[EXOFFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 4)

After The Wedding (Chapter 4)

Author : WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. Oh Jae Ra. Sean Jung.

Genre: Hurt. Marriage Life. Romance. Life Family.

Summary: “..Hampir sama dengan nama Mom!”-Sean

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

https://whiteblove.wordpress.com/

Malam ini ruang makan terasa begitu sepi meskipun anggota keluarga Oh tengah bersantap bersama. Mereka tengah fokus dengan pikirannya masing-masing yang lagi-lagi menyangkut dua figur yang sama, Jae Mi dan Sean.

Sehun tengah mengingat kejadian tadi siang saat ia berhasil bertemu dengan kakak kandung Jae Mi, Jung Jae Han. Sikap pria itu sama sekali tak berubah sejak mengetahui adik kesayangannya berhasil pergi setelah ia melahirkan anak kembar Sehun dan membawa salah satunya pergi melarikan diri ke luar negeri. Sehun menyadari bahwa mungkin Jae Han beranggapan bahwa adiknya tak ia jaga dengan baik, sebab itulah Jae Han selalu bersikap dingin terhadapnya.

Sementara itu Hye Ra kembali mengingat pertemuannya dengan pemuda bernama Sean yang tadi sore berdiri tak jauh darinya saat berada dikasir sebuah kedai kopi. Sean, bukan hanya nama sang pemuda saja yang menjadi bahan pikiran Hye Ra, namun parasnya yang hampir mirip dengan wajah Sehun berhasil membuatnya berpikir bahwa pemuda itu adalah kembaran Jae Ra.

Hampir sama dengan apa yang ada dipikirkan Hye Ra, kini Jae Ra juga tengah sibuk mencoba membandingkan wajah Sean yang menurutnya 98% mirip dengan wajah sang ayah. Terlebih lagi nama Sean yang melekat pada pemuda itu berhasil membuatnya teringat akan ucapan ayahnya yang minggu lalu berkata bahwa kembarannya adalah seorang laki-laki bernama Sean.

Berbeda dengan suasana meja makan keluarga Oh disana, orang yang menjadi bahan pikiran tiga orang tadi kini tengah asik menyantap makanan mereka seraya memperbincangkan beberapa hal tentang hari yang telah terlalui.

“.. Tapi kau pergi kemana?” Jae Mi yang kini mengarahkan pandangannya pada Sean, bertanya tentang kemana perginya ia tadi sore.

“Starbuck.” jawab Sean yang masih asik dengan Lasagna buatan sang Ibu.

“Yang ada dipersimpang jalan itu?” tanya Jae Mi yang hampir tertawa, menyadari bahwa anak laki-lakinya ini sangat payah, ia ternyata tak berani untuk pergi jauh.

Sean mengangguk seraya melirik wajah Jae Mi yang sedari tadi tersenyum mengejeknya.

“Hanya sejauh itu?” Jae Mi kini memperlihakan tawa kecil dari mulutnya.

“Mom, what happ..-, ahh” Sean menghentikan ucapannya karna kali ini ia tak mau mendapat ciuman dari bibir Jae Mi yang tengah menghabiskan sepiring pasta dengan saus tomat yang terlihat pekat disudut mulutnya.

Jae Mi lagi-lagi hanya tersenyum melihat Sean yang (sepertinya) frustasi dengan Bahas koreanya yang masih kurang bagus.

“Heii.. apa kabar sekolahmu? Kau mengerti tidak apa yang disampaikan oleh gurumu?” tanya Jae Mi yang kini memperlihatan wajah seriusnya dihadapan Sean.

“Bahasa korea ku masih pasif, Mom.” jawab Sean membalas tatapan Jae Mi.

“Mom rasa kau belum punya banyak teman, benar?”

Sean hanya menghembuskan nafasnya kasar, mencoba menjawab pertanyaan sang Ibu tanpa harus berucap satu katapun.

“Mau aku carikan guru les bahasa korea untukmu?” ejek Jae Mi yang kini memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“I’m not as lame, Mom!” ucap Sean yang merasa dirinya begitu direndahkan oleh Ibunya sendiri. Kini yang Sean lihat, Ibunya tengah tersenyum begitu manis menatapnya.

