[EXOFFI FREELANCE] The Forgotten One – The Beauty

(best read while listening to EXO – XOXO (Full Album))

Aurrsyj’s storyline

The Continuation of 2014’s “Imprinted

The Forgotten One

( The Beauty )

Yoon So Hee

Alia Wu

EXO

Luhan

Kris

Tao

and others.

“You all shall forget me…”

***

Gadis bergaun merah itu berlari di antara pohon pinus. Dia tidak bisa melihat apa yang ada di depan sana karena semuanya begitu gelap. Dia hanya terus berlari dan sesekali menoleh ke belakang.

Wajahnya dipenuhi ketakutan.

“Agh!” dia menjerit sesekali ketika satu-dua ranting melukai kulitnya. Tapi dia tidak menghiraukan, yang dia inginkan hanya menemukan ujung hutan ini dan menemukan tempat bersembunyi.

Mata gadis itu memerah, keringat bercucuran di pelipisnya. Dia menoleh sekali lagi dan menemukan makhluk itu di belakangnya. Sebuah ranting menggores lengan kirinya hingga berdarah. Dia mengerang kesakitan, sementara tenaganya sudah habis tak tersisa.

Gadis itu jatuh tersungkur. Dia memegangi lengan kirinya yang terus mengeluarkan darah. Ketika dia mendongak, napasnya kembali memburu. Air mata jatuh sedikit dari pelupuk matanya. Dia mencoba menghindar dengan meringsut ke belakang, tapi tak memberi jarak karena makhluk itu terus mendekat padanya.

Dengan bibir bergetar dia merintih, “T..tolong..aku.”

***

“Argh!” So Hee mengerang.

Malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya, So Hee lagi-lagi terbangun dari tidur. Peluh bercucuran dari ujung-ujung sambutnya, mengalir melewati pelipis dan pipinya. So Hee terengah, persis seperti orang yang mengikuti lomba maraton. Dia menoleh ke samping dan mendapati Yejin yang masih tertidur dengan pulas.

So Hee mengibaskan selimut dan turun dari tempat tidur. Langkah gontainya membawa dia ke dapur untuk meraih segelas air mineral.

So Hee menghela napas lega, dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu lewat lima puluh delapan menit. Pikirannya dipenuhi dengan mimpi buruk yang belakangan sering menghiasi tidurnya. Sebersit bayangan tentang tanda lahir bercahaya biru itu muncul lagi di benaknya, tapi kenapa?

Lima tahun. Lima tahun berlalu setelah kepergian mereka. Tidak ada yang berubah kecuali So Hee yang sekarang telah menikmati profesi barunya sebagai seorang pengacara.

So Hee setengah kaget saat tiba-tiba telepon genggamnya berdering, dia berlari kecil ke arah meja nakas untuk mengambil ponsel pintar tersebut.

“Halo?”

Kau terbangun lagi?” sahut orang di seberang sana.

“Ya?” So Hee mengangkat alis, dia sedikit kagum dengan kemampuan menebak orang itu. “Eoh..

Tidak ada jawaban. “Kau belum tidur, Kai?”

“Ah, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan.”

So Hee mengangguk. Dia sudah tidak heran kalau Kai masih terjaga di tengah malam seperti ini, sebenarnya Kai sedikit workaholic.

Tidurlah, So Hee. Kau masih punya pekerjaan besok.” nada bicara Kai sedikit memerintah, sebenarnya dia hanya tidak ingin So Hee sakit karena kurang tidur.

So Hee bergumam, mengiyakan. Dia kemudian mengucapkan selamat malam pada Kai dan mengakhiri percakapan mereka. So Hee tahu mimpi itu akan datang lagi, tapi justru itu yang Ia nantikan. So Hee ingin tahu… mengapa mereka kembali.

***

Yejin meletakkan segelas susu di samping piring So Hee. Tanpa mengalihkan pandangan dari buku karya Kim Min Seok yang sedang dia baca, Yejin duduk di hadapan So Hee. Tangannya bergerak untuk meraih roti isi di tengah meja makan.

So Hee melihat gadis itu, dia lantar menarik piring berisikan roti isi itu mendekat Yejin. So Hee tahu betul kalau Yejin sudah mulai membaca, maka dia akan sangat-sangat sulit diganggu. Bahkan untuk makan saja, Yejin hampir tidak punya waktu. So Hee sedikit khawatir. Apalagi karena sebentar lagi Yejin akan mulai mengajar. So Hee berpikir bahwa sebaiknya Yejin mengurangi kebiasaan ‘asik sendiri saat membaca’ nya itu.

So Hee berhenti memperhatikan Yejin dan menggeleng, berharap bisa melanjutkan sarapan paginya dengan tenang.

“Kudengar kau yang akan menangani kasus model Vivian Cha.” Yejin berujar tiba-tiba, membuat So Hee menghentikan gerakan mengunyahnya, dan mau tidak mau mengalihkan pandangannya pada sahabatnya itu.

So Hee menatap Yejin bingung. “Entahlah. Agensinya dituntut atas dugaan penyelendupan dana.”

Yejin berdecak, dia menyelipkan pembatas buku pada halaman yang terakhir dia baca, menutupnya, dan meletakkannya di atas meja. “Bukankah kau bilang kau bermimpi tentangnya?”

“Hm.” So Hee mengangguk, “Malam sebelum dia dikabarkan menghilang.”

