara favoritnya sekarang.

“Aku memasak sesuatu untukmu sebagai ucapan terimakasihku. Maukah kau mencicipinya sedikit?” Kata Irene memohon pada pria itu. Sehun berhenti melihat filenya dan menatap arah meja makan yang sudah dipenuhi dengan masakan gadis itu. Sehun pun beralih pandang menatap Irene lagi, “Tidak terimakasih. Aku tidak biasa makan di rumah.” Kata Sehun tanpa senyuman dan kembali berkutat pada kesibukannya. Irene kecewa dengan penolakan itu. Ayolah, apa Sehun tidak bisa melihat ketulusan Irene yang rela memasak dari pagi untuknya? Bahkan hanya sedikit?

“Bahkan hanya sedikit? Aku mohon. Hal itu tidak akan membuat waktumu terbuang percuma kan?” Irene masih berharap jika Sehun merubah pikirannya, dan memilih menerima tawaran Irene untuk mencicipi hasil masakannya.

“Kau tahu jawabanku akan tetap sama. Jadi jangan membuang waktumu pada hal yang tidak bermanfaat seperti ini.” Kata Sehun datar, membuat sebuah goresan luka di hati yeoja itu terlukis. Irene menunduk sedih. ‘Ya, kau terlalu banyak berharap sehun akan memakan masakan buatanmu’ Ucap Irene kecewa dalam hatinya. Jangan terlalu senang karena ia berbuat baik padamu semalam, kau berharap Sehun akan menjadi lembut padamu. Sehun tetaplah pria yang dingin untuknya.

“Kau benar. Maaf menganggumu waktumu.” Jawab Irene lesuh, kemudian memutar badannya meninggalkan sehun.

Sehun menatap punggung gadis itu yang nampak sangat kecewa dengan penolakannya. Sehun membuang nafasnya kasar. Mengapa akhir-akhir ini ia selalu merasa bersalah disaat Irene sedih karena ucapannya? Bahkan Sehun merasa, jika ia sangat jahat sudah melukai hati gadis amnesia itu. Ayolah, Sehun hanya mencoba jujur. Ia memang tidak biasa makan di rumah. Namun sepertinya yeoja itu sangat sedih Sehun menolak mencicipi masakan yang ia buat dengan sepenuh hati.

Sehun pun menaruh berkasnya di atas meja, kemudian melangkah mendekat pada meja makan. Sehun memandang Irene yang sedang terduduk lesuh tanpa semangat, sambil menikmati masakannya seorang diri. Dari raut wajah gadis itu, sangat jelas Irene benar-benar kecewa padanya. ‘Tapi sejak kapan kau memperdulikan perasaannya yang kecewa atau tidak? ‘Sialan, ada apa sebenarnya, denganmu Oh Sehun? Mengapa kau menjadi lemah dihadapannya seperti ini?’ Cerca Sehun dalam hatinya. Sehun pun mendesah berat, namun detik selanjutnya tanpa sadar ia tersenyum saat melihat tingkah Irene yang menusuk-nusuk telur dadar hingga menjadi potongan-potongan tidak berbentuk.

Entah mengapa ia tersenyum melihat tingkah menggemaskan Irene? Oh bahkan kau sekarang sering tersenyum karenanya, kau semakin mengakhawatirkan Sehun!

Sehun menarik kursi di depan Irene dan duduk di sana. Irene tahu jika itu Sehun, namun ia enggan mendongakkan kepalanya menatap pria itu.

“Bukankah kau bilang memasaknya untukku? Mengapa kau yang memakannya?” Tanya Sehun protes, dan sontak Irene mulai menatap wajah Sehun. Namun Irene menatapnya dengan wajah yang menunjukkan kekesalannya pada pria itu.

“Kau tidak mau makan kan? Jadi apa aku salah jika memakannya?” Tanya Irene ketus dengan pria itu.

Oh, bahkan Irene sekarang sudah berani merajuk pada namja itu, dan berbicara sedikit ketus dengan penolongnya itu? Kau sungguh berani nona Irene. Rasanya Irene tidak takut lagi pada Sehun, yang saat pertama kali bertemu dengannya, menunjukkan sisi dingin dan tidak peduli. Tapi seminggu tinggal dengan Sehun, rasanya Irene tidak peduli lagi akan sosok dingin di depannya ini.

Dan anehnya, entah mengapa saat mendengar Irene berbicara ketus padanya, tidak membuat Sehun marah atau kesal. Melainkan Sehun merasa sangat gemas melihat sifat Irene yang seperti anak kecil, saat sedang merajuk karena tidak dituruti keinginannya. Dan itu membuat Irene nampak imut dan menggemaskan di mata Sehun. Ada apa denganmu sehun? Mengapa perasaanmu tidak terkontrol seperti ini di dekat Irene? Sehun lagi-lagi berucap dalam hati kecilnya. Dan itu semua karena Irene.

“Bagaimana jika aku memakannya?” Tanya Sehun lagi. Bahkan saat ini di dalam pikiran Sehun, ia hendak membuat gadis itu kembali memarahinya. Kau benar-benar sudah gila Oh Sehun!