“Baiklah, mulai sekarang biasakan dirimu berbicara dengan bahasa korea. Ok?!” ucap Jae Mi seraya mengacak-acak tatanan rambut Sean yang sebelumnya terlihat sangat rapih.

“Ahh, Mom!” keluh Sean.

Jae Mi bangkit dari duduknya setelah ia menghabiskan segelas air putih. Ia mendaratkan bibirnya dipipi Sean.

“Goodnight, Sean” ucap Jae Mi yang bergegas pergi meninggalkan Sean yang masih asik dengan santapan makan malamnya yang belum juga habis.

“Goodnight, Love you, Mom.” ucap Sean seraya tersenyum melihat langkah Jae Mi yang bergegas pergi dari dapur.

“Love you too!” ucap Jae Mi tanpa berbalik melirik Sean.

Ya, sebenarnya Jae Mi tengah tersenyum bahagia saat anak laki-laki satunya sama sekali tak malu untuk berkata bahwa ia mencintai dirinya sebagai Ibu. Itulah hal sederhana yang selama 15 tahun ini berhasil membuat Jae Mi bahagia meski hanya ditemani Sean.

Wanita yang tengah duduk ditepi tempat tidur berwarna hitam putih ini tengah kembali sibuk dengan pikirannya yang tadi sempat terhenti saat merapihkan meja makan. Dikamarnya, Hye Ra tengah mengingat kembali wajah pemuda yang tadi sore ia jumpai di kedai kopi.

Apa Jae Mi dan Sean ada di Seoul? Apa benar tadi itu Sean, kakak Jae Ra?, tanya batin Hye Ra.

Hye Ra sangat mengharapkan bahwa pertemuan antara Jae Mi dan Sean dengan Jae Ra akan terjadi secepatnya. Terlebih lagi wanita itu sadar bahwa ia bukanlah Ibu kandung Jae Ra. Meskipun ia berharap penuh akan pertemuan itu, Hye Ra sedikit was-was, ia berharap tak ada yang ‘berubah’ jika nanti keluarga kecil Sehun berhasil berkumpul bersama.

Cup!!

Hye Ra langsung mengalihkan pandangannya ke arah samping. Sehun, ternyata pria itu lagi-lagi membuyarkan pikirannya dengan ciumannya yang selalu Hye Ra terima secara tiba-tiba.

“Kenapa?” tanya Sehun yang kini mengarahkan pandangannya penuh pada Hye Ra.

“Tidak.”

Sehun tersenyum tipis saat mendengar jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan untuk sang istri, pria ini langsung mengambil tangan Hye Ra untuk segera ia sentuh dengan lembut.

“Sehun?” ucap Hye Ra yang kembali membuat pandangan Sehun tertuju padanya.

“Hmm?” lagi-lagi Sehun tersenyum saat netra milik Hye Ra tengah tertuju padanya.

Ada jeda yang tercipta saat mata Hye Ra berusaha menilik setiap sudut wajah Sehun, ia begitu teliti memperhatikan mata, hidung, pipi hingga bibir merah muda sang suami yang berhasil membuatnya kagum.

“Aku benar-benar penasaran dengan wajah Sean.” ucap Hye Ra berterus terang.

Sehun tersenyum, setelahnya ia hanya bisa terdiam untuk beberapa detik.

“Ku rasa dia akan setampan diriku.” ucap Sehun.

Hye Ra langsung menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. “Terserah kau!” ucap Hye Ra sedikit kesal seraya melepaskan tautan tangannya dengan tangan Sehun.

Sehun dibuah terkekeh dengan sikap Hye Ra, “Hei.. kau ini kenapa?” ucap Sehun peka akan Hye Ra yang tak terima menyebut dirinya sendiri tampan.

“Tidak ada gunanya bicara denganmu.” keluh Hye Ra.

Guratan senyum tercipta di bibir Sehun, “Wajah tampan seorang ayah itu ajan turun pada anak laki-lakinya. Jadi tak salah jika wajah Sean setampan diriku!”.

“Aku bilang terserah kau!”.

Kini Sehun langsung memeluk tubuh Hye Ra dari samping. Ia mengenggelamkan wajahnya diantara pundak dan leher jenjang wanita pertamanya ini.