Yejin terlihat menimbang-nimbang. Yejin tahu kalau belakangan dia memang sering terbangun di malam hari karena mimpi yang aneh terus menghantuinya. Dia bahkan memimpikan Wendy Son, koki wanita terkenal yang bahkan tidak dia kenal, yang juga dikabarkan menghilang beberapa waktu lalu.

“Aneh sekali.” Ucap Yejin sebelum dia memasukkan potongan roti pertama ke dalam mulutnya.

Benar, kan? So Hee sendiri merasa aneh karena belakangan dia sering memimpikan gadis-gadis yang tidak dia kenal. Ini bukan karena dia penyuka sesama jenis, ya. Sama sekali bukan.

Memang hubungannya dengan Kai tidak sebaik dulu. Maksudku… ayolah. Sudah lima tahun, dan bahkan So Hee pernah jatuh ke tangan laki-laki lain. Tentu itu juga berpengaruh. Apalagi sekarang mereka sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. So Hee yang tahun lalu mendapatkan gelar sarjana hukumnya tengah merintis karir sebagai pengacara muda, dan Kai, tentu saja, sebagai satu-satunya pewaris Ssaem Corps, setiap hari menghabiskan waktu untuk memantau pasar saham. So Hee agak bingung kenapa Kai harus capek-capek sekolah kalau akhirnya toh dia akan melanjutkan usaha keluarga juga.

Setiap kali Kai muncul di ingatannya, So Hee tidak bisa memungkiri bahwa ada wajah pemuda lain yang samar-samar mengikuti sosok Kai. So Hee masih ingat bagaimana pemuda itu memegang tangannya, memeluknya, bahkan menciumnya.

So Hee tidak pernah move on. Nyatanya begitu.

“Yejin-ah..” So Hee memanggil Yejin nanar, membuat gadis itu lantas mendongak untuk melihatnya, memberikan tatapan –apa.

“Apa kalian tidak bisa mengingatnya?” tanya So Hee kemudian, dia menatap mata Yejin dalam-dalam, berharap mendapat jawaban.

Yejin diam. Sengaja dia melirik foto kelulusan yang mereka pajang di ruang tengah. “Ingat apa?” tanyanya.

So Hee mengigit bibir bawahnya. Dia sangat ingin mengatakan pada Yejin bahwa kenangan itu terkubur masih sangat utuh dalam ingatannya, tak sepotong pun ada yang terlupakan. Tapi dia ragu sekaligus tidak mengerti apakah harus dia bagi apa yang ada di sana. Lantas dia menggelang, “Tidak. Tidak apa-apa.”

Selain pertemuannya dengan sembilan laki-laki yang hingga kini terus menjadi pelindungnya, ada banyak kenangan masa SMA yang tidak bisa So Hee lupakan. Salah satu, dan terutamanya, adalah Luhan.

So Hee tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika kenangan singkat itu muncul. Meski di saat yang bersamaan, dia sedih dan diam-diam mengutuk Dewa. Kenapa Dewa mengambil ingatan manusia sesuka hati-Nya?

***

Jong Dae datang dengan setumpuk berkas di tangannya. Dia meletakkan berkas itu di sisi kanan meja rapat dan duduk di sisi yang lain. Jongdae hampir menyerah pada pekerjaannya apalagi setelah Vivian Cha menghilang. Bagaimana tidak, tiga hari berturut-turut dia tidak tidur karena selalu mendapat teror baik dari fans, media, dan bahkan perusahaan yang telah terikan kontrak dengan model sekaligus sepupu Yuri SNSD itu.

Jong Dae menyeka peluh di dahinya. Tidak pernah dia bayangkan kalau jadi manajer artis itu akan sesulit ini. (Sebenarnya tidak kalau artisnya bukan Vivian Cha). Bagaimana tidak. Sepanjang tahun gadis itu kerjaannya hanya membuat skandal, dari foto tak berbusana sampai dikabarkan jadi selingkuhan pengusaha besar.

“Maafkan aku, So Hee. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan.” Kata Jong Dae.

So Hee tersenyum dan mengangguk. Dia sebenarnya sebal juga kalau harus menunggu 32 menit kalau itu bukan Jong Dae.

“Tidak apa-apa,” So Hee berbohong, “Aku mengerti keadaanmu.”

Jong Dae tersenyum sumringah, merasa senang karena dia tidak salah memilih pengacara. Selain karena So Hee akan dengan senang hati dibayar murah, juga karena akan lebih mudah berkomunikasi dengannya.

Jong Dae merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah map dan menaruhnya di atas meja. “Ini adalah surat dari Bank yang menerangkan bahwa kami telah mengembalikan uang muka yang diberikan NUOVU, tapi mereka bersikeras dan menuntut kami karena telah mengingkari kontrak.” Ujar Jong Dae.

So Hee meraih map berwarna merah itu dan membukanya. Di dalam map tersebut ada beberapa helai surat bermaterai. “Entahlah, Jong Dae.” Katanya, “Tapi kontrak tetaplah kontrak. Kalau Vivian Cha benar-benar menghilang, cobalah bernegosiasi dengan pihak mereka siapa tahu mereka bersedia kalau modelnya diganti.” So Hee menambahkan.

Jong Dae menggeleng, dia mengacak rambut yang sengaja ia cat berwarna merah karena ingin terlihat seperti idol di TV. Jong Dae menghela napas sambil mengedarkan pandangannya kemana-mana, “Kau tahu, So Hee. Semua ini benar-benar membuatku gila. Kalau model sok Inggris itu tidak kembali, maka agensi kami benar-benar hancur. Apalagi kami juga sedang menanam saham pada Lucid Dream.”