“Tidak usah repot-repot!” Kata Irene ketus, dan sontak senyuman Sehun kembali mengembang sempurna. Usahanya ternyata berhasil untuk memancing Irene agar kesal padanya. Bahkan rasanya sangat menyenangkan melihat gadis itu merajuk padanya seperti ini. Ini membuat Sehun bisa tersenyum, dan melupakan kesakitannya.

“Kau berani mebentakku?” Tanya sehun berpura-pura marah pada Irene, dengan wajah yang mulai Sehun seriuskan. Irene nampak berfikir sejenak, ‘ah dasar gadis gila! Bisa-bisanya kau berani memarahi Sehun seperti itu.’  Batin Irene merutuki kebodohannya. Irene menatap Sehun dengan sedikit takut. Tapi Irene kembali kesal, saat kembali menatap Sehun, rasanya ia mau menjambak rambut Sehun saja. Entah kenapa ia ingin melakukannya.

“Maaf, aku tidak akan mengulanginya.” Kata Irene dengan nada ketus.

Sehun pun mengambil japchae dan megisinya pada piringnya. Kemudian Sehun menyeruput makanan yang berbahan dasar mie itu, dan segera memasukkannya ke dalam mulutnya. Irene seketika tersenyum senang melihatnya. Rasanya, kemarahannya langsung sirna melihat Sehun mau menyipi makanan itu. Bagi Sehun, ketika merasakan masakan Irene, rasanya benar-benar begitu lezat. Bahkan setara dengan masakan restaurant korea.

Sehun kembali mengambil kimbab dan segera memasukkan potongan sedang kimbab itu ke dalam mulutnya. Ia sejujurnya merindukan masakan rumah seperti ini. Sudah berapa lama ia tidak memakan makanan korea seperti ini? Sungguh ia merindukan ketika ia kecil, ibunya sering memasak masakan seperti ini untuknya. Oh, Sehun merindukan saat-saat itu. Masakan Irene benar-benar mengingatkannya pada ibunya yang ia rindukan setengah mati. Bahkan Sehun lupa, kapan terakhir kali ia bertukar kabar dengan ibu kandungnya itu. Apa ibunya juga merindukannya?

Sehun menyelesaikan kegiatan makannya dengan meneguk jus jambu di atas meja. Ia yang berniat hanya menyipinya, berakhir hampir mengahbiskan masakan yang Irene buat. Dan ia sangat terkejut karenanya. Lagi-lagi gadis ini berhasil membujuknya melakukan sesuatu yang tidak ada dalam peraturannya.

Gomawo.” Kata Irene tersenyum. Dan sekali lagi, sihir yeoja itu membuat jantung Sehun berpacu lebih cepat dari biasanya. Sehun mengalihkan pandangannya ke samping, hanya untuk mengatur detak jantungngnya yang tidak normal itu. Sehun berdehem pelan, dan kembali menatap Irene.

“Aku tidak melakukannya karenamu. Kebetulan aku sedang lapar saja.” Kata Sehun bohong. Padahal ia melakukan ini karena tidak menyukai Irene bersedih karenanya. Dan ya, memang ia tergiur karena melihat makanan-makanan Irene yang sangat lezat.

“Tetap saja terimakasih.” Kata Irene tersenyum manis.

Sehun membuang nafasnya dan segera berdiri, lalu meninggalkan meja makan itu. Tidak lupa ia mengambil berkas-berkas kantornya di atas meja ruang tamu, kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah mewah itu. Irene tersenyum sambil tangannya bergerak membereskan piring-piring di atas meja, bekas sehun dan dirinya. Ajhuma yang sedari tadi berada di taman belakang untuk membersihkan area itu, kini sudah berada di samping irene yang sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Ajhuma ikut tersenyum bahagia melihat Irene senang seperti ini.

“Kau gadis pertama yang membuatnya makan di rumah.” Kata ajhuma tersenyum sambil membantu Irene membereskan piring yang ada.

Mwo?” Irene terkejut mendengarnya. Apa ajhuma tidak salah bicara? Gadis pertama katannya? Sungguh? Irene tidak percaya akan hal itu, namun expresi ajhuma sangat meyakinkan. Dan lagi, untuk apa ajhuma berbohong padanya?

“Tuan muda tidak pernah makan di rumah lagi, semenjak orang tuanya bercerai. Bahkan nona Ji yeon tidak sanggup membujuknya untuk makan di rumah, tetapi kau… dia menurut padamu Irene.” Jelas ajhuma membuat semburat merah di pipi yeoja itu merekah keluar. Haruskah ia senang dengan hal ini?

Irene menjadi yeoja pertama yang membuatnya berhasil duduk makan di rumah? Benarkah itu? Mengapa rasanya Irene sangat senang mendengarnya? Ini seperti sebuah reward berharga yang ia terima, ia benar-benar gembira bukan main. Merasa sebagai yeoja penting dalam hidup Sehun? ‘Eiy mimpimu terlalu tinggi nona.’ Ucap Irene dalam hatinya. Yang jelas ia sangat senang mengetahui hal itu. Apakah terlihat jelas sekali jika saaat ini hatinya menaruh perasaan pada sehun?