“Aku sudah memberitahukan Jae Ra tentang Sean.. dan Jae Mi!” ucap Sehun dengan sedikit ragu untung memperbincangkan kembali Jae Mi dan Sean kepada Hye Ra. Ia hanya takut Hye Ra akan merasa tak nyaman saat ia tengah berusaha memulai pembicaraan tentang orang dari masalalu mereka.

Hye Ra sedikit menggerakan tubuhnya, ia langsung menarik wajah Sehun untuk segera menatapnya. “Sungguh?” tanya Hye Ra yang kini menatap penuh wajah sang suami.

Sehun merasakan jantungnya sedikit berdebar saat melihat reaksi Hye Ra yang sebenarnya tak bisa ia tebak, apakah wanita ini akan marah atau tidak. “Yaa..” ucap Sehun yang terpaksa menampakan senyumnya.

“Lalu apa kata Jae Ra?” ternyata detik kemudian Sehun mulai merasa lega saat melihat reaksi Hye Ra yang terlihat antusias saat ia baru saja memberitahukan tentang Jae Mi dan Sean kepada putri semata wayang mereka.

“Dia ingin bertemu dengan mereka berdua.” Kini jeda mulai menghampiri mereka saat Sehun selesai menjawab pertanyaan Hye Ra. Tanpa mereka sadari, keduanya kini sama-sama merendahkan pandangannya.

Hye Ra berusaha memperlihatkan senyumnya, ia mengangkat kepala Sehun untuk kembali menatapnya. “Sama seperti kita. Sejak dulu.” ucap Hye Ra dengan suaranya yang semakin merendah.

Sehun tersenyum, ia langsung menarik Hye Ra ke dalam dekapannya, berusaha untuk saling menguatkan satu sama lain saat masalah yang menurut mereka belum usai kembali terngiang dipikiran mereka.

Mata Hye Ra terpejam saat ia merasakan begitu hangatnya dekapan Sehun yang berhasil membuatnya nyaman. Namun kenyamanan yang ia rasakan tak dapat mengusir pikirannya tentang ketakutannya akan sesuatu yang ia harapkan untuk segera terjadi.

Saat Hye Ra membatalkan gugatan cerainya dan memilih untuk kembali kepada Sehun, wanita ini tau bahwa begitu banyak hal yang harus ia korbankan dan juga ada beberapa hal yang harus segera ia persiapkan.

Sebenarnya orangtua Hye Ra sama sekali tak setuju saat mendengar bahwa ia akan kembali bersama dengan Sehun. Ayah Hye Ra begitu marah mengetahui anaknya terasa seperti diterlantarkan oleh Sehun setelah kedatangan seorang gadis yang berpredikat sebagai istri kedua pria itu, namun beberapa bulan kemudian, dengan kesadaran penuh Hye Ra memberitahukan bahwa ia akan kembali pada Sehun, hal ini membuat tingkat kemarahan ayah Hye Ra menjadi dua kali lipat meletup. Sementara Ibu Hye Ra merasa begitu kecewa saat mendengar keputusan anak perempuan keduanya tersebut. Beliau tak mau Hye Ra kembali tersakiti, apalagi kini terdapat kehadiran seorang bayi kecil yang akan ia rawat bersama Sehun –yang bukanlah darah daging dari diri Hye Ra.

Hubungan keluarga –antara Hye Ra dan kedua orangtuanya menjadi begitu dingin. Orangtua Hye Ra tak pernah lagi datang berkunjung kekediamannya dengan Sehun, namun Hye Ra dan Sehun selalu mempunyai itikat baik mengunjungi rumah orangtua Hye Ra dengan tujuan membuat suasana ketegangan antara mereka sedikit mereda. Namun nyatanya, sudah berapa puluh kali Sehun dan Hye Ra berusaha mencoba, lagi-lagi tak ada hasil yang bisa membuat mereka tersenyum saat menyadari keadaan sama sekali tak berubah.

Dan sampai detik ini, keadaan itu sama sekali tak berubah. Keluarga. Itulah hal berharga yang harus Hye Ra korbankan demi kebahagiaannya dengan Sehun.

“Omma.. Appa jahat.” Hye Ra sedikit mengerutkan keningnya saat melihat Jae Ra yang berjalan menghampirinya dengan keadaan seperti tengah berusaha menahan tangis.

“Kenapa Jae Ra? Kau baik-baik saja?” Hye Ra langsung membuka tangannya saat gadis kecil berusia lima tahun ini berjalan menghampirinya.