So Hee terdiam.

Lucid Dream.

Teknologi yang sedang dikembangkan oleh seorang dokter muda, yang memungkinkan seseorang untuk dapat memimpikan apa yang ingin mereka impikan. So Hee pernah dengar tentang itu, tapi tidak pernah tertarik sampai Jong Dae mengungkitnya lagi. Mimpi aneh yang belakangan So Hee alami memang sangat mengganggu. Layaknya sebuah film thriller, mimpi-mimpi itu hanya menjadi potongan yang tak pernah dia selesaikan.

Sebenarnya So Hee terganggu, apalagi ketika semua mimpinya berisikan gadis-gadis asing yang bahkan tak pernah dia kenal atau lihat. So Hee hanya mampu mengingat wajah mereka yang ketakutan dan berakhir pada kematian, tanpa tahu siapa dan apa yang sedang menghantui mereka.

Belakangan lebih aneh. Gadis yang muncul selalu sama. Tempat yang menjadi latar selalu sama. Dan So Hee akan terbangun di saat adegan yang sama. Tapi lagi-lagi So Hee tak tahu apa yang sedang mengejar gadis itu. Dia sempat berpikir untuk menemukan gadis yang beberapa hari ada dalam mimpinya tapi itu tidak mungkin karena dia bahkan tak tahu siapa gadis itu.

“Jong Dae.” So Hee memanggil Jong Dae lirih. “Dimana bisa kutemukan Lucid Dream?”

***

“Kau bisa pergi ke Rumah Sakit Internasional Seoul. Lucid Dream dikembangkan oleh seorang dokter muda lulusan Universitas Oxford bernama Irene Bae. Kau bisa bertanya langsung padanya.

So Hee duduk di atas ranjang. So Hee dapat mencium aroma khas obat-obatan. Ketika dia melihat sekeliling, ada banyak peralatan medis yang sedikit banyak dia tahu kegunaannya. Di sudut ruangan terdapat sebuah meja dan komputer. Ada juga sebuah foto keluarga di sudut lain, yang dipajang berdampingan dengan foto kelulusan seorang gadis berparas cantik.

Saat So Hee sibuk mengagumi sosok dalam foto, pintu ruangan terbuka. Seorang gadis berjubah putih memasuki ruangan. Rambut panjang hitamnya dikucir ke belakang. Make up nya sederhana tapi dengan wajah mungilnya, dia pastilah dokter tercantik yang pernah dilihat So Hee.

Gadis dengan name tag ‘dr. Irene’ di jubahnya itu tersenyum. Dia berjalan ke arah So Hee sambil membawa beberapa berkas. So Hee membalas senyumannya.

“Jadi kau ingin mencoba Lucid Dream?” tanya Irene tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang dia pegang. So Hee hanya mengangguk.

Irene menarik sebuah kursi untuk duduk di hadapan So Hee. Dia menatap So Hee lekat-lekat. “Apa yang membuatmu ingin melakukannya?” tanyanya.

Irene baru selesai membaca riwayat kesehatan So Hee dan sampai saat ini tidak ada hal yang sebegitu mengkhawatirkan sampai-sampai So Hee harus menjalani terapi Lucid Dream. Terlebih lagi, Lucid Dream adalah teknologi baru yang masih dalam tahap perkembangan. Irene belum pernah mengujicobakan Lucid Dream pada siapapun. Jadi jika So Hee datang kemari dan dengan berani menawarkan diri untuk jadi kelinci percobaan, pastilah ada sesuatu yang sangat penting yang harus dia dapatkan.

So Hee meremas ujung jasnya. Dia menimbang, bagian mana yang harus diceritakan. “Belakangan aku bermimpi aneh tentang seorang gadis.” Katanya.

Irene menyipitkan sebelah mata, “Seorang gadis?”

So Hee mengangguk. Dia menelan ludah sebelum melanjutkan, “Aku tahu ini mustahil bagimu, tapi aku selalu memimpikan gadis-gadis yang belakangan dikabarkan menghilang secara misterius. Anehnya lagi, tak satu pun dari mereka aku kenal.”

Irene diam sejenak. Dia mendengar berita soal beberapa gadis yang menghilang secara misterius, bahkan salah satu di antara mereka adalah seorang koki terkenal yang punya acara masak sendiri di salah satu stasiun TV. Tapi Irene tidak menduga bahwa maksud kedatangan So Hee akan ada hubungannya dengan mereka.

Maksudku… ayolah. Sebagai manusia biasa, Irene tidak percaya hal-hal mistis, orang indigo, dan semacamnya. Tapi sebagai psikiater, tidak ada alasan bagi Irene untuk tidak mempercayai pasien.

“Beberapa hari ini, gadis yang muncul dalam mimpiku adalah orang yang sama.” So Hee tahu kalau Irene sedang meragukannya, jadi dia melanjutkan. “Dalam mimpiku, gadis itu berlari seperti sedang dikejar sesuatu. Tapi aku tak pernah tahu apa yang mengejarnya.”

“Ck,” Irene berdecak. Dia bangkit dari duduk dan meletakkan berkas yang dia pegang di atas meja.

Irene berjalan mendekati So Hee. “Perlu kau ketahui Yoon So Hee-ssi. Lucid Dream belum sepenuhnya tercipta, sampai saat ini aku masih mengembangkannya. Dan aku bahkan belum mengujicobakan Lucid Dream pada siapapun. Jika kau menginginkan Lucid Dream, kau akan jadi manusia pertama yang mencoba teknologi ini. Dengan kata lain, kau akan jadi kelinci percobaan.” Irene berdiri tegak dengan tangan terbenam di kantong jas. Irene menatap So Hee dengan mata menyudutkan.