~

Sehun menatap kosong ke depan, wajahnya tidak menunjukkan sedikit perasaan baik-baik saja. Bahkan setelah pagi tadi ia sempat dibuat tersenyum oleh Irene. Namun perkataan Ji yeon tadi malam serasa masih terngiang jelas di kepalanya. Sungguh sangat bohong, jika Sehun bilang bisa melupakannya begitu saja. Tidak! Sekali lagi Sehun hanya manusia biasa. Kata-kata tajam Ji yeon membuat ia harus kembali flashback pada kejadian menyakitkan semalam di mana, mendengar paparan Ji yeon tentang pernikahan. Dan yang lebih menyakitkan adalah, seorang bayi yang sedang ia kandung saat ini. Rasanya sakit itu menjalar keseluruh sarafnya membuatnya tidak terfokus mengerjakan sesuatu dengan baik.

Ji yeon sudah merebut dunianya dari dulu, membuat Sehun dengan senang membagi dunianya untuk gadis itu. Namun semua seperti sirna saat kata-kata itu yang mengandung arti menyakitkan itu, terlontar keluar dari bibir kecilnya. Sungguh sebuah pernyataannya yang belum bisa ia terima dengan lapang dada. Sebuah pernyataan yang belum bisa ia percayai hingga detik ini. Ia masih berharap semua itu kebohongan belaka dan Ji yeon masih sama seperti dulu. Ia masih berharap ia sedang bermimpi buruk disiang hari, dan saat bangun semua akan baik-baik saja. Ia masih berharap sercecah harapan, jika Ji yeon masih berada di sisinya. Mengapa? Mengapa harus Ji yeonnya? Dan mengapa ia tidak bisa mendapatkan gadis yang ia cintai setengah mati itu? Mengapa cintanya tidak semulus saat ia menghasilkan milyaran uang?

Sehun yang masih sibuk membengong di ruang kerjanya, tidak menyadari jika Jongdae tengah berada di ruangan itu. Meski nyatanya namja bertubuh pendek itu sudah mengetuk puluhan kali pintu Sehun, tapi Sehun tidak menggubrisnya membuat Jongdae sangat kesal, dan membuatnya langsung lancang memasuki ruangan itu tanpa berfikir abc lagi. Toh Sehun tidak akan marah jika ia berlaku kurang ajar pada Sehun. Oh, Jongdae bukan orang asing untuk Sehun, ia bebas melakukan apa pun yang ia mau.

“Yak Oh Sehun!” Bentak Jongdae pada Sehun, membuat pria yang sedang melamun itu melonjak kaget dan langsung mengelus dadanya.

“Sialan! Kau tidak tahu sopan santun huh?!” Umpat Sehun kesal dan menatap tajam Jongdae di depannya. Berharap ia bisa menghajar sekretaris, sekaligus sahabatnya itu, sekali saja.

“Kau sehat? Aku memanggilmu dari tadi, tapi kau seperti patung. Tidak bernyawa.” Protes Jongdae, dan membuat Sehun akhirnya sadar. Jadi sudah berapa lama ia melamun seperti tadi? Ji yeon memberikan efek buruk untuknya, dan sekarang malah ia tidak fokus bekerja. Menyebalkan memang.

Wae?“ Tanya Sehun malas sambil menatap Jongdae.

“Kau ingat tn. Im Jung Woo? Ia mengajakmu bertemu besok siang untuk membicarakan kerja sama dengan perusahaanmu. Kemudian pembangunan hotelmu di Paju hampir selesai. Lalu villa yang baru saja kau beli di Jeju, sudah selesai proses. Dan mobil Ferrari F60 americamu,  sedang dalam pengiriman ke Korea.” Kata Jongdae sambil memberikan sebuah berkas untuk Sehun tanda tangani. Dengan cepat Sehun menyoretkan pulpennya pada berkas itu.

“Ada lagi?” Tanyanya pelan setelah selesai menandatangani berkas itu, dan Jongdae langsung mengambil kembali berkasnya.

“Aku mau keluar dari perusahaan.” Ucap Jongdae membuat Sehun langsung menatap jongdae sambil melebarkan matanya pada pria itu. Keluar? Yang benar saja? Jongdae kira, perusahaannya kedai coffe? Seenaknya saja masuk dan keluar.

“Mengapa tiba-tiba? Yak! Apa gaji 65jt won itu kurang huh? Katakan padaku akan aku naikkan menjadi 80 jt won jika perlu!” Ucap sehun melotot pada namja itu. Apa-apaan jongdae itu, keluar dari perusahaan seperti ia keluar dari kedai coffe.

“Tentu saja tidak! Aku hanya bercanda. Aku lihat kau sedang kacau, apa karena Ji yeon semalam? Baekhyun bercerita padaku tentang semalam. Ah, dan aku melihat foto kau berciuman dengan Seolhyun. Ck, luar biasa!” Ucap Jongdae tertawa, dan mendudukan tubuhnya di kursi santai Sehun.