Jae Ra sedikit mempercepat langkahnya agar ia dapat segera memeluk sang Ibu. “Layang-layangnya dibiarkan terbang tinggi sampai benangnya habis. Sekarang layang-layangnya hilang ditelan langit, Omma.”.

Sebenarnya Hye Ra sangat ingin sekali tertawa saat mendengar keluhan Jae Ra yang sudah pasti menyakut keteledoran suaminya, Sehun.

Pria itu selalu marah jika putri kecilnya menerbangkan layang-layang dengan terlalu tinggi, Sehun akan menakut-nakuti Jae Ra dengan berkata bahwa jika layang-layangnya terbang terlalu tinggi, maka langit akan menelannya.

Namun yang sedari tadi Hye Ra lihat, Sehun lah yang malah asik dengan layang-layang warna putih milik Jae Ra, sementara putri kecilnya dibiarkan asik berdiri sebagai penonton. Hye Ra yakin, Sehun menerbangkan layang-layang Jae Ra dengan terlalu tinggi hingga kehabisan benang dan berhasil membuat benda tipis itu terbang menjauh.

Jae Ra memeluk tubuh Hye Ra dengan cukup erat karna kini tangisan sang gadis kecil  benar-benar tumpah dipelukannya. Sementara tangan Hye Ra terus mengelus puncak kepala anaknya, sedikit memperitahukan Jae Ra untuk segera berhenti menangis.

“Ahh, Jae Ra! Maafkan Appa, ya?” Sehun terlihat berjalan menghampiri putri satu-satunya yang kini tengah berada didalam pelukan sang Istri.

Terlihat tatapan tajam dari mata Hye Ra yang mengarah kepadanya. Pria ini menghembuskan nafasnya kasar, setelah mendengar tangisan Jae Ra, kali ini ia dapat memastikan bahwa kupingnya akan mendengarkan celotehan Hye Ra yang akan menceramahinya lebih dari tiga puluh menit.

“Benangnya memang pendek sayang, itu bukan salahku.” Terang Sehun yang membela diri agar tak habis termakan celotehan Hye Ra yang akan segera terlontar.

“Kya.. kau pikir sedari tadi aku tak melihatmu yang begitu asik bermain layang-layang sementara putri kecilmu ini malah diam berdiri seperti penonton? Kau asik sendiri Sehun, bahkan benang yang akan habispun tak dapat kau sadari.” Skak Mati. Sehun dibuat terdiam. Jika boleh sedikit jujur sedari tadi ia memang begitu menikmati layang-layang milik Jae Ra yang tengah ia mainkan sendiri.

“Baiklah, aku minta maaf.” Sehun segera menyetarakan tingginya dengan Jae Ra yang masih asik memeluk pinggang Ibunya. Gadis kecil ini sedikit menyembunyikan wajahnya diperut Hye Ra, namun dari samping sini Sehun dapat melihat bahwa wajah Jae Ra sedikit sembab karna tangisnya.

“Appa minta maaf yaa.. nanti akan Appa belikan layang-layang baru untukmu.. yang benangnya lebih panjang.” Ucap Sehun yang kini berusaha sedikit membujuk Jae Ra agar mau menatapnya lalu memaafkan kesalahan yang telah ia perbuat.

“Agar Appa bisa meminjamnya lagi? Lalu menerbangkan layang-layangnya terbang tinggi dan kembali ditelan oleh langit?” tawa Hye Ra benar-benar pecah saat mendengar sindiran tajam yang Jae Ra berikan untuk Sehun. Menyadari tatapan Sehun yang terarah padanya, wanita ini langsung membekap mulutnya dengan tangan dan beralih memandang ke arah lain.

Sehun kembali mengarahkan pandangannya pada Jae Ra yang ternyata kini mau sedikit menatapnya dari celah antara perut Hye Ra dan wajah kecil miliknya. “Tidak, Jae Ra. Appa berjanji, jika Appa sudah membuat layang-layangnya terbang, Appa akan langsung menyerahkan benangnya padamu, okey?”

“Tidak mau, Jae Ra tidak mau bermain layang-layang lagi.” Sehun serasa seperti kehabisan akal untuk membujuk putri kecilnya ini memaafkannya. Pria ini menghembuskan nafasnya dengan kasar saat melihat Jae Ra kembali menyembunyikan kembali wajahnya pada perut Hye Ra.