So Hee menggigit bibir bawahnya, “Aku akan tanggung resikonya.”

“Bahkan jika konsekuensinya kau tak bisa bangun lagi dan terperangkap dalam mimpimu?”

So Hee tidak pernah berpikir kalau mimpi-mimpi anehnya akan membawanya pada Lucid Dream dan bahwa teknologi ini akan begitu membahayakan. So Hee hanya ingin, sekali saja, melihat wajah gadis itu dengan jelas, dan menyelesaikan mimpinya. So Hee hanya ingin memastikan bahwa, bukan Luhan yang sedang menghantui mimpinya.

***

So Hee baru keluar ruang sidang ketika kekasihnya, Kai, menyambutnya. So Hee sedikit tertekan karena memenangkan kasus penyelewengan dana yang dituduhkan pada pihak Vivian Cha cukup sulit untuk dimenangkan. Selain karena mereka tidak punya cukup bukti, juga kerana tokoh utamanya tidak dapat ditemukan. Kai sengaja menjemput So Hee hari ini, sekedar ingin mengajak gadis itu menyegarkan pikiran.

Toko buku selalu menjadi tempat favorit So Hee. Dulu dia suka membaca novel-novel bertemakan fantasy, sama seperti Min Seok. Tapi sejak masuk perguruan tinggi, So Hee jadi tidak punya cukup waktu untuk itu, dia lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku peraturan perundangan atau yang berhubungan dengan profesinya sebagai pengacara.

Kai menginjak pedal rem dan memarkir mobil sedannya. Dia tersenyum pada So Hee, mengisyaratkannya untuk turun. So Hee menurut, mereka memasuki toko buku dengan bergandeng tangan. Seperti biasa, Kai akan menghabiskan waktu berjam-jam kalau sudah berada di antara tumpukan buku yang bertemakan bisnis, dan saat itu juga So Hee akan tenggelam sendiri dalam dunia hukumnya.

So Hee berjalan di antara rak buku di toko tersebut. Matanya dengan jeli memperhatikan setiap buku yang terpajang. So Hee mengambil sebuah buku bersampul merah, itu adalah buku berisikan hukum internasional. Sebenarnya, hampir semua buku di toko ini pernah So Hee baca. Jadi terkadang So Hee mengulangnya hanya untuk menghabiskan waktu dan menyegarkan pikiran.

So Hee bersandar pada salah satu rak dan mulai membuka halaman pertama dan buku tersebut. So Hee sudah pernah membacanya sewaktu kuliah, jadi So Hee tidak berniat membelinya, melainkan hanya membaca sedikit sambil menunggu Kai yang sedang asyik memilah buku-buku tips berbisnis.

Jam yang terpajang di dinding baru menunjukkan pukul 10 pagi. Toko buku cukup sepi karena pada jam ini orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di kantor atau sekolah. Hanya ada beberapa pengunjung dan tiga orang petugas. So Hee paling senang membaca di tempat yang sepi, jujur.

Lantai yang terbuat dari kayu, memungkinkan So Hee untuk dapat merasakan jika saja ada orang yang berjalan di sekitarnya. Dia melirik, ekor matanya menangkap siluet seorang pria tapi tak ia hiraukan. Toh ini tempat umum jadi siapapun berhak ada di sini.

So Hee kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia senang sekali mempelajari hukum internasional. Itu bahkan jadi mata kuliah favoritnya saat masih di universitas dulu. So Hee berharap bahwa suatu saat dia bisa mendapatkan kasus berkelas internasional sehingga dia bisa menerapkan ilmu yang dia pelajari.

Beberapa menit setelah Kai menghilang di antara tumpukan buku-buku bisnis, ketika So Hee menyadari bahwa pria itu sudah benar-benar terlalu asik membaca. Maka So Hee menutup bukunya, berniat menghampiri Kai untuk sekedar mengingatkan bahwa So Hee masih disana dan perutnya sudah mulai lapar.

Ketika So Hee hendak mengembalikan buku yang dipegangnya ke rak, So Hee melihat sesuatu yang sangat aneh. Di sana, dari seberang rak, di antara susunan buku hukum, dimana buku bersampul merah yang dia pegang harusnya diletakkan, So Hee melihat sosok itu.

Jarak mereka cukup dekat, hanya beberapa sentimeter sehingga So Hee bisa memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Kulitnya putih pucat. Matanya besar bulat, dengan sedikit garis hitam. Bulu matanya lentik. Dan di balik topi yang dia kenakan, So Hee masih bisa melihat rambutnya hitamnya, sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Dia sangat terkejut ketika So Hee tiba-tiba muncul di hadapannya, hanya dipisahkan oleh sebuah rak berisikan buku-buku.

Matanya membelalak, dia tak kalah terkejutnya dengan So Hee.

“K….” So Hee belum sempat angkat bicara ketika orang itu pergi, berlari secepat mungkin keluar toko. So Hee mengejarnya dari belakang. Beberapa orang melihat mereka bingung, dan beberapa orang lain bahkan mengikuti mereka, mengira bahwa telah terjadi perampokan atau semacamnya.