Sehun menghela nafasnya dan menaruh pulpennya yang tadi ia pegang di atas meja. Sehun menutup matanya dan menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan juga. Jongdae yang menyebut nama Ji yeon membuat dadanya sesak seketika itu juga. Dan harus membuatnya kembali mengingat ucapan yang membuatnya kecewa semalam. Apa harus sesakit ini?

“Sehun-ah, cinta itu tidak bisa berjalan menurut kehendak kita!” Kata Jongdae membuat Sehun membuka matanya, mencerna ucapan bijak jongdae itu, yang sangat jarang keluar menurut Sehun, “Ia terkadang bisa menyakiti kita, namun pada akhirnya membawa kepada kebahagiaan yang kita harapkan.” Tambah namja itu lagi. Sehun menatap Jongdae yang sedang tersenyum padanya. Sehun terkekeh pelan, dan menegakkan tubuhnya.

“Kau bijak? Tumben sekali, ckck.” Cibir Sehun, membuat Jongdae menggeram kesal. Bukannya Sehun mengiyakan ucapan bijaknya yang jarang sekali ia keluarkan itu, namun malah mencibirnya. Jongdae kemudian meregangkann otot-ototnya lalu berdiri.

“Aku penasaran dengan gadis simpananmu itu, kata Baekhyun ia sangat cantik dan seksi. Sayang aku tidak datang ke clubbing semalam. Ah sialan! Ini karena pekerjaan yang kau berikan.” Kekeh Jongdae membuat Sehun melemparnya dengan sebuah map. Jongdae tertawa lebar. Dan Sehun menatapnya dengan tajam. Apa pria itu ketularan sahabatnya yang lain? Ya, sangat jarang Jongdae mengucapkan kata sexy dari mulutnya. Dan Sehun benar-benar tidak suka Jongdae membicarakan Irene cantik dan sexy.

“Bagus, kembali seperti Sehun yang selalu bersikap dingin dan kasar! Jujur kau terlihat menjijikan saat sedang melankolis seperti tadi.” Kata Jongdae tertawa, lalu keluar dari ruangan Sehun.

Sehun mencerna ucapan namja itu, apa ia terlalu terbawa perasaan hanya untuk seorang gadis? Apa kepribadiannya berubah drastis hanya seorang gadis bernama Ji yeon menolaknya? Tapi Ji yeon memanglah hal yang penting dalam hidupnya, tapi mungkin ia sudah berlebihan hanya karena penolakan itu. ‘Yah, kembali jadi dirimu yang tegar Oh Sehun! Kau tidak cocok bersikap melankolis seperti kata Jongdae. Bukan style mu. Semua baik-baik saja, Ji yeon bukanlah satu-satunya gadis di dunia ini . Banyak yang sepertinya, asal bukan Seolhyun’ Yakin Sehun dalam hatinya.

Sehun mengambil foto Ji yeon dari lacinya dan kemudian merobek foto itu, dan membuangnya ke tempat sampah. Sehun menarik nafasnya dan menghelanya dengan teratur.

“semua akan baik-baik saja kan?” Gumamnya pelan.

~

Seorang yeoja dengan style serba hitam tengah duduk disofa cafe dengan minuman berjenis Coffe di depannya, yeoja yang menggunakan kacamata hitam itu nampak menunggu seseorang yang tengah mengikat janji dengannya siang ini. Hingga kini pandangannya terarah pada seorang namja bertubuh tinggi dengan kaos hitamnya yang dilapisi jaket berwarna merah marun, keluar dari mobil sedan hitamnya dan berjalan memasuki caffe itu. Pria itu kemudian berjalan ke arah gadis itu setelah tahu di mana gadis itu duduk. Wajahnya tidak menunjukkan jika pria itu adalah seorang yang lembut, melainkan penuh dengan sisi gelap dan kekerasan.

Dan detik selanjutnya namja itu sudah duduk di depan yeoja cantik itu, dengan menyatukan kedua telapak tangannya sambil menatap serius wajah gadis di depannya itu. Gadis yang sedari sudah menunggu kehadiran pria itu langsung melepaskan kacamatanya dan menegakkan tubuhnya untuk bertatapan dengan sang pria . Matanya terangkat menatap sorot wajah namja itu. Keduanya seperti sedang menjalani sebuah misi rahasia. Nampak sangat serius, ditambah lagi dengan tatapan tajam pria itu pada sang gadis.

“Ini sudah seminggu! Dan kau belum menemukkannya. Jika sampai genap satu bulan ia belum diketemukan juga, kembalikan uangku!” Ucap sang pria tanpa mau berbasa basi. Gadis itu menyunggingkan senyumannya, dan meneguk minumannya singkat.

“Bukankah itu salahmu? Anak buahmu memperlakukannya dengan buruk. Bahkan kau juga ikut menyiksanya! Lalu kau mau aku berbuat apa?” Suara gadis itu terdengar sedikit pelan saat berbicara karena pembicaraan kedua orang itu sedikit berbau criminal. Dan mereka tidak mau mengambil resiko jika sampai topic pembicaraan ini terdengar oleh orang lain. Akan sangat bahaya.