“Aahh, baiklah.. jika tak mau bermain layang-layang, bagaimana jika bermain bersama paman Kyungsoo? Bukankah Jae Ra menyukai paman Kyungsoo?” Sehun langsung sedikit menghindar saat tangan Jae Ra hampir memuluknya. Ia yakin bahwa kini kedua pipi Jae Ra berubah warna menjadi merah muda.

“TIDAK!!” Jae Ra menolak ajakan sang ayah, setelahnya ia kembali bersembunyi pada perut sang Ibu.

“Ah, baiklah.. besok Appa akan mengajak paman Kyungsoo kerumah, okey?” Sehun kembali membuat amarah putri kecilnya memuncak saat telinganya pura-pura tak mendengar penolakan Jae Ra.

“Aku bilang tidak, Appa!”

“Iya, besok Appa akan mengajak paman Kyungsoo bertemu dengan mu.” Jae Ra langsung melepaskan pelukannya pada perut Hye Ra, gadis kecil ini benar-benar ingin memukul tangan ayahnya yang kini malah melarikan diri ke sudut taman.

“Appa yaa!!”

Senyum Hye Ra mengembang saat kini Jae Ra tengah saling kejar dengan Sehun.

Sejenak wanita ini terdiam, ia mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Ingatannya membawanya kembali pada masa-masa dimana ia selalu tersenyum karna melihat kebahagiaan Sehun dan Jae Ra yang tanpa sengaja juga mengajaknya untuk ikut berbahagia.

Hye Ra sadar betul bahwa Jae Ra bukanlah miliknya, gadis kecil itu merupakan milik Sehun dan ibu kandungnya, Jae Mi. Meskipun begitu, Hye Ra sangat bersyukur dapat melihat Jae Ra tumbuh dengan begitu baik dengan sedikit bantuan tangan dan hatinya.

Wanita ini benar-benar telah mempersiapkan dirinya jika suatu hari nanti Jae Mi kembali untuk bertemu dengan Jae Ra atau bahkan kembali pada pelukan Sehun. Mempersiapkan diri jika mungkin nanti perhatian Sehun akan kembali terfokus pada Jae Mi dan mempersiapkan diri jika mungkin nanti Jae Ra akan sangat dekat dengan ibu kandungnya tersebut. Iya, Hye Ra sudah mempersiapkan hatinya untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.

Jae Mi, kau masih belum mau melihat putri kecilmu?, tanya batin Hye Ra saat matanya berhasil menilik wajah Jae Ra yang kini ada dipangkuan Sehun, wajah gadis kecil itu benar-benar mirip dengan Jae Mi.

Matahari pagi ini cukup terasa terik saat seharusnya pemuda bermarga Jung ini sudah berada didalam area sekolah untuk segera mengikuti kegiatan belajar mengajar yang akan dimulai sekitar dua puluh menit lagi.

“Good Morning, Mom!” netra milik Jae Mi langsung tertuju pada Sean yang pagi ini telah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya yang berhasil membuat ia terlihat begitu tampan.

“Selamat pagi juga, Sean.” Sean sedikit menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat ia baru sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan kecil pagi ini. Pemuda ini menghembuskan nafasnya sedikit kasar “Ashh.. Selamat pagi, Mom” ucapnya memperbaiki kesalahan yang tadi sempat ia perbuat.

Jae Mi tersenyum mendengar Sean menyadari kesalahannya. “Selamat pagi. Semenjak pindah ke Seoul kau jadi rajin bangun lebih awal ya.” ucap Jae Mi seraya melirik Sean yang kini tengah berusaha mengambil beberapa lembar roti tawar dihadapannya.

“Aku tak mau membentak Mom lagi!” jawab Sean menatap sang Ibu seraya mengingat kejadian dua bulan lalu dimana ia berhasil membentak Jae Mi hanya karna malas untuk bangun pagi. Setelahnya pemuda ini kembali fokus pada roti yang masih berada ditangannya. Jae Mi terkekeh, rasanya ia sedikit geli mendengar jawaban Sean.