“Hey, berhenti!” teriak So Hee. Dia mengedarkan pandangannya, mencoba menemukan pria itu di tengah kerumunan orang yang memadati Hongdaemun. Napasnya memburu. Harus dia akui bahwa dia sudah cukup tua untuk adegan kejar-kejaran seperti tadi.

So Hee sedikit kaget ketika seseorang menepuk pundaknya dan mendapati Kai disana. Kai sama sepertinya. Napasnya tidak kalah memburu dengan So Hee. Kai bahkan hampir spot jantung karena mengira sesuatu yang buruk telah terjadi pada So Hee, yang jika itu memang terjadi dia akan mengutuk dirinya sendiri. “Kau tidak apa-apa?” tanya Kai dengan napas terengah. So Hee menggeleng.

Kai membungkukkan badan, bertumpu pada lututnya. Kai sedang mengembalikan napas normalnya.

So Hee memegangi dahinya. Hampir tidak habis pikir.

Bagaimana bisa orang itu ada di tempat ini? Atau, apa dia benar-benar sedang mengawasiku? Kenapa dia kembali?

Ditengah pikirannya yang kacau, So Hee tiba-tiba teringat pada Yixing, salah satu teman SMA Kai, yang sekarang bekerja sebagai anggota polisi intel di Cina. So Hee benar-benar sudah tidak tahan. Semua hal yang ia hadapi secara berkelanjutan ini membuatnya terganggu sampai-sampai rasanya dia ingin berteriak pada Dewa. Jika saja, jika saja Dewa mengambil ingatannya, akankah dia mengalami hal yang sama?

Halo?” So Hee tersadar ketika orang di seberang sana mengangkat teleponnya.

“Yixing, aku butuh bantuanmu.” Jawab So Hee dengan napas menderu, membuat Yixing sedikit khawatir.

Ada apa So Hee? Apa yang terjadi denganmu?

“Aku ingin kau menemukan seseorang bernama Luhan.”

***

“So Hee, aku sudah menemukannya. Ada seseorang yang bernama Luhan. Dia terdaftar sebagai warga negara Cina. Tapi identitasnya tidak lengkap dan ini membuat pencarian menjadi sulit. Aktivitas terakhir yang dia lakukan adalah penerbangan dari Cina ke Korea Selatan dengan dua orang yang identitasnya juga tidak jelas. Dan sesuai permintaanmu, aku sudah memesan tiket. Aku akan menemui di Seoul besok lusa.”

Irene baru lulus kuliah tahun lalu. Dia bahkan belum sempat membuka praktik karena terlalu sibuk dengan Lucid Dream-nya. Maka dari itu, ketika So Hee datang dengan membawa sembilan pria bersamanya, Irene sedikit kebingungan. Nampaknya gadis bermarga Yoon ini sudah menganggap Lucid Dream seperti sebuah permainan yang bisa digunakan pada siapa saja.

Irene menatap pasiennya bergantian. Dia bingung harus menjelaskan dari mana, sedikit banyak dia bingung juga dengan situasi yang dihadapi So Hee. Mungkin akan lebih mudah jika saja So Hee bercerita secara utuh padanya.

Irene menelan ludah. “Begini,” katanya memulai, tapi So Hee memotong pembicaraannya dan tanpa sabar membuka pembicaraan.

“Aku ingin kalian bertemu dr. Irene. Dia adalah dokter yang mengembangkan teknologi Lucid Dream, sebuah teknologi yang memungkinkan kalian memimpikan apa yang ingin kalian impikan.” Kata So Hee.

Dahi Kai berkerut. Beberapa saat yang lalu dia kebingungan ketika So Hee memintanya –dan teman-temannya untuk datang ke Rumah Sakit Internasional Seoul. Chanyeol, yang bahkan sedang tertekan berat karena kekasihnya yang tiba-tiba menghilang, juga dipaksa datang oleh So Hee.

“Kalian sudah berteman sejak SMA, jadi aku ingin kalian…” So Hee melanjutkan dengan hati-hati, “memimpikan masa-masa terindah dari persahabatan kalian.”

“Baekhyun, over bolanya padaku!” Yixing berteriak, gemas karena dari tadi Baekhyun hanya menggiring bola tanpa berniat mengovernya pada siapapun.

“Eits….” pemuda berambut pirang itu, memberikan serangan dari belakang, membuat bola yang digiring Baekhyun berguling ke arah berlawanan.

“Baekhyun! Ah dasar bodoh! Sudah kubilang over bolanya!” Chanyeol ikut kesal. Pemuda berambut pirang itu baru saja menciptakan gol baru. Tendangannya luar biasa, harus diakui Chanyeol.

“Kau hebat Luhan! Dimana kau dapatkan tendangan seperti itu?” Jong Dae dan Tao menghampiri Luhan dan langsung merangkulnya. Mereka terlalu bersemangat karena baru saja memenangkan pertandingan.

Kris dan Kai duduk di bangku penonton, So Hee duduk di antara mereka. Kris memandangi sepuluh bocah itu jengah. Bisa-bisanya mereka berpikir kalau futsal adalah olahraga paling menyenangkan sementara dia berpikir bahwa futsal tidak masuk akal. Kenapa sepuluh orang harus memperebutkan satu bola?

Amarah Kris semakin memuncak ketika ekor matanya menangkap Kai yang dengan tiba-tiba mencium pipi So Hee. Astaga. Kris hampir muntah karena itu adalah hal paling memuakkan yang pernah dia lihat. Sangking jengahnya, Kris segera berdiri. Dia meneriaki teman-temannya untuk segera pergi, “Aku traktir makan asal kalian mau menghentikan permainan ini sekarang juga!” katanya.