“Itu terserah padaku! Kau harus tau jika aku mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan gadis itu! Bahkan sangat banyak. Tapi kau malah menggampangkan masalah ini! Sialan.” Bentak pria itu sedikit tertahan, ingin rasanya pria itu mencaci gadis di depannya sampai puas. Namun sekali lagi, ini adalah tempat umum, dan mereka tidak bisa seenaknya berucap dengan puas.

“Itu bukan urusanku, perjanjiannya adalah aku menjualnya padamu. Entah ia kabur atau tidak, itu bukan tanggung jawabku. Yang jelas, gadis itu sudah menjadi milikmu saat kau membayar dan aku menyerahkannya.” Seru yeoja itu tersenyum dengan gampangnya.

“Kau lupa jika kau menyerahkan gadis itu sehabis ia mengalami kecelakaan? Bahkan ia hanya dirawat semalam saja di rumah sakit. Kau dan kekasihmu memang sudah gila!” Seru pria itu lagi dengan amarah.

“Yang penting kau masih bisa menidurinya kan?” Kata yeoja itu menaikkan alisnya tersenyum miring membuat pria itu semakin menggeram kesal.

“Ini bukan hanya masalah tentang menidurinya! Aku ingin barang bagus, bukan cacat! Dan  kau kira aku tidak tahu rencanamu selama ini?” Tanya pria itu membuat tubuh yeoja itu menegang sempurna, rasanya bibirnya keluh untuk menjawab. Apa yang pria itu ketahui darinya? Rencana apa yang ia tahu?

“Ma– maksudmu?” Tanya yeoja itu sedikit gugup sambil menatap pria itu. kini sang pria giliran tersenyum kemenangan.

“Ayolah Lee Hyo eun! Kau kira aku bodoh dan tidak memegang kartumu sama sekali? Aku tahu kau akan menyepelekan masalah ini. Kau dan kekasihmu sudah melakukan hal luar biasa. Dan pria misterius itu, siapa namanya…em-“

“Kau gila! Tutup mulutmu! Apa maumu huh?!” Kini suara gadis bernama Lee Hyo eun itu cukup meninggi membuat pria itu tersenyum kemenangan lagi.

“Aku ingin kau menemukan gadis itu, dan menyerahkannya sebelum pria itu yang menemukannya.” Seru pria itu bernama Leo itu, dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Hyo eun menatap kesal Leo, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil dan segera keluar dari caffe itu dengan sedikit marah. Ia tahu betul pria siapa yang dimaksud Leo. Bahkan kini ia dan kekasihnya juga sudah ikut terjebak sedikit dalam dengan permasalahan menyangkut pria misterius itu.

~

One Weeks Later

Sehun memasuki rumahnya setelah lelah pulang dari kantor kemudian menatap terkejut seorang yeoja yang tertidur di sofa dengan tv yang menyala. Sehun menggeleng pelan dan lagi-lagi ia tersenyum, rasanya hatinya ikut senang melihat wajah Irene yang tertidur pulas dengan damai di sofa empuk itu. Apa kau tahu bagaimana cara mendekripsikan perasaan Sehun yang tidak jelas ini? Sehun juga tidak tahu perasaan apa yang singgah hingga menganggunya seperti ini? Ia masih menyangkal dengan tegas jika ia sudah terpikat sedikit dengan gadis amnesia di rumahnya itu. Namun yang jelas, ia tidak memungkiri jika saat ini ia selalu senang jika tersenyum karena Irene.

Memang terdengar sangat aneh, namun itulah yang terjadi pada Sehun selama 2 minggu gadis itu berada di rumahnya, dan membuat suasana baru untuknya. Bahkan rasanya ia menjadi orang yang lebih berbeda dalam artian positif karena Irene.

Ajhuma mendekati Sehun lalu menunduk singkat, dan mengambil jas milik tuan mudanya itu.

“Sudah berapa lama dia di situ?” Tanya Sehun cepat sambil melipat lengan bajunya. Ajhuma yang baru mau melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menaruh jas ini di kamar Sehun, berhenti sejenak dan menatap Sehun, “Dari sekitar jam setengah sembilan tuan, aku tidak tega membangunkannya karena ia sangat nyenyak sepertinya.” Kata ajhuma Han kemudian melangkahkan kakinya menaiki tangga dan langsung menuju kamar sang tuan.

Sehun melangkah menuju sofa panjang itu. Sehun berjongkok dan menatap gadis itu, ia melihat wajah indah yang sedang tertidur pulas di sofa. Bahkan Sehun sangat ingin tahu apa yang Irene mimpikan dalam tidurnya? Mengapa ia bisa secantik ini saat tidur? Bahkan saat ini, Sehun sedang mengembangkan senyumannya ketika melihat Irene. Sungguh perasaan apa yang sedang mengusik hatinya ini? Dan bagaimana bisa seorang gadis begitu cantik seperti ini? Tidak! Bukan hanya cantik, namun Irene sangat indah menurut Sehun. ‘Astaga apa yang merasukimu oh sehun?’ Gumam Sehun dalam hati.