“Dibentak lagi pun juga tak apa.” Sean  langsung mengangkat kepalanya kembali untuk membalas tatapan sang Ibu yang berpusat padanya,  “Dan setelahnya aku akan dicoret dari daftar anak Mom.”, “Anak pintar.” ucap Jae Mi seraya tertawa kecil.

Sesaat keheningan terasa menyapa saat Sean dan Jae Mi sama-sama asik menikmati santapan mereka. Namun nyatanya ada sesuatu yang sedikit menganjal dipikiran Sean sedari malam dan hal tersebut sangat ingin ia sampaikan pada sang Ibu.

“Mom..” ucap Sean membuka kembali pembicaraan mereka dengan topik yang berbeda.

Jae Mi sedikit mengangkat kepalanya saat ia mulai tertarik dengan perbincangan yang akan Sean mulai.

Seakan mengerti dengan bahasa tubuh sang Ibu yang mempersilahkannya untuk meneruskan ucapannya, Sean kembali membuka mulutnya. “Sudah coba menghubungi, Dad?” tanya Sean sedikit gugup.

Jae Mi tersenyum, “Kenapa?” tanyanya singkat.

“Kita sudah berada disini hampir dua minggu. Aku ingin bertemu dengannya.” jawab Sean begitu jujur. Sejenak Jae Mi kembali memperlihatkan senyumnya yang kali ini terlihat lebih manis.

“Kita tunggu waktu yang tepat yaa..” Jae Mi seraya mengelus kepala Sean dengan lembut.

Sean segera menggapai tangan kanan sang Ibu dari kepalanya, ia langsung mencium punggung tangan Jae Mi, “Love you, Mom!” ucapnya seraya memperlihatkan senyum pada sang Ibu.

Jae Mi dibuat terdiam atas perlakuan Sean yang benar-benar diluar dugaannya. Jae Mi sempat berpikir bahwa Sean akan marah karna ia telah mengulur waktu terlalu lama untuk mengatur pertemuan antara pemuda dihadapannya ini dengan ayah kandungnya.

“Habiskan sarapanmu. Kita hampir terlambat.” ucap Jae Mi yang masih setia memperlihatkan senyumnya dihadapan Sean. “Baiklah!”.

Sama seperti kebiasaannya di London sejak dulu, Jae Mi akan selalu mengantar Sean sampai disekolah dan setelahnya ia akan segera berangkat ke kantor untuk bekerja.

Jae Mi menghembuskan nafasnya saat ia baru saja memberhentikan mobil hitamnya tepat didepan gerbang sekolah Sean. Dirasa pagi ini Sean tak akan terlalu terlambat untuk mengikuti kelas pertamanya, karna nyatanya bel sekolah akan berbunyi sekitar sepuluh menit lagi.

“Hei..” Sean menengok ke arah Jae Mi saat ia tengah berusaha membuka sabuk pengamannya.

Jae Mi menampakan senyumnya kembali saat ia berhasil menahan Sean untuk sesaat sebelum pemuda itu keluar dari dalam mobil. “Kau harus punya banyak teman, Ok?!”.

Sean juga ikut tersenyum saat netranya berhasil melihat senyum sang Ibu yang lagi-lagi membuat ia bersemangat untuk menjalani hari. “OK, Mom. Anakmu ini tampan, jadi tak terlalu susah untuk mendapatkan teman.” Ucap Sean dengan begitu percaya dirinya.

“Aku yakin kau pasti dikerubuti oleh perempuan-perempuan genit.” ucap Jae Mi sedikit tajam.

Sean sedikit menggigit bibir tipisnya, ia langsung memperlihatkan wajah seriusnya pada Jae Mi.“Sebenarnya terlalu banyak kakak kelas yang mendekatiku. Bye Mom!” ucap Sean yang langsung mencium pipi Jae Mi dan bergegas keluar dari dalam mobil.

“Kyaa!! Jangan sampai kau pacaran dengan seniormu sendiri!!” teriak Jae Mi dari dalam mobil.

Sean hanya tertawa mendengar teriakan sang Ibu yang menurutnya bising. Ia malah asik melangkahkan kakinya ke area sekolah.

Hah, wanita itu memang menjadi sedikit lebih sensitif dengan hal yang ‘lebih tua’.