“Wow… jadi sekarang Suho punya saingan?” tanya Sehun mengejek. Teman-teman yang lain menertawakan Kris, tapi saat Kris beranjak dari tempatnya, mereka ikut juga.

Kalau dipikir-pikir. Setelah delapan tahun menjalin persahabatan. Itu adalah masa-masa terindah. Meski sering bertengkar dan saling mengejek, mereka akan menemukan jalan untuk kembali pada satu sama lain. Jika satu diantara mereka punya masalah, maka akan diselesaikan bersama. Jika ada yang putus asa, maka mereka akan memberi semangat.

Masa-masa terindah dari persahabatan mereka, adalah ketika dua belas dikurang satu adalah dua belas, dua belas ditambah satu adalah dua belas. Masa-masa dimana ‘12=EXO’.

***

“Terimakasih.” Yejin tersenyum pada pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi dia mengambil burger favoritnya dan mulai menyantapnya, sedangkan So Hee langsung menyeruput ice coffee pesanannya.

So Hee memandang ke luar jendela kafe. Kemarin satu gadis lagi dikabarkan menghilang secara misterius, kali ini seorang pelajar SMA. So Hee tidak habis pikir kala gadis itu begitu mirip dengan gadis yang muncul di mimpinya semalam sebelumnya. Pihak kepolisian menduga bahwa kemungkinan gadis-gadis yang menghilang tersebut jadi korban perdagangan wanita internasional yang sampai saat ini masih diusut pelakunya. Hanya saja So Hee sedikit mengelak dari dugaan tersebut. Pasalnya, sampai saat ini dia belum menemukan sosok bergaun merah dalam mimpinya, pun mendengar kabar kalau dia juga salah satu korban penculikan.

“Kudengar Yixing sedang berada di Korea.” Perkataan Yejin membuyarkan lamunan So Hee. Gadis itu kini sudah menyelesaikan acara makan burger-nya dan sedang menyeruput jus jeruknya dalam satu tegukan.

So Hee mengangkat alis, “Hm.” Jawabnya sambil mengangguk.

“Apa yang mereka lakukan?”

So Hee memandang Yejin, bukan sekarang waktunya untuk menceritakan apa yang terjadi pada Yejin, atau bisa saja gadis itu meminta dibawa pada Irene juga. So Hee hanya tersenyum, dia mengangkat bahu, “ Entahlah. Mereka sedang melakukan reunian singkat sambil mencari sesuatu yang hilang.” Jawab So Hee sekenanya.

Yejin mengangguk mengiyakan. Yejin memang kenal dengan Kai dan kawan-kawan, tapi sebatas kenal karena dulu mereka satu SMA, dan karena ada suatu hal, Yejin jadi agak menjaga jarak dengan kelompok bermain itu.

“Setelah mereka menemukan apa yang mereka cari, kita harus mengadakan reunian.” So Hee mengungkapkan pikirannya. Yejin yang sedang menikmati jus jeruknya tersedak. Menurut Yejin, itu bukan ide yang bagus. Dia sudah tidak bertemu dengan teman SMA nya itu selama bertahun-tahun, jadi kalau mereka tiba-tiba bertemu pasti akan terasa aneh. Apalagi, kalau Chanyeol juga ada di sana. Ckckck. Yejin takut kehilangan kesadaran dan melempar gelas kaca ke kepalanya.

Yejin mengambil secarik tissue dan menyapu bibirnya yang agak basah. “Aku sangat ingin, tapi kurasa itu bukan ide yang bagus. Kau tahu, kan. Aku sedikit trauma pada mereka.” Katanya, membuat So Hee tertawa kecil.

So Hee menyendok cheese cake dan memasukkan sepotong ke dalam mulutnya. Dia sangat suka cheese cake, Kai tahu itu, semuanya juga tahu. Bahkan Luhan juga. Saat merasa murung, So Hee suka makan cheese cake, dan moodnya akan naik lagi. “Oh, ya, bagaimana dengan pekerjaanmu? Aku dengar gadis yang kemarin jadi korban penculikan itu adalah salah satu muridmu.”

Yejin berusaha keras untuk menelan potongan terakhir roti tawarnya, “Maksudmu Kim Yeri?” So Hee mengangguk. Yejin menggigit bibir bawahnya. “Aku dengar dia sering melakukan bully pada siswa asing, jadi banyak yang dendam padanya. Entahlah. Pihak sekolah juga masih dalam tahap pemeriksaan.” So Hee mengangguk lagi, dia tidak ingin tahu lebih banyak karena semakin dia tahu semakin dia ingin menemukan kenyataan di balik semua kejadian ini.

“Di antara semua siswa, ada salah satu siswa yang menarik perhatianku. Dia pindahan dari Cina. Selain wajahnya cantik, dia juga sangat baik padaku. Ketika kami berbincang, kami seperti sudah mengenal satu sama lain. Aku bahkan merasa seperti sedang bersama seorang teman.” Yejin memulai ceritanya. Dia adalah guru SMA yang baru memulai pekerjaannya kurang lebih satu bulan ini. Kebetulan dia adalah alumni di SMA tempat Ia mengajar jadi dia bisa cepat menyesuaikan karena guru-guru disana juga sudah mengenalnya.  Tidak banyak yang berubah dari sekolahnya, masih sama seperti yang dulu, dan masih menyimpan banyak kenangan.