Sehun dengan lembut menyisipkan helaian rambut Irene yang menutupi wajahnya ke belakang telinga, dan kini wajah gadis itu terlihat sempurna tanpa anak rambut yang menutupi wajahnya.

Sehun kemudian mengangkat tubuh Irene dengan pelan takut jika nanti Irene terusik lalu bangun. Sehun ingin membaringkannya di ranjang yang nyaman, karena Sehun khawatir Irene akan mengalami sakit di punggungnya besok pagi, karena tempat tidur yang tidak nyaman. Meski dibilang, sofa milik Sehun itu adalah sofa yang sangat empuk seperti sebuah ranjang, namun tetap saja Sehun ingin gadis itu berada di ranjang, bukan disebuah sofa.

Sehun menaiki anak tangga secara perlahan rasanya tubuh Irene dalam gendongannya bahkan tidak terasa berat. Sehun  kemudian membuka kamar Irene meski sedikit kesusahan, namun ia juga berhasil membukanya. Namja itu berjalan menuju ranjang besar dengan seprai berwarna putih, dan langsung membaringkan Irene di sana dengan pelan. Sehun menatap damai wajah itu. Kemudian menyelimuti gadis itu hingga batas dadanya dan membelai lembut kepala Irene, entah apa yang mendorongnya melakukan hal manis pada gadis itu, hanya saja ia ingin melakukannya. Apa memang ia menyukai Irene? Tidak-tidak ini hanya sebuah rasa simpati padanya kan?

“Harus kuakui, kau adalah seorang malaikat.” kata Sehun tersenyum tipis. Lalu Sehun berdiri dan hendak keluar, namun ia terhenti saat merasa seseorang menahan ujung kemejanya untuk tetap tinggal di sana. Sehun menatap Irene yang masih terlelap dalam tidurnya, namun tangannya memegang ujung kemejanya. Apa ia mengiggau lagi? Segera Sehun kembali duduk di tepian tempat tidur dan menatap Irene

“Itu bukan aku.” Lirih Irene pelan dengan mata terpejamnya.

Sehun mengerutkan dahinya bingung. ‘Ia mimpi buruk lagi? Apa masih sama seperti terakhir kalinya?’ Pikir Sehun khawatir. Apa Irene kembali melihat gadis yang sedang bercumbu dengan seseorang?

“Irene?” Seru Sehun pelan, dan menepuk pelan pipi gadis itu untuk membangunkannya.

“Tidak! Aku tidak melakukannya.” Racau Irene sambil menggelengkan kepalanya. Ia kembali mengeluarkan peluh di sekitar wajahnya.

“Bangun Irene.” Seru Sehun sedikit keras.

“BUKAN AKU!” Teriak Irene yang langsung terduduk dengan nafas terengah seperti ia habis lari maraton. Ia menatap Sehun yang berada tepat di depannya. Sehun sedang menatapnya dengan raut wajah khawatir, dan tanpa berfikir panjang Irene langsung memeluk namja itu dengan erat. Sehun jelas terkejut namun tidak berniat menolak, ia tahu Irene sedang mengalami masa yang sulit. Ya, amnesia bukanlah hal kecil kan? Ia tahu bagaimana perasaan saat seseorang tidak bisa mengingat apa pun, pasti menyakitkan dan merasa seperti terkena sebuah kutukan.

Sehun membuang nafasnya dan membalas pelukan gadis itu, dan mencoba menenangkannya. Dan rasanya, Irene semakin mengeratkan pelukannya pada leher Sehun, dan juga Sehun dengan jelas mendengar deru nafas Irene yang tidak teratur. Gadis ini sangat takut sepertinya.

“Aku di sini.” Kata Sehun berbisik dengan lembut, namun Irene menggeleng cepat dan tubuhnya bergetar karena takut dan gelisah. Irene masih memikirkan kemungkinan, jika gadis yang selalu berada di mimpinya itu, adalah dirinya sendiri. Betapa menakutkannya hal itu untuk dipikirkan.

“Aku tidak melakukannya hun, bukan aku.” Irene menangis tersedu-sedu, dan Sehun mengelus punggung Irene dengan sabar.

“Aku tahu, itu bukan dirimu. Tenanglah hm?” Tambah Sehun untuk mempercayai ucapan Irene. Gadis itu masih menangis dalam pelukan Sehun. Atau lebih tepatnya, jika mengatakan mereka sedang berpelukan dalam kegelapan kamar Irene yang hanya diterangi lampu tidur kecil di atas meja kamar Irene, di samping ranjang itu.

“Ssshh tenanglah, semua baik-baik saja.” Yakin Sehun pada Irene, berharap gadis itu berhenti menangis. Kemudian detik selanjutnya Irene melepaskan pelukannya, namun masih dengan wajah takut dan gelisahnya. Mereka saling berpandangan dan Sehun seperti bisa merasakan ketakutan gadis ini.