Sementara itu tepat di belakang mobil Jae Mi, ternyata ada sebuah mobil hitam yang juga tengah berhenti. Sang penumpang yang juga merupakan siswa sekolah ini tengah asik melirik ke arah mobil Jae Mi yang masih diam meskipun beberapa detik lalu seorang pemuda telah keluar dari dalam mobil.

“Jae Ra?” Lamunan gadis ini pecah saat sang ayah berhasil menyebutkan namanya. Jae Ra langsung mengarahkan pandangannya pada Sehun yang masih terdiam memandang ke arahnya.

“Ne?” ucap Jae Ra yang kali ini melihat sedikit kerutan dikening sang ayah. Jae Ra dapat menebak dengan baik bahwa kini sang ayah tengah bingung melihatnya yang sedari terus terdiam.

“Kenapa?” Sehun dibuat sedikit bingung karna Jae Ra terus menatap mobil hitam yang sudah mulai berjalan jauh dari hadapan mereka.

“Tidak, Appa. Aku akan ke kelas. Dah Appa.” Jae Ra langsung mencium pipi Sehun dan setelahnya gadis itu bergegas keluar dari dalam mobil.

Ada sedikit senyum yang terpaksa Sehun perlihatkan dihadapan Jae Ra yang kini tengah berusaha membuka pintu mobil, “Semangat Jae Ra” ucapnya.

Jae Ra hanya memampakan senyum tipisnya pada sang ayah. Hal ini berhasil menjadi bahan pikiran Sehun karna belakangan ini Jae Ra terus terlihat murung.

Kira-kira tadi Sean berangkat bersama siapa ya? Apa dengan Omma? –Kya ada apa denganku. Bahkan aku baru mengenal nama pemuda itu, lalu kenapa aku malah berpikir jauh bahwa Omma Sean adalah Omma..ku?. Jae Ra langsung menggelengkan kepalanya pelan dengan spontan saat pikiran gilanya kembali datang kedalam kepalanya.

“Kyaa, kenapa kau selalu bengong? Kau memikirkan Sean yaa?” tanya Young Sun yang menegur Jae Ra dari bangkunya yang berada tepat di depan meja yang tengah gadis itu tempati.

“Ahh, kau ini!” keluh Jae Ra seraya meghembuskan nafasnya kasar.

“Oh Jae Ra! Kau dipanggil keruang guru!”

Sesaat Jae Ra mengalihkan pandangannya pada seorang gadis berambut pendek yang tengah berusaha berbicara dengannya.

“Ada apa?” tanya Jae Ra.

“Entah, kau hanya disuruh untuk segera ke ruang guru.” jawabnya.

Jae Ra langsung mengarahkan pandangannya pada Young Sun yang masih diam dihadapannya, “Kau ikut denganku.” ucap Jae Ra.

“Ah, tidak!! Lebih baik aku kekantin melihat kakak kelas yang tampan. Bye!” ucap Young Sun yang berlalu pergi keluar kelas.

Jae Ra sedikit terdiam saat pandangannya terus mengarah pada Young Sun yang kini telah menghilang dibalik pintu. “Kyaa!” keluh Jae Ra.

“Hah, jika saja aku tau akan seperti ini, lebih baik tadi aku memaksa Young Sun untuk ikut denganku. Sekarang aku malah harus membawa ini sendirian. Ahh, beratt!” keluh Jae Ra saat memandang tumpukan buku tebal dipangkuannya yang harus ia bawa ke kelas untuk dibagikan kepada teman-temannya.

Jae Ra terus melangkahkan kakinya meskipun kini tangannya mulai sedikit kesakitan karna tumpukan buku-buku tebal ini.

“Can I help.. you?” ucap seseorang yang tiba-tiba mensejajarkan langkahnya dengan kaki Jae Ra. Sean. Pemuda itu tengah berdiri disamping kanan Jae Ra.

“Ahh..” ucap Jae Ra sedikit gugup mendapati Sean berdiri menatapnya.

“I remember you. Kau gadis yang waktu itu bersama orang yang ku tanyai keberadaan kelas B bukan?” tanya Sean.

Jae Ra mengangguk ringan. Ternyata meskipun dulu tatapan Sean tertuju pada Young Sun, pemuda ini tak mengacuhkan Jae Ra yang juga berdiri tak jauh darinya.

“Mau.. ku bantu?” ucap Sean mencoba mendekatkan tangannya ke arah Jae Ra.