So Hee melempar pandang ke luar jendela lagi, sekarang sibuk memperhatikan orang yang berlalu lalang. Meski pandangannya tak tertuju pada Yejin, So Hee masih mendengarkan gadis itu. So Hee bisa mendengar bahwa Yejin sedang menceritakan seorang siswi asal Cina yang begitu menarik perhatiannya.

So Hee begitu tenggelam dalam pemandangan di luar sana. So Hee hampir tidak menyadari bahwa di seberang sana, di bagian jalan yang lain, tepat berseberangan dengan tempat ia duduk, ada seorang laki-laki yang memperhatikannya. Laki-laki itu berdiri di seberang jalan. Tampilannya trendy, dengan celana jeans, jaket tebal berwarna kuning, dan topi yang menutupi hampir sebagian wajahnya. Dia berdiri, memperhatikan So Hee, dengan tangan dimasukkan ke dalam saku jaket.

Satu detik. Dua detik.

So Hee kaget bukan main. Dia membelalakkan matanya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa kali ini dia tidak salah lihat.

“Namanya Alia Wu.”

So Hee masih bisa mendengar Yejin. Tapi fokusnya sudah beralih pada laki-laki di seberang sana, laki-laki yang memberikan tatapan pilu padanya.

So Hee segera bangkit. Tanpa menghiraukan Yejin yang meneriakkan namanya, So Hee berlari keluar kafe. Orang-orang yang berlalu lalang membuat So Hee sedikit kesulitan menemukan laki-laki tadi. Dia menoleh kesana-kemari karena laki-laki itu tiba-tiba menghilang dalam sekejap.

So Hee diam sejenak, mencoba menetralisir pikirannya.

Pertama, dia bermimpi tentang serigala.

Kedua, dia bertemu dengan Luhan.

Ketiga… Alia adalah murid Yejin.

***

“Ahh…” Jong Dae meregangkan otot-ototnya. Kyung Soo langsung duduk tanpa diperintah. Yixing melempar tumpukan kertas yang dia pegang ke sembarang tempat.

Rumput hijau itu menyambut mereka dengan hangat. Sekerjap kenangan tentang masa SMA muncul dalam benak. Entah itu nyata atau tidak, tetap terasa indah.

Min Seok ingat betapa dulu mereka sering menghabiskan waktu di tempat ini. Lebih sering dengan bermain bola, dan terkadang hanya dengan duduk-duduk sambil bernyanyi bersama. Min Seok ingat betul tendangan-tendangan yang diciptakan Luhan, umpatan kesal Tao karena timnya kalah lagi, dan ekspresi bosan dari Kris karena pemuda itu memang benci permainan futsal. Lucid Dream telah membawa Min Seok pada masa-masa terindah dari persahabatan mereka. Dimana sekolah bahkan jadi tidak menyenangkan jika salah satu dari mereka absen.

Chanyeol mengambil tempat agak jauh dari mereka dan merebahkan diri di tribun itu, dia menatap langit biru sementara kedelapan temannya yang lain memandangi lapangan berumput hijau itu putus asa. Kalau saja dia punya lebih banyak waktu, Chanyeol pasti sudah pergi ke rumah psikolog untuk memeriksakan kesehatan jiwanya. Semuanya terjadi begitu cepat sampai-sampai dia tak diberi waktu untuk berpikir. Pertama, kekasih tercintanya tiba-tiba menghilang. Kedua, dia dipertemukan dengan dokter cantik bernama Irene yang secara tiba-tiba membuat dia bermimpi bahwa di masa SMA dia punya tiga teman dari Cina yang merupakan manusia setengah serigala. Gila.

“Dengar, ya.” Baekhyun berdiri, “Kita sudah menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk mencari mereka. Kalau mereka tidak muncul juga di hadapan kita, maka aku akan menganggap bahwa aku benar-benar bermimpi. Tidak ada manusia setengah serigala, oke?” dia sedikit kesal. Setengah tidak percaya kalau dia dan delapan teman-temannya sedang mencoba menemukan manusia setengah serigala yang tiba-tiba masuk dalam mimpi mereka. Maksud Baekhyun, bisa saja kan Irene bermain dengan alam bawah sadar mereka dan mengarang cerita?

“Argh!” Kai mengacak rambutnya. Dia sudah kelewat frustasi. “Ini sungguh keterlaluan!” Dia mengumpat. “Saham perusahaanku turun 2% karena aku bolos kerja hanya untuk menemukan mereka!” Kai kesal sekali, apalagi kalau itu sudah menyangkut perusahaannya. Sebut saja pria itu workaholic, hampir separuh hidupnya dia dedikasikan untuk Ssaem Corps.

Sehun bangkit, “Sudahlah.” Katanya sambil berkacak pinggang, “Mereka kan serigala, mereka tidak punya hati. Repot-repot kita cari mereka, toh belum tentu mereka menganggap kita sahabat juga. Lebih baik kita pergi saja.” Sehun berbalik. Dia melangkah berniat meninggalkan tempat itu, hampir diikuti teman-temannya ketika tiba-tiba sebuah benda keras menubruk kepalanya.

“Aduh!” Sehun mengaduh, dia berbalik untuk melihat siapa pelakunya. Dia mengira bahwa Suho yang dari tadi memegang bola adalah pelakunya. Tapi tidak. Benda itu datang dari arah lapangan. Membuat pandangan mereka tertuju pada satu arah.

“Hey, maknae, kau bilang apa tentang tidak punya hati?” tiga pria itu berjalan beriringan ke arah tribun. Salah satu diantara mereka berujar, sepertinya dia adalah orang yang melempar bola hingga mengenai kepala Sehun, sedangkan dua orang lain melempar senyum pada mereka.