“Kau harus percaya, jika aku tidak melakukannya.” Jelas Irene pada Sehun, sambil memegang tangan Sehun dengan erat.

“Irene, aku percaya padamu. Tenanglah.” Kata Sehun membelai lembut pipinya. Irene mengangguk cepat dan kembali memeluk Sehun. Pria Oh itu, hanya membelai lembut surai cokelat gadis itu.

Apa yang sedang mereka lakukan ini? Mereka terlihat seperti sepasang kekasih saja. Tapi tidak! Saat ini mereka tidak memikirkan hal tentang cinta, karena yang mereka pikirkan adalah masalah seorang gadis amnesia bernama Irene saat ini.

“Jangan tinggalkan aku hun. Kumohon tetaplah di sini menemaniku. Aku sangat takut, bermimpi buruk lagi.” Pinta Irene pada Sehun yang masih setia memeluknya dengan hangat. Dan tanpa berpikir panjang Sehun mengangguk. Irene bernafas lega karena itu. Sejujurnya ia membutuhkan seseorang untuk menemaninya malam ini.

“Tidur sekarang, aku akan berada di sini untuk menjagamu.” Jelas Sehun.

Dan Irene langsung membaringkan tubuhnya, dengan tetap menggenggam tangan Sehun. Dan sang pemilik tangan tidak memepermasalahkan hal itu. Ia sadar Irene hanya takut, dan membutuhkan seseorang menjaganya. Sehun ikut merasakan sakitnya Irene tentang masa lalunya yang perlahan menunjukkan jati diri mereka satu persatu, meski ia tahu kepingan ingatan itu sangat tidak mengenakkan untuk diingat. Namun tetap saja itu bagian masa lalunya, dan mungkin hal itu sangat penting. Dan sehun yakin, Irene bukan gadis murahan seperti yang muncul dalam ingatannya, ia percaya Irene gadis baik. Benarkan?

Irene masih belum terlelap, mungkin karena ia habis mimpi buruk dan bayang ketakutan itu masih menghantuinya. Sehun masih setia menjaganya sambil terkadang beradu pandang dengan mata Irene.

“Hun.” Seru Irene dengan lembut.

“Hm?” Gumam Sehun dan menatap wajah Irene.

“Mengapa kau baik padaku?” Tanya Irene dan mulai menseriuskan pandangannya pada Sehun. Kini Sehun berfikir sejenak, ia juga mempertanyakan hal itu. Padahal dulu, ia sangat suka mencaci Irene orang rendahan, jalanan dan yang lainnya. Namun sekarang ia sangat bersikap manis pada Irene layaknya Irene adalah kekasihnya sendiri. Bukankah Sehun sudah gila?

“Aku tidak tahu, aku hanya melakukannya. Apa kau mau aku terus bersikap kejam dan dingin padamu hm?” Tanya Sehun, membuat Irene tersenyum tipis.

Sehun mengalihkan pandangannya pada tangan yang sedang ia genggam itu. Irene pun mendudukkan tubuhnya dan menatap manik mata sehun yang kini menatapnya lekat sekali. Bahkan tangan mereka masih enggan terlepas. Sehun masih menggenggamnya dengan erat, begitu juga Irene masih ingin terus menggenggam tangan Sehun.

“Bolehkah aku berkata jujur?” Tanya Irene, dan Sehun menganggukkan kepalanya. Tangan keduanya masih saling menyatu tanpa ada niatan dari kedua belah pihak untuk melepaskannya, seakan genggaman itu menyimbolkan perasaan masing-masing.

“Aku– menyukaimu Hun.” kata Irene begitu jujur

-To Be Continued-

Hayo siapa yang nunggu kalimat final di atas? Haha, Gak ada palingan ya /wkwk/ Terus nungguin kelanjutannya ya, Jangan lupa berkomentar setelah baca. Aku tuh selalu senang baca komentar kalian, soalnya bisa bikin aku senyam senyum sendiri, jiahh authornya gila! Haha. Jangan bosen untuk komentar, dan terus tunggu ff ini sampai selesai yah. Thankyou /Luvyu/

Iklan

34 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 8)

  1. Iya aku setuju usulan ada media gambarnya gitu disetiap chapternya jadi bisa lebih dapet ngebayangin mereka yg kegini kegitu. Masa lalu irene pasti korban jual beli manusia nih dan si leo ini si leo leo member vixx bukan.. Wah si irene udh main jujur aja bakalan gimana ya si sehunnya apa dia malah bakal ngejauhin irene. Ditunggu chapter selanjutnya

    • Sempet emang, memikirkan adanya gambar di ceritanya,
      Tapi terkdang masih belibet gitu..😂 /plak/ sebenarnya sih kadang penyakit malas juga yg mendominan /PLAK Again/ 😂
      Tapi nnt diusahakan yah chingu..

      Terimakasih utk saran dan komentarnya /luvyu❤/

    • Manisss ya?😂 asikkk..
      Ciye suka gaya mbak irene…
      Zaman sekarang cwek ungkapin dluan😂😂 /Plak so hard/🔫

      Terimaksih sudh berkomentar /luvyu❤/

    • Baperan eaaakk😂😂 senang kalau ada yg baper gituh😂..
      Bhaks, langsung jadian😂..
      Nntikanlah chapter selanjutnya..