“Ahh, bolehh!” Jae Ra merasa begitu senang saat menyadari bahwa Tuhan sedikit meringankan bebannya hari ini lewat pemuda bernama Sean.

Tumpukan buku tebal ditangan Jae Ra kini telah beralih sebagian ke tangan Sean. Jae Ra sedikit lega karna ke khawatirannya tentang tangannya yang akan pegal sedikit menghilang.

“Kau berada dikelas..apa?” tanya Sean dengan aksen bahasa Korea-nya yang masih terdengar kaku.

“Kelas A.” jawab Jae Ra singkat.

“Ternyata sebelah kelas ku.. Siapa namamu?”

“Jae Ra. Oh Jae Ra.”

“Eumm, aku Sean Jung.”

Hening. Jae Ra dan Sean sama-sama terdiam karna mereka merasa sama-sama canggung akan satu sama lain.

“Kau bukan dari korea ya?” tanya Jae Ra yang kini mulai kembali mencoba untuk berbincang dengan pemuda disampingnya ini.

“Ya, aku baru pindah awal bulan lalu dari London. Kenapa? Apa bahasa korea ku terdengar jelek?” tanya Sean yang sedikit merendahkan dirinya.

Jae Ra menghentikan langkahnya. Sesaat ia memberanikan diri untuk menatap Sean yang ternyata juga menghentikan langkahnya.

Mata mereka bertemu untuk menatap satu sama lain. “Kenapa?” tanya Sean bingung.

Jae Ra sedikit terdiam, kini jantungnya berdebar dengan begitu tak beraturan saat wajah Sean terlihat begitu jelas untuk ia amati. “Se.. an?”.

Sean mengangguk dengan pelan seraya masih mengarahkan pandangannya pada Jae Ra.

“Kau.. mengenalku?” tanya Jae Ra dengan begitu gugup.

Sean kini memperlihatkan tersenyumnya.

“Tadi namamu euh,, Jae Ra.. ah ya, Jae Ra ‘kan? Hampir sama dengan nama Mom.” ucap Sean seraya masih memperlihatkan senyumnya.

Dengan tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi, menadakan bahwa jam istirahat telah selesai dan kini terlihat beberapa murid berlarian tunggang langgang masuk ke dalam kelas karna tak mau terkena sanksi jika mereka masih terlihat berkeliaran di area sekolah

“Ah, ayo cepat! Bel sudah berbunyi!!” ucap Sean yang kini kembali melangkahkan kakinya.

“Bu..bukan itu maksudku!” ucap Jae Ra dengan suara yang melemah saat melihat Sean telah berjalan didepannya. Sial. Maksud dari ucapannya sama sekali tak sampai dengan baik pada Sean.

Jae Mi menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar saat ia dan seorang Asistenya baru saja masuk ke dalam lift yang akan membawanya turun dari lantai 40 ini. Beberapa menit lalu ia telah selesai menghadiri rapat perusahaan yang membicarakan tentang beberapa rencana kerja sama yang telah mereka sepakati.

Tak lama pintu lift terbuka saat mereka berada dilantai 21, memperlihatkan beberapa orang masuk ke dalam dengan tujuan yang sama dengan Jae Mi, turun kelantai bawah. Namun tanpa diduga, seseorang yang tak asing bagi Jae Mi juga ikut masuk ke dalam lift. Seseorang yang berasal dari masalalunya yang telah ia tinggalkan 15 tahun yang lalu.

Oh Sehun. Pria itu kini berdiri tepat membelakangi Jae Mi.

-To Be Continue-

#Note: Wah, Sehun satu Lift bareng Jae Mi ya? *muka lempeng*

Tolong tinggalkan komentar komentar kalian, guyss.. 🙂

Thanks for reading this story yaa..

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 4)

  1. Sean ga peka ihh 😞😞 aduhh pengen mereka cepet tau yg sebenarnya. Jae mi pasti sembunyi nanti, tp semoga aja mereka bisa cepet ketemuuuu.. kasian anak2 nya 😢😢
    Semangat terus ya nulisnya.. hwaitiinngg!!! 💪🏻😊

  2. Aku jadi sedih masa kaaaa 😞😞😞😞😞 plis jaemi demi sean dan jaera pertemuin mereka 😭😭😭😭😭😭

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s