“Hey, Huang Zitao!” Chanyeol langsung bangun. Mereka semua berlarian ke arah tiga pria itu dan memeluk mereka.

“Kalian kembali!” Mata Suho berkaca-kaca. Mereka memeluk satu sama lain –kecuali Tao dan Sehun yang malah saling memberikan pukulan.

Mereka berpelukan, saling bergandeng tangan membentu lingkaran, berputar sambil melompat kegirangan.

Hidup itu indah hanya jika kau punya teman untuk bersandar saat kau lelah, memeluk saat kau dingin, dan mendukung saat kau putus asa.

Seperti yang Dokter Irene katakan, Lucid Dream bukan hanya sebuah mimpi, tapi mimpi yang ingin kau impikan.

***

Irene bangga. Teknologi Lucid Dream yang dia kembangkan, akhirnya bisa berguna. Dia tidak menyangka bahwa Lucid Dream akan sangat membantu, apalagi jika sudah resmi diluncurkan nanti, Lucid Dream bisa jadi alat bantu bagi penderita Amnesia. Kenyataan bahwa Kai dan teman-temannya akhirnya bisa mengingat apa yang tidak mereka ingat bahkan bertahun-tahun lamanya membuat Irene ikut bahagia. Sedikit dia ragu apakah keadaan ini bisa dia jelaskan secara biologis ataukah Dewa benar-benar ikut andil. Yang jelas, mulai sekarang Irene akan lebih bekerja keras untuk menyelesaikan projeknya. Targetnya bulan depan, dan Lucid Dream bisa digunakan untuk membantu pasien di seluruh dunia.

Irene tersenyum sekali lagi. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 00.44. Dia tidak seharusnya berada di rumah sakit sampai larut malam begini tapi dia terlalu bersemangat. Irene segera berkemas dan menyampirkan tasnya di pundak, dia ingin pulang, beristirahat sebentar sebelum besok kembali melanjutkan pekerjaan.

Irene membuka pintu. Mau tidak mau dia terkejut ketika dia menemukan seorang gadis berseragam SMA Moorim di depan ruang prakteknya. Gadis itu menundukkan kepala untuk memberi salam pada Irene. Irene memperhatikannya, kemudian dia mengalihkan pandang pada meja perawat tak jauh dari tempatnya berdiri. Ada dua orang perawat jaga di sana, tapi mereka seperti sedang sibuk mengurus berkas-berkas pasien, jadi Irene mengurungkan niat untuk mengganggu mereka.

“Apa ada yang bisa aku bantu?” tanya Irene pada gadis di hadapannya.

Irene mengajak gadis itu masuk, dia mempersilakan gadis itu berbaring di atas ranjang pasien dan melakukan pemeriksaan singkat. Setelah memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja, Irene mencatat pada sebuah berkas.

Gadis itu bangkit untuk duduk di tepi ranjang. “Kau tidak ingin memeriksa detak jantungku?” tanyanya. Irene mengangkat kepala. Irene tersenyum, dia rasa tidak perlu karena gadis ini terlihat sehat-sehat saja.

“Barangkali jantungku tak berdetak?” Irene memasukkan penanya ke dalam laci dan menutupnya agak kasar, dia tertawa kecil. Irene menduga bahwa gadis SMA ini kemungkinan salah satu anak pasien rawat inap.

Hm, itu karena Irene sering mengalami kondisi ini. Sebagian anak datang padanya karena mereka merasa membutuhkan psikiater, katanya tertekan karena sekolah mereka terlalu panjang.

Masih tertawa, Irene menghampiri gadis itu. Irene melipat tangan di depan dada, “jadi apa masalah yang kau hadapi?” tanya Irene.

Gadis di hadapan Irene mengigit bibir, dia memutar bola matanya, “kudengar kau mengembangkan teknologi Lucid Dream.” Katanya.

Irene mengangguk, sedikit kaget karena gadis ini tahu tentang Lucid Dream, “lalu?” Irene bertanya balik.

“Apa kau tidak pernah berpikir bahwa penemuanmu mungkin dapat menghancurkan kehidupan seseorang?”

“Apa?” Irene mengangkat alis.

Di saat itu Irene baru menyadari betapa indah mata gadis di hadapannya. Bola matanya bukan hanya berwarna biru tapi benar-benar bersinar. Kelopak matanya besar dengan bulu yang lentik panjang. Alisnya tebal, seperti sebuah ukiran oleh seniman kelas dunia. Kulitnya yang agak gelap tidak membuatnya terlihat seperti orang Korea dan, tatapannya yang tajam membuat Irene sadar bahwa mereka berbeda.

“Bagaimana kalau sekarang giliranmu?”

Irene tidak sempat menyadari bahwa tato di pergelangan tangan gadis itu memancarkan cahaya berwarna kebiruan. Irene hanya diam, jatuh terlalu dalam tatapan gadis itu. Sampai Irene merasakan bahwa tubuhnya melemah, hingga semuanya menjadi gelap.

( The Beauty )

Gimana nih guys? We’re finally here! How was it anyway? Kkkk~ sekedar mau spoiler nih, kalo penasaran dengan siapa gadis di mimpi so hee, silahkan cek VCR My Lady di konser The Lost Planet, Insya Allah menemukan jawaban dan sedikit petunjuk untuk chapter berikutnya. Thanks for reading!

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The Forgotten One – The Beauty

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s