      Terimaksih sdh berkomentar /luvyu❤/

  2. Kasian irene, trnyata dia jadi korban org jahat macem lee hyo eun. Irene bilang ska ke sehun. Jdah trima aja sehun. Sweet nyaaa

    • Eaps, gimana tuh Hun?😂
      Sengaja taruh tbcnya disitu, biar readers baper /eak😂/

      Hahahha semoga sesuai harapan yah, momentnya berlimpah ruah😂..

      Yups, terimaksih sudh berkomentar /luvyu❤/

  3. Ya elah, kakkkk… Lagi greget itu 😣

    Move on hun!! Move on!! *gue juga 😅
    Itu siapa lagi, yg nyiksa Irene ya? Iya, ya? Ah, intinya gue masih penasaran sm lanjutnya..
    Ditunggu kak, chap selanjutnya.. Fighting 😄

    • Greget kah?😂 sama dong yah..
      Tuh hun? Disuruh move on..
      Siapa kira2 yah?
      Penasaran kah? Nantikan chapter selanjutnya yah😊

      Terimaksih sudh berkomentar /luvyu❤/

  4. Greget ah lg enak enak baca malah tbc. Oh yaa thor boleh kasih saran ga? Aku Suka ff yg ada gambar2 gitu kayak irene lg pake baju apa atau lg dimana..

    • Bhaks😂🔫 maapkeun karena membuatmu jengkel dengan tbc yang tidak tahu tempat seperti itu😂

      Iya, ada rencana mau masukin gambar juga. Tapi agak ruwet gitu ngirimnya,😂..
      Lihat ke depannya gimana deh ya,😊
      Terimaksih ytk saran dan komentarnya /luvyu❤/

  5. Lagi serius seriusnya baca yahh malah tbc
    Gue kesel sama lo thor:v
    Bagian terakhir manis banget;)
    Irene udah pernah ditidurin sama leo belom?
    Gue harap sih belom ya
    Penasaran sama cowok misterius itu
    Lanjutnya peeeeliiiiissss jan lama lama yakk hehe
    #readermaksa
    Btw thor ada wattpad gak? Kalo punya, kamu ada cerita ngga di wattpad? Biar gue bisa baca disana juga wkwkkw

    • Hahaha, maapkeun aku yg sudh membuatmu kesal yak😂..
      Semoga aja Irene belum diapa-apain yah..

      Akun wattpad, ada. Tapi, jaran aku buka, dan belum aku post cerita apa pun di sana😂. Sampe berdebu itu wattpad. Lagian aku lupa sandinya apa😂 /gubrak/
      Tapi ada rencana utk ngepost di sana jga kok..
      Hehe, dinantikan saja eaa..
      Terimaksih sudh berkomentar /luvyu❤/

  6. Woooaahh ga nyangka irene bakal bilang gitu, shock pasti si sehun tuh haha
    Daan aku makin penasaran irene itu siapa sebenernya??pria misterius siapa lagi??
    Gila lee hyo eun jahat banget ngejual irene pas lagi hilang ingatan ckckck
    Eem selamet juga deh buat irene udh bisa bujuk sehun makan di rumah
    Bagus author ceritanya, ngalir dgn santai jalan ceritanya dan tambah bikin penasaran
    Ditunggu next chapnya yaaa

    • Gak nyangkah kah? Author aja gak nyangka irene ngomong gtu /plis anggap angin lewat/
      Penasaran siapa Irene sebenarnya? Ditnggu aja, masih rahasia negara 😂🔫

      Iya itu mbak hyo eun gila, ngejual Irene yg tak berdosa :”)

      Terimaksih sudh dibilang bagus :”) aing bersyukur skali -,- /hug/
      Terimaksih sudh berkomentar /luvyu❤/

  7. Ya ampun thor thanks bat, banyak adegan sweetnya disini. Ya ampun, kusampe cengengesan sendiri 😀 dan masa lalu Irene perlahan terkuak 😮

    • Sama2 yah, author juga maksih sudh dibaca ff absurd nan butek seperti ini :”) /tears mode on/
      Jangan cengengesan depan orang yg penting😂

      Iya, penasaran kah sama masa lalu Irene? Hehe
      Nantikam chapter selanuutnya yah

      Terimaksih sudh berkomentar /luvyu❤/

  8. loh hun terima aja lah. jgn gengsi mulu, memendam cinta itu gk baik loh!! (ngomong apaan sih. sok bijak deh!) *digampar author

    wah bentar lagi mungkin irene bakal ketngkep sm penjahatnya. wkwk #ketawa jahat😌

    fightting!!! 😘

    • Bhakss, sih sehun gengsi yakk.
      Tuh hun, denger! Nyimpen rasa diem2 itu gak baekk.
      Kuy dinyatain sama gue langsung /plak so hard/ 😂

      Terimaksih sudh komentar kak /luvyu❤/

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s